Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (2)

TITIK-TITIK  TERANG.

 Januari 1965 , Hartini, adik Harjanti, menawarkan pekerjaan kepada Endang sebagai pengajar bahasa  Inggris di Akademi Maritim Yogyakarta. Hartini akan meneruskan kuliahnya ke Strata Satu hingga minta digantian oleh istriku.

  Kuliah berlangsung sore hingga malam hari, tempat perkuliahan di Jalan Jendarl Sudirman, menempati gedung Sekolah Dasar BOPKRI.  Rumah kami terletak seratus meter disebelah timur tempat perkuliahan.

 Pendiri tunggal AMY, bapak Wibowo didemo oleh taruna karena AMY tidak terdaftar sabagai badan pendidikan resmi dan dia dianggap melakukan penyalah gunaan keuangan.  Staf dosen, termasuk Endang menghadap  bapak Wibowo, beliau malah menyerahkan kepengurusan kepada staf dosen.

 Staf dosen menunjuk babak Suyatno sebagai Direktur AMY. Pak Yatno pergi ke Jakarta meminta bantuan mas Mun untuk pendirian sebuah badan pendidikan resmi. Staf dosen mendirikan Yayasan Institut Pendidikan Maritim (IPM) Yogyakarta. Endang ditunjuk sebagai Bendaharwan.

 Mas Mun menikah di Solo, isterinya seorang pegawai Bank Swasta, mbak Tien namanya. Mas Mun berziarah kekubur ayah ibu dan mampir di Siliran 47 tetapi tidak ke Siliran 29.

 Mbak Is pulang ke Siliran 29 dan disediakan tempat di Kamar Wetan. Anehnya beliau memilih tidur di Kamar Kulon. Aku membiarkan beliau dikamar itu karena menurut pak Lik Sastrodimento mbak Is sanggup mengusir makluk jahat itu yang selama ini masih bercokol ditempat itu.

 AMY terdaftar sebagai pendidikan legal dibawah naungan Yayasan IPM. Dibawah bendera IPM taruna menjadi tenang, perkuliahan berjalan lancar.

 G.30 S meletus. Dalam sebuah koran termuat berita yang berjudul “Dimana Bekas Ketua Buruh GKBI ” yang intinya fitnahan pada mas Man yang dinyatakan terlihat gerakan G.30 S.

  Mas Mir marah atas berita itu dan mencurigai didalangi orang dalam yang tidak suka pada mas Man. Aku menyangkal  berita itu dengan  membawa bukti bahwa mas Man telah meninggal sebelum G.30 S meletus. Mas Gun berujar jika memegang senjata pertama kali akan  menembak pimpinan GKBI. Mas Mun mencari sumber berita itu dan mendapatkan bukti bahwa berita itu bersumber dari orang yang menggantikan kedudukan mas Man.

 Mas Mir meminta orang itu diganti,tetapi Mas Mir malah diminta mengambil uang pesangon yang berhak diterima mas Man karena di PHK oleh GKBI. Sebagaimana mas Man, mas Mir juga menolak menerima uang pesangon itu karena dianggap permasalahan PHK itu belum diselesaikan lewat jalur hukum. Pemecatan mas Man itu harus diselesaikan lewat jalur hukum hingga dapat dibuktikan siapa yang bersalah.  Jika tuduhan mas Man tidak benar, mas Mir tidak hanya rela mas Man dipecat, bahkan harus dipenjarakan. Jika terbukti yang bersalah Bendaharawan GKBI, mas Mir sebagai Bendaharawan  GKBI  bersedia memikul segala risikonya.

Suatu saat Endang didatangi Korp Taruna  AMY yang menyatakan direktur AMY, Bapak Suyatno, melakukan pelecehan seksual terhadap taruni baru. Staf dosen melakukan rapat tertutup dan meminta direktur mempertanggung jawabkan perbuatannya. Agar tidak terjadi kericuhan direktur digantikan oleh bapak Nasaruddin SH.

Bapak Nasaruddin SH adalah seorang jaksa, sehingga ketika ditugaskan kekota lain digantikan oleh Dokter Trihendrokesowo. Endang tetap dipercaya sebagai bendahara IPM sekaligus bendahara AMY.

Jaman Orde Baru, pengadilan berfihak pada penguasa, bahkan  banyak yang diputuskan diluar pengadilan. Aku bersyukur mas Man meninggal sebelum terjadinya G.30 S. Andai kata beliau masih hidup pasti telah menjadi bulan-bulanan bagi musuh-musuhnya.

Mei 1966 , anakku yang kedua, Ertis Meida Mahagam, dilahirkan di Jendral Sudirman 34 Yogya, dengan pertongan seorang bidan yang masih ada hubungan keluarga dengan mertuaku, namanya ibu Sugandi.

