Sambungan Sedikit Tentang Pengalaman Hidupku (9)

IKHLAS

Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuah YME untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, bukan sekedar materi dan bukan hanya untuk anak cucu, itulah yang menjadikan diriku tak terlalu posing pada prinsip hak dan kuwajiban. Namun aku sangat faham dan mengerti bahwa keadilan bukanlah prinsip sama rata dan sama rasa, melainkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Mertuaku memperlakukan aku berbeda dengan adik-adik iparku, karena tugas yang kami pikul dianggap berat, inilah yang menyebabkan mertuaku “kurang” ditaati oleh adik-adikku. Ini sangat terasa ketika Endang harus menyelesaikan masalah warisan. Tugas itu seharusnya dipesankan kepada Mas Untung Hadi, tetapi beliau berselisih faham dengan kami soal status warisan.
Untung, bukan mas Untung, melainkan akulah yang untung sebab aku mendapat kesempatan dari Tuhan YME untuk ikut menyelesaikan masalah warisan mertuaku.
Warisan yang bermanfaat (Ingat: banyak warisan yang tak bermanfaat malah menyengsarakan generasi berikutnya misalnya: hutang, penyakit, nama buruk, kebodohan, kemiskinan dll) sangat berarti bagi generasi berikutnya, namun warisan yang berupa materi jika tak disikapi dengan arif bijaksana dapat menjadi bom waktu yang sanggup memporak perandakan sebuah keluarga yang telah hidup damai dan bahagia.
Anda dapat membaca dari STPH terdahulu bagaimana aku diberi kesempatan oleh kakak-kakakku untuk “menyelamatkan” rumah pusaka peninggalan orang tuaku. Itu kulakukan tanpa mengharap imbalan apapun karena mereka tidak memberikan tugas kepadaku, melainkan kesempatan. Hasilnya: rumah pusaka itu tetap utuh hingga kini, tak terobek-robek, tercabik-cabit yang semakin lama semakin sempit dan akhirnya masing-masing hanya menerima satu meter persegi. “Keberhasilan” itu tak terlalu penting bagiku, yang “memuaskan diriku” adalah aku telah memanfaatkan kesempatan itu secara ikhlas yang sangat berat jika diperhitungkan untung ruginya.
Pengalaman menyelesaikan masalah warisan peninggalan orang tuaku dan mertuaku mengilhami kami untuk “menghibahkan” sebagian harta kami kepada anak-anak kami, dengan maksud memperingan tugas kami sekaligus memberi kesempatan kepada mereka untuk memanfaatkannya.
Sebagian tanah dan rumah di Mesan kami hibahkan kepada Yulia, sebagian tanah di Plemburan kami hibahkan kepada Bagus, Sigit dan Ida. Kami tetap memiliki secara mutlak sebagian yang masih kami perlukan.
Bagus telah memanfaatkan bagiannya dengan membangun rumah sebagai tabungan hari depannya mumpung beban keluarganya belum berat. Bagi Yulia telah tersedia rumah yang memedai bagi keluarganya sehingga dia dan suaminya dapat sepenuhnya memikirkan pendidikan anak-anaknya.
Batas-batas wilayah tanah Plemburan telah ditentukan sehingga tak ada lagi kesulitan bagi Bagus untuk “mengamankan” tanah dan rumah yang telah mulai dibangunnya. Aku diminta untuk membuat pagar melintang keutara dibelakang rumah dan tanah yang menjadi bagian Bagus. Ini dimaksudkan agar tanah dibagian sebelah selatan tak digunakan sebagai jalan umum. Bagian yang kelak dijadikan jalan ke tanah Ida dan Sigit tetap disisakan selebar 4 meter dan diberi pintu darurat sehingga untuk sementara tertutup bagi umum. Ini juga bermanfaat untuk menyelamatkan tanah Sigit dan Ida.
Aku meminta kepada Bagus agar batas yang akan dibuat itu digeser ke timur, di sebelah timur tanah yang masih menjadi hak kami, yang dikemudian hari akan menjadi milik Bagus, hingga tetap menyatu dengan tanah yang kini telah kami hibahkan kepada Bagus.
