Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (4)

RUMAH PUSAKA

Harta warisan orang tua kami tinggal: Tanah dan rumah Siliran Lor no 29 dan Siliran Kidul no 47. Aku tak tahu bagaimana sejarahnya maka Rumah dan Tanah Siliran Lor 29 diwariskan kepada enam orang : Mas Man, mas Min,mas Mun,mas Gun,mbak Sam dan aku. Mungkin karena yang Siliran Kidul  no 47 untuk Mas Mir dan mbak Mi.

Ketika kakak berkumpul di Dalem membicarakan warisan aku tak diikut sertakan, tapi aku berusaha mendengar dari luar. Saat itu mas Min membutuhkan uang untuk modal usaha. Lainnya khawatir uang itu digunakan untuk judi dan berfoya-foya, sebab sudah terbukti warisan berupa barang dan perhiasan sudah tamblas.

Mas Min meminta bagian warisan, mas Gun menjawab bahwa yang diwariskan orang tua kami bukan hanya harta melainkan juga anak-anak yang belum dewasa seperti dia dan adik-adiknya.

Mas Min dipersilakan mengambil barang apa saja yang dibutuhkan asal rumah Siliran Lor 29 tetap utuh. Mas Min mengambil: Almari,gerabah,cermin dan perabotan rumah yang dibutuhkan sehingga dia tidak mempunyai hak atas barang-barang yang masih tersisa di Siliran lor 29. Dia masih tetap berhak atas rumah Siliran 29.

Ketika aku meminta kendaraan bermotor rumah itu akan digadaikan, tetapi keburu aku pergi ke Makassar.

Mas Min bercerai dengan istri kedua dan tinggal di Siliran Lor 29. Mbak Is memperlakukan mas Min sebagai musuh karena mas Min bertindak seenaknya mengambil dan menjual barang-barang yang sudah tidak menjadi haknya.Mbak Sam mengajak mas Min kemana saja suaminya sedang bertugas, agar mas Min “terisolasi” dari pergaulan tak sehat di Jogya.

Ketika Esti cs telah menikah dan ikut suaminya, mbak Is tinggal di Siliran lor 29 seorang diri. Keluargaku pernah mencoba menemani mbak Is di Siliran Lor 29, tetapi karena Endang sakit kami kembali ke Jendral Sudirman 34.

Aku sering pergi ke Siliran Lor 29 karena barang-barang kami masih kami tinggal di bagian rumah yang telah kami pugar. Mbak Is mengeluh karena merasa berat untuk “merawat” rumah yang sangat besar itu.

Keluhan ini kusampaikan kepada mbah Sam, dia akan merawat dan bila perlu memugar sebagai yang kulakukan asal rumah itu telah dibagi waris. Mas Mun menginginkan rumah itu tetap menjadi satu kesatuan.

Suatu saat kami kumpul di Yogya, kugunakan kesempatan itu untuk membicarakan nasib rumah Siliran Lor 29. Kujelaskan rencanaku, aku akan membagi-bagi tugas untuk memelihara Rumah Pusaka. Tugas itu erat kaitannya dengan hak. Barang siapa telah memenuhi kuajibannya, dia berhak memanfaatkan bagian yang menjadi kuajibannya.  Diriku sebagai contoh, aku telah memugar “ngecapan” jadi aku berhak memanfaatkan bagian itu. Karena ternyata aku tidak dapat memanfaatkannya maka aku berhak mengontrakkan, menerima uang kontrakan tetapi bertanggung jawab atas risiko akibat mengontrakkan itu.

Baik mas Mun maupun mbak Sam dapat menerima konsepku itu, demikian halnya mas Gun dan mbak Is. Semua sepakat asal rumah Pusaka tetap jadi satu kesatuan, tidak dibagi waris.

Agar tetap utuh secara bertahap rumah Pusaka harus disatukan kembali dengan cara pelepasan hak dan kuajiban. Aku menawarkan akan melepaskan hak sekaligus kuajibanku bila ada yang bersedia menerima. Mbak Sam bersedia mengganti hak dan kuajibanku, mbak Is bersedia mengganti hak dan kuajiban mas Min.