Menjelang G.30 S keadaan serba sulit sehingga kadang kami hanya makan bulgur.  Saat mengandung anak pertama Endang dalam keadaan berlebih gizi, sedangkan ketika mengandung anak kedua konsisinya sangat memprehatinkan. Gajiku hanya cukup untuk hidup satu minggu.

Aku memanfaatkan mesin tulis tua pemberian mas Man untuk menerima pengetikan skripsi. Saat itu belum banyak yang melakukan usaha pengetikan, jika ada membutuhkan waktu lama. Satu-satunya yang menerima pengetikan kilat adalah aku, sehingga banyak yang mempercayakan pekerjaan itu kepadaku. Kesempatan ini kugunakan untuk memasang tarib tinggi, ternyata tetap laku keras.

Keadaan perekoniam kami lumayan, tetapi sebagian besar waktuku tersita untuk usaha pengetikan sehingga aku sering meninggalkan meja kuliah.

Aku mencari tenaga pengetikan, yang mendaftar banyak, sebagian bahkan bergelar sarjana. Honor yang diminta tinggi hingga aku tak sanggup membayarnya.Untuk mendapatkan tenaga murah kuserahkan sebagian tugas pada pegawai yang membutuhkan tambahan penghasilan.

 Aku tidak tertolong dengan menyerahkan tugas pada orang lain, malah menjadi sulit.  Pelanggang memprotes karena banyak terjadi kesalahan ketik. Karena harus diulangi dan melewati batas yang kujanjikan mereka tak mau membayar mahal padahal aku harus memberi honor pada orang yang telah melakukan pengetikan. Aku juga harus mengeluarkan beaya kertas,korbon dan pita mesin tulis. Sementara itu telah bermunculan pengetik yang sanggup mengerjakan pengetikan kilat dengan hasil yang lebih bagus karena menggunakan mesin tulis baru.

Mei 1969 anak kami yang ke 3, Sigit Setia Prabawa lahir. Saat itu aku telah sanggup membeayai kelahiran anak yang ke 3 dirumah Bersalih Mangkuyudan, milik UGM. Letak  RB ini di Yogya selatan, sehingga dekat dengan Siliran.

Mbak Is telah sembuh dan tinggal di Siliran Lor 29. Dia dan mbak Mi sering menengok Sigit, begitu juga anggota trah Rahwodi (Darah Notogendewo kang Adi). Mereka mengharap kami kembali ke Siliran Lor 29.

Saat itu listrik PLN sering padam sehingga aku telah membeli petromax untuk kerja lembur. Petromax itu kugunakan untuk membuka afdruk kilat, meja tulis yang biasa kupakai untuk mengetik kurombak sebagai kotak afdrug. Afdrug kilat yang dapat selesai dalam lima menit sangat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga laku keras.

Urip, adik iparku, membuat alat pembesar dari bekas alat slide milik Loge Dharma yang sudah tak terpakai. Alat itu dibuat atas petunjuk Katri, adik ipar Hartini. Alat itu tak dapat digunakan sebagai alat pembesar foto (vergroot aparat) karena lensanya berfokus panjang, hingga memerlukan jarak panjang untuk dapat memfokus kan bayangan/gambar.

 Bekas Slide itu kugantungkan dilangit-langit, kubuat standard pendek untuk menempatkan meja tempat kertas yang akan dicetak.

Dengan menggeser letak meja dan letak lensa pada balknya aku dapat memanfaatkan bekas alat slide  sebagai alat vergroot, tetapi aku harus naik turun untuk memasang klise yang akan dicetak.

            Gin, pacar Is, meminjamkan sebuah kamera Agfa. Aku membeli lampu kilat tua, Braun yang sudah tidak dapat menyala terang.  Blitz tua ini telah lemah electrolitnya Agar dapat menyala terang kutambahkan  elektrolit bekas radio secara paralel hingga cahayanya cukup kuat untuk pengambilan gambar.

            Aku menerima foto kilat dan foto panggilan. Usaha fotoku maju pesat hingga aku memerlukan tenaga bantuan. Adik-adik iparku semua membantu, tetapi terasa belum cukup, sehingga Urip mengajak teman sekelasnya : Edi, Kustanto, Soni, Harto membantu pekerjaanku.

            Saat itu mulai bermunculan afdrug kilat dan fotostudio baru. Usahaku tak tersaingi karena telah memperoleh nama. Aku bahkan dipercayai oleh Polisi Lalu Lintas, yang kantornya diseberang jalan Jendral Sudirman, sebagai langganan memotret dokumentasi kecelakaan lalu lintas. Kendaraan yang bertabrakan atau mengalami kecelakaan baru diizinkan dibawa pulang oleh pemiliknya setelah kupotret.

