Sambungan Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (13)

HADIAH MENJELANG ULANG TAHUN EMAS PERKAWINAN KAMI
Tgl 21 Agustus 2012 perkawinan kami berusia 50 tahun. Keluarga kami akan berkumpul di Yogya. Yuningtias, menantuku yang tinggal di Amerika sudah datang bersama kedua anaknya, Wicaksana dan Adis, suaminya, Sigit SP akan datang tanggal 19 Juli  2012.
 
Yuningtias  adalah seorang Psycholog, sehingga aku berharap dia dapat memberi wawasan tentang penyakit jiwa, termasuk yang sedang dialami oleh mama Jimi. Siapa tahu dapat memberikan konsultasi mengatasi penyakit jiwa.
Kuceriterakan perihal masalah yang sedang kuhadapi, termasuk kasus mamanya Jimi.
Diluar dugaanku, dia malah “menyarankan” agar mama Jimi dirawat di Rumah Sakit Jiwa, sebab menurut dia jika tak diobati penyakitnya akan semakin parah dan membahayakan diri, keluarga dan lingkungannya.
Belum selesai diskusi kami terdengar telpon berdering, Endang menerimanya, ternyata Bagus ingin bicara dengan aku.
“Ya, apa kabar Gus?”
“Baik-baik. Bapak sedang apa?”
“Sedang omong-omong dengan mbak Yuning.”
“Aku boleh menyela?”
“Ya, ada apa.”
“Aku dapat emil dari Magdalena menanyakan apakah peraturan yang berlaku di Podok Pak B 76 masih berlaku? Katanya kini penghuninya dapat bebas merokok.”
“Lho, kok menanyakan kepadamu, mengapa tak bertanya kepadaku?”
“Pada peraturan yang kubuat kunyatakan jika ada masalah boleh menyampaikan kepadaku atau kepada bapak.”
“Maaf Gus, aku telah lancang. Aku mengizinkan penghuni merokok di wc. Maksutku agar tak mencuri-curi merokok di kamar tidur.”
“Aku sudah biasa kok dilancangi bapak.”
“Aku sudah memberitahukan kepadamu, tanpa meminta izin, setiap wc dan kamar mandi ku berikan exhauser, maksunya agar asap rokok keluar, tak menyebar kesekelilingnya.
“Kalau itu aku setuju,” tetapi katanya ada yang merokok di kamar tamu.”
“Benar, tetapi menurut Par yang merokok di kamar tamu bukan penghuni, tetapi tamunya. Aku memang mencium bau rokok di kamar tamu  oleh karena itu kuberikan ventilasi dengan melepas beberapa kaca dan menggantikan dengan kasa. Kaca itu sementara kusimpan hingga aku dapat mengatasi bau rokok.”
“Sudahlah, bapak beri penjelasan kepada  Magda dan yang lain yang merasa terganggu dengan asap rokok.”
“Baiklah, aku akan berusaha berlaku adil bagi yang merokok dan yang anti rokok.”
 
Beberapa saat yang lalu  kami dapat kabar dari Yulia yang memberi tahukan Fanda, anak ke tiga keluarga Yulia Effendi, diterima di Fakultas Tehnik Arsitek Jurusan  Planologi UGM.
Yang diinginkan Fanda adalah jurusan Tehnik Informatika di UI sebagai kakaknya, tetapi ternyata dia diterima di jurusan Arsitek di UGM.
 
Sebenarnya Fanda sudah di terima di UPN di Jakarta dan hasil tesnya sangat memuaskan sehingga mendapatkan bea siswa. Tetapi Fanda “memilih di UGM”.
Yulia pernah menyatakan:” Kami  tak akan mengizinkan anak-anak kuliah di Yogya karena akan merepotkan Akung dan Uti.”
 
Endang mula-mula gembira cucunya di terima di UGM, tetapi aku secara tegas menyatakan lebih baik Fanda kuliah di UPN Jakarta, sebab pacar Fanda kuliah di jurusan biologi UGM.
 
Endang sebenarnya juga berpendapat  lebih baik Fanda kuliah di Jakarta, sebab di Jakarta dia disamping sekolah dan kuliah dapat “menghasilkan” uang dari sanggar ibunya.
 
Aku berusaha mencari informasi tentang kuliah di UGM, ternyata uang masuknya tinggi. Aku khawatir masuknya Fanda ke jurusan yang tak diinginkan sekedar “pelarian” untuk nantinya tetap ngotot masuk ke jurusan informatika. Lebih celaka lagi jika hanya sekedar untuk dekat dengan pacarnya.
 
Senja hari ada dua orang alumnus AMY datang, ternyata membawa masalah bagi Endang. Mereka meminta pertanggungan jawab atas tindakan “pengelola”  AMY gara-gara beberapa orang sinior di amankan polisi karena memperlakukan yuniornya dengan semena-mena. Para senior itu telah di bebaskan berkat bantuan dari para alumnus.
 
