Sambungan Sedikit tentang Pengalaman Hidupku (8)

KERIKIL KERIKIL TAJAM

Di tikungan jalan Mesan, ditepi kali Buntung ada sebatang pohon Munggur yang sangat besar dan kokoh, dahannya sangat rindang menjadi sarang berbagai burung liar. Pohon besar itu diyakini ada penjaganya yang sangat disegani sehingga tak ada yang berani memangkas dahannya apalagi menebangnya, padahal dahan dan rantingnya sangat mengganggu saluran listrik yang melintas dibawahnya. Daerah didekat kampus AMY ,disepanjang kali Buntung,”dikenal” sebagai daerah angker, tetapi sejak digunakan sebagai kampus AMY makluk halus disekitarnya pindah ketempat yang lebih aman, kecuali yang menjaga pohon Munggur tak ada yang berani mengusiknya, hingga burung-burung aman menetap ditempat yang engker itu.

Didepan rumahku, dihalaman pak Tanto tumbuh pohon Kapuk Randu Alas yang menjulang tinggi hingga jika musim berbuah, buahnya yang telah kering dan merekah  menyebarkan bulu-bulu kapuk kesegala penjuru. Anak-anak kost mengeluh karena pakaian yang sedang dijemur “dihujani debu serat kapuk” hingga harus mencuci ulang. Jika ada angin besar, pohon yang menjulang tinggi itu meliuk-liuk bagaikan akan tumbang, bahkan pernah patah dan hampir menimpa kedaraan yang sedang lewat dibawahnya. Rumah bu Triyono dan rumah kami sangat dekat dengan pohon itu hingga kami sangat khawatir jika pohon besar itu roboh menimpa rumah kami.Topo,anak pak Tanto yang duduk diklas lima SD kuberitahu bahwa banyak pepohonan dihuni oleh makluk halus, misalnya gendruwo dan wewe. Makluk halus itu suka tinggal dipohon besar dan tinggi. Banyak kejadian, seorang anak tiba-tiba hilang, diculik gendruwo dan dibawa kepuncak pepohonan tempat mereka tinggal dan sangat sulit untuk diselamatkan. Jika jatuh anak itu akan mati dan menjadi anak  wewe dan gendruwo.

Suatu saat pohon itu ditebang oleh orang suruhan pemilik pohon itu, kami sangat lega. Tetapi beberapa saat kemudian ketika kerja bakti hari Kemerdekaan Indonesia Pak Kardono jatuh dari pohon rambutan dihalaman rumah kami yang letaknya tak berjauhan dari pohon Kapok Randu Alas yang habis ditebang itu,  hingga pingsan dan patah tulang. Para tetangga  yang  menolong Pak Kardono dan mengantarkan ke Bethesda mengisukan banyak tempat didesa Mesan yang angker, oleh karena itu tak boleh sembarangan menebang pohon. Dokter tak sanggup memulihkan tangan pak Kardono yang “cecat”, sehingga pak Kardono dibawa ke Sangkal Putung. “Orang pandai” disana dalam sekejap dapat memulihkan cacat pak Kardono sehingga orang semakin yakin pada hal-hal yang tidak masuk akal.  Kukatakan pada mereka bahwa isu itu akan menjadi bumerang bagi kami, jika para taruna dan taruni AMY takut tinggal di desa Mesan maka  rumah kost  dan warung makan di Mesan akan sepi. Aku merasa bersalah karena memanfaatkan  Topo untuk menebang pohon Kapok Randu Alas yang sangat merugikan tetangga disekitar pohon itu, dengan cara yang tak masuk akal.

Pohon rambutan didepan rumah kami yang dianggap angker dan telah menyebabkan pak Kardono “celaka” kusuruh menebang, bukan untuk mengusir makluk jahat yang bersarang dipohon rambutan itu melainkan ditempat itu akan kubangun garage untuk Urip.

Ketika sedang membuat garage itu terjadi “kesalah fahaman antara aku dan Urip”. Aku ingin mengganti garage yang “terlanjur” dibangun Urip diatas tanah yang kini  termasuk diwilayah yang menjadi bagian kami  ke bagian yang menjadi bagian Urip. Aku “dikeroyok “oleh anak istriku dan dianggap sewenang-wenang, karena garage Urip itu dibangun dengan jerih payah Urip dengan hanya mengandalkan satu tangannya. Aku diminta menghentikan projek itu dan membiarkan garage itu  tetap berada diatas tanah kami.

