Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (6)

BATU-BATU UJIAN

Tebing curam di pinggir kali Buntung ditalut dengan batu kali oleh Kalurahan Sinduadi, jembatan diganti dengan jembatan permanen, jalan di antara jembatan ke utara hingga tikungan ditaburi batu kali sebagai fondasi pembuatan jalan aspal.

Jalan ke timur, mulai depan rumah Pak Jussac MR hingga depan rumah pak Triyono diperlebar hingga dapat dilalui dua kendaraan roda empat, kecuali antara pagar Pak Jussac MR dan pagar AMY yang baru saja kubuat, tak dapat dilalui dua kendaraan roda empat. Bagian ini ternyata merupakan yang paling sempit.

Untung Aku membuat pagar di sebelah selatan selokan yang telah dibuat oleh warga, sehingga tak dapat dipersalahkan. Andaikata pagar itu kubuat di utara selokan seperti perintah pak Bowo, pasti pagar itu harus dibongkar dan mungkin saja sebagian tanah AMY harus dikepras untuk menyesuaikan lebar jalan sebagai yang lain-lainnya.

Setelah diperlebar jalan ke timur itupun ditaburi batu kali sebagai foundasi pembuatan jalan aspal. Jalan yang tadinya becek kini berubah bagaikan “sungai kering” dengan hamparan batu kali yang sangat sulit dilalui kendaraan atau pejalan kaki. Dari rumah kami di Mesan sampai ke Maritim dibutuhkan waktu dua kalinya, itupun harus dilalui dengan sangat hati-hati.

Untung jalan keselatan menuju Blunyah Gede masih dibiarkan “telanjang”, belum akan diaspal, sehingga dapat dilalui dengan mudah walaupun jika hujan sangat becek karena jalan itu  bekas pematang sawah yang diperlebar. Di kiri-kanan jalan ini terbentang sawah yang sangat luas dan jika malam hari gelap gulita.

Batu kali yang terhampar di depan rumah kami di Mesan itu seakan memberikan firasat kesulitan yang akan kami hadapi.

Ito, suami Tatik menjabat Kepala Bagian Pemasaran BBM/BBG seluruh wilayah Jawa Tengah dan DIY. Ito sebagai pejabat Pertamina berwenang untuk memberikan izin pendirian  SPBU baru dan distribusian BBM/BBG, kariernya sedang menanjak, sehingga tidak sulit untuk memberikan pinjaman kepada mbak Sam untuk pengobatan kak Vai.

Entah dengan pertimbangan apa, tiba-tiba hutangku kepada mbak Sam sebagian dipindahkan ke Ito tanpa setahuku. Mbak Sam memberikan catatan pelimpahan hutang itu lewat sebuah surat.

Walaupun perjanjian utang piutangku dengan mbak Sam tidak tertulis, tetapi tidak ada syarat lain kecuali aku meminjam dalam bentuk dolar dan kembali dalam bentuk dolar, tanpa bunga dan tanpa batas waktu. Pemindahan hutangku kepada Ito segera kutanyakan kepada Ito. Ito berterus terang, sebenarnya dia berkeberatan atas pemindahan hutangku pada mbak Sam kepadanya, tetapi sebagai seorang kemenakan dan sangat menghormati kak Vai dia terpaksa menerimapemindahan hutang itu.

Saat itu kondisi keuangan kami sedang kurang baik, Endang kuliah lagi di Sanata Dharma untuk memperoleh gelar kesarjanaan (tadinya baru BA),  Ida sedang senyelesaikan tugas akhirnya. Kantor Polisi lalu lintas pindah dari jalan jendral Sudirman ke Kebon Suwung, sebelah barat Stasiun Tugu, sehingga aku kehilangan langganan pemotretan dokumentasi, Tempat perkuliahan Akademi Pariwisata & Perhotelan pindah dari Terban ke Babar Sari hingga tempat kost di Jendral Sudirman kurang laku, Yulia memerlukan bantuan keuangan, usaha instalasi air bersih dan pompa air listrik bermunculan sehingga persaingan di bidang ini sangat ketat.

Kami memiliki sebidang tanah di Mesan pemberian mbak Sam sebagai pengganti peninggalan orang tuaku di Siliran Lor 29. Tanah itu terletak disebelah selatan kampus baru AMY hanya dipisahkan oleh sawah pak Muji. Tanah itu sudah bersertifikat dan telah dikeringkan sehingga sangat mudah untuk dibangun. Sayang tanah itu terletak ditengah sehingga tak terdapat akses masuk kecuali melalui pematang.

Walaupun terpisah oleh tanah pak Muji, di sebelah timur tanah pak Muji dan tanah kami terdapat selokan selebar tiga perempat meter yang menghubungkan tanah kami dengan sudut tenggara AMY.

Andai kata Pak Muji bersahabat dengan AMY dengan mudah akan dapat membeli sebagian tanahnya  (sekitar seperempat meter) memperlebar selokan  dan  memperbaikinya sehingga sudut tenggara AMY dengan sudut timur laut tanah kami dapat dihubungkan dengan jalan setapak diatas bus beton.

Jika ada uang AMY dapat membeli sawah Pak Muji hingga tanah AMY akan terbentang dari utara ke selatan. Andaikata “obsesi Endang” ini terujud Kampus Maritim akan nampak dari jalan Magelang, karena tepat disudut tanah pak Muji dan tanah kami ada jalan lebar ke barat melewati depan  kantor Kalurahan Sinduadi menuju jalan raya Magelang.

Aku mengusulkan tanah kami dibeli AMY, tetapi menurut Endang tanah Pak Muji tak akan dijual. Mungkin Pak Muji berpendapat kampus AMY akan “menghabiskan tanah pertanian” yang merupakan tulang punggung penghidupannya (Ini nanti akan terbukti ketika Proyek Perumahan Real Estate Intan Permai akan membeli sawahnya untuk pintu gerbang memasuki wilayah yang akan dibangunnya Pak Muji tidak mengizinkan).

Untuk segera melunasi hutangku pada Ito tanah pemberian Mbak Sam di Mesan akan kukembalikan kepada pemilik lamanya, terserah akan dihargai berapapun yang penting hutangku kepada Ito dapat lunas. Mbak Sam tidak bersedia menerima kembali tanah itu.

Rumah mertuaku sudah kami pugar, walau belum selesai telah pantas untuk ditempati. Beliau pindah kerumah beliau sendiri sehingga Sigit dan Ida dapat menempati bagian yang semula digunakan oleh Eyangnya.  Rumah Mesan kami kontrakkan, Endang kembali ke Jendral Sudirman.

Seluruh uang hasil kontrakan kami kirimkan ke Semarang, untuk mengurangi beban hutang kami kepada Ito. Mbak Sam mendengar aku mengontrakkan rumah dan tidak digunakan untuk mengangsur hutangku kepadanya. Mbak Sam marah sehingga tensinya naik. Aku menyesal membuat marah orang yang sudah menolong kami, tetapi semuanya sudah terjadi. Aku datang kerumah mbak Sam kuserahkan HGB yang kuperoleh berkat pertolongan nya. Kuminta mbak Sam mencarikan pembeli HGB itu agar aku segera dapat melunasi seluruh hutangku, baik kepada mbak Sam atau sisa hutang pada Ito. Mbak Sam tidak bersedia menerima HGB itu tetapi bersedia untuk mencarikan pembeli.

Ketiga anak kami memasuki perguruan tinggi lewat PMDK dan diterima di UGM. Nasib kurang baik menimpa kami, sejak kelas satu hingga kelas tiga nilai Bagus sangat cemerlang sehingga kami yakin dia akan masuk lewat jalur PMDK sebagaimana kakak-kakaknya. Tiba-tiba tahun itu PMDK ditiadakan sehingga Bagus harus masuk lewat test masuk biasa.

Baru sekali ini aku mengalami “senam jantung”, yaitu saat akan membaca lembaran pengumuman penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi negeri. Andaikata aku belum terbiasa menghadapi kesulitan hidup dengan menggunakan akal seperti pesan Pak Lik Sastrodimento, apalagi jika ada kelaianan jantung, aku pasti tak dapat menulis “Sedikit tentang pengalaman hidupku” ini.

Saat itu tak kujumpai nama Bagus Wahyu Setiadi dalam lembaran “malaekat” itu. Hanya dengan memohon pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa dan memohon petunjuk-Nya aku masih dapat menghadapi badai hidup yang menghantamku.

Saat itu penyesalan yang sangat mendalam adalah saat aku teringat kehilangan emosi pada saat menampar Bagus ketika anak bungsu itu melakukan kesalahan seperti yang pernah kulakukan ketika mengabadikan 200 sarjana.

Begini kisahnya: Suatu  malam ketika aku akan memproses film di kamar gelap, ternyata film itu masih dalam kaset karena bekas dipotong dan tak dikaitkan pada roll penampung putaran. Hari itu ada 4 pesanan foto kilat yang harus selesai pukul tujuh pagi, enam pesanan foto cepat yang harus selesai pukul sembilan pagi dan 8 foto biasa yang harus selesai pukul lima sore.

Di tempat pengeringan film kulihat potongan film berisi beberapa foto gadis yang tak kukenal dan tak pernah kufoto, ternyata Bagus yang “berurusan dengan foto itu”. Agaknya foto itu pesanan kilat yang harus segera selesai hingga oleh Bagus film dipotong agar segera dapat diproses. Bagus lupa tidak mengkaitkan lagi sisa film yang belum digunakan. Akibatnya………… aku sangat marah hingga kutempeleng kepala yang sangat berharga itu.

Beberapa saat kemudian setelah aku melakukan introspeksi, sebenarnya aku turut bersalah. Jika aku teliti setiap mengkokang aku harus memperhatikan indikator gerakanan film yang dapat segera diketahui jika film tidak ikut berputar pada penampungnya, juga dapat kuketahui dari putaran film yang berada dalam kaset lewat tombol yang terhubung dengan as kaset.

Sementara aku menyesal atas perbuatanku itu, tetapi beberapa bulan kemudian  terbukti tindakanku itu “benar”. Jika sudah “dirayu” oleh cewek Bagus rela untuk mengorbankan segalanya. Ketika mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa, Bagus ternyata terlambat gara-gara menghantarkan seorang cewek, bukan hanya itu dia lupa membawa kartu peserta seleksi.

Satu tahun Bagus “menganggur” karena Kami tak mampu memasukkan dia kesekolah swasta yang beayanya mahal. Saat itu keadaan keuangan kami sedang kurang menguntungkan. Dalam keadaan yang sulit ini Endang menujual perhiasannya untuk membelikan kendaraan bermotor Astrea untuk Bagus Sebenarnya aku tak setuju, karena aku khawatir kendaraan itu akan disalah gunakan oleh Bagus, tetapi menurut Endang kendaraan itu justru akan memberikan semangat bagi bagus untuk “bangkit” dari kegagalannya.

Tidak sepengetahuanku Bagus mengikuti bimbingan test dibiayai oleh Sigit, hingga pada seleksi masuk keperguruan tinggi Negeri diterima di Fakulas Tehinik Jurusan Mesin UGM  dengan nilai sangat memuaskan sehingga mendapatkan bea siswa.

Mengapa Sigit membeayai adiknya dan dari mana memperoleh uang untuk membayar semua kebutuhan Bagus?