Siang nanti akan diadakan rapat di kampus AMY, tetapi ruang pertemuan yang sanggup menampung peserta rapat ada di lantai tiga. Tangga ke lantai tiga sangat terjal sehingga sangat menyulitkan Endang yang menderita osteoporosis. Kusarankan Endang datang ke kampus, siap untuk “ikut” mempertanggung jawabkan atau mendinginkan suasana jika dibutuhkan.
Beberapa hari sebelum kedatangan Yuningtias aku “menyiapkan” starlet yang telah lama tak terpakai gara-gara aku “dilarang” oleh anak-anak mengendarai kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Hal ini dikarenakan aku pernah jatuh terpuruk di wc hingga harus dirawat di Betesda seperti yang pernah kuceriterakan pada STPH sebelumnya. (Silakan baca” Telepon dari malaekat penyelamat).
Sebenarnya aku juga “dilarang” mengendarai roda dua, tetapi kukatakan, kalau aku dipenjarakan dirumah aku akan kehilangan nafsu hidup. Agaknya mereka masih menginginkan aku tetap “bersemangat” menjalani kehidupan, sehingga membolehkan aku mengendarai roda dua.
Suatu saat aku terjatuh tertimpa mio saat aku berhenti dipinggir jalan. Kakiku yang terluka bagian kanan, tetapi yang terasa teramat sakit/panas kaki kiri. Semua menyarankan aku ke dokter atau ke ahli pijat, tetapi aku menolak.
Aku berusaha mendiaknosa penyakitku yang gejalanya sangat mirip dengan yang dirasakan Endang. Aku meminta izin istriku untuk ikut mengkonsumsi pil ostio . kapsul minyak ikan, dan Hilow, ternyata rasa nyeri dikakiku berangsur berkurang.
Aku dapat berjalan tanpa menggunakan alat pembantu sehingga diam-diam aku membawa cpu ke reparatur, sebab alat ini sangat penting untuk kebutuhan administrasi, diantaranya menagih uang listrik anak-anak kost. Tanpa diduga Bagus menilpun kerumah dan diterima oleh Endang, sehingga dia mencari aku.
HP ku mencua-cuap memanggil, ternyata Bagus menelponku dari Australia karena sangat khawatir jika terjadi sesuatu atas diriku. Kukatakan aku sudah sembuh.
Bagus meminta aku menyuruh Parjono untuk mengemudikan mobil sewaktu-waktu ingin bepergian.
Sore hari Sigit,Ida dan Yulia juga menelpon akan mencarikan sopir jika Parjono sedang bekerja pada orang lain.
Bagiku hal itu sangat tak efisien, sebab kami jarang bepergian. Setelah “tawar menawar” aku berjanji tak akan mengendarai mobil, tetapi aku tetap ngotot untuk tetap mengendarai Mio, sebab tanpa kendaraan roda dua aku akan terpenjara dan akan menjadi “bosan” hidup. Mereka terpaksa menerima, sebab mereka sangat mengenal orang tuanya yang sangat mengagungkan kemerdekaan.
Kemarin pagi, tgl 12-Juli-2012, Diana menelponku menanyakan masalah penghuni kost yang membuat masalah. Dia mengatakan agar aku menyarankan mereka mencari dan membeli rumah, bukan menyewa atau mengontrak, sebab dengan memiliki rumah sendiri tak akan ada yang berhak “menggusurnya”.
Kesempatan ini kugunakan untuk memberi tahukan bahwa dapur Sembadra ada yang akan mengontrak, ternyata Diana tak mengizinkan.
Dapur Sembadra terletak dibagian yang sangat strategis namun sangat tinggi privasinya. Terletak disudut rumah bagian depan, namun tak dilewati oleh orang lain. Dapur Sembadra yang ukurannya 3 X 8 m2 ini menghadap taman dan halaman depan, bagian depannya teridi dari jendela kaca lebar dan pintu kaca, keduanya diamankan dengan teralis. Didepan dapur terdapat teras berukuran 3 x 3 m2.
Ruangan makannya berukuran 3 x 3 m2, dapur 3 x 4 m2, dapur basah 1 x 1 m2, dan kamar mandi/wc ukuran 1 x 2 m2. Dibagian belakangnya ada pintu yang menghubungkannya dengan ruang tamu Srikandi..
Dalam dapur terdapat meja makan dengan 4 kursi makan , kitchen set dilengkapi kompor gas empat mata bakar, micro wave, tempat cucian piring dan meja pengeringan, laci untuk grabah dan peralatan dapur, dan almari penyimpan makanan jadi. Terdapat Almari pendek dengan meja untuk menyiapkan bahan yang akan dimasak. Tersedia almari ukuran 1 x 2 m2 setinggi 1 m untuk penyimpan rempah, minyak goreng, mentega dan sejenisnya, diatasnya terdapat meja untuk menyiapan bahan-bahan yang akan dimasak. Tersedia sebuah almari es berpintu dua. Diatas kompor terdapat exhauser, kitchen set itu dilengkapi dengan lampu penerangan khusus.
Dapur ini hanya digunakan oleh Diana, disamping dapur Sembadra tersedia dapur Limbuk Cangik yang dimanfaatkan oleh pembantu rumah tangga.
Diana dan Bagus membolehkan dapur ini dipakai secara umum, tetapi aku tak sependapat. Dapur ini kututup dan kukunci kecuali jika ada yang menginginkan akan kusewakan secara pribadi sebulannya Rp 500.000,- dan tanggung jawab sepenuhnya pada penghuni kost yang menyewanya.
Pernah terjadi kesalah fahaman, Parjono akan menerima anak kost yang akan menggunakannya sebagai kamar tidur dan akan mengontraknya selama satu tahun. Hal itu kulaporkan pada Diana, menurut Diana terlalu murah, jika ada yang mau mahal mungkin dapat dipertimbangkan.
Belakangan ada yang mau mengontrak dengan harga sama dengan kamar lainnya: Kamar Yudistira, kamar Puntadewa, kamar Arjuna, kamar Kunti, dan kamar Bima. Tanpa kuketahui Parjono telah menerima uang panjar.
Aku terpaksa memberikan pilihan lain, yaitu kamar Limbuk Cangik yang akan ditinggalkan oleh keluarga Jimi, sebab kamar lain telah terpakai.
Lis memprotes, sebab itu artinya aku melanggar janji kepada papa Jimi, bahwa kamar Limbuk Cangik akan kutempati sendiri. Aku mengatakan tanggal 1 Agustus 2012 kamar Limbuk Cangik akan kutempati, sehingga keluarga Jimi harus mengosongkan kamar itu paling lambat tanggal 1 Agustus 2012. Aku akan menempatinya dalam bebarapa hari, sesudah itu aku bebas untuk menyewakan kepada siapapun.
Pembicaraan selanjutnya mengenai ruang tamu Srikandi.
Ruang tamu Srikandi terdiri dari:
1. Teras dibagian depan rumah ukuran 4 x 4 m2 didepannya ada jalan khusus menuju kedepan dapur Sembadra atau tempat berhenti mobil tamu agar saat hujan dapat turun dari mobil langsung masuk ke teras tanpa membutuhkan perlindungan payung.
2. Ruangan tunggu ukuran 3 x 4 m 2 yang dipisahkan dengan teras oleh pintu selebar 3 m.
3. Ruangan tamu ukuran 6 x 8 m2 dengan atap plaform setinggi 7 m dimana terdapat balkon Yudistira (lantai 2) dan pintu kamar Pandu, pintu dapur Sembadra, pintu kamar Madrin, tangga ke kamar Yudistira dan balkon dan pintu ke pavilyun Nakula dan Sadewa (dua kamar + dapur k.mandi dan wc.).
4. Dibelakang ruang tamu Srikandi terdapat ruang makan Larasati dengan ukuran 4 x 5 m2 yang terhubung lewat terasnya ke kamar Limbuk Cangik dan dapurnya. Ruang makan ini dilengkapi dengan kolam dan taman. Ada pintu ke kamar Kunti yang akan membawa ke jalan samping rumah dan tempat parkir mobil.
Diruang tamu tersedia dua set sofa. Diatasnya terdapat lampu kristal besar dengan puluhan lampu hemat energi.
Ruangan ini tak dilengkapi dengan AC karena dikelilingi jendela kaca, bahkan disebelah timur yang berbatasan dengan taman dan kolam terdapat jendela kaca panjang setingkat lantai satu dan lantai dua sehingga matahari pagi bebas masuk keruangan tamu. Antara ruang tamu Srikandi dengan ruang makan Larasati tak dibatasi sehingga udara dapat masuk lewat kolam dan taman yang dilindungi oleh kanopi setinggi 8 m.
Bagus dan Diana mengizinkan ruangan tamu Srikandi dimanfaatkan sebagai ruang tamu bagi setiap penghuni Pondok Pak B 76 (yang oleh Diana dinamakan Pondok Jogja) dengan rambu-rambu yang telah digariskan oleh Bagus, diantaranya tak diperkenankan merokok diruangan ini.
Kenyataannya belakangan diruangan ini tercium bau rokok sehingga jendela kaca disebelah timur menghadap ke area bebas kacanya kulepas dan kugantikan dengan kassa agar terhindar dari kelelawar dan codot namun dapat mengurangi bau rokok.

