Sedikit Sambungan Tentang Pengalaman Hidupku (10)

WARISAN

Warisan harta/kekayaan materi sering menimbulkan sengketa antara ahli waris, padahal seharusnya disukuri karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan duniawi. Aku bersyukur diberikan kesemapatan oleh Tuhan YME untuk “menyelesaikan” masalah warisan. Juga berterima kasih kepada yang telah memberikan kepercayaan atau membantu menyelesaikan masalah warisan orang tua yang berupa harta.

Aku anak bungsu, tetapi diberi kepercayaan oleh kakak-kakakku untuk menyelesaikan masalah Rumah Pusaka di Siliran 29 Yogya hingga kini telah dapat disatukan dalam satu kepemilikan, yaitu Trah Mas Man. Tanpa bantuan semua fihak khususnya kemenakan-kemenakan ku masalah itu tak akan terselesaikan. Demikian juga masalah Rumah Peninggalan Bapak Wiryo Atmojo, mertuaku yang terletakdi desa Mesan, Sleman,Yogyakarta, telah terselesaikan. Ini juga berkat kerelaan mas Oentoeng Hadi dan kepercayaan adik-adik iparku.

Atas dasar pengalaman “rumit” dalam masalah warisan, kami ingin masalah serupa tak akan membebani anak cucu kami di kelak kemudian hari. Harta dan kekayaan tak mungkin kita bawa pada kehidupan yang lain, jadi anak-anak harus telah tahu hak dan kewajiban atas semua yang akan kami tinggalkan. Sejak kami masih ada mereka dapat memulai untuk “mengelola” haknya dan melakukan kewajibannya. Namun……………… manusia sering lupa akan kewajibannya dan hanya menuntut haknya. Oleh karena itu kami tak “memberikan kepada anak-anak” keseluruhannya, kami masih menyisakan sebagian untuk kami manfaatkan.
Kami membuat kesepakatan tentang harta yang kami miliki yang kelak menjadi hak anak cucu kami. Hasil permufakatan ini memberikan kebebasan bagi yang menerima untuk memanfaatkan sesuai dengan keinginan masing-masing, sekaligus tanggung jawab atas beban sebagi konsekwensi dari kepemilikan dan hak.

Kami ikhlas memberikan pada anak-anak, namun kami menginginkan sebaiknya tanah tak dibagi-bagi kepemilikannya yang pada akhirnya masing-masing hanya kebagian satu meter persegi. Kami ingin tanah tetap utuh, jadi satu kesatuan, sehingga aku berikan motivasi kepada semuanya demi tercapainya cita-cita kami. Barang tak memerlukan tanah untuk tempat tinggal, masing-masing berhak mernjual hak nya; namun sebaiknya memberikan kesempatan kepada yang mampu menerima ganti rugi rugi yang pantas, sebab ganti rugi ini merupakan “penghormatan” kepada yang memberikan hak waris kepada mereka.
Untuk memberikan dorongan agar segera memanfaatkan tanah, sehingga tak terbengkelai kami memberikan prioritas kepada yang akan segera membangun untuk memilih lokasinya. Ternyata Bagus yang segera membangun, sehingga mendapatkan bagian paling depan, di tepi jalan Plemburan. Kami menyediakan jalan selebar 4 m yang dapat dimanfaatkan oleh semuanya. Jalan itu tak boleh diperjual belikan kecuali jika seluruh tanah telah disatukan. Yang boleh menjual adalah siapa yang sanggup menyatukan seluruh tanah. Inilah strategiku agar tanah itu tak terpecah-pecah.

Setelah Bagus membangun rumah yang cukup memadai, kami memberikan dorongan kepada Bagus untuk menyatukan seluruh tanah kami di Plemburan, yaitu yang telah kami berikan kepada Ida dan Sigit, sementara Julia kami beri sebagian dari rumah dan tanah kami di Mesan.

Ida telah memiliki rumah dan tanah di Bukit Raffles di Cibubur Jakarta, Sigit ingin membeli tanah yang luas walau terletak diluar kota.

Amanat ini segera dilaksanakan oleh Bagus dengan memberikan ganti rugi kepada Ida dan Sigit, sehingga seluruh tanah Plemburan dapat di satukan menjadi hakBagus sepenuhnya. Saya berikan amanat kepada masing-masing untuk mengurusi semua yang telah menjadi haknya dan digunakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Endang tak sependapat jika anak-anak tak memiliki tanah di Yogya, sehingga atas kehendaknya sebagian dari uang Sigit dan Ida dibelikan tanah di Prambanan.

