Sambungan Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (12)

Kamar Limbuk Cangik yang masih terbengkelai  ku kemasi karena dipesan oleh suami istri. Istrinya akan mengontrak setahun, tetapi suaminya menyatakan akan mencoba dulu satu bulan.

Ternyata sang suamilah yang menentukan sehingga hanya membayar satu bulan. Bagiku tak menjadi masalah karena mereka membawa perabotan sendiri Keluarga muda itu membawa anaknya yang masih kecil, usianya sekitar 4 tahun, namanya Jemi.

Saat aku datang ke Plemburan, Jemi sedang bermain-main di kolam yang ada didalam wilayah ruangan tamu. Di pintu memasuki ruang tamu terpasang peringatan:

  1. 1.     1. Disediakan ruang khusus untuk merokok sehingga tak diperkenankan merokok diruangan tamu atau ruangan tidur.
  2. 2.     2. Memasuki ruangan tamu alas kaki harus dilepas.
  3. 3.    3.  Penghuni kost bertanggung jawab terhadap anak kecil yang ikut menghuni kost dan yang ikut tamu nya.
  4. 4.    4.  Setiap penghuni harus menjaga ketenangan dan kebersihan.
  5. 5.    5. Setiap penghuni harus mematuhi peraturan yang berlaku diwilayah kost.

Jimi masuk kedalam kolam, mengobok-obok kolam untuk menangkap ikan yang ada disitu.

Kuminta dia keluar dari kolam, ternyata anak itu menurut.

Aku sangat terkejut ketika dipintu masuk Ruang Limbuk cangik terdapat tulisan beraneka ragam, padahal pintu itu baru saja dibersihkan oleh Parjono, pengelola kost. Kupanggil Par dan kutunjukkan pintu yang telah tak bersih lagi, tetapi ternyata tulisan dan boneka-boneka kecil itu hanya terbuat dari sejenis lilin (was) warna warni yang ditempelkan sehingga mudah dibersihkan.

“Bersihkan pintu, jangan mengotori pintu, ini tak menjaga kebersihan.”

Beberapa hari kemudian aku datang, keadaan belum berubah. Kupanggil Parjono kusuruh membersihkan, tetapi menolak sebab yang menempel itu orang sinthing.

Parjono menjelaskan bahwa ibu Jimi itu tak waras karena baru saja kedua orang tuanya meninggal, lalu menceriterakan perihal penghuni baru itu.

“Waduh…………….. jika begitu dapat runyam, mengganggu yang lain. Kost ini bisa konyol.”

Sehari kemudian Fitri, seorang penghuni kost yang sedang menyelesikan es dua nya, memprotes karena aku  mengizinkan anak kecil ikut menghuni kost. Dia trauma sebab mobilnya digores-gores dengan anak kunci oleh seorang anak penghuni kost yang membawa anaknya. Anak itu juga memasukkan pasir ke dalam mesin cuci. Waktu itu aku berjanji akan melarang anak kecil ikut menghuni kost.

Endang mengingatkan, bahwa kami mempunyai cucu, bagaimana jika anak kami dilarang mengontrak gara-gara punya anak kecil.

Itulah sebabnya peraturan yang kubuat masih mengizinkan penghuni kost atau tamunya membawa anak kecil, namun semua perbuatan si anak menjadi tanggung jawab penghuni kost yang membawa anak atau tamunya membawa anak kecil.

“Maaf Fitri, saya tak tega melarang anak kecil datang atau menghuni kost ini.”

“Wah, kalau begitu ketenangan kami akan terganggu.”

“Nah itulah sebabnya yang membawa anak kecil harus bertanggung jawab. Jika ternyata melanggar tata tertib kost, sangsinya adalah tak boleh memperpanjang kontraknya.”

“Jadi………….kami harus menunggu sampai terjadi pelanggaran peraturan?”

“Tentu saja, malah sebelumnya harus diberi peringatan terlebih dulu, baru ditindak.”

Agaknya Fitri dapat menerima argumen ku. Mendengar percakapan itu Lis, istri Parjono yang juga punya anak sebaya Jimi mengomentari.

“O, perempuan kok tak suka anak, nanti sulit punya anak.”

“Hussss, jangan asal ngomong! Apa yang suka anak anaknya ndrindiiiil seperti kelinci.”