Bagian yang kelak akan menjadi bagian Sigit terletak dibagian paling timur menyatu dengan bagian tanah yang telah kami hibahkan kepada Sigit. Disisi timur batas yang akan kami buat adalah tanah kami yang kelak akan menjadi hak Ida dan tetap menyatu dengan tanah yang telah kami hibahkan kepada Ida.
Kami menanam berbagai pohon: mangga, durian, rambutan dibagian tanah yang masih menjadi hak kami. Walapun pohon itu tak dapat tumbuh dengan baik, karena tanahnya tandus, namun ibaratnya hidup segan mati tak mau, pohon itu tetap exist.
Agar pagar pembatas yang dibangun oleh Bagus itu kuat aku membuat bagunan menghadap kebarat, di tanah yang masih menjadi hak kami, dengan maksud untuk tempat kost atau kontrakan. Bagus memberikan “honor” 5 % kepadaku sebagai pelaksana projeknya sesuai dengan janjinya. Uang itu kugunakan untuk membangun rumah kost itu, tetapi karena tidak mencukupi maka ditambah uang tabungan Endang.
Tanah Bagus dan tanah kami yang kelak akan menjadi tanah Bagus luasnya sekitar 800 meter persegi, terdiri dari tanah yang boleh dibangun kelak hanya seluas 600 meter persegi dan kepentingan bersama sekitar 200 meter, yang diperuntukkan jalan selebar 4 m, trotoir/drainage/tanaman pelindung dan tempat parkir bersama. Disebelah barat ditepi jalan digunakan untuk taman milik bersama.
Sigit dan Ida belum akan memanfaatkan tanah miliknya sehingga dibiarkan tidak terurus, sebaliknya bagian Bagus terus dikemasi. Bagian yang berbatasan dengan jalan raya Plemburan dipondasi batu kali sebagai persiapan pagar. Jalan masuk diratakan dan diberi selokan untuk mengalirkan air hujan keselokan ditepi jalan.
Aku sangat prihatin dengan dua pertiga bagian tanah Plemburan yang tidak terurus. Tanah yang masih menjadi hak kami ditanami pohon jangka lama (pohon keras), tetapi keadaannya sangat merana, lebih-lebih dimusim kemarau. Karena dibagian timur masih terbuka dan berbatasan dengan “lembah” yang cukup dalam, maka setiap hujan tanah terkikis, semakin lama semakin rendah hingga pondasi tetangga diutaranya nampak bagian dasarnya. Pagar yang dibangun oleh tetangga disebelah utara itu tingginya tiga setengah meter sehingga kami sangat khawatir akan roboh keselatan.
Tanah Sigit terletak dibagian paling timur ditepi lembah , sehingga tak perlu dikurangi untuk jalan bersama, tetapi untuk mengamankan harus ditalut sedalam 2,5 meter sepanjang 18,5 meter, hingga memerlukan biaya besar, juga dibagian selatan belum dibatasi/dipagar oleh tetangga. Ketika Sigit kuminta menalut bagian timur tanah miliknya agar tanah disebelah barat tak terkikis oleh air hujan, dia malah merasa terbebani dan berniat mengembalikan tanah yang diterima sebagai hibah itu kepada kami. Kami tak mau menjilat ludah, maka jika tak berniat membangun ditanah itu kusarankan dijual saja dan uangnya terserah untuk apa, itu sepenuhnya menjadi hak dia.
Ida mengirim satu juta rupiah untuk membantu penalutan itu. Kiriman itu hanya cukup untuk membuat pondasi antara tanah Sigit dan Ida karena tanah itu sama tingginya. Aku akan membuat pembatas antara tanah Ida dan Sigit, agar tanah Ida tak ikut terkikis, tetapi Ida tak menyetujui sekedar menyelamatkan tanah miliknya.
Dari pada uang tak perpakai maka kugunakan untuk membuat pondasi pembatas antara tanah Sigit dan tetangga diselatannya yang belum berpagar, panjangnya sekitar 35 meter. Endang memberikan tambahan hingga dapat kupagar setinggi 1,25 meter.

