Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (5)

CARI PERKARA

Endang meminta agar HGB yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kami itu disimpan baik-baik dan tidak diberitahukan kepada siapapun.

Pendapatku lain: Anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa itu tidak datang begitu saja dari langit, melainkan hasil suatu perjuangan, kami harus beritakan kepada siapapun sebab pengalaman itu bermanfaat bagi orang lain.

Fotocopy akta jual beli garage dan HGB  kuberikan kepada mertuaku untuk disampaikan kepada Perwatin agar bu Rayasti cs, termasuk pak Wiryo Atmojo, mengikuti langkahku untuk menyelamatkan sisa-sisa gedung  bekas milik PTI dan tanah dimana berdiri bangunan itu. Kuyakinkan mereka bahwa Perwatin tidak berhak atas warisan PTI dan tanah yang digunakan untuk membangun gedung Loge Dharma bukan milik Sultan,melainkan milik Negara Republik Indonesia. Menurut Endang aku mengacungkan kapak peperangn, dan  cari perkara.

Beberapa minggu kemudian kami dipanggil Kejati. Pak Biarso dan dokter Budi tidak menggubris panggilan itu, tetapi aku datang dengan membawa fotocopy sebagai yang kuberikan kepada Perwatin lewat mertuaku.

Aku dicaci maki  oleh petugas Kejati karena dianggap telah menyerobot harta peninggalan PTI yang dalam pengawasan Kejati. Aku tidak menjawab, kuberikan  fotocopy akta jual beli garage dan HGB untuk dipelajri oleh Kejati. Ternyata Kejati telah memiliki  fotocopy sejenis yang diperoleh dari Perwatin.

Dikatakan semua itu palsu, aku diminta untuk menunjukkan yang asli. Aku hanya akan menunjukkan yang asli dimuka pengadilan. Petugas marah dan akan merobek fotocopi yang kusodorkan. Kukatakan, jangan merobek kertas itu. Tulis saja diatasnya   bahwa menurut Kejati  fotocopi itu palsu, aku akan menuliskan bahwa fotocopi itu sesuai dengan aslinya. Aku akan menggugat instansi yang telah mengeluarkan surat palsu itu secara langsung atau lewat surat kabar.

Aku dianggap menantang Kejati, tetapi kukatakan aku tidak menantang penegak hukum melainkan mengingatkan : Negara ini negara hukum, bukan negara kekuasaan. Petugas itu mengacungkan jari kearah pintu keluar menyuruh aku meninggalkan ruangan.

Pertengahan tahun ajaran Ir Partono, Ketua Jurusan Listrik STM Pembangunan sangat sibuk dengan tugasnya di Fakultas Tehnik UGM karena banyak dosen yang dikirim ke Luar Negri. Aku diserahi fak-fak yang tadinya dipegangnya, hingga setiap minggunya aku mengajar 54 jam pelajaran.Banyak pelajran yang diserahkan kepadaku tak kukuasai. Ada klas yang terpaksa masuk siang atau digabung.

Akibat kepergian Ir Partono sangat menyulitkan penyusun jadwal karena yang tadinya diajar oleh dua orang pengajar kini dilaksanakan seorang pengajar. Banyak dosen lain menjadi korban keserakahanku. Guru Bahasa Inggris dan olah raga, menjadi bulan-bulanan penyusun jadwal. Sahabatku yang mempunyai hobi fotografi, dan mengajar bahasa Inggris merencanakan beralih profesi menjadi pemandu wisata  gara-gara diperlakukan “sangat kejam dalam penyusunan jadwal”.  Seorang guru olah raga keluar dan memilih menjadi sopir travel.

Karena terlalu padat jam pelajaran yang harus kujalannkan dan mengajar fak yang tidak ku- kuasai, aku merasa “disepelekan” oleh murid-murid. Mereka banyak yang tidak mengikuti pelajaranku, membolos. Mula-mula aku tak peduli, mengajar 20 orang atau dua orang honorariumkun tetap.

Karena kesibukanku diluar aku ikut-ikutan muridku sering membolos. Pada rapat akhir tahun  ajaran Wakil KepalaSekolah, Pak Tris, mengatakan bahwa kami mendapat honorarium tinggi dan STM Pembangunan merupakan projek percontohan, kami diperingatkan barang siapa mengajar seenaknya akan diambil tindakan tegas. Sikap Kepala Sekolah, Pak Tarman sangat berbeda dengan wakilnya. Pak Tarman sangat berhati-hati dalam menghadapi guru, sedangkan pak Tris sangat tegas dan cenderung arogan.

Aku menghadap pak Tarman dan menyatakan mengundurkan diri sebagai tenaga pengajar honoran. Pak Tarman menyarankan agar aku mencarikan tenaga pengganti, tetapi aku tak menyanggupinya.

Hal itu kusampaikan kepada Endang, dia sangat terkejut dan mengatakan seharusnya untuk memutuskan sesuatu yang penting aku harus membicarakan dulu dengan anak dan istri. Dengan sombong kukatakan : Tak usah khawatir, tidak mengajar di STM Pembangunan kami tidak akan kelaparan.

Ir Boma Wikantioso M.Sc. diganti oleh Ir Bambang Suhendro sebagai dekan Fakultas Tehnik UGM. Pada saat kepemimpinan Ir Boma dokumentasi wisuda dimulai sejak mahasiswa berbaris memasuki ruang upacara wisuda, sehingga para fotografer harus datang sejak pagihari dan menanti sampai giliran fakultasnya diwisuda oleh dekan masing-masing.

Ir Bambang tidak memberikan tugas mengabadikan hal-hal yang dianggap tidak perlu dan kami hanya bertugas mengabadikan saat-saat penerimaan ijazah.

Penerimaan ijazah diurutkan menurut abjad sehingga fakultas Tehnik (T) mendapat digiran paling akhir. Peraturan ini tetap berkalu dalam kepemimpinan Ir Bambang. Karena aku mendapat giliran terakhir aku tak perlu datang sejakpagi hari.

Ir Bambang meminta setiap wisudawan difoto dua kali, saat menerima ijazah dan pengalungan “medali” kesarjanaan. Karena jarak penerimaan ijazah dan pengalungan medali sangat dekat aku mencari seorang fotografer lain untuk membantuku.

Peralatannya juga kutingkatkan dengan menggunakan acu yang berkapasitas lebih besar. Kubeli acu 12 volt , yang memiliki terminal tengah 6 volet. Maksudnya: pada saat pengisian/charging dihubungkan terminal 12 volt dan pada saat digunakan dipindahkan keterminal 6 volt, sesuai tegangan kerja blitz. Dengan cara demikian kuperoleh kapasitas lebih tinggi, dengan satu acu saja chargingnya lebih cepat.

