Es Dung-Dung, Koma dan Lift Berhenti di Tengah Jalan

Istri kemenakanku  dalam keadaan  komma dan telah beberapa kali dibacakan surat Yasin. Suatu saat ada bakul es dung-dung lewat, tanpa diduga dia membuka mata dan berbisik meminta dibelikan es.
Sejak kembali dari sumah sakit karena dokter sudah “angkat tangan”, semua keinginan istrinya dituruti.
Setelah menghabiskan dua batang es sang istrinya  sadar dari kondisi kommanya sehingga kejadian itu diceriterakan kepada kami.
Suatu saat aku dan istriku, Endang, duduk diteras muka rumah.  Udara sangat gerah, panas sekali. Kami sedang berbincang-bincang mengenai lift mini yang sedang kubuat untuk memudahkan kami naik turun ke lantai dua. Tiba-tiba ada bakul es dung dung lewat. Entah apa Endang berkata:”………………wong……………..kok……………. es dung-dung loro………..” (Orang kok, Es dung dung dua)
Langsung aku menghentikan es dung dung dan memesan dua.
Endang memprotes: “Aku tidak sedang  koma kok dipesankan es dung dung ……..”
Aku baru sadar kalau terjadi kesalahfahaman antara aku dan isteriku. Endang ternyata sedang teringat ceritera kemenakanku tentang isterinya yang sedang koma menjadi sadar karena mendengar suara dung dung, bukan meminta dibelikan es dung dung.
Aku memang sedang “koma” memikirkan masalah mini lift, sehingga seharusnya Endang yang memanggil es dung dung agar aku sadar dari komma. Akhirnya pesanan es dung dung kubatalkan satu.
“Lho kok cuma satu Pak?”
“Satu saja, ibu sehat walafiat tidak pengen  es dung dung. Aku sedang pusing memikirkan  problema  mini lift  makanya perlu es dung dung. Kalau lagi di tengah tengah listrik PLN mati  artinya lift-nya komma, apa ibu mau lompat turun atau terbang ke galaksi lain?”
“Siapin dung dung di lift, kalo dipukul tandanya lift-nya koma.”

Belakangan Endang kalau mencuci di lantai satu, aku punya tugas mengangkat pakaian yang akan dijemur di lantai dua. Aku memanfaatkan kembali proyek lama yang berupa derek yang mampu dimuati beban sekitar lima belas kilogram yang dulu digunakan mengirim minuman dan makanan dari lantai satu ke lantai dua atau ke lantai tiga dan menurunkan piring dan gelas kosong ke lantai satu. Derek ini dengan mudah digerakkan dengan tangan seperti orang menimba.
Derek itu cukup kuat untuk mengangkat cucian, tetapi aku harus naik ke lantai dua dan menjemur pakaian.
Walau kami punya pembantu, Mbah Harun, tetapi kami tak mau tergantung dengan pembantu yang setiap hari pulang ke rumahnya. Pembantu itu juga sudah setua kami sehingga harus kami perhatikan kemampuan fisiknya.
Saat ini proyek Plemburan sedang “diistirahatkan” sehingga memberikan kesempatan kepadaku untuk memikirkan kondisi rumah Mesan. Parjono kumanfaatkan tenaganya agar tak perlu bekerja dilain tempat.
Yulia memintaku memberesi rumah Mesan yang kelak akan menjadi miliknya. Endang menyampaikan rencanaku kepada Yulia untuk membuat mini lift yang akan mempermudah kami naik turun, tidak harus melewati tangga beton yang telah tersedia.
Yulia setuju, tetapi lift itu diminta sederhana saja, seperti keranjang yang diderek hingga tak membutuhkan banyak biaya. Saat ini dia sedang butuh banyak biaya untuk sekolah anak-anaknya. Findi melanjutkan ke S1 dari D3. Fanda masuk ke perguruan tinggi. Filia masuk ke SMA. Ator naik kelas. Untung Finda telah bekerja di Soroako dan gajinya lumayan.
Aku mengemukakan rencana itu ke Sigit yang sarjana mesin konstruksi dan bekerja dalam bidang permesinan. Sigit sangat gelisah dengan rencanaku ini, sebab akan membahayakan keselamatan ibunya. Dia meminta agar aku merencanakan dengan seksama, tidak asal-asalan.
Rencana kuubah, dari sistem derek ke sistem dongkrak. Sistem ini membutuhkan batang ulir yang panjangnya tiga setengah meter dengan diameter 1,5 dim. Aku mencari di pasar loak, tetapi paling panjang tiga perempat meter bekas pintu air selokan (gejlig). Di pasaran ada yang panjangnya max satu meter dengan diameter max 1 dim lengkap dengan murnya, harbanya Rp 60.000,-
Endang mendukung rencanaku dan bersedia ikut membeayai proyek mini lift ini.
Dengan memanfaatkan mekanika tehnik yang kukuasai kuperkirakan lift sistem dongkrak ini sanggup mengangkat beban satu kwintal (100 kg) dengan menggunakan tuas penggerak atau diameter silinder puley tak terlalu besar.
Perhitungan ini kubuktikan dengan memanfaatkan ulir yang tersedia dipasaran. Bobot kerangka yang harus diangkat 20 kg, jemuran 15 kg, manusia 65 kg. Berat ibu 61 kg, aku 59 kg, mbah Harun 40 kg. Dongkrak yang kubuat ternyata sanggup mengangkat 150 kg beban dan digerakkan oleh tuas/puley 15 cm. Tangan/Tenagaku sanggup menggerakkannya.
Tetapi ketika kugunakan motor 3/4 TK, motor tak sanggup memutar pulley. Kuganti motor 1. TK, ternyata berhasil mengangkat beban dengan kecepatan geser cukup tinggi.
Keberhasilan ini kuberitakan kepada Bagus dan mendapat tanggapan positip, dia bahkan meminta aku untuk mencari sponsor/ pesanan dan sangat yakin mini lift yang akan kubuat sangat bermanfaat.
Kesulitan datang lagi untuk “membuat” ulir yang panjangnya 3,5 meter. Menurut kalkulasiku ulir yang lanjangnya 3,5 meter paling tidak diameternya 1,5 dim agar tidak melengkung/lentur. Aku memasukkan pada facebookku, siapa yang sanggup menolong membuatkan ulir yang kubutuhkan.
Tetanggaku membaca dan meminta aku ke toko di jalan Diponegoro yang bernama Bandung.
Aku ke toko Bandung ternyata bengkelnya sanggup membuat ulir yang kumaksudkan, biayanya Rp 1.950.000,- Ketika mendengar laporanku tentang biaya pembuatan ulir ini Endang memintaku agar segera memesannya. Aku mencoba membandingkan dengan harga ulir yang tersedia dipasaran dan telah kupakai sebagai percobaan yaitu 1 m diametr 1 dim harganya Rp 60.000,- maka jika ada yang panjangnya 3,5 meter harnga sekitar Rp 240.000. Kalau diameternya 1,5 dim harganya sekitar Rp 1.000.000,-
Aku bertanya ke bengkel-bengkel lain, rata-rata mematok Harga Rp 1.500.000,-

