Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (7)

PEMANFAATAN INTUISI

Bagus akan menyelesaikan skripsinya dan mendapat pembimbing Ir Darmawan yang juga pernah membimbing Sigit. Entah dengan cara bagaimana Bagus memohon kepada Bu Darti, Kepala Tata Usaha Jurusan Listrik UGM yang memiliki wewenang sangat besar, hingga diizinkan dibimbing oleh Dosen lain.

Ketika  pertama kali Bagus melapor kepadaku bahwa dia akan dibimbing oleh Ir Darmawan intuisiku  agaknya terbaca oleh Bagus, bahwa aku kurang setuju, dan mengharap semoga Tuhan YME memberikan pembimbing lain. Aku tidak mempengaruhi Bagus agar tidak mau atau menolak dibimbing oleh Ir Darmawan yang telah lama kukenal pribadinya, karena itu akan membuat “konyol” Bagus.

Kukira itu sekedar sebuah keberuntungan, Bagus diizinkan untuk mendapatkan bimbingan dari dosen lain, ternyata Bagus melakukan usaha pendekatan ke Bu Darti, aku tak begitu tahu apa yang dilakukannya, tetapi aku yakin dia tidak melakukan sesuatu yang tercela, sebab aku sangat mengenal pribadi Bu Darti yang tak mungkin meminta imbalan atau menyalah gunakan wewenangnya. Ibu Darti dan Ir Darmawan telah kukenal sejak lama, ketika aku masih menjadi mahasiswa UGM. Keduanya sangat idealistis!

Dosen yang membimbing Bagus juga tidak sembarangan, namun bagus memiliki EQ cukup tinggi, lain halnya dengan Sigit yang tinggi I.Q. nya, hingga dapat menggunakan pendekatan  pribadi dengan mereka yang dapat menentukan nasibnya. Bagus mendapatkan tugas akhir yang jauh lebih ringan daripada tugas yang dikerjakan Sigit.  Bagus harus merencanakan  pengangkat untuk memindahkan bahan baku curah di Pelabuhan, hingga sangat sederhana jika dibandingkan dengan tugas Sigit yang harus merencanakan fork-lift untuk pemindah besi pijar. Tugas yang “ringan” ini dikerjakan Bagus dengan sempurna hingga memperoleh nilai A.

Bagus  memiliki pergaulan dan relasi yang sangat luas, karena  sejak di SMA dia aktif dalam OSIS dan dilanjutkan di Perguruan Tinggi aktif di organisasi kemahasiswaan baik di UGM maupun di luar UGM. Setelah diwisuda, Bagus mendapat tawaran  dari bekas kakak kelasnya untuk mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta  yang sedang membutuhkan tenaga pengajar dengan iming-iming akan disekolahkan ke luar negeri. Endang sangat mendukung, tetapi nampaknya Bagus kurang berminat menjadi seorang Dosen, dia melamar di berbagai Perusahaan Swasta dan Asing yang dianggap lebih menjanjikan dalam hal materi daripada gelar kesarjanaan, S2, S3 dan sebaginya. Menurut intuisinya………anak-anaknya memerlukan banyak biaya karena semakin lama biaya pendidikan akan semakin mahal. Dia ingin meninggalkan ilmu pada generasi berikutnya, bukan gelar.

Bagus  bekerja di Astra, gajinya lumayan. Belum lama Bagus bekerja di Jakarta, Astra, aku menerima telpon dari UNOCAL yang menyatakan Bagus dipanggil untuk wawancara di Perusahaan itu.

Aku tak tahu apa itu UNOCAL. Aku akan  menghubungi Bagus, tetapi kuurungkan niatku. Intuisiku berkata aku harus cari tahu dulu apa itu UNOCAL agar aku dapat memberikan pertimbangan jika diminta oleh Bagus.