Suatu pagi mas Mir datang dan ingin melihat rumah kami di Mesan. Aku meminta Frans, fotografer yang akan membantuku, berangkat lebih awal dengan membawa peralatan fotografi yang akan digunakan untuk mendokumentasi  sekitar 200 wisudawan fakultas tehnik.

Aku mengantar mas Mir ke Mesan, memamerkan hasil kerjaku hingga aku dipercaya oleh kakak-kakak untuk merenovasi rumah Siliran Lor 29. Mas Mir menanyakan kepadaku berapa beaya yang telah kami gunakan untuk membangun rumah itu. Aku tak dapat menjelaskan sebab aku mengumpulkan material sedikit demi sedikit, aku membeli gelugu tidak sekaligus, kadang hanya sepuluh lonjor karena kupilih yang benar-benar tua. Jarak pembuatan foundasi dan dinding rumah juga berbeda sekitar setengah tahun.

Penjelasan itu memerlukan waktu cukup lama, aku baru sadar ketika jam ditanganku telah menunjuk pukul 10.15 pagi. Aku minta maaf karena ada tugas memotret di Purna Budaya. Mas Mir meminta diri pada  mertuaku untuk melanjutkan perjalanannya ke Kedari. Aku berangkat ke Purna Budaya.

Di Purna Budaya upacara wisuda sedang berlangsung dan saat itu sedang giliran fakultas Tehnik. Kulihat Frans duduk-duduk dengan santai tak mengabadikan upacara yang sangat penting dan menjadi tugas kami. Ketika kutegur dia mengatakan seluruh bliz terbakar,aku masih mencium bau barang hangus. Kulihat terminal acu yang terhubung dengan blitz, aku terbelalak karena  terhubung pada terminal 12 volt. Aku berusaha mencari pinjaman dari rekan seprofesiku, tetapi ditolak karena  mereka belum melakukan tugasnya. Ternyata urutan wisuda tidak menurut abjad, sehingga Fakultas Tehnik mendapat giliran ketiga.

Aku laporan ke tata Usaha Fakultas Tehnik  UGM yang mengurusi dokumentasi wisuda dan memohon maaf sebesar-besarnya atas kegagalanku. Dia tidak marah bahkan meminta maaf kepadaku karena tidak memberi tahukan  perubahan urutan jadwal wisuda. Dia dapat mengerti hingga memafkan keteledoranku tetapi bagaimana dengan 200 wisudawan yang tidak memiliki kenang-kenangan peristiwa yang sangat penting itu?

IKUT MEMAJUKAN AKADEMI MARTIM YOGYAKARTA DAN DESA MESAN:

Aku mengundurkan diri dari STM Pembanguan dan Fotografer Faklutas Tehik UGM, ternyata atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa aku mendapat tugas dari Yayasan Institut Pendidikan Maritim Yogyakarta, dibawah kepemimpinan  dokter Trihendrokesowo, untuk membangun gedung perkuliahan Akademi Maritim Yogyakarta  di Desan Mesan yang manfaatnya  jauh lebih besar dari sekedar membual didepan klas atau mengabadikan antrean membagikan ijazah sarjana. 

Andaikata aku masih sibuk dengan tugas-tugasku di STM Pembangunan, tak akan tersedia waktu untuk membalas budi kebaikan dokter Trihendrokesowo, sebab ternyata usia dokter Tri tidak panjuang Dokter Trihendrokesowo meninggal  beberapa saat setelah Akademi Maritim Yogyakarta memiliki kampus sendiri.

Oleh dokter Trihendrokesowo aku diserahi urusan logistik, pak Subowo BA sebagai Kepala Projek sedangkan Ir Purnomo, teman pak Subowo di Kanwil Pendidikan D.I.Y, sebagai bagian Tehnik.

Projek yang akan dibangun terletak didesa Mesan, sekitar 200 meter  disebelah barat rumah kami di Mesan. Bangunan itu berukuran 8 x 21 m2  dan teras depan 2x21m2, teras samping 2x 10 m2 utara, dapur seluas 2x 10 m2. Bangunan itu akan didirikan diatas bekas sawah yang bertingkat (terasering).

Untuk membangun dibutuhkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diurus oleh bagian tehnik, Ir Purnomo, aku mengkalkulasikan  biaya pembangunan berdasarkan kebutuhan materialnya yang akan digunakan untuk membangun.

Ir Purnomo mendesign bangunan sesuai dengan permintaan AMY, menggambar dan memperhitungkan konstruksi bangunan, memperhitungkan materi yang akan digunakan sampai mencari tenaga yang akan digunakan untuk membangun.

Menurut aku gambar dan perhitungan konstruksinya yang diajukan ke DPU itu sangat cermat, tetapi IMB tak kunjung keluar, padahal kebutuhan tempat perkuliahan sangat mendesak. Gedung yang digunakan oleh AMY di Jalan Jendral Sudirman no 24, milik BOPKRI , sore hari akan digunakan  sendiri oleh pemiliknya.

Sebelum IMB keluar projek telah dimulai dengan menggali foundasi. Ayah Ir Purnomo,  Kapten Gunadi (menurut keterangan pak Kardono), yang terimbas G.30 S dan diassingkan kepulau  Buru telah kembali kekeluarganya di Yogya. Pak Gunadi diserahi mengawasi jalannya projek AMY sebagai pengganti anaknya.  Ir Purnomo sibuk di Kanwil Pendidikan DIY.

Ketika petugas DPU datang  dilapangan dan meminta pekerjaan dihentikan hampir saja terjadi baku hantam, karena para pekerja dibawah pimpinan pak Gunadi sebagian besar orang yang sangat membutuh pekerjaan. Mereka tak  mau menghentikan pekerjaannya, hingga petugas itu marah dan “ditandingi” oleh pak Gunadi yang bekas militer. Petugas itu tak berani datang lagi.

Aku melapor pada Ketua Yayasan Institut Pendidikan Maritim, dokter Trihendrokesowo , mengusulkan agar projek pembangunan gedung perkuliahan AMY itu dihentikan, selain IMB nya belum turun, pelaksanaannya menyimpang dari rencana. Untuk pembuatan foundasinya saja beaya material akan membengkak, hal ini disebabkan volume foundasi menjadi hampir dua kalinya dari yang tercantum dalam rencana. Foundasi yang seharusnya dalamnya 0,6 m menjadi 1m, dasar yang seharusnya 0,6 m menjadi 1,0 m. Bagian tengah melintang yang seharusnya sebuah menjadi dua buah. Tukang yang digunakan terlalu banyak, sehingga tak efisien.

Aku diperingatkan oleh Dokter Tri agar tidak mencampuri urusan tehnis sebab itu bukan merupakan wewenangku. Aku menyangkal karena erat kaitannya masalah tehnik dan logistik, misalnya penggunaan semen yang melebihi campuran yang telah ditentukan, volume yang membengkak.

Aku akan mengundurkan diri dari proyek itu, tetapi diperingatkan oleh Endang sebagai bendaharawan IPM , dikatakan bahwa dokter Tri hanya mempercayaiku untuk mengurusi logistik.