Aku tetap menyelesaikan banguan diwilayah Urip dengan dalih jika Urip ingin tetap menggunakan garage lama, yang dibangun dengan jerih payahnya, maka aku akan memanfaatkan bangunan yang kubangun diwilayah Urip  itu untuk kost-kosan. Sikapku ini dianggap sangat keterlaluan, aku dimusuhi oleh mereka yang sok moralis dan membela keadilan.

Bangunan baru selesai, dapat digunakan untuk garage atau dimanfaatkan untuk kos-kosan. Dibelakangnya kusiapkan wc dan kamar mandi serta dapur. Pintu depan bangunan/garage  sengaja belum kubuat. Sekali lagi kutawarkan kepada Urip untuk memilih, tetap menggunakan garage lama hasil jerih payahnya atau kutukar dengan bangunan baru. Aan, anak semata wayang Urip, ternyata sangat senang dengan fasilitas yang kupersiapkan, wc dan kamar mandi serta dapur. Urip sekeluarga memilih bangunan baru. Pintu  garage lama kupindahkan kegarage baru yang unkurannya sama.  Garage baru ini terletak sangat strategis hingga mobil dapat masuk keluar ke jalan Mesan dengan mudah dan bebas, sedangkan garage lama letaknya dibelakang  garage kami hingga sangat sulit untuk diakses.

Maryono sangat aktif kegiatan gereja, Yanti ditinggal di Mesan mengasuh dua orang anaknya. Surya, anak sulung Maryono, mempunyai kebiasaan yang membahayakan, bermain-main korek api hingga pernah masuk ketempat sampah didalam rumah sehingga isinya terbakar, padahal Endang masih troma pada kejadian di Jendral Sudirman ketika rumah pak Sastro terbakar habis.

Beberapa kali keluarga Maryono pulang ke Bantul atau pergi ke gereja dengan meninggalkan masakan diatas kompor yang masih dalam keadaan menyala hingga masakan itu hangus. Kuperingatkan Maryono dengan keras agar tidak sering linglung, sebab itu sangat berbahaya, dapat berakibat gangguan kejiwaan.

Suatu saat Maryono “ditangkap” polisi karena melakukan perbuatan yang sangat tercela. Aku dan AMY berusaha membebaskannya karena kami yakin perbuatan itu dilakukan tanpa disadari. Maryono harus menjalani pengobatan kejiwaan di RS Sarjito hingga beberapa saat. Tanpa kuminta Maryono meninggalkan rumah kami dan menyewa dirumah Pak Darmo.

Suatu senja ada dua orang anak kost “kesurupan” hingga harus dibawa Urip kerumah sakit. Setelah didiaknosa oleh dokter, yang seorang karena memiliki riwayat gegar otak, yang satu lagi stress karena bertengkar dengan teman sekamarnya. Yang stress kupindahkan ke kamar lain yang berjauan dari “musuhnya”, yang gegar otak dijemput oleh keluarganya untuk beristirahat hingga sembuh.

Beberapa saat kemudian terjadi “perkelahian” antara dua anak kost ketika aku sedang tidak dirumah, sehingga harus diatasi oleh Endang. Persoalannya sangat sepele, yang seorang (yang pernah stress) merasa diremehkan oleh sikap temannya yang memamerkan kekayaannya. Yang merasa terhina menyerangnya secara membabi buta. Sehabis perkelahian itu fihak yang diserang memilih pindah kost padahal kontraknya belum habis. Yang menyerang tetap tinggal di kost kami hingga kami mendapat protes dari anak kost lainnya karena seharusnya yang dihukum si penyerang, bukan yang diserang yang justru dibiarkan pergi tanpa diberikan kompensasi, dikembalikan sisa uang kontyraknya. Aku tahu latar belakangnya, “si kaya” itu banyak duitnya, hingga banyak yang membela. Celakanya, cewek “galak” itu berpacaran  dengan taruna yang masih ada ikatan keluarga dengan kami. Sejak kejadian itu terjadi dua kubu : kubu “pembela kebenaran” dan kubu “nepotisme”.