Kucari  dokumen surat-surat lamaran Bagus ke berbagai Perusahaan, ternyata UNOCAL adalah perusahaan Minyak milik Amerika, singkatan dari United Oil of California. Seketika aku “menyetujui” Bagus “pindah” ke Perusahaan minyak itu karena Bagus belum menanda tangani kontrak dengan Astra. Namun kembali intuisiku “berkata” aku tak boleh gegabah dan harus tahu masa depan yang akan dijalani oleh Bagus di Perusahaan asing itu.

Aku menelpon kemenakanku, Ir Bambang Pitoyo mantan pejabat Pertamina yang sangat faham soal perminyakan. Menurut Bambang, bekerja dibidang perminyakan itu sangat berat, apalagi di bidang pengeboran atau drilling. Bambang meragukan ketangguhan “anak bungsuku” (yang diperkirakan manja) untuk menghadapi tantangan alam, lebih-lebih jika bertugas di lepas pantai.

Aku mulai ragu, tetapi aku ingat “petualanganku” ke luar Jawa yang hanya berbekalkan tekad untuk menghadapi tantangan hidup yang kutafsirkan sebagai pemberian kesempatan dari Tuhan YME  yang dapat kubiarkan berlalu atau kugunakan. Saat ini, kesempatan untuk bekerja di Perusahaan Asing dengan konsekuensi bekerja di luar Indonesia diberikan kepada Bagus, jadi intuisiku berkata “cobalah!”.

Kucoba sekali lagi menelpon Bambang untuk mendapat penjelasan lebih rinci, tetapi Bambang sedang keluar sehingga kugunakan kesempatan untuk berbicara dengan Atik. Menurut Atik, UNOCAL itu sangat bonafide dan banyak pegawai Pertamina “iri” karena  fasilitas yang diberikan kepada pegawainya sangat bagus, jauh melebihi pegawai Pertamina.

Endang sangat tergiur dengan penjelasan Ati, demikian juga Diana, sebaliknya  bagiku gaji dan fasilitas adalah nomor sekian, yang paling penting “sanggupkah” Bagus melakukan tugas berat itu. Hati nurani dan otakku saling beradu argumen. Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Bagus sebab putusan terakhir ada pada Bagus karena dia yang akan melakukan tugas itu.

Bagus memutuskan untuk mencoba tahap selanjutnya dan mengikuti wawancara di Jakarta di sela-sela pekerjaannya. Lolos wawancara di Jakarta, Bagus memutuskan untuk berhenti dari Astra dan langsung berangkat ke Balikpapan meskipun belum tentu diterima di sana. Dia sangat yakin akan diterima di Perusahaan yang sangat didambakan itu. Kami tak dimintai pertimbangan, semua diputuskan sendiri. Inilah sikap “kebablasan” dari anak-anakku, tetapi itu akibat dari pendidikan kami. Sejak dini telah kami tanamkan: Kalian harus jadi dirimu sendiri, bukan bayang-bayang dari siapapun. Aku tidak kecewa, bahkan bangga dan intuisiku berkata Bagus akan sanggup melakukan tugas berat itu, karena dia itu percaya diri, tidak manja sebagai kebanyakan anak bungsu.   Walaupun begitu aku yakin segalanya yang menentukan adalah Tuhan YME.  Endang tiada henti-hentinya berdoa,memohon kepada Allah agar segala yang diinginkan anak-anaknya dikabulkan.

Bagus akhirnya diterima di Unocal di bagian pengeboran minyak, Drilling Engeneering. Gaji Bagus cukup besar sehingga sanggup membeayai Diana, istrinya, untuk melanjutkan kuliahnya di jenjang Strata Satu Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Gadjah Mada. Tugas Bagus di kantor Balikpapan dan kadang-kadang di Rig lepas pantai, dua minggu kerja dan dua minggu istirahat hingga dapat pulang ke Yogya.

