Puasa Bukan Hanya Tidak Makan dan Tidak Minum

Sebagian genteng lantai ke 3 rumah di Mesan seluas 1,5 m2 kugantikan dengan lantai beton cor. Pada “lantai ke 4”  ini kuletakkan tangki air untuk menyediakan air setengah meter kubik. Air kunaikkan dari tangki pada lantai 3 dengan pompa tambahan.
Menaikkan air dari dasar sumur sedalam 10 meter dibawah permukaan tanah hingga 14 m diatas permukaan tanah  kulakukan secara cascade agar tak membutuhkan pompa khusus dan penggunaan energi listrik dapat hemat, tangki pada  masing-masing lantai dapat dimanfaatkan untuk mensuplay lantai  dibawahnya, tak harus semuanya dinaikkan ke lantai teratas. Kerja pompa diatur secara  automatis oleh radar (skaklar pelampung ganda) yang banyak tersedia dipasaran.
Jerih payahku telah dinikmati oleh Yulia, Findi, Athor dan bu Ali yang menempati lantai dua saat pulang ruwahan. Dengan adanya tangki di “lantai 4” kamar mandi lantai dua kini dapat kulengkapi dengan heater gas yang tak dapat disuplay oleh tangki air dilantai ke 3 karena tekanannya kurang tinggi. Saat ini adalah musim dingin, sehingga sangat dibutuhkan pemanas air.
Mesin cuci dilantai dua dapat kualiri dengan air panas dari  pemanas berenergi  gas dilantai dua (bukan lagi pemanas berenergi  listrik yang disediakan oleh mesin cuci yang energinya relatif lebih mahal). Alat pemanas ini kuambilkan (kupindahkan) dari kamar mandi dilantai satu.
Pemindahan pemanas kelantai 2 telah kurencanakan sejak awal namun Tuhan YME belum mengizinkan karena tak dapat disuplay dengan tangki air dilantai 3  (tekanannya kurang besar). Penambahan tangki air dilantai 4 teryata sangat bermanfaat walau harus kulakukan dengan “perjuangan” yang tak ringan. Aku yakin jika persyaratannya telah kupenuhi pastilah rencanaku itu akan diizinkan oleh Tuhan YME sehingga dapat kuujudkan..
Alat pemanas dilantai satu usianya sudah lebih dari 15 tahun sehingga saat dinyalakan menimbulkan suara seram “wooog” . Endang takut menyalakan alat pemanas tua ini, sehingga dia sangat tergantung dari aku. Dengan memindahkan ke lantai dua di wilayah terbuka, suara seram itu tak terdengar dari kamar mandi yang biasa digunakan oleh Endang. Alat pemanas ini juga dapat menyediakan air panas untuk mesin cuci yang juga sudah seumurnya.
Aku berhasil menjadikan diriku terbebas dari tugas menyalakan pemanas air  setiap Endang akan mandi.
Selama dua minggu semuanya berjalan lancar, sampai suatu saat terjadi “musibah” kecil.
Ketika bangun tidur tanpa mimpi buruk aku “didamprat” isteriku karena ternyata air yang digunakan mandi adalah air dingin, sehingga dia menggigil kedinginan.
“Mungkin ada yang mematikan saklar pemanas air.”
“Jadi setiap kali aku harus naik ke lantai dua untuk menghidupkan pemanas air?”
Aku menghidupkan kran air panas di kamar mandi lantai 1, kutunggu beberapa saat ternyata air yang mengalir tetap dingin. Aku naik ke lantai dua, kulihat saklar pemanas dalam posisi on. Kucoba menghidupkan air panas yang digunakan untuk merendam pakaian diluar mesin pencuci, ternyata terdengar bunyi seram “wloog”, pemanas menyala. Setelah mematikan  kran air panas dilantai dua aku turun, kuhidupkan kran air panas kamar mandi lantai 1, ternyata keluar air panas.
Ketika kulaporkan pada Endang dia malah “marah” karena aku dianggap tak mempercayainya.
“Air itu tadi memang tetap dingin tetapi kini telah keluar air panas, Boleh dibuktikan.”
“Ya,ya…………aku telah difitnah oleh setan.”
“Kalau ternyata airnya tak panas, seharusnya jangan digunakan untuk mandi. Bangunkan aku.”
“Aku membangunkan orang tidur sementara aku bugil?”