Ternyata Pak Tanto menebang pohon Kapok Randu Alas   bukan karena permintaan Topo melainkan ditempat itu akan dibangun warung makan. Kami sangat senang dengan dibangunnya warung makan itu, karena  sisa batang pohon Kapok Randu itu tak akan dibiarkan tumbuh lagi. Anehnya  pak Tanto juga membuat kandang sapi dibelakang rumahnya dan memelihara beberapa ekor sapi.  Bau kotoran sapi itu sangat mengganggu tetangga sekelilingnya, termasuk mereka yang membeli makanan di  warung bu Tanto yang jaraknya tak berjauhan dari kandang sapi. Saking murah dan enaknya , lotek tetap laku. Beberapa saat kemudian sapi-sapi pak Tanto  dipindahkan ke kandang Kelompok Tani yang letaknya terpencil dipinggiran desa. Kandang itu dikelola oleh Kelompok Tani dan Peternak desa Mesan. Kami sangat lega, warung bu Tanto semakin laris.

Pohon Munggur angker itu suatu saat patah dahannya hingga menimpa kawat listrik dibawahnya. Dua hari dua malam desa  Mesan gelap gulita. Aku mengusulkan agar pohon itu dihilangkan saja, tetapi ditentang oleh pak Jussac MR. Aku dituduh tidak cinta lingkungan dan bernafsu membabat pepohonan dan menggantikan dengan bangunan. Aku jadi sadar…… bahwa yang melindungi pohon Munggur dan burung-burung yang bersarang  dipohon Munggur itu bukan makluk halus yang jahat, melainkan seorang pecinta lingkungan yang berhati “halus” dan penyayang hewan dan tanaman. Aku  sudah lama “berseberangan” dengan pak Jussack, hobiku menanam beton bertulang sedangkan pak Jussack pecinta lingkungan. Untung ada kesamaan antara pak Jussac dengan Endang, sama-sama pecinta tanaman hias. Pak Jussac banyak memberikan bagian dari koleksi tanaman hiasnya kepada Endang, sebaliknya bu Jussac sangat peduli dengan tukang yang membangun kampus AMY dan dengan sukarela memberikan makanan dan minuman pada mereka.

Kami sangat bersedih tatkala mendengar berita bahwa Diana mengalami keguguran anak pertamanya, namun kami yakin bahwa Tuhan YME memberikan jalan yang terbaik, sebab saat itu rumah tangga Bagus/Diana belum cukup siap untuk menerima anugerah itu. Rumah tempat tinggal mereka belum tertata, Bagus sering dinas di Rig hingga Diana ditinggal sendirian dirumah. Mereka mengeluh kesulitan air, listrik PLN bergiliran, makanan mahal dll.

Bagus dinas ke luar Negeri, Diana sementara kembali ke Yogya. Kesempatan ini kami gunakan untuk meneruskan projek Plemburan. Aku tidak menggunakan tukang Harto, karena tukang-tukangku sendiri, Pak Sis cs, sedang tidak bekerja ditempat lain. Mereka adalah: Pak Sis, Parjono, Sutris, Giono, pak Mudi dan lain-lain yaitu 7 tukang batu, 4 pelayan, satu tukang besi dan satu tukang kayu, jumlahnya 13 orang. Bagiku, angka 13 adalah angka angka mujur, aku berkenalan dengan Endang pada tanggal 13 Mei 1952 pukul 13.00. Rumah Endang saat itu di Secodiningratan no 13.

Pekerjaan berjalan lancar karena fasilitas yang tersedia cukup baik, telah tersedia gudang, pompa air listrik yang digerakkan dengan generator Honda, material dapat diturunkan ditempat dimana akan segera digunakan, jadi tak perlu dilansir, keadaan cuaca mendukung.

Tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh, gudang dimasuki orang tak diundang dan mengambil peralatan dan pakaian para pekerja yang  disimpan digudang. Pakaian itu tidak dibawa kabur oleh orang yang menyatroni tempat itu melainkan di”tinggal / dibuang” di sembarang tempat yang dilewati orang itu. Untung setiap malam generator kubawa pulang ke Mesan.