            Kemajuan di era Order Baru sangat pesat. Produk luar negri, terutama Jepang bermunculan dipasaran hingga mudah didapatkan alat elektronika dan barang mewah. Aku membeli seperangkat perlengkapan fotografi: camera, blitz, asessories, vergroot aparat, generator, peralatan kamar gelap, alat pemotong kertas dan perlengkapan studio lainnya. Usahaku  semakin maju, sehingga aku tidak hanya mampu menghidupi keluargaku, adik-adik ipar dan mertua, bahkan lima orang teman adik-adik kami ikut menikmati  hasil usaha kami.

            Monopoli Gambrid dan bahan batik dicabut oleh pemerintahan Orde Baru dan diberikan kepada importir lain. GKBI mendapatkan saingan berat dari perusahaan swasta hingga harus mengencangkan ikat pinggang. Kami terkena dampaknya, mas Jo di PHK dan pulang ke Yogya, tinggal di Siliran Kidul no 47. Kami tarik dia untuk membantu usaha foto kami. Pada saat itu Urip  diberi pekerjaan oleh mas Untung di Malang, karena mas Untung mendirikan EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut). Teman-teman Urip sudah selesai sekolah dan mendapatkan pekerjaan diperusahan swasta.

            Pembangunan infrastruktur berlangsung cepat. Aku dipercaya untuk melakukan pemotretan projek-projek pembangunan, diantaranya perbaikan dan pembuatan jalan baru, peletakan batu pertama hingga peresmian projek itu diserahkan kepadaku. Kehadiran mas Jo benar-benar membawa berkah bagi keluarga kami.

           

            Dokter Trihendrokesowo “memberikan “Scooter Vespa Kongo nya untuk menunjang kegiatanku dalam menjalankan tugas pemotretan keluar kota. Vespa ini kuangsur semampuku. Dalam waktu empat bulan aku telah sanggup melunasinya.

            Camera semakin menjamur, banyak orang yang memiliki camera dan dapat melakukan pemotretan sendiri. Aku memanfaatkan keadaan ini dengan menerima reparasi camera dan blitz ,juga memberikan kursus fotografi. Sementara itu fotografi berwarna masuk ke Yogya, studio dan laboratorium baru bermunculan. Usaha fotoku semakin mundur.

            Profesor Imam Sutiknyo, adik Dirut Pertamina Ibnu Sutowo, menawarkan modal untuk mengembangkan usahaku dalam foto berwarna. Syaratnya sangat ringan, tiap bulan memberikan bunga 1 % tanpa mengangsur modalnya.  Saat itu modal untuk mendirikan studio dan laboratorium foto berwarna sangat tinggi, hingga aku menolak tawaran itu.

            Aku memilih usaha yang tak butuh modal banyak, yaitu dalam persewaan, reparasi dan kursus fotografi. Camera “kacang goreng” menjamur hingga persewaan kamera dan blitz tak laku. Kamera electronik yang serba automatik berdatangan ke Indoneia, hingga aku tak sanggup memperbaikinya. Perkumpulan foto amatir bermunculan , majalah fotografi melimpah, sehingga kurus fotografi tak diminati.

            Aku mulai dengan usaha baru dibidang instalsi air minum dan pompa air listrik yang banyak dibutuhkan oleh rumah tangga. Aku menerima reparasi radio dan alat-alat listrik. Usahaku ini tidak sebagus usaha dalam bidang fotografi yang pernah kunikmati, namun  dapat sekedar mencukupi kebutuhan hidup.

            Gedung Perhimpunan Theosofi Indoneis (PTI) Cabang Yogyakarta diminta kembali dari DAMRI. Bengkel dan Garage DAMRI dipindahkan keseberang jalan Jendral Sudirman.

            Sebenarnya sebagai Wakil Ketua PTI mertuaku berhak menempati bangunan ditepi jalan raya, Jendral Sudirman no 36, disebelah timur pintu gerbang kompleks Loge Dharma. Karena gedung itu masih disewa oleh Instansi Kepolisian, mertuaku ditempatkan di garage dekat gedung induk Loge Dharma.

             Ketua  PTI telah memiliki rumah sendiri sehingga gedung di Jendral Sudirman no 32 digunakan untuk Seketaris PTI, Bapak Sarjono.

Tidak lama kemudian pak Sarjono meninggal dan digantikan oleh istrinya.

           Kami tinggal di garage Loge Dharma di Jalan Jendral Sudirman 34. Pada zaman Orde Lama perkumpulan Theosfi ditarang karena tidak mencantumkan azas Pancasila dalam Anggaran  Dasarnya. Saat itu pula gedung induk Loge Dharma digunakan oleh Sebuah Yayasan Pendidikan Anak Cacat Mental yang bernama Dharma Renarring Putra dibawah pimpinan seorang Janda Muda bernama Ibu Sukanwo, menantu ibu Suyitno.

