Sedikit tentang pengalaman hidupku (1)

Sedikit tentang pengalaman hidupku:

Kata Pengantar

Tulisan ini merupakan bagian dari Autobiografiku yang kutulis untuk memenuhi janji pada salah seorang peserta Tanya-jawab tentang teori Minimalis sekaligus untuk memenuhi “permintaan” menantuku Ir Suwandhi Dharma agar aku menulis sesuatu yang mudah dimengerti namun memiliki pesan moral.

          Karena  tulisan ini merupakan bagian dari sebuah autobiografi maka  kugunakan nama-nama sesuai denganaslinya, sebagian berupa panggilan kesayangan agar aku dapat mengenangkan segala sesuatu tentang orang itu.

          Ada bagian yang sengaja “kuperlunak” agar tidak merugikan fihak-fihak tertentu, namun jika dirasa masih juga kurang berkenan dihati pembaca yang terkait dengan penulisan ini,  kami mohon maaf, namun karena merupakan bagian dari sebuah autobiografi  dapat dicek kebenarannya.

          Terima kasih atas perhatian pembaca.

Yogyakarta, 9 Maret 2008

Penulis:

 Ibnu Somowiyono NA.

Bab I. Keluargaku.

Orang tuaku dan posisiku dalam keluarga:

          Aku dilahirkan sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, tujuh lelaki dan dua perempuan. Kusebut panggilan kesayangan masing-masing, dari yang sulung ke yang bontot: Mas Man, mas Min, mas Mar, mas Mir, mbak Mi, mas Mun, Mas Gun, mbak Sam dan Kelik (aku).

           Ayah, Bapak Soeparman alias Raden Bekel Noto Pringgo, seorang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berpangkat Bekel, tugasnya mengurusi instalasi penerangan keraton yang disebut Silir. Rumah kami di Siliran Lor no 29.

            Ibu Soebiyach Temon alias Raden Nganten Noto Pringgo, adalah seorang pengusaha batik yang sukses hingga keluarga kami sangat berkecukupan.

Rumah kami besar, (1100 m2) berupa bangunan kuno beratapkan Joglo dan Limasan. Didepan rumah, berseberangan dengan jalan Siliran Lor kami memiliki halaman yang sangat luas(1200 m) ditanami berbagai tumbuh-tumbuhan: Pohon kelapa, pohon melinjo, pohon buah-buahan dan lain lain hingga sangat rindang.

Di Siliran Kidul No 47 kami memiliki tanah yang luas (1000M2) dan disediakan untuk orang-orang lain untuk menempati tanpa membayar dan disebut sebagai pengindung.

            Kami juga memiliki tanah disebelah timur keraton (2200 m2) yang juga disediakan bagi para pengindung. Halaman depannya disediakan untuk Sekolah Dasar  Ngindungan.

Di Kaliurang kami memiliki rumah peristirahatan disebelah timur Taman/ Peristirahatan Keraton.

            Ketika aku berusia selapan hari (tiga puluh enam hari) ayah meninggal dan dimakamkan di Astana Gambiran dekat Kota Gede. Jarak terdekat dari Siliran ke Gambiran sekitar lima kilo meter.

            Ibu janda kaya, banyak yang mengidamkan, tetapi kakak-kakakku tak menginginkan mempunyai ayah tiri, sehingga tak ada lelaki yang berani “mendekati” ibu.

Sedikit tentang kakak-kakakku:

1.Mas Man: berpendidikan AMS, seorang pendekar yang cerdas dan idealis, seorang wartawan dan pernah  memiliki surat kabarSuara Asia di Surabaya. Anaknya lima orang, empat perempuan dan yang bungsu lelaki. Yang perempuan diberi nama awal Esti (Atik,Tatik,Is dan Titik) yang bungsu Ibnu M. Atik  setahun lebih muda dari aku, pernah duduk satu klas dengan aku. Semua Esti berwajah cantik dan cerdas hingga menjadi idola guru dan teman-teman.

Anang atau Ibnu M adalah seorang pendekar muda, mahasiswa Fakultas Tehnik Jurusan Listrik UGM.  Dia meninggal karena mempelajari ilmu Yoga Kundalini tanpa bimbingan seorang guru.

2.Mas Min tidak berpendidikan tinggi karena tidak mau mengikuti pendidikan formal tetapi gemar mempelajari kesenian dan ilmu kanuragan. Dia adalah abdi dalem kraton dalam bidang kesenian. Wajahnya cakep, dalam tari/wayang melakonkan Gatutkaca.

Sayang mas Min perokok berat, pemabok, penjudi, dan suka berfoya-foya. Dia pandai bergaul sehingga temannya banyak, terdiri dari berbagai kalangan: dari priyayi hingga rakyat jelata, dari pendekar putih sampai yang hitam. Dia suka menolong orang lain dan sangat sosial.

Karena dia satu-satunya dari keluarga kami yang menjadi abdi dalem kraton, maka sebagian besar tanah di Dalam Beteng, kecuali yang di Siliran Lor 29, diatas namakan mas Min. Dia seorang penjudi tetapi tak mau menyalah gunakankan kepercayaan ibu dan saudara lainnya dalam hal kepemilikan tanah. Setiap hasil penjualan tanah diserahkan kepada ibu, atau mas Min sebagai pengganti ibu untuk kebutuhan hidup bersama.

Pada usia senjanya  Mas Min menyesali semua perbuatan jeleknya    dan berpesan kepada kami agar tidak mengikuti jejaknya.

Dari istri  pertama dia mempunyai seorang anak lelaki, Ibnu Sun. Pemuda jangkung dan tanpan ini menguasai ilmu pengobatan gaib dan suka menolong orang tanpa bayaran. Karena orang tuanya bercerai dan menikah lagi Sun pergi dan tak pernah kembali.

 Dari istri yang ke dua Mas Min mempunyai seorang anak perempuan, Ibni M. yang cerdas dan cantik. Dengan istri kedua inipun mas Min bercerai, bekas istrinya menikah lagi, Mas Min tidak menikah lagi, menduda hingga akhir hayatnya, sehingga Ibni lebih hormat kepada bapaknya dari pada ibu yang membesarkannya.

2.Mas Mar adalah seorang petualang. Menjelang pendudukan Jepang dia jadi marinir. Kapal  perangnya di bom Jepang di Surabaya dan dia hampir tewas. Ketika pulang kerumah pada sekujur tubuhnya terdapat bisul-bisul berisi pecahan bom.

Di jaman penjajahan Jepang dia menjadi Heiho dan berperang melawan tentara sekutu. Sejak kepergiannya itu tak ada kabar beritanya. Ada yang mengatakan dia tewas dalam pertempuran di Manokwari, Irian. Inilah yang menjadikan ibu sedih hingga jatuh sakit.

4.Mas Mir, sangat alim, menyelesaikan Sekolah Dagang di Purworejo. Dia mempunyai lima orang anak: A’ad,A’ud, A’id, Mir, dan U’ud.  Mereka bersatu dalam Band yang bernama Candra Ireng.  Yang lelaki nama depannya Ibnu, semuanya tanpan hingga menjadi idola remaja. Mir bersuamikan seorang dokter.

Mas Mir pernah menjadi Bendaharawan Gabungan Kooperasi Batik Indonesia. Beliau seorang Muslim yang taat dan tak mempercayai sesuatu yang berbau mistik.

5.Mbak Mi, dianugrahi empat orang anak: Ibnu Nur , Tiek, Yun dan Tok. Nur meninggal ketika masih kecil. Mbak Mi sekolahnya tidak tinggi tetapi mengikuti berbagai kursus: mengetik, memasak , menjahit dll.

Mbak Mi pandai memasak, menjahit dan pekerjaan administrasi. Suaminya, mas Jo, abdi dalem kraton dan seorang pejuang, anak buah Let. Marsudi. Mas Jo pernah bekerja di Batari. Ketika di PHK dia membantu aku dalam usaha fotografi. Diusia tuanya setiap bulan mas Jo menerima “uang jasa” sebagai mantan pejuang.

6.Mas Mun adalah seorang pejuang (TRIP) sehingga berhak dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata. Mas Mun pernah menjadi Kepala Cabang Bank Indonesia Pontianak. Dia  memiliki tiga orang putri : Kiek,Niek dan Riek. Ketiganya berpendidikan tinggi, strata dua.

7.Mas Gun adalah satu-satunya kakakku yang bergelar Sarjana (S.E). Mas Gun pernah menjadi orang kedua di Cabang Bank Indonesia Irian Jaya.  Anaknya tiga orang: Nggie, Ndra dan Lis.

Tatkala muda mas Gun jagoan, sering terlibat perkelahian, dia disegani oleh teman sebayanya karena keberaniannya dan tak takut kepada siapapun. Dia pernah menempeleng gurunya karena dilecehkan, hingga diancam akan dikeluarkan dari SMP II Negri. Mas Gun masuk ke Sekolah Swasta,SMA Budaya dan berhasil menyelesaikan SMA nya. Dia ingin mengikuti jejak mas Mar, menjadi seorang Marinir,   tetapi dicegah oleh mbak Is, istri mas Man.

 Karena pacarnya gadis modern mas Gun pandai berdansa, melukis dan mencipta lagu.  Dalam bergerilya dia dikenal nekat sehingga sering menyulitkan teman-teman dan atasannya.

Diusia senjanya dia menjadi seorang yang alim. Ketika menunaikan ibadah haji istrinya meninggal di Saudi Arabia dan dimakamkan disana.                   

8.Mbak Sam menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Keputrian Atas di Solo. Suaminya, putra Bupati Banjarmasin, pernah menjabat Seketaris  Direktorat Jendral Agraria. Putranya seorang perempuan bernama Luh.

Mbak Sam dan suaminya sangat peduli pada lingkungan.  Banyak yang ditolong mencari pekerjaan, memberikan pinjaman untuk usaha atau menyelesaikan masalah rumah tangga. Kesukaannya mengadakan pista untuk menyenangkan orang-orang disekitarnya.

Kehidupan mas Min sepenuhnya ditopang oleh keluarga mbak Sam. Keluargaku juga ditolong dengan dipinnjami uang untuk membeli bangunan bekas garage PerhimpunanTheosofi Indonesia di jalan Jendral Sudirman No 34 Yogyakarta, hingga aku dapat memperoleh HGB atas tanah milik Negara.

9. Kelik, bungsu dari 9 bersaudara, tujuh lelaki dan dua perempuan adalah diriku.

 

Zaman pendudukan Jepang:

Jepang datang merampas dan menguras  segala harta penduduk : pagar besi, perhiasan, pendok keris yang terbuat dari emas hingga peralatan rumah tangga. Anak-anak disuruh mengumpulkan barang-barang bekas; orang tua dijadikan romusa, yang harus melakukan kerja paksa; pemuda dijadikan heiho dan dipakai sebagai perisai menghadapi tentara sekutu.  Keluarga kami tidak terlepas dari keserakahan tentara Jepang. Harta kami dikuras, kebebasan berdagang dibelenggu bahkan kakakku, mas Mar, hilang tiada tentu rimbanya.

            Ibu menderita sakit dan harus tetirah di Kaliurang.  Aku dan mbak Sam ikut ibu di Kaliurang ditemani paman Dono Naroco. Mas Mun dan Mbak Mi melanjutkan usaha ibu, tetapi bukan membuat kain batik baru, melainkan “nyembuh batik” yang artinya memperbaiki batik lama, karena saat itu tak ada kain mori, penduduk bahkan berpakaian bagor dan goni. Banyak orang kelaparan, kurus kering atau beri-beri.

Untuk memasarkan dagangan ke kota lain harus dengan  cara penyelundupan, mengirim perempuan yang berpura-pura hamil, namun sebenarnya  perutnya dililit berlapis-lapis dengan batik sembuhan .  Penyelundupan dalam kota dilakukan dengan memasukan dagangan dalam bandosa (peti mati) dan diusung  dengan pengiring sebagai mengiringi jenasah.

Mas Man mendirikan pabrik senjata mainan dari kayu untuk berlatih para pemuda calon peta (singkatan dari pembela tanah air), tetapi tidak pernah dibayar hingga perusahannya bangkrut. Dia pergi ke Surabaya, menerbitkan surat kabar Suara Asia dan mendirikan pabrik tinta yang bernama Kresna. Beberapa kali dia ditangkap dan hanya dapat bebas dengan uang tebusan.

Mas Mir mendirikan perusahaan teh di Solo, tehnya “laku keras” tetapi tak ada uang masuk, tentara Jepang gemar minum teh yang diperoleh secara gratis, hingga usaha mas Mir gulung tikar.

Untuk dapat menyambung hidup dan beaya pengobatan ibu beberapa bidang tanah milik kami harus dijual.

Bom Hidrogin yang dijatuhkan oleh tentara Sekutu di Horosima dan Nagasaki memang kejam tetapi dapat mengakhiri kekejaman tentara Jepang. Andai kata Jepang lebih lama berkuasa di Indonesia, bangsa Indonesia akan lebih sengsara dari pribumi Benua Amerika atau Australia, bahkan mungkin punah. Sebaliknya, kekejangan tentera Jepang itu dapat membangkitkan semangat dan keberanian bangsa Indonesia untuk tidak sudi dijajah lagi, semboyannya merdeka atau mati.

Zaman pendudukan Belanda:

Jakarta diduduki Belanda, pemerintahan Republik Indonesia pindah ke Yogya. Rumah kami dipenuhi para pengungsi dari wilayah yang telah diduduki Belanda.  Aku pernah menghitung, penghuni rumah itu mencapai enam puluh delapan orang, sebagian besar pegawai pemerintahan R.I. yang pindah ke Yogya.

Ketika Semarang diduduki, rumah kami digunakan sebagai markas tentara pelajar (TRIP). Mereka membeyai kegiatannya dengan merampas kendaraan di Semarang dan membawa lari ke Yogya. Senjata mereka juga hasil rampasan dari tentara Belanda.

Surabaya diduduki Belanda, keluarga mas Man mengungsi ke Yogya. Rumah Siliran Lor semakin padat. Aku ingat bung Tomo juga pernah tinggal dirumah kami. Dia teman seperjuangan mas Man, bahkan wajah dan perawakannya mirib mas Man.

Yogya diduduki Belanda, sebagian besar penduduk mengungsi keluar kota, terutama para pemudanya. Aku tak tahu kemana teman-teman mas Mun kabur, tetapi beberapa orang tewas dalam pertempuran di Ambarawa.

Pojok Beteng Tenggara Keraton Ngayogyakarta digunakan sebagai post Belanda. Bangunan diluar beteng kraton dibakar dan diruntuhkan sehingga dari atas benteng setiap gerakan gerilyawan dapat diawasi.  Jika malam sorot  lampu  yang dapat menjangkau puluhan kilometer diarahkan keselatan menerangi daerah disekitarnya yang telah dibumi hanguskan. Post Belanda di bagian tenggara kraton ini terkenal  ganas, sehingga menjadi sasaran mortir pejuang yang ditembakkan dari luar kota bagian selatan.

Hampir setiap malam terjadi pertempuran, suara ledakan berbagai senjata api dan kilatan cahaya lebih hebat dari sekedar pesta bunga api.    

Karena rumah kami hanya berjarak  seratus meter dari benteng Belanda itu kami mengungsi ke Panembahan. Para pengungsi yang semula “berkumpul” dirumah menyelamatkan diri ketempat yang aman, entah kemana perginya.

            Aku heran, beberapa mortir nyasar kedekat rumah kami, tetapi tak ada yang meledak. Kenyataan itu membuat kami yakin bahwa ada kekuatan  gaib yang melindungi wilayah Dalam Beteng Keraton. Kami kembali kerumah.

            Di kampung Gamelan terdapat warung nasi bernama Warung Puas , tidak ada yang tahu bahwa itu merupakan post gerilya. Sehabis melakukan serangan para gerilyawan masuk kewilayah Dalam Beteng, diantaranya bersembunyi di Taman Sari dan jika perlu makan pergi  dan makan di Warung Puas.

            Didekat post Belanda di Pojok Beteng Tenggara  tinggal seorang wanita, mbak Tun namanya , bekerja di IVG (Bagian Intelegen Belanda.) Anehnya dia tidak disatroni oleh gerilyawan. Dia beragama Katolik dan fasih berbagai bahasa: Jawa, Indonesia, Inggris,Jepang dan Belanda.

             Ibu meninggal tanggal 28 Februari 1949, sehari sebelum serangan 1 Maret.  Andaikata tidak segera dimakamkan pastilah terpaksa dikuburkan didalam rumah sebab saat S.U. itu tak seorangpun berani keluar rumah,.

            Mas Man tetap bersikeras untuk memakamkan ibu disisi ayah. Untuk mencapai Gambiran harus melewati luar kota, itupun sangat berbahaya, karena harus menyeberaangi jalan Parangtritis yang terlihat jelas dari post Belanda diatas benteng tenggara kraton. Tak ada yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk sekedar menuruti kehendak mas Man.

Waktu itu mas Gun, mas Min, mas Mun dan Mas Jo, menyelundup masuk kewilayah Dalam Beteng dan pulang kerumah untuk menghormati meninggalnya ibu. Mas Mir tak dapat hadir karena tidak ada kendaraan yang menghubungkan Solo Yogya.

Kakak-kakak bertekat bulat untuk memakamkan ibu disisi ayah di Astana Gambiran. Karena  harus melewati luar kota jarak yang ditempuh sekitar sepuluh kilometer.

 Jenasah diusung empat orang, yang satu sebagai tenaga cadangan. Aku akan ikut tetapi dicegah oleh pak-lik Sastrodimento, alasannya aku masih terlalu kecil. Aku menghantarkan jenasah ibu sampai kepintu gerbang rumah, jenasah benar-benar diangkat oleh kakak kakakku sendiri, lainnya bengong. Setelah beberapa langkah ternyata para pelayat  membuntuti dibelakangnya, terjadilah iring-iringan yang cukup panjang.

Saat yang paling mendebarkan ialah ketika iring-iringan yang cukup panjang itu melintasi jalan Parangtritis yang masih terjangkau oleh mortir Belanda. Iring-iringan itu dapat terlihat jelas dengan menggunakan teropong yang tersedia di post Belanda itu. Anehnya Belanda membiarkan iring-iringan itu melintasi jalan Parangtritis dan tak memberikan  tembakan peringatan atau  meluncurkan mortirnya kearah iring-iringan itu.

Mas Mun,mas Min dan mas Jo tidak kembali kerumah, mas Gun menemani mas Man kembali ke Siliran.

Tanggal 1 Maret terjadi S.U. hingga tak seorangpun berani keluar rumah. Mas Gun akan bergabung dengan teman-temannya yang masuk kewilayah keraton, tetapi dicegah oleh mas Man. Pertempuran dahsat terjadi disekitar keraton. Waktu itu, sampai order Baru aku tak tahu siapa yang memimpin pertempuran itu. Baru dizaman order Baru kuketahui bahwa yang memimpin Let Kol Suharto.