Untuk “mengatasi keadaan” rencana kami ubah. Kubuat foundasi mengitari bagian diutara bangunan induk, urukurannya 3,5 x 12 m persegi. Bagian ini kami “pagar rapat, kecuali bagian barat kusisakan dan kututup dengan seng. Gudang lama kami bongkar. Ruangan itu kami sekat menjadi dua, masing-masing memiiiki pintu menghadap selatan. Bagian yang di bagian timur kami dag sebagai persediaan untuk jemuran di lantai 2. Bagian sebelas barat yang panjangnya 8 m kami tutup dengan atap darurat hingga dapat digunakan untuk menyimpan besi beton. Pintu dan pagar seng kulengkapi dengan “electronda” (Electron peronda), jika disatroni orang akan memberikan sinyal alarm yang dapat  terdengar oleh  ketetangga disebelahnya. Catatan: Electronda ini sangat sederhana, terdiri dari rangkaian tyrastor yang bagian gatenya diberi  nilai tegangan base tertentu dengan potensio dan dihubungkan dengan jaringan melingkari tempat yang akan diamankan. Jika terjadi perubahan nilai tahanan pada jaringan ( misalnya terputus atau dihubung singkatkan) maka Tyrastor akan terhubung pendek hingga sirine mengaung. Didinding barat kutempelkan peringatan : Awas anjing galak !

Sementara tempat itu aman, tetapi beberapa saat kemudian seng itu dilempari batu hingga berlobang-lobang. Kejadian ini biasanya terjadi ketika hujan lebat. Ini memberi petunjuk bahwa yang melakukan perbuatan itu “seseorang” disekitar tempat itu, atau paling tidak bekerja sama dengan seseorang yang tinggal disekitar tempat itu. Suatu saat Par menemukan pukul besinya dipakai oleh seseorang disekitar tempat tersebut, Parjono memberi tahukan hal itu, sehingga tahulah kami siapa yang menyatroni kami. Kecurigaan ini ternyata cocok dengan “pembicaraan” dengan para tetangga dan keamanan kantor post Plemburan, banyak yang telah mengetahui kejahilan orang tersebut, tetapi dibiarkan saja. Pantas saja rumah-rumah disitu banyak yang memelihara anjing penjaga. Aku mencari penjaga malam, namanya Mugi. Dia bersahabat baik dengan anak si jahil itu, hingga mereka tahu bahwa terdapat pengaman diprojek kami.

Aku membaca iklan di Kedaulatan Rakyat yang menawarkan jasa renovasi rumah, merombak bangunan lama/tak bertingkat menjadi bangunan bertingkat,  termasuk pengedagan bangunan.Saat itu Diana dan Bagus merencanakan  sebagian rumahnya dijadikan bertingkat. Menurut pendapatku biaya pengedagan yang ditawarkan sangat murah sehingga kuanjurkan untuk memborongkan pengedagan itu kepada Ir Budi yang menawarkan jaza diiklan itu.

Luas dag yang akan dibangun itu 50 meter persegi, biayanya cuma 9.5 juta rupiah, padahal jika kukerjakan sendiri paling tidak sekitar 11 juta. Aku mengajukan standard sesuai dengan perhitunganku, misalnya, ukuran besi beton standard  diukur dengan jangka sorong atau bahkan micrometer sekrup dan bukan ukuran toko; rapat/jarak ayaman ditentukan, tiap persilangan harus diikat dengan bindrad,  ketebelan cor 10 cm, perbandingan campuran material , jenis/ merek semen, ukuran dan kwalitas split (bukan sekedar kerikil), kwalitas pasir. Dasar dag harus rata/plat hingga tak memerlukan lapisan plaform. Tenggang waktu pengerjaan, pembayaran tak boleh melebihi yang telah dikerjakan. Kesepakatan ditanda tangani dan pekerjaan segera dimulai.

Pada saat pemasangan steger telah terjadi keraguan karena hanya menggunakan bambu, bukan dolog atau skylift. Aku tak dapat menggugat karena tak tertera dalam perjanjian. Jarak steger  terlalu jarang, aku juga tak dapat menggugat. Triplek yang digunakan hanya setebal 3mm, aku juga tak dapat menggugat, tetapi kuperingatkan bahwa sebelum dipasang anyaman besi harus dibuktikan bahwa dasarnya rata, tidak bergelombang.

Setelah triplek terpasang,Diana kuminta mengecek dan ternyata tak memuaskan. Kuminta merapikan dulu sebelum dipasang anyaman besi. Tanpa kuminta triplek dilepas dan digantikan dengan yang tebalnya 5 mm, sementara itu datang besi beton untuk anyaman plat yang besarnya menurut berstek 8 mm penuh, ternyata setelah kuukur dengan jangka sorong besarnya hanya 7,2. Material itu kutolak, karena tidak memenuhi berstek. Budi berdalih, menurut toko besi itu berukuran 8 mm, tetapi aku tetap bertahan pada bertstek, dia tak berkutik dan menggantikan dengan besi yang sesuai dengan berstek.