Tanah di Plemburan telah lama terbengkalai karena tandus dan tak dapat menghasilkan sesuatu jika ditanami. Aku menawarkan kepada Bagus untuk membangun rumah di Plemburan. Diana menyepakati, demikian juga Bagus. Uang “sisa” kiriman Bagus oleh Diana dibelanjakan batu kali untuk persiapan membuat foundasi rumah. Tanah di Plemburan luasnya sekitar 2500 m2. Yang kami berikan kepada Bagus luasnya 500 m2  dibagian paling depan, sehingga sebagian harus digunakan sebagai jalan masuk ke tanah di belakangnya.

Di bagian yang akan dibangun oleh Bagus itu telah kubuat sumur, sehingga untuk membangun tersedia air. Bagian depan dan belakang tanah itu belum ada pagarnya, sedangkang di kiri-kanannya telah dipagar oleh tetangga. Di depan, sepanjang jalan Plemburan terdapat selokan cukup lebar namun telah terbuat dari batu kali yang kuat. Kami membuat “tutup beton berkerangka anyaman besi” diatas selokan itu hingga truk dapat masuk keluar ke tanah yang akan dibangun.

Aku tak membuat brak atau pagar pengaman, hanya kusediakan deklit untuk sekedar bernaung tukang dari hujan dan terik matahari. Aku memiliki sebuah kendaraan Suzuki ST hingga dapat kumanfaatkan sebagai alat transportasi dari Mesan ke Plemburan yang jaraknya sekitar 2 km. 

Pekerjaan penggalian fondasi sengaja kami lakukan di musim kemarau menjelang musim hujan. Saat itu sumur kering sehingga sengaja kami gali sedalam-dalamnya lalu kami masukkan buis yang lebih kecil diameternya. Aku tidak mendalamkan dengan sumur patok/suntikan pipa, karena tak ada manfaatnya. Saat itu tak mungkin air kupompa karena belum tersedia listrik. Pengambilan air harus dengan menimba.

Kemenakanku, Harto, seorang Katholiek yang sangat taat, mencarikan pekerja untuk melakukan pemasangan fondasi batu kali. Tanpa kuminta Harto membuatkan rencana bangunan dengan konstruksi kolom beralaskan lantai kerja yang dalam. Setelah kupelajari ternyata rencana itu tak sesuai dengan kondisi tanah di Plemburan yang terdiri dari batuan besar dan cadas keras yang sangat sulit untuk digali. Ini telah kupelajari sejak lama, di antaranya pada saat penggalian sumur yang sangat sulit karena banyak batu kali besar dan cadas bercampur kerikil bagaikan campuran beton. Untuk menggali sumur sedalam 10m saja dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan. Aku juga mengamati kondisi tanah di Plemburan ketika tetangga di utara tanah kami membangun dan mendirikan bangunan bertingkat. Juga telah terbukti tanah di situ sangat tandus dan gersang hingga tak baik untuk ditanami  apa saja. Ini diperkuat setelah dimulai menggalian tanah untuk fondasi. Aku sangat kagum pada para pekerja yang dengan gigih melawan medan dengan peralatan yang sangat sederhana.

Gedung yang akan dibangun oleh Bagus tidak bertingkat tetapi tingginya sama dengan bangunan bertingkat dua, langit-tangitnya setinggi 6m di atas lantai (titik nol). Menurut intuisiku lebih mudah membangun bangunan bertingkat dua daripada berlantai satu yang tingginya sama dengan bangunan berlantai dua, namun pemiliknya tak mau tahu kesulitan itu.

Karena hanya berlantai satu bangunan jenis ini tak membutuhkan lantai dasar dalam, namun kolom-kolomnya harus kuat, lebih-lebih sangat sulit untuk menggali tanah disitu. Batu kali melimpah di lereng Merapi yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat itu, sehingga kuputuskan untuk membuat fondasi batu kali yang kuat dan kolom-kolom besar yang tidak menggunakan lantai dasar dalam kemudian kolom diapit oleh foundasi batu kali, lalu dijepit oleh slope yang kuat. Kurencanakan di pertengahan bangunan, di atas jendela dan pintu kubuat ring yang berguna untuk mengikat kolom sebagai pengganti lantai dua.