Menurut Yulia, sebelum Bagus mengalami “nasib” sial itu Sigit mencari uang dengan menjadi Joki di test masuk perguruan tinggi. Kini Sigit sadar bahwa perbuatannya itu dapat merugikan peserta lainnya, yang seharusnya diterima menjadi tidak diterima sebagaimana nasib adiknya.

Tidak diterimanya Bagus menyadarkan Sigit pada kesalahannya dan berusaha “menebusnya”.  Sigit berusaha mencari uang dengan menggambar karikatur di majalah dan membuat ceritera komik dan hasilnya digunakan untuk membeayai bimbingan test Bagus di Primagama.

Saat Endang sibuk kuliah kebetulan aku sedang tidak banyak pekerjaan sehingga kugunakan waktuku untuk antar jemput Endang.

Di seberang jalan jendral Sudirman, di bekas bengkel DAMRI, dibangun hotel Santika. Endang yang tinggal menulis skripsinya menggunakan waktu luangnya  untuk membuka warung Soto Donald Bebek”.

Usaha ini maju sehingga kami membutuhkan “pembantu.” Teman Ida yang bernama Apri, membantu mengurusi warung Soto Donald Bebek. Apri adalah anak pak Raji, pegawai AMY.  Gadis manis ini adalah guru Sekolah Minggu di Gereja Kerasulan di Bantul, sehingga tugasnya mengurusi warung Soto Donald Bebek bergantian dengan Maryono yang direkrut oleh Apri.

Endang disamping menulis skripsi sudah mulai aktif memberikan kuliah bahasa Inggris di AMY, Bagus sering pergi mengikuti bimbingan test, sehingga aku seringberdua di rumah bersama Apri.

Suatu saat Apri hamil. Aku berusaha membujuknya agar dia menulis sebuah pernyataan siapa lelaki yang telah menghamilinya. Menurut pengakuannya pemuda yang melakukan perbuatan “asusila “itu adalah  seorang pengawas bangunan hotel Santika.

Kutemui pemuda itu dan kutunjukkan surat pernyataan yang ditulis oleh Apri. Pemuda itu berdalih  mungkin Apri melakukannya  juga dengan lelaki lain.

Kutanyakan kepada Apri, apakah dia juga melakukan perbuatan itu dengan lelaki lain selain dengan pemuda itu. Apri bersumpah demi Jesus perbuatan itu hanya dilakukan dengan pemuda itu.

Kutanyakan apakah Apri bersedia menikah dengan lelaki itu? Apri ragu karena pemuda itu tidak seiman dengan dia. Kuyakinkan Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia berpasangan dengan manusia, bukan dengan kera atau kambing, buktinya  dia dapat hamil dengan orang yang berbeda keyakinan. Apri tak bersedia berganti agama. Apri bersedia menikah dengan lelaki itu asal lelaki itu bersedia mengikuti agamanya.

Untuk bertanggung jawab saja mungkir apalagi diminta berganti agama, mustahil. Kusadarkan Apri, akibat perbuatan asusila lebih-lebih sedang dalam keadaan hamil dan meminta pertanggungan jawab pada lelaki yang menghamilinya perempuan di fihak yang lemah, jadi harus mengalah. Soal perbedaan agama itu justru dapat dijadikan senjata oleh fihak lelaki untuk menghindari tanggung jawab atas perbuatannya.

Kupanggil Pak Raji untuk membicarakan masalah anaknya. Pak Raji juga bersikukuh untuk mempertahankan agama anaknya. Kutanyakan pada Pak Raji, apakah dia tega cucunya terlahir tanpa seorang ayah? Apakah dia tega membunuh bayi yang tidak berdosa hanya karena ayahnya berlainan keyakinan dengan dia? Apakah bermoral jika menjadikan lelaki lain yang tak berdosa untuk memikul perbuatan asusila Apri dengan lelaki hidung belang ?

Kusarankan agar Pak Raji menemui orang tua pemuda itu untuk membicarakan masalah gawat itu secara baik-baik. Aku miminta pertanyaanku kepada Pak Raji itu dikemukakan kepada orang tua lelaki itu. Pak Raji mengajakku menemui orang tua pemuda itu, tetapi aku menolak karena keterlibatanku justru dapat disalah gunakan oleh pemuda yang menghamili Apri.

Aku tak  akan mencampuri urusan mereka, sebab sebelum kejadian itu Endang telah berkali-kali memperingatkan Apri agar berhati-hati dalam pergaulan. Aku berpesan agar masalah perbedaan agama jangan dipersoalkan.

Diluar dugaanku orang tua pemuda itu “menerima lamaran” Pak Raji dan meminta anaknya menikahi Apri.  Perkawinan Apri itu sangat  “melukai” hati pak Raji karena anaknya harus menikah dengan lelaki yang berbeda keyakinan.

Kunasehati Pak Raji : Jesus mengajarkan kasih sayang kepada setiap pengikutnya, setiap manusia membutuhkan kasih sayang, bukan kebencian. Agar Pak Raji tidak kehilangan Apri, kuminta dia tetap memperlakukan Apri sebagai anak-anak lainnya yang seiman dengan pak Raji, tidak malah mengucilkan, dengan demikian  Apri tak akan berubah keyakinannya, yang berubah sekedar ritualnya dan cara beribadahnya, semua bertujuan memuliakan Tuhan Yang Maha Esa.

Kepergian Apri tidak berpengaruh terhadap pelayanan warung soto Donald Bebek, karena masih ada Maryono dan Bagus. Yang bergeser adalah pelanggannya saja. Saat ada Apri yang nongkrong di warung cowok, setelah Bagus nongol yang datang cewek.

Maryono, seorang Guru  muda, yang mengajar SD di Cilacap, direkrut oleh Apri untuk membantu pekerjaannya. Maryono memilih menjadi pelayan warung soto karena yang dihadapi bukan hanya anak ingusan melainkan berbagai lapisan masyarakat. Bagus mudah dirayu cewek, sebaliknya Maryono mahir merayu cewek.

Sebenarnya aku khawatir jika Bagus melayani tamu, terutama tamu cewek, sebab pembeli akan berlama-lama diwarung mengajak ngobrol, bahkan mungkindigratiskan oleh Bagus. Bagus lebih cocok di dapur karena dia mahir membuat nasi goreng yang berselera tinggi hingga sangat disukai langganan. Tetapi……cewek-cewek yang datang selalu minta dilayani Bagus. Ini yang kukhawatirkan, jangan-jangan ada udang di balik batu.

Sigit adalah anak kami yang paling cerdas, tetapi cenderung malas. Sejak di SD. Sigit selalu menduduki rangking pertama, padahal jika di klas dia sering tertidur. Saingan Sigit biasanya seorang murid putri yang tekun dan mengikuti pelajaran dengan serius.

Aku adalah anggauta POMG sehingga sering terlibat dalam kegiatan sekolah. Kepala Sekolah pernah meminta maaf  kepadaku karena seharusnya Sigit menduduki rangking satu, tetapi karena sikapnya yang tidak menghargai guru yang sedang mengajar dan cenderung sombong, dia “terpaksa” dilorot ke rangking dua.

Aku diperingatkan agar tidak mengajarkan pelajaran yang belum diajarkan di sekolah. Tuduhan itu kusangkal, karena kami tidak pernah mencampuri urusan belajar anak-anak kami. Belajar atau tidak kami serahkan sepenuhnya kepada anak-anak, kami hanya memberi pengertian bahwa belajar itu untuk kepentingan mereka sendiri.

Setiap menerima rapot kami memberikan “hadiah berupa uang simpanan”, tiap angka raport dihargai dengan ” penambahan uang tabungan”, semakin tinggi angka semakin cepat bertambahnya uang tabungan.

Cara ini sebenarnya tidak adil, Sigit yang belajar seenaknya mendapatkan kenaikan uang tahungan jauh lebih cepat dari Bagus dan Ida. Yulia mula-mula bersaing dengan Sigit, tetapi suatu saat Yulia stress akibat tidak menduduki rangking pertama, sehingga kami memberikan pengertian bahwa bersekolah tidak sekedar memperoleh angka rapor, atau harus menduduki rangking pertama, melainkan mendapatkan ilmu pengetahuan. Di SMP V Yulia menjadi palajar teladan se DIY.

Di Perguruan Tinggi, Sigit dikenal sebagai mahasiswa foto kopi, sebab jika kuliah tak pernah membawa buku untuk mencatat. Kalau akan ujian teman-temannya mengajak belajar bersama, dia bertindak sebagai “mesin  pengkaji” foto kopian catatan dari teman-temannya, atau “mungkin” saja ketika diruang ujian dia bertindak sebagai Joki untuk teman-tamannya.

Kemampuan perjokian ini agaknya “diteruskan” di ruangan test masuk ke Perguruan Tinggi. Ini terbukti ketika Sigit “mengundurkan” diri dari mafia perjokian, kami menerima getahnya.

Warung Soto Donald didatangi oleh sekelompok “orang tak dikenal” yang mencari Sigit dan ingin bertemu Sigit dengan berbagai alasan. Sigit sedang sibuk mencari uang dengan membuat karikatur dan komik sehingga mengisolasi diri.

Mereka menawarkan imbalan tinggi jika aku mengizinkan mereka menemui Sigit. Saat itu aku sedang butuh uang, tetapi bagiku keselamatan Sigit tak dapat dibeli dengan harga berapapun. Mereka mengancam akan mencederai Sigit jika aku tak mempertemukan mereka dengan Sigit.  Kukatakan: Jika mereka mencederai Sigit maka mereka akan “kehilangan” seorang yang sangat mereka butuhkan, sebaliknya bila mereka bersabar hingga Sigit menyelesaikan “proyek komiknya”, mungkin Sigit masih dapat diharapkan “kembali” ke profesinya sebagai Joki.

Ida tidak dapat membatu usaha warung soto karena sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Ida bersama teman-temannya melakukan penanaman pohon stevia di Tawangmangu. Tanaman ini hanya dapat tumbuh subur didataran tinggi. Daun stevia rasanya manis sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti gula.

Setelah beberapa bulan ditanam dan dipelihara dengan jerih payah hasilnya dipanen dan dibawa kelaboratorium. Daun yang jumlahnya sangat terbatas dikeringkan dengan oven listrik. Pengatur suhu (thermostat) oven tidak berfungsi hingga seluruh daun stevia hangus. Ida dan teman-temannya harus menanam ulang.

Warung Soto kami maju, tetapi aku merasa kurang nyaman dengan usaha ini. Beberapa tamu menggunakan warung kami untuk melakukan hal-hal yang kurang terpuji, misalnya berkencan, berpacaran, melakukan transaksi barang terlarang dan yang sudah terbukti Apri dihamili oleh salah seorang “langganannya”.

Endang sedang menyusun skrikpi untuk mendapatkan ijazah Strata Satu. Saat kuliah Endang dan dua “manula” lainnya : Ibu Lis dan ibu Marti dijuluki “tiga nula” yang pantang menyerah terhadap usia.  Pada saat menulis skripsi ibu Lis bersama Endang dibimbing oleh Profesor Doktor Pomo.

Karena prof Dr Pomo dan istrinya ibu Gloria akan pindah ke Malaysia, maka Pak Pomo berpesan kepada Ibu Lis untuk menyampaikan rencana kepindahannya itu  kepada Endang.  Ibu Lis “lupa” menyampaikan pesan itu, sehingga Endang baru mengetahui seminggu sebelum keberangkatan Pak Pomo.