Dibawah asuhan ibunya Jimi tergolong hiper aktif sehingga sering tak terkontrol, misalnya mencoret dinding, membersihkan mobil dengan lap kotor bahkan sapu lidi, mempreteli sepeda mainannya…………… dan setiap ada kesempatan akan keluar dari pintu gerbang berlarian ke jalan yang dilewat kendaraan berkecepatan tinggi. Se tiap  saat ibunya menutup pintu gerbang sehingga menghalangi kebebasan mobil memasuki kompleks  kost.

Suatu saat si kecil ini masuk keruang tamu, naik turun dan melompat-lompat diatas sofa, ibunya membiarkannya.

“Lho, nanti jatuh!” aku memperingatkan. Anak itu agaknya “takut” padaku, sebab saat itu kebetulan aku membawa gergaji membantu Parjono membetulkan plaform, tetapi ibunya malah melotot seakan dia “marah” kepadaku.

Seminggu kemudian “muncul” perempuan setengah baya bersama “menghilangnya” ibu Jimi.”. Menurut Parjono dia adalah ommanya Jimi, sedangkan ibunya Jimi sedang pergi keluar kota.

Dalam asuhan ommanya si kecil Jimi diawasi dengan ketat, sehingga kebebasan Jimi sangat dikekang. Aku pernah mengalami nasib serupa dengan Jimi, sehingga berusaha mendekatii Jimi dan ommanya.

Omma Jimi sangat protektif pada cucunya sehingga Jimi hanya keluar dari kamarnya jika bersama omma nya. Kedua orang tua Jimi juga sangat sayang, ini terbukti disediakan berbagai permainan, TV dilengkapi dengan parabola, tersedia piano, sepeda kecil, dll. Jimi tak mau diajak oleh siapapun atau diberi apapun oleh orang lain.

Selama dalam asuhan ommanya  tak ada masalah dengan perilaku si kecil ini, sehingga kami mengizinkan kepada keluarga Jimi untuk memperpanjang kontraknya.

Sebulan kemudian omma Jimi mengatakan bahwa dia akan kembali ke Jakarta sebab “si gila” itu akan pulang. Yang di maksud si gila adalag ibu Jimi.

“Waduh, jangan begitu……….. menantu kok dikatakan gila, nanti Jimi akan mengatakan ommanya gila.”

“Lo, aku kan waras, coba  tanyakan pada pak de Par dan bu de Lis. Kalau dia itu memang gila, coba saja mana ada orang bicara dan tertawa  sendirian.”

“Saya juga sering bicara sendirian, tapi saya tidak gila.”

“Saya juga, tapi bicara lewat HP. Dia itu………….”

“Situ ketinggalan zaman. HP nya nempel ditelapak tangannya, tak ada yang melihat.”

“Wah simbah ini mbelain orang gila.”

“Itu namanya saya waras. Orang gila tak akan mbelain sesama orang gila kan?”

“Pokoknya Jimi akan saya ajak ke Jakarta.”

“Lho,lho………… nanti mamanya Jimi  semakin gila.”

“Biar dimasukkan ke rumah sakit gila.”

“Wah,wah……. kejam sekali.”

“Saya akan suruh pilih pada anak saya, kasihan pada yang gila apa yang waras.”

