Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (3)

Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (3)

Ukuran tanah tempat kami membangun adalah lebar 12 mpanjang 18 m. Rumah yang kami bangun berukuran 12 m x 5 m berbatasan dengan tetangga:  Pak Muji (utara), Pak Tri (timur) , Pak Wir/mertuaku (barat), Jalan kecil Mesan (selatan).  Bangunan itu terletak dibagian paling belakang menghadap keselatan, sehinggadidepannya masih terdapat tanah berukuran  12 m x 13 m yang ditanami dengan berbagai tumbuh-tumbuhan oleh mertuaku.

Dengan menggunakan tabungan Endang dan penghasilankusetapak demi setapak “rumah idaman”  itu kami ujudkan. Kesehatan Endang semakin membaik, sehingga aku semakin yakin bahwa suatu saat penyakit psychosomatik yang diderita Endang akan sembuh. Tanpa mengorbankan “kesetiaanku” kepada istriku aku dapat “selamat” dariancaman stres sebagai yang dikatakan oleh dokter Sampurno.

Rumah itu terdiri dari: Gudang/penyimpanan materialseluas 3 x 5 m2, Kamar tidur , kamar makan, kamar madi/wc, dapur dan teras. Gudang itu kami gunakan untuk menyimpan kusen, kayu dan bahan bangunan lainnya karena kami ingin membangun lagi sebuah rumah type Sri Rejeki didepannya yang berukuran 6 x 9 m2.

Sumur telah ada dibangunan lama milik mertuaku. Akumemasang listrik berdaya  1350 watt. Karena jarak pal terakhir masih jauh, maka aku menambah satu pal yang ongkosnya cukup mahal. Ketika akan ditarik kabel dari pal baru ke rumah kami ternyata terhalang oleh pohon kelapa milik tetangga, bu Sis. Pohon itu harus ditebang, pemilik pohon meminta gati rugi sebesar kerugian akibat penebangan pohon itu.Perhitungannya: tiap tahunpohon itu menghasilkan a rupiah, menanam phon baru sampai berbuah memerlukan b tahun, jadi yang diminta adalah axb rupiah. Bu Sis ternyata heibat, hasil perhitungan itu membuat aku terbelalak,tetapi masih lebih murah jika dibandingkan dengan memasang satu pal lagi.

Pak Triyono yang juga ingin memasang listrik bersedia memikul setengah dari ganti rugi itu kerena dia tidak perlu memasang pal baru dan dapat mencabang dari pal diatas rumah kami.

Tetangga lainnya dapat menikmati pal baru yang kupasang dan pal pada rumah kami yang dicabang sampai  dua puluh rumah penduduk lainnya.

Dengan adanya listrik masuk ke Mesan banyak penduduk menggunakan pompa listrik dan instalasi air bersih. Aku mendidik seorangtetangga, pak Kardono, untuk pemasangan pompa air, instalasi air dan instalasi listrik.

            

 Zaman Orde Baru:

            Kami banyak menikmati “kemajuan” yang dicapai selama Orde Baru,namun banyak  masyarakat disekelingku yang menjadi  korbanketidak adilan rezim ini.

           Di zaman Orde Lama mahasiswa diharuskan mengikuti pelajaran Agama. Bagi mahasiswa yang beragama Budha, Hindu, Konghucu,dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tersedia pelajaran/kuliah Etika Sosial, karena dirasa kurang efifien mengajarkan agama/ keyakinan masing-masing yang pesertanya hanya sedikit. 

            Ketika Orde Baru mahasiswa  diharuskan mengikuti satu diantara agama yang diakui oleh negara: Islam,Hindu Bali,Budha,Kristen danKaholiek. Mereka yang bernasib buruk,yaitu yang telah mengikuti pelajaran Etika Sosial harus mengikuti salah satu pelajaran Agamayang tersedia walaupun dia tidak menyakini agama tersebut. Lebih celaka lagi yang kebetulan dosennya seorang anggauta HSI yangberafiliasi dengan PKI, semua hasil ujian dan kuliah Etika Sosial dibatalkan sehingga mereka( termasuk aku) harus mengulangi pelajaran  Agama, yang terpaksa dipilihnya, mulai  dari tingkat dasar, sebab mahasiswa ini dianggap telah terkena indokrinasi komunis.

 Kuliah Agama Katholik tersedia untuk “umum” karena tak mengharuskan mahasiswa menganut agama Katholiek atau mengikuti ritual Katholiek.

 Menurut “janji” yang akan diajarkan adalah segi moralitas dan etika. Aku memilih kuliah Agama Katoliek yang diberikan oleh seorang Pastur,Rama  De Blot.

            Rama memang memberikan pelajaran moralitasdan etika, tetapi moralitas dam etika dari segi kehidupan Kristiani, sehingga dalam kuliah sering terjadi debat antara dosen dan mahasiswa yang belum mendapatkan bimbingan “roh kudus”. Untung dosen kami berwawasan luas,sehingga dapat menghindari konflik yang berkepanjangan.

            Di jaman Orde Lama Partai Politik bersaing menyusup masuk dalam kehidupan kampus. Berbagai organisasi disusupkan oleh Party Politik,misalnya: HMI,PMKRI,GMNI,CGMI,IPMI, dll. Organisasi ini memperebutkan massa mahasiswa, hingga kehidupan kampus tercabik-cabik.

            Saat itu mereka menarik simpati dengan berbagai cara, misalnya membagi-bagikan diktat perkuliahan, bimbingan studi gratis, bantuanbeaya pendidikan dan lain-lain. Banyak mahasiswa, terutama yang keadaan ekonominya lemah, bersedia penerima kebaikan dari salah satu organisasi mahasiswa itu. Mereka sekedar terdaftar karena menerima diktat, mengikuti bimbingan studi gratis atau hanya sekedarsimpatisan, namun  mereka dicatat sebagai anggauta organisasi tersebut.

 Saat Orde Baru diadakan “pembersihan” terhadap organisasi mahasiswa,terutama yang dianggap berafialsi dengan PKI. Banyak aktifis CGMI ikut dibuang ke  pulau BURU,tanpa melalui proses Pemgadilan Terbuka.

            Yang lebih lucu lagi: banyak anggauta GMNI yang mengalami nasib sial karena dianggap berafiliasai dengan PNI ASU. GMNI merupakan musuh bebuyutan CGMI,justru saat itu jadi bulan-bulanan untuk membabat Soekarnoisme dengan dalih faham ini identik dengan Marxisme.

            Kesewenang-wenangan Orde Baru yang tak dapat kumengerti ialah “menumpas” habis sampai tujuh turunan orang-orang yang terlibat PKI.Aku pernah mendengar/membaca sebuah doktrin :Hancurkan musuh sebelum menyusun kekuatan kembali ! Doktrin ini sangat cocok dengan sifat rationilku, tetapi sangat bertentangan dengan hati nuraniku.