                  Himpunan Theosofi dilarang, seluruh harta PTI  disita dan dikuasai oleh Kejaksaan Tinggi. Bapak Wiryo Atmojo bersama  beberapa anggauta lainnya mendirikan Perwatin (Persaudaraan Warga Teosofi Indonesia yang berazaskan Panca Sila) dan diizinkan memanfaatkan Gedung Induk Loge Dharma. Karena gedung induk telah digunakan untuk Sekolah Luar Biasa Dharma Renaring Putra, maka Kegiatan Perwatin hanya dilakukan petang sampai malam hari.

            Pendirian Perwatin agaknya tidak sejalan dengan rencana Ibu Suyitno dan Ibu Sarjono, sehingga sejak itu terjadi kericuhan dalam tubuh anggauta  bekas Perhimpunan Theosofi Indonesia. Sejak itu keberadaan kami di garage Loge Dharma menjadi masalah. Beberapa kali pak Wiryo Atmojo mendapat peringatan keras dari Ibu Suyitno cs untuk hengkang dari garage tua ini.

            Di halaman Loge Dharma, berhadapan dengan garage yang kami tempati didirikan gedung permanen oleh Yayasan Dharma Renarring Putra. Gedung SLB selesai dibanguni, gedung induk tetap digunakan oleh Sekolah Luar Biasa, bahkan Taman Kanak-kanak Saroja, milik Fakultas Pendidikan UGM yang semula menempati Loge Dharma dipindahkan ke Bulaksumur karena kekurangan murid akibat “dikira bagian dari SLB”

            Kembali ke Siliran 29

         

            Endang mengandung, keadaan di Jendral Sudirman tidak tenteram, maka kami pindah ke Siliran 29. Kami memilih tinggal di bekas kandang kereta dan ngecapan (pembatikan dengan cap). Bangunannya paling jelek tetapi letaknya strategis.

            Agar dapat ditempati kami memugar bangunan ini. Disamping membuat kamar tidur, dapur, kamar mandi dan wc  kami merombak bekas kandang kereta menjadi ruang tamu. Kami memasang listrik dengan daya 900 watt,  memasang pompa air listrik dan membeli sebuah pesawat TV lagi merek National   untuk orang tua dan adik-adik kami, sedangkan TV yang lama merk Sharp kami bawa ke Siliran 29.

            Keluarga Tatik pindah dari Jakarta dan tinggal di Siliran Lor 29. Tatik saat itu baru mempunyai seorang anak, Rien namanya. Itok, suami Tatik mendirikan perusahaan makanan ternak bersama sahabatnya, Doktor Mubiarto. Keluarga Tatik tinggal di Gandok Wetan. Gandok Kulon ditempati keluarga pak Dwijo dengan dua orang anaknya, Ning dan Nung.

            Listrik rumah yang tadinya hanya berdaya 100 watt kini menjadi 1000 watt, sehingga tidak perlu mencuri listrik lagi.

                        Mas Jo mengurusi usaha foto di Jalan Jendral Sudirman. Kami mempunyai dua orang pembantu, Jumiah dan mbah Arjo.

Siang hari Jumiah bertugas di Jendral Sudirman, jika malam ke Siliran 29.

           Juni 1971 Anak kami yang keempat, Bagus Wahyu Setriadi, dilahirkan di Rumah Bersalin  cabang Betesda di dekat Pakualaman. Mbak Is  menjemput dan membawanya ke Siliran 29.

            Mbak Is sangat sayang kepada anak-anak kami, namun kadang-kadang tercetus “obsesi masa lalunya”.  Mbah Arjo, pembantu kami sering diajak ngerumpi, dikatakan kegagalanku karena tak menuruti nasehat kakak-kakak ku. Jika kuliahku selesai, sebenarnya telah tersedia kemenakannya yang bernama Ni, yang  menjadi seorang pramugari dan  hingga saat itu belum menikah.

           

            Ketika Endang mendengar ceritera itu, merasa menjadi biang keladi kegagalan kuliahku, maka dengan sengaja dia mengajak bicara Tatik dan mengatakan bahwa aku meninggalkan meja kuliah karena tak dituruti permintaanku meminta kendaraan bermotor.

            Tatik mengatakan bahwa saat itu ayahnya tak mampu memenuhi permintaanku karena harus membeayai kelima anaknya yang sedang menyelesaikan kuliah dan sekolahnya.