Magdalena dan Fara menempati kamar Nakula dan Sadewa merasa terganggu dengan asap rokok sehingga melapor ke Bagus lewat emil.
Sebenarnya kami telah menyediakan area bebas merokok, yaitu di area parkir kendaraan roda dua yang berukuran 6 x 6 m2 dan garage tanpa pintu seluas 5 x 5 m2. Namun ditempat ini tak tersedia tempat duduk.
Aku berdiat menyediakan tempat duduk di wilayah ini sehingga siapa saja yang akan merokok dapat santai sambil menikmati TV yang tersedia bagi siapa yang sedang ada ditempat bebas meroko yang cukup luas ini.
Diana tak mengizinkan satu diantara dua sofa yang ada diruangan tamu untuk kupindahkan keruang bekas garage sebab ruangan ini sangat terbuka, siapa saja dapat masuk. Diana mengusulkan melengkapinya dengan lincak (kursi bambu), tetapi aku khawatir tak akan disetujui oleh Bagus, sebab akan menuruunkan gensi Pondok Pak B 76.

Endang menyarankan untuk membeli kelengkapan untuk ruang bebas merokok, sebab sebagian besar penghuni kost Pondok Pak B 76 ternyata perokok. Sebagian dosen dan pegawai AMY juga perokok, sehingga dia sangat membenci perokok. Kukatakan bahwa dia seharusnya bersyukur suami dan anak-anaknya tak ada yang merokok.
Kukatakan: “Membenci perokok dan rokok tak akan menyelesaikan masalah polusi asap rokok. Akan lebih bermanfaat mengasihani mereka yang kecanduan merokok dan memberikan pemecahan mengurangi polusi yang disebabkan asap rokok bagi mereka yang tak merokok tetapi terpaksa atau harus menjadi perokok pasif. Kini manusia sedang berjuang mengatasi berbagai masalah polusi, diantaranya polusi udara/gas, misalnya dampak proses pembakaran bbm yang dihasilkan oleh pabrik, kendaraan bermotor, sampah dll. Jadi saya yakin masalah merokok harus diintegrasikan dengan masalah polusi lainnya.”