Sehari kemudian, tanggal 2 Maret 1948, Belanda melakukan pembersihan diwilayah Dalam Beteng Keraton. Mas Gun akan bersembunyi tetapi tak diizinkan oleh mas Man.  Pasukan Gurka mengobrak abrik rumah kami dan mengambil barang barang yang mereka sukai. Ketika ditemukan camera milik mas Man, pemiliknya ditangkap. Kata mereka camera itu akan dijadikan barang bukti kegiatan mata-mata, tetapi hingga kini camera itu tak pernah kembali kepada pemiliknya. Mas Gun dan mas Man digiring ke jalan Madiosuro.

 Aku ingin tahu bagaimana nasib kakakku, tanpa rasa takut aku mendekat kerumunan penduduk yang sedang dijemur ditengah jalan Madiosuro.  Ketika akan meninggalkan tempat itu beberapa orang Gurka mengacungkan laras senjata automatiknya ke kepalaku.

Aku seorang yang keras kepala dan tak sudi menuruti diperintah siapapun, tetapi aku  ngeri jika kepalaku dihancurkan oleh peluru senjata automatis itu, aku menuruti perintah Gurka yang bengis itu dan menyusup diantara kerumunan orang yang ditawan itu. Seharian kami dijemur diterik matahari, saat hujan kami digiring kesebuah kandang kuda dan harus berdesak-desakan bagaikan cendol.

Sore hari orang tua dilepaskan sedangkan yang muda diangkut dengan truk militer. Aku digolongkan “manula” hingga ikut dilepaskan dengan dibekali tendangan sepatu lars tentara. Mas Gun dan mas Man ikut diangkut dengan truk militer Belanda.

Sehari kemudian mas Man pulang, sedangkan mas Gun masih “disimpan” disuatu tempat. Beberapa hari kemudian mbak Tun, mengembalikan mas Gun dalam keadaan sehat wal afiat. Adik ipar mbak Tun adalah pacar mas Gun.

Ketika usiaku dua belas tahun aku menjadi seorang yatim piatu. Untung aku memiliki  saudara yang semuanya sangat mencintaiku.

Yogya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, kakak-kakakku kembali kerumah pusaka. Para pengungsi kembali kekota masing-masing.

Sepeninggal ibu aku merasa kehilangan kemerdekaanku. Kakak-kakak semua mencintaiku, tetapi harus kubayar dengan  mematuhi peraturan yang mereka buat secara sefihak. Setiap hari aku harus mandi pagi dan sore, harus tidur disiang hari selama satu jam, harus belajar setiap pukul tujuh hingga delapan malam, tidak boleh bergadang jika tidak sedang libur.

 Dirumah kupatuhi peraturan itu, tetapi diluar aku bertindak sesuka hati. Aku sering membolos dan keloyoran, melempari mangga, mencoret-coret dinding keraton. Sebenarnya Atik tahu kelakuanku itu, tetapi dia tak berani melapor.

 Kwartalan tiba aku menerima raport. Ketika melihat nilai raporku yang menantang, mengibarkan bendera merah, kakak-kakak  marah, telingaku jadi sasaran karena tak kugunakan untuk mendengar nasehat kakak. Aku menangis  dan merintih “Hu,hu….ibu, mengapa kau tinggalkan aku. Aku jadi anak yatim piatu, tak ada yang menyanyangi aku………….”  Semua terharu, sebagian bahkan ikut menangis dan memelukku.

            Mahkotaku, kemerdekaan, yang terampas dikembalikan, aku bebas untuk berbuat apa saja.Tetapi  kebebasan itu harus kubayar dengan tak seorangpun peduli kepadaku.

Titik Balik:

 J.B.  Basuki, cucu kakak ayah, ikut keluarga kami. Basuki seusia mas Gun, siswa Sekolah Menengah  Katolik.  Dia seorang Katolik yang sangat taat pada ajaran Jesus.

Basuki tahu masalah yang sedang kuhadapi, aku merasa kesepian dan tak berharga bagi siapapun. Basuki mengajakku tidur di Gandok Lor beralaskan selembar tikar. Kuceriterakan sebabnya aku enggan bersekolah. Diklas aku jadi pecundang karena Atik yang duduk sekelas dengan aku sangat cerdas sedangkan aku sangat bodoh.

 Atas  saran Basuki aku dipindahkan oleh mas Mun dari Keputran C ke Netral Campuran. Ini berkat pertolongan seorang pelukis, mas Sudiyono, illustrator majalah Minggu Pagi.

            Waktu belajar dan mengerjakan tugas  sekolah  sangat terbatas bagi Basuki, sebab dia harus bekerja untuk keluarga kami: membersihkan rumah, memenuhi bak air, membantu mas Mun dalam mengurusi perusahaan batik yang sedang sekarat. Anehnya nilai rapor Basuki sangat luar biasa, rata-rata  sembilan lebih.

             Kebiasaan Basuki yang mengerikan adalah ketika sedang tidur dia terbangun dan dalam keadaan tidak sadar pergi kedekat sumur untuk menimba air,  memenuhi bak mandi. Ini kuketahui ketika dia menanyakan kepadaku siapa yang telah mengerjakan tugasnya, memenuhi bak mandi. Saat tidur dia seperti menghafalkan pelajaran yang baru saja dibaca atau diterima disekolahnya.

            Yang tak pernah kulupakan Basuki dapat mengerti kesulitan yang sedang kuhadapi, dia menjelaskannya sehingga kesulitanku terpecahkan.

* Aku bingung jika membaca peta, aku tahu  bagian atas peta menunjukan utara bagian bawah selatan , tetapi ketika aku membuka peta menghadap kebarat bagian kiri  bukan barat melainkan selatan, bagian kanan bukan timur tetapi utara. Dia memintaku setiap membuka peta aku harus menghadap ke utara. Dengan  sikap demikian aku menjadi mudah menentukan arah, aku dapat mengetahui Jakarta disebelah barat Ciribon, Solo disebelah timur Yogya.

 * Aku tak faham mengapa 3 x 9 = 27. Dia memberi penjelasan: 3 x 9 artinya 3 + 3 + 3…. dan penambahan itu dilakukan sampai sembilan kali, sebaliknya 9 x 3 artinya 9 + 9 + 9…. penambahan dilakukan sampai tiga kali. Sejalan dengan itu dijelaskan juga arti pemangkatan, arti pembagian dan lain-lain. Tetapi dia meminta agar aku menghafal perkalian bilangan dibawah lima belas agar dapat menghitung dengan cepat.

*Saat aku bernyanyi, sebuah lagu lama akan menjadi baru, karena aku tak dapat membidik  nada dan menyanyikannya sesuka hatiku. Basuki mengajariku membidik nada dengan sebuah harmonika. Aku diminta menghafalkan titinada diatonik kemudian chromatik dan membaca not angka, ketukan, hormoni dll.

Pertama kali mengikuti pelajaran diklas lima Netral aku bagaikan seekor monyet memasuki klas anak-anak cerdas. Semua mencemoohkan kegoblokan ku melebihi ketika aku di Keputran C. Aku akan marah tetapi teringat pesan Basuki, marah tak akan menyelesaikan masalah. Kalau diejek karena bodoh, aku harus belajar agar pandai, setelah pandai mereka akan menghormatiku.

Kerena bimbingan Basuki rapor kwartal satu tidak terlalu memalukan, lebih baik dari rapor di Keputran C. Kwartal kedua lebih meningkat. Kwartal ketiga melejit. Pada kenaikan klas aku menjadi juara klas.

Di klas enam prestasiku semakin meningkat dan tetap bertahan sebagai juara klas. Kwartal ke dua aku menjuarai seluruh Netral, sehingga diberi kepercayaan oleh Bapak Harnowo untuk membantu menyusun buku pelajaran bahasa Indoneis yang diberi judul Bahasa Kita. Aku menjadi idola seluruh Netral.

Tak terasa aku menjadi sombong. Teman-teman membicarakan murid Netral Putri yang rata-rata cantik dan ada diantara mereka yang memuji kehebatanku. Aku bertanya bagaimana nilai rapornya. Dikatakan: rapornya biasa-biasa saja, tetapi dia sangat cantik. Aku mengatakan aku lebih tertarik pada murid cerdas dari pada murid cantik.

Tak kuduga suatu hari teman-teman  membuat sebuah pantun yang dibaca saat istirahat, bunyinya : Gedang suluh, diimbu mateng. Endang rawuh, Ibnu seneng. Aku bertanya pada Widodo, sipembuat pantun “konyol” itu siapa Endang yang dikaitkan dengan namaku itu, dia mengatakan Endang itu juara klas lima Netral putra. Aku penasaran ingin melihat murid itu.

Mbak Karti, teman sekelasku mengatakan bahwa Endang itu murid perempuan klas lima Netral Lelaki. Dia sangat sederhana, giginya gingsul, kalau tersenyum manis sekali.

Cinta itu gaib:

Aku ingin  berkenalan dengan Endang, tetapi sangat sulit untuk menemuinya. Pernah mbak Karti menunjuk kearah dua orang murid yang sedang duduk di Aula, aku berusaha mendekati, tetapi demi melihatku seorang diantaranya cepat-cepat pergi  menyelinap kebelakang gedung sekolah dan menghilang.

 Aku sempat melihat perawakannya: tubuhnya kurus, rambutnya dikepang, pakaiannya sangat sederhana. Aku menduga dia anak orang bersahaja, bukan anak orang kaya. Sejak itu semakin sulit untuk menjumpainya.

Tanggal 13 Mei 1952, ketika pulang sekolah kulihat Endang bersama temannya disekitar lampu lalu lintas perempatan Gandekan. Aku turun dari sepeda dan mengikuti di belakangnya. Mereka masuk dalam kerumunan orang didepan pasar Beringharjo hingga aku kehilangan jejak mereka. Kucari-cari kedalam pasar, tetapi tidak kujumpai.

 Aku memutuskan untuk mencari ketempat lain, kukayuh sepeda keselatan melalui depan Gedung Negara, tak kulihat “buronan” itu. Biasanya aku melewati Alun-alun Utara, tetapi ketika aku menoleh ketimur, kejalan Secodiningratan, kulihat payung merah yang biasa dipakai Endang, melambai ditrotoir disebelah selatan benteng Vredenburg.  Kubelokkan sepeda ke timur kearah payung merah itu, aku berhenti dibelakangnya, kuangkat sepeda keatas trotoir hingga aku berhasil berjalan disisi payung merah.

Kukenali dia dari pakaian yang dipakainya, biru muda dengan kembang putih. Aku memperkenalkan diri dan meminta maaf karena telah menyusahkan dirinya akibat dikaitkan dengan namaku. Dia tenang dan menerima perkenalanku.

Sambil berjalan kami berbincang-bincang, Endang memperkenalkan teman yang berjalan disebelahnya, namanya Mur. Aku sempat melirik, Mur  lebih cantik dan pakaiannya lebih bagus. Endang sangat sederhana dalam segalanya, tetapi benar kata mbak Karti, ketika tersenyum……….terpancar ketulusan hatinya.

Endang tinggal dikomplek Perpustakaan Universitas Gajah Mada di barat laut perempatan jalan Secodiningratan dan Gondomanan. Aku memberikan alamat rumahku Siliran Lor no 29 di lingkungan Dalam Beteng Keraton sebelah tenggara dan memintanya untuk datang kerumahku.

Kami berpisah diperempatan jalan, Endang masuk kesebuah emplek-emplek (semacam warung) yang dibangun diatas trotoir dan menempel dipagar Perpustakaan, sedangkan Mur meneruskan perjalanan keutara. Aku menyeberangi jalan Secodiningratan dan meneruskan perjalanan memuju keselatan melalui jalan Gondomanan.

Beberapa hari kemudian aku berkunjung kerumahnya dan diperkenalkan dengan keluarganya. Ternyata emplek-emplek itu merupakan ruang tamu,  sedangkan  orang tua Endang, Bapak Wirjo Atmodjo, menempati sebuah kamar didalam komplek perpustakaan.

Endang adalah anak sulung dari lima bersaudara, tiga lelaki dan dua perempuan. Bapak Wiryo Atmojo  adalah pegawai Perpustakaan UGM yang kedudukannya cukup tinggi, beliau pindah dari Kutoarjo ke Yogyakarta karena teman dekatnya, sesama anggauta Theosofi, Dokter Sarjito, menjadi Rektor Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.

Perkenalanku disambut gembira, kecuali Bapak Wir yang kelihatan tidak senang dengan kedatanganku.

Endang kuundang kerumahku dan kuperkenalkan dengan kakak-kakakku. Semua menerima dengan tangan terbuka, kecuali mbak Is, istri mas Man yang nampak kurang senang atas kedatangan Endang. Dikatakan gadis kok bertandang kerumah bujangan, dianggap sebagai gadis murahan. Kujelaskan bahwa aku yang meminta Endang berkunjung kerumahku.

Aku merasa kurang enak terhadap sikap pak Wir dan mbak Is. Firasatku ini ternyata benar, keduanya menjadi penghalang dalam “persahabatanku” dengan Endang.

 Pak Wir sangat membenci pria Feodalis yang kerjanya dudu-duduk, minum teh kental manis sambil mendengarkan kicau burung perkutut, sedangkan mbak Is ternyata mempunyai calon yang dianggap pantas sebagai pendampingku.

Aku masuk ke SMP Negri II yang terletak di Jalan Secodiningratan berseberangan dengan rumah Endang. Atik juga masuk di SMP II tetapi tidak sekelas dengan aku.

Aku dikirim sekolah untuk mewakili duduk dalam staf redaksi Remaja Nasional, halaman khusus yang disediakan oleh sk. Nasional Yogyakarta untuk pelajar Sekolah Menengah Pertama seluruh Yogyakarta, baik negri atau swasta.

 Seharusnya yang dikirim  siswa klas dua, tetapi karena aku pernah membantu menyusun buku Bahasa Kita di Sekolah Dasar, aku ditunjuk menjadi staf redaksi RN bersama seorang kakak klas dua. Yang masih kuingat Edi Sutoyo (Edy Sud) saat itu mewakili Sekolah Menengah Katolik Yogyakarta.

 Ada 30 orang dari lima belas sekolahan. Aku satu-satunya murid klas satu, anehnya aku ditunjuk oleh Oom Pramono, Ketua Redaktur s.k. Nasional untuk menjadi ketua redaksi Remaja Nasional, alasannya mas Man adalah seorang wartawan senior yang berpengalangan dalam urusan redaksional.

Namaku, Ibnu S Yon NP terpampang dalam halaman RN sekagai Ketua Redaksi Remaja Nasional yang terbit tiap hari Senin dengan jatah setengah halaman. Waktu itu suratkabar hanya terbit empat halaman. Rubrik didalam RN  adalah: Tajuk Rencana, prosa, puisi, Keep Smiling, karikatur, berita kegiatan pelajar dan sekolah, lagu dan liriknya,ilmu pengetahuan dan sebagainya. Seleksi bahan yang masuk kemeja redaksi, persiapan naskah terpilih, layout hingga koreksi dipercetakan sepenuhnya ditangani oleh redaksi RN sendiri.

Kantor kami bersama dengan kantor redaksi sk Nasional, tetapi kami hanya berkumpul dan bekerja tiap Sabtu sore. Malem Minggu yang oleh pelajar digunakan untuk beristirahat atau berekreasi kami gunakan untuk mempersiapkan bahan  mengisi halaman RN yang akan terbit Senin pagi. Kami bekerja hingga larut malam. Malam Senin, tengah malam kami  mengoreksi lembaran cetak coba hingga tak terjadi kesalahan  sebelum dicetak masa.

Kantor redaksi sk Nasional terletak di Jalan Tanjung, Pakuaalaman. Setiap kekantor aku melewati rumah Endang, tetapi aku tak pernah singgah kerumahnya. Disamping kesibukan kerja aku merasa kurang nyaman berhadapan dengan pak Wir.

Ada dua orang yang tak setuju  “persahabatanku” dengan Endang, difihaktu adalah mbak Is, difihak Endang adalah ayahnya. Dua duanya merupakan  pagar penghalang yang sulit untuk disepelekan.

Langkah strategis yang diambil pak Wir ialah memasukan Endang di SMP Negri V, padahal SMP Negri II terletak di Jalan Seconiningratan dan bersebelahan dengan Perpustakaan UGM, tempat tinggal Endang. Maksudnya sudah jelas, agar Endang tidak satu sekolahan dengan aku.

Langkah strategis mbak Is adalah mencari tahu latar belakang kehidupan keluarga Endang. Setelah tahu berusaha menyadarkanku bahwa tugas seorang anak sulung adalah sangat berat apalagi bila keadaan ekonomi keluarga itu tidak baik.

Langkah itu sebenarnya sangat jitu, tetapi entahlah rasanya kedekatanku dengan Endang tak rasionil lagi. Dia anak sulung dari keluarga yang sangat sederhana sedangkan aku anak bungsu dari keluarga yang sangat berkecukupan. Endang dari kalangan modern, ayah Endang seorang Theosofi yang pergaulannya dengan  kaum intelektrual, diantaranya Prof Sarjito, pendiri UGM.  Aku dari lingkungan pedagang yang feodalis.

 Banyak murid SMP II yang mengidolakanku, sedangkan Endang  tak pernah peduli dengan kehebatanku. Banyak gadis kagum atas prestasiku sebagai Ketua Redaksi sebuah penerbitan yang dibaca oleh kalangan luas, tetapi Endang bersikap acuh tak acuh.

 Aku gemar melukis, mengarang, bermain guitar dan musik, menenteng camera untuk menjepret siapa saja,  sementara Endang sibuk dengan kegiatan menari di Irama Citra.

Aku mengasuh RN selama satu setengah tahun dan harus diganti oleh teman sekelasku, karena aku terpilih menjadi Ketua Keluarga (Ketua Osis) SMP II.

 Prestasi sekolah menurun tetapi kegiatan organisasi berkembang pesat. Aku diserahi mas Man mengelola sebuah biro iklan, namanya Iman Co. Aku telah berpengalaman dalam bidang redaksional, dan percetakan, kini aku merambah kebidang administrasi karena sering berhubungan dengan tatausaha sebuah surat kabar/ majalah, dan perusahaan pemasang iklan.

Di klas tiga aku masih menjabat Ketua Keluarga, di klas dua Endang terpilih menjadi Ketua Keluarga SMP V Negri, sehingga kami sering bertemu dalam rapat antar SMP Negri, aku mewakili SMP II, Endang mewakili SMP V.

Saat itu yang menjadi topik dikalangan pelajar adalah demoralisasi pelajar, yang berkaitan dengan kenakalan remaja.

            Setiap permulaan tahun ajaran diadakan Pekan Olah Raga antar Sekolah Menengah Negri, namanya Segi Lima yang  diikuti oleh lima sekolah negri. Yang diperlombakan ialah sepak bola,  bola volley dan bola keranjang. Aku menjagoi SMP II, sedangkan Endang supporter SMP V. Jika terjadi insiden antara dua sekolah itu, kami ikut terseret dalam ketegangan, sehingga enggan untuk bertemu.