            Coba pikir: Apakah  Suharto dan pengikutnya tidak ngeri jika suatu saat rejimnya jatuh dan akan diperlakukan oleh lawannya sebagai yang pernah dilakukan terhadap musuhnya?

            Dalam ceritera pewayangan: Seorang raksaksa akan melahap lawannya tatkala lawan itu tak berdaya. Sebaliknya seorang ksatria akanmembiarkan lawannya jika lawannya itu sedang dalam keadaan “sekarat” untuk memberikan kesempatan bagi lawan untuk menyusunkekuatan. Secara psychologi: perbuatan raksaksa itu dikatakan aji-aji mumpung dan sangat rasionil, sedangkan perbuatan ksatria ituirrasionil, namun menunjukkan bahwa seorang ksatria sangat percaya diri atas kemampuannya.

             Dalam olah raga dikenal adanya jiwa sportif: kejujuran dan mentaati peraturan bermain lebih penting dari sekedar kemenangan. Seorang juri,wasit atau pengamat/reporter harus objektif, berlaku adil, dan tidak memihak, lain halnya suporter atau pemegang toto yangbersemboyan : “benar atau salah itu jagoku; jika perlu turun lapangan membela jagonya”.

 Aku mengakui “keberhasilan” Orde Baru dalam bidang pembangunan fisik,aku ikut menikmati manisnya,tetapi aku tak menutup mata dan mata hati bahwa “beayanya” terlalu mahal dengan mengorbankan orang-orang yang tak berdosa dan tak berdaya. Hukum saja yangbersalah sesuai dengan kesalahan yang telah diperbuat, tetapi jangan menyiksa anak cucunya. Sadarkan mereka agar tidak mengulangikesalahan nenek moyangnya, dengan demikian dapat diputuskan mata rantai dendam.

            Aku mengalami “kepahitan” zaman Orde Lama, tetapi aku berbangga karena saat itu martabat bangsa Indonesia sangat tinggi, disegani dan dihormati oleh kawan dan lawan.

       Di zaman Orde Lama aku dapat membusungkan dada, karena bangga, walaupun harus mengencangkan ikat pinggang. Di zaman Orde Baru yang dapat kubusungkan perut dan nafsu,karena kenyang dan segalanya dapat diperoleh dengan mudah walau telah terbukti didapat dari berhutang dan mengekploitasi kekayaan Ibu Pertiwi.

     Saat ini yang dapat “kubanggakan” membiarkan sarjana exudus keluar negri (seperti anak-anakku) karena dinegeri ini yang dihargaisekedar ijazah bukan hasil kerjanya, sebaliknya pekerja yang tak punya keahlian dan keterampilan beramai-ramai  mengadu nasib keluar negeri dengan mempertaruhkan kehormatan bangsa ini untuk terinjak-injak oleh bangsa lain.

      Di zaman Orde Baru:  anak tetanggaku, kakak klas Yulia bunuh diri karena menjadi perawan tua, akibat tak laku “dijual” gara-garaayahnya dibuang di Buru, padahal dia cantik dan kelakuannya baik. Tetangga yang lain hidupnya sangat berlebihan, hingga anak-anaknya tidak karuan namun “dihormati” dan diperebutkan karena uangnya melimpah dan sering mengadakan pista pora.

      Aku tidak hanya menyalahkan penguasa Orde Baru, tetapi rakyat juga telah teracuni oleh materialisme. Materialisme adalah musuh utamadari idealisme.

            Mertuaku adalah seorang Theosofi sejati sejak mudanya,beliau adalah wakil ketua Sanggar Blawatski di Jartata, ketuanya adalah dr Sarjito, salah seorang pendiri Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Pada zaman Orde Baru beliau terpaksa mengaku sebagai beragama Budha karena pemerintah Orde Barus hanya mengakui lima agama yang boleh dianut oleh warga negara Indonesia. Agama Budha dianggap paling dekat dengan keyakinan Theosofi  sebab keduanya menyakini hukum karma dan adanya reinkarnasi.

            Beliau menggunakan Loge Dharma untuk tempat kebaktian umad Budha dan memasang papan nama didepan loge Dharma : Cetia Tamma Dharma Santi. Kami diminta mengikuti langkah beliau. Asih,adil iparku,mengikuti masuk agama Budha. Endang tetap beragama Islam dan aku tetap pada keyakinanku, Ketuhanan Yang Maha Esa. Keyakinan dan agama adalah salah satu bentuk idealisme.Kami tak rela mengorbankan idealisme sekedar untuk mendapatkan nafkah, kedudukan atau jodoh.

            Papan nama Cetia Tamma Dharma Santi semakin memperburuk  hubungan Bapak Wiryo Atmojo dengan Ibu Sarjono cs, karena bu Sarjono memeluk agama Kristen. Papan nama itu hanya berumur beberapa bulan dan harus diturunkan atas perintah Kejati.

            Diam-diam Loge Dharma digunakan sebagai tempat beribadah salah satu sekte Agama Kristen. Pak Wir cs tak mengusik keberadaan tempat peribadahan ini,  melainkan memindahkan kegiatan “kesepuhannya”(bukan peribadahan agama Budha) kerumah “anggautanya”. Beberapa anggauta “kesepuhan” itu diantaranya Bapak Jekso Negoro, dokter Sampurno, bapak KRT Notobroto dan para manula lainnya.

            Jika giliran jatuh pada rumah kami,kadang aku diikut sertakan pada diskusi itu. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak terjangkau olehakal, diantaranya masalah Kehidupan Abadi dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

 =Mereka menafsirkan sangkan paraning dumadi sebagai berikut: Segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

            Aku bertanya: Apakah Tuhan termasuk dalam lingkaran kehidupan? Apakah Tuhan termasuk dalam sistem Alam Semesta?

            Menurut pak dokter Sampurno itu merupakan hal gaib, kita semua tak mungkin tahu.

            Pak Jekso Negoro mengatakan Tuhan itu berada dimana-mana oleh karenanya dapat mengetahui segala perbuatan kita. Aku mengingatkan: Itu dapat di salah tafsirkan Tuhan itu banyak sekali. Pak Jekso memberi contoh udara itu berada dimana-mana, tapi udara itu satu. Aku keberatan, menurut ilmu fisika udara itu terdiri dari berbagai gas dan tidak terdapat diseluruh Alam Semesta.

            Rama Wir, mertuaku mengatakan :Tuhan itu bukan materi melaikan “zat”.  Tetapi yang dimaksud “zat” bukanlah sebagai yang dimaksuddalam ilmu fisika, melainkan dalam artian religius.