“Lain kali jangan lepas pakaian sebelum air panas cukup tersedia untuk mandi.”
“Lain kali, lebih baik aku merebus air dari difitnah oleh setan.”
“Lho, terserah, pokoknya aku sudah berusaha mempermudah kehidupan ini.”
Aku meninggalkan Endang agar tak menjadi setan yang membatalkan ibadah puasanya.
Semalaman aku maneges, olah batin sekaligus olah fikir, mencari sebab mengapa kejadian yang hampir “membatalkan” ibadah puasa isteriku yang kujuluki Dewi Kwan Im, namun jika marah bagaikan Dewi Durga. Endang menuduh setan sebagai kambing hitam yang menjadikan dia menggigil kedinginan akibat pemanas air tak berfungsi. Apa yang dimaksud dengan setan oleh isteriku aku tak tahu, tapi tergelitik dihatiku……… yang dimaksud adalah aku karena aku tak berpuasa.
Ada kecurigaan pada fikiranku, kejadian itu disebabkan oleh tekanan gas yang terlalu tinggi, sebab siang tadi Parjono kusuruh mengganti tabung gas yang hampir kosong yang dapat berakibat fatal jika pemanas tiba-tiba mati saat sedang ada yang tengah mandi karena kehabisan gas.
Pagi-pagi aku membuktikan kebenaran dugaanku, ternyata pemanas berfungsi normal.
Sebelum kembali ke Jakarta Yulia memesan dua foto salon berukuran besar di Agata, selesai tgl 4-Agustus-2011 .Agar hemat beaya foto itu dibingkai di tukang bingkai dan baru selesai tgl 4 sore.
Tanggal 5 rumah kami tata ulang seharian, sehingga kami kelelahan, saat inilah aku mendapat hadiah dari isteriku gara-gara pemanas air tak berfungsi sehingga dia kedinginan. Pekerjaan belum seluruhnya usai dan akan kuteruskan esok harinya.
Tgl 6 Agustus 2011, hari Sabtu, pagi-pagi aku mengecek pemanas air yang menjadi “setan” yang hampir saja membatalkan ibadah puasa Endang, namun belum juga ku ketemukan.
Setiap tanggal 6 , kecuali jika jatuh hari Jum’at, rumah kami digunakan untuk tempat arisan ibu-ibu Mesan. Biasanya arisan dilakukan sesudah pukul 20.00 sampai selesai, jadi masih tersedia waktu untuk melanjutkan penataan rumah.
Anehnya……………… Endang telah menata ruangan yang biasanya digunakan untuk arisan. Pintu kamar tidurku yang menghadap ruangan yang ditata rapi itu ditutup karena dimanfaatkan untuk menempatkan kursi tamu. Aku pergi ke lantai dua membaringkan diri diruang tidur lantai 2 sambil berfikir tentang “setan:” yang mengganggu isteriku yang sedang berpuasa. Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon di lantai , aku tenang-tenang saja karena kukira akan diangkat oleh Endang yang ada dilantai satu sibuk menata ruangan yang akan digunakan untuk arisan.
Berkali-kali telpon berdering sehingga aku turun ke lantai satu. Endang ternyata telah mengangkat gagang telepon, tetapi sudah terputus. Kedatanganku disambut dengan “dampratan”, dikatakan aku masa bodoh, tak mau membantu menerima telepon.
Aku semakin penasaran ingin menangkap basah “setan” yang menjadikan isteriku berubah dari Dewi Kwan Im menjadi Bethari Durga.
Endang telah berpakaian rapi, duduk di ruangan tamu dengan gelisah. Ketika melihat bu Tanto didepan rumahnya Endang menemuinya dan berbicara beberapa saat kemudian pergi ke Maritim.
Telah lama Endang meminta aku mengganti bendera merah putih yang telah kusut dengan bendera merah putih yang baru, namun belum kuturuti. Mernjelang dan sesudah peringatan Proklamasi kami selalu mengibarkan bendera merah putih dilantai 3 persis ditepi jalan Mesan.
Pulang dari AMY Endang menghampiri aku yang sedang nonton TV di ruang keluarga. Setelah menyatakan terima kasih karena aku sudah memenuhi permintaannya, mengganti bendera lama dengan yang baru, dia duduk disampingku. Dengan mengelus dada Endang bergumam :” Paringana sabar!” Aku terperangah, kukira ada kaitannya dengan “ketegangan” yang sedang kami alami.Ternyata “dadanya” hampir meledak akibat merasa “disepelekan” oleh yang mengurusi arisan.