Ada sebagian tanah Plemburan yang masih menjadi hak kami, yaitu tanah yang kelak, setelah tak kami membutuhkan, secara automatis akan menjadi hak milik Bagus, luanya sekitar seratus meter persegi, letaknya menyatu dengan tanah yang telah kami berikan kepada Bagus.

Di tanah ini kami membangung rumah untuk memenuhi kebutuhan kami. Bagus berkeberatan atas pembangunan ini, sebab membangunannya menggunakan uang yang seharusnya menjadi hak Sigit, lebih-lebih bangunan itu dianggap mengganggu rencananya. Kukatakan: tanah itu milik kami, uang yang kugunakan untuk membangun adalah uang kami, sebab tanah itu belum merupakan hak Sigit, masih merupakan hak kami. . Kalau ingin bebas dan rencana penggunaan seluruh tanah Plemburan, aku meminta ganti tanah di tempat lain dan dibangunkan rumah yang dapat kumanfaatkan untuk memajukan usaha persewaan kamar.

Sebagian tanah Ida di Prambanan masih menjadi hak kami, namun kelak secara otomatis akan menjadi hak milik Ida setelah tak kami butuhkan. Ada sebidang tanah di Mesan yang akan kuberikan sebagai pengganti uang Sigit yang kugunakan untuk membangun rumah di Plemburan, tetapi Endang tak menyetujui sebab tanah itu belum menjadi hak Sigit. Uang yang kugunakan untuk membangun rumah di Plemburan sebagian adalah uang Sigit dari ganti rugi yang berhak diterima Sigit sehingga Endang harus mengganti uang itu agar tak merugikan Sigit.

Rumah yang kami berikan kepada Yulia di Mesan masih kami tempati, dibagian lain yang belum kami berikan kepada Yulia dan kelak secara automatis akan menjadi hakYulia setelah tak kami perlukan, kami gunakan untuk persewaan kamar kos. Rumah milik Yulia yang kami tempati telah menjadi miliknya sehingga dia memiliki hak dan kewajiban atas rumah itu.

GEMPA BUMI

Tanggal 27 Mei adalah hari Ulang Tahun Ertis Meida Mahagam. Pagi-pagi Endang turun dari lantai dua , membangunkan aku dan bersama mengucapkan ulang tahun kepada Ida. Endang sibuk di dapur sedangkan aku tidur lagi.

Tempat tidur bergoyang dengan keras, aku mendengar teriakan Endang : Lindu…….lindu………pak…….cepat keluar! Aku meloncat dan lari keluar kamar tidur, kulihat Endang kembali kedapur untuk memadamkan kompor. Kutarik Endang untuk bersama keluar rumah, sementara itu barang-barang berjatuhan hingga menghalangi jalan yang kami lewati. Di jalanan orang-orang telah bergerombol, sementara itu terdengar suara gemuruh disertai asam tebal dibelakang rumah Tito. Beberapa orang menuju ke tempat itu, ternyata rumah Pak Kardono roboh . Untung pemiliknya sudah berada diluar rumah.

Aku berkeliling untuk menyaksikan situasi sekeliling kampung, banyak pagar roboh, beberapa rumah rusak, ditemukan seorang tua yang sedang buang air diselokan kerobohan tembok pagar disebelahnya. Korban dibawa ke RB Sakina Idaman untuk mendapatkan pertolongan.

Kondisi sudah agak tenang, aku mengambil kendaraan roda dua dan camera digital untuk melihat kondisi bangunan di Plemburan. Saat itu kukira gempa disebabkan oleh ulah gunung Merapi yang saat itu memang diperkirakan akan meletus.

Atap Kantor Post di depan rumah Bagus banyak yang melorot, untung rumah Bagus baik-baik saja. Aku menuju ke jalan Kaliurang, hampir semua dalam kondisi baik. Aku melaju ke selatan, mulai kutemui beberapa bangunan rusak, semakin ke selatan kerusakannya semakin parah. Aku mulai cemas dengan Rumah Pusaka, Siliran 29, yang sudah tua, sebab dikota Yogya banyak bangunan baru yang berantakan. Aku sangat lega, ternyata rumah tua peninggalan bapak ibu masih tetap berdiri, genteng Joglo pendopo yang belum lama dibangun justru malah merosot total karena terlalu terjal. Tembok rumah satu bata itu sebagian retak. Pagar pembatas dengan tetangga roboh total.