Saat ini kebetulan masalah rokok sedang menjadi perdebetan sengit antara dua kubu, kubu perokok dan kubu anti rokok. Aku dan Endang rajin mengikuti acara TV yang membuktikan bahwa tak semudah membalik telapak tangan untuk “melarang merokok”.
Kami membutuhkan masukan dari usaha pondokan sebagai halnya Endang membutuhkan para dosen serta pegawai yang merokok disamping mereka yang tak merokok. Atas dasar itu kami harus bersikap adil kepada kedua kubu mereka.

Kemarin aku sudah melengkapi bekas garage dengan dua set kursi, satu set sofa (berlapis busa) dan satu set kursi kayu.

Kebetulan aku dapat bertemu dengan beberapa orang penghuni sehingga kujelaskan kepada mereka bahwa ruangan ini kami sediakan bagi mereka yang ingin merokok, sehingga peraturan larangan merokok di ruang tamu, ruangan Srikandi, tak boleh dilanggar. Sangsi dari pelanggaran adalah tak akan kami izinkan untuk memperpanjang menghuni kost Pondok Pak B 76.
Mereka berdalih bahwa selama ini mereka patuh, yang merokok itu tamu dan mereka sungkan untuk melarang tamunya merokok, oleh karena itu aku diminta membuat papan peringatkan tak boleh merokok diruang tamu. Kukatakan: tamu menjadi tanggung jawab yang menerima/didatangi tamu, sebab aku tak memiliki kekuatan untuk memberikan sangsi kepada tamu, misalnya mengusir mereka, yang dapat kulakukan adalah memberi sangsi kepada penghuni kost. Barang siapa melanggar rambu-rambu yang berlaku di pondok Pak B 76 akan terkena sangsi, misalnya: paling ringan aliran listrik dikamarnya akan diputus untuk sementara hingga sangsi berat untuk segera meninggalkan pondok Pak B 76.