            Kukatakan pada Endang, jika mas Man tidak menghalangi, permintaan ku akan dituruti oleh kakak yang lain, bukan hanya roda dua, roda empatpun akan dipenuhi, sebab yang lain  sangat  mempercayaiku dan mampu untuk melakukan hal itu. Sekarang sudah terbukti: mas Man dan mbak Is khawatir aku kecantol mojang priangan, hingga tak dapat dijodohkan  dengan kemenakan nya. Jadi kuminta Endang berterima kasih pada mas Man dan mbak Is karena telah “mengamankan” aku dari comotan si mojang geulis koning.         

            Siang hari aku memberesi rumah Siliran sambil menyiapkan usaha baru. Aku ingin mendirikan usaha jual air bersih, sebab banyak penduduk disekitar beteng tidak memiliki sumur.  Niatku ini ditentang mbak Is, aku dianggap keterlaluan, seharusnya air itu diberikan saja secara cuma-cuma.

Niatku itu kuurungkan sebab untuk memompa air dibutuhkan daya listrik. Kuteruskan usaha pemasangan instalasi air minum dan pompa listrik. Saat itu PLN telah memberi kesempatan pemasangan dan penambahan daya  listrik hingga cukup untuk menggerakkan pompa air listrik. Air merupakan kebutuhan pokok bagi setiap orang/ manusia., hewan dan tumbuh-tumbuhan, jadi prospeknya sangat bagus usaha dibidang ini.

            Sore hari aku mengantar Endang bekerja dan memberikan kuliah di AMY. Kadang-kadang aku langsung pulang untuk kemudian sekitar pukul sepuluh malam kembali menjemput Endang. Bagus diasuh oleh mbah Arjo.

Yulia tetap di Jendral Sudirman karena bersekolah di SD BOPKRI Gondolayu.  Ida  bersekolah di TK Melati Gamelan.  Selama ditinggal ibunya bekerja Ida dan Sigit ditemani oleh Jumiah menonton TV. Kadang-kadang Mbak Mi menemani anak-anak di Siliran 29 atau anak-anak diajak ke Siliran Kidul 47.

Di Siliran 29 keluarga kami sangat happy karena terbebas  dari intrik-intrik orang yang tidak menghendaki kami tinggal di garage Loge Dharma. Tetapi kadang-kadang mbak Is “ikut campur” dalam keluarga kami.  Mbak Is sering menanyakan makanan yang disediakan untuk anak-anak kami, bahka sering membuka almari makan untuk mengetahui isinya. Jika makanan itu dianggap kurang baik, dia memberikan makanan tambahan. Anehnya: jika kami menerima kiriman makanan dari mbak Mi, yang lebih disukai oleh anak-anak, dikatakan mbak Mi masih tetap royal walau keadaan ekonominya tidak baik.

Mbak Is berusaha menjaga jarak dengan Endang, tetapi terhadap pembantu kami  dia sangat feodalistik. Untung mbah Arjo juga dari lingkungan kerabat keraton, sehingga telah terbiasa menghadapi para priyayi.

Tatacara memasuki rumah, cara berpakaian, menjemur pakaian, berbicara dengan majikan, memperlakukan momongan semua diatur secara feodalistik. Keluarga Tatik hanya bertahan tiga bulan untuk kemudian mengontrak rumah dilain tempat.

 Suatu saat Endang jatuh sakit, menurut pengujian laboratorium Endang menderita anemia, kekurangan sel darah merah sehingga  harus menghentikan menyusui bayinya, saat itu Bagus baru berusia tiga bulan. Dokter Trihendra memberikan cuti kepada Endang dan mengobatinya secara cuma-cuma. Rumah Dr Tri di Langenarjan, seratus meter disebelah baratRumah mbak Mi. Setiap akan kekantor dokter Tri mampir ke Siliran 29, memeriksa kondisi Endang. Pernah selama satu minggu setiap hari Endang menerima injeksi untuk menambah sel darah merah.

 Atas pengawasan dan perawatan dokter Tri kondisi Endang semakin membaik  Ketika Bagus  berumur delapan bulan Endang tidak datang bulan, ternyata Endang mengandung. Hal ini sangat menghawatirkan dokter Tri, tetapi janin itu kami pertahankan. Dokter Tri sependapat dan memberikan cuti hingga bayi dalam kandungan itu dilahirkan.

 Ketika Bagus berusia sebelas bulan Endang mengalami keguguran.

Kesehatan Endang jatuh lagi hingga atas nasehat dokter Tri kami  kembali ke Jendral Sudirman. Rumah Siliran Lor kami kosongkan.

 Karena barang-barang masih kami tinggal di Siliran Lor 29,  jika malam  aku pulang ke Siliran 29.