            Saat itu SMP II Negri Yogya merupakan sekolah ter-unggul, tiap ujian pasti meluluskan murid terbanyak dan diterima di SMA unggulan, seperti SMA III B Negri.

Ketika aku menjabat Ketua Keluarga  terjadi penggatian Kepala Sekolah. Pak Sadiman, Kepala Sekolah lama, memberi kesempatan kepada organisasi pelajar untuk berkembang, sebaliknya Kepala Sekolah  baru, Pak Suwitu, sangat otoriter. Peraturannya sangat keterlaluan, misalnya waktu jeda murid dilarang berada di dalam kelas, tetapi diteras tidak tersedia tempat duduk, sehingga murid berdiri atau duduk dilantai. Murid yang datang terlambat mendapat hukuman.

Sebagai Ketua Keluarga  aku memperingatkan agar beliau tidak keterlaluan, banyak guru yang mendukung aku, sehingga aku semakin berani. Aku diancam untuk diganti, tetapi banyak guru yang tidak setuju.

            Setiap akhir tahun ajaran diadakan Malam Perpisahan. Namanya saja Malam Perpisahan tapi kali ini akan diadakan pada hari Minggu pagi. Murid klas tiga menyatakan keberatan, dan mengancam bila diadakan pagi hari mereka tidak akan hadir, tetapi tak digubris oleh pak Suwitu.

Minggu pagi, saat akan dilangsungkan pista perpisahan,  teman-teman klas tiga berkumpul dirumahku. Bapak Hajam, guru  Fisika yang sangat kami segani dikirim untuk membujuk kami agar menghadiri pista itu. Kami meminta beliau untuk menjelaskan sebab diadakan pista perpisahan siang hari. Panitia dianggap tak becus menyelenggarakan Malam Perpisahan Tutup Tahun, hingga terjadi hal yang sangat memalukan. Tuduhan ini sangat melukai murid klas tiga. Kami meminta pak Hajam menyebutkan apa yang dikatakan hal yang sangat memalukan itu.

 Pak Hajam berjanji akan menjelaskan masalah itu didepan pista perpisahan. Atas dasar janji ini kami bersedia datang.

Menurut peraturan yang ditetapkan oleh Pak Suwitu tempat duduk murid putri dipisahkan dari murid laki-laki. Peraturan ini dipatuhi oleh adik-adik klas kami, tetapi kami tak bersedia mentaati peraturan yang kami anggap konyol itu. Kami duduk secara acak, tak peduli dengan peraturan itu, panitia dan guru tak berdaya mengatur kami.

            Aku menyambut, atas nama murid klas tiga,meminta maaf atas keterlambatan kedatangan kami dan kujelaskan sebabnya. Kukatakan kami bersedia datang karena dijanjikan akan dijelaskan kejadian tahun lalu yang dikatakan sangat memalukan itu.

            Pista berlangsung tidak semeriah biasanya karena berkali-kali murid klas tiga berteriak meminta diungkapkan kejadian tahun lalu, tetapi janji itu diingkari.  Bapak Hajam bahkan “menghilang”.

            Tahun ajaran berikutnya ketika kami telah meninggalkan SMP II terjadi hal yang sangat mengejutkan. Murid-murid mogok sekolah, meminta Kepala Sekolah diganti. Ketua Keluarga, Wasito, dipecat dan dikeluarkan dari sekolah. Para pelajar tetap membandel untuk tidak mau masuk sebelum Kepala Sekolah diganti.

            Guru dan orang tua murid mendukung perjuangan para siswa, Pak Suwitu dipindahkan ke sekolah lain, bapak Hajam ditunjuk sebagai pengganti Kepala Sekolah. Wasito dan teman-temannya diterima kembali menjadi siswa SMP II. Sejak itu berkali-kali Kepala Sekolah diganti, tetapi  sekolah itu  tetap ricuh.  Hasil ujian murid SMP II merosot tajam hingga titik terendah. SMP V sebaliknya, prestasinya naik terus, hingga  saat ini merupakan sekolah ter-unggul.

             Endang senang menari, tempat latihannya di Kepatihan.  Suatu saat dia dilamar oleh teman tarinya, Mutohar, anak seorang pengusaha kaya  dan merupakan pewaris tunggal. Orang tuanya datang  mengajukan lamaran kepada orang tua Endang. Lamaran itu diterima oleh pak Wir. Walaupun belum bertunangan pria itu merasa Endang telah menjadi miliknya.

Aku merasa pria itu bukan tandinganku, dia  telah dewasa , tampan, berpendidikan tinggi dan kaya. Karena putus asa aku membuat sebuah sajak:

Patah:

Aduhai taufan, pematah dahan, demikian engkau memutus cinta. Bagaikan hujan, dilepas awan,demikian derai air mataku. Kicau gedasih mengacau pagi, merisau hari mudaku ini. Kemana  gagak terbang melayang, singgah sejenak ke kuburan, disana beta tanam kenangan, sepatah hukuman Tuhan. Kunang-kunang pelita malam, bagai hatiku hancur berserakan,cahya mataku tiada lagi sebulat bulan. Embun tak kan sejukkan pagi, dalam kabut aku terhanyut, bila engkau tidak kembali, kusrahkan hidup padamu maut.

Sebagai biasanya Endang tak peduli dengan hasil karyaku, tetapi mbak Is-lah yang sangat khawatir dengan keadaanku yang menjadi pemurung. Ketika membaca puisi itu dia merasa bersalah dan menghiburku dengan mengatakan dunia tidak selebar daun kelor. Dikatakan bahwa aku seorang remaja yang brilian dan memiliki hari depan sangat cerah.

Anehnya walau tidak peduli dengan puisiku itu Endang tetap baik terhadapku, dia bahkan lebih dekat denganku, seakan tak peduli dengan lamaran teman tarinya itu.

 Endang  meminta kuantar  berlatih menari hingga teman tari itu mengancamku dengan mengatakan”Jika ingin selamat jangan mendekati Endang lagi.” Ancaman itu membuat Endang marah dan tidak mau berlatih menari lagi.

 Pria itu beberapa kali datang kerumah Endang tetapi Endang tak bersedia menemuinya, Endang malah pergi kerumahku dan mengajakku  berkeliling kota. Mbak Is malah senang dengan kedatangan Endang,  karena sejak itu aku tidak murung lagi.

 Suatu saat kami bergoncengan dan bertemu pria itu di Lempuyangan.Dia meminta Endang untuk turun dari goncengan, tetapi  Endang tidak menggubris dan tetap duduk dibelakangku dan mengajakku melanjutkan perjalanan. Pria itu membuntuti, tetapi kemudian menghilang. Sejak itu teman tari  yang tampan itu tak pernah muncul lagi, menghilang tak tentu rimbanya.

            Saat-saat yang menyakitkan:

Aku diterima di SMA III B Negri Yogyakarta yang terletak di Kota Baru. Siswa yang baru masuk diharuskan mengumpulkan tanda tangan. Kakak Edy Sud, yang bernama Subroto (yang kemudian mencapai jenjang tinggi di TNI), mensponsoriku sehingga aku mengumpulkan tanda tangan terbanyak. Aku menjadi King sehingga terkenal disekolah itu. Aku diserahi mengasuh Majalah Pancaran Padmanaba.

Saat itu majalah ini terbit dalam bentuk stensilan diatas kertas buram.

Aku bertindak sebagai penanggung jawab sedang Ketua Redaksi dijabat oleh Suhadi AS. (Kemudian menjadi redaktur harian KR Yogya).

            Kami ingin meningkatkan kwalitas majalah Pancaran Padmanaba dengan mencetak offset diatas kertas HVS. Untuk membeayai penerbitan itu aku mencari sponsor lewat pemasangan iklan. Karena aku telah terbiasa menangani iklan tidak sulit untuk mencari sponsor itu, aku menhubungi toko buku dan penerbit, toko peralatan sekolah dan olah raga, dan orang tua murid yang memiliki perusahaan.

Majalah terbit dalam bentuk yang sangat mungil, dengan gambar sampul seorang murid cantik sedang melakukan praktikum kimia. Majalah ini berisi karangan dan kupasan ilmu pengetahuan yang bermutu berkat kehebatan Suhadi AS.  Kepala Sekolah, bapak Sucipto dan HB IX memberikan sambutan atas terbitnya majalah “ajaib” itu. Pancaran Padmanaba Edisi Khusus  ini pernah mewakili majalah sekolah Indonesia dalam pameran di Jerman dan Belanda.

Disamping bersekolah aku giat dalam organisasi kesenian. Aku mengetuai Handapatni (Himpunan Muda Peminat Seni) yang merupakan mantan pengasuh Remaja Nasional. Beberapa kali Handapatni mengadakan perlombaan baca puisi yang terbuka bagi umum. Handapatni juga mengadakan Malam Kesenian.  Saat itu Bagong Kusudiarjo (yang terakhir menjadi empu seni) menarikan ciptaannya,Tari Layang-layang yang diiringi gendang oleh kakaknya yang bernama Kuswaji, sahabat karib mas Min. Adik Bagong, Kusudiarto adalah anggauta Handapatni.

Pada akhir tahun ajaran aku ditunjuk menjadi Ketua Panitia Tutup Tahun Ajaran SMA III B. Saat itu belum ada kegiatan kesenian di SMA III B sehingga sangat sulit untuk mengisi acara malam tutup tahun. Ternyata teman-teman cukup creative. Tanpa terorganisir Anto cs sanggup menampilkan Band “tiban” yang cukup keren dengan alat seadanya. Beberapa orang secara spontan melawak yang dapat mengocok perut hadirin. Lomba baca puisi diatas pentas sangat memukau. Acara lainnya berlangsung secara spontan, diantaranya sindiran bagi guru dan pegawai tata usaha.

Tahun ajaran baru Endang masuk ke SMA III B. Berbagai kegiatan perkenalan murid baru dan lama diadakan. Mengumpulkan tanda tangan dari guru,pegawai tata usaha dan murid lama harus dilakukan oleh murid baru.

Karena sebagian dari teman-teman mengetahui bahwa Endang pacarku, maka dia jadi bulan-bulanan, namun memperoleh tanda tangan terbanyak. Seharusnya Endang menjadi quin, tetapi panitia  mendiskriditkan dan  menobatkan murid lain yang dianggap tercantik. Teman-temanku akan memprotes tetapi kuperingatkan, karena akan menyulut keributan.

            Yang tak pernah terlupakan ialah peristiwa ketika kami bersepeda bersama ke Prambananan. Ban sepeda Endang kempis, aku terpaksa menemani Endang mencari bengkel. Tiba-tiba Faried, Ketua Keluarga, datang marah-marah dan mengatakan kami sengaja mengacau dengan memisahkan diri dari kelompok. Aku menyangkal dan terjadilah ketegangan.

Kutinggal sepeda itu di bengkel terdekat, Endang kugoncengkan, Faried malah mengejek, katanya semua itu kami sengaja agar kami dapat berpacaran. Sejak itu persahatanku dengan dia renggang.

            Pemilihan Ketua Keluarga baru, tampil beberapa calon diantaranya Gunadi (Ketua Penerimaan dan Perkenalan murid baru  pada awal tahun ajaran), aku (Ketua Perayaan Tutup Tahun) dan beberapa orang murid klas dua lainnya.

Dalam rapat antar kelas aku menyarankan agar teman-teman yang merasa pelajarannya tertinggal tak usah mencalonkan sebagai Ketua Keluarga atau aktif dalam kepengurusan. Saranku ini bagaikan bumerang, teman-teman yang berambisi untuk menjadi pengurus dan merasa kurang baik prestasi belajarnya menjauh dari aku. Aku baru sadar ketika beramai-ramai mereka mendukung Gunadi.

            Kampanye pemilihan Ketua Keluarga diadakan, aku tidak ikut, teman-teman sekelasku marah dan akan mengacau pemilihan itu. Kuajak mereka ke Parangtritis, bermalam disana selama tiga malam. Kepergian kami diketahui oleh Priyotomo, kakak Gunadi, hingga menimbulkan kecurigaan. Klas kami dikucilkan.

            Gunadi terpilih menjadi Ketua Keluarga dengan stafnya orang-orang yang sakit hati kepadaku. Endang ikut kegiatan kesenian. Teman-temanku kecewa dengan sikap Endang yang dianggap berkhianat terhadap pacarnya.

Endang  akan mengundurkan diri, karena ayahnya menikah lagi,tetapi kuperingatkan agar tetap aktif dalam kegiatan  kesenian agar tidak kehilangan  suara bila tahun depan diadakan pemilihan Ketua Keluarga baru. Aku yakin Endang dapat menjadi Ketua Keluarga karena telah berpengalaman di SMP V. Ternyata Endang tak bersedia karena Yudastowo yang sama-sama duduk dalam panita perkenalan murid baru, sangat ambisius dan berusaha mendiskriditkannya. Pengurus dan ketua keluarga  lama  mendukung pencalonan Yudastowo menjadi Ketua Keluarga. Endang tak bersedia dicalonkan menjadi Ketua Keluarga.

            Entah kebetulan atau disengaja pada kenaikan kelas  murid klas duda naik kekelas yang sama, yaitu klas IIIF sehingga sebutan itu tetap melekat, tukang buat kericuhan. Murid klas ini memang terkenal nakal hingga sering dimarahi oleh Kepala Sekolah.

 Aku dan Endang saling menjauh, dia menganggap aku ikut dalam kelompok anak-anak brutal, padahal sebernarnya aku berusaha mengendalikan kenakalan mereka. Jika tidak kukendalikan mereka pasti telah menghajar seseorang yang dianggap telah memfitnah klas kami dan menuduh klas kami akan mengacau Perayaan Lustrum Padmanaba  hingga kami disekors oleh Kepala Sekolah. Sekian tahun kemudian aku baru tahu dari istriku,Endang, bahwa yang akan dihajar itu Yudastowo, Ketua Keluarga pengganti Gunadi, karena sikapnya yang arogan.

Malam Kesenian Lustrum berjalan dengan lancar,” kelompok brutal” agak terhibur karena aku memborong juara mengarang:  Prosaku yang berjudul “Pelarian dan pendatang”, puisi bahasa Inggris “Lotus “ menjadi juara pertama. Puisi dalam bahasa Jerman yang merupakan satu-satunya naskah bahasa Jerman yang masuk kemeja panitia memperoleh juara ketiga,  Endang menjuarai puisi bahasa Indonesia. Pernilaian dilakukan oleh guru bahasa masing-masing.

Puisi dalam bahasa Jerman merupakan satu-satunya yang masuk kemeja panitia penyelenggaran dan memperoleh hadiah ke tiga, begini bunyinya:

Zeiten uber Mich.

Ich habe Geduld gleich habe ich Gold. Aber werde ich sagen: “Zeiten sind Kunden. Viele Jahre haben gerannt, brachte sie mehre Hilfen for die Basis heutigen Unstands was immen sich wird enwickeln. Nun ist es eins des Monumente woher beginnen wir zu zeiten wir singen das Lied der Geburten trotz begegner wir nicht immen Verze. In des Dunkelheit kann ich das Licht nicht finden, wahrend der Zeites erinnern wir nicht Morgen Nun oder Nacht an. Liben mact Madeln lieblich. Alter macht Jungen fuchtig. Mehre Zeinen machen Arbeit fertig, Geringste Zeiten machen Mann verwirrt.

Artinya:

Waktu bagiku:

Kesabaran adalah emas. Namun: “Waktu adalah ilmu pengetahuan”.

Waktu berlalu memberikan  banyak pertolongan dan dasar bagi perkembangan kemajuan. Saat ini merupakan tonggak sejarah, saat kita menyanyikan lagu ulang tahun. Dalam kegelapan kita tak dapat membedakan pagi,siang atau malam. Hidup menjadikan orang bijaksana, perubahan menjadikan orang muda semakin cerdas. Banyak waktu bermanfaat untuk menyelesaikan tugas, kurang waku membuat orang panik.

            Aku menerima pelajaran Bahasa Jerman hanya selama dua tahun, Bu Marta yang cantik itu seakan menyihirku hingga aku dapat membuat sajak dalam bahasa Jerman yang saat ini tak mungkin kubuat.

            Kuliah di ITB.

           

Kelik atau Lik adalah panggilan kesayangan ku. Kakak-kakakku ingin aku menyelesaikan pendidikan di Institut Tehnologi Bandung jurusan Electro. Aku diantar oleh Endang ke Bandung dan dititipkan pada mas Untung, kakak Endang  dari isteri pertama pak Wir. Saat itu kami telah “kembali” berbaikan karena dia telah bersedia “kucium.” Sejak berkenalan di SD kami tidak pernah berbuat macam-macam karena harga diri Endang sangat tinggi dan menolak setiap ajakanku untuk berpacaran.

Kami berdua pergi ke Lembang. Tiba-tiba hujan turun hingga kami berteduh disebuah gubug ditengah kebun buah-buahan. Gubug ini menjadi saksi ikrar kami untuk saling setia. Kutuangkan peristiwa itu dalam sebuah lirik sebuah lagu ciptaanku:

Hujan Lembang:

Hawa sejuk, Lembang mendung sepi. Dua makluk Tuhan meresapi alam.  Angin gunung mengantarkan bisik janji.  Janji takkan pisah sehidup s’mati. Jalinan kasih yang pertama suci,yang tlah lama tumbuh dalam hati,  tak ternoda oleh kata-kata hampa. Sekarang tumpahlah seluruh rasa, sebagai hujan turun menciumi bumi.

Aku sementara tinggal dirumah mas Untung di Jalan Banda. Mas Untung bekerja di DKA (Djawatan Kereta Api). Ketika mas Untung pindah ke Palembang aku ikut temanku, Sugeng Raharjo mondok di Nursijan, sebelah timur Alun-alun Bandung.  Ibu kostnya, ibu Atmo Suparmo, sangat sayang kepadaku, hingga kuanggap sebagai ibuku sendiri.

Tingkat satu kuselesikan tepat satu tahun kuliah. Karena jalan Ganesa, kampus ITB, terletak di Bandung Utara sedangkan Nursijan terletak di Bandung Selatan, jalannya menanjak, dan tempat kuliah sering berpindah tempat, aku meminta fasilitas kendaraan bermotor, tetapi aku malah dipindahkan ke Jalan Dago, dirumah janda seorang Menteri, ibu  Mr. Harmani.

Uang kostnya sepuluh kali kost di Nursijan. Rumahnya sangat mewah, tetapi ibu kostnya sangat hemat. Untung uang kiriman dari kakak “melimpah” hingga aku dapat mencari tambahan gizi diluar.

Endang lulus SMA dan masuk ke IKIP Sanata Dharma Jurusan Bahasa Inggris. Keadaan keluarga pak Wir sangat parah, tetapi aku tak dapat berbuat sesuatu. Mas Untung memberikan dorongan kepada Endang untuk tetap melanjutkan pelajarannya dan membantu membeayai.

