Debu Dihambur Deru

CATATAN 30 OKTOBER 2010

Aku terbangun  oleh bunyi Flexiku. Anak-anak menelpon menanyakan keadaan Yogya, kujawab semua baik-baik saja. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi di Yogya jika tak diberi tahu oleh anak-anak yang tinggal  di Australia, Amerika dan Jakarta.
Kunyalakan TV ternyata diberitakan bahwa Merapi baru saja meletus lagi. Mereka berpesan kami diminta mengenakan masker. Aku membuka pintu kudapatkan  udara diluar  mendung , sedikit “berkabut”.. Kulihat flexi menunjukkan pukul 01 lebih sedikit.Aku tidur lagi.
Pagi hari aku keluar rumah, dedaunan putih bagai diselimuti salju. Jalan dan tanah juga nampak putih bagai terselimut beledu. Kugores jalan, aku bengong karena jalan tertutup debu setebal kelingking. Aku baru sadar malam tadi terjadi hujan abu.
Hari ini hari Sabu tgl 30 Oktober 2010 aku baru sadar betapa hebatnya Merapi yang selama ini kuanggap sangat indah dan ramah hingga aku pernah membuat syair berjudul: Kaliurang.
Bait-baitnya demikian:
Merapi menjulang tinggi, Skudeng dan Gundul mematung. Kicau burung bernyanyi, hutan hijau digunung. Jalan turun berliku, sawah kuning bertingkat.Langit cerah membiru, air terjun berkilat. Hawa sejut meresap, kabut tipis melayang. Taman bunga nan sdeap, sepi alam terbentang. Mancur, Putri, Nirmala, tlaga penjalin cinta.
Syair itu kujadikan sebuah lagu dan setiap kali kunyanyikan saat aku sedang mandi. Keyakinan mbah Marijan akan kemurahan dan kedamaian  gunung yang dijaganya sejalan dengan  perkiraanku  hingga detik ini.
Nanti sore aku harus membayar uang mingguan tukang yang bekerja di Plemburan sehingga aku harus mengambil uang di ATM BCA di Jalan Magelang. Ditepi jalan Mesan terdapat selokan yang mengalir deras sehingga dapat digunakan untuk menyiram jalan, mengurangi debu yang berhamburan.
Kunaiki Mio menuju ke jalan Magelang. Sesampai didepan Kantor Kalurahan Sinduadi mulai terasa debu berhamburan karena aku berpapasan dengan kendaraan roda dua.
Jalan Magelang sepi saat aku berbelok ke selatan, tetapi tak lama kemudian  ada sedan mendahului, debu berbamburan sehingga menutup pandangan. Saat itu matahari bersinar terang, tetapi jarak pandang  dijalan Magelang terjauh sekitar dua meter. Aku berhenti membetulkan masker dan menyalakan lampu kendaraan. Kukendarai Mio dengan berlahan-lahan untuk menghindari kecelakaan, tetapi aku heran anak-anak sekolah memacu kendaraannya dengan cepat seakan mereka tak peduli akan keselamatannya. Ternyata mereka diliburkan jadi tak perlu bergegas.
Kantor BCA dan ATM nya tutup.  Kuputar kendaraan balik ke utara menuju ATM Indogrosir.
Antrean disitu sangat panjang, aku meneruskan perjalanan ke Plemburan. Deru kendaraan besar yang melalui Ringroad menghamburkan debu hingga jarak pandang lampu kendaraan kurang dari lima meter. Aku heran kendaraan itu melaju cepat, padahal debu menutupi kaca depan dan berhamburan menutupi jarak pandang.
Semoga semuanya selamat dan hujan segera turun. Semoga ATM siang nanti banyak yang buka hingga  antreannya tak panjang.

Minggu tanggal 31 Oktober 2010, aku bangun menjelang subuh untuk membuka-buka isis blogku. Kutengok jalan depan rumah kami, ternyata basah. Berarti semalam turun hujan. Aku bersyukur harapanku dikabulkan.
Kemarin aku meminjam pada Endang sejumlah uang untuk membayar uang mingguan tukang, pagi hari ini aku berniat mengambil uang di ATM BCA untuk mengganti uang pinjaman itu. Aku membiasakan diri untuk segera melunasi hutangku, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan pinjaman darurat aku tak akan mendapat kesulitan.