Masalah membengkakan penggunaan material dokter Tri tidak mempermasalahkan karena sesuai dengan laporan dari bagian tehnis, tanah yang digunakan untuk pembangunan itu bekas sawah dan tidak rata (terasering), jika foudasinya tak kuat akan membahayakan dikelak kemudian hari.

Kukatakan pada Endang, betapapun besar foundasi dan bagus adonannya jika dikerjakan oleh tukang yang tidak ahli tidak akan ada arinya. Aku meminta tukang  diganti dengan tukang yang ahli dalam bidangnya. Endang tidak sependapat, sebab akan terkesan aku menyodorkan tukang-tukangku dan terkesan aku berniat “memborong” seluruh projek itu.

Jika aku tak mengingat jaza dokter Trihendrokesowo terhadap keluarga kami ,aku tak akan bersedia ditunjuk sebagai penanggung jawab logistik, sebab medan yang kuhadapi sangat rawan, ibaratnya dipadang belantara yang tidak terjamin keamanannya.

Projek pembangunan gedung perkuliahan AMY itu terletak ditengah tanah persawahan yang sangat luas, dan dibagian yang tidak rata (terasering), didekat Kali Buntung yang rawan longsor. Jalan masuknya  dapat dicapai lewat jalan Magelang menyeberangi kali Buntung dengan jembatan darurat, setelah itu berbelok kenuju rumah pak Jusak sepanjang kali Buntung yang bertebing curam dan sering longsor karena belum diberi tebing batu kali (masih telanjang). Orang jahat dapat dengan bebas menyelinap masuk kedalam kali Buntung dan sulit untuk dikejar.

Pak Jusac MR, seorang pengacara dan anggauta DPR, sangat berjasa dalam pembangunan kampus AMY di Mesan, sebab saat itu rumahnya merupakan satu-satunya rumah terdekat dengan projek yang akan kami bangun.  Jalan menuju projek dan rumah pak Jusac itu dilebarkan dan terdapat pal listrik, karena kebutuhan  pak Jusac pribadi, sehingga kami “ikut menikmati” fasilitas itu.

Pak Darmo, Pak Tamrin, Bu Sis, pak Kardono dan pak Hartono, memasang listrik PLN, beaya penambahan satu togor/tiang listrik dipikul bersama. Aku akan memasang listrik dengan mencabang dari rumah bu Sis, tetapi tak diizinkan oleh PLN. Aku harus menambah satu pal lagi dengan beayaku sendiri.

Untuk menambah satu pal saja aku terseyok-setok, sehingga aku sangat kagum pada pak Jusack yang menambah 5 tiang listrik agar mendapatkan aliran listrik dari jalan Magelang. Aku tak tahu, beaya penambahan pal itu dipikul oleh pak Jusac secara pribadi atau  didapat secara cuma-cuma karena dia seorang anggauta DPR. Lepas dari siapa yang membeayai penambahan lima tiang listrik itu, seluruh penduduk desa Mesan, termasuk aku dan AMY, jangan melupakan jaza pak Jusac.

Andai kata pak Jusac tak tinggal di Mesan, desa yang letaknya dibelakang TV RI itu bagaikan “padang  belantara”, jika malam hari gelap gulita dan hanya diterangi oleh kunang-kunang.

Sederetan dengan rumah pak Jusac dan rumah kami di Mesan hanya terdapat beberapa rumah  dengan halaman yang sangat luas dan ditumbuhi  berbagai pohon besar. Dari barat ketimur: Rumah pak Jusac  dengan tanah kosongnya ditebing kali Buntung, tanah kosong yang  tidak berpenghuni, ditumbuhi pepohonan lebat,  Rumah pak Darmo dengan kebun yang sangat luas, Rumah pak Tamrim dengan halaman yang sangat luas, rumah bu Sis dengan halaman luas,kebun berbagai tanaman rimbun milik pak Wiryoatmojo, Rumahku, rumah pak Tri, jalan setapak menuju kerumah pak Marto/mbah Kasan dan ke kuburan Mesan, ditimurnya lagi terdapat hamparan sawah yang sangat luas hingga kekuburan Blunyah.

Walau listrik telah sampai kerumah kami dan rumah pak Tri, jalan kecil didepan rumah kami yang diselatannya terhampar sawah yang sangat luas tetap gelap gulita karena belum terdapat penerangan jalan. Dibelakang  rumah kami baru terdapat desa Mesan yang dihuni oleh penduduk asli yang memiliki kebun luas  ditumbuhi pohon-pohon besar dan belum ada aliran listriknya.

Tanah yang akan digunakan untuk membangun kampus AMY luasnya kurang lebih 1000 m2 terdiri dari dua tingkat, disebelah timur lebih tinggi sekitar satu seperempat meter dari yang disebelah barat yang dibatasi oleh jalan menuju kerumah pak Jusac dengan kali Buntung yang sangat curam. Gedung yang akan dibangun terletak dibagian timur dan hanya berjarak beberapa meter dari batas terasering.

Dana yang tersedia sangat terbatas sehingga tak mungkin membuat pagar keliling sebagai pengaman sebelum dilaksanakan pembangunan. Untuk menempatkan material aku membuat sebuah brak kecil ditanah yang tidak akan dibangun,ditengah sawah dibagian bawah.

Jika malam hari kondisi dilingkungan  sangat seram, sering sekali ular masuk kedalam brak. Brak itu hanya diterangi lampu 10 watt yang diambilkan dari rumah pak Jusac, tegangannya sangat rendah. Kali Buntung dan jembatan daruratnya terkenal angker. Pada malam Jum’at dalam brak itu tercium bau singkong bakar yang diyakini sebagai bau gendrowo. Didekat jembatan tercium bau wangi yang diyakini sebagai bau peri.

Aku kesulitan mencari penjaga malam, karena tak ada yang sanggup menjaga brak itu seorang diri. Untuk menggaji jaga malam masing-masing meminta honor Rp 8000,- (sesuai dengan pengakuan pak Kardono) permalam, jadi tiap malam harus dikeluarkan Rp 16000,- untuk dua orang jaga malam.

Mbah Marto,  yang tinggal dibelakang rumah kami sanggup menjaga seorang diri. Lelaki tua ini sepintas sangat rapuh, tetapi dikenal “duk-deng” Ketika kepalanya kejatuhan kelapa seakan tak dirasa, sehingga dia sangat disegani oleh orang muda.

Semakin lama semakin banyak barang berharga yang diletakkan dalam brak, sehingga mbah Marto meminta tambahan uang jaga malam. Pada saat yang sama pak Kardono, menyanggupkan diri sehingga tugas jaga malam pak Marto digantikan oleh pak Kardono.