Bu Sarjono, mantan ibu RW 31 Mesan tadi akan menghadiri arisan yang sudah disepakati dimajukan pagi hari sehingga kedatangan para tamu telah ditungggu-tunggu oleh Endang. Ternyata arisan diundur tanpa memberitahu pada “tuan rumah” maupun bu Sarjono. Bu Tanto mengira pengunduran itu telah diberitahukan kepada “tuan rumah”. Untung saja yang kecele hanya bu Sarjono dan Endang tak menyiapkan minuman seperti biasanya.
“O, jadi arisan diadakan pagi hari………………. makanya tumben pagi-pagi Utie sudah sibuk. Seharusnya kalau dimajukan pagi hari aku diberi tahu biar aku tak merasa disepelekan, ini namanya…………. satu- satu. Yang menyepelekan akan disepelekan.”
“Nah cari perkara, dadaku ini sedang sesak Kung!”
“Maaf! Aku pasti dianggap bersekongkol dengan setan , padahal maksudku agar Utie mawas diri, jangan menyalahkan mereka.”
Hari ini ruangan didepan kamar tidurku tak digunakan untuk arisan ibu-ibu sehingga aku tak perlu hijrah ke lantai dua. Aku duduk ditempat tidur untuk maneges (introspeksi) apa salahku sehingga akhir-akhir ini istriku selalu uring-uringan. Maneges bagiku merupakan upaya untuk mendapatkan bimbingan dari Tuhan YME, tetapi aku tak pernah mendapatkan :” wisik” melainkan selalu terbesit dalam benakku : “Pikiren!” Dahulu aku merasa “kecewa”, karena Tuhan YME tak memberikan petunjuk kepadaku, tetapi kemudian aku merasa bersyukur karena Dia telah mengizinkan aku menggunakan fikiran untuk memecahkan masalah yang kuhadapi.
Menurut pemikiranku ada beberapa sebab yang menjadikan Endang selalu uring-uringan:
1. Mbah Harun cuti 1 minggu untuk melakukan ziarah kubur terkait dengan bulan ruwah sehingga semua pekerjaan harus dilakukan Endang. Aku berusaha meringankan tugasnya dengan melengkapi mesin cuci pakaian dan cuci piring dengan pemanas gas, air bertekanan tinggi yang dapat meringankan tugas mencuci pakaian dan mencuci piring/ peralatan dapur. Mungkin upayaku ini belum cukup dan dia berharap aku tak bersikap sebagai “Ndara Tuan.”.
2. Endang akan menerima pengajian, aku menyarankan tak perlu dilakukan dengan tikar atau karpet melainkan dengan kursi yang telah tersedia dan secara rotin dimanfaatkan untuk arisan. Saranku tak digubris karena dia mengharapkan bantuan dari Urip dan Tito untuk membantunya. Ternyata Urip mempunyai kepentingan sendiri untuk melakukan aqiqah anaknya yang semata wayang dan menginjak dewasa serta syukuran karena anaknya ini diterima di perguruan tinggi negeri. Bingkisan aqiqah dan syukuran akan “dibagikan” sehabis pengajian.
Seharusnya yang harus menerima pengajian empat orang, yaitu bu Suriem, bu Mantien, Wid (istri Urip) dan Endang. Kenyataannya: bu Suriem tak dapat membantu karena suaminya baru saja meninggal,Wid sibuk mengurusi kepentingannya sendiri.
3. Urip membantu mengurusi snack, tetapi toko snack tak bersedia menyiapkan dalam kemasan/kardus, sehingga harus dilakukan sendiri oleh Endang sebelum tamu datang.
4. Bu Mantin yang sanggup menyiapkan minuman (lengkap dengan peralatannya) membuat kebijaksanaan sendiri, minuman akan disajikan usai “ceramah”, sehingga Endang harus membuat minuman agar tak perlu menantikan minuman yang disajikan oleh bu Mantin.
5. Aku telah menyiapkan pengeras suara dan kuminta Widya yunior, anak Urip, sebagai operatornya. Ternya Widya tak siap melakukan tugasnya, sehingga untuk sementara pengeras tak berfungsi, dan harus menunggu bantuan dari bapaknya yang sedang sibuk mengurusi bingkisan syukurannya.