Bangunan ini berukuran 8×12 m2. Jarak dari pagar utara 3.5m, dari pagar selatan 7m dari jalan Plemburan  jaraknya sekitar 12 m.  Bangunan itu terdiri dari sebuah kamar tidur berukuran 4×6 m2 termasuk kamar mandi dan wc, ruang tamu di sebelah kamar tidur berukuran 4×6 m2 dan ruangan santai seluas 6×8 m2. Dapur, kamar makan dan kamar pembantu akan dibangun di sebelah utara bangunan induk.

Tak ada tempat menyimpan besi di areal yang terbuka itu sehingga besi kusimpan di Mesan dan dikerjakan oleh pak Sis cs hingga menjadi slope dan kolom. Karena kesulitan pengangkutan/transportasi, panjang masing-masing terbatas di bawah 5 meter. Ini berakibat pemborosan, karena terdapat sambungan yang “membutuhkan”  overlap paling tidak 1 meter persambungan. Intuisiku mengatakan sambungan ini justru menambah kekuatan, dan memudahkan teknis pengerjaan, terutama pada pemasangan kolom.

Ketika foundasi, kolom serta slope telah terpasang musim hujan mulai tiba, sehingga pada musim pancaroba itu halilintar dan  petir setiap saat bersimaharaja-lela. Dalam keadaan “yang mencekam” ini semua  kuminta menghentikan pekerjaan dan berkumpul di bawah deklit yang dibentangkan di utara bangunan, dekat dengan pagar tinggi tetangga. Rumah tetangga itu sangat besar dan berlantai dua, di dekatnya terdapat menara tinggi untuk sarana komunikasi yang dilengkapi dengan penangkal/ penangkap petir. Deklit itu kubentangkan di bawah menara penangkal petir milik tetangga yang kebetulan dekat dengan dinding pagar pembatas antara tanah kami dengan tetangga diutara kami. Menurut intuisiku tempat itu paling aman terhadap sambaran petir. Yang kukhawatirkan adalah kolom-kolom yang sangat rawan terhadap sambaran petir.

Pekerja yang kebetulan semua  berkeyakinan Kristiani itu sangat ketakutan, sehingga kuyakinkan dan “kujamin” mereka akan terhindar dari sambaran petir asal mereka mengucap “Jesus, lindungi kami!” tepat pada saat terjadi kilatan petir, tak boleh lupa atau terlambat mengucapkannya hingga terdengar suara geledeg atau guntur yang mengikutinya. Nasehatku ini berdasar keyakinan Jawa yang menjamin tak akan terkena sambaran petir asal sempat mengucapkan “Gandrig putrane ki Ageng Selo!” sebelum datangnya suara guntur yang menyertai petir itu. Nampakya ini sekedar penenteram batin, namun sebenarnya sangat ilmiah. Kecepatan cahaya (c) jauh lebih tinggi daripada  kecepatan suara sehingga tak mungkin seseorang sempat mengucapkan “doa” itu hingga datangnya suara guntur jika dia tersambar petir. Kalau dia sempat mengucapkan doa itu berarti dia telah selamat, tidak terkena sambaran halilintar. Tentu saja hal “ilmiah” ini tak perlu  kujelaskan kepada para pekerja yang rata-rata pendidikannya sangat minimalis. Yang jelas keyakinan mereka justru sangat dominan dibading logika. Bayangkan, jika mereka tak yakin akan perlindungan Jesus, mustahil mereka berani mempertaruhkan keselamatan mereka dengan berada ditempat yang sangat berbahaya, “dibawah” menara yang setiap saat menjadi sasaran petir. Aku yakin, mereka berani bukan karena mengerti hukum fisika yang digunakan oleh Benjamin Franklin sebagai dasar pembuatan penangkal dan penangkap petir.  melainkan meraka yakin akan perlindungan Jesus. Aku yang tahu fungsi penangkal petir justru  sangat ngeri, betapa tidak, saat sebuah petir menghantam “penyedot” petir itu diatas deklit tempat kami bernaung, cahayanya dapat membutakan mata, suaranya dapat membuat tuli pendengaran. Jika tak percaya, kalian boleh coba betapa dahsatnya kilatan cayaha dan suaranya jika anda berada didekat obyek yang terkena sambaran petir, jantung anda dapat berhenti berdetak seketika.