Tidak setahuku kedua orang  bertetangga itu bersengketa, ternyata mbah Marto meminta tambahan jaga malam atas anjuran pak Kardono. Mbah Marto merasa terkecoh oleh pak Kardono yang ternyata bermaksud menggantikannya sebagai jaga malam. Mbah Marto marah dan melabrak pak Kardono.

Aku terpaksa turun tangan, kubujuk mbah Marto agar mengalah, kusadarkan bahwa barang yang ada dalam brak semakin lama semakin berharga hingga akan banyak orang yang mengincarnya.

Aku melihat potensi pak Kardono untuk mempengaruhi orang lain, ini terbukti pada apa yang dilakukan terhadap mbah Marto, walaupun akhirnya jadi bumerang. Kutanyakan mengapa tiba-tiba  dia berani jaga malam sendiri, ternyata jawabannya sederhana: “Kula mboten piyambak, sak kampung niki tumut njagi.”

Dijelaskannya bahwa dengan dibangunnya kamnpus AMY desa Mesan akan maju, itu sebabnya penduduk Mesan akan ikut menjaga keamanan projek AMY. Aku tak menduga seorang yang tidak tamat sekolah dasarnya wawasan kedepannya sangat  luas.

Pak Jusac juga mempunai wawasan yang sama, ingin memajukan desa Mesan. dengan berjanji kalau ada yang akan merampok barang berharga dalam brak itu akan ditembaknya. Aku percaya dengan ucapan pak Jusac sebab dia seorang bekas pejuang yang keras dan memegang senjata sungguhan.

Perusahaan kayu Marga Agung yang terletak di jalan Magelang adalah langgananku membeli kayu jati yang berkwalitas tinggi. Sebenarnya Marga Agung sanggup untuk mengerjakan berbagai konstruksi kayu, tetapi karena pekerjaannya dikerjakan dengan mesin dan standardnya tinggi, ongkos pembuatan kerangka atap yang menggunakan kayu jati sangat tinggi.

Kami mencari tukang lain yang beayanya lebih murah. Teman Ir Gunadi yang bernama pak Bardi adalah seorang tukang kayu yang rumahnya terletak dibelakang toko Marga Agung. Pak Subowo, Kepala Proyek Pembangunan gedung AMY, mempercayakan pembuatan kerangka atap bangunan kepada pak Bardi.

Aku menghadap dokter Tri dan menyatakan keberatan atas rencana pak Subowo, sebab aku tahu kemampuan kelompok Ir Gunadi. Ir Gunadi dan pak Bardi, mungkin  memang ahli  dalam bidang masing-masing, tetapi tenaga yang digunakan belum berpengalaman dalam bidang bangunan, pemberian pekerjaan didasari oleh rasa sosial, menolong orang yang membutuhkan pekerjaan ,sehingga kepentingan pemesannya dinomor duakan.

Dokter Tri yang sangat humanis justru sangat bangga dapat memberi pekerjaan kepada kelompok yang sedang terhimpit kesulitan. Aku tak dapat berbuat sesuatu, tetapi aku telah mengingatkan risiko jika bahan mahal itu dikerjakan oleh tenaga yang bukan ahlinya.

Seluruh material kayu jati yang telah dibayar lunas dan akan digunakan sebagai kerangka atap ruang kuliah AMYdipindahkan dari Marga Agung kerumah pak Bardi. Aku tak mau bertanggung jawab atas “penitipan” dan pengerjaan kayu ini, hingga tanggung jawab langsung dioper oleh Kepala Projek,pak Subowo.

Foundasi selesai, besi beton mulai datang dan diletakkan diluar Brak. Aku tidak khawatir karena penjaga malamnya telah digantikan oleh pak Kardono yang didukung oleh pak Jusac dan penduduk  Mesan. Pekerjaan besi juga ditangani oleh kelompok pak Gunadi.

Pada saat pemasangan bata merah terjadi hal yang sangat “memprehatinkan” Pasangan bata merah yang seharusnya horizontal menjadi melengkung bagaikan sebuah busur. Pak Subowo marah, tetapi pak Gunadi berdalih hal itu disebabkan oleh kwalitas benang yang digunakan untuk rambu-rambu horizontal jelek hingga mudah putus jika ditarik tegang.

Aku sebenarnya sudah memperingatkan agar tiap kolom yang berjarak tiga meter diberikan perpil, usulku itu tidak digubrtis. Perpil hanya dipasang pada ujung-ujung bangunan yang jaraknya 21 meter. Agar tak berkepanjangan kuminta pak Bowo mencari benang yang berkwalitas tinggi. Saat itu belum ada benang nilon, yang ada hanya benang katun yang tersedia khusus untuk bangunan. Benang itu tak sekuat  dan seringan benang nilon, sehingga jika jarak bentangannya  terlalu lebar akan melengkung atau putus.

Pak Bowo sangat cermat dan tidak puas dengan pekerjaan itu dan meminta untuk membongkar bata merah yang telah terpasang dan diulangi pemasangannya.Aku berkeberatan karena akan membuang material dan tenaga. Aku mengambil jalan tengah, kuminta pekerjaan dilanjutkan tetapi tiap jarak tiga meter diberikan perpil. Pak Subowo menyetujui usulanku, tetapi pak Gunadi tidak senang dengan tugasnya kucampuri.

Ketika kuceriterakan “perseteruanku” dengan pak Gunadi, Endang memintaku agar tidak mencari perkara.  Demi keselamatanku aku dilarang mencampuri urusan tehnis.

Aku menuruti nasehat istriku sehingga aku jarang datang ke projek, tetapi aku siap dirumah Mesan agar sewaktu-waktu dibutuhkan mudah dihubungi. Waktuku kugunakan untuk mengecat rumah Mesan dan membenahi instalasi listrik dan air.

Suatu saat bu Jusac datang kerumahku di Mesan, memperingatkan kepadaku karena aku dianggap menelantarkan pekerja. Aku baru tahu bahwa selama ini bu Jusac sering menyediakan minuman dan makanan untuk mereka yang bekerja di projek AMY. Kujelaskan bahwa itu bukan tugasku, namun aku akan menyampaikan kepada pemilik proyek.

Pak Kardono rumahnya dibelakang rumah kami disebelah barat rumah mbah Marto. Pak Kardono diserahi tugas  menyiapkan minuman dan sekedar makanan untuk para pekerja di lapangan.

Ketika  akan dilakukan pemlesteran ternyata pasangan bata merah dibagian dinding utara tidak vertikal, condong kedalam.  Pasangan itu sudah selesai sehingga tak mungkin untuk diperbaiki. Pemlesteran  harus dibuat vertikal sehingga pada bagian tertentu ketebalan plesteran mencapai 3 cm. Dinding yang lain bernasib sama, tetapi paling tebal sekitar 1,5 cm.

Aku mengusulkan pemlesterannya dengan pasir  dan semen, tanpa menggunakan kapur agar tidak ngelokop. Aku meminta untuk finishing dipilihkan tukang yang ahli. Dokter Tri dan Pak Subowo menyetujui saranku. Khusus untuk finishing Ir Purnomo harus menggunakan tenaga  lain yang ahli.