Karena besi cukup besar dia meminta jarak diperlebar atau anyaman cukup satu lapis. Dia mengejek, katanya dag yang demikian adalah bagaikan jembatan. Kukatakan, pemilik bangunan ini memang seorang insinyur sipil yang biasa membuat jembatan, jadi dia harus menuruti pemiliknya sesuai dengan berstek, kalau tidak menurut  perintah pemiliknya ya jangan dikerjakan, mundur saja!

Tantanganku ini dijawab oleh mandor/bawahan Budi dengan mengundurkan diri. Mandor itu menasehatkan pada Budi agar membatalkan kontraknya, aku menyetujui dan kuminta semua ditarik/ dibersihkan dari lapangan/projek, uang yang sudah diterima Budi tak usah dikermbalikan,tetapi Budi tak mau “mempertaruhkan” reputasinya, ingin maju terus.

Menghadapi sikapku itu Budi berusaha sedapat mungkin  memenuhi berstek, namun karena sudah dimulai dengan sesuatu yang “asal-asalan” maka banyak sekali kesulitan yang harus dihadapi. Aku menyediakan “pinjamam” usuk untuk memperkuat steger, suri-suri dan tlasar, namun tidak mudah “memperbaiki” sesuatu yang sudah terlanjur amburadul. Waktu pengerjaan melebihi yang ditetapkan, tetapi aku masih mentelorir asal hasinya baik.

Karena jengkel aku agak teledor, tidak melakukan pengecekan secara teliti. Anyaman besi hanya disangga dengan split, bukan “tahu yang terbuat dari cor beton atau pecahan tegel” yang rata, akibatnya jika terinjak-injak penyangga itu dapat bergeser sehingga besi berimpit dengan triplek dibawahnya. Ini sangat fatal. Ketika dag selesai besi lapisan bawah akan tidak terlindungi oleh beton cor, hingga dapat berkarat. Ini berarti aku harus memplester bagian bawah dag yang merupakan pekerjaan  sangat sulit.

Setelah selesai Ir Budi meminta kekurangan beaya projek, anehnya dia menyodorkan kwitansi pembelian material dan beaya tenaga yang berjumlah 12 juta rupiah. Tagihan itu kutolak karena menyimpang dari kontrak. Pemborong itu meminta pengertianku sambil terisak karena dia harus menanggung kerugian 2.5 juta rupiah. Kuminta dia berhubungan langsung dengan Diana. Diana menelpon suaminya dan menyerahkan persoalan itu kepada Bagus. Bagus meminta pertimbanganku, tetapi kukatakan: Dia rugi 2.5 juta, kerugian yang kami alami melebihi nilai tersebut, pertama harus menutup bagian-bagian besi yang “meringis” dengan plesteran dan dag  harus ditutup dengan plaform karena tidak rata sehingga menjadikan ruangan  sangat pendek. Aku ingin memberi pelajaran pada anak muda yang bekerja dengan gegabah, kerugian 2.5 juta bukanlah sesuatu yang “mahal” dibanding dengan pelajaran yang didapatkan oleh pemborong muda itu.

Bagus akan memenuhi tuntutan itu karena dianggapnya realistis dan menghormati kejujurannya. Kukatakan bahwa kerugian itu harus dipotong, karena materi  yang digunakan: seluruh steger, usuk , papan kisi-kisi, riplek dan lain lain ,boleh dibawa,karena aku tak memerlukan sedangkan bagi dia barang itu masih sangat bermanfaat.  Karena Bagus bersikap lunak maka tak kuizinkan untuk berhubungan langsung dengan Budi, aku dan Diana yang menghadapi Budi. Kami berikan tambahan 1 juta dan segera kami bayarkan pelunasannya, sehingga total berjumlah 10,5 juta. Budi rugi 1,5 juta tapi mendapatkan barang-barang bekas senilai 0,5 juta dan pengalaman “bermain-main” projek orang lain. Kami harus menambah 1 juta dan kekecewaan tetapi mendapat pengalaman: jangan sekali-kali mencari murah yang akhirnya membuahkan kekecewaan.

Dari hasil pengedagan senilai 10,5 juta itu kami mendapatkan tambahan ruang terlindung dari hujan dan lantai dua masing-masing seluas 50 m2. Lantai 2 dapat kami mantaatkansebagai tempat mengawasi sekeliling bangunan, lantai satu terdiri dari dua ruangan terpisah yang direncanakan sebagai kamar tidur dan ruang tamu.