            Kami semua tak mampu mendifinisikan Tuhan, yang jelas jika terjadi kiamat, Alam Semesta lenyap, Tuhan tetap exist karena Tuhan ituabadi, tak dikuasai oleh dimensi waktu. Semua spendapat.

            Kesimbulan: Tuhan tidak termasuk dalam lingkaran kehidupan yang tidak abadi, dan dikuasai oleh dimensi waktu. Tuhan itu abadi !Tuhantidak termasuh dalam sistem Alam Semesta, melainkan Alam Semestalah yang berada dalam genggaman Nya.

 Jika ingin “kembali”  kesisi Tuhan, hingga dapat  memasuki kehidupan abadi seseorang harus melepaskan diri dari “jeratan” mata rantaikehidupan yang tidak abadi.

            

            

        MAWAS DIRI/INTROSPEKSI:

Tanggal 24 Maret 2008, Yulia berliburan di Yogya bersama Athor. Yulia mengisahkan masa kecilnya.  Aku jadi sadar bahwa orang-orang lain telah “mencampuri” urusan pendidikan anakku.

 Yulia bertanya kepada Nunung, bagaimana rasanya merokok.Yulia disuruh mencoba mengisap rokok. Untung Yulia tersengal sengal nafasnya dan muntah. Yulia merasakan akibat yang ditimbulkan merokok itu, sehingga tak pernah tertarik pada rokok. Nunung juga memperkenalkan daun ganja dan menceriterakan akibat dari mengisap ganja.

            Karena Nunung sering pulang malam, kami membuatkan kamar yang pintunya langsung menghadap keluar, sehingga dia bebas dan kami tak terganggu. Suatu malam Nunung masuk lewat jendela sehingga kumarahi. Dia meminta maaf dan tak akan mengulangi perbuatannya.

            Yulia berkisah tentang kejadian itu:  Saat itu pintu kukunci, Nunung akan masuk kerumah untuk buang air besar, Yulia membukakanjendela lalu kembali kekamarnya. Kudapati jendela masih terbuka, Nunung ada dikamar makan. Yulia tahu saat aku marah, tetapi dia takut dan berpura pura tidur, Nunung juga tak menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

 Kata Yulia, saat itu aku bagaikan “monster” yang sangat menakutkan, mudah marah dan tindakanku sangat mengerikan. Aku baru sadar bahwa saat itu aku sebenarnya mengalami stress berat akibat Endang sakit berkepanjangan, dan beban hidup yang harus kupikul. Kata dokter Sampurno…………. jika tak terpenuhi kebutuhan seks dapat menyebabkan orang (perempuan atau lelaki) mengalami stres.

            Aku tidak menyesal dikatakan “monster” dan sangat “ditakuti” dari pada aku menuruti nasehat dokter Sampurno untuk memenuhi kebutuhan seks diluar pernikahan dan tanpa rasa cinta.

         Aku berterima kasih Yulia bersedia mengungkapkan masa lalunya. Yulia merasa saat kecilnya  aku sangat otoriter padahal aku sangat mencintainya dan berusaha membahagiakan keluargaku.

           Aku balik bertanya kepada Yulia: apakah masih teringat ketika Nunung hampir tewas digilas Bus ketika pergi ke Kaliurang dengan kendaraan pinjaman dari Yunianto? Kuminta dia mengisahkan kejadian itu.

            Saat itu Nunung tak berani meminjam Vespaku, maka dia meminjam kendaraan Yunianto dan mengajak Yulia ke Kaliurang, tetapi Yuliasudah biasa kuajak berdarma wisata keluar kota dan “takut” jika aku marah. Andaikata Yulia tak  pernah kuajak bertamasya dan tak takut kepadaku pasti dia mau digoncengkan pamannya yang sangat dicintai itu. Nunung selamat karena terkapar diantara roda bus, bagaiman dengan Yulia yang digoncengkan?

 Keluarga Yunianato menanggung segala akibat kecelakaan itu : pengobatan Nunung dan kerusakan kendaraan yang hancur tergilas roda bus.Saat itu Nunung belum memiliki SIM.

            Yulia juga mengisahkan latar belakang meninggalnya Nunung.Nunung tidak meninggal karena liver yang akut hingga muntah darah,sebagai yang dinyatakan oleh dokter RS Bethesda. Saat itu Nunung berpacaran dengan seorang gadis Batak, Tetsi namanya. Tiba-tiba gadis itu memutuskan hubungan cintanya tanpa alasan jelas. Gadis itu berpacaran dengan bekas teman sekelas Nunung di SMP V Negri Yogya. Pemuda itu dihajar oleh Nunung dan tidak melawan secara fisik,tetapi  hanya berdiam diri sambil mulutnya berkomat-kamit. Ini barudisadari oleh Nunung ketika telah terkapar dirumah sakit. Nunun tidak “menyesali” kematian yang tidak wajar itu, dia bahkan bangga akan mati sebagai pahlawan cinta, sebagai yang dialami penyanyi idolanya, Elvis Pressly. Dia yakin pemuda itu menggunakan sihir untuk merebut Tetsi dan tak berani melawan Nunung secara jantan.

            Menurutku pemutusan cinta yang dilakukan oleh Tetsi, pacar Nunung, itu bukan karena disihir, sebab terbukti saat Nunung meninggal ada seorang gadis lain yang telah menggantikan Tetsi, namanya Nining. Sepeninggal Nunung gadis itu stres berat,sering datang kerumah kami dan berziarah ke makam Nunung.

            Menurut Yulia, Nining memang sangat mengidolakan Nunung, tetapi Nunung tidak mencintai Nining dan tetap mencintai Tetsi. Nunungtidak mau menyakiti hati Nining dan menganggap sebagai adik saja.

 Nunung seorang pemuda yang tampan dan simpatik,  dia kuliah di Akademi Managemen Perusahaan Keluarga Pahlawan. Banyak gadis yang mengidolakannya. Nining paling berani mendekati Nunung hingga menimbulkan kecemburuan Tetsi.

            Ketika Nunung memerlukan darah banyak teman-temannya bersedia menjadi donor. Saat Nunung meninggal banyak sekali kawula muda yang melayat dan menangis histeris. Kata Yulia keinginan pamannya itu terkabul, mati sebagai pahlawan cinta.

            Menurut aku kematian Nunung  bukan karena penyakit lever akut atau terkena sihir melainkan karena saat tergencet diantara roda bus pada kecelakaan di jalan Kaliurang itu sebenarnya Nunung mengalami luka dalam, ini terlihat setelah kecelakaan itu Nunung enggan untuk berlatih bela diri.