Rumah Pusaka untuk sementara kubagi menjadi 6 bagian. Ngecapan menjadi tugas dan hakku, Gandok wetan dan wetan gandok wetan menjadi tugas dan hak mas Mun, Dalem dan pringgitan lor menjadi hak dan kuajiban mbak Is sebagai janda mas Maan, Pendopo dan  emperan depan sampai kehalam depan menjadi hak dan kuajiban mas Min, gandok kulom sampai kejalan Siliran Lor menjadi hak dan kuajiban mas Gun, gandok Lor sampai ke jalan Madiosiro menjadi kuajiban dan hak mbak Sam. Masing-masing bagian luasnya sekitar 180 m2., sebab ada bagian yang digunakan bersama.

Kak Vai mengejek aku, dikatakan aku harus membuat jembatan untuk mbak Is, karena tidak memilik jalan keluar menuju ke jalan. Kujelaskan bahwa bagian diantara Ngecapan dan Pendopo sampai ke pintu gerbang tersedia untuk Mas Mun,mbak Is,dan aku.

Pelepasan bagianku kepada mbak Sam tak ada masalah, aku diberi ganti sebidang tanah di Mesan yang luasnya 600 m2 dan diberi uang untuk memagar tanah tersebut.

Yang menjadi masalah adalah pelepasan bagian mas Min kepada mbak Is. Kemenakan-kemenakannku, Esti cs, hanya bersedia mengganti “semampu” mereka yang kuanggap terlalu murah. Mbak Sam dan mas Mir merasa kasihan kepada mas Min dan bersedia mengganti bagian itu, jika perlu mengganti bagian Dalem sesuai dengan harga yang akan diberikan kepada mas Min. Kemenakanku tak rela melepaskan hak orang tuanya. Aku terpaksa memperingatkan mas Mir agar tidak ikut campur dalam masalah Siliran Lor 29.

Mas Min bersedia menerima berapa saja dan akan digunakan untuk  menambah membelikan rumah Ibni M di Jakarta, karena selama ini Ibni mengontrak rumah. Kuminta Ibni mencari rumah yang pantas untuk dihuni dengan harga yang dapat terangkat oleh kemampuan mereka ditambah uang yang akan diterima ayahnya dari pelepasan hak  waris atas sebagian dari rumah peninggalan eyangnya di Siliran lor 29.

Aku meminta Esti cs menaikkan kemampuan mereka, tetapi mereka tak bersedia. Mbak Sam bersedia membantu uang kekurangan untuk membeli rumah Ibni di Pondok Gede, sehingga kuterima uang dari Esti cs sesuai dengan kemampuan mereka, untuk kuserahkan kepada mas Min, namun sebagian dari tanah yang menjadi hak mas Min kumasukkan dalam wilayah mbak Sam. Longkangan  belakang tidak kuserahkan kepada mbak Is, melainkan kuserahkan kepada mbak Sam, sehingga bagian yang menjadi wilayah mbak Sam paling luas  225 m2 dan bagian yang menjadi wilayah mbak Is ditambah pelepasan bagian mas Min hanya sekitar 325 m2. Sebagai perbandingan bagianku adalah 180 m2.

Janji mbak Sam ditepati. Aku diserahi tugas untuk memugar gandok lor. Pagar bagian timur kurobohkan untuk kujadikan pintu gerbang menghadap ketimur. Aku dapat memasukkan material untuk pemugaran karena terdapat halaman yang cukup luas disebelah timu gandok lor yang akan kami pugar.

Dipasang instalasi listri baru di seluruh gandok lor dan dipasang automat baru sebesar 1350 watt. Aku memasang instalasi air dan pompa  air listrik untuk kebutuhan pemugaran.

Tanpa kuduga mas Mun datang ke Jogya dan menuduhku berbuat semauku. Dia tak setuju aku membuat pintu gerbang menghadap ketimur karena akan terkesan Rumah Pusaka telah terbagi-bagi. Kukatakan pintu menghadap ketimur itu sangat perlu karena tidak ada akses keluar masuk ke gandok lor.

Mas Mun menyangkal, sebab dapat melewati gandok wetan yang menjadi wewenangnya. Lewat gandok wetan itu menjadi wewenangnya, tetapi dibutuhkan beaya untuk melansir material dari jalan Siliran  Lor menuju gandok lor yang jaraknya sekitar 30 meter, sedangkan jika lewat timur material tidak perlu dilansir langsung dapat digunakan.