Pengedagan yang “diluar rencana” tersebut justru menambah kekuatan bangunan, karena kolom-kolom besar yang dihubungkan oleh slope diatas foundasi batu kali yang berfungsi mendistribusikan beban dibawah diperkuat dibagian tengahnya dengan bukan sekedar ring melainkan balok besar yang berfungsi menyangga dag.

Jendela lebar calon kamar tidur kami tutup dengan seng berkerangja kayu yang cukup rapi dan kuat, pintu yang berarah ketimur kami beri daun pintu darurat  hingga ruangan berukuran 6 x 4 meter persegi itu  dapat tertutup rapat. Lantainya kami alasi cor  campuran kerikil hasil irikan, pasir, semen dan mill hingga siap untuk digunakan sebagai ruangan jaga malam. Pak Sis dan Parjono bersama atau bergiliran tidur diruangan itu. Mugi kami istirahatkan karena jika malam sering keloyoran, bahkan membawa perempuan.

Agar keadaan tidak seram kusediakan sebuah lampu petromax untuk dinyalakan pada petang hari dan sebuah akumulator untuk penerangan malam hari. Parjono menghubungkan ruangan itu dengan tetangga, rumah bu Budi dan Pak Toni Mahendra, menggunakan interkom. Diruangan itu juga tersedia sebuah radio dan taperecorder.

Kini di projek Plemburan sudah tersedia: gudang untuk penyimpanan semen,mill dan generator, gudang penyimpanan besi beton dan peralatan tukang, ruangan untuk penjaga malam dan ruangan yang dapat dimanfaatkan untuk menerima tamu.

Anyaman besi kolom disekitar dan di lantai dua  disambung dan didirikan. Dinding lantai dua dipasang dan secara serempak disatukan dengan pengecoran kolom.  Satu diantara kolom yang telah siap sangat  kami butuhkan untuk menanam pal listrik yang akan ditarik dari togor ditepi jalan kearah bangunan.

Kami telah memasang instalasi listrik dan memohon langganan listrik PLN dengan daya 1300 watt. KWH meter diletakkan didalam gudang besi, setiap ruangan yang sudah siap dipasang titik lampu dan stop kontak. Dua bulan  kemudian masuklah daya listrik PLN kerumah Bagus yang baru dikerjakan sebagian kecil  dan belum sempurna.

Listrik adalah sarana yang sangat penting setelah air, gudang dan  ruang jaga malam. Dengan terpasangnya listrik PLN maka suasana lingkungan menjadi sangat kondusip. Diruang tamu kami sediakan tikar dan meja karambol yang menjadi tempat rekreasi bagi penjaga malam bersama  para tetangga, terutama anak-anak kost disekitarnya. Disitu juga kami sediakan sebuah televisi berwarna.

Bagian depan dan belakang tanah Plemburan belum berpagar sehingga tanah disebelah selatan bangunan milik Bagus dapat dilewati pejalan kaki,kedaraan roda dua, bahkan roda  empat dari jalan raya Plemburan menuju keperumahan BPK dan Sekolah Dasar Pogung Lor yang terletak disebelah timur tanah Plemburan. Keadaan ini sangat merugikankami karena mereka beranggapan tanah yang dilewati itu sarana umum dan merupakan jalan pintas antara kalurahan Sinduadi dan Tirtomartani. Ini terbukti ketika Par membersihkan tanaman dipagar Ulun Sentalu, pengontrak tanah pak Yanto disebelah selatan tanah kami, dilarang oleh Satpam perusahaan konspeksi itu. Demikian juga penghuni BPK melarang kami membuat foundasi pagar dibagian belakang tanah kami.

bluecoverall
bluecoverall wrote on Sep 1, ’08
Wah…. harus segera dipagari pak, biar ndak jadi malapetaka di kemudian hari. Kecuali Bapak mengikhlaskan sebagian tanahnya utk jalan tembus. 🙂

nunungmulyani
nunungmulyani wrote on Aug 21, ’08
Kejadian yg mas alami hmpr sm dgku, dulu tk jauh dr rmh ada sebuah phn bringin yg umurnya sdh ratusan thn, dan konon disitu t4nya penunggu desa kami, alhamdulillah skrg sdh tumbang dan mitos2 itu smkn lama smkn hilang.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s