Pak Darmo adalah seorang “tuan tanah”. Seluruh sawah ditimur AMY adalah milik pak Darmo. Tanah disebelah timur pak Jusac juga milik pak Darmo. Darmo tinggal

Diantara tanah AMY dan sawah pak Darmo terdapat selokan yang airnya digunakan mengairi sawah disekitarnya. Aku meminta izin untuk mengambil air dari selokan disebelah timur AMY itu u8ntuk kebutuhan pembangunan gedung AMY.

Disebelah timur selokan terdapat sederetan pohon kelapa yang condong kebarat karena akarnya tergerus air selokan. Jika angin besar aku khawatir pohon itu akan roboh dan menimpa banguan AMY yang berada disebelah baratnya. Aku meminta persetujuan pak Subowo untuk membeli  3 batang pohon kelapa yang sangat membahayakan dan menebangnya. Pak Bowo menyetujui.

Ketika akan memagar bagian timur gedung, aku mengusulkan agar selokan dipindahkan, hingga tak membahayakan pagar tembok yang akan dibangun. Pak Subowo sepenuhnya menyerahkan hal itu kepadaku.

Aku menghubungi pak Darmo untuk menyampaikan maksud itu. Sebagaimana penduduk Mesan lainnya pak Darmo sangat mendukung pembangunan Kampus AMY di Mesan .Atas izinnya selokan dipindahkan ketimur, bahkan pak Darmo mengizinkan kami memperlebar tanah AMY agak ketimur dengan mengganti rugi (Ganti rugi ini dapat dibuktikan dengan kwitansi pembayaran).

Berkat kemurahan pak Darmo tanah disebelah timur gedung AMY dapat dimanfaatkan untuk tempat sepeda motor taruna. (tadinya selebar 1 m menjadi 2 m)

Aku menyarankan atap gedung menggunakan genteng beton sebagai rumah kami, tetapi pak Subowo menginginkan menggunakan geteng kodok yang terbuat dari tanah liat.  Aku khawatir jika menggunakan genteng bakar tidak dapat rapat sebab sering  “menggeliat akibat pembakaran”. Pak Bowo yakin jika digunakan genteng bakar dari Kebumen hal itu tidak akan nterjadi.

Aku dan pak Bowo mencari genteng bakar yang berkawilat prima. Kami mendapat potongan lima persen. Saat genteng pesanan itu datang ternyata tidak seperti yang kami harapkan.  Kutolak kiriman itu, kusuruh mengganti dengan yang sesuai dengan contohnya. Kukembalikan uang potongan, tetapi kami telah terlanjur melunasi hingga jika pedagang itu tak mengirim barang, kami akan rugi.

Aku datang dan berusaha menyakinkan pedagang itu, kuminta memberikan barang yang baik agar dapat menjadi langganan. Kukatakan AMY masih akan membangun gedung lagi sebagaimana Kanwil Pendidikan yang selama ini menjadi langganannya.

Dua minggu kemudian pesanan itu datang, aku terpaksa mensortir. Barangnya lumayan, namun ada seperempat bagian yang kutolak lagi. Pedagang itu mengganti dengan barang yang sangat bagus.

Untuk memperoleh sambungan listrik PLN sangat mudah karena saat itu tenaga listrik berlimpah dan saluran PLN telah masuk ke desa Mesan berkat jaza pak Jusac MR. Untuk menghemat biaya kami hanya memasang beberapa titik lampu dengan automat 1350 watt. Pak Kardono kuserahi menambah titik-titk baru dengan penerangan neon.

Pak Kardono membuat sumur konvensional dan menginstalasi pipa dari pompa air listrik automatis langsung menuju ke kamar mandi,wc dan dapur.

Dengan beaya yang sangat minim aku diserahi membuat bangunan ditanah sisa disebelah utara gedung kuliah.  Aku menggunakan tukang-tukangku (Pak Tukiman cs untuk pekerjaan batu dan pak Sis cs untuk pekerjaan kayu dan besi) dibantu oleh pak Kardono. Foundari bangunan ini sangat dalam karena terletak didaerah perbatasan antara bagian atas dan bawah,  lantai bangunan harus sama tingginya dengan gedung diselatannya.  Tinggi foundasi rata-rata 1,3 m.

Aku menggunakan glugu untuk kerangka atapnya, kusen dan daun pintu dibuat dengan kayu kamper.Aku menggunakan genteng beton. Bagunan ini luasnya 5 x 10 meter dengan teras diutaranya seluas  2 x 10 m2. Disebelah  selatan bangunan ini terdapat teras bangunan perkuliahan selebar 2 m, sehingga kami mendapatkan ruangan  tambahan “secara cuma-cuma” seluas 2 x 10 m2.

Bagian utara  terdiri dari  tembok bata merah  setingi 80 cm, diatasnya jendela kaca  sangat lebar, terdapat  loket untuk pelayanan. Ruangan ini dipersiapkan sebagai kantor untuk melayani keperluan administasi  taruna yang akan mendaftar atau membayar uang kuliah.

Bangunan darurat  yang letaknya sangat strategis ditepi jalan ini sepenuhnya dipercayakan kepadaku oleh dokter Tri, tanpa melibatkan team sebagai pada pembangunan gedung kuliah, dan tanpa IMB. Mengapa? Bangunan ini merupakan bangunan darurat untuk sekedar memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak. Didalam bangunan ini terdapat sumur yang telah terlanjur dibuat sebelumnya.

Unit pertama Kampus AMY siap digunakan, gedung BOBKRI diterahkan sepenuhnya kepada pemiliknya,SD BOPKRI Gondolayu. Tempat perkuliahan dan kantor AMY pindah ke Mesan. Perkuliahan diberikan pada pagi hari hingga siang, sebagian  terpaksa dilakukan sore hari karena ada dosen yang hanya menyediakan waktu sore hari.

Rumah kami di Mesan dikontrak oleh IPM untuk kantor, perpustakaan, ruang dosen, ruang ketarunaan dan dapur. Sekali lagi jika tidak mengingat jaza dokter Trihendrokesowo kepada keluarga kami, aku tak akan “mengizinkan” rumah kami  dikontrak oleh fihak lain, karena kami belum pernah menikmati hasil jerih payah membangun rumah idaman itu.

Letak kampus baru AMY terletak diluar kota, didaerah kabupaten Sleman, dan tidak terletak dipinggir jalan raya sebagai yang di Jalan Jendral Sudirman no 24. Untung rumah kami masih di Jalan Sudirman  No 34, terpisah 4 rumah dari SD BOPKRI yang biasa digunakan untuk tempat pendaftaran taruna baru.