 Suatu saat terjadi peristwa “rambutan”, puncak dari sikap hemat dari ibu kost hingga aku pindah dari rumah mewah itu dan mengontrak sebuah gubug bekas lumbung padi di kampung Cisitu, letaknya dibelakang rumah ibu Harmani, dua ratus meter sebelah utara kampus ITB.

 Mas Mir datang, terharu menyaksikan tempat tinggalku dan memintaku kembali ke Nursijan. Aku bersedia asal disediakan kendaraan bermotor. Mas Mir berjanji akan segera membelikan kendaraan bermotor. Aku baru akan pindah setelah kendaraan itu ada ditanganku.

 Membeli sebuah sepeda motor ibarat “memijit buah tomat”  untuk kakak-kakakku yang perkasa.  Mengapa?  Mas  Man Kepala Buruh Batik GKBI. Mas Mir Bendaharawan GKBI yang memonopoli impor gambrid/ mori dan bahan-bahan kebutuhan usaha batik. Mas Mun Kabag  Kelayakan Kredit di Bank Indonesia Pusat.Mas Gun Kabag perizinan import/ export di Biro Divisa Pusat. Kak Vai Kabag perizinan penggunaan tanah di Dirjen Agraria Pusat.

             Kutunggu-tunggu “jatuhnya hadiah” itu hingga satu tahun. Aku bertahan di “gubug derita” itu. Kuliahku berantakan, tetapi aku memperoleh pengalaman hidup yang luar biasa. Aku dapat bergaul dengan masyarakat yang sangat berbeda dengan habitatku. Aku  ikut makan dirumah oom Ismail, seorang anggauta kepolisian. Oom dan tante Ismail sangat sayang kepadaku hingga aku betah tinggal digubug reyot itu.

            Lilih, adik Endang, lulus STM Negri I Yogya jurusan Listrik dan akan dikirim oleh GKBI ke Jerman sebagai  tehnisi di Pabrik Gambrid Medari. Mas Mir membantu pengiriman itu, tetapi dituduh tidak adil oleh mas Man karena menyimpang dari prosedur. Terjadi ketegangan antara Mas Mir dan mas Man.

Tiba-tiba Lilih terkena wajib militer untuk membebaskan Irian Barat, dia harus pergi ke Surabaya menjalani latihan militer. Lilih berusaha agar tidak lulus test kesehatan dengan merokok dan tidak tidur. Ternyata usaha itu sia-sia. Lilih ditugaskan dalam sebuah kapal destroyer dan dikirim ke Ambon

Aku dan Endang sangat kecewa dengan “musibah” itu. Tetapi kami tidak berdaya dan minta maaf kepada mas Mir.

           Akhir tahun ajaran aku ke Jakarta untuk melaporkan hasil studiku yang jeblog kepada kakak-kakakku dan meminta izin untuk meninggalkan meja kuliah. Aku telah mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Pengerahan Tenaga Mahasiswa yang akan bertugas mengajar di SMA I Negri Makassar. Kutunjukan surat tugas  kepada kakak-kakakku. Semua panik dan membujukku untuk membatalkan niat itu.

            Mbak Is marah kepada suaminya dan mengancam akan menggadaikan Rumah Pusaka. (Saat itu rumah dan tanah peninggalan orang tua telah dijual dan tinggal yang di Siliran Lor 29 yang ditempati oleh kemenakan-kemenakanku  yang kuliah di UGM dan yang di Siliran Kidul 47  ditempati keluarga mbak Mi.

 Mas Mir akan membatalkan rencana naik haji.  Mas Gun akan “meminjam” kendaraan dari seorang exportir. Satu-satunya yang mendukung rencana itu adalah Mas Mun, dia bahkan mencarikan tiket Garuda, hingga aku dapat terbang dengan pesawat Electra ke Makassar.

            Dari Jakarta ke Makassar hanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam wktu penerbangan, sehingga seakan dua tempat itu sangat dekat, terasa lebih dekat dari Bandung ke Jakarta dengan naik kereka api. Dipesawat aku berkenalan  dengan Letkol Sugiri, Komandan Brimob  Sulawesi Selatan dan Tenggara. Adiknya adalah murid SMA I, namanya Gatot. Turun dari pesawat aku ikut rombongan pak Sugiri menuju jalan Bawakaraeng, Gedung Sekolah Menengah Atas Negeri  Makassar, tempatku bertugas.

Mengajar di Makassar:

            Aku tinggal diperumahan guru dalam komplek SMA I Negri Makassar di Jalan Bawakaraeng. Sekolah ini sangat luas dan muridnya terdiri dari berbagai suku bangsa, demikian juga tenaga pengajarnya. Kepala Sekolahnya seorang Ambon, namanya pak Opier.

            Aku diserahi tugas mengajar Ilmu Alam (Fisika) dan Ilmu Pasti (Matematika). Ketika ulangan banyak yang berusaha membuka kerpekan, Mula-mula aku bertindak tegas, kemudian aku ingat dosen-dosen di ITB  terkadang mengadakan ulangan/ujian midterm secara open book, jika yang diberikan  soal  hitungan bukan sekedar teori dan hafalan.

Kucoba ulangan dengan cara open book, ternyata hasilnya tak jauh berbeda, jeblog. Suatu ketika hasilnya sangat memuaskan, tetapi anehnya pekerjaan itu bagaikan hasil fotokopian.  Ternyata mereka telah mendapat soal dari klas lain dan dikerjakan bersama-sama. Kuhargai usaha itu dengan memberikan nilai sama, yaitu sepuluh.

Pada ulangan berikutnya kuberikan soal yang sama pada klas paralel, tetapi bilangannya berbeda. Hasilnya sangat menggelikan, bilangannya berubah dari soal yang kuberikan pada klas itu menjadi angka yang kuberikan pada klas lain. Semua kuberikan nilai nol. Mereka tidak memprotes pemberian nilai nol, tetapi menyalahkan aku karena berlaku tidak adil dengan memberikan bilangan yang berbeda. Kukatakan justru aku bertindak adil, jika aku memberikan soal yang berbeda aku tidak adil, tetapi karena soalnya sama hanya bilangannya yang kuubah itu sangat adil. Jika bilangannya sama, klas yang mendapat giliran pertama kasihan.

            Tenaga pengajar di SMA I Negri Makassar rata-rata masih  muda, usia murid dan guru tidak berselisih terlalu banyak. Saat liburan guru-guru muda  diajak muridnya pick nick keberbagai tempat: kepulau-pulau yang bertebaran dipantai Makasar, ke Tanah Toraja, Ke Barombong, Bantimurung dan lain-lain sehingga terjadi keakraban diantara murid dan guru.

            Mereka memiliki Band Eka Jaya. Saat itu musisi yang sedang terkenal adalah Jayadi Jama’in yang mempopulairkan lagu-;agu daerah diantaranya Angin Mamiri. Mereka itu tidak kalah dengan musisi saat ini, hanya saja alatnya dan sound sistemnya belum secanggih saat ini. Ketua  Eka Jaya bernama Zainal, penyanyinya Evie cs. Kami sangat mengagumi ke-piawain musisi muda itu dan berharap dapat menjadi tuan dinegeri sendiri.

 Saat itu  pemberontakan Kahar Muzakar dan Andi Azis dapat diusir dari kota Makassar oleh pasukan Brawijaya, tetapi mereka masih menguasai daerah pedalaman. Kondisi sekolah didaerah pedalaman yang dikuasai oleh pemberontak justru lebih baik dari yang dikota, karena mereka mendapat bantuan logistik dari fihak asing.

 Saat itu sedang berlangsung Trikora untuk membebaskan Irian dari kekuasaan penjajah Belanda. Makassar merupakan basis terdepan dan merupakan lumbung makanan dan logistik. Hamparan sawah bagaikan lautan hijau, dipantai ikan kecil sampai yang besar berkeliaran dan dengan mudah nelayan dapat memanggil mereka dengan menggunakan lampu petromak dimalam hari dan menyediakan jala untuk menangkapnya. Saat itu yang sulit didapatkan ialah untuk mendapatkan bahan pakaian dan kebutuhan yang harus diimport dari luar negri. Mobil, radio masih langka, apalagi televisi dan alat-alat elektronik lainnya. Aku ingat dari limapuluh dua orang hanya tersedia limapuluh paket bahan pakaian, hingga harus diundi. Aku termasuk satu diantara yang tidak beruntung.

Yang sangat terkesan  dan tak mungkin terlupakan  ialah kerukunan antar suku dan antar umat beragama. Semua hidup damai dan saling menghormati. Pada perayaan Natal, panitianya sebagian murid beragama Islam, sebaliknya pada saat perayaan Idul Fitri murid Kristen ikut membantu.

Jawa, Sunda,Madura,Bugis, Makassar, Toraja, Menado,Ambon,Banjar, Dayak,Bali,Sasak dan lain-lain bersatu untuk membebaskan Irian. Pak Harto mula-mula memimpin operasi itu. Panglima Yos Sudarso gugur dalam pertempuran Aru. Pak Harto digantikan oleh orang lain.

            Aku mulai mengajar pada pertengahan tahun ajaran. Akhir tahun ajaran aku menengok Kampung Halaman. Saat itu satu-satunya kapal pengangkut penumpang yang cukup besar adalah Tampomas I. Kapal itu melalui rote yang sangat panjang sehingga singgah di Makasar satu bulan sekali. Aku pulang dengan kapal kecil yang bernama Nenemalomo. Pelayaran Makassar Surabaya memerlukan waktu tiga hari tiga malam.

 Penerbangan Jakarta Makassar cukup dua jam dalam pesawat Electra yang sangat mewah, penumpangnya orang berduit dan para pejabat. Pelayaran Makassar Surabaya butuh tiga hari tiga malam dalam kapal kecil Nenemalomo yang kumuh bersama penumpang yang duitnya pas-pasan.

Cuaca saat aku berada dalam Electra sangat bersahabat sehingga penerbangan itu berjalan mulus tanpa goncangan sedikitpun. Sebaliknya saat aku berada dalam Nenemalomo cuaca sangat tak bersahabat, ombak dan taufan mempermainkan kapal kecil itu sehingga banyak yang muntah. Geladak bagaikan comberan yang baunya sangat menyengat. Aku benar-benar tersiksa.

            Setiba di Surabaya aku langsung ke Yogya dan bermalam dirumah Endang di Jalan Jendral Sudirman 34. Saat itu Endang telah menyelesaikan kuliahnya tingkat Sarjana Muda di IKIP Sanata Dhama jurusan bahasa Inggris.

            Aku berniat mengajak Endang ke Makassar untuk meneruskan kuliahnya di Universitas Hasanudin. Orang tua Endang menyetujui rencana itu, tetapi kami harus menikah dulu.

            Aku ke Solo untuk menyampaikan rencanaku menikah dengan Endang. Mas Mir ingin bertemu dengan orang tua Endang.

 Kami berangkat ke Yogya dengan Mercy dinasnya. Sesampai di Delanggu ban mobil pecah dan diganti dengan ban cadangan. Sebelum memasuki Ceper ban yang lain kempis, dilepas oleh sopir dan dibawa kebengkel yang letaknya jauh, hingga kami menunggu sampai berjam-jam.

Sementara itu malam tiba. Sopir datang membawa ban yang telah ditambal karena terkena paku.  Perjalanan dilanjutkan dengan hati-hati, sesampainya disebelah timur Prambanan ban yang baru ditambal kempis lagi.

 Saat itu telah pukul sembilan malam, aku menghentikan sebuah truk berisi ternak dan meminta tumpangan ke Yogya. Kernet pindah kebelakang untuk memberikan tempat duduknya kepadaku. Truk itu akan ke Magelang hingga melewati rumah calon mertuaku.

            Aku tidur dirumah Endang, kukatakan mas Mir terpaksa kembali ke Solo karena mobilnya beberapa kali kempis. Esok pagi mas Mir akan datang untuk bertemu dengan pak Wir.

            Keesokan harinya seharian mas Mir tidak datang, Endang meminta aku membatalkan rencana pernikahan itu. Dia merasa perkawinan kami tidak disetujui oleh kakak-kakakku. Aku berteriak histeris dan bersumpah tidak akan kembali ke keluargaku jika mereka tidak merestui perkawinan kami. Kuanggap mereka tidak peduli lagi pada masalah yang kuhadapi dan hanya memikirkan kepentingan sendiri.

            Kuhubungi rumah Mas Mir di Solo lewat telepon ternyata mas Mir pergi ke Jakarta. Aku ke Jakarta untuk menemui mas Man dan kakak yang lain untuk meminta restu atas perkawinanku dengan Endang.

 Semua berkeberatan karena mas Gun baru beberapa bulan menikah, aku harus bersabar menunggu setahun lagi.

            Aku tidak meminta untuk dipistakan, aku sekedar  meminta restu untuk menikah agar kami dapat bersama pergi ke Makassar sebagai suami isteri. Mereka tetap berkeberatan. Kutemui kakakku satu persatu dan kujelaskan bahwa pernikahan itu sangat penting. Alasanku : apakah kakak-kakaku rela kami hidup bersama diluar pernikahan. Mas Gun tersinggung karena dipakai sebagai alasan untuk menunda perkawinan kami, dia mengatakan bahwa dirinya juga tidak minta dipistakan. 

Mas Mir merasa bersalah tidak jadi menemui orang tua Endang karena keburu dinas ke Jakarta. Mas Mir  meminta agar Endang tak usah diajak ke Makassar, dia bersedia membantu membeayainya  Endang untuk meneruskan kuliahnya di Yogya, hingga kami tak perlu tergesa menikah.

             Kukatakan kepada mas Mun. aku ngeri hidup sebagai bujangan di Makassar sebab jika kurang beruntung aku dapat terlibat percintaan dengan gadis setempat. Adat setempat masih memberlakukan “silariang”, pembunuhan yang diizinkan demi mempertahankan martabat. Sebagai contoh nasib yang dialami oleh musisi terkenal Jayadi Jama’in.

 Mas Mun yang mendukung kepergianku ke Makassar merasa ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan ku. Dia yang pertama menyetujui rencana pernikahan kami, padahal dia sendiri belum menikah.

           

            Sebelum kembali ke Yogya aku meminta diri kerumah Mas Man. Sampai aku meminta diri dan akan meninggalkan rumah dijalan Panei no2 itu mas  Man belum memberikan restunya.Ketika aku masuk kemobil mas Mun yang akan mengantarku ke statsiun Gambir mas Man memelukku sambil terisak dan mengatakan “Aku merestui perkawinanmu dengan Endang”

            Aku kembali ke Yogya dengan mengantongi restu dari mas Man , mas Mun dan Mas Gun. Mas Mir tetap menginginkan penundaan perkawinan kami.

Kami menikah di KUA Jetis  Harjo, sesuai dengan agama Endang, Islam. Karena aku bukan pemeluk Islam aku dibimbing oleh petugas dalam mengucapkan ikrar nikah. Aku menuruti semua petunjuk petugas KUA hingga bernikahan berjalan lancar. Mas kawin yang kusediakan adalah uang  recehan lima rupiah. Uang kertas itu kami tempelkan disurat nikah kami dan tetap melekat hingga kini.

            Untuk merayakan “pista” perkawinan, kami tidak mempunyai uang. Mas Min menyarankan agar aku menjual sepeda Releigh yang sangat kusayangi. Aku rela sepenuhnya, sebab aku ingin punya kenang-kenangan sekaligus mengikrarkan pada lingkungan bahwa kami telah menjadi suami istri. Kami memasang iklan di sk Nasional dan KR.

 Resepsi diadakan di Gedung Sanggar Dharma milik Perhimpunan Theosofi Indonesia di jalan Jendral Sudirman no 34. Yang hadir hanya beberapa orang, teman-teman mertuaku (anggauta Perhimpunan Theosofi), dua orang rama bekas dosen Endang, beberapa sesepuh umat Budha dan beberapa tetangga terdekat.

Mas Min, mbak Mi dan mbak Sam hadir dalam resepsi itu. Mas Gun dan mbak Giek sebelumnya  telah mengirimkan  pakaian pengantin yang dipakai dalam resepsi perkawinan mereka.

            Sebelum berangkat ke Makassar kami diajak Harjanti, teman Endang, untuk bersiarah ke Sendang Sono, biara umat Katolik di daerah Magelang. Ditempat ini Harjanti memanjatkan doa semoga Jesus mempersatukan kami sampai akhir hayat, katanya kami telah dipersatukan oleh Allah dan hanya Allah yang dapat memisahkan.

Uang  kami hampir habis,mbak Sam datang memberikan uang untuk membeli tiket kembali ke Makassar. Mbak Mi memberi bekal lauk pauk sebagai bekal dalam perjalanan. MbakGiek, istri mas Gun  memberikan bekal makanan dan uang untuk membeli tiket kereta api. Aku diminta mampir ke Solo sebelum berangkat ke Makasar.

            Di Solo, mas Mir memberikan uang yang cukup banyak dan memberikan surat kepada Cabang GKBI Surabaya untuk menyediakan tempat bagi kami  di mess GKBI di jalan Kaliasin.

            Kami tinggal di mess GKBI selama dua minggu menanti kapal yang akan membawa kami ke Makassar. Ketika mencari tiket di pelabuhan Tanjung Perak, Endang bertemu dengan teman sekelasnya di SMA III B yang bekerja di pelabuhan Tanjung Perak, dia mengusahakan tiket.

Kapal Tampomas I baru akan datang dua minggu lagi, sehingga kami  memutuskan untuk kembali ke Makassar dengan Nenemalomo yang pernah “menyiksaku”.  Kami hanya memperoleh tiket geladag hingga kami dinasehatkan untuk menyewa kamar salah seorang anak buah kapal.

            Pagi yang cerah, Nenemalomo yang penuh sesak berangkat ke Makassar. Kami mendaapat tiket  geladag atas bantuan Suryadi, teman Endang.  Sesuai dengan nasehat teman itu kami menyewa kamar juru masak.

Ruangan awak kapal itu sangat sempit tetapi tersedia sebuah tempat tidur dengan kasur tipis. Endang tinggal dikamar itu dan aku digeladag bersama penumpang lainnya.

            Udara sangat cerah, bintang dilangit berserakan sehingga pemandangan digeladag jauh lebih indah dari pada didalam kamar juru masak. Kalau akan makan aku kembali kekamar, disitu tersedia makanan yang lebih baik dari yang dibagikan untuk penumpang digeladag dan tidak perlu anterai.

            Karena cuaca baik aku dapat menikmati pelayaran selama dua hari tiga malam,lebih cepat dari ketika aku pulang dari Makassar. Ikan besar dan kecil mengikuti kapal kami seakan mengiringi perjalanan kami. Mereka menanti dengan sabar sisa-sisa makanan yang dibuang oleh penumpang.

            Nenemalomo merapat dipelabuhan Sukarno Hatta Makassar pada pagi hari. Uang untuk membayar sewa kamar tidak mencukupi sehingga aku meninggalkan Endang di kapal untuk memnjam uang kesekolah.

