Mimpi yang Mendatangkan Inspirasi

Seperti biasanya aku terbangun dinihari, sekitar pukul 3 pagi hari untuk menulis di blogku. Sering kali aku dibangunkan oleh mimpi, aku berusaha mengingat apa yang baru saja kuimpikan untuk kujadikan bahan menulis di blogku.
Kali ini aku bermimpi seakan aku kost dirumah Nursijan, Bandung, dirumah ibu Atamo Suparmo.
Pulang dari kuliah telah tersedia makan siang. Sugeng Raharjo, teman sekamarku mengajakku makan, tetapi aku malah membaringkan diri diranjang, menebarkan koran seakan membaca. Sugeng mengambil koran dan terkejut ketika melihat mataku berlinang air mata.
“Lho kok nangis Ib, Endang minta cerai ya?” ejeknya. Aku membalikkan tubuh hingga Sugeng pergi tak mengusikku lagi.
Kuingat-ingat apa yang menjadikan aku menangis dalam mimpiku.
Didalam mimpi itu aku sangat miskin sehingga tak mampu membayar uang kost yang besarnya Rp 300,– (tiga rstus rupiah). Aku telah menunggak beberapa bulan, tetapi bu Atmo tak pernah menagihnya, hingga aku sangat malu.
Aku berusaha untuk membandingkan mimpiku dengan kenyataan yang pernah kualami bersama Sugeng Raharjo dirumah ibu Atmo Suparmo.
Keadaan yang sebernanya aku tak pernah menunggak uang kost., persamaanya adalah bu Atmo sangat menyayangiku hingga Sugeng sering merasa iri. Kesukaanku adalah sup kacang merah yang tak disukai oleh Sugeng. Hampir setiap hari pasti ada sayur kesukaanku itu disamping lauk lainnya, hingga Sugeng memiliki lauk yang disukainya dari membeli atau masakan mbak Srie,kakaknya yang juga kost dirumah itu.
Bu Atmo mempunyai putri yang benama mbak Jamisah yang persis seusiaku. Mbak Jamisah dan mbak Sri (kakak Sugeng) sangat dekat dengan aku sehingga mereka menyewa sebuah piano dan membeayai aku untuk mengikuti kursus piano.
Suatu saat Sugeng dibelikan kendaraan roda dua sehingga dia pindah kost. Aku tinggal sendiri disatu kamar berdampingan dengan ruang tamu. Dik Panji kadang menemaniku, tetapi agaknya dia sangat manja dengan ibunya sehingga tidurpun harus berdekatan dengan ibunya. Maklum dia  anak bungsu.
Sugeng sering datang bertandang pada kakaknya, dia membuat “gosip” yang mengatakan dia pindah kost karena ibu kost menderita tuberkulosa hingga dia takut tertular. Kukatakan ibuku juga menderika penyakit itu, jadi aku tak khawatir akan tertular penyakit ibu kost.
“Aku tahu, kau pasti telah putus dengan Endang karena akan menjadi menantu ibu kost.” kata Sugeng menanam kampak peperangan.
“Maksudmu aku ingin dijodohkan dengan mbak Jamisah?”
“Hi,hi,kau mau dengan perawan  seumurmu? Kau pasti memilih yang lebih muda..””
“Ou, jadi aku memilih kakakmu yang lebih muda?”
“He, mbak Sri itu bukan anak ibu kost.”
“Dijodohkan dengan _Panji?”
“Weleh, jangan puya-puya.”
Setelah bertfikir sejenak aku tertawa terkekeh:” Sekarang aku baru  tahu ternyata kau nafsir cucu ibu kost dan tak tahan melihat dia berpacaran dengan lelaki yang setiap kali kaukatakan sebagai musuhku.”
“Hah? Nggak,ngak level……..”
“Hah, sombong amat lu!”
“Lho tuh you kan ngak trima……..mbela ‘in dia.”
“Kalau aku mau, yang nggak mau tuh dia. Pacarnya perwira lho.”
“Lalu mengapa you  senang tinggal disini? Karena you dimanjakan oleh ibu kost to?
“Iri ye…………?
“Aku heran, kakak-kakak you banyak duit mengapa tak pindah aja mendekati kampus ?”
“Aku sedang meminta kendaraan roda dua.”
Aku sangat “terpukul” saat kakak-kakak menyuruh aku pindah kost yang berdekatan dengan kampus ITB, dirumah seorang janda  menteri yang uang kostnya sepuluh kali lipat dari kost di rumah ibu kost yang sangat aku sayangi. Dikost baru aku merasakan “penderitaan” yang tak tertahan lagi hingga aku memilih tinggal disebuah gubug reyot di kampung Cisitu sebagai tekanan agar aku dibelikan kendaraan roda dua hingga dapat tetap tinggal di Nursijan.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh sahabatku, Sugeng Raharjo, yang kini telah menjadi seorang arsitek yang kaya raya. Semoga dia tidak  melupakan Nursijan.

sepasangmatabola
sepasangmatabola wrote on Nov 15, ’10
Wah mengharukan sekali ceritanya, pak Ibnu. Semoga pak Sugeng sudah menjadi lebih baik dan bijaksana seperti Bapak, amiiin. Terus gimana kelanjutan ceritanya bu kost dan putrinya itu, pak? Jadi penasaran pingin baca kelanjutannya.

Baca tulisan ini saya jadi ingat cerita almarhum Bapak saya dulu, yang juga tinggal di kost di Jogja, dan dimanjakan oleh ibu kostnya, karena memang selain sopan santun, kebetulan si ibu kost punya putri yang ingin dia jodohkan dengan Bapak saya. Tapi sayangnya Bapak saya malah menikah dengan ibu saya. 🙂

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s