Akhirnya kupesan di toko Mayar dengan harga Rp 1.250.000,- tetapi aku juga harus membeli bos dan lager berdiameter 1,5 din sebanyak empat unit a Rp 50.000 dan puley pemutar ulir seharga Rp 50.000. Aku juga membeli bos dan lager vertikal diametr 1,5 din.untuk menahan beban vertikal sebesar 150 kg, harganya Rp 100.000,- Motor penggerak 1 hp (pk) dan beltnya kupinjam dari kompressor.
Peralatan bengkelku di Plemburan cukup memadai sehingga tak ada kesulitan bagiku untuk melakukan pekerjaan logam, dari: besi, besi tempa , tembaga dan kuningan hingga stenless steel. Yang masih kupelajari adalah pengelasan alumunium dan dural. Mesin bubut milikku bentangannya hanya 1 meter, sehingga tak dapat digunakan untuk membuat ulir sepanjang 3,5 meter.
Bagus sangat menunjang aktivitasku, sehingga aku sering terlalu gegabah, sebaliknya Sigit selalu meneter setiap langkahku sehingga sering merubah rencanaku. Sistem derek kuganti menjadi sistem dongkrak yang tak membutuhkan beban pengimbang yang harus dikendalikan sendiri oleh pengguna lift. Beban pengimbang dapat menyebabkan lift meluncur keatas atau kebawah dengan cepat.Sistim dongkrak akan diam ditempat jika ulirnya tak diputar. Sistem dongrak hidrolik lebih sulit dari dongkrak ulir karena membutuhkan piston dan pipa penyaluran oli.
Agar lift sanggup naik turun dibutuhkan kerangka/ rel vertikal (sistem body) , penggerak (sistem power) dan pengemudi (sistem kontrol). Kerangka dan telah dapat kuatasi, masih dibutuhkan sisitem kontrol untuk menggerakkan lift dengan aman. Sebenarnya tangga berjalan jauh lebih sederhana dari lift, namun untuk ruangan yang sangat terbatas, tak memungkinkan dibuat tangga berjalan.
Karena lift digerakkan oleh motor listrik, maka membutuhkan skaklar untuk menjalankan, menghentikan, membalikkan arah gerakan, mengendalikan dari tangga atas, tangga bawah dan dari dalam lift. Disamping itu diperlukan peralatan pengamanan yang dapat menghentikan lift jika terjadi sesuatu yang membahayakan pengguna dan lingkungannya.. Ini semua menjadi perhatian Sigit karena lift merupakan instalasi bergerak yang tidak kontinu, melainkan tak dapat diperkirakan kapan bergerak, kapan berhenti, kapan berbalik arah sehingga harus “terisolasi” dari wilayah sekitarnya yang dalam posisi diam.
Sigit menggunakan standard keselamatan umum sehingga sulit untuk dipenuhi mini lift yang diperuntukkan keperluan tertentu.
Saya ibaratkan: Kalau akan menembak burung pipit, jangan digunakan meriam, cukup dengan ketapel.