Kemarin aku ke Plemburan untuk mengambil uang kost yang dipungut oleh Lis dari penghuni kost yang memperpanjang sewanya.
Kulihat beberapa penghuni kost duduk-duduk diruangan bebas merokok, mereka bukan hanya bebas merokok, tetapi juga makan-makan, minum minum dan tak perlu melepas alas kaki.
Secara automatis ketika aku memasuki ruangan aku melepas alas kaki, ada yang bertanya: “Apakah memasuki ruangan ini harus melepas alas kaki?”
“O, tidak, asal alas kakinya bersih. Makan dan minum juga tak dilarang. Yang tetap dilarang dan berlaku dimana saja , di area publik, adalah berbuat asusila dan bikin onar.”
Ketika akan meninggalkan ruang bebas ” apa saja “, sandalku tertinggal. ada yang mengingatkanku :”Mbah……… ninggalin kok sandal. Ninggalin makanan dong.”
“Lho, kan tinggal ambil. Tuh tersedia angkringan didepan, pesan saja apa yang kalian inginkan, suruh hitung berapa habisnya, cuma……………. bayar sendiri-sendiri.”
“Huuuu………” seru mereka serentak bersamaan dengan aku menstater Mio.”
Agar pembaca dapat mengikuti tulisan yang berjudul “Hadiah menjelang Ulang Tahun Emas kami. ” selanjutnya, ada baiknya kuberikan setting lokasi kejadian yang akan kuceriterakan berikutnya:
Paviliun PUNAKAWAN.
Paviliun ini terletak dibagian belakang Pondok Pak B 76 berupa sebuah pangunan berlantai dua berukuran 5 x 14 m2, terdiri dari:
a. Lantai satu: kamar sopir yang kini berfungsi sebagai gudang,ukuran 3 x 4 m2 terletak berbatasan dengan garage roda empat yang kini digunakan sebagai ruang tamu bebas merokok. Sebuah pintu menghubungkan kamar sopir dengan dapur Semar yang berukuran 3 x 4 m2. Dapur Semar memiliki 5 pintu, sebuah menghubungkan dengan kamar sopir, satu menghubungkan dengan kamar tidur Semar yang berukuran 3×4 m2, satu pintu menghubungkan dengan kamar tidur Bagong yang berukuran 3 x3m2 dan terdapat pintu keluar menghadap ketimur dengan teras selebar 1 m dan kamar mandi/ dapur, kamar mandi Semar berukuran 1 x 3 m2, satu pintu keluar menghubungkan dengan kamar tamu Semar yang berukuran 2,5 x 5 m2, Kamar tamu semar menghadap ke carport yang kini dimanfaatkan sebagai tempat parkir roda dua.
2.Lantai dua: terdiri dari tiga ruangan yang dihubungkan dengan trap turun ketempat parkir roda dua (carport).
Kamar tidur Petruk berukuran 3 x 3 m2 dengan dua pintu dan satu jendela. Satu pintu menghubungkan dengan ruang tamu Petruk Gareng berukuran yang berukuran 3 x 4 m2, satu pintu lagi dengan jendelanya menghadap ketimur, keteras berukuran 1 x4m2 Teras ini menghubungkan kamar Petruk dengan lantai 3 lewat trap dan satu pintu masuk kamar mandi/wc yang berukuran 1 x 1,5 m2. Kamar tidur Gareng identik dengan kamar tidur Petruk, simetri terhadap ruang tamu Petruk Gareng, lengkap dengan teras dan kamar mandi/wc berukuran 1 x 1,5 m2.
Disebelah barat Kamar tidur Petruk terdapat trap menuju kelantai 3 , terhubung dengan trap dari teras Petruk oleh sebuah bordes berukuran 1x 0,5 m2
Trap ke lantai 3 itu membatasi kamar Petruk dengan Kamar Bima. Kamar Bima mempunyai dua pintu, ke Barat menuju area bebas yang dimanfaatkan sebagai tempat jemuran sedangkan ke timur menuju ke ruang tamu Petruk Gareng. Kamar Tidur Bima dan ruang tamu Petruk Gareng dilengkapi dengan area terbuka yang terletak diatas kamar tamu Semar, berukuran 4 x 5 m2.
Atap paviliun Punokawan berupa lantai tiga yang berukuran 5,5 x 14 m2 yang merupakan area jemuran.
Disebelah timur paviliun Punokawan terdapat tanah kosong sekitar 1500 m2 dan banguan ber lantai dua yang membatasi tanah Pondok Pak B 76 dengan tetangga disebelah timurnya. Bangunan ini merupakan rarage roda 4 (dapat memuat truk) , gudang, dan bengkel pribadi untuk perawatan vasilitas pondok pak B 76. Di bagian ini terdapat: peralatan las listrik diesel, las listrik asitelin, generator set, molen, mesin bubut, gergaji mesin dll yang sewaktui-waktu dimanfaatkan oleh Parjono untuk melakukan perawatan dan perbaikan peralatan pondok Pak B 76. Disini terdapat kamar tidur lengkap dengan dapur, k,m/wc.
Pada area terbuka terdapat sumur konvebsional yang dilengkapi dengan pompa listrik yang menaikkan air ke reservoir diatas menara untuk menyediakan air bagi penghuni kost.
Jalan beton cor selebar 4,5 m dan saluran air hujan menuju ke resapan air hujan telah tersedia. Tiang listrik dipinggiran jalan siap menerangi jalan kompleks perumahan.
Bagian dibelakang banguan yang telah terpakai sebagai tempat kost Pondok Pak B 76, berupa tanah kosong seluas 1000 m2 telah dikapling, dipersiapkan sebagai perumahan. Sementara ini tanah kosong ini bermanfaat untuk memperluas area parkir pondok Pak B 76. Ada sekitar 12 mobil penghuni kost yang membutuhkan tempat. Disamping vasilitas kamar/ruang yang memadai, daya listrik 11 kw dan air yang “melimpah” , area parkir yang luas menjadikan daya tarik khusus karena jarang dimiliki oleh tempat kost lainnya.
Tadi pagi aku ke Plemburan untuk “menagih” uang perpanjangan sewa kamar pada Vira.
Vira menempati kamar Madrin, bersebelahan dengan kolam Tirta Amerta. Saat itu pintu kamar Vira tertutup, aku mengetuknya, ada jawaban dari dalam dia sedang mandi.
“Aku menunggu, yang kutunggu bukan Vira, tetapi uang!”
Aku duduk ditepi kolam. Kujumpai kolam sangat kotor, banyak plastik, botol dan batu kerikil didalamnya. Kupanggil Parjono, kuminta untuk membersihkan kolam.
Ketika kolam sedang dibersihkan oleh Par, Jimi datang membawa plasitik yang akan dimasukkan kedalam kolam. Parjono merampas plastik itu dan dilemparkan kearah Jimi. Anak kecil itu nampak ketakutan dan merebahkan tubuhnya kepangkuanku. lalu menangis terisak. Secara automatis aku menyambutnya dan menghiburnya.
Tanpa ku duga mama Jimi telah berdiri didepanku dan memandangku dengan “bengis”. Jimi akan diajak mamanya, tapi dia memilih tetap dipangkuanku.
“Jangan khawatir cik, aku tak akan menyakitinya.” kataku untuk menghilangkan kekhawatirannya. Kupersilakan dia duduk disisiku, tetapi dia malah akan meninggalkan kami.
“O,ya saya dapat pesan dari menantu saya, pemilik rumah ini. Dia menganjurkan agar tacik membeli rumah.”
Sambil mengacungkan kedua jarinya dia menjawab: “Sudah beli, yang satu dikontrak orang, yang satu sedang dibangun.”
“Kalau begitu syukurlah. Tacik tak akan digusur-gusur.”
Dia menarik tangan Jimi dan mengajaknya pergi meninggalkan kami.
“Bapak percaya omongannya?”
“Mengapa tidak?”
“Dia itu begini,” kata Par sambil meletakkan jarinya menyerong didepan dahi.
Kalau tak ada bapak, aku pasti sudah didamprat membersikan mainan Jimi yang dimasukkan ke kolam ini.”
Kemarin pagi aku ke Plemburan untuk “mengambil uang perpanjangan sewa kamar Vira” yang katanya akan dilunasi hari ini. Ternyata Vira tak ada di Plemburan dan menurut Parjono sedang mengambil uang di Bank.
Aku dan Par duduk diruang bebas merokok menanti kedatangan Vira.