Endang menghadap Pak Pomo, Pembimbing ini menasehati agar Endang menunda pendadarannya pada semester berikutnya dan mencari Pembimbing baru untuk mengoreksi kekurang-sempurnaan bahasa Inggrisnya. Endang pantang menyerah dan ingin segera menyelesaikan tugasnya. Untung ada seorang Dosen asing, Nick Barback, yang bersedia mengoreksi bahasa Inggris sehingga Endang masih sanggup mengejar kepindahan pak Pomo.

Pengalamanku sebagai “pengetik” kilat dapat membantu kesulitan Endang. Bagus juga membantu pekerjaanku itu. Dua hari sebelum pendadaran naskah  yang telah dikoreksi oleh Nick diserahkan kepada Pak Pomo dan dibagikan kepada dua Penguji lainnya, istri Pak Pomo dan Koleganya.

Pada saat pendadaran tiga orang Penguji ini sangat menghargai jerih payah Endang dan menilai Endang pantas untuk lulus tanpa banyak koreksi, sebaliknya karya Bu Lis dalam pendadaran banyak menerima celaan dan harus dikoreksi bahkan direvisi. Bu Lis menggugat Pak Pomo yang membiarkannya dirinya dibantai  dalam pendadaran tanpa memberikan pertolongan. Bu Marti sebaliknya; dia mendapatkan Pembimbing yang sangat keras, sehingga sering merasa iri atas bimbingan Pak Pomo yang sangat “lunak” kepada Endang dan Bu Lis. Pada pendadaran, Bu Marti mendapat pujian dan tidak memerlukan koreksi.

Aku sedang berjuang untuk “menguangkan” HGB tanah Jendral Sudirman 34B agar dapat melunasi seluruh hutangku kepada Ito dan Mbak Sam. Sebelumnya aku selalu menghindarkan diri dengan urusan hutang piutang, kali ini aku merasa betapa pahitnya terlibat dalam masalah hutang piutang.

Aku pernah mengalami pahitnya orang tinggal di rumah bukan milik sendiri, sekarang aku telah punya rumah sendiri di Mesan hingga dapat hidup dengan tenteram. Mimpi indah itu  tiba-tiba menjadi memjadi mimpi buruk, lebih buruk dari yang pernah kualami saat tinggal di rumah orang, yaitu mempunyai hutang pada orang lain yang karena keterpaksaan.

Beberapa orang mafia tanah mengincar HGB yang telah dalam tanganku dengan berbagai cara, dari membujuk rayu, menjanjikan sesuatu hingga menteror.

Dokter Budi Harjono memberitahukan kepadaku bahwa ada seorang bernama pak Sarpan akan membeli HGB  jendral Sudirman no 32 tetapi kurang luas sehingga jika HGB yang kumiliki, Jendral Sudirman no 34B yang terletak dibelakang jendral Sudirman 32 akan dijual aku diharap menghubungi orang itu yang tinggal di Jalan Mantrigawen Lor no 1.

Karena aku berniat menjual HGB ku untuk melunasi hutangku, maka aku berusaha menemui Pak Sarpan. Kedatanganku disambut ramah. Dalam pembicaraan Pak Sarpam akan menukar HGB ku dengan sebuah toko di jalan Parangtritis dan tambahan uang sebesar Rp 50.000.000,- Aku diberi alamat toko itu dan diminta melihatnya.

Toko itu terletak di tepi jalan besar Parangtritis, luasnya 500 m2 sudah ditawar oleh pak Sarpan Rp 100.000.000,- Jika aku senang  penawaran itu akan dinaikkan, Pemiliknya menawarkan dengan harga permintaan Rp 150.000.000,_

Aku datang ke toko itu yang ditempati oleh adik Pemiliknya. Pemiliknya tinggal di jalan Menteri Supeno. Aku datang ke rumah pemilik toko dan dapat bertemu dengan Pemilik toko yang akan ditukar dengan HGB ku dengan tambahan Rp 50.000.000,-

Apa yang dikatakan oleh Pak Sarpan sesuai dengan pengakuan Pemilik toko. Aku mampir kerumah Pak Sarpan dan menyatakan aku berminat  memiliki toko itu, tetapi aku bertanya bagaimana cara melakukan transaksi itu.

Pak Sarpan akan menaikkan penawaran menjadi Rp 125.000.000,- sehingga untuk sementara aku hanya akan menerima Rp 25.000.000,-, sisanya akan dilunasi pada saat transaksi. Aku bertanya, apakah transaksi dilakukan di depan seorang Notaris. Dia menjelaskan hal itu akan menambah beaya, sehingga lebih baik dilakukan di bawah tangan. Setelah transaksi, aku segera dapat menempati /memanfaatkan toko itu dan menerima uang kekurangannya sebesar Rp 25.000.000,-

Uang yang Rp 25.000.000,- dapat segera kuterima berupa chek yang dapat ku- uangkan di Bank Bukopin. Syaratnya sangat sederhana: HGB ku harus kutitipkan kepada Pak Sarpan sebagai jaminan penerimaan chek sebesar Rp 25.000.000.- dan penyerahan toko kepadaku.

Sampai di rumah kuceriterakan hasil pembicaraanku dengan Pak Sarpan kepada Endang. Aku akan menyerahkan HGB ku kepada Pak Sarpan agar segera mendapatkan uang Rp 25.000.000,- Endang menganggap uang itu tak cukup dan menginginkan uang Rp 50.000.000,- yang dibayar tunai di depan Notaris, baru HGB diserahkan kepada Pak Sarpan.

Aku bertanya kepada Dokter Budi, dia bersikeras HGB nya harus dibeli secara kontan di depan seorang notaris dan tidak bersedia ditukar dengan apapun. Dia hampir terkecoh oleh Pak Sarpan, rumah yang akan dipertukarkan ternyata rumah sewaan, milik orang lain yang dikontrak oleh pak Sarpan.

Aku kerumah Pemilik toko untuk menanyakan apakah Pak Sarpan telah menaikkan penawaran, ternyata Pak Sarpan tidak menaikkan penawaran melainkan akan menyewa toko itu selama dua tahun. Aku  sadar, ternyata hal itu sama dengan yang pernah dilakukan terhadap Dokter Budi.

Suatu saat Pak Sarpan datang untuk melanjutkan transaksi, aku berdalih sebaiknya Pak Sarpan membeli  HGB ku dan HGB Dokter Budi secara serentak agar mendapatkan tanah seluas yang diinginkan. Jika Pak Sarpan membeli HGB ku terlebih dulu, ada kemungkinan dokter Budi menaikkan harga jual HGB nya.

Aku dikatakan mencla-mencle, dia sudah terlanjur membeli toko, tiba-tiba aku “membatalkan” transaksi itu. Aku diancam agar berhati-hati berkendaraan di jalan agar tidak ditabrak lari oleh orang yang tak mungkin dilacak. Ancaman itu ternyata pernah dilontarkan kepada Dokter Budi, saat doker Budi bersikukuh tak mau menitipkan HGB nya pada pak Sarpan.

Mbak Giek datang ke jendral Sudirman 34 membawa seorang paranormal sekaligus broker tanah. Broker/paranormal itu meminta agar aku bersabar dan hati-hatidalam pelepasan HGB sebab jika dilepas sendiri-sendiri, tidak secara keseluruhan kompleks Dharma maka harganya akan jatuh, apalagi tanahku terletak dibagian belakang kompleks, tidak langsung ke jalan raya Jendral Sudirman. Broker itu bersedia “menyatukan seluruh kompleks” dengan menaburkan garam (dan mantra) agar ada yang berminat dan sanggup membeli tanah itu secara keseluruhan. Untuk “ritual” ini aku tidak dipungut bayaran, malah diajak ke Mirota makan bersama.

Jaril, yang “mengaku trah Paku Alaman” datang ke warung soto kami menyanggupkan diri akan membeli seluruh kompleks Dharma, aku diminta datang ke Pura Paku Alaman.

Jaril memang berkantor di dalam kompleks Pura Pakualaman, aku dapat bertemu dia di kantornya itu. Di dinding kantor itu bergantungan proyek-proyek yang akan ditangani. Satu di antara masterplannya, adalah memindahkan jalan di sebelah timur Kali Code ke sebelah timur hingga lurus ke arah Jalan Kaliurang. Bekas Hata Foundation hingga ke tebing Kali Code akan dibangun sebuah hotel bertaraf internasional.

Menurut Jaril yang akan membeli tanah di jalan Jendral Sudirman itu bernama Hengki, seorang distributor mobil yang tinggal di Semarang. Jika sewaktu-waktu aku membutuhkan uang dapat meminjam dari Hengki tanpa bunga, HGB ku yang digunakan sebagai tanggungan. Aku ingin bertemu dengan Hengki, Jaril menilpon ke Semarang tetapi usahawan itu sedang ke Singapore. Beberapa kali aku ke Pura Pakualaman, tetapi tak dapat menemui Jaril.

Pimpinan Projek Santika yang sering makan diwarung kami mencari tanah yang luas dan  memiliki HGB. Dokter Budi Harjono, pak Biarso dan aku ingin melepaskan HGB, tetapi Perwatin dan SLB tidak memiliki HBG sehingga pimpinan Projek Santika itu membeli tanah Tejokusuman disebelah barat Benteng Keraton.

Tiba-tiba Jaril muncul kerumahku, memberitahu kalau Hengki tidak berminat membeli tanahku, yang diiinginkan tanah ditepi jalan  raya karena akan digunakan untuk membuka Showroom mobil. Tawar menawar sedang dilakukan dengan dokter Budi dan Pak Biarso. Jika tanah dipinggir jalan itu telah dibeli Hengki dan dijadikan Showrrom, maka jalan masuk kekompleks Loge Dharma akan ditutup. Agar aku tak menemui kesulitan sebaiknya HGB kulepas kepada KPH  Ir Probokusumo, putra Paku Alaman.

Aku kenal kanjeng karena dia adik kelasku di SMP II, SMA III B, dan di ITB. Di SMA III B dia seangkatan dengan Endang. Aku ingin bertemu langsung dengan putra Paku Alaman ini. Aku diberi alamat KPH Ir Probokusumo di perumahan Tambak Mas.

Sebelum aku kerumahnya, KPH Ir Probokusumo  telah datang kerumah kami untuk menemuiku. Walaupun dia seorang pangeran dan merupakan salah satu calon wakil gubernur DIY kukenal dia sebagai sosok yang rendah hati, hingga pertemuan kami berlangsung dengan akrab.

Kanjeng Probo menasehatkan kepadaku sebaiknya  semua HGB  atas tanah di jalan Jendral Sudirman dilepas sebelum habis masa berlakunya, sebab menurut  kanjeng pada tahun 2000, sesuai dengan masterplan DIY dan tatakota, wilayah yang kami huni ini akan dijadikan daerah perbankan dan perkantoran, bukan daerah hunian.

Menurut kanjeng jika dijual sendiri HGB atas namaku nilainya akan rendah karena tanah itu terletak ditengah,tidak ditepi jalan raya, lebih-lebih tanah yang digunakan SLB dan Perwatin yang melum memiliki HGB. Kanjeng bersedia mengkoordinasi penjualan seluruh komplek Loge Dharma agar terangkat nilainya.