Mas Mun dapat menerima alasanku, tetapi aku diminta setelah projek  gandok lor selesai aku diminta untuk menutup lagi bagian yang kubongkar sementara itu. Agar tidak berkepanjangan kusanggupi persyaratan itu.

Projek gandok lor selesai dan akan digunakan untuk tempat kost. Ketika tembok bagian timur akan kututup lagi mbak Sam marah dan menyatakan tak ada yang berhak melarang bagian itu untuk dijadikan pintu gerbang permanen karena daerah itu termasuk dalam wilayahnya. Mbak Sam tak mau menggunakan gandok wetan walaupun diizinkan oleh mas Mun. Dia bahkan menyuruh meruntuhkan seluruh pagar yang tersisa dan menggantikan dengan pagar baru yang pendek dengan pintu yang tidak terlalu lebar. Dilihat dari Timur gandok lor yang diberi jendela kaca lebar nampak sangat indah. Ku-potret hasil pemugaran gandok lor dan kukirimkan kepada mbak Sam dan mas Mun.

Mas Mun datang  lagi ke Yogya untuk menyaksikan hasil kerjaku yang dibeayai oleh mbak Sam. Kukira dia akan marah karena aku mengingkari janji untuk menutup lagi bagian yang untuk sementara kupakai  memasukkan material, ternyata dia malah ingin memugar gandok wetan dan wetan gandok dan dihadapkan ketimur.

Mbak Is meminta dibuatkan kamar mandi,wc,dapur dan ruang makan diemperan utara yang lebanya 2 m . Ruang makan, kamar mandi,wc, dapur lama termasuk dalam wilayaj gandok lor yang telah dipugar oleh mbak Sam dan akan digunakan untuk usaha kost putri.

Untuk melaksanakan permintaan mbak Is aku mengalami kesulitan karena mbak Sam tidak mengijinkan daerahnya yang telah selesai dipugar dan segera akandigunakan  untuk kost putri terkotori oleh pelaksanaan projek mbak Is.

Aku terpaksa melansir material lewat pendopo,pringgitan, Dalem dan kamar wetan. Daerah yang biasanya tak boleh diinjak sembarangan orang terpaksa dijadikan tempat lalu lalang tukang dan material.

Mas Mun menyurati aku agar menggunakan gandok wetan sebagai jalan untuk lalu lalang itu, jika perlu menggempur dulu tembok yang telah dibangun mbak Sam sebagai pembatas wilayah gandok lor yang masih termasuk dalam wilayah mas Mun dan emperan lor yang akan dibangun oleh mbak Is.

Mbak Sam berkeberatan sebab mas Mun berpesan pada mbak Sam gandok Lor tetap menjadi  satu kesatuan, walau “pemiliknya” berbeda. Mbak Sam telah diizinkan menggunakan daerah itu oleh mas Mun. Mbak Sam telah menuruti dan memugar daerah gandok lor secara keseluruhan, termasuk wilayah mas Mun.Untung mbak Is “mengalah” dan tak ingin mencampuri urusan mas Mun  dan mbak Sam.

Kesulitan kedua ialah untuk menempatkan sapiteng dan resapan air. Jika daerah longkangan  lor ikut dalam wilayah mbak Is maka masalahnya akan sangat mudah sebab kamar mandi dan wc baru itu berbatasan dengan longkangan, Tetapi karena Esti cs hanya mengganti “sekemampuan mereka” maka daerah itu kuberikan pada mbak Sam yang  sanggup menutupi kebutuhan mas Min untuk membelikan rumah Ibni M.

Aku terpaksa membuat beberapa saluran air melewati daerah mas Gun . Kubuat tiga pipa: sebuah kusus untuk tinja menuju sapiteng, baru dialirkan ke resapan, sebuah untuk buangan air kamar mandi yang bersabun menuju resapan, satu lagi untuk limbah dapur menuju bak kontrol dan dialirkan keresapan. Semua instalasdi limbah itu berada diwilayah mas Gun.

