Sedikit Sambungan Tentang Pengalaman Hidupku (11)

TELEPON MALAIKAT PENYELAMAT

Minggu.4 Des 2011.

Saat  makan pagi berkali-kali aku kentut, tetapi karena tak disertai bau busuk acara makan kami tak terganggu.Aku  pergi ke WC sedangkan Endang masih  melanjutkan makan.  Tersedia beberapa wc/kamar mandi, Endang menyukai wc duduk sedangkan aku lebih nyaman nongkrong di wc jongkok.Biasanya aku hanya sekejap saat buang air besar, tetapi kalau mandi lama sekali, lebih dari satu jam. Endang kalau be-a-b lama sekali, sedangkan aku kalau mandi lama sekali, itulah sebabnya kami punya bar/wac berbeda.

Tadi aku makan banyak sekali karena lauknya cocok, wader goreng, sampai Endang tak kebagian.
Karena “terdesak” oleh masukan yang keluar juga banyak. sehingga memerlukan waktu lama. Tiba-tiba perutku sembelit, sakit sekali……………… Kedua tanganku mengurut perut, sehingga kulepaskan dari pegangan yang tersedia didepannya. Kakiku terasa gemetar sehingga tangan kanan segera berpegangan ke pegangan yang tersedia sedangkan tangan kiri mengurut perut. Tiba-tiba terasa tubuhku tak berbeban, bagaikan melayang, sehingga kulepas pegangan. Aku merasa terduduk di kolom wc.
Kudengar suara Endang memanggil dan aku seakan memberitahu kalau aku baik-baik saja.
Menurut Endang HP ku “mencuap-cuap” seperti anak ayam memanggil induknya. Yang mensetting panggilan HP adalah Diana. Endang mengambil HP itu dan “menyampaikan”nya kepadaku. Ternyata Endang mendapatkanku “duduk manis” di mangkok  cw. Kudengar suara Urip dan Tito yang mengatakan aku pingsan. Terasa tubuhku diangkat dan dibawa ke kamar dan di telentangkan di ranjang. Kudengar pembicaraan mereka dengan jelas:.
Wid (Istri: Urip) Nyebut mas, nyebut………….
Urip: Bagaimana rasanya mas Yon ………..posing?
Jawabku: Lem….lemas………….
Endang: Ini hari Minggu, ke UGD ya pak?
Jawabku : Manut.
Urip: Ke Sakinah, Panti Rapih, Sarjito atau Betesda?
Jawabku: manut.
Untuk sementara aku terbaring diranjang, terasa kakiku dipijat-pijat lembut, mbah Harun yang menunggui dan mengurut-urut kakiku sambil berdoa.
Aku diangkat oleh Tito ke mobil. dan disandarkan dikursi. Kubuka mata, kulihat Widia,Wida,Urip dan Tito.
Urip menyatakan hari Minggu jalan padat, sehingga aku berniat untuk  dibawa saja ke Sakinah, atau pulang saja, tetapi aku ingat tadi aku  telah menyatakan “manut” akan dibawa kemana saja, sehingga kuurungkan “usulanku” itu.
Sepanjang perjalanan aku membuka mata, sehingga aku mengerti perjalanan itu menuju ke RS Betesda. Mobil berhenti di  didepan UGD, aku diangkat oleh Tito ke kereta dorong yang membawaku keruang UGD.
Kudengar pembicaraan mereka. Ketika Tito mengatakan  kepada petugas aku pingsan hampir setengah jam, aku menyangkal: “Aku tak pingsan, aku sadar sepenuhnya hanya tubuhku terasa lemas, tak berdaya.”
Peralatan canggih dimanfaatkan untuk memeriksa kondisiku. Aku sanggup menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadaku, bahkan ketika diminta mengangkat kaki dengan “cepat” dan tanpa kesulitan dapat kupenuhi tanpa menimbulkan rasa sakit.
Tiba-tiba aku ingin bangkit karena ada yang berucap: “Itu cuma pura-pura”.
Aku dibawa masuk ke ruang pemotretan sinar x untuk diambil gambar organ paru-paru. Ruang itu sangat dingin, sehingga aku bertanya apakah suhu ruang memang dingin atau kondisi tubuhku yang tak sehat.
“Suhu disini memang dingin.”
Aku tak faham, mengapa ruang ini harus dingin pada hal pasien yang kondisinya kurang baik harus membuka dadanya.
Keluar ruangan x-ray ternyata suhunya tak sedingin di dalam ruang pemotretan itu.
Aku mendapatkan infuse dan harus menjalani rawat inap, Urip danTito mencari kamar sehingga aku harus tetap terbaring diruang UGD ditunggui oleh Titus (anak Tito).