Aku menghubungi sel;uruh “penghuni” kompleks loge Dharma, ternyata dokter Budi dan pak Biarso tidak akan menjual HBG nya lewat perantara. Kanjeng berjanji akan menghubungi sendiri penghuni lainnya.  Aku diminta untuk menentukan berapa uang pengganti HGB ku saja, tanpa mengkaitkan dengan penghuni lainnya.

Endang telah menjabat bendarawan IPM dan AMY lebih dari limabelas tahun, sehingga kuminta untuk menentukan berapa uang pengganti HGB itu. Saat berhubungan dengan pak Sarpan HGB itu akan kulepas dengan pengganti toko seharga Rp 150.000.000,- ditambah Rp 50.000.000,- Endang menganggap tindakanku itu gegabah, sebab dengan uang kontan Rp 50.000.000,- tidak akan ada sisa uang kontan lagi, karena habis untuk melunasi hutang kepada mbak Sam dan Ito,serta kuajiban moral  terhadap adik-adik dan mertua ku yang “tidak” mempersulitku dalam membeli garage.

Endang memerinci kebutuhan kami:

1. Karena kami kehilangan tempat usaha di jendral Sudirman, sedangkan aku tidak menerima pensiun, maka dibutuhkan uang untuk mencari tempat usaha lain yang tidak kurang strategisnya dari jendral Sudirman, atau menitipkan uang di bank yang bunganya dapat mencukupi kebutuhan hidup. Untuk ini harus tersedia uang Rp 200.000.000,-

2. Untuk melunasi hutang peda mbak Sam dan Ito sebesar Rp 35.000.000,-

3. Untuk memberi uang pelepasan hak atas tanah Mesan kepada mas Untung Hadi   Rp 12.500.000,-

4. Untuk memberi “uang terima kasih” kepada mertuaku dan ketiga adik kami Rp 20.000.000,-

5. Untuk memberikan tabungan kepada keempat anak kami yang bunganya digunakan sebagai uang saku Rp 20.000.000,-

6. Untuk pembongkaran rumah dan memindahkan ketrempat yang baru Rp 5.000.000.-

7.  Sisanya untuk diberikan kepada yang membutuhkan bantuan/ amal.

Atas dasar ini kami meminta ganti rugi sebesar Rp 300.000.000,- kepada KPH Ir Probokusumo yang akan kami ambil saat dilakukan trnsaksi jual beli HGB yangkulakukan sendiri dihadapan Notaris RM Soerjanto  Partaningrat SH.

Seluruh beaya transaksi dan kuajiban perpajakan sebagai akibat transaksi itu diambilkan dari uang sisa (selisih uang yang didapat dari transaksi dikurangi Rp 300.000.000,- yang menjadi hakku sepenuhnya/bersih). Sisanya menjadi hak kanjeng.

Kanjeng menerima perjanjian itu, sehingga kami lakukan penanda tanganan kesepakatan itu didepan Notaris RM  Soerjanto Partaningrat SH. ( surat kesepakatan itu masih kusimpan sebagai dokumentasi)

Notaris “tercengang” atas perjanjian itu, sebab dia tahu bahwa transaksi itu akan menghasilkan uang sekitar Rp 700.000.000,- Hingga aku dianggap terlalu naif dengan hanya menerima bagian Rp 300.000.000,-

Transaksi itu akan dilakukan secara serentak atas tanah yang telah ber HGB, yaitu bersama tanah yang dugunakan oleh dokter Budi dan pak Biarso. Kedua pemilik HGB ini ingin menerima seluruh hasil transaksi dan tak bersedia memberikan kan imbalan sedikitpun kepada kanjeng. Hal inilah yang menyebabkan transaksi tidak dapat segera dilakukan. Masih dilakukan tawar menawar antara pemilik HGB dan koordinator.

Suatu pagi, ketika Endang sedang solat subuh, aku keluar rumah untuk berjalan mengitari halaman Dharma. Kudengar suara gemuruh dan ledakan, kulihat gubug pak Sastro, bangunan darurat seluas k.l 25 m2 yang menempel diteritisan utara garage yang kami huni, dilahap si jago merah.

Aku kembali masuk kerumah dan memberi tahukan kepada Endang supaya cepat keluar karena terjadi kebakaran. Aku ingat vespaku kusimpan digarage yang menempel digubug yang terbakar itu. Skuter tidak dalam keadaan terkunci sebagai biasanya sehingga dapat kutuntun keluar garage menjauhi kobaran api.

Diluar telah banyak orang berkerumun. Endang berteriak meminta tolong. Orang yang semula terbengong segera memberikan pertolongan. Didepan rumah kami terdapat sebuah kolam yang penuh air untuk memelihara ikan. Sebagian orang berusaha memadamkan api dengan menyiram air, sebagian menolong mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah.

Aku ke rumah dokter Budi untuk menelpon pemadam kebakaran. Api melahap gubug itu dengan sangat cepat  sehingga ketika pemadam kebakaran datang gubug itu sudah bahis terbakar, tetapi api mulai menjalar kerumah kami. Langit-langit rumah kami terbuat dari kepang (anyaman bambu} hingga sangat mudah terbakar.

Pemadam kebakaran  berusaha memadamkan bara api dibekas gubug pak Sastro, sebagain diarahkan kerumah kami, menyemprot teras utara rumah lami yang mulai menyala, sebagian lagi menyemprot langit-langit rumah kami dari dalam rumah agar tidak mudah terbakar.

Setelah api padam orang-orang masih menjaga barang-barang kami yang teronggok di halaman Dharma. Aku bertanya kepada mereka dimana Wiwik, cucu pak Sastro yang menghuni gubug itu. Mereka yang mengetahui Wiwik berteman akrab dengan seorang pemuda kampung Gondolayu Kidul  yang bernama Herman mengatakan bahwa mungkin Wiwik tidur ditempat Herman.

Aku diantar oleh dua orang penduduk Gondolayu Kidul kerumah Herman. Pemuda ini belum bangun sehingga terpaksa dibangunkan untuk ditanyai keberadaan Wiwik. Menurut Herman Wiwik sedang keluar kota dan dia diserahi menunggu rumah Wiwik.

Herman kami beritahu tentang kejadian digubug yang menjadi tanggung jawabnya. Dia sangat terkejut dan bergegas kelokasi. Orang-orang bertanya mengapa dia tidur dirumah dan tak menjaga gubug yang menjadi tanggung jawabnya. Herman mengisahkan kejadian : Malam itu dia tidur digubug itu, perutnya sakit hingga dia pulang. Herman  tidak mematikan lilin.

Kami mengecek puing-puing bekas gubug pak Sastro, disitu kami jumpai botol-botol bekas minuman keras, tumpukan tegel yang mirip dengan tegel yang digunakan untuk pembuatan trotoir jalan jendral Sudirman yang tengah dikerjakan .

Seorang tukang becak dan seorang penduduk kampung Gondolayu Kidul menolong kami membersihkan rumah dan memasukkan barang-barang yang masih tertumpuk diluar rumah. Ternyata setelah kami cek beberapa hari kemudian, seluruh barang kami lengkap, tak satupun yang hilang.

Wiwik nongol bersama ibunya  yang bernama  bu Maryati. Mereka meminta izin untuk membangun kembali gubug yang habis dilahap si jago merah itu. Aku tak mengizinkan  membangun diwilayah HGB ku. Kunasehatkan agar mereka membangun  diwilayah HGB dokter Budi. Dokter Budi juga tidak mengizinkan,tetapi doker Budi mengizinkan Wiwik tinggal disebuah kamar pondokan miliknya.

Pak Lurah Tarjo memperingatkan  agar aku tidak melarang mbak Maryati mendirikan bangunan baru dibekas gubug lama. Kukatakan aku tidak melarang melainkan tidak maumemberikan izin, sebab jika aku memberikan izin berarti aku harus ikut bertanggung jawab dan memberi ganti rugi sewaktu-waktu HGB kupindah tangankan ke orang lain.

Kebakaran gubug pak Sastro itu kulaporkan kepada KPH Ir Probokusumo. Menurut kanjeng Probo, Jaril telah memberikan uang pesangon kepada Wiwik, hingga seharusnya pemuda itu sudah mengosongkan gubug itu. Mengenai hal ini hanya Wiwik dan Jaril yang mengetahui.

Seminggu kemudian Herman datang menemuiku dan mengancam, jika aku tak memberikan izin kepada Wiwik untuk mendirikan bangunan baru ditanah yang HGB nya ditanganku, dia akan mengaku bahwa yang menyuruh membakar gubug Wiwik itu adalah aku.

Aku tidak gentar atas ancaman itu, walaupun dia mengaku kemenakan Ratu Hemas, istri Pangeran Herjuno.  Pertama: dia telah membeberkan kejadian itu didepan orang banyak. Kedua: jika aku menyuruh membakar gubug itu pastilah aku telah mengamankan barang-barangku sebelum kebakaran terjadi, banyak yang menjadi saksi bahwa saat kebakaran itu seluruh harta kami masih ada didalam rumah. Kunasehati Herman agar menggunakan akal sehatnya dan jangan sekali-kali  membawa nama baik HB X untuk memfitnah dan memojokkan aku.

Suatu saat kami: aku,dokter Budi dan pak Biarso dipanggil oleh Notaris RM Soerjanto Partaninggrat SH untuk menerima pengarahan/penjelasan masalah transaksi pemindahan HGB kami kepada Bank Exim yang akan diwakili oleh Bapak  Drs Harry B. Haryono.

Pertama: Kami harus memberikan data-data kami dan  fotokopi HGB yang akan dipindahkan kepada  fihak Bank Exim. Kedua: kami menyatakan sepakat dengan perjanjian yang akan dibuat oleh Notaris KRT RM Partaningrat dan melengkapi semua yang dibutuhkan untuk dapat dilakukannya  transaksi. Ketiga: transaksi dilakukan didepan Notaris RM  Soerjanto Paretadiningrat SH sesuai dengan waktu yang akan ditentukan kemudian setelah semuanya dipersiapkan dengan cermat.  Keempat: Setelah penanda tanganan akta pemindahan HGB.  kami menyerahkan HGB asli kepada Notaris dan akan menerima surat dari Bank Exim yang ditandatangani oleh Bapak  Drs Harry B. Haryono  sebagai wakil dari Bank Exim didepan notaris yang memerintahkan kepada Bank Exim mentransfer sejumlah uang ke rekening pemilik HGB lama.

Pasal keempat tidak dapat  kami mengerti dan memerlukan penjelasan dari fihak Notaris. Dikatakan dalam setiap transaksi yang dilakukan dihadapan seorang notaris kedua belah fihak harus mempercayai sepenuhnya kepada notaris. Seorang notaris mempertaruhkan reputasinya dan harus memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

Pak Biarso dan dokter Budi meminta pembayaran dilakukan secara kontan,tidak dengan chek. Notaris menjelaskan bahwa yang akan kami terima bukan berupa chek, melainkan surat perintah dari Drs Harry B. Haryono selaku wakil Bank Exim dalam melakukan transaksi kepada bank Exim untuk memasukkan sejumlah uang kedalam rekening bank kami masing-masing. Notarius sebagai penjamin, jika dalam waktu yang telah ditentukan bank Exim tidak melaksanakan kuwajibannya itu maka transaksi akan dibatalkan dan fihak bank akan dikenakan sangsi atas pengingkaran akta yang telah ditandatangani didepan notaris.