Mobil kijang hijau masuk kehalaman, tak lama kemudian nongol seorang perempuan, ternyata bukan Vira melainkan mamanya Jimi.
Tanpa kuduga dia mengomel sendirian didekat kami.
“Aku disini baru sebentar kok sudah disuruh pergi, itu tidak manusiawi. Aku senang disini, aku membayar, kok diusir seenaknya.”
“Lho, situ sudah tinggal disini tiga bulan, dilain tempat hanya sebulan sudah disuruh pindah.” sangkal Parjono.
“Aku ini tak gila kok diusir-usir seperti orang gila.”
“Makanya, beli rumah agar tak diusir-usir lagi.”
“Aku sudah beli satu kukontrakkan yang satu sedang dibangun.”
“Syukurlah!
“Rumah itu baru selesai bulan Desember, jadi aku akan dinggal disini sampai akhir tahun.”
“Lho, sudah kukatakan, kamar itu akan ditempati sendiri oleh mbah Ibnu, jadi situ tak dapat memperpanjang sewa kamar,” tegas Parjono.
“Aku tak mau tinggal dirumah yang belum jadi.”
“Tacik ini sudah berkeluarga, jadi harus percaya pada suami. Tacik harus yakin papanya Jimmi akan mencarikan tempat yang lebih nyaman dari kamar yang sempit itu.”
“Aku tak, mau……aku tak mau.”
“Kalau begitu bisa runyam, tacik akan ditinggalkan sendiri disini, papanya Jimi bisa saja suruh orang lain untuk mengasuh Jimi.” kataku setelah menyimpulkan perempuan itu tidak gila, melainkan sesukanya sendiri, mencari enaknya sendiri.
Tanpa kuduga mamanya Jimi terbirit pergi keluar dan kembali dengan memapah Jimi yang sedang tertidur. Agaknya perkataanku mengingatkannya bahwa dia meninggalkan anaknya di kendaraan yang diparkir ditengah jalan masuk tempat parkir. Dia tak peduli dimana kendaraannya diparkir, tetapi masih peduli pada anaknya.
Intuisiku “berkata” perempuan itu bukannya tak waras, melainkan semau gue sehingga membuat masalah bagi lingkungannya.
Kemarin pagi aku ke Plemburan untuk menagih uang perpanjangan sewa kamar Vira, karena sehari sebelumnya aku tak berhasil menemui Vira. Aku telah siap memutuskan aliran listrik kamar Vira dan menyiapkan “gembok kecil” untuk mengunci box KWH meter berikut NCB nya.
Saat itu para penghuni kost sedang berkumpul diruang bebas merokok. Aku langsung masuk ke ruang tamu Semar. Saat itu Lis sedang menseterika pakaian.
Kutanyakan kepada Lis uang perpanjangan sewa kamar Madrin dari Vira, ternyata Vira telah melunasi perpanjangan sewa kamar berikut membayar daya listrik yang digunakan selama satu bulan. Saat aku akan meninggalkan kamar tamu, tiga “bidadari” memasuki ruang tamu.
“Pak mengapa sandalnya dilepas?”
“Ini sudah menjadi kebiasaanku.”
“Ini Dara mau minta penjelasan.”
“Lho apa salahnya kok minta maaf?”
“Bukan minta maaf, minta penjelasan pak.”
“O, aku salah dengar, maklum aku sudah tua dan sering mendengarkan musik lewat head set.”
“Apakah saya boleh memperpanjang seminggu saja?”
“Boleh, tetapi taripnya berbeda dengan tarip bulanan.”
“Kata pak Par keluarga Jimi harus mengosongkan kamarnya paling lambat tanggal 1 Agustus.”
“Benar.”
“Saya akan pindah ke kamar itu, tetapi saya minta dilengkapi dengan AC.”
“Saya akan lengkapi dengan AC kalau situ kontrak tiga bulan.”
“Saya minta diberi ranjang seperti kamar lainnya.”
“Kalau begitu harus kontrak 6 bulan.”
“Aduuuuh, saya tak punya uang sebanyak itu.”
“Ya pilih saja, pakai AC atau sping bed.”
Ririn menyarankan: “Kamar itu sudah sejuk kok.”
“Lho kok tahu ?”
“Ririn pernah masuk kekamar itu membujuk mamanya Jimi agar mau berobat ke dokter.”
“Bagaimana reaksinya?”
“Dia malah marah.”
“Seharusnya Ririn menasihati yang waras, papanya Jimi.”
“Menurut papanya Jimi keluarga mamanya Jimi berkeberatan mamanya Jimi diperiksa kesehatan jiwanya.”
“Wah payah,. kalau suami istri dicampuri oleh fihak ke tiga.”
“Kasihan sekali mereka, seharusnya bapak mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan mereka menyelesaikan ruamahnya.” Ririn membujukku.
“Kalian percaya pada omongan mamanya Jimi? Menurut Par papanya Jimi tak tahu menahu masalah apa yang dikatakan oleh mamanya Jimi. Menurut saya mamanya Jimi itu tidak gila tapi semau gue.”
“Benar pak, mamanya Jimmi itu tidak gila, tapi semau gue hingga menyusuhkan orang lain. Saya heran kok ada lelaki sebaik papanya Jimi.”
“He,he…….. makanya Jimi kok nempel Dara.”
“Lho saya sangat kasihan pada Jimi.”
“Bukan kagum pada papanya?”‘
“Kok jadi ngelatur, bagaimana pak masalah perpanjangan seminggu, lalu setelah kamar itu kosong saya pindah ke kamar itu.”
“Itu tak mungkin, sebab kamar itu akan dipakai pak Ibnu. Putra putri pak Ibnu akan berkumpul di rumah ini.”
“O, ya, kalian pasti sudah dengar dari pak Par, lebaran nanti anak-anak kami akan berkumpul disini. Kalian dapat berkenalan dengan mereka.”
“Wah, kami semua akan ngudik pak.” jawab Ririn.
“Lalu bagaimana dengan permintaan saya?” desak Dara.
“Perpanjang dulu satu bulan, kalau kamar itu sudah tak kami butuhkan silakan saja pindah kekamar itu.”
“Apakah saya harus memberikan DP?”
“Tak usah, tapi harus ada ketegasan, akan pakai AC, pringbed, atau kedua-duanya.”
Tari angkat bicara: ” Kata pak Par barang siapa melanggar tatanan kost ini akan terkena sangsi. Sangsi apa yang akan dikenakan pada yang melanggar ketentuan kost ini?”
“Pertama akan kami berikan peringatan lisan maupun tertulis. Kedua akan kami putuskan aliran listriknya. Box KWH Meter dan NCP akan kami kunci.”
“Wah, kejam nian.”
“Aliran akan kami sambung setelah melunasi seluruh daya yang telah digunakan selama satu bulan. Jika yang bersangkurtan pergi tanpa melunasi daya listrik yang telah digunakan, yang lain akan terkena imbasnya, lain waktu semua harus memberikan jaminan daya untuk membeli pulsa sebelum memanfaatkan daya listrik. Saya ini bukan keledai yang akan mengulang kesalahan sebelumnya.”
“Waduh, yang tak bersalah ikut-ikutan terkena sangsinya.””‘Makanya, kalian harus membantu kami menjaga disiplin di kost ini agar tak terkena imbasnya.”
“Kalau sudah membayar daya, tetapi belum punya uang untuk memperpanjang uang kost, bagaimana?”
“Harus mengosongkan kamarnya.”
“Kalau misalnya terlambat memperpanjang sewa kamar?”
“Boleh melakukan kontrak sewa kamar baru dengan tarib baru.”
“Untuk selamanya atau hanya sebulan?”
“Untuk selamanya dikenakan tarib baru.”
“Wah, lebih baik kami didenda saja.”
“O.K. Saya akan mempertimbangkan jika itu kalian inginkan. Semakin lama keterlambatan dendanya akan semakin tinggi.”
“Kalau yang bersangkutan melarikan diri.”
“Kami akan meninjau ulang peraturan, mungkin saja akan kembali ke perubahan tarib bagi yang terlambat terlambat lebih dari lima hari. Nah, agar tak terlambat membayar perpanjangan uang kost kalian harus belajar menabung, uangnya jangan dibakar. Maksudnya dibelikan rokok.”
Kemarin pagi aku ke Pleburan menyerahkan kompa air pada Parjono guna memperbesar debit air yang masuk pada reservoir yang disalurkan ke bak penampungan di komplek pondok pak B 76, sejauh 70 m, lewat pipa 1/2 din yang telah kami tambah dengan pipa 3/4 din.