6. Sehabis pengajian kursi ditata lagi oleh Urip dan Tito, tetapi………………… karpet tak ada yang mengurusi. Esok harinya mbah Harus mendapat tugas berat mengangkat karpet ke lantai dua, menjemur digenteng dan mengembalikan ke gudang dilantai dua.
7. Beberapa hari sebelumnya anak-anak kami (Ida dan Diana) meminta kami jangan mengerjakan yang berat-berat, aku diminta untuk memanfaatkan Parjono dan kemenakannya (Nurdin) yang sedang bekerja di Mesam. Endang tak menggubris saran anak-anak karena telah memiliki rencana sendiri.
8. Selesai mengerjakan tugas berat mbah Harun tak masuk, alasannya badannya sakit akibat terkilir padahal sebelumnya mbah Harun sudah cuti ruwahan, hingga saat Yulia, Findi, Athor dan bu Ali tinggal di Yogya dalam rangka ruwahan di Jogya urusan rumah dikerjakan sendiri oleh Endang, tanpa bantuan mbah Harun. Untung Yulia dan anak-anaknya dapat mengurusi diri .
9. Tanpa diduga kemenakan suami Yulia nongol di Yogya, padahal ibunya (Yanti) telah melarangnya. Anak ini baru saja dari Jakarta dan sebentar lagi harus membayar kuliahnya, sehingga perlu berhemat.Yulia sebenarnya sependapat dengan Yanti namun demi mertuanya (bu Ali) yang sangat meyayangi cucu-cucunya anak, yang tak patuh pada ibunya ini diterima juga. Dua hari tamu tak diundang ini ngendon di rumah kami, ternyata dia manja dari hidup dalam mimpi, hingga selalu membuat susah orang lain.
Saat mau kembali ke Semarang anak mbandel ini diantar ke terminal Bus dengan mobil oleh Yulia .Saat bus akan berangkat ternyata HP nya tertinggal, katanya tertinggal di mobil. Dicari di mobil tak ada, lalu ditelusuri ke penjual tiket. Untung si penjual tiket jujur, sehingga HP BB yang termasuk mahal itu diketemukan. Kejengkelan Yulia ini diceriterakan kepada Endang yang sedang keletihan.

Mungkin kalian menganggap aku mencari kambing hitam, namun sebenarnya aku cuma sekedar mencari sebab mengapa isteriku belakangan menjadikanku keranjang sampah.

Terdengar dering telepon di kamar sebelah, aku bangkit dan bergegas menuju ke kamar itu, khawatir kalau telpon itu mengganggu persiapan berbuka puasa Endang.
Dari telpon terdengar suara Ida menanyakan mengapa tadi pagi dia menelpon ke rumah Mesan tak ada yang mengangkat telpon. Kuceriterakan apa yang sedang terjadi di rumah yang biasanya dipenuhi keceriaan, justru di bulan Romadhan terjadi hal-hal yang suram.
Komentar Ida:” Karena Akung tak menemani Utie berpuasa.”
“O, jadi………… Akung harus munafik?”
“Bukan munafik, melainkan menyesuaikan diri dengan Utie.”
“Apakah Wandi dan anak-anak kalian harus menemani Ida berpuasa?”
“Lho, kalau aku sih sudah niat puasa ya tak meminta yang lain ikutan berpuasa.:”
“Utie lebih dari Ida, sangat tinggi toleransinya.”
“Kalau begitu coba cari sebabnya mengapa kali ini Utie suka uring-uringan.”
“Aku baru maneges dan menganalisanya, semoga Tuhan YME membimbing kami keluar dari suasana yang tak mengenakkan ini.”
“O,ya…………kami akan tour ke Hongkong dan Cina. Akung dan Utie minta oleh-oleh apa?”
“Utie itu suka parfum dan perhiasan, kalau Akung……….. bawakan Dewi Kwan Im.”
“Bosan ya dengan Utie?”
“Bukan Utienya, tapi Durga nya!”
Saat berbuka puasa aku menemani isteriku makan.
“Tumben Akung makan di rumah, tak punya uang ya?”
“Akung dipercaya kok ngutang. Malah kalau Akung lama tak jajan ditanya sebabnya.”