Dokter Budi dan pak Biarso tidak akan bersedia melakukan transaksi kecuali dilakukan dengan pembayaran kontan. Aku dapat menerima setiap ketentuan yang diminta notaris. Pertama: reputasi notaris RM Soerjanto Partaningrat SH sangat tinggi dimata masyarakat, jauh lebih tinggi nilainya dari uang yang akan diperoleh seandainya dia melakukan penipuan.  Kedua: Bank Exim adalah bank pemerintah, Drs Harry B. Haryono benar-benar wakil Bank Exim yang berwenang melakukan transaksi ini (Hal ini dijamin oleh notaris). Ketiga: jika aku ditipu berarti kanjeng Probo tidak akan menerima bagiannya, dia tidak akan tinggal diam sebab ayahnya adalah seorang penguasa/ Wakgub DIY.

Untuk mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan demi terlaksananya transaksi pemindahan HGB dari tanganku ke Bank Exim aku selalu didampingi oleh Jaril dan Gozali (Charli): membereskan PBB, mencari informasi perpajakan, persiapam rekening bank di BTN dll.

Menurut Kantor pajak pph yang harus kubayar dari transaksi HGB itu adalah 30 % dari selisih penjualan HGB dengan memperohnya, sehingga diperkirakan besarnya  sekitar Rp 100.000.000,- Berdasar perkiraan ini yang akan diterima langsung oleh kanjeng adalah hanya sekitar  Rp 300.000 000,- Aku akan menerima Rp 300.000.000,- termasuk untuk melunasi hutang dll sekitar Rp 100.000.000,- sehingga yang spenuhnya menjadi hak ku adalah Rp 200.000.000,-

Aku belum pernah memiliki uang sebesar itu, sehingga aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga aku tidak menjadi gila atau lupa daratan. Endang memohon kepada Allah semoga selalu melindungi keselamatan kami.

Hari yang kami nanti itu tiba, kami: aku yang didampingi Jaril dan Charli, dokter Budi yang didampiungi istrinya dan Ibu Biarso yang didampingi putranya dipanggil oleh notaris RM  Soerjanto Partaningrat SH untuk melakukan transaksi pemindahan HGB ke Bank Exim yang diwakili oleh Drs Harry B. Haryono.

Aku bergurau kepada dokter Budi apakah dia telah menyediakan karung untuk membawa uang kontan yang akan diterimanya. Menurut dokter Budi, atas saran notaris dokter mereka diminta menandatangani akta perjanjian dan baru menyerahkan HGB kepada notaris setelah uang masuk kerekeningnya.

Aku mendapat giliran pertama, kutanda tangani akta perjanjian dan kuserahkan HGB asli kepada notaris, aku menerima secuwil kertas yang menyatakan bahwa Drs Harry B. Haryono memerintahkan bank Exim mentrasfer sejumlah uang kerekeningku di BTN.

Jaril dan Charli terbelalak melihat kertas yang kudapat dan hanya berisi tulisan dan tanda tangan Drs Harry B. Haryono tanpa cap Bank Exim dan bukan berupa chek. Sesampai di rumah Endang juga menyesalkan kebodohanku.

Dokter Budi dan pak Biarso baru pulang dari notaris sore hari, aku bertanya apakah Bank Exim telah mentransfer uang kerekening mereka, ternyata berdasarkan laporan bank penerima uang itu telah masuk kerekening masing-masing. Aku sedidik lega, tetapi hingga sore hari itu aku belum menerima kabar dari bu Iswanto (istri dosen AMY yang bekerja di BTN)  yang  akan memberitahu bila  rekeningku telah bertambah.

Mula-mula aku gelisah tetapi kuingat kata Basuki: ketakutan itu lebih menyiksa dari kenyataan. Dalam keadaan begini yang dapat kuperbuat nanyalah menanti datangnya pagi……… pagi yang cerah atau pagi berkabut. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aku tertidur pulas dan tak bermimpi apapun.

Aku dibangunkan oleh Endang karena Jaril dan Charli akan mengajakku ke BTN. Aku lega karena pagi yang kunanti telah datang, apapun yang akan terjadi telah kuserahkan kepada Nya. Sebaliknya Jaril dan Gozali nampak gelisah.

Kuperingatkan Jaril agar berhati-hati, jika terjadi sesuatu di jalan raya kami tidak akan sampai ke BTN, walau jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahku. Saat itu BTN belum buka hingga kami harus menanti dengan sabar.

Tanggal 30 Juli 1991, aku “menghadapai ujian maha dahsyat dari Tuhan Yang Maha Esa”.  kubaca pada buku  Tabanasku  No 005.T.0022058.K atas nama Ibnu Somowiyono yang semula Rp 13.000,- secara tiba-tiba berubah menjadi Rp 641.250.000,-

Kupeluk buku ajaib itu sambil berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun bagiku ini merupakan ujian dahsyat yang kedua, yang pertama adalah saat aku lupa tugasku menyelesaikan kuliahku karena setiap yang kuraba menjadi uang. Sekali lagi kumohon kepada Nya semoga aku tidak menjadi gila dan lupa daratan.

Jaril meminta aku menanda tangani struk untuk pengambilan bagian kanjeng Probo Sebesar Rp 286.375.000,-  Aku menanda tangani tanpa ragu atau syak wasangka, sebab uang itu memang bukan hak ku, melainkan hak kanjeng Probo dan kedua orang itu mewakili pemiliknya.

Uang kontan itu kami bawa ke Bank Bukopin dan ku masukkan dalam rekening bank KPH Ir Porbokusumo. Kami langsung kembali kerumahku. Endang telah menyiakan minuman dan hidangan ala kadarnya.

Tanggal 1 Agustus l991 aku mengambil Rp 91.500.000,- untuk melunasi seluruh hutangku kepada mbak Sam, Ito dan membagi-bagikan kepada mertuaku dan adik-adik kami sebagai ucapan terima kasih karena mereka dulu ikut  menempati garage yang kemudian kami beli dari Balai Harta Peninggalan, hingga aku dapat memperoleh HGB yang membawa berkah ini. Keempat anak kami: Yulia,Ida,Sigit dan Bagus masing-masing kami beri Rp 5.000.000,- untuk ditabung di buku tabungannya dengan maksud bunganya diambil setiap bulan sebagai uang saku. Kami pergi ke “langganan” kami Panti Jompo di Kota Gede untuk membagi kebahagiaan yang sedang dikaruniakan Nya kepada kami.

Tanggal 2 Agustus 1991 aku memindahkan Rp 70.000.000,- ke bank lain atas nama rekening Endang, sehingga uang di Tabanasku tinggal Rp 193.400.879,-

Tgl 6 Agustus 1991 aku mengambil lagi Rp 20.000.000,- untuk pindah rumah dari Jendral Sudirman no 34 ke Mesan no 31. Aku berkewajiban membongkar rumah/garage di jendral Sudirman no 34  hingga bersih dan  rata dengan tanah. Seluruh beaya harus kami tanggung sendiri, tetapi seluruh bekas bangunan menjadi hak kami. Tabanas tinggal Rp 173.400.876,-

Endang ingin membeli toko dijalan Parangtritis yang pernah ditawarkan kepada kami sebagai pengganti HGB tanah jalan jendral Sudirman, tetapi aku tidak sependapat, karena aku tak mau lagi berurusan dengan pak Sarpan.

Jaril menawarkan sebuah bangunan di jalan Sugeng Jaromi. Sertifikat tanah dipegang oleh Jaril. Kami menawar Rp 100.000.000,- , pemilik bangunan sudah sepakat, tetapi Jaril belum bersedia melepas.

Jaril menawarkan bangunan dipinggir jalan Suryopranoto, sertifikat tanah itu berada ditangan Jaril, tetapi pemilik rumah tidak akan menjual bangunan itu. Aku juga kurang tertarik karena letaknya kurang strategis.

Aku kembali ketanah dipinggir jalan Monjali, dekat dengan batas kota yang pernah ditawarkan kepadaku seharga Rp 80000,- permeter persegi,  luasnya 80 m2, ternyata tanah itu telah dibeli orang.  Aku bersedia membeli dengan harga Rp 100.000,-  permeter persegi ,tetapi pemiliknya tidak akan menjual tanah itu. Untuk mendapatkan tanah atau bangunan yang letaknya strategis ternyata tidak mudah.

Bangunan/garage di jendral Sudirman telah kubongkar dan kulaporkan ke Bang Exim., Tanggal 2 Oktober 1991 Tabanasku bertambah dengan Rp 71.250.000,- sebagai pelunasan kekurangan karena aku telah membongkar dan menyerahkan tanah kepada bank Exim.

Seluruh hak kanjeng kumasukkan dalam rekening kanjeng, sehingga  aku bersih menerima Rp 200.000.000,- , dan Rp 100.000.000, untuk pelunasan hutang dan lain-lain. Rp 100.000.000,- disediakan untuk membayar pph  sebagai yang telah diperhitungkan oleh kantor pajak.

Aku menawar tanah disebelah barat rumah kami di Mesan, dekat rumah pak Tamrin yang luasnya 1000 m2 untuk memindahkan bekas bangunan/garage dari Jendarl Sudirman dan mendirikan tempat kost. Kami menawar Rp 52500,- permeter persegi, tetapi pak Tamrin meminta Rp 55000,- permeter persegi, tak boleh ditawar lagi.

IPM memiliki tanah di Plemburan seluas 2516 m2 yang semula akan digunakan untuk membengun kampus AMY. Karena ditunggu-tunggu rencana Ring Road tidak juga terlaksana, maka IPM membeli tanah di Mesan untuk membangun kampus AMY.

IPM membutuhkan dana untuk memperluas kampus AMY di Mesan. Tanah di Plemburan diiklankan lewat beberapa surat kabar dengan harga Rp 25000,- permeter persgi. Karena letak tanah Plemburan ditengah kebun tebu dan hanya dapat dicapai lewat jalan kampung yang sempit dan belum beraspal maka penawaran tertinggi hanya Rp 22500,- permeter persegi.

Endang sama sekali tidak tertarik dengan tanah Plemburan, karena tidak dapat dimanfaatkan sebagai tempat usaha. Aku ingin segera mendapatkan tanah sebagai investasi dan sekaligus menolong IPM untuk mendapatkan dana untuk memperluas kampus AMY. Kubeli tanah Plemburan itu seharga yang diminta, sehingga aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 66.500.000,-

Tanah di Mesan yang kami tawar Rp 62500,- permeter diberikan oleh pemiliknya, adik pak Tamrin. Karena uang sudah kami belikan tanah di Plemburan maka kami tak mau membeli tanah itu. Pada saat penawaran tanah di Mesan itu Endang sudah memberi  batas waktu, jika Endang keluar halaman, pak Tamrin tak melepas dengan harga penawaran, maka kami akan mencari tanah lain.

Untuk memindahkan bekas bangunan dari jendral Sudirman sekaligus sebagai tempat usaha baru aku memugar rumah Mesan. Bagian depan kami jadikan dua lantai, bagian belakang menjadi tiga lantai. Dalam memugar rumah aku mendapat pinjaman molen dari Jaril. Beberapa tukang Jaril kami rikrut untuk membantu pak Sis cs.

Yulia cuti dan kembali ke Yogya untuk menyelesaikan kuliahnya di Gajah Mada. Saat itu Yulia telah memiliki seorang anak, Finda. Ida dan Endang telah menyelesaikan strata satu. Mula-mula Ida mengajar di Tarakanita Jakarta, kemudian diterima di Bank Niaga. Bagus kuliah di UGM fakultas Tehnik jurusan Mesin UGM. Dia mendapat beasiswa karena hasil test masuknya sangat memuaskan.