Beberapa kali halilintar menyambar penangkal petir di atas deklit, suaranya sangat mengerikan, tetapi para pekerja selamat, tidak ada yang menjadi buta atau tuli, sehingga mereka sangat yakin akan perlindungan Jesus. Keyakinan ini kumanfaatkan untuk membangun kamar pembantu  yang letaknya persis ditempat mereka terlindungi dari sambaran petir. Di samping aman dari sambaran petir, tempat ini juga terlindung dari hujan karena terlindungi oleh deklit. 

Tempat sementara yang akan kami gunakan untuk gudang semen itu “dipagari” oleh tembok setinggi 2,5 m, berukuran 3 x 6 m2. Setelah dipagari keliling, ruangan ini kuberi atap dari seng dan pintu besi sehingga dapat kumanfaatkan untuk menyimban barang-barang yang harus diamankan dari hujan dan tangan usil. Dalam gudang ini kutempatkan generator Honda yang tenaganya bermanfaat untuk menggerakkan pompa air yang kupasang didalam sumur. Sumur kututup dengan beton cor berkerangka besi. Masalah air dapat kuatasi, tidak perlu lagi menimba. Sumur jadi aman dari guyuran hujan tangan usil anak-anak dan orang iseng yang setiap kali memasukan kerikil, batu atau sampah hingga mengganggu pekerjaan kami.

Diana sangat sibuk kuliah, namun setiap saat datang ke proyeknya untuk memberikan instruksi-instruksi sesuai dengan keinginannya. Yang akan menempati rumah itu bukan aku melainkan Diana, Bagus dan anak-anaknya, jadi yang harus menentukan jalannya projek adalah dia. Namun kadang kami harus beradu argumen karena walaupun dia calon sarjana Sipil namun bukan bidang konstruksi, dia mendalami bidang transportasi sedangkan aku sendiri sebenarnya juga kurang faham masalah konstruksi, hanya bekerja berdasar intuisi.

Diana selesai kuliah dan ikut Bagus ke Balikpapan. Bagus “membeli rumah  sangat sederhana” dengan mengangsur. Untuk DP-nya meminjam dari Endang. Karena harus mengangsur rumah di Balikpapan  sementara biaya hidup di tempat ini relatif tinggi, maka proyek  rumah Plemburan untuk sementara di “istirahatkan”.

Kami tinggal berdua di Mesan, semua anak-anak kami mencari nafkah ditempat lain, sehingga terasa sekali pada saat “membutuhkan” tenaga mereka, kami harus meminta tolong “fihak” lain. Endang biasanya mengandalkan Bagus atau Diana setiap membuat laporan tugasnya. Aku tak pernah peduli dengan urusan komputer, hingga gagap masalah yang satu ini.

Di luar pengetahuanku, Mas Cuk, Dosen komputer di AMY membawa sebuah komputer lengkap dengan peralatan lainnya atas pesanan Endang berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Bagus. Mas Cuk mengajarkan kepadaku bagaimana menggunakan alat canggih itu. Rasanya aku sebagai seekor kera menghadapi “mainan” yang sangat asing. Aku merasa keterlaluan, di rumah saat itu ada tiga set perangkat komputer lama “milik” Bagus, Sigit dan Yulia, tetapi aku tak pernah menyentuhnya.