REJEKI BAYI

Bagus itu anak yang berani dalam mengambil keputusan. Tidak lama bekerja di Unocal, Bagus langsung memutuskan untuk segera membeli rumah meskipun rumah kecil dan sederhana. Bagus yakin bahwa itu yang terbaik untuk keluarganya kelak meskipun itu berarti harus bersaki-sakit dahulu dengan berhutang ke Koperasi Perusahaan dan membayarkan sebagian besar gajinya untuk membayar cicilian rumah sederhananya.
Hanya satu tahun tinggal di rumah kecil tipe 48-nya di Perumahan Tamansari Balikpapan, Bagus mendapat kesempatan untuk mendapat pinjaman pembelian rumah tanpa bunga dari Unocal. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bagus untuk segera ‘mencuri start’ dengan membeli rumah yang lebih besar dan lebih baik di Perumahan Bukit Damai Indah. Pembayaran DP-nya didapat dari keuntungannya menjual rumah sederhananya yang harganya naik sangat cepat. Saat itu Balikpapan tengah “naik daun”. Keputusan untuk segera membeli rumah yang lebih besar ternyata sangat tepat karena begitu Unocal dan Perusahaan minyak lainnya di Balikpapan mengumumkan kenaikan batas pinjaman rumah ke pegawainya, harga-harga rumah di Perumahan di Balikpapan membumbung tinggi. Karena bertindak cepat, Bagus membeli rumah dengan harga yang belum begitu tinggi.
Bagus dan Diana yang baru mengandung pindah ke rumah idaman mereka di Bukit Damai Indah Balikpapan. Beberapa bulan kemudian Diana melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Rayhan Waskita Setiadi (Iha). Kami semua sangat berbahagia. Kami menyuruh Jumiah, mantan pembantu kami yang telah bersuami dan mempunyai dua orang anak, ke Balikpapan untuk membantu Diana.
Kehadiran Iha ternyata membawa berkah, semua selamat, sehat dan keluarga. Bagus diberi banyak rejeki. Iha sangat disayang oleh teman-teman sekerja Bagus, banyak menerima kado dan hadiah hingga tak perlu banyak mengeluarkan belanja tetek bengek bagi si Lucky Baby ini. Pekerjaan dan karir Bagus lancar dan dia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan rekan kerja dan atasan-atasannya. Bagus kadang-kadang bekerja di kantor dan kadang-kadang bekerja di Rig lepas pantai sebagai “mandor”. Gaji di Unocal sebagai Drilling Engineer mungkin tidak setinggi gaji di “Service Company” (Halliburton, Schlumberger, dll) yang memberi servis ke perusahaan-perusahaan minyak, atau dibandingkan dengan Perusahaan minyak lainnya yang lebih besar, tetapi Bagus sangat menikmati pekerjaannya di Unocal karena Unocal memiliki suasana kerja dan hubungan dengan penduduk setempat yang sangat baik.
Semakin lama tugas Bagus semakin bertambah, dia sering dikirim keluar kota, bahkan kadang-kadang ke luar negeri baik untuk keperluan training memperdalam pengetahuannya di bidang drilling atau untuk mewakili Perusahaan untuk berbagai keperluan.

Beberapa tahun kemudian Bagus ditugaskan untuk bekerja di lepas pantai sebagai mandor pengeboran. Bagus bertugas di rig lepas pantai di Selat Makasar, 2 minggu “on” dan 2 minggu “off”. Rig bagi Bagus bukanlah tempat yang “membosankan”, sebab di Rig tersedia berbagai fasilitas, lebih-lebih banyak ikan yang hilir mudik disekitarnya dan sangat mudah untuk ditangkap. Kadang-kadang sewaktu pulang ke Yogya dia membawa ikan Kakap Merah atau Salmon hasil tangkapan atau membeli dari Nelayan yang banyak menambatkan perahunya di dekat Rig pengeboran.

Karena harus ditinggal selama 2 minggu, Diana kembali ke Jawa dan Bagus memutuskan untuk mengontrakkan rumahnya di Balikpapan. Rupanya rejeki jabang bayi si-Iha masih berlanjut karena ada orang asing yang kebetulan mencari rumah dan bersedia mengontrak rumahnya dengan harga lumayan tinggi. Sebagian besar uang hasil mengontrakkan rumahnya dipergunakan oleh Bagus untuk membangun Plemburan. Diana bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunannya.
