Benarkah Lebah Madu Membawa Rejeki ?

Tanah Mesan cukup luas, sekitar 900 meter persegi. Ditengahnya terdapat “gubug” tua yang digunakan Mbah Kakung mencari kedamaian. Digubug ini mbah kakung menulis buku-buku spiritual sambil menanam berbagai pepohonan.
Endang membeli tanah dibelakang gubug tua itu  seluas seratus meter persegi. Tanah ini dijadikan kebun kopi. Gubug mbah kakung  kami pugar sehingga dapat ditempati oleh mbah kakung dan mbah putri. Beliau membuat gubug kecil dikebun kopi untuk gudang pengumpulan kayu bakar dan kandang ayam.
Suatu saat datang segerombolan lebah madu dan menetap digudang kayu. Aku akan mengusir binatang itu karena sering menyengat mbah putri, tetapi diperingatkan oleh mbah kakung:
“Mas, biarkan mereka bersarang disitu. Lebah itu membawa rezki.”
“Itu kalau dipelihara dan di ambil madunya.”
“Hiya, biarkan saja lebah itu menetap disitu.”
Lebah itu berkembang, tetapi jika ada yang akan menebas/mengambil madunya tak diizinkan oleh mbah kakung, mbah putri sebaliknya. Ketika mbah kakung pergi mbah putri berusaha mengambil tala yang berisi madu. Mula-mula banyak lebah yang menyengat, tetapi tetangga memberi tahu jika akan mengambil tala harus tangannya diluluri daun sirih.
Cicak merupakan pencuri madu disamping semut. Mula-mula mbah kakung melarang anak-anak memburu cicak untuk makanan ikan, tetapi karena mengira cicak merusak sarang lebah madu, maka mbah kakung malah menyuruh anak-anak untuk memerangi cicak.
Saat itu rezki kami memang melimpah hingga kami dapat membuat rumah sederhana  di Mesan.
Mbah kakung dan mbah putri menempati rumah kami yang lebih pantas. Rumah mbah kakung kami pugar lebih baik dan digunakan untuk saresehan kesepuhan.
Saat itu ibaratnya apa yang kusentuh menjadi uang sehingga kami dapat membangun rumah di tanah mbah kakung bagian tenggara, sebagai  gantinya adalah kebun kopi.
Semua tanaman ditanah yang akan kubangun kubabat habis. Aku diperingatkan pak Jussac Mr agar tak membabat tanaman sesukanya, karena mengurangi habitat burung.
Rumah  baru kami dikontrak oleh Institut Pendidikan Maritim dan digunakan sebagai kantor AMY sementara  itu kampus AMY mulai dibangun. Pak Jussac justru  mendukungpembangunan kampus AMY karena tanah yang digunakan adalah sawah, jadi tak mengurangi habitat burung.
Kami menerima uang jual  bangunan dan HGB di Jendral Sudirman 34. Uangnya akan kami gunakan untuk mencari tanah atau bangunan yang letaknya strategis untuk meneruskan usaha kami, tetapi ternyata selalu mengalami kegagalan, sehingga akhirnya kami membeli tanah IPM di Plemburan seluas 2650 m persegi. Uang itu digunakan  oleh IPM membeli tanah disebelah timur kampus AMY untuk perluasan kampus.
Mbah kakung  menjual tanah di Kutoarjo, uangnya ditabung di Bank, sebagian untuk membangun rumah disudut barat laut tanah mbah kakung. Rumah itu diperuntukkan Asih.
Mbah kakung meninggal, mas Untung merasa seluruh tanah Mesan menjadi hak miliknya karena tanah itu dibeli dari hasil penjualan cincin ibunya. Untung beliau bersedia  melapaskan hak warisnya dengan menerima imbalan dari kami.
Tanah dibagi lima, Endang menerima 2/5 bagian karena dia yang  memberikan uang pengganti hak waris mas Untung.  Lilih bersedia menerima tanah dibagian belakang  yang berupa kebun kopi dengan disediakan jalan diantara rumah mbah kakung dan rumah Asih menuju lorong. Lilih bersedia melepaskan hak warisnya berupa tanah  seluas 100 m2 kuganti dengan tanah seluas sekitar 300 m persegi didekat kampus AM. Tanah yang telah bersertifikat dan telah dikeringkan itu pemberian mbak Sam sebagai pengganti rumah dan tanah warisan orang tuaku di Siliran 29.
Kebun kopi menjadi hak milikku, bukan lagi merupakan warisan dari mbah kakung melainkan warisan orang tuaku.
Sehabis dikontrak IPM rumah  kami di Mesan kami rehap hingga menjadi rumah susun berlantai tiga. Bangunan itu kugunakan untuk usaha kost putri. Usaha kot kami laku keras sehingga aku berniat membangun perluasan kost ditanah milikku. Rencanaku ini ditentang oleh Endang, tetapi dia tak berdaya karena tanah itu bukan miliknya lagi. Tanah ini telah ditukar dengan tanah yang kini telah berdiri bangunan berlantai tiga.  Tanah ini menjadi hak Lilih dan telah kutukar dengan tanah didekat kampus AMY.
Kebun kopi kubabat habis  untuk  membangun kamar sebagai pengembangan  usaha kost kami yang laku keras. Bagian ini kami namakan Unit Belakang.Bagian tenggara U.B. terhubung dengan bangunan barat daya lantai tiga. Pintu keluar U.B.  terletak disudut barat laut terhubung dengan lorong Mesan lewat gang kecil diantara rumah mbah putri dengan rumah Asih.
Aku tetap menyisakan gubug tua dimana bersarang lebah madu. Selalu kuingat peringatan mbah kakung agar aku tak mengganggu lebah yang membawa rezki itu.
Apa boleh buat, ternyata lebah itu pindah ke pepohonan yang tumbuh dihalaman depan rumah mbah putri.
Unit Belakang ternyata juga laku, dipenuhi oleh anak kost.
Suatu saat pak Kardono terjatuh dari pohon rambutan sehingga diisukan rumah kami angker.
Aku membuat garage  dihalaman depan rumah mbah putri untuk mengganti garage Urip yang terletak ditanah yang menjadi bagian Endang. Pepohonan dihalaman depan rumah mbah putri yang merupakan milik Urip, kubabat semua termasuk yang digunakan oleh lebah madu untuk bertsarang.
Pada permulaan tahun baru, sebagian anak kost tak memperpanjang kontraknya demikian juga tak ada yang masuk sebagi penghuni baru. Sebagian besar kamar  kost putri Esna kosong. sehingga aku teringat ucapan mbah kakung……. lebah madu membawa rejeki.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s