Setelah menunggu berjam-jam akhirnya aku mendapatkan kamar rawat inap di Betesda kamar Sinta 3. Kamar ini sangat berdekatan dengan pintu masuk di bagian barat dan ruangan jaga/perawat, sehingga memudahkan bagi mereka yang sewaktu-waktu ingin menengok atau menunggu pasien yang rawat inap di Unit Sinta.
Beberapa tahun yang lalu aku pernah menghuni kamar ini saat aku menjalani operasi usus buntu. Seingatku ruangan Sinta dulu sangat luas, tetapi kini hanya berukuran sekitar 4 x 4 m2, namun dibelakangnya masih tersedia teras berukuran hampir sama dengan ruang tidur dan taman yang dapat dimanfaatkan bagi tamu maupun penunggu pasien.
Aku berpesan agar tak “diberitakan” kepada siapa saja kalau aku sedang beristirahat di RS dan aku meminta tak usah ada yang menunggu sebab sewaktu-waktu dapat kupanggil perawat jaga yang ruangannya sangat dekat dengan kamar yang kuhuni.
Suhu badan dan tekanan darahku diukur, suhu badan 37,5 ; tekanan darah atas 160, yang bawah 100. Disediakan sebutir pil yang harus kuminum sehabis makan. Karena tubuhku terasa segar, pintu ke teras belakang kubuka lebar-lebar , AC kumatikan.
Agar tak mengganggu TV juga kumatikan sehingga aku dapat tertidur. Perawat membangunkanku untuk di “sibin”, tetapi kutolak dengan alasan aku dapat melakukannya sendiri, padahal sebenarnya………………”aku malas mandi.”

Aku beristirahat di Betesda selama tiga hari (tgl 4 s/d 7 Desember 2011). Saat itu perut ku kembung sehingga para perawat terpaksa “mendengarkan” kentut ku yang keluar tak terkontrol oleh kerja otak, untungnya mereka tahu bahwa “kentut” itu disebabkan obat yang diberikan oleh dokter Purwoadi. Bunyi kentut ku itu mengerikan, tetapi sama sekali tak berbau.
Aku beri judul tulisan ini: * Telephon “Malaekat Penyelamat” *, sebab ada telephon yang tak menyelamatkan seseorang , melainkan “mencelakakan” seseorang, bahkan bagaikan “Malaekat Pencabut nyawa” Contohnya: menggunakan HP sambil mengendarai motor atau mobil yang banyak dilakukan oleh pengguna HP,
Seandainya cucuku, Reyhan Waskito Setiadi, tak menilponku saat kondisiku sangat kritis, entahlah apa jadinya.
Tujuanku menulis sebagai memory/catatan pada mereka yang telah berjasa menolongku selama aku tak berdaya dan sangat membutuhkan pertolongan.
Aku juga ingin membuka jati diriku yang memilih bebas dengan penuh risiko dari pada dikurung dalam sangkar emas, terlindungi serta disediakan/dilayani semua kebutuhanku. Pengalaman ini menyadarkan bahwa kami tak dapat hidup “sendiri” melainkan saling membutuhkan/tolong menolong dengan orang lain dan lingklungan, namun juga “membenarkan” bahwa orang yang paling “bahagia”: adalah yang berkesempatan “hidup bebas/merdeka dan mandiri” , tak menggantungkan diri kepada orang lain dan tak digantungi oleh orang lain, kecuali dalam keadaan ketidak berdayaan.