Mbak Is meminta aku membuat sebuah menara air disebelah selatan gandok kulon,diwilayah mas Gun. Diatas menara ditelakkan tangki plat baja persegi yang dapat memuat 4 m3 air. Aku mengusulkan agar menara itu ditempatkan dihalaman depan yang termasuk dalam wilayah mbak Is, tetapi beliau menganggap menara itu menjadikan pemandangan tak sedap. Reservoir itu bermanfaat juga bagi wilayah mas Gun, sewaktu daerah itu akan digunakan oleh mas Gun menara dan reservoir itu dapat dipindahkan ketempat lain.

Saat pergantian tegangan dari 110 v menjadi 220 volt daya listrik lama  ikut ditingkatkan  dari 100 watt menjadi 450 watt. Automat dipindahkan dari pendopo ke gandok kulon. Mbak Is memasang automat baru sebesar 900 watt untuk Dalem, pringgitan dan pendopo.

Mas Mun meminta memperbarui instalasi listrik gandok wetan dan memasang automat baru di gandok wetan dengan daya 450 watt

Siliran lor yang mula-mula berdaya listrik 100 watt hingga terkesan seram kini telah memiliki daya listrik : Ngecapan 1350 waat, Gandok wetan 450 watt, Gandok lor 1350 watt, Dalem dan pendopo 900 watt, gandok kulon 450 watt.

Gandok lor digunakan untuk usaha pemondokan putri yang cukup mewah dengan  kamar yang dilengkapi tempat tidur, almari, mejatulis. Diruang makan sekaligus  dapur tersedia almari es; diruang tamu  yang berukuran 5 x 6 m2 tersedia mejatamu, mesin jahit listrik, dan tv. Pemondokan ini dikelola oleh mbak Mi.

Disamping pemondok ternyata “diramaikan” juga oleh para tamu baik perempuan maupun lelaki. Usaha “pondokan putri ” ini mulai dicurigai sebagai tempat yang tidak benar. Kemenakanku, Otok, anak lelaki mbak Mi,dan pemuda kampung Siliran menggropyok kost putri ini dan terbukti telah disalah gunakan oleh penghuninya sebagai tempat prostitusi sehingga ditutup.

Adik  J.B. Basuki, Disah dan suaminya, diminta menempati gandok lor dan merawatnya. Mbak Sam yang telah memiliki rumah di Komplek Perumahan Banteng Baru  di jalan Kaliurang dan dijaga oleh Mas Min ingin kembali ke Siliran Lor 29 agar dapat mengawasi usaha pondokan putrinya yang telah ditutup akibat disalah gunakan oleh penghuninya.

Aku disuruh memugar ngecapan yang telah menjadi hak mbak Sam. Karena bangunan itu akan digunakan sendiri oleh keluarga mbak Sam maka harus representatif.

Bangunan yang telah kupugar dengan penuh jerih payah itu terpaksa kurobohkan. Sebenarnya terasa pedih, namun apa daya karena aku telah melepaskan hak atas bagian itu aku harus menuruti perintah pemiliknya.

Bangunan baru itu sangat megah, tetapi menurut pendapatku tidak sesuai dengan bangunan lama. Rumah pusaka yang sudah usur itu tenggelam karena bangunan baru itu disamping megah terletak disudut jalan Siliran dan Madiosuro yang sangat strategis. Daya listrik ditingkatkan menjadi 2300 watt karena rumah itu dilengkapi dengan Air Condetioner, dan peralatan mutakhir yang membutuhkan daya listrik besar.

Mas Mun memugar gandok Wetan dan membuat bangunan baru diwetan gandok  yang terhubung dengan ngecapan  sehingga kedua banguan itu seakan menjadi satu kesatuan. Kedua bangunan itu menggunakan atap motel kampung membujur keselatan, gentengnya beton press sebagai rumah kami, Sri Rejeki, di Mesan.

Mbak Is menyuruh mengganti genteng diwilayahnya dengan genteng pres yang khusus dipesan dari Kebumen. Mas Mun juga mengganti genteng gandok wetan dan gandok lor dibagian timur (termasuk wilayah mbak Sam ) dengan genteng sejenis yang digunakan oleh mbak Is.