“Jawabnya pasti bohong.”
“Kalau Akung katakan masakan istri sedang in………. maksudnya sedang enak, bohong tidak?”
“Ya,ya……. aku ini isteri yang jelek.”
“Bukan jelek, tetapi sensitif alias perasa. Mending aku tak makan dari memberikan kritik.”
“Aku lebih suka dikritik, tetapi………..yang membangun, dari pada Akung jajan sembarangan.”
“Membangun bagaimana.”
“Katakan:…….kurang asin, kurang manis………atau kurang apalah.”
“Kurang nyos!”
“Tentu saja, aku tak mau menggunakan bumbu masak, lemak kubersihkan…….. semua demi kesehatan kita.”
“Bukan itu! Menurut aku………..Utie kalau masak selalu banyak, sehingga bumbunya comprang-campreng. Buktinya……….. semakin lama, semakin di ngat-nget, semakin terasa.”
“O ya, siapa tadi yang nelpon? Bukan cewek itu kan.”
“Ya……. cewek itu, maksudku Ida.”
“Ada keperluan apa?”
“Telpon saja, bicara sendiri langsung, agar tak kumanipulasi.”
Minggu, 7 Agustus 2011.
Udara sangat dingin, aku duduk menikmati segelas STMJ panas didepan TV., isteriku merebahkan diri di sofa,duduk merapat disisiku. sehingga kami berhimpinan mesra mencari kehangatan tubuh satu dengan yang lain. Tiba-tiba kusadari isteriku sedang melakukan ibadah puasa sehingga aku menjauh.
“Masih marah ya?”
“Lho yang marah siapa?”
“Atau sudah bosan kok menjauh dariku?”
‘Aku tak mau bersekongkol dengan setan yang mengganggu ibadah seseorang.”
“Yang kusebut setan itu pemanas air, bukan Akung,”
“Mengapa yang kena marah aku?”
“Ya, karena akung tak percaya kalau air itu memang dingin dengan menyuruhku membuktikan sendiri kalau air yang keluar panas.”
“Kenyataannya demikian.”
“Itulah sebabnya kukatakan aku difitnah setan. Akung tak percaya pada laporanku, akibat ulah setan.”
” Itulah jika kita tak menggunakan logika nyata hingga menjadikan setan sebagai biang keladi segala masalah yang tak menyenangkan diri kita, tetapi itu masih jauh lebih baik dari pada menjadikan Tuhan YME sebagai keranjang sampah, misalnya……………pasangan cerai dikatakan merupakan kehendak Allah.”
“Nah,mulai……. mulai kotbah minimalis, karena tak sanggup mencari akar permasalahan yang sedang kita hadapi, gunakan logika fikir Kung. Belakangan ini aku capek,lelah dan jengkel.”
“Aku sudah mengira…………… Tetapi menurutku dengan melakukan ibadah puasa Utie dapat mengatasi semua godaan itu.”
“Aku belum mengatakan…………..aku kehilangan perhiasan.”
Mendengar “pengakuan” Endang itu mendadak aku teringat olehku beberapa hari yang lalu aku menemukan benda yang kukira gantungan kunci. Aku bangkit dari duduk dan bergegas menuju kamar mandi. Kucari barang yang kuselipkan disuatu tempat, ternyata masih ada ditempatnya.
Sementara aku mengambil barang misterius itu Endang telah dipintu kamar mandi.
“Apakah ini?”
Demi melihat barang yang “hilang” akibat “kuumpetin” Endang sangat gembira, barang itu diterima dan diciumi sambil berguman : “Ya Allah,………….. terima kasih…………….terima kasih atas kemurahan Mu!” Perilakunya seperti kanak-kanakan yang menemukan permainannya
Kutinggalkan Endang yang sedang bereforia itu, tanpa kuduga dia “menyergap” tubuhku , memeluk dan menghujani mukaku dengan ciuman.
“He,he…….. jangan jadikan aku setan!. Ingat…Utie sedang berpuasa!”
“Akung itu mukhrimku.”
“Jadi……….. puasa tak batal kalau Utie melampiaskan nafsu pada mukhrimnya?”
“Ya, karena aku tak dapat menahan rasa gembiraku.”
“Utie lebih tahu masalah norma agama dari aku, jadi………..” kataku sambil memeluknya dengan mesra karena Endang berani menanggung risikonya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s