Jalan didepan rumah kami di Mesan telah diaspal halus bahkan diteruskan lurus ke- timur hingga terhubung dengan jalan Monjali. Jalan Monjali juga sudah diperlebar dan diaspal. Ring Road telah mulai dikerjakan hingga harga tanah Plemburan melonjak, demikian juga jumlah tarura AMY juga melonjak sehingga dapat membangun gedung baru diatas tanah yang dananya diperoleh dari menjual tanah Plemburan. Aku sangat yakin bahwa semua itu ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, namun tidak datang dari langit begitu saja, manusia diberi kesempatan untuk memilih.

Beberapa kali aku mencari tanah yang letaknya strategis, tetapi Dia belum mengizinkan karena uangku ternyata “dibutuhkan” oleh IPM untuk membeli tanah di Mesan yang “kebetulan” dijual oleh pemilik barunya, pak Karno.

Sudah lama Endang mengincar tanah itu dari pemilik lamanya, pak Darmo, untuk perluasan kampus AMY, tetapi tanah itu tidak akan diperjual belikan. Tanah itu ternyata dijual oleh pak Darmo kepada “rekan seimannya” agar berdekatan tempat tinggalnya. Sebelum membangun ditanah itu pak Karno mendapat tanah lain yang lebih memenuhi seleranya hingga tanah yang baru dibelinya dari pak Darmo itu dijual lagi, “Kebetulan” AMY punya dana untuk membelinya dari menjual tanah Plemburan, hingga akhirnya keinginan Endang dikabulkan oleh Nya. Jalannya berliku-liku, akhirnya sampai juga.

Ketika menyelesaikan tugas achirnya Yulia mendapat teguran dari pembimbingnya, mas Ir Partono karena Yulia tertinggal dalam bidang komputer. Aku membeli dua unit komputer dengan kelengkapannya, printer dan ploter dll. Saat itu harga Pc. masih tinggi hingga kami harus mengurangi tabungan kami sekitar Rp 15.000.000,-

Sigit dan Bagus memanfaatkan fasilitas yang kami berikan itu untuk mengejar ketinggalan dalam bidang informatrika. Dalam waktu singkat Sigit telah menguasai bidang animasi yang saat itu masih langka hingga dapat menjadi langganan TVRI. Bagus mempunyai seorang teman yang sangat mahir dalam bidang komputer namun tidak memiliki komputer sendiri, sehingga terjadi kerjasama.

Sigit tak mengikuti kursus komputer,uang pemberian kami “dihabiskan” untuk “memborong” buku dan peralatan lainya untuk keperluan animasi dan multi media. Uang Bagus dipinjamkan kepada kelompoknya untuk mengadakan seminar ilmu pengetahuan dengan pembicara pakar yang harus “diberi honor tinggi”.

Aku ikut-ikutan “menghabiskan” uang dengan membeli kendaraan roda empat, memasang telepon kabel, melengkapi rumah tingkat kami dengan parabola dan TV 29 inch dan peralatan elektronik lainnya. “Jika kuingat”: saat itu kelakuan kami bagaikan “kere munggah bale” atau OKB.

Kajeng Probo miminta surat kesepakatan antara aku dan dia diganti dengan antara aku dan Gozalui karena kanjeng Probo sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai anggauta DPR di Jakarta. Tujuannya agar masalah perpajakan segera dapat dibereskan. Hal inilah yang kunanti-nanti, aku ingin masalah perpajakan segera selesai, tidak terkatung-katung.

Kami buat kesepakatan baru didepan notaris RM Soerjanto Partaningrat SM. Beliau heran, tetapi kujelaskan duduk perkaranya, aku ingin masalah perpajakanku segera selesai. Aku ingin segera melunasi kuwajibanku terhadap negara secepat mungkin agar aku tidak berhutang kepada siapapun. Aku ingin terbebas dari segala urusan hutang piutang, termasuk kepada negara.

Setelah kesepakan diubah, Gozali meminta kuwajiban perpajakanku dipisahkan dengan masalah kuwajiban perpajakannya. Pemisahan ini menyebabkan kuwajiban perpajakannu hanya Rp  28.372.554,- karena berdasarkan surat kesepakatan uang yang kuterima dari transaksi HGB itu hanya Rp 300.000.000,- lainnya menjadi tanggung jawab Gozali/kanjeng.

Setelah masalah perpajakanku beres sisa uang persediaan pajak  kuserahkan kepada Gozali, aku merasa lega.

Beberapa saat kemudian datang seorang yang membawa surat  kuasa dari kanjeng Probo yang meminta sisa uang pajak. Kutunjukkan kesepakatan baru antara aku dan Gozali yang dibuat didepan notaris RM Soerjanto Partaningrat SH atas permintaan kanjeng Probo dan tanda bukti bahwa aku telah menyerahkan sisa uang pajak kepada Gozali. Sarjana Hukum kondang itu sangat kecewa tetapi tak berani menggugatku.

Selesai merehap rumah Mesan molen kukembalikan kepada Jaril, aku menanyakan berapa sewa alat itu, ternyata aku tidak perlu membayar. Jaril ikut bergembira karena aku telah membangun rumah bagus, tidak seperti garage di jendral Sudirman. Kendaraan yang digunakan  kedua sahabat itu baru, katanya milik Gozali.

Beberapa bulan kemudian aku mendapat undangan dari Gozali untuk menghadiri resepsi perkawinannya di Gazebo THR Yogyakarta. Aku tidak datang karena “duniaku” sangat berbeda dengan dunia mereka.

Endang menerima surat dari Mas Untung Hadi yang menanyakan bagian warisan kareka kami telah menjual rumah dan tanah di Jendral Sudirman yang dianggap sebagai milik mertuaku. Endang mengirimkan seluruh dokumen mengenai tanah dan rumah di jendral Sudirman. Mamas dapat mengerti dan meminta maaf atas “kelancangannya”.

Mas Untung ganti  mengkaim bahwa tanah Mesan adalah milik ibunya, istri pertama mertuaku, berdasar pengakuan dan pernyataan mertuaku secara tertulis. Adik-adiku menganggap mamas “menelantarkan” bapaknya, hingga menganggap  Mas Untung tak berhak atas tanah Mesan.

Mas Untung sudah mundur selangkah untuk membagi warisan itu menjadi dua,tetapi Urip dan Lilih menganggap hal itu tidak adil. Endang menunjukkan surat wasiat bapak Wiryo Atmojo yang ditulis dengan tulisan tangan yang menyatakan bahwa beliau menunjuk mas Untung sebagai pengganti beliau dalam hal membagi warisan, dan semua harus patuh pada mas Untung.

Urip dan Lilih mengingatkan bahwa mas Untung tidak pernah “peduli” kepada bapak Wiryo Atmojo, mengapa ketika bapak Wiryo Atmojo meninggal merasa menjadi ahliwarisnya.  Mas Untung sangat tersinggung hingga meneteskan air mata.

Untuk mencegah persengketaan antar trah Wiryo Atmojo, Endang meminta kerelaan mas Untung untuk melepaskan tanah Mesan dengan imbalan Rp 12.500.000,- sesuai dengan kemampuan kami. Mas Untung dapat menerima demi keutuhan trah Wiryo Atmojo, dan melimpahkan haknya kepada Endang.

Pelimpahan itu menjadikan Endang mengambil alih tugas mas Untung. Endang menganggap ahli waris Wiryo Atmojo adalah : Endang, Ibnu (karena menggantikan Mas Untung), Lilih, Urip dan Asih , hingga tanah itu dibagi lima bagian., sehingga masing-masing akan menerima sekitar 150 m2. Bangunan peninggalan bapak Wiryo Atmojo menjadi milik ibu Sairah (ibu Wiryo Atmojo ke 2 ).

Lilih mendapatkan bagian paling belakang (hasil tukar guling dengan tanah yang telah kubangun atas perintah mertuaku). Tanah ini hanya mempunyai akses melewati tanah diantara tanah Asih dan rumah ibu Saira.

Aku menukar bagian Lilih yang dibelakang itu dengan tanah pemberian mbak Sam atas pelepasan hak atas tanah Siliran, luasnya  sekitar 300 m2. Atas rencana itu semua diam seribu basa, tidak mengadakan reaksi setuju atau tidak setuju.

Aku diminta Asih untuk membangunkan rumah diatas tanah bagiannya. Urip mengusulkan agar bangunan Asih digeser ketimur untuk mengganti memberi jalan kepada pak Kardono yang biasanya melewati tanah kami. Aku tak sependapat, sebab tanah dibelakang (bagian Lilih yang telah kami tukar) akan kehilangan akses keluar, disamping itu luas tanah akan berkurang karenajalan itu akan terletak diluar tanah kami, disebelah barat rumah Asih, seakan diberikan secara cuma-cuma pada pak Kardono atau sebagai jalan umum yang kami tidak turut menikmati.

Endang menganggap Urip menyia-nyiakan tanah yang diklain oleh mas Untung sebagai miliknya dan telah “dibebaskan” atas keikhlasan pemiliknya. Urip diberi tahu sejarah tanah Mesan hingga diklain oleh mas Untung.  Tanah di Mesan adalah hak istri pertama,Tanah yang menjadi hak ibu Sairah di Kutoarjo telah dijual dan uang hasil penjualannya ditabung di bank. Endang bahkan menggugat karena uang tabungan itu digunakan Urip tanpa persetujuan saudara-saudaranya. Urip marah dan mengancam akan membeberkan borok kakaknya.

Suatu saat Urip mengalami  serangan jantung hingga dirawat di ICU rumah sakit Sarjito. Dokter menasehatkan agar Urip menggunakan peralatan pacu jantung. Endang menyesal atas perlakuannya terhadap Urip dan akan menyediakan dana untuk keperluan alat pacu jantung itu. Aku tidak sependapat. Tak ada manfaatnya alat itu sebelum dijari sebab dari penyakit itu.

Menurut keterangan Wid, istri Urip, penyakit itu disebabkan karena Urip makan durian terlalu banyak. Aku berpendapat lain, menurutku Urip mengalami tekanan bathin akibatterhimpit antara dua cinta: cinta ibu dan cinta istri yang tinggal serumah. 

Untuk menghindari masalah itu kunasehatkan agar ibu mertuaku ikut kami, atau Urip kami sewakan rumah didekat tempat pekerjaan Urip agar tidak serumah dengan ibu. Pendapatku ini ditentang baik oleh Urip dan ibu.

Endang mencarikan sopir, Gatot namanya, untuk antar jemput Urip yang sudah mulai aktif bekerja, walau kondisinya masih lemah. Ketegangan antara Wid dan bu Saira dapat kupantau dari keluh kesah bu Saira secara langsung kepada Endang atau lewat mbah Arjo. Keadaan ini erat hubungannya dengan kondisi kesehatan Urip.

Suatu saat ibu Sairah sakit dan harus rawat- inap di RS Sarjito di ruang VIP. Saat keadaannya mulai membaik kami ingin membawa beliau pulang, tetapi beliau menolak dan ingin tetap tinggal di RS Sarjito. Setiap kali Wid memberikan makanan kepada ibu Saira, makanan itu langsung dibuang. Untung Wid tidak tersinggung dan menganggap itu firasat pemutusan tali kasih. Penolakan itu berlanjut hingga beliau menghembuskan nafas terakhir. Sepeninggal ibu Sairah kesehatan Urip semakin membaik, tetapi perseteruannya dengan Endang tetap berkepanjangan.