Aku terpaksa membuka-buka buku teknik listrik dan instalasi listrik yang telah kugudangkan, Dari situ dapat kuketahui bahwa dibutuhkan lima skaklar mekanik masing-masing memiliki panel O, I dan II tiap panel memiliki 3 elektroda. Arus yang harus diputus hubungkan masing-masing minimum 6 Amper pada tegangan minimum 300 volt. Masing-masing beharga Rp 22.500,- Kabel NYA berdiameter 2,5 mm dengan tiga warna isolasi masing-masing 25 m. a Rp 2000,- total Rp 150.000,-
Dibutuhkan juga kabel fleksibel sepanjang 4 m untuk menghubungkan list yang bergerak dengan panel tetap (tak bergerak).
Dua buah skaklar terpasang dilantai satu dan lantai dua yang berfungsi menghentikan gerakan lift secara otomatis saat mencapai titik atas atau titik bawah lalu “memutar/membalikkan arah lift agar jika skaklar lift digerakkan lagi gerakkan lift akan membalik, hingga tak menyebabkan kerusakan motor atau lift. Satu skaklar ada pada lift untuk mengemudikan lift dari dalam lift. Satu skaklar dilantai atas untuk menaikkan list dari lantai atas saat lift ada dilantai bawah. Satu skaklar ada dilantai bawah untuk menggerakkan dari lantai satu saat lift berada/beristirahat dilantai atas.
Kerjaku tak sia-sia dan kulaporkan pada Sigit. Aku sudah menduga Sigit akan “menyepelekan” kerjaku ini, sebab terasa sangat ketinggalan zaman. Dia pasti akan mengusulkan cara pengendalian lift secara modern karena dia sangat ahli dalam sistem optimalisasi peralatan industri, semua dikendalikan secara otomatis oleh komputer dengan program yang disusunnya.
Komentar Sigit: “Pak, pintu garageku dilengkapi peralatan automatis, harganya $ 100,- sudah termasuk motor penggerakanya.”.
Jawabku “O ya?” Tolong bapak dikirimi alat itu!”
Sigit: ” Wah, beli saja di situ, kalau tak ada di Yogya, coba di Jakarta,”
Jawabku: ” Aku telah mencari, tetapi motornya saja harganya Rp 1000.000,- itu buatan Cina. Saklar Rilenya tak ada yang sanggup digunakan untuk AC, sebagain besar DC, tegangannya rata-rata dibawah 24 volt. Tolong kirim saja Rile nya, mungkin disitu harganya cuma beberapa dolar, kirimnya tak sulit sebab kecil dan ringan.”
“OK!”
Sambil menanti kiriman Sigit, projek mini lift tetap berjalan, namun aku telah mempersiapkan sewaktu-maktu Reli itu datang, semua skaklar mekanik akan kuganti dengn skaklar magnetik (reli). Bahkan jika perlu Sigit akan kuminta menggati seluruh sistem kontrol mini liftku yang primitif dengan yang modern, Bagus pasti akan semakin optimis mendukung pembuatan mini lift yang murah dan aman.
Yang masih mengganjal adalah: Jika listrik PLN mati apa yang harus kuperbuat dengan mini lift; cukup dengan melengkapi dengan dung dung sebagai usulan Endang? Tentu saja tidak!

Lift telah berjalan lancar. Tetapi saat hujan, tak bergitu lebat, tetapi disertai angin, timbul masalah pada mini lift kami karena terguyur air dari bagian atas, lantai tiga.
Void atau jalur yang dilalui lift naik turun seluas 1 x 1 meter sepanjang 12 meter ke atas sampai ke atap tantai tiga sebagian terbuka untuk ventilasi dan pemasukan cahaya sehingga jika hujan disertai angin air akan masuk dan jatuh sepanjang bagian ini.
Yang harus diamankan ternyata bukan hanya box lift melainkan juga jalur yang dilalui lift. Jadi benar saran Sigit harus mengisolasi wilayah void (jalur lift) bukan hanya untuk keselamatan pengguna dan lingkungan melainkan untuk keselamatan bagian-bagian lift terhadap cuaca, terutama hujan dan angin.
Ibaratnya kalau “menembak” pipit dengan ketapel juga harus memikirkan lingkungan sebab kerikil yang digunakan tak boleh merusak atap tetangga.

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s