Mama Jimi “nongol” bersama “raibnya omma Jimi. Tetapi Jimi tak diajak oleh ommanya.
Suatu saat mamanya Jimi akan pinjam kendaraan Lis, tetapi Lis menolaknya karena kendaraannya akan dipakai. Lis terpaksa pergi dan kembali petang hari.
“Lho ini namanya kamu ikut-ikutan gila,” kataku.
“Habis kalau saya dirumah, kendaraan akan dipinjam, padahal dia itu kurang waras.”
“Katakan pada suaminya yang waras, suruh membelikan kendaraan.”
Beberapa hari kemudian ternyata papanya Jimi sudah membelikan kendaraan roda empat, padahal dia sendiri juga memiliki kendaraan roda empat.”
Agaknya penghuni kost lainnya mengikuti jejak keluarga Jimi. Beberapa penghuni kost yang telah berkeluarga, suami istri, masing-masing “membawa” kendaraan roda empat sehingga area parkir dipenuhi roda empat.
Untuk mengatasi kepadatan area parkir kami hanya menyediakan area parki satu kendaraan bagi satu kamar.
Semua mematuhi, kecuali keluarga Jimi. Setiap kali tahu aku datang, cepat-cepat si sinthing itu pergi dengan mobilnya.
Celakanya, kalau datang lagi mobilnya di parkir didepan pintu masuk area parkir, sehingga mengganggu kendaraan lainnya.
Suatu saat Jimi diajak ibunya naik dilantai tiga yang masih terbuka, belum ada pagarnya. Par sangat khawatir dan memperingatkan untuk segera turun. Jimi malah melambaikan tangan sambil berlarian kian kemari, sehingga terpaksa dipaksa turun oleh Parjono. Hal itu dilaporkan kepadaku. Kukatakan: Keluarga Jimi tak boleh memperpanjang sewa gara-gara perbuatan si sinthing itu, tetapi Lis membelanya dan menyarankan agar menutup jalan dan tanggga menuju ke lantai tiga. Disisi lain Lis juga melaporkan : Penghuni kost memang merasa terganggu dengan kelakuan ibunya Jimi, sebab kalau sedang marah perempuan itu berteriak-teriak tanpa mempedulikan waktu.
Kuminta Parjono atau Lis memberitahukan kepada papanya Jimi bahwa mereka tak kami izinkan memperpanjang “kontraknya”, tetapi kedua pengelola kost Pondok Jogja itu tak bersedia, sebab sangat kasihan pada Jimi dan papanya.
Aku terpaksa menemui papa Jimi dan memberi tahukan agar mencari rumah lain dengan alasan tanggal 1 Agustus 2012 ruang Limbuk cangik akan kupakai sendiri.
Menurut Lis sebenarnya papanya Jimi sudah merasa akan “digusur” lagi . Ternyata mereka sudah berkali-kali pindah tempat karena kelakuan istrinya.

Lis menceriterakan latar belakang mengapa mamanya Jimi mengalami nasib “buruk”, stress.
Kedua orang tua Jimi lulusan perguruan tinggi di Malang. Mama Jimi anak pengusaha kaya, anak ke dua dari dua bersaudara. Orang tuanya meninggal, kakaknya seorang pendeta sehingga menyerahkan seluruh harta warisannya kepada bibinya.
Sebelum menikah Mama Jimi merupakan prima dona di “sekolahnya”, kehidupanny gemerlapan karena di manjakan oleh orang tua dan lingkungannya. Kakak mama Jimi sebaliknya, dia lebih menekankan kehidupan spiritualnya sehingga sangat dekat dengan keluarga bibinya yang sangat patuh pada agamanya.
Kehidupan keluarga Jimi sebenarnya berkecukupan, karena papa Jimi seorang broker tanah. Papa Jimi seorang lelaki yang bertanggung jawab sehingga juga memanjakan isterinya. Dia mengikhlaskan warisan dari mertuanya dan berusaha mandiri. Hal ini menyebabkan mamanya Jimi merasa “terjepit” karena merasa tak mendapat dukungan dari suaminya untuk menuntut hak warisan.
Sering kali perempuan yang tak mensyukuri mempunyai kakak dan suami yang “baik” hingga tak peduli pada warisan orang tua menjadi stress. Saat, kecewa pada keadaan yang sedang dialami dan tenggelam dalam mimpi mama Jimi tersenum, bicara sendiri atau berteriak-teriak sesukanya, dia sama sekali tak peduli dengan lingkungannya. Dalam kondisi normal/setengah normal mama Jimi sangat memanjakan Jimi.
Ruang yang sangat sempit itu dipenuhi dengan peralatan rumah tangga modern diantaranya sebuah piano, home teatre dan antena parabola indovision. Mereka memiliki sebuah mobil (kemnudian membeli lagi). Jadi secara materi mereka lebih dari kecukupan, namun sang istri agaknya sudah terbiasa hidup bergelimangan harta saat kedua orang tuanya masih hidup.