Par mengatakan kamar Limbuk Cangik sudah kosong sebab keluarga Jimi sudah pindah ke jalan Palagan. Papanya Jimi mengontrak sebuah rumah yang nyaman sehingga mamanya Jimi bersedia diajak meninggalkan Pondok Pak B 76 pindah kerumah yang dianggap lebih nyaman.

Aku bersyukur sebab satu masalah sudah terselesaikan.Tiba-tiba aku di komplin oleh Fara sebab ternyata mobilnya dicoret-coret oleh seseorang, yang dituduh adalah Jimi.
“Lho mengapa baru sekarang mbak Fara menggugat? Seharusnya sebelum mereka pergi masalahnya diselesaikan seperti masalah Mercynya mas Oka.”
“Saya baru mengetahui sekarang.”
“Ini belum seberapa. Mercynya mas Oka yang baru dicat itu dilempari kerikil, atapnya penuh dengan pecahan genteng, dop penutup pentilnya hilang.”
“Nah, benarkan anak itu keterlaluan.”
“Ya, karena tak diawasi oleh orang tuanya. Yang salah orang tuanya, bukan saya, jadi kalau mau meminta pertanggungan jawab seharusnya pada orang tuanya.”

“Maaf, mengapa yang dijahili mobil mbak Fara dan mas Oka? Bukankah banyak mobil disini?”
“Kedua orang tuan Jimi itu tak peduli pada lingkungan, papanya kalau pulang sampai malam, mamanya membiarkan Jimi berbuat apa saja, tanpa melarangnya.”
“Lho, jangan cuma salahkan orang lain. Menurut saya: Mobil mbah Fara dan mas Oka nongkrong seharian disini, sedangkan yang lain dipakai kerja. Apakah pak Par harus mengawasi mobil kalian?”
“Lain kali jangan boleh penghuni kost membawa anak kecil.”
“Kalau saya memusuhi anak kecil, cucu saya akan memusuhi saya.”
Fara memilih masuk ke mobilnya dan membawanya pergi. Tumben biasanya dia dijemput oleh pacarnya dengan roda dua atau mobil sdeingga seharian mobilnya nongkrong hingga memberi kesempatan untuk dijahili oleh Jimi.
Mercy mas Oka tadinya sering nongkrong sebab dia menggunakan kendaraan dinas. Sekarang, sejak kejadian itu, mobil itu tak nongkrong di tempat parkiran, entah diungsikan kemana.