     Asih, kakak Nunung, lain lagi ceriteranya: Asih dijuluki Peri Damri,karena wajahnya cantik dan tinggal dibekas Garage Damri.

            Ada seorang siswa SLB yang tergila-gila kepada Asih dan ingin menjadi pacar Asih. Asih berusaha untuk tidak menyakiti hati siswa SLB itu dan memintanya belajar giat agar cepat selesai sekolahnya lalu melanjutkan ke perguruan tinggi hingga menjadi sarjana. Setelah menjadi sarjana baru berpacaran.

            Dosen-dosen muda AMY  banyak yang menaksir Asih, tetapi ada seorang yang sangat serius, namanya Prapto. Sayang usia dosen ini terpaut jauh dengan Asih, sehingga Asih tidak berminat. Asih tidak mau melukai hati Prapto dengan menyatakan bahwa dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu sebelum memikirkan berpacaran.

            Yulia dan adik-adiknya mendapat berkah dari kecantikan bibinya, hingga sering menerima hadiah dari pemuda dan lelaki yangmengidolakan Asih. Kata Yulia: disini permen, disana kue, disitu mainan,….. besok apa lagi ya? Aku merasa keterlaluan  karena aku baru tahu semua itu saat ini. Saat itu aku terlalu sibuk mencari uang dan maniak kerja untukmewujudkan impian kami membangun sebuah rumah demi “kebahagiaan” sekeluarga dan tidak terusik oleh bu Sarjono cs.

            Asih kuliah di Sanata Dharma, jurusan Ekonomi dan merupakan “bunga kampus”.Beberapa kakak klasnya berusaha memikat hati Asih,ada seorang yang tergolong “nekat”, namanya Toni Indriyono.  Pemuda inilah yang berhasil menaklukan Asih hingga diizinkan oleh mertuaku menikahinya sebelum Asih selesai kuliahnya.

            Menurut dugaanku saat itu Asih risih karena “ditaksir” seorang “bujangan lapuk” dan ingin mendapatkan seorang “superman” yangsanggup melindunginya. Mungkin karena  Asih ingin terbebas dari kakak iparnya yang otoriter dan bagaikan monster.

 Mertuaku yang telah menjadikan Asih seorang Budhis dengan mudah merelakan Asih menikah dengan seorang Katholik dan mengikuti agama suaminya membuktikan saat itu mertuaku sedang mengalami “krisis idealisme” akibat tekanan Orde Baru, atau beliau khawatir jika terjadi sesuatu antara aku dan Asih.

            Sakramen pernikahan Asih dan Toni diadakan di sebuah gereja, resepsi pernikahannya kami adakan disebuah restoran. Semua berlangsung dipagi hari hingga siang. Asih langsung diboyong kerumah mertuanya. 

            Tanpa terduga sore harinya Prapto datang dari Singapura membawa buah tangan dan memberi tahu kalau kedatangannya dalam rangka miminta orang tuanya untuk melamar Asih secara resmi. Prapto tidak tahu bahwa Asih sudah menikah dengan Toni.

            Demi mendengar penjelasan dari mertuaku tentang perkawinan Asih dengan Toni, Prapto sangat terpukul dan langsung meminta diri. Sejak itu Prapto melanglang buana dan jarang kembali kekampung halamannya di Prambanan.

Jaman Edan, ora melu edan ora keduman:

 Kesehatan Endang mulai membaik, dia kuajak melihat rumah Mesan yang telah siap pakai. Endang sangat senang, tetapi rumah itu dirasa belum mencukupi kebutuhan, hingga dia ingin membangun rumah seperti denah yang  telah kami beli dari toko buku, namanya Sri Rejeki.

 Setelah cuti selama tiga tahun karena sakit Endang mulai aktif bekerja lagi di AMY.

 Ir Bomo Wikantioso M.Sc, teman sekelasku di klas Dudo SMA III B Negri Yogya, menjabat dekan Fakultas Tehnik UGM. Aku ditunjuk sebagai fotografer fakultas tehnik UGM. Usaha fotoku menggeliat bangkit mengejar ketinggalan. Aku bekerja sama dengan seorang Tionghoa, namanya Jing Jae dan seorang karyawan Sinar Mas (Kim Sin). Foto hitam putih kutinggalkan, aku memasuki foto berwarna. Usaha instalasi air dan pompa air listrik maju, hingga uang berlimpah.

 Honorarium di STM Pembangunan kugunakan untuk sekedar mentraktir teman-teman seprofesi, hingga dikatakan setiap bulan aku berulang tahun.

 Gaji dari tugas belajar, uang subsidi buku dan jatah beras diurus oleh teman sefakultasku, Panjahitan namanya, koordinator PTM di UGM.

 Saat itu “Setiap yang kusentuh menjadi uang” hingga aku lupa pada tugas utamaku, menyelesaikan studiku.

 Karena aku tak pernah kuliah uang yang seharusnya untuk membayar kuliahku tak dibayarkan oleh Panjahitan, dipakai untuk membeayai kuliahnya. Aku dicoret dari status kemahasiswaanku,konsekwensinya aku tak menerima gaji dan fasilitas dari pemerintah.

 Panjaitan tak dapat memanfaatkan fasilitasku lagi, hingga dia datang meminta kubantu dalam kesulitan keuangan. Sebenarnya aku tak tega, karena saat itu dia sedang menulis tugas akhirnya, tetapi aku tak mungkin membantunya karena seluruh dana sedang kupakai untuk membangun rumah.

 Boma akan menolongku,tetapi aku tak mau “mempertaruhkan” reputasi temanku yang sedang menanjak. Boma kecewa, tetapi kukatakan biarlah kuliahku tak selesai, aku butuh uang untuk membeayai sekolah anak-anakku.

 Saat itu aku telah naik ketingkat empat,tetapi karena terjadi transisi dari Jurusan Mesin dan Listrik menjadi jurusan Listrik (dipisahkan dari jurusan Mesin) maka ada beberapa fak yang harus kutempuh lagi ditingkat tiga karena perubahan korikulum. Pelajaran agama harus mulai dari tingkat dasar/tingkat satu, karena dosenku kebetulan seorang HSI yang lenyap tak tahu rimbanya. Kami dianggap telah terindokrimasi faham komunis.

 Kami akui dosen itu sering berusaha memasukkan faham Marxis, tetapi yang ikut dalam kuliah itu banyak yang bersikap kritis  dan terdiri dari berbagai agama dan keyakinan, Hindu, Bali, Konghucu dan Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dia tak berani main-main.

 Kami memberikan bukti diktat dan catatan kuliah dari dosen itu agar dinilai apakah disitu disisipkan faham Marxis, tetapi protes itu tak digubris dengan alasan peraturan itu berlaku untuk seluruh perguruan tinggi.