             Pak Dwijo mempunyai bekas murid kesayangan di SR Pujokusuman, namanya Hartini, dia satu sekolahan dengan aku  ketika di SMP II. Tin sering datang ketempat Pak Dwijo dan jika kebetulan bertemu  aku, dia mengajak aku berlatih musik, dia bernyanyi, aku mengiringi dengan guitar. Suatu saat Endang datang kerumahku bersama seorang temannya, Wowok. Saat itu kami bertiga, aku sengaja mempertemukan Hartini dan Malikus Supardi yang menaruh hati pada Tin. Endang dicemooh  oleh Wowok, tetapi Endang tak  cemburu karena telah mengetahui rencanaku mempertemukan Tin dan Malikus., agar Tin tidak mengusikku lagi.

             Suatu pagi, ketika aku belum berangkat ke Jendarl Sudirman, Hartini datang bersama seorang anaknya yang sebaya dengan Sigit. Suami Tin adalah seorang dokter Spesialis.  Sebelum kerumah pak Dwijo ,Tin  mampir kerumahku dan kutemui diruang tamu.

             Tanpa kuduga mbak Is nongol dan memintaku segera berangkat kerja.

Aku meminta maaf pada Tin karena tak dapat berbicara berlama-lama. Tin sangat kecewa dan tak jadi kerumah pak Dwijo. Aku cepat-cepat memacu scooter sementara dia  memasuki mobil mewahnya.

             Sejak kejadian itu aku dilarang mbak Is tidur di Siliran. Dikatakan aku lelaki tak bertanggung jawab, isteri  sedang sakit malah ditinggal dirumah.

             Aku menyuruh Nunung, adik iparku yang bungsu, dan temannya, Yulianto,  menunggu Siliran 29. Saat itu Taman Hiburan Rakyat (THR) dibuka dibekas Kuburan  Belanda Kerkop. Pak Dwijo memberitahukan bahwa kedua  anak muda itu sering pergi ke THR.  Aku tak percaya dan membuktikan dengan bertamu pada mbak Is sampai larut malam. Mbak Is mengira sedang terjadi sengketa antara aku dan Endang hingga mengizinlan aku tidur di Siliran.

 Pukul satu malam kedua pemuda itu datang, aku keluar dan menemui mereka, kutanyakan dari mana dan mengapa baru pulang larut malam. Mereka dengan jujur mengaku dari THR. Mereka meminta maaf, tetapi kukatakan  mulai esok pagi mereka tak boleh tinggal di Siliran. Nunung kuminta kembali ke Jendral Sudirman. Mbak Is yang mengetahui kejadian itu  memuji tindakanku yang bijaksana itu.

             Nunung kembali ke Jendral Sudirman.. Saat itu Nunung belajar beladiri pada Perguruan Merpati Putih hingga sering berlatih hingga malam.  

             Ketika mulai dapat berjalan Bagus mendapatkan musibah.  Mbah Arjo suka ngerumpi  hingga tak disadari Bagus menyusup ke dapur dan mengambil teh panas yang baru saja dipersiapkan. Teh itu mengguyur leher dan dadanya. Untung pada saat itu aku berada didekatnya, kuambil ember berisi air yang akan digunakan emcuci pakaian dan kuguyurkan ketubuh Bagus.

             Kubawa Bagus kerumah sakit Betesda. Leher dan dada Bagus melepuh. Aku bersyukur karena teh panas itu tidak mengenai muka dan mata Bagus. Dokter membenarkan tindakanku mengguyur tubuh Bagus dengan air tawar itu, karena dapat melarutkan gula yang melekat dikulit bagus. Gula yang dilarutkan dalam teh dapat sedikit menurunkan suhu teh, tetapi jika menempel dikulit akibatnya fatal.

             Musibah ini semakin memperburuk kondisi Endang. Disamping dokter Tri, teman bapak mertua yang bernama dokter Sampurno ikut mengobati Endang. Disamping ilmu kedokteran pak Sampurna menggunakan pengobatan alternatif.

            Mengajar di Sekolah Tehnologi Menengah Pembangunan:

           Mas Partono, kakak klas di Fak Tehnik Jurusan Listrik UGM menawarkan pekerjaan mengajar di STM Pembangunan. Sekolah ini merupakan projek percontohan, gedungnya baru dan dilengkapi lab dan bengkel/ workshop modern. Honor tenaga pengajar melebihi honor dosen di Perguruan Tinggi, empat kali honor guru SMA atau STM biasa. Aku diserahi mengajar Instrumen Listrik ( Pengukuran Listrik) dan Keselamatan kerja.