Endang yang berfilosofi “sedumuk bathuk senyari bumi” ngotot untuk tetap menalut bagian itu, tetapi aku tidak sependapat, aku akan “mengalah”, menggeser talut kebarat, karena kami memerlukan pembuangan air hujan untuk mengalirkan air dari tanah Sigit dan Ida yang tak mungkin dialirkan kebarat atau aku harus menimbun tanah seluas 1600 meter persegi hingga melebihi tanah Bagus dan selokan di jalan raya Plemburan.
Konsekwensi penggeseran kebarat itu ialah Aku harus membuat talut sepanjang 18,5 m + 2,5 m + 0,5 m, lain halnya jika kutalut disudut timur laut, panjangnya sekitar 5 meter saja, karena disebelahnya sudah terdapat bangunan milik sipemrotes.
Karena tak mendapat dukungan dari Endang rencana penalutan kutangguhkan, aku meminta izin kepada Sigit untuk memanfaatkan kiriman uang 1,5 juta itu untuk membuat sumur di wilayahnya. Sumur itu sangat dibutuhkan karena jika kemarau rumput dan ilalang mati, mudah terbakar dan menjadikan tanah tak terlindungi dimusim hujan. Mempertahankan rumput dan ilalang dapat dimanfaatkan untuk melindungi pengikisan tanah sebagai mana halnya menalut tebing lembah. Disamping itu aku berniat menanam bambu disepanjang perbatasan tanah Sigit dengan lembah. Sigit menyetujui pembuatan sumur, tetapi berkeberatan jika sebagian tanah miliknya ditanami bambu.
Sumur kubuat ditanah yang masih menjadi hak kami, disebelah barat tanah yang telah kami hibahkan kepada Sigit yang kelak akan menjadi milik Sigit. Ini kulakukan karena aku tidak mengerti rencana Sigit, jika perlu batas tanah Sigit dapat kugeser kebarat,kutukar dengan tanah ditepi lembah hingga aku dapat bebas menanaminya dengan bambu untuk menahan pengikisan tanah.
Tanah dibagian ini ternyata lebih tandus, dari yang disebelah barat, terdiri dari lapisan kerikil bercampur cadas keras dan batu-batu besar. Penggali sumur yang “memborong” tenaga menghentikan ketika mencapai kedalaman sekitar dua meter, sebenarnya aku berhak untuk tidak membayarnya sebab dia membatalkan kontrak/perjanjian sebelum mendapatkan air dan belum memasang buis. Menurut perjanjian permeternya Rp 75.000,- Mereka bersedia menerima ala kadarnya. Dia bekerja selama tiga hari, yang dua hari dikerjakan dua orang, maka kuberikan Rp 100.000,- Tugas kuberikan kepada pak Kardono yang pernah menggali sumur dibagian barat, tetapi dia hanya bersedia mencarikan tukang lain yang sudah biasa menggali ditempat itu. Taribnya permeter Rp 125.000,- Aku berusaha menawariRp 120.000,- permeter dengan maksud sisanya kusediakan untuk bonus kepada pak Kardono.Pak Kardono menyatakan tak perlu diberi upah dalam mencarikan tukang, jika tukang itu bersedia mengerjakan, tetapi tukang itu malah menjelaskan bahwa itu harga mati belum termasuk bonus untuk penghubung.
Penggalian diteruskan, langkah pertama adalah memecah batu besar yang menghalangi penggalian, ini memerlukan dua hari kerja, dilakukan dua orang. Setelah terbebas dari batu besar penggalian diteruskan, tanah itu bagaikan cor beton hingga harus dihancurkan dulu dengan menggunakan betel. Setelah bekerja selama sepuluh hari dan dikerjakan oleh tiga orang sampailah pada kedalaman sepuluh meter, tetapi belum juga mendapatkan air.
Penggalian dihentikan,selama empat hari tak seorang pun datang untuk melanjutkan penggalian. Menurut pak Kardono penggali sumur itu sedang mencari wisik, untuk mencari bagian lain yang dilewati aliran air. Aku tetap bersikeras penggalian harus tetap diteruskan ditempat itu. Jika tak sanggup akan kucari penggali lain.