Untung Maryono telah mahir menggunakan komputer, sehingga aku berguru kepadanya. Mula-mula aku diajari mengetik dengan WS. Bagus membelikan buku yang mengajarkan Excel. Aku tak dapat memanfaatkannya, karena kuanggap terlalu sulit untuk dipraktekkan. Aku sempat diserahi tugas oleh Endang untuk membuat laporan keuangan IPM dan AMY karena Endang akan meletakkan jabatannya sebagai Bendaharawan. Satu-satunya senjata yang kumiliki adalah WS, sehingga untuk penyusun tabel kugunakan WS. Di kemudian hari setelah aku dapat menggunakan Excel, aku baru sadar bahwa Excel sangat menolong dalam hal penyusunan tabel.

Saat liburan cucu-cucuku berkumpul di Yogya, Finda mengajarkan kepadaku menggambar dengan Corel Draw 8 sehingga aku dapat “memperbaiki” foto lama dengan program Photopaint dari Corel. Aku semakin asyik berkomputer ria. Aku bermaksud membuka kembali Usaha Foto yang telah lama kupeti eskan. Atas anjuran Bagus aku diminta belajar Adobe Photoshop yang ternyata lebih ampuh dari Photopaint dalam hal memanipulasi foto.

Ketika pulang ke Yogya, Bagus membelikan program Cakewalk Homestudio  dan Score Writter yang dapat digunakan untuk bermain-main musik, menulis notebalk, mengganti instrumen sesuka hati, mengganti irama, merubah dan menambah chord guitar, bahkan terakhir terbukti CWHS 9.0 Profesional  dapat digunakan  langsung merekam data-data dari midi yang sedang dimainkan ke dalam bentuk note balok hingga mirip dengan lembaran arrangement  musik  ciptaan seorang Komposer. Sesaat kemudian aku belajar Finale yang mempunayai kemampuan mebaca halaman lembaran yang ditulis dalam note balok dan memainkannya secara “sempurna” Jika lembaran itu kusken dan kumasukkan dalam file khusus akan dapat kuedit, kuganti jenis instrumennya, kutambahkan arangement baru hingga menjadikan sebuah konsert baru “hasil rekayasaku”. Aku semakin kagum terhadap kecangihan komputer sehingga berniat mendalaminya.

Bagus memintaku membuka Wartel, sambil belajar komputer. Saat itu sudah berlaku Liberalisasi telpon namun beaya penggunaan HP masih cukup tinggi, sehingga Wartel masih laku keras. Agar dapat bersaing aku memberi pelayanan khusus, pengguna jasa cukup membayar uang panggil, selanjutnya yang membayar pulsa adalah fihak penelpon yang dipanggil. Jika pembicaraan lebih dari 1 menit dikenakan biaya “penunggu telpon”, hingga pembicaraan jarak jauh dan dekat dibungut biaya tunggu sama. Maryono dan keluarganya bersama anak istrinya tinggal dirumah kami sehingga dapat ikut membantu mengurusi usaha Wartel kami. Mula-mula Wartel dibuka sampai pukul 23.00, tetapi suatu saat ada beberapa “tamu” yang sangat mencurigakan sehingga Yanti, istri Maryono sangat ketakutan. Akhirnya untuk keamanan, Wartel hanya buka sampai dengan pukul 19.00. Setelah itu saluran kupakai untuk keperluan pribadi dan anak-anak kost. Anak-anak kost juga kami berlakukan biaya panggil dan biaya penunggu telpon yang sama nilainya, hanya bagi anak kost boleh membayar pada saat telah menerima kiriman dari orang tua. Surya, anak Maryono kuserahi tugas untuk menghubungi tetangga dan anak-anak kost yang menerima telpon dari luar, untuk itu dia menerima uang terima kasih dari yang menerima jasa.