Pagi hari jalan masih basah sehingga jika ada kendaraan lewat didepan rumah tak berhambur debu, tetapi agak siang matahari bersinar terang, jalan mengering, taruna AMY yang mondok dirumah pak Hatmono melakukan kerja bakti menyiram jalan dan mengeruk debu hingga jalan terbebas dari lumpur debu. Aku memncuci Mio didepan garage sampil menyemprot jalan hingga debu menyingkir ketepi bercampur tanah dipinggiran selokan. Jalan menjadi bebas debu.
Siang hari udara cerah,matahari bersinar terang, jalan didepan rumahku mengering , tetapi sepanjang selokan didepan rumahku digenangi lumpur, yang didepan rumah pak Hatmono sudah bersih,yang lainnya hanya disiram sehingga cepat mengering. Jika mobil lewat lumpur didepan rumahku tergencet ban hingga mencurat kesekitarnya mengenai orang yang berjalan didekatnya, lain halnya jalan didepan rumah pak Hatmono yang sudah dibersihkan oleh taruna AMY yang kost dirumah itu. Jalan di depan toko mbak Kis debu berhamburan karena jalan masih ditutup debu yang telah mengering.
Anak kost dirumah pak Hatmono sangat peduli dengan lingkungan, lain halnya dengan anak kost dirumahku, semua masa bodoh.Mengapa? Yang dirumah pak Hatmono sebagian besar taruna baru yang patuh pada seniornya, sedang yang kost di rumahku senior semua, sebab para junior “ngeri” kost bersama para seniornya.
Pukul 4 sore aku mendengar Merapi meletus lagi dan angin menuju ke selatan. Udara menjadi gelap, menurut Endang terjadi hujan abu lagi. Senja hari gerimis.
01/11/10. pukul 01.30 dini hari, aku bangun dan keluar rumah, kulihat udara cerah, bintang bertaburan dilangit. Aku bersyukur, berarti udara tak berdebu lagi.

Pagi hari aku ke toko Tehnik Nusantara di Jalan Magelang wilayah Kodia. Jalan disiram oleh tangki Mobil Kebakaran. Pegawai toko sedang menyedot debu dalam toko dan yang lain membersihkan lumpur yang tergenang dipinggiran jalan didepan toko.
Penjaga toko berharap tak ada hujan abu lagi sebab sangat membuat repot.
“Kalau berharap tak terjadi hujan abu lagi, aku sependapat, tetapi semoga masih terjadi lagi letusan-letusan kecil.” kata seorang pembeli penyedot debu.
“Lho mas ini kok masih berharap Merapi meletus lagi.”
“Maksud saya letusan-letusan kecil, bukan letusan dahsyat.”
“Kalau cuma hujan debu, itu kan berkah, menjadikan tanah subur.”
“Benar juga,” kataku menimpal, ” penyedot debu laris?”
“Letusan Merapi memang menghamburkan abu, tetapi belum tentu jatuh disini, coba saja lihat TV, mula-mula abu dikirim ke barat, kemudian ke selatan, yang belum kebagian wilayah timur.”
“Mungkin nanti siang abu akan dikirim ketimur,” aku nyeletuk.
“Mbah Warijan itu adil ya,” celetuk seorang Tionghoa.
“Bukan mbah Marijan, tetapi Tuhan Yang Maha Esa'” aku memprotes,.
“Saya berharap Merapi mengeluarkan energinya sedikit demi sedikit, tak sekaligus,” kata si pembeli penyedot debu yang ternyata seorang yang sangat memahami kandungan tenaga yang masih tersimpan diperut Merapi.
“Wah, kasihan para pengungsi.” aku memprotes.
“Lho, bilih mana, bersihkan debu berkalikali dan tinggal dipengungsian lama yang penuh dengan perjuangan atau tidur nyenyak selamanya tak terbangun lagi seperti mbah Marijan?”
“Ah, jangan bikin bulu tekuk berdiri mas. Saya kira semua memilih masih diberi umur panjang, tapi sering kali kita mengeluh menghadapi pahitnya kenyataan, itu manusiawi.”
“Kira-kira berapa lama Merapi batuk-batuk?”

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s