Tanpa kuduga pada hari ketiga hujan turun hingga sumur itu terisi air. Kukira tukang itu akan menghentikan penggalian karena telah mendapatkan air, ternyata tidak. Sumur digali lagi hingga kedalaman sebelas meter dan mulailah mendapatkan air dari sekitarnya. Aku lega. Pelahan air naik hingga permukaannya tiga perempat meter dari dasar sumur. Pengggalian tak dapat diteruskan.
Aku memesan buis yang dibuat dengan sistem basah yang. bahannya diaduk dengan molen (umumnya buis dibuat sebagai pembuatan batako atau konblog, adonannya cukup lembab dan dicampur secara manual). Harganya berbuah Rp20.000, panjangnya 05 meter/unit. Buis biasa harganya Rp 15.000/unit. Aku memesan 24 unit, sehingga untuk buis harus kubayar Rp 480.000,- Untuk tukang Rp 1.200.000,- + Rp 100.000= Rp 1.300.000,- Pak Kardono kuberi Rp 50.000,- Endang yang menutup kekurangan beaya pembuatan sumur.
Kami senang mendapatkan air untuk ditimba, sebab jaraknya sekitar 80 meter dari rumah Bagus. Kegembiraan itu segera menjadi kejengkelan karena sumur itu dijahili, dimasuki pecahan batu entah oleh siapa sehingga kami amankan dengan menutupnya dengan tutup beton bertulang. Sumur itu menjadi kurang berarti karena musim hujan mulai tiba.
Bagus sempat berhenti mengirim uang sehingga Par dan pak Sis diberi pekerjaan oleh Endang untuk melanjutkan projek kami membuat pagar pembatas antara (tanah Bagus + tanah kami) dengan (tanah kami + tanah Ida ) sekaligus untuk membangun kos-kosan. Dengan demikian aku tak membayar uang jaga malam.
Sigit mengirim uang Rp 12.500.000,- untuk menalut dan memagar batas disebelah timur tanah Sigit. Musim kemarau, saat yang tepat untuk menalut agar tak terganggu oleh hujan. Untuk mendapatkan air yang dekat dengan projek yang akan kukerjakan sumur Sigit kubuka tutupnya untuk ditimba, ternyata tak ada airnya. Aku berniat memperdalam sumur itu,tetapi membutuhkan biaya dan membeli buis yang berukuran lebih kecil agar dapat dimasukkan kedalam sumur yang telah jadi.Setelah kupertimbangkan lebih menguntungkan kupasang pipa pralon 0,5din dari kost-kosan kami yang telah ada saluran air bersihnya, dengan demikian tak memerlukan menimba. Masih ada dua unit buis sisa pembuatan sumurSigit,kumanfaatkan untuk tandon air diwilayah yang akan kami kerjakan.
Talud itu tingginya 2 meter, foundasinya 0,5 meter, panjangnya 18,5 meter plus 2,5 m plus 0,5 m. Diatasnya kubentangkan slope dan kolom-kolom masing-masing berjarak 2,5 meter tingginya 2,5 meter. Untuk memperkuat pagar agar tak mudah roboh kami buat sekat-sekat foundasi,sloupe dan dinding tegaknlurus pagar yang dapat dimanfaatkan untuk ruangan-ruangan berbagai ukuran menempel pagar. Disebelah timur pagar masih kusisakan tanah kosong yang kusediakan sebagai saluran air hujan sesuai dengan permintaan tetangga disebelah timur kami, komplek BPK. Aku mengalami kesulitan untuk meninggikan tanah yang telah terkikis oleh air hujan, untuk itu kubuat kolam berukuran 1,6 x 2 m dalamnya 2 m yang dapat digunakan sebagai tandon air hujan dan memelihara ikan lele. Disebelah barat sumur Sigit kupersiapkan foundasi berukuran 5 x 3 meter untuk sarana mushola bagi keluarga Sigit.