            Seorang murid, Sumiati yang orang tuanya memiliki kendaraan roda empat meminjamkan kendaraan lengkap dengan sopirnya untuk menjemput Endang. Kami tiba di jalan Bawakaraeng ketika pelajaran sedang berlangsung, sehingga Endang kuajak langsung ke”rumah” didalam komplek SMA I.  Waktu jeda teman-teman bertandang ketempat tinggal kami. Kami saling berkenalan.

Ada beberapa keluarga yang tinggal dikomplek itu: Bapak Opier, Kepala Sekolah. Bapak Judi Sutrisno dan Ibu Tuti Sutrisno  suami istri  yang mengajar Geografi. Bapak B.L. Frank mengajar Olah Raga. Bapak Kamari mengajar bahasa Indonesia.Yang masih bujangan: Bapak Wunarto mengajar Kimia, Bapak Sidik mengajar Fisika, Bapak Suwondo mengajar Kimia. Daeng Kole dan Daeng Ranu adalah penjaga malam SMA I.

Sore hari gedung sekolah ini digunakan oleh sekolah swasta dibawah naungan PNI. Nama sekolah swasta ini adalah Dwi Jaya, lambang nya Segi Tiga dan Kepala Banteng. Aku diserahi tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah. Direkturnya bapak Mashud, priya berasal dari Jawa Timur, seorang mantan pejoang TRIP.

Murid  Dwi Jaya adalah pegawai yang pada pagi hari bekerja diberbagai kantor dan perusahaan, para pedagang dan mereka yang tidak diterima disekolah Negeri. Murid Dwi Jaya terdiri dari berbagai lapisan dalam masyarakat, mereka menimba ilmu sampil mencari nafkah. Murid lulusan SMP pedalaman juga diterima di sekolah ini.

Endang mengajar bahasa Inggris di sekolah Dwijaya. Aku mengajar Fisika dan Matematika. Sekolah ini terdiri dari SMA dan SGA. Disamping pelajaran yang termasuk dalam korikulum disekolah ini tersedia pelajaran ekstra korikulair, diantaranya musik, kesenian dan jurnalistik. Aku mengajar Stenografi.

Akhir tahun ajaran terjadi insiden. Ketika pak Mashud mengumumkan hasil ujian dalam malam Perpisahan, seorang siswa yang tidak lulus mengamuk, pak Mashud yang sedang berbicara dipanggung dilempar dengan kursi, beberapa siswa menuju kepanggung dan memaksa pak Mashud keluar ruangan, terjadi keributan antara yang pro dan kontra Kepala Sekolah. Aku berusaha menenangkan hadirin sehingga tak tahu kemana pak Mashud dilarikan.

Setelah pulang aku baru tahu, siswa yang mengamuk itu mencari pak Mashud kerumahku. Endang  dirumah sendirian karena sedang hamil tua. Dia berhadapan dengan siswa  yang sedang mengamuk dan menyatakan bahwa pak Mashud tidak ada dirumah kami. Ketika siswa itu akan masuk kerumah segerombolan siswa lainnya mencegah sehingga terjadi keribukan. Siswa yang mengamuk itu dapat dikuasai oleh teman-temannya dan diajak pergi.

Tahun ajaran baru, pak Mashud belum muncul, sehingga aku harus menangani penerimaan murid baru. Aku tak menguasai masalah itu, tetapi Pak Yucom, tenaga adminstrasi satu-satunya di Dwi Jaya mengarahkan aku dalam melaksanakan penerimaan murid baru.

Pelajar yang mendaftar sebagai murid baru Dwi Jaya  membeludag, sehingga kami terpaksa meminta bantuan bapak B.L. Frank.

Dalam kesibukan ini anakku yang pertama lahir, kunamakan Ertis Yulia Moneycomes, karena ketika lahir uang datang berlimpah. Endang tidak setuju dan menggantikannya dengan nama yang lebih pantas, Ertis Yulia Manikam.

            Murid yang mengamuk itu diterima di SMA II Negri, pak Mashud muncul, ternyata disembunyikan oleh murid-murid yang setia pada kepemimpinannya.

            Pak Mashud seorang bekas pejuang, TRIP, yang ulet, seusia dengan mas Mun. Karena banyak kenalan dengan kalangan militer beliau mengadakan kerjasama dengan organisasi tentara : memborong pemutaran film untuk pelajar, diantaranya Ben Hur. Pak Mashoed mendatangkan kelompok lawak Edy Sud cs hingga Dwi Jaya semakin jaya.

            Suatu saat sebuah helikoper berputar-putar rendah diatas SMA I, kendaraan itu mendarat di lapangan Karebosi yang terletak diujung jalan Bawakaraeng. Tak lama kemudian  tiga orang pilotnya datang ke SMA I menjariku. Aku sedang mengajar sehingga dipersilakan menunggu dirumahku. Endang tak mengenal pilot-pilot itu, tetapi satu diantara mereka sangat mengenal Endang sebagai “bekas” pacar Ibnu di SMA III B Negri Yogya.

            Aku diberitahu ada tamu mencariku, aku diminta menemui tamu itu karena datang dari jauh. Aku pulang dan menemui ketiga orang pilot heli itu.

Kami saling berjabat tangan, tetapi aku tidak mengenal mereka.

            Aku agak lupa dengan mereka karena  berseragam militer yang keren dan berpangkat letnan.

            “Aku Sarjiyono.” kata satu dari pilot itu.

            Kami saling berpelukan

            Aku diperkenalkan dengan dua orang pilot heli lainnya.

Sarjiyono menceriterakan teman-teman yang di AKABRI. Gerombolan brutal dari klas dudo banyak yang masuk ke AKABRI, kini mereka justru sangat disiplin hingga kedudukannya cepat menanjak. Alip Pandoyo menjadi pilot jet tempur, Jumalip pilot Herkules, Sarjiyono dan Alip Suparman pilot Helikopter , Drajad di Zeni AD.

“Kalau mas Ibnu akan menengok Yogya, sering ada Hercules dari Ambon yang singgah di Mandai, mas Ibnu dapat numpang ke Jakarta..”

“O,ya? Bagaimana caranya?”

“Hubungi bagian Transportasi Militer di perwakilan AU Makassar, ini alamatnya, atau langsung ke Lapangan Militer di Hasanudin.”

Endang menyela : “Murid kami ada yang bekerja PHB.”

“Suruh saja mereka mengurus.”

Bulan Desember 1963, ketika Yulia berusia lima bulan kami pulang ke Yogya lewat Jakarta dengan pesawat Hercules. Seorang murid mengantarkan kami ke lapangan terbang Mandai dengan mobil ayahnya.

Hercules itu dari Ambon akan menuju ke Jakarta, singgah di Makassar untuk mengisi bahan bakar dan mengambil benda post dan paket milik ABRI. Penumpang pesawat itu hanya lima orang militer berpakaian dinas.

 Jika Electra bagaikan sebuah sedan, maka Hercules tiada ubahnya sebuah truk. Hercules sangat besar dan dapat mengangkut truk atau kendaraan militer.

Dalam penerbangan itu sering terjadi kekosongan udara hingga raksaksa udara itu turun dengan tiba-tiba. Endang dan aku akan mutah sebaliknya Yulia malah berjingkrak senang. Tentara yang didekat kami menolong mengajak Yulia. Agaknya mereka rindu kepada anak yang ditinggalkan dirumah karena mengemban tugas negara.

Penerbangan Makassar Jakarta memerlukan waktu sekitar dua setengah jam. Pesawat mendarat dilapangan Halim. Kami turun mencari kendaraan tumpangan. Tanpa diduga pilot yang membawa pesawat Hercules, Kapten Pirngadi, menghampiri kami dan mengajak ikut dalam kendaraannya.

Kami diantar ke Cideng Barat, rumah dinas Mas Mir. Saat itu mas Mir sedang di Solo,tetapi mas Gun tinggal di Cideng Barat hingga kami diterima mas Gun dan diberi tempat sebuah kamar mewah yang biasanya digunakan mas Mir.

Sore hari kami ke Jalan Panei no 2, tempat tinggal mas Man. Walau agak kaku kami diterima dengan tangan terbuka. Mbak Is meminta Yulia untuk diajak. Yulia sangat gesit dan berjingkrak-jingkrak senang.

“O alah, bocah kok nggemeske banget. Umure pira ta cah iki?”

“Gangsal wulan.” Endang menjelaskan.

“Kok kaya bocah umur sepuluh sasi.”

“Naminipun Yulia, lahiripun wulan Juli.”

“Aku gumun tenan, kok pinter banget.”

“Mugi mugi benjang dados lare pinter,” aku mengamini.

“La hiya, wong bapak ibune pinter, yen ora pinter njur tiru sapa.”

Kata-kata mbak Is bermakna  tidak percaya kalau Yulia itu anakku. Endang kuajak cepat-cepat kembali ke Cideng, aku kawatir dia tersinggung oleh kata-kata mbak Is. Kami meminta diri dan kembali ke Cideng Barat.

Keesokan harinya kami diantar Mas Mun ke statsiun gambir untuk naik kereta jurusan Semarang. Mas Mir akan menjemput kami di Semarang dan membawa  ke Solo.

Mas Mun memesan empat tempat duduk agar kami dapat duduk dengan leluasa. Bawaanku tidak banyak sehingga mas Mun menitipkan dua buah besek yang isinya kami tidak tahu. Barang itu ditaruh dibawah tempat dudukku, dekat dinding kereta. Kami masing-masing dapat duduk dengan santai. Kereta berangkat, mas Mun tidak berpesan kiriman itu ditujukan untuk siapa dan  apa isinya.

Sesampai di Ciribon Yulia buang air besar kami bertukar tempat duduk. Tak berapa lama, setelah pindah kursi Yulia kencing, kami baru sadar bahwa dibawah kursi terdapat besek titipan mas Mun. Kami pindah kursi lagi, besek itu telah terkena sedikit pipis Yulia. Kami khawatir isi besek itu makanan, maka cepat-cepat menggeser ketempat yang jauh dari genangan pipis Yulia. Terasa besek itu berat jadi isinya pasti bukan makanan.

Sesampai di Semarang kami dijemput oleh mas Mir dan yu Dah, istri mas Mir. Aku meminta maaf karena besek itu terkena  pipis Yulia. Mas Mir menjelaska bahwa isinya bukan makanan. Aku tak diizinkan mengangkat besek itu, mas Mir menyuruh sopirnya mengambil dan membawa besek itu kemobil yang diparkir dihalaman statsiun. Aku mengurusi barang-barang kami, Endang memapah Yulia.

Mas Mir telah menyediakan makanan untuk kami sehingga Mercy itu langsung menuju ke Solo. Sesampai di Solo aku baru diberi tahu bahwa besek itu berisi uang masing-masing sebesar lima juta rupiah. Uang itu kiriman dari GKBI pusat untuk Batari Solo.

Di Solo kami singgah ketempat tinggal Mbak Mi. Keluarga mbak Mi tinggal di Kadipolo ikut pak Marmo, putra Haji Nuriah. Mas Barjo, suami mbak Mi, bekerja di Batari. Haji Nuriah adalah seorang yang kaya raya, pemilik gedung yang digunakan oleh Sekolah Netral, dijalan raya Malioboro.

Kami diantar dengan Mercy ke Yogya  langsung kerumah mertuaku di Jendral Sudirman. Mas Mir nampak terharu melihat keadaan mertuaku. Bapak ,ibu dan adik-adik iparku  nampak kurus,  pucat dan kumuh. Mereka tinggal di garage loge Dharma yang berlantaikan batu candi. Didepannya terdapat teras bambu reyot yang beralaskan tanah. Sebelum kembali ke Solo mas Mir meninggalkan sejumlah uang untuk beaya ku kembali ke Makassar.

Saat itu Lilih sudah kembali dari Ambon karena ingin memanfaatkan kesempatan pergi ke Jeman. Tetapi lowongan itu telah terisi oleh orang lain. Lilih masuk ke Akademi Pembangunan Nasional milik Legiun Veteran.

Aku di Yogya hanya seminggu untuk segera kembali ke Jakarta menanti Hercules yang akan membawaku ke Makassar. Di Jakarta kuhubung bekas teman sekelasku,Alip Suparman, pilot Helicoper, aku mendapat kesempatan pertama untuk terbang dengan Hercules bersama sukerelawan yang akan menuju ke Ambon dan akan disusupkan ke Irian Barat.

Aku diantarkan oleh sopir mas Mun  ke Lanut Militer Halim Perdana Kusuma dengan Volkwagen kodok.

Sebagian besar dari sukarelawan itu adalah warga sipil, yang rela berkorban untuk menancapkan bendera merah putih  dibagian wilayah Indonesia yang masih dicengkeram oleh kolonialis Belanda. Kepergian mereka untuk membuktikan bahwa rakyat Indonesia tetapbertekat bulat dan tidak main-main dalam pembebasan Irian, walaupun Yos Sudarso telah gugur

 Kekuatan Belanda terlalu kuat untuk dilawan dengan senjata, tetapi perjuangan Irian bukan hanya dengan senjata, melainkan dengan berbagai cara, diantaranya lewat diplomasi.  Ini telah terbukti Irian kembali lewat jalan diplomasi namun tidak terlepas dari semangat dan perjuangan seluruh rakyat Indonesia.

Sebelum diberangkatkan mereka telah dilatih bagaimana bertahan hidup dihutan belantara. Tetapi yang lebih ditekankan adalah sifat dan jiwa kepahlawanan, yang bersemboyang lebih baik mati dari pada dijajah, merdeka atau mati.

Aku sangat kagum pada mereka karena rela mempertaruhkan jiwa raga demi kehormatan bangsa, sebaliknya mereka kagum kepadaku yang  bersedia meninggalkan meja kuliah untuk memberikan ilmu kepada generasi yang akan mengisi kemerdekaan.

Karena asyik berbincang tak terasa Hercules telah mendarat di lapangan Mandai, aku turun dan rombongan itu meneruskan penerbangannya ke Ambon. Dari Mandai aku naik kendaraan umum bersama pedagang dari luar kota.

Karena aku hanya sendiri, aku meminta pak Frank tinggal ditempatku karena rumahnya akan ditempati Pak Masie, Kepala Tata Usaha.

 Pak Frank sangat kagum pada Endang hingga putrinya dinamakan Endang Nurtavipi. Pak Frank seorang Marhen yang ekstreem. Aku juga kagum pada bu Frank karena wanita yang pendidikannya tak begitu tinggi ini ulet dan sangat setia kepada suaminya. Aku dan pak Frank sangat erat, bagaikan saudara kandung.

            Akhir tahun ajaran tugasku akan berakhir . Aku mempersiapkan diri untuk mengurus surat-surat tugas belajar. Aku berniat melanjutkan kuliahku di Fakultas Tehnik UGM Jurusan Listrik, karena dengan gaji yang sangat kecil kami tak sanggup hidup di Bandung.

            Direktur baru, Bapak Matulada mengizinkan sewaktu-waktu surat tugas belajar turun aku diijinkan kembali ke Yogya. Agar aku dapat mengurusi surat tugas aku dibebaskan dari tugas mengajar dan digantikan oleh seorang mahasiswa dari Unhas. Pak Frank menggantikan aku sebagai Wakil Direktur Dwi Jaya.

          JURU SELAMAT.

Sebelum akhir tahun ajaran surat tugas belajar telah keluar, kebetulan Sarjiono tugas di Makkasar, aku diminta tinggal di Mesnya di Mandai agar sewaktu-waktu ada pesawat dari Ambon ke Jakarta dan singgah di Makasar dapat “dinunutkan” ke Jakarta.

Kamar yang kutempati berukuran empat kali empat, dilengkapi dengan peralatan yang bagus, tersedia sebuah springbed, toilet, almari pakaian, kursi busa dan sebuah pesawat radio. Kamar itu lebih bagus dari kamar mas Mir di Cideng.

Sebuah Hercules mendarat dari Ambon, aku bergegas menuju kepesawat, didalamnya penuh sesak hingga aku tak diizinkan naik. Kutunjukkan sepucuk surat yang kuterima dari Sarjiyono hingga aku dapat memasuki pesawat yang penuh barang dan manusia. Penumpang disekitarku nampak tidak senang,tetapi aku tak peduli.

Pintu ditutup, baling-baling Hercules berputar, pesawat akan menuju landasan pacu. Tiba-tiba pintu dibuka lagi, aku diminta turun. Aku bingung, tetapi kuturuti perintah itu. Kulihat dikejauhan seseorang melambaikan map berwarna merah. Aku kenal map itu, dan teringat bahwa mapku yang berisi surat-surat penting tertinggal dikamar tidur. Tanpa berfikir panjang aku lari meninggalkan pesawat yang baling-balingnya telah berputar.

Orang yang melambaikan map itu agak dibelakang pesawat sehingga aku tidak melintasi baling-baling yang dapat merobek tubuhku.  Terasa hawa panas dan hembusan gas yang keluar dari jet yang menggerakkan baling-baling. Aku tak peduli, aku lari cepat kearah lambaian benda yang sangat berharga itu. Kuterima map itu tanpa tahu siapa yang menyerahkan map itu kepadaku, aku juga lupa mengucapkan terima kasih.

Aku kembali kepesawat yang masih sabar menantiku. Pintu ditutup. Orang-orang disekitarku mencaci makiku habis-habisan. Aku diam saja karena merasa bersalah. Aku mengucapkan sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengembalikan map yang sangat berharga itu.

Pesawat bergerak menuju ujung landasan untuk persiapan tinggal landas. Aku berdoa semoga penerbangan ini selamat sampai ketujuan.

Pesawat tinggal  landas menentang arah angin. Biasanya gerakan pesawat semakin lama semakin cepat dan achirnya meninggalkan landasan. Kali ini pesawat tidak semakin cepat, malahan berhenti ditengah landasan  dan berputar kembali keujung landasan. Hercules yang perkasa itu diam diujung landasan hingga penumpang didalamnya dipenuhi tanda tanya. Diperkirakan terjadi kerusakan, tetapi tak ada perintah kepada penumpang turun dari pesawat untuk suatu perbaikan.

Penerbangan itu tertunda  sekitar lima menit. Aku menjadi heran terhadap sikap anak buah pesawat yang tadi mencerca aku habis-habisan tiba-tiba menjadi sangat ramah bahkan memindahkan barang  dan memberikan tempat duduk untukku. Kami saling berkenalan, satu diantaranya bernama  Kopral Jono, dia semakin hormat ketika tahu bahwa aku seorang guru SMA Negri I Makassar.

Menurut Kopral Jono penundaan keberangkatan Hercules tidak pernah terjadi. Aku  beruntung karena Hercules yang selalu tepat waktu itu bersabar menunggu seorang penumpang titipan. Tetapi sebenarnya pesawat itu menanti perintah dari menara pengawas cuaca. Pesawat baru akan berangkat jika condisi angin telah cukup kuat untuk mengangkat tubuh raksaksa itu.  Jika pesawat telah tinggi diangkasa, kekosongan udara akan menyebabkan pesawat turun secara tiba-tiba, tetapi akibatnya tidak sefatal bila  pesawat masih terbang rendah. Aku dianggap berjasa karena menunda keberangkatan Hercules.