 Temanku, seorang Bali,I Nengah Sumerti,dan beberapa orang Tionghoa memperingatkan agar kami “menerima nasib saja” dari pada hilang seperti dosen kami.

 Aku tidak terdaftar lagi sebagai mahasiswa fakultas Tehinik UGM tetapi tenagaku tetap digunakan sebagai fotografer untuk mengabadikan setiap wisuda.

 Endang menjabat kembali sebagai bendaharawan IPM sekaligus AMY. Aku tak pernah merasa kehilangan gaji sebagai pegawai negeri atau merasa rendah diri tidak berstatus mahasiswa lagi tetapi yang terasa pedih ketika anak-anak meminta rapornya ditanda tangani oleh ibunya karena dianggapnya aku sebagai seorang pengangguran. Mereka tak tahu honorku di STM Pembangunan melebihi honor seorang dosen dan pemghasilanku sebagai wiraswastawan, melebihi gaji ibunya.Endang menjabat PD II, dianggap lebih pantas untuk menandatangani rapornya.

 Kami mulai membuat foundasi rumah Sri Rejeki. Mertuaku menunggu projek itu dan menetap dirumah kami yang telah siap pakai. Rumah lama,milik mertuaku digunakan untuk perpustakaan pribadinya, menulis dan mengarang serta kegiatan “kesepuhan” bersama kelompok kesepuhannya.

 Bu Sarjono cs mengetahui kalau yang menetap digarage itu hanya keluargaku, maka dengan sikap angkuh mereka mengusir kami. Sebenarnya kami telah merencanakan, jika rumah Sri Rejeki telah jadi kami akan meninggalkan garage Loge Dharma.

 Pengusiran itu sangat melukai harga diri kami. Untung Endang telah sembuh dan mendukungku untuk mempertahankan harga diri dalam menghadapi sikap sewenang-weang itu.

 Dana yang seharusnya untuk membangun rumah Sri Rejeki kami alihkan untuk memperbaiki garage yang kami tempati. Barang-barang yang masih kami tinggalkan di Siliran 29 kami pindahkan ke Jendral Sudirman 34. Kami membeli Almari Es dan peralatan elektronik lainnya hingga hidup kami terasa nyaman.

 Teguran yang bertubi-tubi dari bu Sarjono cs tidak kami gubris. Tiba-tiba bu Sarjono mendapat musibah, kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia.

 Bu Sarjono digantikan oleh bu Rayasti, anak ibu Suyitno. Bu Sarjono pendiam, tetapi strateginya hebat untuk mempengaruhi lingkungan hingga kami dipencilkan.Setiap langkah pak Wir untuk memajukan Perwatin kandas karena kehebatan strategi bu Sarjono.

 Bu Rayasti sangat arogan dan cerewet sehingga banyak orang tidak menyukai.Bu Rayasti bersikap sebagai penguasa tunggal atas seluruh harta peninggalan PTI. Dia menggunakan Loge Dharma untuk kegiatan Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) yang diketuai oleh Bapak Jonoworo. Pak Sumantri Citrapati direkrut menjadi anggauta Perwatin dan ditempatkan sebagai penghuni Loge Dharma.

 Pak Mantri memperbaiki bagian Loge Dharma yang ditempati dan meng”kup” daya listrik 100 watt yang biasanya kupakai untuk menerangi garage dan teras loge Dharma.Hampir saja kami berhantam, tetapi aku diperingatkan Endang agar tidak menggunakan kekerasan.

 Kutawarkan jalan tengah, seluruh daya yang 100 watt akan kuserahkan kepada pak Mantri setelah aku dapat memasang automat sendiri di garage. Sebenarnya ketika terjadi perubahan tegangan dari 110 volt ke 220 volt Loge Dharma mendapat kesempatan untuk menambah daya dari 100 watt menjadi 1350 waat secara cuma-cuma tetapi bu Sarjono cs menolak dan meminta tetap dipertahankan 100 watt. Aku akan memasang automat sendiri, syaratnya harus mendapat izin dari pemilik bangunan. Saat itu mertuaku telah disingkirkan dari kepengurusan Perwatin,sehingga tak dapat menolongku. Aku tahu otak dari semua itu adalah bu Sarjono. Karena bu Sarjono telah tiada aku meminta izin lewat pak Mantri untuk disampaikan kepada pengurus Perwatin. Izin itu diberikan karena aku akan menyerahkan daya 100 watt kepadanya.

 Aku berhasil memasang automat di garage Loge Dharma dengan daya 1350. Kukira bu Rayasti akan marah, ternyata dia malah berterima kasih karena halaman Loge Dharma tidak lagi gelap gulita dan sewaktu-waktu Perwatin membutuhkan tambahan  daya listrik dapat mengambil dari garage yang kami tempati. 

 Bu Sarjono telah tiada, tiba-tiba muncul seorang wanita muda cantik yang mempunyai seorang bayi perempuan. Wanita muda itu namanya Endang B.H. Ternyata wanita itu istri dokter Budi Harjono.Selama ini semua menganggap dokter Budi masih bujangan, tak ada yang tahu dokter Budi telah beristeri dan mempunyai seorang anak perempuan.

Dokter Budi membangun  bagian depan rumah yang ditempati dan digunakan untuk Travel Biro dan Toko Kelontong.

 Yayasan Dharma Renarring Putra menutup bagian belakang loge Dharma dengan pagar bambu rapat sehingga penduduk kampung Gondolayu terhalang untuk melintas kejalan raya lewat halaman Loge Dharma.

 Pak Biarso membangun tempat kost sekaligus membatasi daerahnya dengan halaman Loge Dharma yang digunakan oleh SLB. Aku memagar bagian halaman Loge Dharma didepan garage yang kami tempati hingga terpisah dari halaman yang digunakan untuk kegiatan SLB.

 Dokter Budi mengikuti jejak pak Biarso, membangun rumah tingkat sekaligus memisahkan tanah/rumah yang ditempatinya dengan halaman Loge Dharma.

 Komplek Loge Dharma terpetak-petak, sehingga bu Rayasti sangat murka, tetapi tak dipedulikan oleh para penghuni komplek Loge Dharma.

 Suatu saat di surat kabar Kedaulatan Rakyat terpasang iklan yang mencari pemilik  bangunan/gedung yang terletak di Komplek Loge Dharma untuk “dibeli”. Yang memasang iklan itu Pengurus Perwatin,Dra Sarjono dan Drs Subiarso. Ketika membaca iklan itu mertuaku marah sebab menurut beliau komplek Loge Dharma milik Perwatin. Beliau menanyakan hal itu kepada pengurus Perwatin, ibu Suyitno cs. Ternyata iklan itu dipasang tanpa sepengetahuan beliau.