Malam Jumat aku bermimpi hujan uang, mungkin karena terilusi oleh tilpon dari Bagus yang menyatakan ada seorang yang akan memberikan DP tanah Plemburan pada hari Kamis, tetapi kami tunggu sampai sore tak ada kabarnya. Sabtu pagi Diana menelponku menanyakan perihal IMB rumah Plemburan. Kuberitahukan bahwa Kamis siang yang datang bukan calon pembeli tanah kaplingan Plemburan melainkan Tio, teman Diana yang mengurusikan IMB rumah Plemburan. Diana sangat gembira bahwa IMB telah kuterima dan masalah penjualan kaplingan tanah Plemburan dia nampak pasrah, tak terlalu berharap, katanya si pembeli baru kembali dari Samarinda hari Minggu.
Sabtu pagi aku ke Plemburan memasang instalasi penerangan jalan komplek yang tanahnya akan dijual secara kaplingan, tujuannya untuk menambah daya tarik pembeli. Aku diberitahu oleh Parjono bahwa ibu ( Endang ) menelpon dan meminta aku segera pulang karena ada seorang yang ingin bertemu aku. Kukira yang dimaksudkan tukang sampah yang tiap permulaan bulan menagih uang kebersihan.
Ternyata orang yang ingin bertemu aku belum datang, bukan tukang sampah melainkan orang yang akan memberikan DP pembelian tanah Plemburan. Kutunggu hingga siang hari, orang yang kunanti-nanti tak kunjung datang. Tiba-tiba telpon rumah berdering, Endang yang mengangkatnya.
“Saya tak dapat memutuskan, ini……bicara saja dengan bapak.” kata Endang sampil menyerahkan gagang telpon kepadaku.
“Hallo, saya pak Ibnu…… suami ibu Endang.”
“Begini pak, saya calon pembeli tanah Plemburan. Kami akan membeli tiga kapling, jadi saya minta harganya diturunkan.”
“Lho, menurut anak saya panjenengan akan membeli tiga kapling, makanya harganya boleh turun sedikit. Kemudian panjenengan memutuskan membeli dua kapling, anak saya meminta pertimbangan saya, saya katakan biarlah dijual dua kapling saja yang harganya diturunkan, lain kali dapat ditutupi dengan kaplingan berikutnya. Nah bagi kami penjualan dua kapling lebih menguntungkan karena kaplingan berikutnya tak perlu dinaikkan terlalu tinggi untuk kompensasi kerugian akibat penurunan harga yang dua kapling.”
Satu jam berikutnya sang tamu yang kami nantikan datang. Mereka menyerahkan struk ATM dan kami menggantikannya dengan kwitansi DP. Dalam kwitanti disebutkan transaksi jual beli akan dilakukan tanggal 27-8-12 didepan notaris. Dia jadinya membeli 3 kapling dan berharap kaplingan lainnya harganya tidak dinaikkan, sebab ada temannya yang juga ingin membeli.

Boleh percaya atau tidak saat memberikan judul tulisan ini seakan aku terhanyut dalam kondisi bawah sadar.: Aku sendiri heran mengapa tulisan ini kuberi judul Hadiah menjelang Ulang Tahun Emas kami. Apakah yang dimaksud “hadiah” itu “sekedar materi?” Tentu saja bukan hanya sekedar materi melainkan juga penyelesaian berbagai masalah yang kuhadapi sebagai yang telah kusebutkan dalam tulisan ini. Silakan baca sekali lagi.

Kutanyakan kepada mas Edi dari mana dia mengetahui tanah kaplingan kami, menurut dia:” Kami melihat iklan Plemburan Mension, kami butuh rumah yang tak terlalu jauh dari UGM, ketika lewat didepan rumah bapak, saya baca spanduk tanah kaplingan dipintu gerbang. Waktu kami mampir dan melihat tanah bapak kami tertarik, karena privasinya tinggi”
“Privasinya tinggi atau harganya murah?”
“Ya begitulah.”
“Saya pernah tilpun ke Plemburan Mension, menanyakan harga tanah kaplingan di Plemburan Mension. Permeternya 3.5 jt, sehingga istri saya menyuruh saya menaikkan harga tanah kaplingan kami, tetapi saya tak mau, sebab Bagus sangat memerlukan uang untuk membeli rumah di Brasebane. Untuk melunakkan hati ibunya Bagus saya katakan Developer Plemburan Mension tak ingin tanahnya dibeli tanpa bangunan, makanya jika hanya dibeli tanahnya diberikan harga tinggi. Saya katakan biar saja beberapa kapling kami jual murah, tanah berikutnya dapat dinaikkan harganya untuk menutupi kerugian kaplingan yang dijual agak murah.”
“Wah, jangan dinaikkan harganya pak, kasihan teman-teman kami yang tertarik untuk membeli tanah kaplingan didekat kami.”
“Itu tergantung situasi dan kondisi, kami tak mau rugi terlalu banyak.”
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s