Mereka, anak kost yang menginginkan sambungan langsung kekamarnya kusediakan saluran khusus, namun dia harus membeli pesawatnya. Ini merupakan kelebihan kost kami disamping tiap kamar dilengkapi Kwh meter sendiri-sendiri hingga setiap anak kost “bebas” dalam penggunakan daya listrik, membayar sesuai dengan daya yang digunakan. Tersedia fasilitas TV untuk “disewa” sewaktu dibutuhkan. Tersedia ruangan komputer dan kelengkapannya untuk disewa. Semua mendatangkan uang tambahan disamping kontrak kamar dan kelengkapannya. Dari hasil itu aku dapat meningkatkan fasilitas, misalnya membuat ruangan bertingkat hingga di atasnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya tempat jemuran, revervoir, tiang untuk memasang antena TV pribadi anak-anak kost. Jika terjadi pemadaman listrik kuhidupkan generator dengan bahan bakar yang ditanggung oleh anak kost.

Kemajuan desa Mesan dan sekitarnya  berjalan dengan cepat. Banyak orang  disekitar kami  mendirikan kost dengan modal besar hingga menyerupai apartement. Fasilitasnya tidak kepalang tanggung, tiap unit dilengkapi dengan WC dan kamar mandi dalam, dapur, teras untuk menerima tamu, tempat kendaraan, baik roda dua atau mobil, telepon, ruangan yang dilengkapi dengan TV. dan almari es. Bagiku mereka bukanlah saingan karena masing-masing memiliki strata pasaran sendiri-sendiri, target mereka orang-orang yang berkantong tebal, sedangkan tempat kami sangat flexible. Kost kami tidak pernah sepi walaupun tidak bisa dikatakan berkembang karena semakin lama semakin banyak saingan, termasuk dari mereka yang membuat tempat kost karena sekedar mencari “teman” atau menolong anak-anak kost, istilahnya  beramal sehingga tak memperhitungkan untung rugi kerena mereka tak perlu modal, semua hanya memanfaatkan lahan dan bangunan  apa adanya.

bluecoverall
bluecoverall wrote on Sep 1, ’08
Bicara tentang “INTUISI”, intiuisi saya pula yang bilang bhw rumah di “Plemburan” itu adalah rumahnya Bagus teman saya di Balikpapan dulu, makanya begitu melihat gambar rumah di plemburan itu Bapak dulu saya ‘tembak’ : “Ini rumahnya mas Bagus ya pak?”.
Diana itu rupanya juga adik kelas saya di SMA-4, sama2 anggota teater.

julieastuti
julieastuti wrote on Aug 17, ’08
Wah cerita nya panjang juga yah pak..bapak yng bangga dengan anak2nya,yah siapa yng gak bangga jika anak2 semua selesai dengan kuliah dan kerja dengan baik yah pak?salam buat keluarga bapak..:)

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 10, ’08
Thank mbak Linda, dari pada nganggur kan mendingan bernostalgia. Mudah-mudahan ada yang sudi baca tulisan kakek-kakek ini.

paprika06
paprika06 wrote on Aug 10, ’08
hahaha… saya selalu senang membaca tulisan populer p Ibnu, sebab selalu ada asin-manis-asem jadi satu, humoris penuh dinamika ! Pak, saya Linda kakaknya Suwandi, sudah lama ga jumpa di raffles ya pak + ibu !tempo hari saya baca soal ERTIS saya ceritakan ke ertis juga waktu kami makan siang di rm sunda. Tadinya saya pikir membahas asal-usul penamaan ertis meida … Saya sampe cekikikan waktu baca asal-usul nama mbak jul yang ternyata dari moneycomes jadi manikam.

Matur nuwun cerita2nya ya pak, saya baca kisah hidup keluarga p Ibnu dari serius, ngguyu sampe mbrebes tenggorokan sakit, wis pokok e nano-nano 🙂 :). Salam sehat bahagia buat seluruh keluarga di jogja.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s