        TEROR: 

Endang B.H. lari terbirit-birit kerumah kami karena ada seseorang menanam sesuatu didepan pintu masuk samping rumahnya. Sebelum itu didepan pintu masuk rumah pak Biarso terjadi hal yang sama. Pak Biarso melangkahi galian yang ditaburi bunga itu dan seketika lumpuh. Karena rumah yang ditempati dokter Budi mempunyai pintu depan, kunasehatkan sementara melalui pintu depan. Ternyata bagian depan rumah itu dikontrak oleh Tionghoa yang memiliki usaha toko dan agen travel. Kukatakan pak Biarso lumpuh bukan karena melompati sesaji itu. Beliau lumpuh akibat stress karena diusir oleh ibu Rayasti.

 Didepan pintu garage yang kami huni juga  pernah terdapat hal yang serupa,bungkusan yang terdapat dalam galian itu diambil oleh Jumiah, pembantu kami, dan dibuang ketengah lapangan. Anak SLB menginjak-injak dan melangkahi barang itu, nyatanya tidak ada yang lumpuh. 

 Beberapa minggu kemudian disetiap pintu rumah dikomplek Loge Dharma ditempelkan peringatan yang isinya mengusir seluruh penghuni Komplek Loge Dharma yang dinyatakan sebagai rumah Nyai Rara Kidul, karena komplek itu akan ditempati oleh pasukan Nyai Roro Kidul.Barang siapa yang membandel akan ditumpas habis oleh pasukan itu.

 Endang B.H. kembali menemuiku dan meminta nasehat menghadapi ancaman itu. Jumiah tahu orang yang memasang ancaman itu adalah tukang becak yang biasa mengantar ibu Suyitno. Kukatakan pada Endang B.H., kalau takut ya tinggalkan saja rumah milik Nyai Rara Kidul itu, kita lihat saja seperti apa ujutnya pasukan yang akan datang itu.

 Endang B.H. nampak gelisah  hingga aku merasa kasihan, kujelaskan siapa yang kumaksud dengan Nyai Rara Kidul itu hingga dia dengan spontan mengiyakan, katanya dia telah menduga sebelumnya.

 Satu bulan berikutnya aku menerima panggilan dari Kejaksaan Tinggi Yogyakarta. Aku kerumah dokter Budi dan Bu Biarso, ternyata mereka juga menerima surat serupa hanya berbeda tanggal untuk menghadapnya.

 Pak Sastro tinggal dirumah darurat bekas penjagaan Damri, yang dibangun secara darurat menempel disebelah utara garage yang kami tempati.Dia tetap tinggal diwilayah komplek Loge Dharma walaupun Damri telah meninggalkan komplek ini pindah ketempat lain.Pak Sastro tidak menerima surat panggilan dari Kejati. Aku menghadap dan “diinterogasi” mengenai keberadaanku dikomplek Loge Dharma, kujelaskan apa adanya. Aku dikatakan penghuni liar dan harus meninggalkan garage bekas milik PTI.

 Aku mengatakan yang berhak mengusir aku bukan Kejati melainkan mertuaku. Petugas itu marah dan mengancamku, jika aku tak menurut perintah Kejati akan dilakukan pemaksaan. Aku menganggap Kejati bertindak sewenang-wenang, seharusnya setiap persoalan diselesaikan melalui pengadilan. Aku dibentak dan disuruh pergi.

 Baik dokter Budi maupun pak Biarso tak mau menghadap ke Kejati walau telah dilakukan pemanggilan berkali-kali. Ternyata pak Biarso sebelum lumpuh akibat stres pernah mengalami nasib sebagai yang kualami. Dokter Budi bersikap tenang sehingga aku merasa heran.

 Sebulan berikutnya petugas dari Agraria melakukan pengukuran atas tanah bekas PTI. Aku bertanya dan dijelaskan bahwa HGB atas tanah yang digunakan oleh PTI telah habis beberapa puluh tahun yang lalu, sehingga harus ditertibkan.

 Seluruh bangunan yang berada diatas tanah itu dianggap liar dan akan diratakan jika pemiliknya tidak mengajukan HGB baru.

 Kami mempercepat pembangunan Rumah Sri Rejeki. Rumah Siliran lor 29 kami kontrakkan dan hasilnya kami gunakan untuk menambahbiaya pembangunan “projek” Sri Rejeki. Rumah in terdiri dari: tiga kamar tidur berukuran 3 x 3 m2, satu kamar tamu berukuran 3 x 3 m2, Ruang makan sekaligus ruang tamu berukuran 3x 6 m2, Teras depan berukuran 1 x 10 m2, kamar mandi dan wc berukuran 3 x 2,5 m2, dapur berukuran 4 x 2 m2 dan teras dapur yang menghubungkan  bangunan lama dengan Sri Rejeki selebar  1 m. Tempat jemuran terletak diantara bangunan lama dan bangunan baru.Tinggal tersisa tanah seluas 6 x 13 m2 yang kami cadangkan untuk taman atau garage.

 Bangunan ini termasuk mewah: kusen dan pintunya menggunakan kayu jati,  kerangka atapnya menggunakan kayu kelapa (glugu) tua kecuali reng menggunakan kayu jati. Genteng menggunakan genteng beton press, lantainya traso, jendelanya lebar menggunakan kaca rayben. Langit-langitnya triplek berlapis pvc dengan kerangka kayu kamper. Teras didepan rumah berupa beton cor. Kami benar-benar mengencangkan ikat pinggang untuk membangun rumah ini, tetapi tetap tak melupakan kebutuhan gizi bagi anak-anak kami sehingga sekolah mereka tetap berprestasi.

 Dua bulan kemudian kami menerima surat dari Agraria yang intinya memberikan kesempatan kepada setiap penghuni gedung bekas milik PTI mencari pemilik gedung itu untuk meminta mengajukan HGB baru agar tidak diberikan kepasa fihak lain.

 Surat itu kusampaikan kepada mertuaku dan menanyakan mengapa Parwatin mencari pemilik gedung bekas milik PTI. Beliau beranggapan semua itu ulah Bu Sarjono, karena ingin memiliki rumah yang dihuni selama ini.

 Jika Perwatin berhak atas bangunan bekas PTI mengapa tidak memperpanjang HGB? Beliau menumpahkan semua kesalahan kepada seketaris Perwatin, Pak Sarjono dan bu Sarjono. Menurutku sebagai wakli ketua PTI Yogya, Sanggar Dharma, beliau ikut bersalah hingga terlambat mengajukan perpanjangan HGB.