Saat itu bangunan yang kami tempati telah menjadi milik kami, HGB nya juga telah keluar sehingga tak ada yang  berani merecoki lagi keberadaan kami ditempat itu. Rumah kami yang dijalan jendral Sudirman  34 yang sangat strategis digunakan untuk kantor pendaftaran taruna baru AMY, disamping rumah kami yang di Mesan.

Aku dan pak Subowo BA diserahi oleh IPM membangun unit dua. Bangunan ini terdiri dari Lantai satu: Dua ruangan masing-masing ukuran 6 x 9 m2, teras berukuran 2 x 18 m2, gudang dibawah trap seluas 1.25 x 8 m2.

Agar IMB dapat lancar gambar, perhitungan kontruksi dan ukuran  material (tidak termasuk banyaknya material yang dibutuhkan) dan IMB kami borongkan kepada salah seorang pegawai DPU Sleman dengan imbalan Rp 500.000,- IMB cepat turun sehingga projek segera dapat dilakukan.

Saat itu pak Bowo sedang sibuk sehingga praktis “diborongkan” kepadaku. Pak Supadmo BA (kemudian menyelesaikan kuliahnya hingga bergelar sarjana,S1) bertindak sebagai pengawas pelaksanaan projek. Aku menggunakan tukang-tukangku sendiri, Pak Tukiman cs dan pak Sis cs. Gambar dari DPU itu mentah, tidak mendetail sehingga aku harus mencari konsultan gratisan, seorang insinyur sipil yang masih pernah keponakanku, Anto namanya.

Karena tingkat maka konstruksi menggunakan lantai kerja disamping foundasi batu kali sebagai dasar slope. Kolomnya besar sehingga menonjol keluar pasangan bata merah. Untuk kolom ditepi ruangan tak ada masalah , karena seluruh kolom menonjjol keluar. Aku mendapat kesulitan untuk kolom tengah pada dinding penyekat kedua ruangan karena kolom itu besar sehingga menonjol dari pasangan batu merah. Terpaksa kolom itu kutempatkan ditengah dinding dan menonjol kekiri dan kekanan.

Menurut Anto, kerangka lantai kurang kuat karena akan digunakan untuk ruang kuliah, sehingga diperapat jaraknya. Balok melintang ruangan harus diperbesar diameter besinya. Sebaliknya luas lantai dasarnya terlalu lebar, tetapi kurang tebal.

Aku tak berani menyimpang dari gambar, sehingga setiap kali ada penyimpangan aku meminta persetujuan pak Bowo. Suatu saat Ir Purnomo datang ke projek; kutunjukkan gambar konstruksi bangunan dan IMB kepadanya. Ir Purnomo menggeleng-gelengkan kepada, dikatakan konstruksi itu berlebihan, perhitungannya ngawur. Dia bersedia menghitung ulang agar dapat dihemat. Saat itu lantai dasar sebagian telah selesai, bahkan besi-besinya sudah teranyam. Ir Purnomo justru menyarankan agar balok melintang diperkuat sebagai anjuran Anto. Kolom bagian lantai dua justru harus diperkuat  agar dapat mengatasi beban sewaktu akan dijadikan bangunan tiga lantai.

Di selatan tanah yang digunakan untuk membangun kampus AMY adalah sawah Pak Muji, anak Mbah Kasan. Pak Muji adalah seorang petani yang ulet, disamping mengerjakan sawahnya sendiri pak Muji juga mengerjakan tanah orang lain.

Ada sebatang pohon kelapa kecil dibatas terasering tanah AMY yang berdekatan dengan sawah pak Muji, kira-kira seperempat meter dari sawah pak Muji. Perbatasan kedua tanah itu serong terhadap gedung yang sedang kubangun setingga sudut barat daya gedung hanya berjarak  seperempat meter dari sawah pak Muji.

Aku mengalami kesulitan saat membuat galian untuk membuat lantai kerja, sehingga aku bernegoisasi dengan pak Muji untuk “tukar guling”. Pohon kelapa kumasukkan dalam wilayah pak Muji dan bagian yang kugunakan untuk lantai kerja kumasukkan dalam wilayah AMY. Perbatasan  baru yang telah kami setujui ini kugali dan kubuat foudasi pagar.

Pak Bowo menganggap aku memberikan pohon kelapa itu kepada pak Muji tanpa persetujuannya,  Aku diangga merugikan AMY. Aku berdebat dengan pak Bowo. Pak Muji mendengar  perdebatan kami hingga dia meminta aku mengembalikan pada batas lama. Pak Bowo menyalahkan aku karena dianggap gedung itu terlalu keselatan. Karena semua telah “berjalan” aku tetap bertahan pada batas baru yang telah disepakati. Aku tidak menuruti kehendak pak Muji  untuk mengembalikan pada batas lama, hingga dia marah dan mengacung-acungan parangnya kepada kami. Sejak saat itu pak Muji tidak bersahabat dengan AMY.

Lantai dua luasnya 10 x 12 m2 telah siap dibegististing dan  besi beton telah teranyam. Besi balok ditingkatkan ukurannya, anyaman lantai diperapat dari berstek. Pak Padmo menghendaki diatas teras ruangan sebelah barat akan digunakan untuk ruang yayasan sehingga balok teras dan anyaman lantainya harus diperkuat. Pekerjaan ini tidak mudah karena harus membongkar dulu anyaman lama, untuk kemudian disusulkan besi baru.

Pak Padmo meminta seluruh lantai harus dicor beton dalam waktu yang bersamaan hingga tak ada sambungannya. Untuk keperluan ini dikerahkan taruna untuk membantu pengecoran lantai dua. Aku kurang berpengalaman dalam memperhitungkan kecepatan pengadukan/kapasitas kerja sebuah molen ( mesin pengaduk adonan beton,) seihingga hanya menyewa sebuah mesin pengaduk beton.

Pengecoran dimulai pukul 9.00 pagi. Tengah hari beristirahat untuk makan, minum dean beribadah. Pukul empat sore pekerjaan baru setengan bagian. Aku menyiapkan lampu spot dan floot untuk  kerja lembur hingga seluruh lantai dapat dicor beton sesuai dengan permintaan pak Padmo.

Pekerjaan baru selesai tengah malam, aku terpaksa memberikan makanan tambahan. Kuhargai bantuan taruna, andai kata tak dibantu mungkin pekerjaan baru  akan selersai pagi hari. Pengalaman pengecoran ini sangat bermanfaat untuk melaksanaan pembangunan rumah kami (beberapa tahun kemudian) ) yang berlaitai tiga.

Pembangunan gedung AMY unit 2 ini harus dihentikan karena kehabisan dana. IPM mencari dana dengan meminjam ke Bank Pembangunan Daerah, hingga projek AMY dapat dilanjutkan.