Saat projek Sigit sedang berjalan terjadi “pergeseran” kepemilikan. Atas keinginan Endang kami mencari tanah di Prambanan untuk mengganti bagian tanah Ida di Mesan. Tuhan YME mengabulkan keinginan Endang, kami mendapatkan tanah disebelah barat Candi Prambanan, luasnya 1.322 m2, letaknya 70 meter didepan pintu gerbang Arena Sendra Tari Ramayana. Sementara itu Bagus ternyata telah mengirim uang Rp 220.000.000,- (harap dikoreksi) kepada Ida sebagai “tabungan” pelepasan hak tanah yang kami hibahkan kepadanya. Ternyata Sigit ingin dicarikan di Jalan Kaliurang yang relatif harganya lebih tinggi dari tanah di Prambanan. Karena Ida tak berminat atas tanah yang telah kami beli dengan alasan “mukanya” kurang lebar, sedangkan Sigit berminat karena tanah itu relatif dekat dengan Bandara Adisucipto dan tak terlalu jauh dari rumah mertuanya (bapak H. Munawar), maka statusnya kami pindahkan ke Sigit. Endang tetap ngotot menginginkan Ida memiliki tanah yang dekat dengan Yogya. Sekali lagi doa dan permohonannya kepada Tuhan YME dikabulkan, kami mendapatkan tanah didepan tanah Sigit yang “mukanya’ lebih lebar, luasnya 1.333 m2. Kuperingatkan bahwa sisa uang Ida yang belum dibayarkan oleh Bagus tidak mencukupi untuk membeli tanah itu, tetapi Endang bersedia “nomboki” dulu dan akan diperhitungkan kemudian. “Pokoknya Ida dan semua anak kita harus punya tanah disekitar Yogya!” Itulah karakter Endang yang keras dan sangat dipatuhi oleh anak-anak kami. Aku tak pernah bertanya argumennya,sebab hanya akan menyebabkan pertengkaran yang tak bermanfaat. Bagiku dimanapun manusia itu berada, disitulah dia membutuhkan tempat tinggal, aku mendorong dan menunjang anak-anak untuk memiliki tempat tinggal sendiri,tidak sekedar mengontrak, dimanapun mereka dapat memperoleh nafkah dan penghasilan.

REJEKI PERUSAHAAN TUTUP.
Unocal akan diambil alih oleh Perusahaan lain. Saat itu penawaran tertinggi datang dari perusahaan China. Para pegawai Unocal sangat gelisah karena perusahaan yang akan membelinya diperkirakan akan memberikan kesejahteraan yang lebih rendah dibanding kesejahteraan yang diberikan oleh Unocal.
Kekhawatiran pegawai dapat dimaklumi. Banyak Pertamina yang “iri” dengan pegawai Unocal, seperti yang disampaikan oleh Atik yang suaminya bekerja di Pertamina. Walaupun gaji yang diberikan Unocal mungkin bukan paling tinggi di antara Perusahaan Minyak di Indonesia, Unocal dikenal sangat memperhatikan karyawannya dan memberikan kesejahteraan jauh lebih baik dan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk mengembangkan diri. Untuk pegawai yang berprestasi, Unocal memiliki program Retention Plan (program untuk mengikat pegawai yang berprestasi dengan memberikan sejumlah saham yang dapat diuangkan setelah pegawai tersebut bekerja selama waktu tertentu di Unocal), sehingga para pegawainya merasa ikut memiliki dan bekerja sebaik-baiknya demi kemajuan Perusahaan.
Bagus termasuk pegawai yang beruntung karena memperoleh saham melalui program tersebut. Aku agak curiga dengan program ini, khawatir hanya sekedar akal-akalan. Namun ketika di kemudian hari akhirnya Unocal dibeli oleh Chevron, terbukti Perusahaan memegang janjinya. Untuk pegawai yang memutuskan untuk keluar dari Unocal, di samping memperoleh pesangon yang cukup tinggi, Perusahaan mencairkan saham yang selama ini diberikan kepada para pegawainya beserta bunga/ keuntungannya.
Aneh sekali, perusahaan yang sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya dan sangat peduli dengan masyarakat sekitarnya kok malah tidak berumur panjang.