 Mertuaku marah karena kupersalahkan. Menurut bu Suyitno, yang menjadi kunci keberhasilan kembalinya bangunan bekas milik PTI, tanah yang digunakan untuk kompleks Loge Dharma itu milik Sultan, jadi Agraria tak berhak atas tanah itu.Bu Suyitno masih termasuk dalam trah Paku Alam.

 Suatu saat dokter Budi mengajakku bersama kekantor agraria di Kepatihan. Saat itu disebuah ruangan telah berkumpul para penghuni komplek Loge Dharma: Bu Rayasti, bu Biarso, Pak Sastro. Sesaat setelah aku dan dokter Budi datang pertemuan dimulai. Utusan dari SLB tak ikut hadir.

 Petugas menjelaskan untuk dapat mengajukan HGB pemohon harus memiliki bangunan yang terletak diatas tanah yang akan diminta HGB nya. Bu Rayasti mgotot menyatakan bahwa tanah yang digunakan untuk membangun gedung PTI di Yogyakarta adalah milik Sultan,itu sudah terbukti dengan diserahkannya Loge Dharma yang digunakan oleh Damri kepada PTI Yogyakarta atas jerih payah ibu Suyitno. Yang mendirikan bangunan itu adalah kakek buyutnya, jadi seluruh bangunan bekas gedung PTI itu adalah milik keluarganya. Agraria tak berhak untuk mengurusi tanah Loge Dharma karena tanah itu milik Sultan.

 Petugas menunjukkan bukti bahwa tanah itu bertsatus milik Pemerintah Belanda, setelah Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Republik Indonesia secara hukum dikuasai oleh Pemerintah Republik Indobesia, bukan oleh Sultan Hamengku Buana ke IX. PTI hanya diizinkan untuk memanfaatkannya selama 20 tahun, setelah berakhir masa itu harus memperpanjang izin penggunaan tanah untuk jangka waktu 20 tahun lagi.

 Izin itu telah lama berakhir dan tidak diperpanjang, sehingga PTI dianggap lalai dan secara automatis tanah itu kembali ke negara dan dapat diberikan kepada siapapun yang mengajukan HGB baru.

 Aku bertanya kepada bu Rayasti apakah Perwatin akan mengajukan HGB baru dan bagaimana nasib kami, apakah masih diizinkan menyewa di garage Loge Dharma? Dengan sangat arogan bu Rayasti menjawab: Tanah itu milik Sultan,Gedung itu milik kami jadi semua penghuni harus pergi, disitu akan kami dirikan Gedung Penghayat Kepercayaan. Semua diam. Aku bertanya kepada petugas  bagaimana  caranya mengajukan HGB.

 Petugas menjelaskan dengan gamblang hingga aku berniat mengajukan HBG dan mencatatkan diri dan bersedia memenuhi persyaratannya. Pak Sastro tampak gelisah, bu Rayasti marah, berdiri dan pergi meninggalkan ruangan pertemuan.

 Hasil pertemuan di Kepatihan itu kusampaikan kepada mertuaku. Beliau marah besar hingga nafasnya tersengal dan sesak, aku takut beliau terkena serangan jantung hingga ku minta Endang memberikan air putih untuk menenangkan beliau.

 Setelah amarahnya reda beliau bergumam :”kabeh wis edan.” lalu masuk kekamar dan melakukan meditasi.

 Karena aku merasa yang berhak membeli bangunan bekas milik PTI Yogyakarta itu adalah mertuakan maka aku mengharap beliau yang mengajukan permohonan membeli garage itu kepada Balai Harta Peninggalan.

 Beliau membentak:“Aku ora arep melu edan.”

Aku menyodorkan selembar kertas untuk menuliskan pernyataannya itu.Beliau bertanya untuk apa pernyataan itu, kujelaskan bahwa sebagai bukti beliau tidak ikut terlibat dalam masalah kotor itu.

 Setelah menulis kuminta pernyataan bahwa beliau tidak akan mengajukan permohonan membeli garage itu karena garage itu milik Perwatin bukan milik Balai Harta Peninggalan. Beliau menandatangani pernyataan itu.

 Surat pernyataan itu sangat penting, sebab dengan pernyataan itu siapa saja berhak untuk membeli garage itu termasuk aku.

 Aku datang ke Balai Harta Peninggalan cabang Yogyakarta. Kepala cabang BHP Yogya, bapak Suparmo, menjelaskan untuk dapat membeli bekas peninggalan Belanda dibutuhkan dana besar, jika bangunan itu berharga X, maka dana yang harus disediakan adalah 10 X, sebab prosedurnya sangat sulit. Untuk mencari pemilik banguan harus dipasang iklan dibeberapa surat kabar selama beberapa hari, jika ada fihak yang merasa lebih berhak untuk membeli/memiliki bangunan itu harus dilakukan sidang pengadilan untuk menentukan siapa yang lebih berhak membeli/memiliki bangunan itu. Transaksi jual beli harus dilakukan didepan notaris yang memiliki kewenangan untuk melakukan transaksi jual beli bekas milik orang/organisasi asing/Belanda.

 Saat itu kami tak memiliki dana karena baru saja kami gunakan untuk membangun rumah Sri Rejeki di Mesan. Kami harus mencari pinjamaan. Ternyata banyak fihak yang bersedia memberikan pinjaman itu: Mas Mir yang Bendaharawan GKBI, mas Imam yang pernah menawarkan modal untuk usaha foto berwarna, mas Mun yang Kepala Cabang Bank Indonesia di Pontianak, mbak Sam yang suaminya Seketaris Direktur Jendral Agraria. Jadi soal dana tak menjadi masalah.

 Kami memilih mbak Sam sebagai “penyandang dana” sebab kami berharap kak Rivai, suami mbak Sam, yang menjabat Seketaris  Direktur Jendral Agraria akan membantu mempermudah mendapatkan HGB.

 Pinjaman itu berujud dollar dan harus kembali dalam bentuk dollar. Pinjaman itu tidak ada batas waktunya dan tidak dikenakan bunga.

 Masalah lain ialah : Aku hanya dapat membeli garasi itu jika tidak ada fihak lain yang lebih berhak atas objek yang kumohon dan ingin membelinya. Mertuaku lebih berhak untuk membeli garage itu, tetapi beliau telah menandatangani pernyataan tak berminat untuk membeli garage itu karena garage itu diyakini sebagai milik Perwatin.

 Ketika Balai Harta Peninggalan memasang iklan untuk mencari pemilik garage bekas milik PTI karena ada seorang bernama Ibnu Somowiyono memohon untuk membelinya. Ibu Suyitno atas nama Perwatin memasang iklan  tandingan yang menyatakan Ibnu Somowiyono tidak berhak untuk membeli garage itu karena mereka punya bukti bahwa Ibnu Somowiyono hanya nebeng dirumah mertuanya yang bernama Wiryo Atmojo.