Urip ingin memberikan jalan diantara rumah Asih dan rumah Ibu Sarah kepada kampung demi amal baik almarhum dan almarhumah. Endang tetap bersikukuh tanah itu akan dicarikan sertifikat sendiri walau sekedar dapat dilalui oleh pejalan kaki, sebab jalan itu merupakan akses tanah milik kami yang berada dibelakang rumah ibu Saira.

Endang akan memasukkan tanah itu jadi bagian tanah Urip dan terserah akan digunakan untuk apa saja, asal rumah peninggalan ibu Sairah  digeser kebarat atau dikepras,  untuk menukar jalan disebelah barat rumah ibu Saira, yang sangat dibutuhkan sebagai jalan keluar tanah kami yang terletak dibagian belakang rumah ibu Saira..  Urip menyepakati hal itu,hingga akan dilakukan perombakan terhadap bangunan peninggalan almarhum.

Aku terpaksa turun tangan. Kutemui Urip dan kujelaskan duduk persoalannya, aku ingin rumah itu tetap utuh,tidak dikepras. Aku menjamin rumah ibu Saira yang seharusnya  menjadi hak berlima, akan kami peruntukkan bagi Urip,  karena kami tahu bahwa Urip  belum punya tempat tinggal dan sangat besar jasanya dalam merawat bapak Wiryo Atmojo semasa sakit.

Urip mengacungkan jempol atas gagasanku itu, dan menyerahkan masalah itu sepenuhnya kepadaku.Aku ingin tanah diantara rumah Urip dan rumah Asih itu merupakan kesatuan dengan tanah kami dibelakang sebagai jalan keluar dan tidak akan kuberikan kepada siapapun.

Setelah  jernih masalahnya Endang berusaha mensertifikatkan tanah warisan itu menjadi empat bagian. 1. Milik Endang yang telah dibangunnya sendiri (Bagian Endang, mas Untung Hadi dan Lilih) 2. Bagian Urip beserta bangunan peninggalan ibu Saira seluas 155 m2.  3. Bagian Asih yang telah dibangunnya sendiri Seluas 150 m2 dan 4. Jalan menuju tanah kami dibelakang rumah Urip seluas 24 m2. Kelebihan 5 m2 tanah Urip dikarenakan aku konsisten tidak akan merombak bangunan peninggalan ibu Saira.

Sebenarnya tak ada lagi masalah pembagian warisan peninggalan mertuaku di Mesan, tetapi aku membaca sikap adik-adik iparku berubah setelah kami menjadi OKB. Sekian tahun kemudian kami baru tahu ada seseorang yang rumahnya di Gondolayu Lor, memberitahu kepada Urip bahwa aku menerima tujuh ratus juta lebih dari hasil penjualan tanah jendral Sudirman.

Mungkin Urip beranggapan uang itu merupakan warisan dari bapak Wiryo Atmojoatau harta karun yang datang dari langit, sebagai anggapan mas Untung sebelum membaca perjuangan kami untuk memperoleh HGB itu.

Semoga Urip dan yang lain-lainnya setelah  membaca tulisan Sedikit tentang pengalaman hidupku ini,  percaya akan penuturanku ini hingga dapat mengurangi “luka” yang justru hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Jika ingin mengecek kebenarannya semua terdokumentasikan dan kami persilakan mengecek kebenarannya.

Aku menerima kost putri. Ketika di Blunyah Gede ada PIKSI (Pendidikan Ilmu Komputer &  Seketaris pondokan kami laku keras sehingga menampung 27 orang, sebagian besar peserta kurus PIKSI.  Setelah PIKSI pindah kelain tempat, taruni AMY yang menjadi penghuni pondokanku. Jumlahnya tidak banyak, karena taruna AMY sebagian besar lelaki. Aku juga menerima mahasiswa AAN, dan Sekolah Tinggi Perbankan. Pondokan kami tak pernah sepi karena belum banyak penduduk yang menerima pondokan.

AMY maju pesat sehingga dapat membangun gedung baru berlantai tiga diatas tanah yang dibeli dari pak Karno. Seiring kemajuan AMY banyak penduduk yang membangun rumah baru dan menerima pemondokan hingga Mesan Maju pesat. Dibawah kepemimpinan Bapak Kukuh sebagai RW Mesan jalan-jalan kampung di konbklok, penerangan jalan dan siskamling digiatkan.

Tanah di Mesan diincar oleh investor. Seorang pengembang bernama Eddy akan membangun Perumahan “Intan Permai dan mengincar tanah disebelah selatan kampus AMY. Eddy menghubungi aku untuk membeli tanah kami “pemberian mbak Sam”, tanah pak Muji dan tanah pak Hartono. Aku ingin melepas tanah kami untuk membangun Plemburan, tetapi Endang tidak sependapat. Jika tanah diselatan AMY digunakan sebagai perumahan maka perluasan kampus AMY akan terhalang.

Pak Muji tidak akan menjual tanahnya, padahal tanah pak Muji dan tanah kami sangat dibutuhkan sebagai pintu gerbang masuk keperumahan yang akan dibangun. Pak Hartono merasa “terganjal” hingga mengancam pak Muji yang pernah terindikasi sebagai anggauta ormas PKI. Pak Jussac membela pak Muji, sehingga terjadi ketegangan antara pak Hartono dan pak Jussac. Hal ini dapat teratasi karena IPM bersedia membeli tanah pak Hartono dan tanah-tanah disekitarnya.

Eddy mendapat tanah di  sebelah selatan Mesan dengan akses ke timur dan segera dibangun menjadi Perumahan Intan Permai. Pengembang lain berlomba membeli tanah di Mesan, semua tergiur kecuali Pak Muji. Petani ini benar-benar tekun bertani, dia tidak hanya mengerjakan tanahnya sendiri, melainkan juga mengerjakan tanah milik orang lain. Dalam hal pertanian pak Muji pantas dipuji, tetapi dalam pengembangan Mesan dan AMY dia sangat resisten.

Yulia lulus pendadaran fak tenik UGM jurusan Listrik Arus Kuat/ Ketenagaan. Pada  pista perpisahan di jurusan listrik aku ditunjuk oleh Ketua Jurusan, Ir Susianto MSc untuk menyambut sebagai wakil orang tua lulusan. Biasanya kehormatan ini diberikan pada orang tua lulusan terbaik atau tercepat menyelesaikan kuliahnya, kali ini yang ditunjuk adalah orang tua lulusan terlama dalam menyelesaikan kuliahnya.

Aku sadar ini sebuah lelucon karena aku kenal baik sejak aku menerima kuliah dari dosen yang jauh lebih muda dari aku ini. Agaknya mas Sus kecewa sebab menganggap aku berprestasi dalam mengikuti kuliahnya, tetapi tiba-tiba aku “menghilang”. Begitu juga anakku, Yulis, lama menghilang, tiba-tiba muncul dengan membawa gelar lain dibidang seni dan sudah menjadi ibu.

Dalam menyambut kujelaskan bahwa aku adalah alulus Fak kultas tehik jurusan listrik UGM. Orang yang mengenalku berbisik-bisik, maka kuulangi kata-kataku, semua tertawa atas jokeku itu. Aku berbangga atas kelulusan Yulia, dan berterima kasih kepada mas Susianto cs yang masih memberi kesempatan kepada anakku untuk menyelesaikan kuliahnya.

Kami patut menjadi contoh, tetapi bukan teladan, bahwa dalam menuntut ilmu seorang mahasiswa tidak usah berlaku macem-macem, misalnya berpacaran, cari duit apalagi berkeluarga dan memiliki anak dan istri.

Namun kuingatkan: selesai kuliah dan menyandang gelar kesarjanaan baru permulaan dari suatu kehidupan yang sebenar-benarnya, didepan masih banyak batu-batu ujian yang harus dihadapi, misalnya menciptakabn pekerjaan dan bukan sekedar mencari pekerjaan. (semua bertepuk tangan mengiakan gagasanku), mengamalkan ilmu demi kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri,keluarga dan lingkungan. Disamping itu selama hidup kita masih harus belajar, baik secara formal maupun informal agar jangan tertinggal dari kemajuan zaman.

Sambutan itu kututup dengan harapan Perguruan Tinggi tidak sekedar “membekali”  ijazah dan ilmu untuk mencari pekerjaan melainkan membekali ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan dan sanggup menciptakan pekerjaan.

Sigit mendapat tugas akhir merencanakan sebuah Forklift (Garpu angkat) yang akan digunakan untuk mengangkat ingot (besi dalam keadaan pijar bagaikan magma)sepanyang 1,5 m, dengan diameter tertentu, dibimbing oleh Ir Darmawan. Aku kenal betapa “hebatnya” Ir Darmawan hingga tidak heran atas tugas yang diberikan kepada Sigit yang seharusnya diberikan untuk disertasi pembimbingnya untuk mendapatkan gelar strata tiga.

Sebaliknya aku juga yakin bahwa Sigit sanggup mengerjakan tugas itu. Sejak kecil  Sigit telah berobsesi membuat sebuah kendaraan yang dapat bergerak tanpa memerlukan bahan bakar. Yang menggerakkan kendaraan rancangan Sigit ini adalah sebuah magnit permanen yang menyimpan energi magnetik dan tak pernah habis walau telah digunakan untuk menarik besi berkali-kali, bahkan dapat menjadikan baja netral menjadi sebuah magnit baru.

Keyakinanku ternyata benar, Sigit mampu menyelesaikan tugas itu walau rencanakan itu harus dituangkan lebih dari limaratus halaman, dan gambar konstruksinya dilukis dengan program autocat dan dicetak dengan menggunakan ploter yang kami  sediakan. Itupun karena perhitungannya menggunakan program yang dibuatnya sendiri  hingga dapat menghemat banyak waktu, namun diragukan kebenarannya oleh penguji bidang komputer. Untung ada seorang penguji lain yang menyatakan program dan rumus-rumus yang digunakan dalam pengolahan data oleh Sigit valid, hingga Sigit dinyatakan lulus dalam pendadaran itu walau nilainya tidak sebagus teman-teman yang “dibimbing” oleh Sigit dalam nenyelesaikan tugas akhirnya, Ini gara-gara penguji yang meragukan kebenaran program yang digunakan oleh Sigit itu belum pernah belajar program yang digunakan oleh Sigit.

Aku tak mengira dalam waktu yang sangat singkat Sigit telah sanggup menjadi seorang programmer yang “ulung”. Aku tak menyesal pemberianku Rp 5.000.000,- dihabiskan Sigit untuk mendalami bidang komputer diluar kuliahnya di UGM.  Ini sudah terbukti saat ini Sigit dimanfaatkan oleh perusahaan asing yang merekrut Sigit hingga dia dan keluarganya dapat menetap di Amerika, karena kemampuannya membuat program yang dapat menghemat waktu dan beaya dalam bidang pengendalian mesin oleh sebuah komputer.