Kutanyakan pada Lis, yang patut dikasihani: Jimi dan papanya yang waras atau mama Jimi yang “sinthing”?
Jawabnya: “Yang waras!”
Itu logis, sebab yang waras sering mengajak Wahyu, anak Lis menemani Jimi ke tempat-tempat bermain, mol dan rumah makan.
Agar Wahyu tetap dekat dengan Jimi kusarankan keluarga Jimi mengontrak rumah milik Par atau kalau perlu membelinya.
Par memprotes sekaligus menjajagi sikapku: “Kalau saya jual rumah kami apakah selamanya kami diizinkan tinggal dirumah mbah Ibnu?”
“Lho, rumah ini bukan milikku, rumah ini milik oom Bagus.” Jawaban ini sebagai balasan atas jawaban mereka ketika kuminta menyampaikan pemberi tahuan kepada papa Jimi bahwa mereka tak diizinkan memperpanjang “kontraknya”. Katanya (saat itu) : ” Lho yang menerima uang mbah Ibnu kok kami yang diminta menghadapi keluarga yang membawa masalah itu.” kata Lis.
Par menyambung: “Pokoknya kami tak akan menjual rumah kami, kalau dikontrak boleh, tetapi oleh orang waras, bukan orang gila, pembawa sial.”
“Jadi kalian tak kasihan pada orang gila?”
“Saya takut ikut gila,” saut Lis.
“Penyakit gila itu tak menunar, berbeda dengan penyakit gila pada anjing.” aku memberti pengertian.
“Kata mbah Ibnu saya ikutan gila lantaran tak betah dirumah takut kendaraan saya dipinjam.”
“Kalau anakmu terlalu dekat dengan Jimi dia akan membuat kamu gila.”
“Lho kok aneh.”
“Wahyu dapat mabuk kepayang lantaran ikut dimanjakan oleh papanya Jimi, diajak ke mol, tempat permainan,……..”

Itulah yang menjadikan aku terimbas gila karena tega “menggusur” mereka yang bernasib malang.
Aku sangat kagum pada papa Jimi , namun kenyataannya dia seharian bekerja (tak ada dirumah), pulang sering larut malam, sehingga yang harus menghadapi mama Jimi adalah Lis dan Par. Kalau mamanya sedang waras Jimi ada yang mengawasi walau dibiarkan bebas namun dikuntitnya, tetapi kalau mamanya sedang “kumat” anak kecil yang sangat hiper aktif ini sangat mengkhawatirkan.
Saat dalam asuhan ommanya Jimi sangat patuh pada ommanya, tak mau menerima sesuatu atau bujukan orang lain, tetapi setelah ommanya pergi…………. keadaannya berbalik.. Aku khawatir si kecil ini akan keluar ke jalan raya yang dilalui kendaraan berekecepatan tinggi , sebaliknya kadang-kadang sangat lengang dan memungkinkan terjadinya kejahatan. Jimi kini mau ikut siapa saja dan mudah dibujuk orang yang tidak dikenalnya. Hal ini disebabkan dia sering diajak dan diberikan sesuatu oleh penghuni kost lainnya yang merasa belas kasihan pada anak yang malang ini.

Dalam mencari jodoh orang Jawa mempertibangkan tiga faktor: : Bibit, bobot, bebet. Aku sendiri kurang memahami maknanya, namun aku menafsirkan:
1. Bibit kumaknakan keturunan atau genetik, yang erat kaitannya dengan organisme.
2. Bobot kumaknakan martabat, harta, pendidikan, kedudukan atau kasta, yang erat kaitannya dengan materi.
3. Bebet kumaknakan penampilan, wajah, yang erat kaitannya dengan budaya dan lingkungan.
Aku ingin menambahkan:
4. Budi pekerti: yang maknanya kelakuan, perbuatan, dan kejujuran.
5. Cinta: sering kali tak rasional/gaib yang sanggup mengalahkan semua pertimbangan.

Menurut ku Jimi adalah hasil dari buah cinta yang mengalahkan segalanya, sebagai yang kusebutkan sebelumnya.
Aku pernah menulis tentang cinta: Cinta berbeda dengan kasih. Cinta dan kebencian bagaikan seutas rambut dibelah sejuta. Cinta itu posesif, fihak yang mencintai berharap yang dicintai mengimbanginya dengan cinta sebagai yang diharapkan oleh yang mencintai, jika tidak dapat berubah menjadi kebencian.

Pada saat “stres” keras, mama Jimi meluapkan amarahnya terhadap papanya Jimi dengan berbagai umpatan,yang mengungkapkan kebencian terhadap suaminya; itulah sebabnya aku sangat hiba, aku berharap papa Jimi mengimbanginya dengan kasih, sehingga Jimi dapat terselamatkan.
Menurut Lis, belakangan papa Jimi rezkinya melimbah sehingga dapat memenuhi keinginan istrinya dalam masalah materi, tetapi untuk menyambut rezki dia harus “membanting tulang”, bekerja sampai larut malam.

Idealnya dengan kasih, sebab kasih itu artinya “memberi”, diantaranya tetap memberikan kebebasan kepada pasangannya, tanpa mengharapkan pasangannya menuruti kehendaknya. Ada nyanyian: Kasih ibu kepada beta bagaikan sang surya menyinari dunia………………”
Barang siapa terlalu berharap akan berbuah kekecewaan

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s