Pesawat mendarat di lapangan terbang militer Halim Perdana Kusuma dengan mulus. Aku diajak Kopral Jono dan teman-temannya ikut dalam kendaraan yang menjemputnya dan diantar sampai ke Cideng Barat.

Mas Mir sedang di Solo, mas Gun belum pulang dari kantor, aku diterima oleh mbak Giek, istri mas Gun. Mbak Giek kagum atas keberanianku menghadapi kesulitan hidup.  Saat itu dia baru saja melahirkan anak pertamanya lelaki dinamakan Ndra. Mereka telah menikah dua bulan lebih dulu dari kami, tetapi kami dianugerahi anak terlebih dulu.

            Aku tidak bermalam di Cideng, melainkan tidur di jalan Panei, tempat mas Man. Mas Man berharap  aku dapat menyelesaikan kuliahku sebagai yang kujanjikan. Mas Man memberikan mesin tulia tuanya kepadaku agar dapat kugunakan menambah penghasilan dengan menulis dan kembali dalam bidang jurnalistik. Mas Mun membelikan aku sebuah mobilet bekas untuk transportasiku di Yogya. Aku kembali ke Yogya dengan membawa barang-barang pemberian kakak-kakakku.

            Keadaan di Yogya sangat menyedihkan. Endang yang sedang menyusui Yulia sangat kurus, demikian adik-adik dan mertuaku. Mertuaku berjualan buku dan  karangannya, karena pensiunnya tidak mencukupi untuk memenuhi  kebutuhan hidup. Jika di Makassar kami berlebihan makanan di Yogya kami  harus mengencangkan ikat pinggang. Di Makassar sehari kami berdua menghabiskan tiga sampai empat ekor ikan bandeng, di Jogya seekorbandeng dibagi untuk tujuh orang itupun belum tentu seminggu sekali.

            MASA-MASA SULIT.

            Gajiku  belum dapat kuterima di Yogya, sehingga  untuk sementara kami menjadi beban mertuaku. Untung pada saat itu kami mendapat bantuan dari mbak Mi yang kedaannya juga pas-pasan. Mas Jo menjadi pegawai rendahan di Batari hingga mbak Mi membantu dengan  menerima cuci pakaian/whasery. Mbah Mi memberikan dipan tua yang ditinggal di Yogya sehingga kami tidak lagi tidur dilantai beralaskan tikar.

            Bulik Sastropuro datang ke rumah mertuaku, beliau terharu dan meneteskan air mata demi melihat keadaan kami yang tinggal disebuah garage tua yang sempit. Beliau meminta kami kembali ke Siliran Lor. Rumah peninggalan almarhum orang tuaku yang luas itu hanya dihuni oleh tiga orang kemenakanku yang kuliah di UGM.  Tatik kuliah di Fakultas Ekonomi, Isti di fakultas tehnik jurusan Kimia dan Nunang masuk ke fakultas Tehnik Jurusan Listrik.  Mas Min kadang di Yogya kadan di Jakarta ikut mbak Sam.  Bu Lik tak tahu kalau selama ini aku numpang makan pada mertuaku.

            Dalam keadan yang kritis aku mendapat kiriman uang dari Pak Frank sebesar Rp 40.000,- sebagai ganti uang perjalanan dan surat yang menyatakan gajiku dapat kuterima di Jogya.

            Gajiku hanya dapat untuk hidup keluargaku sendiri selama dua minggu, sebab aku harus membelikan susu tambahan untuk Yulia.

            Ketika Anang kerumah kami Yulia sedang mutaber. Anang sangat sedih menyaksikan keadaan kami dan meminta kami pulang ke Siliran.

Kami berkeberatan. Sehabis kuliah Anang sering mampir kerumah kami, kadang-kadang membawakan susu untuk Yulia.

            Suatu saat aku dijemput Bero, anak mbok Iro, pembantu rumah tangga  mas Man yang tinggal di Siliran Lor, karena Anang “mengamuk” dan tak ada   yang sanggup mengatasi. Pendekar muda itu membenturkan kepalanya ke dinding bagian belakang rumah Siliran hingga tembok itu berlubang.

Aku datang, Anang pingsan hingga dapat dikuasai dan dibaringkan diranjang.  Ketika Anang sadar pacar Is, Gin namanya,  meminta Anang minum air untuk menengkan amarahnya, tetapi tak mau.  Aku mengira dia curiga kepada kami. Aku meneguk air itu hingga tinggal separoh gelas, dia mau menghabiskan sisa air itu. Gin mempelajari Yoga hingga sanggup menenangkan Anang.

            Mas Man dan mbak Is pulang ke Yogya, mendapatkan Anang dalam keadaan parah hingga tak mengenali orang tuanya. Dokter Saleh, paman mbak Is, membawa Anang kerumah sakit UGM Pugeran. Sehari kemudian Anang meninggal dunia. Kami  heran  melihat punggung Anang hitam sebagai habis terbakar. Menurut Gin gejala itu serupa dengan akibat kekeliruan mempelajari ilmu Yoga Kundalini.

Beberapa saat kemudian mbak Is sakit keras. Atik pulang balik Yogya Palembang. Titik kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Mas Man tidak kembali ke Jakarta karena pada saat itu sebenarnya dia telah di PHK dari GKBI karena mengungkap ketidak beresan keuangandikoperasi yang mendapat hak monopolo bahan-bahan kebutuhan pembatikan,  dan mori/gambrid. Mas Man sedang berjuang mencari keadilan ketika tiba-tiba anaknya mengalami musibah itu.

            Suatu pagi, kira-kira pukul tiga dini hari, Bero menjemput aku dan meminta aku cepat-cepat ke Siliran karena mas Man mendapat musibah. Aku datang ke Siliran dan mendapatkan mas Man tubuhnya luka bakar. Didalam rumah tercium bau barang hangus dan kudapati kelambu tempat tidur mbak Is terpuruk diluar dalam keadaan hangus.

Ambulan datang, mas Man diangkat masuk ke ambulan dengan velbed.  Aku dan Atik duduk berhadapan  disisi mas Man dalam ambulan yang membawanya kerumah sakit Panti Rapih.  Kendaraan itu bergerak cepat, tetapi sesampai di Panembahan , didepan Perusahaan Perak Cokrosuharto , Mas Man menghembuskan nafas terakhirnya. Aku meraung ketika menyadari mas Man telah tiada, sedangkan Atik tetap tenang, menarik selimut untuk menutupi muka ayahnya.

            Di Panti Rapih aku menerima telpon dari Mas Mir, kuberitakan bahwa mas Man telah tiada. Jenazah mas Man kami minta disucikan di rumah sakit. Aku diminta mas Mir untuk mencarikan peti mati.

            Aku ke Siliran untuk mengambil kendaraanku. Mas Mir memberikan uang untuk membeli dua buah peti mati dan berpesan kedua peti  mati itu harus sama. Dokter Saleh, mengatakan bahwa mbak Is sebentar lagi akan menyusul suaminya.

            Aku berkeliling Yogya mencari dua buah peti mati yang sama, tetapi  tidak ada, kecuali  harus pesan dulu. Kuputuskan  untuk membeli satu, sebab yang sudah jelas dibutuhkan hanya sebuah peti mati. Aku menganggap dokter Saleh terlalu gegabah dengan menyatakan sebentar lagi mbak Is akan menyusul mas Man.

            Peti mati  yang telah terisi jenasah mas Man dibawa ke Siliran Lor 29 dengan ambulan dan diletakkan di Pendopo. Para pelayat merias peti mati itu dengan kain sutera putih dihiasi dengan kain renda dan rangkaian bunga melati.

            Peti mati diletakkan di Pendopo menanti kedatangan mas Mun dan Titik yang sedang dalam penerbangan menuju ke Yogya. Aku ke Astana Gambiran untuk menyiapkan liang kubur untuk mas Man.

 

Pukul tiga siang jenasah akan  diberangkatkan ke Astana Gambiran. Ketika Ambulans akan bergerak maju mas Mun dan Titik datang.  Titik langsung naik ke ambulan memeluk peti mati sambil meraung dan menyebut  ibunya. Dia mengira yang didalam peti mati itu ibunya. Demi  diberitahu bahwa yang meninggal  ayahnya, Titik langsung jatuh pingsan.

            Malam hari kami berkumpul di Pendopo membicarakan langkah yang akan diambil jika masing-masing telah kembali ketempat kerjanya.  Aku mengusulkan agar untuk sementara Siliran 29 dikosongkan. Mas Gun menyanggupkan diri akan menitipkan Tatik dan Is dirumah Prof Imam Sutiknyo, kakak ipar mbak Giek, yang mengajar di UGM dan tinggal di Kompleks Perumahan Dosen UGM di Bulak Sumur.

            Esok hari kami ke Panti Rapih menengok mbak Is. Menurut team dokter yang menanganinya, luka bakar yang  dialami mbak Is melebihi ambang batas, sehingga tak mungkin dapat bertahan hidup. Jadi dokter Saleh tidak gegabah.

            Tatik dan Isti dititipkan dirumah Profesor Imam Sutiknya di komplek perumahan dosen UGM di Bulak Sumur.. Tempat itu dekat dengan kampus  Universitas Gajah Mada dan Rumah Sakit Panti Rapih.

             Suatu saat aku dipanggil oleh mas Imam dan diminta izin agar Tatik dan Is ditolong oleh seorang para normal, pak Subekti. Menurut para normal itu seluruh penghuni Siliran Lor 29 akan ditumpas habis oleh makluk halus yang terusir dari phon beringin Alum-alum Kidul. Makluk itu kini tinggal di kamar kulon Siliran 29.

            Bulu tekukuku berdiri karena aku tahu kamar kulon itu tempat penyimpanan pusaka orang tuaku. Ketika kejadian yang mengerikan itu mas Man menghunus keris Kiai Slamet untuk mempertahankan diri. Keris itu diserahkan kepadaku dan kutitipkan pada pak lik Sastrodimento.

            Aku menceriterakan hal itu kepada mas Mir. Beliau malah mentertawakan aku, dikatakan aku membuat lelucon, katanya tak mungkin seorang Profesor melakukan  mistik seperti itu.

            Kuminta mas Mir mengusir makluk halus itu, aku malah dikatakan musrik, dia tak percaya adanya makluk halus.

            Aku di panggil mbak Mi dan mbak Sam ke Siliran 29 untuk melakukan ritual menguisir makluk jahat itu yang akan dilakukan oleh seorang para normal. Aku tidak mau datang karena aku tidak percaya kepada para normal yang mengajukan syarat macam-macam yang memberatkan orang yang sedang ditimpa musibah. Sebaliknya aku tidak mau menghalangi upaya pengusiran makluk halus itu.

Aku memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara “maneges”. Dalam keadaan begini seakan terjadi dialog antara diriku yang rationil dan irrationil. Aku mengenal mas Man sebagai seorang pendekar yang memiliki  ilmu irrationil, namun sebagai mantan wartawan dia juga seorang yang rationil,

Mas Man memiliki keberanian untuk memerangi setiap kejahatan, tidak peduli siapapun yang melakukannya. Terakhir kali aku menengok mbak Is,  ketika aku meminta diri ,beliau berkata : “Aku tahu kau mengkhawatirkan aku, aku juga mengkhawatirkan kamu.Mari kita jaga diri kita masing-masing.”

Secara rasionil aku tak percaya adanya makluk halus, tetapi dalam hidup aku sering dihadapkan pada kenyataan yang irrasionil. Saat kejadian itu mas Man menghunus keris pusaka ayah yang bernama Kiai Slamet. Keris itu diserahkan kepadaku, mas Man pada pertemuan terakhir berkata”……….. Mari kita jaga diri kita masing-masing”  Diriku yang irrationil mengartikan aku harus memanfaatkan pusaka ayah itu untuk menjaga diriku.

 Aku meminta Kiai Slamet yang kutitipkan pada pak Lik Sastrodimento. Dia tak mau meyerahkan pusaka itu, dikatakan aku bukan tandingan makluk itu.

Dikatakan aku memiliki senjata yang lebih hebat dari Kiai Slamet.

            “Senjata apa itu?” tanyaku.

“Akal.” jawab pak Lik Sastrodimento. Dikatakan aku harus menggunakan akal dalam menghadapi kesulitan, tidak seperti mas Man yang mengandalkan keberanian tanpa memperhitungkan kekuatan lawan. Akal lebih hebat dari sekedar kesaktian dan keberanian.

Sudah satu bulan mbak Is belum sadar. Aku pergi ke Astana Gambiran untuk membersihkan makam orang tua dan mas Man. Dari Gambiran aku mampir ke Siliran Kidul, tempat mbak Mi. Aku diberi tahu bahwa mbak Is secara tiba-tiba sadarkan diri.

            Masalah yang kami hadapi adalah bagaimana kami harus memberitahukan kepada mbak Is bahwa suaminya telah meninggal. Kami khawatir jika diberitahu dia akan sock dan penyakitnya akan kambuh. Sejak itu mbak Mi tak berani menengokt mbak Is.

Ketika aku dan Endang menengok, mbak Is sudah sadar tetapi keadaan fisiknya sangat lemah, bekas luka bakar belum sembuh. Kaki dan tangannya dingin bagaikan mayat, namun dia dalam kesadaran penuh hingga mengenali aku dan Endang.

Para normal yang mengusir makluk jahat itu datang lagi kerumah mbak Mi dan menyatakan mbak Is dapat sadar karena dibayar mahal oleh suaminya. Dikatakan mas Man dalam keadaan tersiksa karena gigih membela istrinya. Mendengar laporan mbak Mi itu mas Mir menyangkal dan menyatakan bahwa dia bermimpi mas Man telah diterima disisi Allah dan memperoleh tempat yang sangat nyaman.

Aku teringat pesan pak Lik Sastrodimento yang meminta aku menggunakan akal dalam menghadapi kesulitan hidup.  Aku tidak menyangkal yang dinyatakan oleh para normal itu maupun mimpi mas Mir, tetapi aku juga tidak mempercayai sepenuhnya.

Mbak Is telah mengalami hal yang “diluar kemampuan akal manusia.”  Dokter Saleh dan team dokter RS Panti Rapih menyatakan luka bakar yang diderita mbak Is melewati ambang batas, sehingga tak mungkin hidup lebih lama. Kenyataannya mbak Is masih dapat bertahan hidup. Mungkin benar kata para normal itu, mas Man tetap berusaha menyelamatkan mbak Is.

Yang tak masuk akal ialah seorang suami yang rela berkorban untuk isterinya dikatakan harus membayar mahal dan tersiksa dialam baka, aku lebih sependapat dengan mas Mir yang menyatakan mas Man telah mendapat tempat yang nyaman disisi Allah.

Terjadi dialog antara sesuatu yang rationil dan yang irrationil dalam diriku. Jika makluk jahat itu benar-benar ada dan bermaksud menumpas habis penghuni Siliran lor 29, kenyataannya dia tak sanggup membinasakan Bero dan mbok Iro yang tetap menghuni rumah itu. Keluarga pak Dwijo yang menyewa di Gandok Kulon dan berbatasan dengan kamar yang dihuni makluk jahat itu tetap berani tinggal dirumah itu.

Aku berusaha menguak misteri itu hingga aku berani datang ke Siliran lor 29 untuk menemui pak Dwijo dan mbok Iro.

Pak Dwijo saring mendengar suara ribut di Dalem yang bersebelahan dengan Gandok Kulon. Mula-mula dia  ketakutan, tetapi dia memberanikan diri mengintip dari jendela. Ada dua ekor kucing hitam yang berpacaran diruangan kosong itu.

Mbok Iro juga sering dikejutkan oleh binatang itu dan berusaha mengusir dengan menyiram dengan air. Dia yakin  yang dihadapi itu benar-benar dua ekor kucing, sebab ketika dipukul dengan tangkai satu binatang itu mengerang kesakitan dan lari keluar rumah.

Jika malam hari keadaan rumah itu sangat seram karena daya listrik rumah seluas seribu meter persegi itu hanya  memiliki  automat seratus watt dan tegangannya sangat rendah. Kami telah berusaha meminta tambahan daya, tetapi tak dikabulkan. 

Aku mencantolkan kabel  pada kawat telanjang menuku ke pal rumah. Saat itu saluran menuju kerumah terdiri dari dua kawat telanjang yang terpisah. Bila malam hari Dalem  dan bagian rumah yang terasa seram  kuterangi dengan lampu yang cukup memadai. Tetangga yang tahu perbuatanku ini tetap diam, tidak melapor.

Walaupun keadaan rumah tidak seram lagi ternyata tak ada yang berani masuk kedalam rumah, apalagi malam hari. Mas Mir jika ke Yogya takpernah datang ke Siliran 29 dan bermalam di Siliran Kidul 47. Mas Mun tak pernah ke Yogya.  Mas Gun dan mbak Giek jika ke Yogya bermalam dirumah mas Imam. Hanya aku yang kadang-kadang bertandang kerumah pak Dwijo.

Mbak Mi tiap malem Jum’at  dan malem Selasa Kliwon menyuruh mbok Wongso yang tinggal dirumahnya untuk membakar dupa dan sesaji di Pendopo. Ini tidak sejalan dengan usahaku menerangi ruangan agar membuat situasi rumah menjadi kondusif, sebab ritual ini menambah seram situasi rumah. Kami saling menghormati ikhtiar masing-masing.

Mbak Sam seakan “dikuasai” oleh para normal yang dianggap telah berhasil mengusir makluk jahat dari Siliran 29. Mbak Sam menuruti perintah-perintahnya yang tak rasionil dan permintaannya yang sangat memberatkan jika dilaksanakan. Tetapi demi membebaskan mas Man dari siksaan kubur mbak Sam rela berkorban apapun.