Mas Gun merenovasi gandok kulon dan mengganti genteng lama dengan genteng baru yang sejenis dengan yang digunakan oleh mbak Is dan mas Mun.

Seluruh bagian rumah, terutama atapnya telah dipugar kecuali Pendopo. Walaupun pendopo telah menjadi hak Esti cs, pendopo tetap dibiarkan sebagai aslinya, juglo dengan empat buah soko guru ditengahnya. Ir Bambang, suami Ati yang pegawai Pertamina dan berkedudukan tinggi, sebenarnya mampu untuk memugar pendop[o, tetapi rumah itu merupakan milik Esti cs sehingga dia tak ingin mencampuri urusan keluarga istrinya.

Nunung, anak pak Dwijo telah memiliki rumah di Pakel Baru sehingga bak Dwijo meninggalkan  gandok kulon. Mas Gun meminta dibangunkan rumah baru sebagai perluasan gandok kulon. Karena tanah yang ditempati menara air mbak Is akan digunakan untuk membangun perluasan gandok kulon, maka sesuai dengan janji mbak Is menara air itu kubongkar. Mbak Is nampak kesal tetapi kukatakan menara itu tak ada manfaatnya, karena pipa air bersih dapat kuhubungkan langsung menuju ke kran dikamar mandi dan dapur mbak Is. Dia kawatir jika sewaktu-waktu listrik padam tidak ada persediaan air.

Dalam keadaan darurat aku dapat mengalirkan air dari gandok lor karena mbak Sam memiliki generator Honda 1500 watt yang digunakan sewatku listrik padam. Aku akan mengkopel pipa air bersih dari gandok  lor yang bersumber dari sumur disudut timur laut Siliran lor 29 yang termasuk dalam wilayah mbak Sam dengan  pipa yang bersumber pada Sumur disudut barat daya yang termasuk dalam wilayah mas Gun. Mbak Sam berkeberatan atas pengkopelan itu, aku sangat kesal dengan sikap mbak Sam  yang sangat ekoistis ini. Aku yakin  suatu saat Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan peringatan keras sebagai kasus gandok lor.

Mbak Is meminta memindahkan menara air kewilayahnya, tetapi mas Mun berkeberatan. Mas Mun akan membelikan generator untuk mbak Is, tetapi mbak Is memilih jika listri padam akan mengungsi ke Panembahan, tempat orang tuanya.

Suatu saat terjadi kerusakan pompa air diwilayahnya, aku diminta membetulkan, kukatakan tukangku, pak Kardono, sedang sakit, jadi kuminta mencari tukang lain. Mbak Sam mencari tukang lain, pak Saleh namanya hingga kesulitannya dapat teratasi. Tanpa kuduga pak Kardono  benar-benar jatuh sakit hingga aku kalang kabut. Aku meminta pak Saleh untuk menggatikan pak Kardono.

Sudah lebih dari satu tahun HGB atas tanah Jendral Sudirman belum “turun”. Aku meminta tolong kepada kak Rivai untuk memberikan sekedar catatan kecil untuk menanyakan masalah HGB ku ke Agraria Yogyakarta. Kak Rivai tidak berani mempertaruhkan kedudukannya sekedar untuk menolongku mempercepat turunya HGB atas tanah di Jendral Sudirman.

Kak Vai ternyata menderita pengapuran pada otaknya sehingga sering lupa dan tak dapat mengontrol dirinya. Penyakit ini menyebabkan atasannya sering memarahi, padahal perasaan kak Vai sangat halus. Kak Vai meminta untuk mendapatkan pensiun dini dan pulang ke Yogya.

Suatu saat Mbak Sam mengajak kak Vai ke kantor agraria untuk melepas rindu pada bekas anak buahnya.

Kak Vai, kakak Menpan Taufik Effendi , sangat dicintai oleh anak buahnya karena sikapnya yang ramah dan sangat memperhatikan anak buahnya. Kedatangan kami disambut dengan suka cita sebagai ketika kak Vai masih menjabat Seketaris Direktorat Jendral Agraria, walaupum mereka telah mengetahui bahwa kak Vai sudah penbsiun.