 Saat itu projek baru berjalan satu tahun sehingga korukulumnya belum sempurna. Untuk menyelesaikan pendidikan paling cepat dibutuhkan waktu  empat tahun ajaran. Sekolah ini memiliki berbagai jurusan, diantaranya: Listrik, Mesin, Sipil, Kimia, Pertambangan/Geologi, Geodesi, Arsitek,Tehnologi pangan dll.

             Tahun pertama aku harus membuat “korukulum” sendiri untuk pelajaran Keselamatan Kerja. Buku panduan  keselamatan kerja yang dikeluarkan PLN lebih banyak memuat peraturan dan hukum yang harus dipatuhi oleh pekerja. Diperguruan tingga aku belum pernah mendapat kuliah mengenai keselamatan kerja khusus untuk kelistrikan. Aku mengambil bagian-bagian tertentu dari Keselamatan Kerja Umum yang ada kaitannya dengan kelistrikan.

Buku instrumen listrik yang digunakan di STM biasa tidak sesuai lagi dengan peralatan baru, namun dapat kumanfaatkan sambil menunggu buku baru. Peralatan yang tersedia di STM Pembangunan merupakan generasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan sewaktu siswa memasuki lapangan kerja. Lulusan sekolah ini diharapkan dapat langsung terjun dalam industri dan manufaktoring.

Menurut pendapatku projek ini tidak dipersiapkan secara cermat, ini terbukti para guru baru dikirim kepusat latihan dan keluar negeri setelah projek ini berjalan. Ini merupakan pemborosan waktu dan biaya. Guru dibayar mahal padahal belum siap untuk mengajarkan tehnologi baru. Saat guru dikirim kepusat latihan kerja atau keluar negeri terjadi kekosongan tenaga pengajar hingga diambilkan pengganti yang kurang kompeten, misalnya aku.

Aku tidak merasa nyaman mengajar di sekolah mewah dan modern ini, walaupun dibayar tinggi; guru diperlakukan kurang proporsional, sebaliknya murid sangat dimanjakan hingga cenderung “kurang sopan” terhadap guru. Cara penyusunan jam mengajar sesuka hati pembuatnya, terjadi jam-jam kosong menantikan jam mengajar berikutnya. Guru yang mangkir akan mendapat teguran tiada ubahnya sebagai tukang kebun.

Fasilitas yang tersedia sangat lengkap: Aula untuk beristirahat guru sambil main ping-pong, catur dan permainan lainnya bagi guru yang menunggu jam mengajar.  Tersedia kantin, lapangan tenis, lapangan sepak bola, lapangan basket, bulu tangkis dan voley ball, Laboratorum, bengkel Anehnya seingatku tidak tersedia perpustakaan dan ruang baca.

 Kesibukanku mengajar merupakan kompensasi keadaanku dirumah.

Berbagai usaha kami lakukan demi kesembuhan Endang: kedokter spesialis penyakit dalam, spychosomatik……… tak diketemukan jenis penyakit yang diderita Endang, namun berbulan-bulan Endang dalam keadaan terbaring, untuk duduk saja dia tak sanggup, apalagi berdiri atau berjalan. Yang dirasakan kepalanya sakit dan berputar hingga ingin mutah.

             Ketika kami coba berobat ke seorang dukun, dikatakan bahwa Endang terkena kutukan dari seorang lelaki yang pernah dikecewakan. Untuk menghilangkan kutukan itu kami harus melakukan ritual yang justru menambah beban mental dan ekonomis, namun semua itu kami turuti. Yang sangat menolong ialah ramuan obat tradisionilnya berupa rempah-rempah, daun dan akar. Obat ini hanya mampu mengurangi rasa mual.

             Nunung memanggil pendiri Merpati Putih, mas Budi namanya, untuk mengobati Endang. Mas Budi mengajarkan senam untuk melancarkan peredaran darah. Mula-mula hanya menggerakkan tangan sambil telentang, kemudian duduk, membongkokkan badan hingga Endang dapat duduk, tetapi jika berdiri penyakitnya kambuh, demikian juga jika telentang, kepalanya harus digantungkan diujung tempat tidur.

             Dokter Sampurno sering datang melakukan meditasi untuk “mengusir” kekuatan jahat yang mengganggu Endang. Suatu saat dokter yang sekaligus “dukun” itu menasehatkan, jika Endang tetap sakit  dan tidak bersedia melayaniku sebagai seorang istri, aku disarankan  mencari perempuan lain untuk melepaskan nafsu lelakiku, karena jika tidak aku dapat terimbas oleh penyakit istriku. Hal ini disampaikan didepan Endang. Endang mempersilakan aku mencari perempuan lain asal yang bersih, hingga aku tidak akan tertular penyakit kotor. Pak dokter sangat terkejut mendengar jawaban Endang, dia mengajak aku keluar dan meminta maaf atas “kelancangan” ucapannya itu.