Tatik dan Is tinggal dirumah mas Imam dan setiap hari membesug ibunya di Panti Rapih. Untuk sementara mereka disarankan untuk tidak kembali ke Siliran 29.

kdharmawan wrote on May 15, ’08
Pak Ibnu apakah paham Theosofi itu? Apakah kejawen seperti aliran SUBUD?
Dari hati yang terdalam, saya menaruh hormat pada kepercayaan asli, saya
sendiri pernah dikirim ortu seminggu ketika SMP utk hidup didesa di Jogya selatan,
Menginap dikeluarga yg suaminya keturunan namun menikah dg orang jawa
Sebuah pengalaman yg tidak terlupakan. Diajak berkelana, masuk keluar gua,
diceritai siang malam ttg kebajikan dlm tata adat jawa, diajak bertapa semalaman.
ibnusomowiyono wrote on Apr 5, ’08
Tumrap kula umur menika namung “dimensi waktu”,ingkang langkung penting inggih menika wawasan. Sanadian langkung sepuh wawasan kula bab sejarah kirang, sebab kula langkung remen nyerat katimbang maos (tulisan). Ingkang kula waos kanyatan sakiwa tengen, menika mawon sok kelepyan, kula namung maos seratan wonten nisan ibu, mboten maos prasasti SO 1 Maret ingkang meh saben dinten kula langkungi. Kula malah matur nuwun sanget dipun koreksi, saengga saget ngleresaken ingkang klentu dados leres.
sudarjanto wrote on Apr 4, ’08
Nuwun sewu lho Pakde,bilih kula wantun cluthak,nanging mboten maksud kula adigang adigung,kula ingkang enem taksih kedah kathah sinaunipun, perkawis punika sampun dipun dadosaken gerahing penggalih awit limrah menawi tiyang punika saged kesupen.
ibnusomowiyono wrote on Apr 4, ’08
Saya telah mencari dari kaleneder : Ibu meninggal hari Senin Pahing tanggal 28 Februari ternyata tahunnya bukan 1948 sebagai yang tertera dimakamnya, tetapi tahun 1949. Jadi ananda yang benar, saya minta maaf . Saya akan mengoreksi baik prasastinya dan seluruh tulisan saya yang berhubungan dengan hari yang bersejarah itu. Ibu dimakamkan tanggal 28 Februari sehari sebelum SO 1 Maret.
ibnusomowiyono wrote on Apr 4, ’08
Trima kasih atas bahan yang anda berikan, ternyata antara yang saya alami dan catatan sejarah ada perbedaan yang sangat hakiki, selisih satu hari saja sangat berarti dalam penulisan sejarah, apa lagi satu tahun. Saya tidak akan “membetulkan penulisan sejarah”,itu bukan wewenang saya. Sebaliknya yang saya tulis bukan rekayasa atau sekedar mimpi. Andaikata penulis sejarah itu datang ke Yogyakarta, kami persilakan kerumah saya, akan saya ajak kemakam orang tua saya di Astana Gambiran, dinisan tertulis tanggal dan tahun ibu saya meninggal, Atau ke Monumen Yogyakembali yang dibuat oleh pelaku sejarahnya (pak Harto) atau ke prasasti Monumen S.O. 1 Maret. Ada jalan yang lebih gampang jika kita tahu (saya lupa) hari apa SO. 1 Mart terjadi, lalu kita putar ulang kalender tahun yang bersangkutan, mana yang cocok. Misalnya harinya X, maka akan diketemukan tahunnya. Dimakam ibu terdapat hari dan pasarannya, tetapi itu versi makam ibu saya, bukan versi penulisan sejarah. Sekali lagi saya ucapkan atas perhatian ananda terhadap tulisan saya, dengan begitu tulisan saya menjadi berarti.
sudarjanto wrote on Apr 2, ’08
FAKTA – FAKTA BARU MENGENAI
SERANGAN OEMOEM 1 MARET 1949
ATAS YOGYAKARTADisusun oleh : Batara HutagalungDisampaikan kepada Anda sekalian oleh:

Indonesian Supporting-Groups TOLERANSI (Berusaha membantu menegakkan
Keadilan, Kebenaran dan Demokrasi, juga di Indonesia).

http://clik.to/toleransi

Serangan Oemoem 1 Maret 1949
Disusun oleh : Batara Hutagalung

Pendahuluan
Sebagaimana pada banyak peristiwa, penyerangan atas Yogyakarta pada 1
Maret 1949 juga tidak berdiri sendiri. Ada rangkaian peristiwa yang
mendahuluinya yang perlu diteliti agar dapat memperoleh gambaran yang
lengkap mengenai latar belakang, pertimbangan-pertimbangan,
perencanaan, pelaksanaan serta hal-hal yang terjadi setelah penyerangan
dilaksanakan.

Sebenarnya latar belakang penyerangan 1 Maret atas Yogyakarta, Ibukota RI
waktu itu yang diduduki oleh Belanda, tidak perlu menjadi kontroversi
selama lebih dari tigapuluh tahun, apabila para pelaku sejarah tidak ikut
dalam konspirasi pemutarbalikan fakta-fakta sejarah. T.B. Simatupang, saat
peristiwa serangan tersebut adalah Wakil II Kepala Staf Angkatan Perang
dengan pangkat Kolonel, telah menulis secara garis besar mengenai hal-hal
seputar serangan tersebut, dari mulai perencanaan sampai penyebarluasan
berita penyerangan itu. Buku itu pertama kali diterbitkan pada tahun 1960.
Diterbitkan ulang pada tahun 1980. Begitu juga dalam skripsi yang ditulis
oleh Indriastuti sebagai bahan untuk ujian S-1 yang diterbitkan pada tahun
1988, telah memuat salinan Instruksi Rahasia Panglima Divisi III/GM III
Kol.Bambang Soegeng, dimana seharusnya terlihat jelas, bahwa serangan
tersebut adalah perintah dari pimpinan tertinggi Divisi. Selain itu cuplikan
dari draft buku Dr. Wiliater Hutagalung yang sehubungan dengan serangan
atas Yogyakarta tersebut telah diterbitkan dalam mingguan “Bonani Pinasa”,
Medan, edisi November 1992.

Dalam tulisan ini, dirangkum apa yang telah diuraikan oleh beberapa pelaku
sejarah, baik melalui tulisan, maupun yang disampaikan secara lisan.
Mungkin ini belum yang paling sempurna, tetapi setidaknya dapat memberi
masukan guna penelitian lebih lanjut.

Kilas balik sejarah
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus
1945, Belanda yang tetap ingin menjadi penguasa di Indonesia tidak henti-
hentinya menjalankan upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai
jajahannya, baik melalui aksi militer, maupun melalui jalur diplomasi di
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Walaupun telah ada persetujuan Linggajati pada bulan Maret 1947, Belanda
melaksanakan serangan yang dikenal sebagai agresi I pada 21 Juli 1947.
Pada akhir Agustus 1947, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sutan
Sjahrir diterima oleh Dewan Keamanan PBB dimana Indonesia mengadukan
agresi Belanda tersebut yang dinilai telah melanggar persetujuan Linggajati,
yang diprakarsai oleh Sekutu. Secara de facto Dewan Keamanan mengakui
eksistensi Republik Indonesia. Dewan Keamanan PBB menyutujui
dibentuknya Komisi yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia
dan Belanda. Komisi ini awalnya hanyalah sebagai “Panitia Jasa Baik” PBB
dan dikenal sebagai Komisi Tiga Negara (KTN), karena beranggotakan tiga
negara, yaitu Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia yang dipilih oleh
Belanda dan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral. KTN ini segera
bertugas dan berangkat ke Yogyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya
komisi ini diresmikan menjadi United Nations Comission for Indonesia
(UNCI) dan mendapat wewenang yang lebih besar.

Dengan difasilitasi oleh KTN, diadakanlah perundingan antara Belanda dan
Indonesia di Kapal Perang AS Renville sebagai tempat netral, karena Amir
Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri waktu itu tidak mempercayai pihak
Belanda dan menolak berunding di Jakarta. Pada 19 Januari 1948,
ditandatanganilah yang kemudian dikenal sebagai “Persetujuan Renville”.
Isi persetujuan ini a.l. membuat batas-batas wilayah kekuasaan Belanda dan
Indonesia dan sehubungan dengan ini, pasukan-pasukan Indonesia yang
berada di wilayah Belanda harus dikosongkan. Yang terkena persetujuan ini
adalah Divisi Siliwangi, yang harus keluar dari “kantong-kantong” di wilayah
Belanda. Terjadilah yang kemudian dikenal sebagai Hijrah Siliwangi ke Jawa
Tengah, terutama ke Yogyakarta, yang waktu itu adalah Ibukota Republik
Indonesia pada Februari 1948. Setelah dicapai persetujuan Renville,
perundingan antara Indonesia dan Belanda dilanjutkan. Tempat perundingan
bergantian antara Jakarta dan Kaliurang (dekat Yogyakarta).

Pada 19 Desember 1948, saat perundingan antara Belanda dan Indonesia
berlangsung di Kaliurang yang difasilitasi oleh KTN, Belanda melancarkan
serangan atas Ibukota Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai agresi II.
Malam sebelumnya, pukul 23.30, Dr. L.J.M Beel Wakil Tinggi Kerajaan
Belanda, berpidato di Radio dan menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi
terikat dengan Persetujuan Renville.

Belanda melancarkan serangan besar-besaran dengan menggunakan
pesawat pembom guna menghancurkan lapangan terbang Maguwo serta
menerjunkan pasukan payung di Yogyakarta. Pemerintah Indonesia
menyerah tanpa perlawanan dan hampir seluruh pimpinan sipil Republik
Indonesia, termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta,
ditangkap dan diasingkan ke berbagai tempat di Indonesia. Panglima Besar
Sudirman tidak mau menyerah dan memimpin perang gerilya. Tentara
Nasional Indonesia (TNI) waktu itu telah mempersiapkan perang gerilya,
karena serangan Belanda telah diantisipasi sebelumnya maka beberapa
bulan sebelum serangan tersebut, telah dibentuk jaringan teritorial serta
persiapan perang gerilya.

Sebelum ditawan, Presiden dan Wakil Presiden sempat membuat surat
kuasa kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang isinya, apabila Pemerintah
tidak dapat menjalankan kewajibannya, agar dibentuk Pemerintah Republik
Indonesia Darurat di Sumatra. Selain itu juga dibuat surat untuk Dr.
Soedarsono, Palar dan Mr. A.A. Maramis di New Delhi yang isinya,
seandainya Mr. Syafruddin gagal membentuk Pemerintah Darurat di
Sumatra, agar dibentuk exile Government of Republic Indonesia di New
Delhi.

Pada 22 Desember 1948 Mr. Syafruddin Prawiranegara membentuk
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di
Bukittinggi. Jenderal Sudirman mendukung penuh berdirinya PDRI. Mr. A.A.
Maramis kemudian menjadi Menteri Luar Negeri PDRI dan berkedudukan di
New Delhi, India. Mr. Maramis sangat berperan dalam menyuarakan
Indonesia di dunia internasional sejak Belanda melakukan agresi ke II.
Dalam situasi ini, secara de facto, Mr. Syafruddin adalah Presiden RI ke II.

Di bidang militer terdapat Markas Besar Komando Jawa (ejaan dahulu
MBKD) dengan Kolonel A.H. Nasution, yang orang Tapanuli, sebagai
Panglima Tentara dan Teritorial Jawa (dahulu PTTD) dan Markas Besar
Komando Sumatra (MBKS) dengan Kolonel Hidayat, Wakil II KSAP yang
berasal dari Jawa, sebagai Panglima Tentara dan Teritorial Sumatra.
Jenderal Sudirman sendiri sebagai Panglima Besar Angkatan Perang
merangkap Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP).

Pada 25 Desember 1948, Kol. Nasution selaku Panglima Tentara dan
Teritorial Jawa mengeluarkan instruksi Nr. 1/MBKD/1948 yang isinya
mengenai pembentukan Pemerintahan Militer di seluruh Jawa. Divisi III di
bawah Kol. Bambang Soegeng bermarkas di Desa Kaliangkrik membentuk
daerah perlawanan dalam bentuk Wehrkreise (WK) dan Subwehrkreise
(SWK). Kol. Bambang Soegeng sejak September 1948 juga telah diangkat
menjadi Gubernur Militer daerah III.
a. Wehrkreis I dipimpin oleh Letkol. Bachrun. Wilayahnya meliputi
Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Wonosobo, bermarkas di Desa
Makam.
b. Wehrkreis II dipimpin oleh Letkol. Sarbini. Wilayahnya meliputi Kedu dan
Kabupaten Kendal, bermarkas di Bruno.
c. Wehrkreis III dipimpin oleh Letkol. Soeharto. Wilayahnya meliputi
Yogyakarta dengan Pos Komandonya di Pegunungan Menoreh.

Beberapa hari setelah naik ke Gunung Sumbing, para gerilyawan telah
dapat membuka jalur komunikasi dan surat menyurat dengan pimpinan sipil
yang berada di kota Yogyakarta. Jalur radio dan telegram juga dapat
difungsikan dalam waktu relatif singkat. Dengan cara estafet, pemberitaan
melalui radio dari Gunung Sumbing bisa mencapai New York, a.l. melalui
pemancar radio AURI di Playen, ke Bukittinggi, kemudian diteruskan ke
Kotaraja. Siaran dari Kotaraja ini dapat ditangkap di Singapura dan Burma
yang kemudian dapat ditangkap di New Delhi, India.

Begitu juga jaringan teritorial yang telah dipersiapkan beberapa bulan
sebelum serangan Belanda pada 19 Desember 1949 berfungsi dengan baik,
sehingga seluruh Panglima/Gubernur Militer selalu dapat berhubungan
dengan Panglima Besar Sudirman yang juga adalah Kepala Staf Angkatan
Perang. Hirarki kemiliteran tetap berfungsi selama perang gerilya. Pada 25
Februari 1949 Simatupang memulai perjalanannya di Jawa dan mencatat :
“Organisasi teritorial kita telah cukup teratur pada waktu itu, sehingga kami
tidak usah membawa apa-apa selain daripada sekedar pakaian, sebab
dimana-mana organisasi teritorial itu akan menyediakan penunjuk jalan,
tenaga-tenaga pengangkut barang, tempat tidur, makanan dan di daerah-
daerah yang kurang aman, pengawalan.”

Diplomasi di PBB
Di PBB dan di dunia internasional, terjadi perang diplomasi antara Indonesia
dan Belanda. Tokoh-tokoh Indonesia di luar negeri berusaha untuk
membuktikan dunia internasional bahwa Republik Indonesia dan TNI masih
eksis. Di pihak lain, Belanda terus berusaha untuk meyakinkan negara-
negara lain di PBB, bahwa Republik Indonesia dengan TNI-nya sudah tidak
ada. UNCI (KTN) masih tetap berada di Yogyakarta untuk mengadakan
pemantauan situasi.

Di PBB sendiri makin banyak negara termasuk Amerika Serikat, yang tidak
percaya dengan versi Belanda. Beberapa negara melancarkan inisiatif untuk
mendesak Belanda keluar dari Indonesia dan mengakui kedaulatan Republik
Indonesia. Terutama adalah Amerika Serikat yang ingin segera
dihentikannya pertempuran di Indonesia dan telah memberikan isyarat,
bahwa AS menyetujui pengakuan kedaulatan RI. Hal ini sebenarnya tidak
terlepas dari strategi global AS untuk menghadang Komunisme,
berdasarkan teori dominonya pada waktu itu.

Maka Amerika Serikat, bersama Kuba, Norwegia dan Cina mengajukan
resolusi kepada Dewan Keamanan PBB, yang isinya a.l. menyerukan
penghentian pertempuran dan mendesak Belanda untuk memulai
perundingan dengan Indonesia guna membicarakan pengakuan/penyerahan
kedaulatan kepada RI. Pada 28 Januari 1948, Dewan Keamanan PBB
menerima resolusi 4 Negara tersebut. Tetapi Belanda sendiri menolak
resolusi tersebut dengan alasan, bahwa Republik Indonesia dan TNI sudah
tidak ada lagi.

Perencanaan serangan atas Yogyakarta
Berita mengenai penolakan Belanda ini disiarkan melalui radio di Indonesia.
Sultan Hamengkubuwono IX segera menulis surat kepada Panglima
Sudirman mengenai hal ini. Letkol Dr. Hutagalung, yang sejak September
1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial, berada bersama Jenderal
Sudirman ketika Panglima Besar menerima surat dari Sultan
Hamengkubuwono IX. Dr. Hutagalung juga adalah seorang dokter spesialis
paru, yang sewaktu-waktu ikut merawat Jenderal Sudirman. Kepada Letkol
Dr. Hutagalung diserahkan surat tersebut dengan tugas untuk
menindaklanjutinya. Hutagalung termasuk salah satu perwira teritorial
Kementerian Pertahanan, yang ikut membentuk organisasi teritorial di Jawa
Tengah, sehingga dapat selalu melacak keberadaan Panglima Besar serta
menjadi penghubung antara Panglima Besar dengan Panglima-Panglima dan
pimpinan sipil di Jawa Tengah

Hutagalung menyampaikan hal ini kepada pimpinan Divisi III dan
menguraikan gagasannya. Untuk mengcounter versi Belanda, perlu
dilakukan suatu serangan yang sangat spektakuler yang dapat diketahui
oleh dunia internasional dan tidak mungkin ditutup-tutupi oleh Belanda.
Setelah dilakukan diskusi, diputuskan untuk melakukan Serangan
Spektakuler (formulasi Hutagalung) terhadap satu kota (lihat tulisan
Hutagalung di lampiran). Panglima Divisi III/GM III Kol Bambang Soegeng
bersikukuh, bahwa yang harus diserang adalah Yogyakarta. Tiga alasan
penting untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran adalah:
1. Yogyakarta adalah Ibukota RI, sehingga bila dapat “direbut” walau hanya
beberapa jam, akan sangat berpengaruh besar.
2. Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel “Merdeka” Yogyakarta, serta
masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) dari PBB.
3. Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu
persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan memahami dan
menguasai situasi/daerah operasi.

Pihak-pihak yang terlibat
Jadi tujuan utama adalah :”Bagaimana menunjukkan eksistensi TNI dan
dengan demikian juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia”. Untuk
“menunjukkan” eksistensi TNI, maka wartawan-wartawan asing serta
pengamat militer UNCI harus “melihat perwira-perwira yang berseragam
TNI”. Untuk skenario ini akan dicari beberapa pemuda berbadan tinggidan
tegap, yang lancar berbahasa Belanda, Inggris atau Perancis dan akan
dilengkapi dengan seragam TNI dari mulai sepatu sampai topi. Pada waktu
penyerangan, mereka harus masuk ke hotel “Merdeka” guna “menunjukkan
diri” kepada anggota-anggota UNCI serta wartawan-wartawan asing yang
berada di hotel tersebut. Kolonel Wijono, Pejabat Kepala Bagian Pendidikan
Politik Tentara (PEPOLIT) Kementerian Pertahanan yang juga berada di
gunung Sumbing akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda yang sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan, terutama yang fasih berbahasa
Belanda dan Inggris.

Selanjutnya pertanyaan “bagaimana menyebarluaskan ke dunia
internasional?” Untuk ini akan diminta bantuan Kol. T.B. Simatupang, yang
bermarkas di Pedukuhan Banaran, desa Banjarsasi, untuk menghubungi
pemancar radio AURI di Playen, agar setelah serangan dilancarkan, berita
mengenai penyerangan besar-besaran oleh TNI atas Yogyakarta segera
disiarkan. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil II Kepala Staf Angkatan
Perang, Simatupang lebih kompeten menyampaikan hal ini kepada pihak
AURI dibandingkan perwira AD lain.

Sebagaimana telah ditetapkan, bahwa perintah-perintah yang sangat penting
dan rahasia harus disampaikan langsung oleh atasan kepada komandan
yang bersangkutan, maka rencana penyerangan atas Yogyakarta yang
berada di wilayah Wehrkreis I di bawah pimpinan Letkol. Soeharto, akan
disampaikan langsung oleh Panglima Divisi III Kolonel Bambang Soegeng.
Kurir segera dikirim kepada Kol. Soeharto untuk memberitahu kedatangan
Panglima Divisi serta mempersiapkan pertemuan.