Saat akan dilanjutkan  Tukiman cs sedang bekerja diprojek lain sehingga aku mencari tukang batu baru yang dipimpin oleh  Pak Saparjiyo, teman pak Sis. Aku belum pernah bekerja sama dengan kelompok ini, tetapi pak Sis meyakinkan aku dengan memberikan contoh projek yang pernah dikerjakan/diborong oleh kelompok Sapar. Hasilnya jauh lebih baik dari pekerjaan Tukiman cs, sehingga kuputuskan untuk “mencoba” kelomp[ok tukang ini.

Aku meminta pertimbangan Ir Anto untuk memperkuat kolom lantai dua sesuai dengan nasehat Ir Purnomo, tetapi Anto memperingatkan  lantai kerja gedung itu hanya dipersiapkan untuk gedung tingkat satu. Lebarnya berlebihan, tetapi ketebalannya kurang. Untuk lantai dua besi harus dianyam dua lapis, bukan hanya satu lapis. Berdasar pertimbangan ini tak ada gunanya menguatkan kolom lantai dua.

Begel kolom lantai dua setengahnya dari begel kolom lantai satu. Ini membuat aku posing, karena hangunan lantai dua tidak akan sinkron/ sesuai dengan lantai satu.  Kolom lantai satu menonjol keluar sedangkan lantai dua hanya menonjol sedikit. Atas nasehat Anto tonjolan dapat disesuaikan sengan menambahkan bata merah.

Suatu saat terjadi pemogokan, tak seorang tukang pun datang hingga satu minggu prokek terbengkalai. Aku kerumah Sapar tetapi tak dapat menemuinya. Hari Sabtu beberapa tukang datang kerumahku meminta bayaran. Ternyata minggu yang lalu mereka tak dibayar oleh Sapar. Kukatakan aku telah menyerahkan uang kepada Sapar dan kutunjukkan tanda terima yang ditanda tangani oleh Sapar.  Agar tak terjadi kesalah fahaman kururuh mereka mengajak Sapar  ke AMY untuk menyelesaikan masalah itu. Menurut mereka Sapar telah menghilang dan tidak diketahui keberadaannya.

Sebenarnya Sapar telah mendapat bagian rejeki dari tukangnya karena honor tukang hanya  tiga perempatnya dari yang kuberikan, tetapi Sapar masih tega membawa lari seluruh honor tukan-tukangnya. Aku mengambil kebijaksanaan: masing-masing tukang kubayar secara langsung dan kusuruh masuk lagi.

Suatu saat Sapar datang, matanya merah sebagai sedang mabok, dia menuduhku curang karena menggunakan tukang-tukangnya tidak sepengetahuannya. Sapar tidak mengaku telah menggunakan uang bawahannya, dikatakan uang itu hanya dipinjam sementara. Kusuruh dia datang menemuiku di AMY dengan mengajak teman-temannya yang telah kubayar untuk mengembalikan uang itu karena uang yang dipinjam oleh Sapar telah dikembalikan. Sapar mengatakan uang itu belum dikembalikan, sebab akan diangsur.

Aku menasehatkan agar jangan membuat sulit anak buahnya yang hidup nya pas-pasan, jika perlu boleh ngebon/ pinjam dulu kepadaku. Untuk selanjutnya kuminta Sapar membayarkan honor tukang-tukangnya dihadapanku. Dia menaurut, tetapi setiap butuh uang mencari bon-bonan dari aku sehingga pinjasmannya menumpuk.

Atap bangunan ini berbentuk kampung, kerangkanya semua terbuat dari glugu, menggunakan genteng beton pres. Semua dikerjakan oleh pak Sis cs.

Sambil finishing aku merencanakan untuk memfoundi pagar mengelilingi bagian utara dan barat AMY, agar dapat menaikan dan meratakan halaman AMY yang lebih rendah dari jalan didekatnya. Saat itu kampung telah membuat selokan yang membatasi tanah AMY dengan jalan didekatnya. Pak Bowo meminta foundasi itu diluar selokan yang telah dibuat oleh kampung Mesan. Alasannya jalan disebelah barat sampai kekali Buntung itu termasuk wilayah AMY. Aku tak sependapat hingga tak mau menuruti kehendak pak Bowo.

Aku tak peduli tanah yang digunakan untuk jalan itu milik siapa, tetapi secara tehnis jika selokan itu berada dalam halaman AMY aku tak mungkin meninggikan tanah AMY, kecuali dengan mengganti selokan dengan bus beton atau membuat selokan baru diluar pagar yang akan kubuat agar selokan lama dapat kutimbun tanah untuk meninggikan tanah AMY.

Aku meminta pendapat Pak Jusac, dia mengatakan bahwa pak Bowo mencari perkara dengan penduduk Mesan dengan mengaku jalan itu milik Maritim. Aku sependapat dengan pak Jusac, Pak Bowo tinggal diluar desa Mesan, hingga tak peduli dengan kepentingan penduduk Mesa.

Semua yang kulakukan untuk “merangkul” penduduk disekitar Kampus AMY agar “ikut handarbeki Kampus AMY” akan hancur akibat  keinginan pak Bowo  ” mempersempit ”  jalan akibat pembuatan pagar AMY.

Menurut Eandang pada saat jual beli dengan pak Marta, pemilik lama, sudah disepakati tanah yang digunakan  untuk jalan itu telah diminta oleh Lurah Sukamdani untuk disumbangkan kepada kalurahan Sinduadi,  sehingga pada sertifikat yang diberikan kepada AMY luas tanah sesuai dengan keadaan baru setelah dikurangi dengan jalan. Pak Bowo orangnya keras , aku tak mau bertengkar hingga kubiarkan rencana pembuatan pagar itu terkatung-katung.

Pak Padmo memintaku untuk menaikkan dan meratakan halaman AMY agar tidak terendam air. Halaman ini sering digunakan untuk upacara AMY. Kujelaskan duduk perkaranya, belum ada persesuaian faham antara aku dan pak Bowo.

Pak Padmo dapat menerima pendapatku dan aku tidak usah peduli dengan keinginan pak Bowo secara pribadi. Aku tetap tidak bersedia sebelum mendapat persetujuan dari pak Bowo yang langsung menjadi atasanku dalam projek AMY.

Pak Bowo menemuiku dan menyerahkan sepenuhnya pembuatan pagar AMY dan peninggian halaman AMY itu kepadaku. Segera kumulai penggalian tanah untuk pembuatan foudasi pagar utara dan barat. Tanah galian itu kugunakan untuk meninggikan halaman AMY, tetapi belum cukup. Aku membuat foundasi talut pada tanah terasering. Ketinggian tanah belum juga cukup. Aku meminta mas Sutanto, anak pak Darmo, untuk meninggikan tanah itu dengan tanah yang masih teronggok disebelah selatan gedung (hasil galian foundasi pagar selatan ) dan mengepras bagian-bagian tanah terasering yang akan dibuat talut. Aku sangat berterima kasih pada mas Tanto karena  bekerja dengan cepat dan bersemangat hingga halaman AMY mencapai ketinggian yang memungkinkan air keluar kejalan.