Yang sangat mencemaskanku adalah bangunan baru di sebelah timur Gandok Wetan, sebab sebelumnya ada tiang penyangganya yang ambles akibat didekatnya dibuat sapiteng. Sudah lama aku memperingatkan Atik agar segera dibetulkan, tetapi hingga gempa terjadi belum ditangani. Aku sangat bersyukur tak terjadi sesuatu dengan bagian yang teramat kritis ini.

Aku mampir ke- rumah mbak Me di Siliran K.idul 47. Mbak Mie dan keluarganya akan mengungsi karena takut adanya Zunami. Kukatakan bahwa Dalem Beteng sangat jauh dari pantai selatan, lagi pula bukankah mbak Mie selalu membuat sesaji tiap Satu Sura dan tirakatan keliling benteng keraton? Aku mencoba melakukan pendekatan lewat keyakinan local.

Sementara itu ada kendaraan roda empat melalui pengeras suara menyuruh penduduk mengunsi ke tempat yang lebih tinggi letaknya. Orang-arang semua menjadi panik dan dengan berbagai cara akan mencari tempat yang aman. Aku terpaksa memperingatkan agar rumah, apalagi kampung jangan dikosongkan, harus ada yang jaga rumah dan keamanan lingkungan.
Mbak Mie akan menggungsi ke Mbesi, dilereng Merapi. Aku bergurau: “Kalau Merapi meletus bagaimana?”
“Wah, jangan menakut-nakuti.”
“Benar kan rasa takut sangat menyiksa, padahal semuanya belum tentu terjadi. Makanya……………tenanglah, bersiaga sajalah, tak perlu panik. Monitor terus perkembangan situasi lewat TV atau radio dari sumber yang dapat dipercaya.

Aku mengendarai Mio melewati Panembahan. Keluar Plengkung Wijilan jalan sangat ramai, aku membelok ke timur mengikuti arus kendaraan. Ternyata jalan Brigjen Katamso sangat padat, semua kendaraan menuju ke utara sehingga aku tak menentang arus.Aku “terbawa” ke utara oleh arusi kendaraan yang dipenuhi para pengungsi yang ingin menyelematkan diri ke wilayah yang lebih tinggi. Andaikata aku ke Siliran terlambat pastilah sangat sulit untuk menuju ke selatan. Aba-aba polisi yang bermaksud menenangkan masyarakat justru menambah panik sebab bertentangan dengan yang memperingatkan bahwa akan terjadi tzunami. Seharusnya mereka yang memperingatkan akan adanya tzunami itulah yang harus “dibungkam”.

Jalan Monjali dipadati kendaraan yeng bergerak ke utara, aku “terbawa arus kendaraan hingga sampai keperempatan dan berbelok ke barat ke arah Akademi Marisim Yogyakarta. Jalan menuju Kantor Kelurahan Sinduadi tak seramai jalan Monjali, tetapi di Jalan Mesan orang-oarang masih bergerombol. Kedatanganku disambut oleh Endang yang ternyata telah lama mencari aku. Kepergianku menggelisahkan Endang, Urip sekeluarga dan Tito sekeluarga, sebab penduduk Mesan dibuat gelisah akibat isue akan terjadinya zunami.
Ika, yang sarjana psikologi bukannya menenangkan yang lain, dia mengajak naik ke lantai tiga untuk menyelamatkan diri dari bahaya tzunami. Kemauannya ini dituruti oleh yang lain, tetapi saat menaiki tangga terjadi gempa susulan sehingga Ika yang tubuhnya kekar itu menjadi histeris. Untungnya Endang dapat menguasai keadaan. Isteriku ini memang luar biasa!
Aku terus memantau keadaan/situasi paska gempa lewat radio Sonara dan TV.
Pagi hari, sekitar pukul lima pagi aku telah diatas Mio lengkap dengan camera digitalku menelusuri jalan Magelang, belok kekanan menelusi jalan Pingit, belok ke selatan…………………… untuk mendokumentasi kerusakan yang disebabkan gempa kemarin pagi. Tujuan utamaku adalah Pantai Selatan yang diberitakan sebagai sumber gempa. Menyaksikan kerusakan yang terjadi disepanjang jalan yang kulalui terbayang betapa parahnya Parang Tritis dan Depok yang selama ini menjadi idolaku.
Parangtritis sejak lama dimanfaatkan oleh Akademi Maritim Yogyakarta sebagai sarana “pendadaran” para taruna, sedangkan Depok merupakan pelabuhan ikan di mana para nelayan yang gagah berani melawan ombak pantai selatan yang terkenal “ganas” menuju lautan bebas dalam memanfaatkan anugrah Tuhan YME, ikan yang berlimpah.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s