  Aku memprotes, sebab aku khawatir ucapan itu akan melukai hati Endang dan menyebabkan penyakitnya justru semakin parah.

Menurut dokter Sampurna penyakit Endang adalah psychosomatik yang hanya dapat disembuhkan atas kemauan sendiri. Keterangan ini sesuai dengan keterangan dokter Panji dari Magelang. Dokter Panji menyatakan, bagaimana seorang dapat sembuh jika orang itu sendiri tak ada kemauan untuk sembuh. Aku diminta untuk menuruti setiap keinginan Endang, terutama dalam hal makanan, padahal setiap melihat makanan Endang justru akan mutah.

 Dengan “ancaman” jika tak mau sembuh suaminya akan ternodahi oleh perempuan lain, diharapkan Endang berusaha untuk sembuh. Aku tak sependapat dengan pendapat dokter Panji dan dokter Sampurno, menurutku semakin orang tak mempercayai sesuatu yang dirasakannya, Endang semakin kehilangan gairah hidupnya.

  Aku yakin Endang benar-benar sakit walaupun dokter menyatakan penyakitnya itu bukan penyakit fisik melaikan psychosomatik, sehingga aku tak pernah menuntut untuk dilayani dalam segala hal. Nasehat dokter Sampurno yang mengatakan seorang lelaki yang tak terpenuhi kebutuhan seksnya akan  stres kuanggap sebagai lelucon. Aku bahkan merasa heran mengapa seseorang lelaki dapat melakukan perbuatan/hubungan seks jika tidak dilandasi rasa cinta.

Yang terasa berat bagiku justru dalam kelayakan hidup bermasyarakat.

Aku tiada ubahnya sebagai seorang duda, bukan karena tidak dilayani oleh seorang istri dirumah melainkan  tak pernah didampingi oleh seorang istri dalam kehidupan bermasyarakat. Sigit dan Bagus masih terlalu kecil untuk mengetahui “kesulitan hidup kami.”, lain halnya Yulia yang telah duduk diklas tiga dan Ida yang duduk diklas satu Sekolah Dasar.

             Saat itu aku memilki Vespa sehingga setiap liburan kuajak kedua anakku,Yulia dan Ida, keluar kota: ke Prangtritis, Borobudur, Kaliurang dll.

Setiap pergi ke pista kedua putriku ini menemaniku sebagai pengganti ibunya. Saat-saat beginilah yang terasa  sangat pedih.

 Kedua anak itu kumasukkan dalam kegiatan senitari diluar kegiatan sekolah. Aku sangat pedih ketika ujian dan pentas tari kedua anakku terlantar karena tidak ada yang merias. Andaikata mereka didampingi oleh ibunya pasti tidak akan mengalami hal yang “menyedihkan” ini. Untung saat itu aku membawa kamera, kuambil gambar seorang ibu yang sedang merias putrinya, sebagai balas jasa Yulia dan Ida diriasnya.

Mertuaku menduga penyakit Endang akibat keadaan lingkungan yang tidak nyaman, sehingga mimintaku untuk membangun rumah di Mesan, dibelakang statsiun TVRI Yogyakarta. Kami memiliki tanah seluas dua ratus meter persegi yang letaknya dibelakang tanah milik mertuaku. Beliau menukar tanah itu dengan sebagian tanah miliknya yang terletak dipinggir jalan kecil didesa Mesan.

 Aku teringat, Endang telah lama ingin memiliki rumah sendiri dari hasil cucur keringat sendiri sehingga kami dapat hidup tenteram tak ada yang “mengusiknya”. Ketika rencana itu kusampaikan kepada Endang, dia mendukungnya. Ternyata Endang telah menabung untuk keperluan itu.

Untuk pertama kali kami akan membangun rumah permanen dengan ukuran 5 x 12 m2., sekaligus merupakan batas dengan tanah tetangga.

Prev: Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (1)

ibnusomowiyono wrote on Dec 14, ’08
Sebenarnya saya sudah menulis sampai dengan pemugaran makam Gambiran, paska Gempa Yogya, tapi belum saya posted, tetapi Wulan dapat membaca stph lanjutan dari stph 2, yaitu stph 3,4,5,6,7,8.pada blog ini. Trima kasih atas perhatian Wulan. Doakan eyang Som dapat terus berkarya.
putuwulan wrote on Oct 6, ’08
Hallo Pak Som, Saya Wulan Putranya Mb. Udji Yogya.
Saya senang baca crita Pak Som.Mungkin karena saya juga trah Notogendewo jadi paham dgn alur ceritanya dan tau bbrp person yang di cerita pak som
Banyak pelajaran positif yang bisa diambil.
Ditambah lagi donk pak crita2nya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s