Pembuatan foundasi keliling halaman kampus dapat menahan tanah terseret keluar, tetapi menyebabkan halaman becek sehingga aku harus membuat drainage agar air dapat mengalir keluar dengan lancar tetapi tanah tidak terbawa aliran air keluar halaman. Aku membuat gorong-gorong dengan bus beton dibagian selatan, sudut pagar selatan dan barat, melintang ke jalan menuju kekali Buntung.

Pembuatan talut kudahulukan karena kuanggap lebih penting, sekaligus pembuatan trap keatas dari halaman bawah kehalaman atas. Pak Padmo meminta trap itu tak perlu lebar, tetapi dikiri kanannya dibuat bulatan besar agar nampak indah. Karena pak Bowo telah menyerahkan tugas itu kepadaku sepenuhnya, permintaan pak Padmo tidak kupedulikan, bulatan hanya kubuat dibagian utara dan hanya kecil sehingga trap naik dapat lebar. Pak Padmo kupersilakan membuat bulatan besar itu dikelak kemudian, aku hanya ingin menyelamatkan terasering agar tidak terkikis air hujan.

Konstruksi dan bentuk pagar sebelah utara dan barat kusesuaitan dengan rumah kami yang saat itu digunakan untuk kantor AMY. Pagar disebelah selatan terdiri dari tembok biasa setinggi 1,5 m tetapi kusisakan besi kolom keatas untuk persiapan jika sewaktu-waktu digunakan untuk tiang penyangga atap tempat kendaraan bermotor.

Pekerjaan besi pagar, pintu  besi , “pengaman”  pagar lantai dua  dan teralis gudang dikerjakan oleh Pak Slamet. Pak Slamet  mengerjakan pengelasan besi dibengkel seorang Tionghoa di jalan Magelang, disebelah barat  Kobuta.

Pak Slamet melihat peralatan bengkel milikku yang kadang kugunakan untuk mengerjakan menara air. Pak Slamet ingin mendirikan bengkel sendiri dan meminta untuk “membeli “peralatanku yang jarang kugunakan lagi dengan cara mengangsur.

Akan lebih efisien jika untuk mengerjakan konstruksi besi kuserahkan saja kepada pak Slamet. Pak Slamet mendirikan bengkel sendiri dibelakang pabrik textil Harapan di jalan Magelang, sangat dekat dengan AMY. Dalam mengangsur pak Slamet  selalu tepat waktu hingga cepat lunas dan kuperbolehkan untuk membeli alat lainnya. Alat-alat yang ditanganku tidak terlalu bermanfaat bagi pak Slamet sangat dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Pak Kardono yang telah mahir mengerjakan instalasi listrik dan air bersih kuserahi untuk menginstalasi  listrik dan saluran air bersih digedung Unit 2. Tukiman cs yang sudah menyelesaikan mengerjakan  projec lain kuserahi mengerjakan pemeluran lantai-lantai dihalaman luar: jalan masuk dari barat dan dari utara, jalan setapak dipinggir talut, penitipan sepeda dan pembuatan wc dan kamar mandi. Pak Kardono ikut serta dalam pekerjaan ini.

Setelah tiga tahun menyewa rumah kami di Mesan,  AMY pindah kekampusnya yang baru yang telah siap pakai ,walau masih  banyak kekurangannya.

Endang, Ida dan Sigit  pindah dari Jendral Sudirman 34 ke rumah kami di Mesan no 31. Mbah Harun yang rumahnya di Grogoyudan, sebelah barat AMY kuminta membantu pekerjaan Endang. Ida kuliah di fakultas Biologi UGM, Sigit kuliah di fakultas Tehnik jurusan Mesiun  UGM. Mesan ke kampus UGM  sebenarnya lebih dekat dari jendral Sudirman ke UGM, tetapi karena tidak ada jembatan menyeberangi kali Code, mereka harus melewati  jalan jendral Sudirman untuk menyeberangi jembatan Gondolayu kemudian kembali ke utara melalui jalan Kaliurang untuk sampai ke kampus UGM.  Ida dan Sigit lebih senang tinggal di Mesan bersama ibunya karena suasananya lebih nyaman dari pada di jendral Sudirman yang bising oleh kegiatan SLB. Saat itu masing-masing menggunakan vespa.

Yulia belum selesai kuliahnya di fakultas Tehinik UGM Jurusan Listrik Ketenagaan, tetapi dia sudah selesai kuliahnya di Institut Seni Indonesia Yogya Fakultas Seni Tari, jurusan koreografi. Yulia telah menikah dengan Rachmat Effendi, alumnus AMY jurusan Mesin Kapal yang berdinas di Bengkel Angkatan Darat di Jakarta. Mbah Arjo  ikut menjaga rumah Yulia  di Pondok Gede Jakarta karena saat itu Yulia bekerja di Taman Mini Indonesia Indah.

Aku dan Bagus tetap tinggal di jalan jendral Sudirman no 34, karena Bagus  masih duduk di SMA III B Negri di Kota Baru, yang sangat dekat dengan rumah kami di jalan jendral Sudirman.

Rumah di jalan jendral Sudirman “kosong”, kugunakan untuk menerima kost putra. Usaha foto kututup karena  Jumiah telah menikah dan ikut suaminya ke Sumatra, mas Jo membantu mbak Mi  mendirikan usaha Katering. Aku lebih sering di Mesan menyempurnakan rumah kami di Mesan dan diserahi memugar rumah  mertuaku agar pantas untuk ditempati.

Di jendal Sudirman 34 Bagus tidak sendirian, beberapa mahasiswa Perhotelan & Pariwisata dan Perguruan Tinggi lainnya mengontrak kamar dirumah kami. Mereka adalah: Daruwati, Hermanu, Mermansah, Danarjati, dan Koko. Bagus sangat akrab dengan mereka. Saat itu sedang musim pemancar amatir yang menggunakan gelombang pendek (SW) untuk melakukan komunikasi. Radio Pemerintah dan swasta menggunakan gelombang  menengah (MW).

Salah seorang mahasiswa, Danarjati, yang mempunyai hoby berkomunikasi lewat pemancar amatir kuminta membuat dua buah tranceiver yang dapat menghubungkan rumah Mesan dan jendral Sudirman. Alat komunikasi ini sangat penting karena pada saat itu sangat sulit untuk memperoleh sambungan telpon (kabel) , HP belum dikenal sama sekali.

Karena masih duduk di SMA Bagus belum kami beri kendaraan bermotor. Karena hanya menggunakan sepeda ontel Bagus lebih senang makan diwarung bersama anak kost.

Lain Bagus lain Sigit, Bagus pandai bergaul sehingga disukai oleh cewek, baik teman sekolahnya atau tetangga. Sigit sangat ekoistis dan cenderung sombong sehingga kurang akrap dengan cewek.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s