Ikut dalam rombongan Panglima Divisi, selain Letkol. Dr. Hutagalung, antara
lain juga Dr. Kusen (dokter pribadi Bambang Soegeng), Bambang Soerono
(adik Bambang Soegeng), Letnan Amron Tanjung (ajudan dari Hutagalung),
seorang mantri kesehatan dan seorang supir dari Dr. Kusen. Pertama-tama
singgah di tempat Kol. Wijono memberikan tugas untuk mencari pemuda-
pemuda berbadan tinggi dan tegap yang fasih berbahasa Belanda, Inggris
atau Perancis. Setelah itu Panglima beserta rombongan mengunjungi Kol.
Simatupang di Pedukuhan Banaran. Dalam catatan harian tertanggal 18-2-
’49, Simatupang menulis: “Kolonel Bambang Soegeng yang sedang
mengunjungi daerah Yogyakarta (dia adalah Gubernur Militer daerah
Yogyakarta-Kedu-Banyumas-Pekalongan-sebagian dari Semarang) datang
dan bermalam di Banaran.
Soegeng adalah orang yang emosional dan bagi dia tidaklah
memuaskan apabila Yogyakarta nanti dikembalikan begitu saja kepada kita.
Idenya ialah: Yogya harus direbut dengan senjata. Paling sidikit dia ingin
bahwa Yogyakarta kita serang secara besar-besaran agar menjadi jelas bagi
sejarah bahwa sekalipun Yogyakarta ditinggalkan oleh Belanda, namun kita
tidak menerima kota itu sebagai hadiah saja. Paling sedikit dia mau
membuktikan bahwa kita mempunyai kekuatan untuk menjadikan
kedudukan Belanda di kota tidak tertahan (onhoudbar).
Demikianlah kurang lebih jalan pikiran dan perasaan dari Bambang
Soegeng yang dapat saya tangkap dari pembicaraan-pembicaraan dengan
dia waktu berada di Banaran.
Saya jelaskan bahwa hari dan cara penyerahan Yogyakarta kepada
kita belum lagi ditentukan, sehingga masih ada cukup waktu untuk
melancarkan serbuan atas Yogyakarta.
Sama sekali tidak ada larangan untuk menyerang dan ditinjau dari
segi diplomasi, maka saya anggap bahwa setiap serangan yang spektakuler,
justru dapat memperkuat kedudukan kita.
Dengan Kolonel Soegeng masih saya bicarakan berapa kekuatan yang
dapat dikumpulkannya untuk serangan itu, bagaimana rencananya dan
seterusnya.”

Dari Banaran rombongan meneruskan perjalanan ke pegunungan Menoreh,
wilayah Wehrkreis III untuk menyampaikan perintah kepada Komandan
Wehrkreis III Letkol. Soeharto. Sebelumnya, Bambang Soegeng beserta
rombongan masih sempat mampir di Pengasih, tempat kediaman mertua
Bambang Soegeng.

Pertemuan dengan Letkol.Soeharto berlangsung di Brosot, dekat Wates.
Dalam pertemuan yang dilakukan di dalam sebuah gubug di tengah sawah,
hadir lima orang yaitu Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kol. Bambang
Soegeng, Perwira Teritorial Letkol. Dr. Wiliater Hutagalung beserta ajudan
Letnan Amron Tanjung, Komandan Wehrkreis III/Brigade X Letkol. Soeharto
beserta ajudan. (Lihat rincian ini di tulisan Letkol.Dr.Hutagalung).

Kepada Soeharto diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara
tanggal 25 Februari dan 1 Maret 1949. Kepastian tanggal baru dapat
ditentukan kemudian setelah koordinasi serta kesiapan semua pihak terkait
seperti bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan. Kepada Komandan
Wehrkreis I juga telah diberikan perintah untuk melibatkan Belanda dalam
pertempuran di luar wilayah III antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret, agar
Belanda tidak dapat mengirimkan bantuan pasukan ke Yogyakarta (lihat
lampiran II).

Pada 25 Februari 1949 Simatupang memulai perjalanan dan membuat
catatan:”Besoknya tanggal 28 Februari kami tiba di sebuah desa dekat
Playen yang bernama Banaran. Di Pulau Jawa banyak desa-desa yang
bernama Banaran
Kalibawang dan setrusnya. Pemancar radio yang mula-mula berada di
lapangan terbang AURI dekat Wonosari telah dipindahkan di suatu tempat
tidak jauh dari Banaran ini. Dari perwira AURI di sini, yang menjadi tuan
rumah kami hari itu, saya dengar bahwa selain daripada pemancar Wonosari
ada juga beberapa pemancar kita yang kuat yakni di Kotaraja, di sekitar
Bukittinggi …………….
Kebanyakan dari pemancar-pemancar ini adalah pemancar-pemancar
dari AURI dan dalam hal memelihara hubungan, radio AURI telah
memberikan sumbangan yang besar selama perang rakyat ini.”

Keterangan Simatupang ini cocok dengan penuturan Boediardjo (Menteri
Penerangan RI 1968 – 1973, Pangkat terakhir Laksamana Madya Udara)
mencatat :”…….Pangkalan di Playen itulah yang kemudian terbukti berjasa,
ketika berhasil menyiarkan berita keberhasilan Serangan Umum Satu Maret
1949 ke luar negeri.
Peristiwa Serangan Umum Satu Maret sangat penting, sebagai usaha
membuktikan bahwa Yogya sebagai Ibukota perjuangan Republik Indonesia
belum sepenuhnya jatuh ke tangan Belanda. Dengan peralatan radio PC2
kita yang sangat sederhana menjalin jaringan dengan stasiun-stasiun radio
sejenis di Sumatera maka kita dapat merelay berita Serangan Umum itu
melalui Birma dan Indie, sampai ke perwakilan kita di Sidang Dewan
Keamanan PBB.
Sehari menjelang 1 Maret, dalam perjalanan ke Jawa Timur Kolonel
Simatupang singgah ke Playen membawa berita tentang Serangan Umum
Satu Maret yang akan dilaksanakan esok harinya. Saya menerima teks dan
brifing secukupnya di rumah paling depan, sebelum lorong yang menuju ke
rumah keluarga Pawirosoetomo dengan di wanti-wanti untuk menyiarkannya
besok malamnya, setelah terjadi Serangan Umum yang akan dilancarkan
pada waktu subuh tanggal 1 Maret 1949.
Tulisan Pak Simatupang tersusun jelas, dalam bahasa yang bagus
dan rapi. Sayang sekali saya tidak berani menyimpan teks itu, setelah
disiarkan. Seperti biasa, kami hancurkan semua dokumen, ketika
mengadakan evakuasi.
Siaran itu berhasil menembus blokade informasi Belanda. Dari Playen
siaran ditangkap dan diteruskan oleh teman-teman di Bukit Tinggi. Dari sana
diteruskan keAceh, kemudian secara estafet ke Burma dan akhirnya India.
Dari New Delhi, All India Radio menyiarkan ke seluruh penjuru dunia pada
malam hari itu juga. Alangkah bahagianya kami, dua hari berikutnya kami
memantau berita All India Radio yang menyiarkan teks radiogram kami.
Isinya sama, kata demi kata.”

Rupanya perwira AURI yang ditemui Simatupang di Playen adalah
Boediardjo. Dari kalimat Simatupang: “……Dengan Kolonel Soegeng masih
saya bicarakan berapa kekuatan yang dapat dikumpulkannya untuk
serangan itu, bagaimana rencananya dan seterusnya” dan mencocokkannya
dengan tulisan Boediardjo, kelihatannya Simatupang cukup banyak terlibat
dalam persiapan serangan tersebut; dan bahwa Simatupang telah
mempersiapkan teks pada 28 Februari, sehari sebelum serangan terjadi dan
meminta teks tersebut segera disiarkan setelah serangan dilaksanakan.

Tetapi Islam Salim mencatat, bahwa Perwakilan RI di PBB menerima berita
bukanlah dari New Delhi, melainkan dari Indonesia Office di Singapura.
Islam Salim menulis :” Prakarsa UNCI untuk Perjanjian Roem – Royen di
atas, diambil sesuai dengan keputusan PBB dalam Sidang Umumnya di
Paris, yang menghendaki agar kedua pihak yang bertikai kembali ke meja
perundingan, karena Sidang Umum PBB telah mengkonstatir kegagalan
Agresi Kolonial Belanda dengan tetap tegaknya Negara RI. Hal ini, antara
lain, didasarkan atas press release Press Officer Perwakilan RI di PBB
Soedjatmoko, tentang terjadinya serangan umum 1 Maret 1949 di
Yogyakarta, di daerah BrigadeX/Wehrkreise III di bawah pimpinan Letnan
Kolonel Soeharto, yang beritanya diterima melalui Mayor Wibowo dari
Indonesia Office di Singapura.”

Penutup
Dari sumber-sumber yang dapat dipercaya terlihat jelas bahwa perencanaan
dan persiapan serangan atas Yogyakarta yang kemudian dilaksanakan pada
1 Maret 1949, dilakukan di jajaran tertinggi militer di Divisi III/GM III
berdasarkan perintah dari Panglima Besar Sudirman untuk membuktikan
kepada dunia internasional mengenai bahwa TNI masih ada dan cukup kuat
sehingga dengan demikian membuktikan eksistensi Republik Indonesia.

Serangan tersebut melibatkan berbagai pihak, bukan saja dari Angkatan
Darat, melainkan juga AURI dan PEPOLIT Kementerian Pertahanan. Pasukan
yang terlibat langsung adalah dari Bigade IX dan X, didukung oleh pasukan
di Wehrkreis I yang bertugas mengikat Belanda dalam pertempuran di luar
Wehrkreis III.

Cukup kuat alasan untuk meragukan versi yang mengatakan, bahwa
serangan tersebut dirancang oleh seorang komandan Brigade yang
memberikan tugas kepada Wakil II Kepala Staf Angkatan Perang, yang
adalah atasannya, untuk menghubungi pihak AURI, serta memintanya
membuat teks untuk disiarkan. Begitu juga dengan versi yang menyebutkan,
bahwa perintah serangan diberikan oleh seseorang yang berada di luar garis
komando militer, adalah sangat tidak masuk akal. Apalagi langsung kepada
komandan pasukan, tanpa melibatkan atasan

Keberhasilan “Serangan Spektakuler” tersebut adalah berkat dukungan
berbagai pihak. Sangat banyak orang yang terlibat langsung dalam
perencanaan dan persiapan, sehingga bukan hanya satu orang saja yang
berjasa, melainkan banyak sekali. Juga tidak hanya Angkatan Darat saja
yang terlibat, melainkan juga Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan
sendiri serta tokoh-tokoh sipil.

OooooOOOOOooooo

Referensi:

1. T.B. Simatupang : “Laporan dari Banaran” Kisah pengalaman seorang
prajurit
selama perang kemerdekaan.
Penerbit Sinar Harapan, Jakarta 1980.

2. Boediardjo: “Siapa Sudi Saya Dongengi”.
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1996.

3. Islam Salim: “Terobosan PDRI dan Peranan TNI”
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1995.

4. Anthony J.S.Reid: “Revolusi Nasional Indonesia”
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1996.

5. Indriastuti:”Pemerintahan Militer di Daerah Gerilya Gunung Sumbing
pada tahun 1948 – 1949”. Skripsi untuk ujian S-1.
Fakultas Sastra Univ. Diponegoro, Semarang 1988.

6. Dr. W. Hutagalung:”Anak Bangsa dari Tiga Episode Perjuangan”
(Masih sebagai manuskript).

7. Bambang Poernomo.
Pembicaraan pada Maret 1999 dan Februari 2000.

Catatan:
Lampiran INSTRUKSI RAHASIA PANGLIMA DIVISI III/GM III TERTANGGAL 18
FEBRUARI 1949, dikutip dari : Indriastuti :”Pemerintahan Militer di Daerah
Gerilya Gunung Sumbing pada tahun 1948 – 1949”. Skripsi untuk ujian S-1.
Diterbitkan oleh Fakultas Sastra Univ. Diponegoro, Semarang 1998. Hal. 142.
Dokumen asli ada di : Dinas Sejarah TNI AD di Bandung

OooooOOOOOooooo

Lampiran

(Cuplikan dari manuskript buku yang akan diterbitkan)

ibnusomowiyono wrote on Apr 2, ’08
Tia Maria yang tercinta, tidak mengenal mustahil dapat sayang. Bukan hanya Tia, lain-lainnya: mas-mas dan mbak-mbak saja banyak yang “heran” pakde punya pengalaman seabreg. Jika pak de tidak menulis, pengalaman itu akan terkubur bersama jazat pakde. Maka pakde sangat berterima kasih kepada siapapun yang memberikan dorongan pak de untuk menulis, diantaranya dengan bersedia membaca tulisan pakde. Thank very much!
ibnusomowiyono wrote on Apr 2, ’08
Nanda Sudaryanto, terima kasih atas perhatian ananda terhadap tulisan saya. Jika kebetulan ananda ke Yogyakarta, silakan mampir kerumah kami. Datang saja ke Akademi Maritim Yogyakarta dibelakang Pemancar TV RI Yogya di Jalan Magelang, Semua mengenal ibu Endang, anda akan diantar kerumah kami yang hanya 200 m disebelah timur kampus AMY. Kami akan menerima ananda sebagai tamu kehormatan,karena anada telah memberikan dorongan dan semangat kepada saya untuk berani menulis. Kami akan mengantar ananda ke Monumen Yogya Kembali yang biasa digunakan untuk mewisuda taruna AMY dan Monumen S.O.1 Maret didepan kantor post pusat Yogyakarta.
coffeeliqueur wrote on Mar 31, ’08
jadi lebih mengenal sejarah keluarga pakde. all along i’ve been taking it for granted
sudarjanto wrote on Mar 30, ’08, edited on Mar 30, ’08
Mohon maaf Pakde,saya mendapat teguran dari pakde namun dari apa yang saya baca dari Wikipedia,dari tulisan Asvi Warman Adam,bahkan dari Photo Sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949,terjadi pada saat Perundingan Konferensi Meja Bundar,saya memang tidak mengikuti peristiwa tersebut namun dari tulisan-tulisan yang saya kumpulkan semua menyatakan demikian,dimana terjadinya serangan oemoem tersebut setelah terjadi Clash ke 2 bulan Desember 1948,peristiwa tersebut lebih dikenal dengan 6 jam di Jogja entah mana yang benar karena peristiwa ini hanya bapak2 yang mengalaminya,mohon dibaca dalam blog saya kumpulan cerita sejarah yang saya kumpulkan baik berupa photo sejarah maupun tulisan pelaku sejarah,tentang PTI tentunya bapak lebih mengetahuinya apakah yang terjadi saat itu.
Sekali lagi saya mohon maaf. Saya suntingkan sejarah Pemerintahan Kota Jogja dari Wikipedia sebagai berikut:Pada tahun 1948, Pemerintah Pusat mulai mengatur Pemerintah Daerah dengan mengeluarkan UU No. 22/1948 tentang UU Pokok Pemerintahan Daerah. Dalam UU tersebut diatur susunan dan kedudukan Daerah Istimewa baik dalam diktum[7][8] maupun penjelasannya[9][10]. Walaupun demikian, pemerintah pusat belum sempat mengeluarkan UU untuk membentuk pemerintahan daerah karena harus menghadapi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang menghajar Ibukota Yogyakarta. Pemerintahan DIY-pun ikut menjadi lumpuh. Sultan HB IX dan Sri Paduka PA VIII meletakkan jabatan sebagai Kepala Daerah Istimewa sebagai protes kepada Belanda[2]. Pasca Serangan Oemoem 1 Maret 1949, Yogyakarta dijadikan Daerah Militer Istimewa dengan Gubernur Militer Sri Paduka Paku Alam VIII. Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1950[2].
ibnusomowiyono wrote on Mar 25, ’08
Trima kasih atas perhatian ananda Bluecoverall, suasana jaman itu memang lain dengan sekarang seperti halnya keadaan saya saat itu dan keadaan saat ini. Saat itu saya masih muda, penuh semangat….. saat ini saya sudah tua. Saya bersyukur masih dapat/sempat menulis Sedikit tentang pengalaman hidpku, yang mungkin bermanfaat bagi generasi sesudah kami.
bluecoverall wrote on Mar 25, ’08
Pengalaman hidup yang sangat kaya Pak…
Boleh percaya boleh tidak, saya sangat merindukan suasana tahun 50-70 an yang pasti masih sarat dengan romantisme, idealisme, (tapi juga feodalisme) dan jauh dari segala macam materialisme. Jaman yang mungkin susah, tapi sangat menghargai kemanusiaan dan harga diri.
ibnusomowiyono wrote on Mar 24, ’08
Terima kasih atas perhantian ananda Sudarjanto terhadap tulisan saya. Ibu meninggal tahun tanggal 28 Februari 1948 (bukan 1 Maret 1949) Dua hari berikutnya terjadi serangan SU atau SO 1 Maret 1948. (Harap di cek dalam buku sejarah). Bukan kapasitas saya untuk “membetulkan” penyimpangan penulisan sejarah, saya hanya menulis berdasarkan yang saya alami sendiri.
Saya juga jadi saksi sejarah bahwa pelarangan PTI dilakukan oleh Orde Lama, dapat dicek di dokumen “penyitaan” yang dilakukan oleh Kejati cabang Yogyakarta. Ada juga dokumen pendirian Perwatin yang telah mencantumkan asas Pancasila dan “diisinkan” menggunakan Loge Dharma, bekas peninggalan PTI yang “ditaruh” dibawah pengawasan Kejakti Yogyakarta..Jaman Orde Baru Perwatin tetap dibolehkan tetapi dibawah koordinasi Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK,). Jika ananda mengikuti terus tulisan saya dalam Sedikit tentang pengalaman hidupku, ananda akan tahu bahwa saya terlibat langsung dalam “perebutan bekas hak milik PTI” yang akhirnya saya diizinkan membeli garage bekas milik PTI dan mendapatkan HGB atas tanah tempat bangunan itu berdiri.
sudarjanto wrote on Mar 22, ’08
SO 1 Maret 1949 terjadi setelah Peristiwa Madiun, Pada jaman Bung Karno Theosofi tidak dilarang dengan adanya aliran Susila Budi Darma(SUBUD) dan tidak ada kewajiban mencantumkan Pancasila sebagai azas Organisasi,karena Pancasila adalah azas Negara,Pencantuman Pancasila sebagai azas organisasi hanya pada zaman Orde Baru, karena pada waktu itu Partai2 pun mempunyai azas sendiri-sendiri, mungkin Bapak sebagai Saksi sejarah bisa melakukan koreksi terhadap sejarah kita yang telah direkayasa oleh orde baru.
cityofenjie wrote on Mar 20, ’08
wow, berarti saya harus panggil apa nie ya ? Pak lebih tepat kali ya :). senang berkenalan dng penulis seperti anda Pak Ibnu 🙂

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s