Aku tahu bahwa Sigit memilki IQ (Yfact) sangat tinggi, tetapi aku meragukan EQ(Exfact) nya. Ini terlihat, ketika dia ditinggalkan oleh “kekasihnya” cepat bersumpah tidak akan memotong rambutnya sebelum mendapatkan “kekasih” baru. Pernyataannya ini menjadikan bahan ejekan, menurut Bagus rambut kakaknya itu akan “klangsrah sampai ketanah” (terjurai sampai ketanah) karena dianggap tak akan ada gadis yang akan tertarik oleh kepala yang hanya terisi otak yang hanya diisi oleh akal yang sulit dimengerti oleh gadis yang memerlukan romantisme.

Ejekan ini terbantah ketika ada seorang gadis, Yuningtias Elok Satiti, tiba-tiba muncul hingga Sigit memotong rambutnya. Cinta Sigit dan Yuning ini ibarat “kilat”, bukan kareba cahayanya yang menyilaukan melainkan karena serba cepat. Beberapa saat kemudian orang tua Yuning, Bapak Munawar datang memperkenalkan diri dan mengisahkan yang sedang terjadi pada putrinya.

Yuning sudah akan menikah tetapi urung karena calon mertuanya menginginkan resepsi pernikahan dilakukan sesuai adat Jawa, dengan pakaian kejawen, tetapi Yuning tidak bersedia melepas jilbabnya. Bapak dan ibu Munawar tak berhasil melunakkan hati Yuning sehingga batalah pernikahan itu.

Dengan jujur diakui oleh orang tuanya, bahwa Yuning sangat keras perangainya, dan kesehatan Yuning kurang baik karena sedang dalam pengobatan penyembuhan hepatitis. Kelebihan Yuning adalah energik, rajin, sangat memperhatikan orang lain, suka menolong, mudah bergaul dan taat beribadah.

Aku juga berterus terang bahwa Sigit itu pemalas dan egoistis, dalam pergaulan pilih-pilih teman, dan tak pernah kami didik dalam masalah agama. Sigit pernah patah cinta hingga tak mau memotong ramburnya. Aku mengucapkan terima kasihkepada Yuning, karena ternyata setelah bertemu dengan Yuning, anak kami yang sudah berikrar menjadi  “seniman”  berambut gondrong itu mau memotong rambutnya, tanpa diruwat, karena telah menemukan gadis yang sangat didambakan.

Aku bertanya tentang kelanjutan hubungan Sigit dan Yuning, apakah mereka akan menerima keinginan Sigit untuk mendampingi putrinya. Jika disetujui aku mohon   untuk segera dipertunangkan. Menurut agama Islam, pertunangan itu tidak baik, sebab jika terjadi sesuatu karena kedekatan antara perempuan dan lelaki yang belum menjadi suami istri akan merupakan dosa besar, lebih baik dinikahkan saja. Aku “berkeberatan” karena Sigit belum memiliki pekerjaan, tetapi mereka yakin bahwa Sigit akan segera mendapatkan pekerjaan karena telah menyelesaikan kuliahnya.

Endang menginginkan agar Sigit mendapatkan pekerjaan dulu sementara Yuning berobat hingga sembuh. Sigit “ngebet” terus. Ada satu alasan Sigit yang bersifat sangat pribadi yang “memojokkan” kami sehingga demi kebahagian Sigit kami merestui apa saja yang telah dipertimbangkan masak-masak oleh Sigit.

Sigit ikut calon mertuanya ke Aceh untuk sekedar mendapatkan surat nikah, sedang pernikahan dan reseresepsi akan menyusul kemudian. Kami hanya memberikan uang kepada Sigit untuk membeli tiket pesawat, tidak menyediakan “uang tukon/ mas kawin” dan kebutuhan yang lain.

Sepulang dari Aceh Sigit/Yuning membawa album dokumentasi akad nikah, upacara temu penganten dan resepsi pernikahan secara lengkap. Ketika foto itu kutunjukkan kepada mbak Sam dan mbak Mi, mereka sangat “marah” karena dianggapnya kami disepelekan. Kujelaskan bahwa fihak perempuanlah yang berhak mengatur semua itu sebagaimana waktu Yulia menikah, semua yang mengatur mbak Sam dan mbak Mi, orang tua Rahmat Effendi, bahkan aku tak boleh ikut-ikutan.

Mbak Sam dan mbak Mi meminta temanten di”unduh” dengan menjemputnya ke Aceh. Kukatakan, Yulia juga tidak diunduh oleh mertuanya, uang yang digunakan untuk ngunduh Yulia diberikan kepada Yulia untuk membayar down payment rumah yang kini ditempati. Aku dikatakan tidak lumrah, menyimpang dari adat kejawen. Kuingatkan, perkawinanku dengan Endang juga tidak diunduh, tetapi aku dibekali untuk “membawa” Endang ke Makassar, itu lebih bermanfaat bagi kami.

Untuk memberitahukan kepada para tetangga kami membuat “bingkisan syukuran” dan kami antarkan kepada seluruh penduduk Mesan, keluarga besar Akademi Maritim Yogyakarta, relasi kerja/usahaku, dengan disertai surat permohonan doa restu atas pernikahan  Ir Sigit Setia Prabawa putra ke 3 keluarga Dra Endang Rara Temu Ibnu Somowiyono  penduduk Mesan No 31 Rt 02 Rw 31  Sleman, Yogyakarta, dengan Yuningtias Elok Satiti putri ke 2 Bapak/ibu Munawar, yang berdomisili di Arun, Aceh, Sumatra.

Khusus untuk Trah Rahwodi, trah Wiryo Atmojo dan teman kuliah Endang (bu Marti dan bu Lis) kami undang untuk makan bersama sekaligus “ngunduh arisan trah Rahwodi.”

Mbak Sam dan mbak Mie tidak setahuku menyiapkan pakaian pengantin Jawa, kain dan kebaya untuk Yuning. Yuning bersikeras untuk berjilbab, sehingga kami memberikan tugas kepada Sigit untuk melunakkan hati istrinya. Sigit tak berhasil, hingga aku harus mengambil sikap tegas, kunasehati calon Psycholog itu, kukatakan jika ingin dihargai orang lain dia harus menghargai orang lain, jika ingin hidup damai haruslah tidak menang sendiri, ………. sithik eding.

Yuning tersentuh oleh nasehatku itu dan bersedia mencoba pakaian pemberian mbak Sam dan mbak Mi, teryata pakaian itu terlalu longgar hingga seakan  ada sesuatu yang disembunyikan dibalik pakaian yang kedodoran itu. Aku memohon maaf sekaligus menasihati kakak-kakakku, bahwa sebaiknya jika akan “menghadiahkan” sesuatu kepada aku atau keluargaku berembuk dulu dengan kami, jangan membuat kejutan agar tak membuat jantungku copot.

Perkawinan Sigit dan Yuning bagi kami adalah berkah, sebab dapat menjadikan Sigit bergairah lagi dalam menghadapi kehidupan. Sigit berusaha keras untuk memperoleh pekerjaan. Mula-mula dia membantu “bekas” dosennya untuk membuat proyek penjernihan air limbah. Sebenarnya aku “pesimis” akan keberhasilan projek ini sebab keberhasilannya ditentukan oleh serbuk yang duigunakan sebagi filter, bukan pada instali mekaniknya, sedangkan bidang Sigit adalah mekanik dan komputer.  Sebagai bekas guru fisika saya tahu bahwa molukul air “cukup” besar, jadi tak mungkin dipaksa untuk melalui filter yang  lubangnya sangat kritis betapapun diberi gaya tekan. Tetapi Sigit menganggap proses yang terjadi adalah bukan sekedar proses fisika, serbuk itu memiliki kemampuan lain (kimia dan electrolitis). Projek itu “gagal”, tetapi Sigit telah mengantongi pengalaman.

Sebelum itu sebenarnya Sigit telah melamar diperusahaan perminyakan (Halliburton). Sigit gagal dalam test kesehatan, setelah menjalani test lainnya dan berhasil. Setelah gagal dalam projek penyaringan air limbah Sigit melamar ke Ciputra dan diterima. Sekitar satu tahun dan telah dikaruniai seorang anak, Sigit bertengkar dengan  teman sekerjanya hingga Sigit berusaha mencari pekerjaan lain. Sigit diterima diperusahaan asing dan dikirim ke Amerika. Anak istrinya dibawa ke negeri Paman Sam. Cabang perusahaan di Indonesia “memerlukan” tenaga hingga Sigit ditarik ke Surabaya (tempat Sigit diterma pertama kali). Perusahaan induknya meminta Sigit diperbantukan kembali di USA. Pimpinan di Surabaya tak mengizinkan. Sigit keluar dari perusahaan ini dan langsung “mendaftar” ke cabang USA.  Perusaan pusat menyetujui dan sejak itu Sigit menjadi pegawai di USA.

giriparamita
giriparamita wrote on May 7, ’08
wah, kalau itu istilahnya lain lagi ,kung : lihai……….:)

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on May 5, ’08
Ya, itu namanya akung naif tapi niap, sebab ngasih uang pada kanjeng Probo yang merupakan backing akung dalam menghadapi Kejati, sebab tanah itu diklaim oleh Kejati.

giriparamita
giriparamita wrote on Apr 29, ’08
lhooooooo… akung, kalau nggak bisa diperpanjang sbg tempat hunian, malah jadi peruntukan usaha. Harganya malah naik berkali kali lipat…

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 27, ’08, edited on May 5, ’08
TUL pendapat Wandi, Akung telah terlatih menggunakan intuisi dan hati nurani…………….kalau akung saat itu tidak “naif” sekaligus “niap” tahun 2000 HGB itu hangus dan sudah terbukti tidak dapat diperpanjang sebagai tempat hunian. Nggak tahu akung apa jadinya kalau akung nggak manut kanjeng Probo.

giriparamita
giriparamita wrote on Apr 26, ’08, edited on Apr 26, ’08
Akung, saya bingung ditanyain akung soal naif atau niap. Semuanya soal sudut pandang. Kadang yang keputusan yg dibuat dimasa itu, mungkin bukan yg terbaik kalau ditinjau dimasa sekarang. Yang lebih penting adalah yang sesuai hati nurani . Hati nurani nggak pernah salah , ya khan ? Yg menganggap naif atau niap adalah pikiran, bukan hati nurani.
Kalau ditinjau dari segi broker properti , tentu dianggap naif karena nilai yg diterima akung jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Tapi kalau ditinjau dari kondisi saat itu, mungkin itulah keputusan terbaik yang harus dibuat.
Pikiran bisa bias karena kepentingan, tapi hati nurani tidak pernah bias, asal kita rajin mendengarkannya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 25, ’08
Nggak usah kecil hati, bisa rampung aja udah “luar biasa.” Kalau akung yang trima tugas itu tak suruh kerjain sendiri yang ngaisih tugas. Baca saja pengalaman akung disuruh pak Bowo buat pagar Maritim.

pakespe
pakespe wrote on Apr 24, ’08
Akung, nilaiku jelek bukan karena gurunya engga percaya programku lho. Mamang skripsinya jelek banget…

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 15, ’08
La suruh gimana? Babe punya bukti kok, nulis apa adanya.

bagusdiana
bagusdiana wrote on Apr 14, ’08
Ahhh… Babe bombastis ahh….

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 13, ’08
Ya udah, tidak ngrayu tapi dirayu! Tul kan? Soal ngrayu tanyain itu mamanya Saras!

bagusdiana
bagusdiana wrote on Apr 13, ’08
Masak aku seneng ngrayu cewek sih Kuung…..

pakespe
pakespe wrote on Apr 12, ’08
Waduh ceritanya kereen Akung… kapan dilanjutkan lagi…

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s