Mbak Sam diam-diam menemui pimpinan , aku diperkenalkan dengan bekas bawahan kak Vai itu. Namaku Ibnu Somowiyono sedangkan nama mbak Sam adalah Ibni Samirahayu, aku adalah adik kandungnya dan dikatakan bahwa telah lama aku memohon HGB dan ingin bertanya perkembangan permohonanku itu.

Aku dipanggil masuk kekantor pimpinan, dia membuka buku daftar pemohon HGB, ternyata HGB yang kumohon telah selesai. Pimpimam itu memerintahkan anak buahnya untuk mencarikan  HGB atas namaku dalam tumpukan HGB yang telah siap untuk diterimakan kepada pemohonnya. Aku diminta menanda tangani tanda terima dan saat itu juga HGB yang telah lama kuimpikan itu menjadi kenyataan.

Aku dipesan oleh mbak Sam untuk tidak menunjukkan HGB  yang baru saja kuterima pada kak Vai, namun aku tak dapat menahan kegembiraanku hingga tanpa sadar aku mengucapkan terima kasih kepada kak Vai.  Dia bingung, tetapi dijelaskan oleh mbak Sam bahwa HGB yang telah lama kuimpikan telah selesai dan telah diserahkan kepadaku. Beliau ikut gembira dan mengucapkan selamat kepadaku.

Aku tak mau berkhianat kepada teman senasib yang ternyata HGB nya juga belum turun. Kunasehatkan agar mereka rajin menanyakan ke agraria agar pengajuannya tidak terselip atau hilang.

Seminggu kemudian dokter Budi  memberitahukan kepadaku bahwa HGB nya telah keluar, begitu juga drs Subiarso. Saranku dianggap “sangat” mujarab dan aku diminta segera ke kantor Agraria, mungkin HGB ku juga sudah selesai. Aku berterima kasih atas pemberitahuannya itu.

Mbak Is mengungkapkan kekesalnya kepadaku, karena ternyata suami Titik telah memiliki istri sebelum menikah dengan Titik. Mbak Is menyuruh Titik untuk minta cerai, tetapi Titik tak mau menuruti nasehat ibunya dan menganggap sepi isue tentang suaminya, bahkan  Titik menyibukkan diri dengan mengambil  spesialisasi pantologi.

Mas Mun sejak semula menentang perkawinan Titik dan Tris karena telah lama mengenal pemuda yang masih keturunan bangsawan dari Solo itu.

Tris sangat hebat hingga dapat menundukkan hati mbak Is hingga menerimanya sebagai menantu. Walaupun demikian mas Mun sependapat dengan aku untuk tidak ikut mencampuri urusan rumah tanggaTitik dan Tris. Bahkan kami berusaha melunakkan hati mbak Is agar dapat menerima kenyataan bahwa Titik sangat mencintai Tris dan rela berkorban demi anak-anaknya.

Suami Tatik mengalami kasus lain:  suaminya digunjingkan selingkuh dengan perempuan lain yang masih ada kaitan famili dengan trah Notoringo. Mbak Sam dan mbak Mi memihak pada perempuan itu dan menganjurkan perempuan itu untuk dinikahi. Aku dan mas Gun  tak setuju dengan pendapat mereka, lebih baik menyelamatkan keluarga Tatik dari pada membela perempuan sundal itu. Aku bahkan mengancam perempuan itu jika berani mengusik keluarga kemenakannku  akan kuusir dari rumah milik trah Nopopringgo yang ditempatinya.

Perempuan itu menikah dengan lelaki lain. Tatik berterima kasih atas sikapku yang tegas, hingga rumah tangganya dapat diselamatkan.

Suatu saat mbak Is stres dan mengalami kelumpuhan. Atik membawa ibunya ke Jakarta hingga rumah Siliran  Lor 29 hanya dihuni oleh keluarga Disah dan suaminya yang bernama pak Hadi.

Mbak Sam pindah  ke Siliran Lor 29, mas Min menunggu rumah mbak Sam di Banteng Baru.

Penyakit kak Vai semakin parah, hingga mbak Sam mengajakku kepengadilan untuk menjadi saksi mendapatkan surat “perwalian” yang memberikan kuasa kepada mbak Sam untuk mewakili suaminya dalam segala urusan, misalnya pengambilan pensiun, tabungan, penyelesaian hutang piutang dan lain-lain.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s