Semenjak berhembus isu Unocal akan dibeli oleh Perusahaan lain, Bagus mulai aktif melamar di Perusahaan-perusahaan lain, termasuk ke luar negeri. Bagus memperoleh informasi dari salah seorang mantan atasannya bahwa Santos Australia memerlukan pegawai dengan spesifikasi yang sesuai. Bagus melamar dan diterima.
Bagus termasuk pegawai yang pertama kali memutuskan untuk keluar dari Perusahaan setelah Unocal diambil alih oleh Chevron. Di samping “kepedihan atas kematian Unocal di Indonesia” ternyata memberikan “warisan” yang sangat bermanfaat bagi Bagus hingga Bagus dapat meneruskan projeknya di Plemburan bahkan menyatukan seluruh tanah Plemburan.
Pembangunan Plemburan (bagian akhir) dan penggantian tanah Mas Sigit dan mBak Ida itu diperoleh dari uang penjualan rumah Balikpapan, uang pesangon selama 8-1/2 tahun bekerja di Unocal dan uang saham (yang diberikan oleh Unocal dalam rangka retention plan pegawai) yang cair sewaktu Unocal dibeli Chevron dan Bagus memutuskan untuk keluar. Di samping itu hasil penjualan rumah Bukit Damai Indah yang harganya naik tiga kali lipat dari harga pembelian.
Pada saat yang bersamaan Bagus mendapat tawaran kerja di Santos Adelaide Australia. Sebagian besar uang tersebut untuk keperluan Plemburan, membeli semua perabot baru dan keperluan pindah ke Australia dan sisanya Bagus pakai untuk menanam modal bekerja sama dengan teman di bidang suplai peralatan perminyakan.

AMANAT MENYATUKAN TANAH PLEMBURAN. Aku pernah memberikan “amanat” kepada Bagus agar dapat menyatukan tanah Plemburan, namun aku harus bertindak adil, tidak memihak Bagus, oleh karena itu aku harus tahu secara benar berapa harga tanah di Plemburan. Kebetulan di selatan tanah milik kami, lebih mendekati ring road ada tanah yang dikapling dan dilengkapi dengan jalan masuk berkon blog dan dipisah-pisahkan deng batas foundasi batu kali ditawarkan disurat kabar dengan harga Rp 650.000/ meter persegi. Tanah Plemburan letaknya lebih jauh dari ringroad dan jalan masuknya masih berupa tanah, belum di konblog atau aspal, maka jika dijual harganya masih di bawah Rp 650.000,- per meter perseginya. Tanpa kuminta Bagus menghargai tanah kami Rp 700.000,-/meter persegi, disamping itu memberi uang pengganti yang telah dikeluarkan oleh Ida dan Sigit untuk memagar bagian selatan dan menalut.
Kecuali yang dikirim langsung ke Ida sisa uang pelepasan tanah Plemburan dititipkan kepadaku dan kugunakan untuk mencarikan tanah pengganti di Prambanan. Bagus telah memiliki hak penuh atas tanah Plemburan kecuali tanah kami yang belum kami hibahkan kepada Bagus. Tanah milik kami yang kelak akan menjadi milik Sigit dan Ida juga sudah kami lepaskan’ hingga menjadii milik Bagus, uangnya sebagian besar kami gunakan untuk membeli tanah di Prambanan. Uang Sigit yang masih tersisa akan kami carikan tanah sesuai dengan keinginan Sigit. Suatu saat Sigit akan membeli tanah didekat bapak Munawar dan kakak Yuningtias, milik adik Yuning yang bekerja di Amerika, Nandar, tetapi ternyata pemiliknya akan kembali ke Indonesia, sehingga tanah itu tak jadi dijual.
Sigit mendambakan tanah yang luas sebagai investasi jangka panjang, letaknya boleh jauh diluar kota. Aku mencari tanah didaerah selatan Yogya, Gunung Kidul, Bantul atau Kulon Progo. Tanah didaerah pelosok masih murah hingga sisa uang Sigit dapat kami belikan seluas satu hektar. Belum juga kuperoleh tanah yang cocog tiba-tiba terjadi musibah gempa.
Sigit ingin membeli rumah di USA, sisa uang Sigit dari Bagus kuserahkan semuanya kepada Sigit, setelah kukurangi dengan uang tanah yang masih menjadi hakku.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s