 Dalam iklan itu pak Wiryo Atmojo dicaci maki sebagai penghianat, tak tahu diri, diberi tempat bernaung selama bertahun-tahun tidak mengembalikan kepada pemiliknya malah memberikan kepada menantunya.

 Aku datang kepada bu Rayasti dan kunjukkan surat pernyataan mertuaku, tetapi justru dianggap sebagai bukti penghianatan pak Wir yang telah berkomplot dengan aku.

Aku dipanggil ke Pengadilan Negri Yogyakarta untuk dipertemukan dengan fihak Perwatin. Aku ingin menggugat balik atas pencemaran nama baik mertuaku.

 Pada hari dan jam yang telah ditentukan dalam panggilan itu, aku menghadap ke Pengadilan Negri Yogyakarta, ternyata bu Suyitno atau bu Rayasti belum hadir. Setelah ditunggu lebih dari satu jam tak ada perwakilan Perwatin yang datang, aku diizinkan pulang dan akan dipanggil lagi setelah terjadi perkembangan berikutnya. Jika Perwatin dapat membuktikan sebagai pewaris harta bekas peninggalan PTI maka permohonanku itu harus ku-ajukan kepada Perwatin, jika Perwatin tidak dapat membuktikan sebagai pewaris PTI maka tergantung dari putusan Balai Harta Peninggalan, apakah aku diizinkan atau tidak untuk membeli garage itu.

 Tiga bulan berikutnya aku dipanggil oleh Balai Harta Peninggalan Cabang Yogyakarta, permohonanku untuk membeli garage bekas milik PTI diizinkan,aku harus menyediakan sejumlah uang untuk melakukan transaksi jual beli bekas garaga milik PTI itu dengan Balai Harta Peninggalan didepan notaris kondang KRT RM Partaningrat.

 Transaksi berjalan mulus. Transaksi dilakukan dengan penandatanganan perjanjian yang sangat melindungi pembeli, disitu dicantumkan bahwa setelah perjanjian jual beli itu ditanda tangani aku memilik hak penuh atas garage itu dan jika terjadi gugatan dikemudian hari sepenuhnya menjadi tanggung jawab Balai Harta Peninggalan.

 Akta jual-beli itu kutunjukkan kepada mertuaku, beliau terpukau dan cepat-cepat meninggalkan aku masuk kekamar dan melakukan meditasi.

 Aku menanti diteras sambil membaca ulang isi akta perjanjian.Aku sangat bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengabulkan keinginanku. Tetapi aku segera sadar bahwa perjuanganku ini barulah kumulai, jika aku tak berhasil mendapatkan HGB maka garage itu akan dibongkar dan aku hanya akan menerima uang sebesar transaksi jual beli garage itu, padahal uang yang sudah kukeluarkan jauh lebih besar. Uang itu kuperoleh dari pinjaman yang harus kukembalikan kepada mbak Sam.

 Selesai meditasi mertuaku meminta Akta Jual Beli itu untuk  dibaca dengan seksama. Beliau meneteskan air mata, tetapi tampak tegar dan telah dapat mengendalikan emosinya:

 “Mantuku wis melu edan!” gumam beliau.

 Dalam bathin aku meneruskan “ora melu edan ora keduman.”

 Dikatakan bahwa tindakanku terlalu gegabah,beliau  tetap yakin bahwa garage itu milik Perwatin. Sebagai seorang Theosofi beliau akan berjuang untuk membatalkan semua transaksi yang dilakukan Balai Harta Peninggalan dengan pembeli bangunan yang diwariskan oleh PTI kepada Perwatin,termasuk yang telah kubeli.

 Sejak kejadian itu mertuaku tak pernah mampir ke garage yang telah menjadikan kami berkonfrontasi.Aku juga tak pernah ke Mesan. Aku tahu beliau sangat marah kepada kami dan tak akan memberikan restu atas perjuanganku mencari HGB.

 Untuk memperoleh HGB ternyata jauh lebih sulit karena banyak masalah yang terkait didalamnya.

1. Aku harus mengajukan permohonan resmi ke agraria dengan bukti-bukti kepemilikan banguan yang berada diatas tanah yang kumintakan HGB nya.

2. Riwayat kepenghunian kami di bangunan yang kutempati.

3. Riwayat tanah yang hak opstal/HGB nya telah kadaluwarsa dan masih banyak lagi persyaratan yang harus kupenuhi.

 Kami: Aku, bu Biarso dan dokter Budi bersatu dalam menghadapi niat Perwatin untuk membatalkan transaksi jual beli objek yang telah kami miliki.

 Pak Sastro,penghuni liar dikomplek Loge Dharma memintaku  untuk  memasukkan wilayah yang digunakan   ke dalam wilayah yang kumintakan HGB nya. Aku bersedia tetapi dia dan isterinya harus membuat pernyataan bahwa yang boleh tinggal ditempat itu hanya Pak Sastro dan isterinya dan tak mengizinkan orang lain untuk ikut menempati bangunan itu.

 Aku tahu dokter Budi ingin memperluas wilayah yang dikuasainya, maka setengah dari wilayah yang digunakan oleh pak Sarstro akan kuserahkan kepadanya asal aku dibantu dalam mencari riwayat tanah yang kami minta HGB nya. Orang tua dokter Budi, bapak dan Ibu Sarjono, adalah bekas seketaris PTI/Perwatin, semua dokumen yang bersangkutan dengan Loge Dharma dikuasainya. Berkat pertolongan dokter Budi aku dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan HGB.

 Tiga bulan kemudian datang petugas DPU yang memeriksa kondisi bangunan yang kami tempati. Agar permohonan HGB dapat segera turun, bangunan garage harus direnovasi agar sesuai dengan tempat hunian.

 Dua bulan berikutnya datang petugas dari Tata Guna Tanah yang menganjurkan kami memohon mengajukan permohonan untuk tanah yang belum dimintakan HGB nya. Dia mengadakan pengukuran tanah dibelakang gedung induk Loge Dharma yang terhubung dengan tanah yang kumintakan HGB nya Tanah yang kumintakan HGB nya seluas 550 m2( termasuk yang dipakai pak Sastro),dapat diperluass hingga 1000 m2. Selisih uang yang harus kukeluarkan tidak banyak.

 Aku tak ingin bersengketa dengan SLB karena tanah itu digunakan untuk berkebun oleh murid SLB. Permohonanku tetap tak kuubah, sebagai ucapan terima kasih kuberikan sekedar uang jerih payah atas pengukuran tanah dibelakang gedung induk Loge Dharma itu.

 Aku meminta petugas DPU itu untuk menggambarkan denah renovasi garage menjadi rumah hunian.Untuk ini aku juga harus mengeluarkan biaya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s