Aku dan ‘Mantan’ Pacarku Serba Berbeda, tapi Bisa Hidup Bersama Tiga Perempat Abad

Sejak kami kenal sudah jelas kami berbeda dalam segalanya. Dia dari keluarga elit aku dari keluatga pengusaha. Ayahnya (Rama Wirjo Atmosjo) dan istri kakakku (mbak Siti) berusaha untuk “memisahkan” kami, tetapi kami bagaikan kutub magnet selatan dengan kutub magnet utara yang secara alami saling tarik menarik untuk bersatu. Silakan baca STPH di Ibnu’s Site.
Malam ini, menjelang tengah malam listrik padam, aku sibuk mencari senter untuk menghidupkan “lampu” yang ditenagai oleh tenaga listrik dari aku bekas. Sejak lama penerangan darurat lilin dan korek api telah kubuang, karena sudah tak sesuai dengan zaman. Ternyata mantan pacarku yang kini selalu bersamaku memungut apa yang telah kubuang dikeranjang sampah dan minyimpannya baik-baik. Ini terbukti, ketika aku “sibuk” mencari senter dia telah minghidupkan lilin. Denngan penerangan lilin yang telah kubuang itu aku dapat menemukan peralatan penerangan yang lebih modern.
Kunyalakan “lampu” bertenaga batery yang menurutku lebih terang dan bersih lingkungan serta aman, lalu kupadamkan nyala lilin.
“Lho, kok lilinnya dipadamkan? Katanya kita tak boleh mengandalkan satu sumber energi. Bagaimana nanti kalau listrik padam lagi.
“Ndeso, ” kataku,” kami kan telah memiliki lampu bertenaga listrik. Listrik padan kita punya aki, punya senter, punya HP.”
“Tetapi, lilin itu dapat menerangi bagian yang tak diterangi oleh lampu bertenaga aku.”
“Kau ingat kejadian yang mengerikan itu,rumah kita hampir saja terbakar akibat tetangga menyalakan lilin?”
“Hiya, tetapi juga banyak rumah terbakar akibat hubungan singkat arus listrik”
“Oooo, dasar ndeso, aku kan pernah kuliah di ITB dan UGM dibidang kelistrikan. Listrik itu merupakan energi yang bersih lingkungan dan sangat aman. Listrik memang dapat menyebabkan kebakaran, tetapi sering dijadikan kambing hitam. Yang salah bukan listriknya, tetapi cara memanfaatkannya.”
“Hiya, lilin  juga begitu.”
“Kau ingin penerangan yang lebih aman? Ayo kita keluar!”
Kami berdua keluar rumah, saat ini cuaca sangat cerah sehingga bulan bersinar terang diantara beberapa bintang yang sanggup melawan cahaya bulan,
“Nah, itulah yang kumaksud! Kalau saja manusia dapat membuat bulan, tak akan ada kegelapan.”
“Kalau tertutup awan?”
“Ayo kita kedalam, kuperlihatkan bulan yang tak pernah tertutup alam.”
Kunyalan lampu LED yang cahayanya lebih terang dari cahaya bulan.
“Ya,ya…………. tapi katanya energi di bumi akan habis.”
“O alah, makanya diajeng ngumpulin lilin dan korek………” aku mengejek.
“Hiya,hiya,,,,,,,,,,, menurut profesor minimalis kelak manusia dapat membuat hidrogin dari eter,” dia ganti mengejek, ” Itu namanya mimpi.”
“Lho, tak percaya? Cobalah ber reincarnasi.  Kelak manusia bukan hanya sanggup membuat bulan tiruan melainkan matahari tiruan dengan reaktor nuklir fusi.”
“Sudahlah, teruskan berrmimpi, aku akan sujud  memohon agar listrik cepat nyala.”
“Ya, aku akan tidur dan bermimpi…………. membuat hydrogen dari eter.”.”
Aku sempat tertidur, tetapi sebelum bermimpi telah dibangunkan istriku ( mantan pacarku ) untuk mematikan “bulan” tiruan, lampu LED yang ditenagai oleh batery, yang kuisi dengan energi surya.
“Sebelum manusia sanggup membuat matahari tiruan sebaiknya kita cari sumber energi lain yang nyata, bukan mimpi,” Endang menganggap teoriku tak masuk akal, padahal dia membanggakanku sebagai lelaki yang rasional.
“Tak apa,hasil teoriku tak akan dinikmati oleh bekas pacarku, sebab dia akan mencari kebahagiaan abadi,tak menggunakan kesempatan bereincarnasi.”

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s