Sore hari Endang dan Urip menengok aku dan mengatakan nanti malam Parjono diminta menemani aku.
“Mengapa harus ditemani?”
“Mas Yon sedang diinfus, jadi tak bebas bergerak. Kalau infusnya sudah dilepas tak ada masalah.” Urip yang berpengalaman lama dirawat di RS Sarjito memberikan pendapat.
“Sewaktu-waktu kubutuhkan bantuan dapat ku panggil perawat.”
“Lha hiya ya, banyak bidadari……….. disini,” Edang menyindir.
“Par kutugaskan saja di Mesan menjaga Sinta agar tak digondol Rahwana, aku akan tenang terbaring dikamar Sinta ini”
“Tak perlu khawatir, ada Lesmana dan Anoman.”

“Perlu tambahan gizi, Kung? Sudah tahu pantangannya?
“Sudah, tak ada pantangan, tetapi sudah lebih dari cukup.”
“Ya,ya……….kalau pulang nanti tambah gendut.”

“Kalau esok nengok bawakan HP ku!”

Mereka menanyakan hasil pemeriksaan diruang perawat dan dinyatakan semua baik-baik saja.

Lepas senja Parjono dan Nurdin datang membawa HP pesananku.

Kumanfaatkan perjumpaan ini untuk membicarakan pekerjaan yang untuk sementara harus kutuinggalkan.
“Tambahan tenaga untuk mengerjan Monjali sudah datang?”
“Yang datang hanya satu orang.”
“Kalau begitu pak Min kau pakai dulu,”
“Wah, saya takut, kalau mas Bagus dan mbak Diana datang pekerjaan Plemburan belum selesai.”
“Kamu harus mendahulukan “kontrakmu” dengan Berkah agar tak kehilangan kepercayaan.”
“Tetapi kamar itu harus selesai sebelum tanggal empat belas, biar kekurangannya segera dilunasi.”
“Makanya…………….Sekarang pulanglah, besuk pagi kalian harus kerja.”
Parjono dan Nurdin nampak gelisah.
“Biarlah kami tidur disini, sama saja.”
“Baiklah, tapi kalian pagi istirahat dulu!”

Agaknya mereka perlu hiburan dengan membaca surat kabar baru yang disediakan oleh RS di ruang Sinta. TV kuhidupkan dengan rimut-kontrol dan kupilihkan tayangan sepak bola yang mereka sukai.

Tiba-tiba HP ku “mencuap-cuap.” Kuminta Parjono menerimanya.
“Saya Par,” jawab Parjono, ” ini……….. kalau akan ketemu bapak.”
Kuterima HP dan kupindah ke Speaker sehingga dapat terdengar jelas. Yang berbicara ditilpon Yulia.
“Kok malam gini Par belum opulang?.Nglembur ya?”
“Par menemani Akung.”
“Lho, ibu kemana?”
“….. dirumah.”
“O, bapak ada di Plemburan?”
“Bukan………..di……… di selatan.”
” Bude gerah?”
“Bapak di Betesda……… istirahat.”
“O, makanya…………. berkali-kali kutelpon tak ada yang menjawab.”
“Memang………… telponnya kusuruh non aktipkan.”
“Siang tadi aku dapat telpon dari mas Urip. Sore kutilpon balik tak ada yang mengangkat. Aku sudah curiga…….. masti ada sesuatu yang disembunyikan.”
“Bukan disembunyikan, kami menanti hasil pemeriksaan laboratorium………..”
“Bagaimana hasilnya?”
“Semua baik-baik saja.”
“Kurang projek ya, lalu sakit.”
“He, ukur baju badan sendiri.Kasus ini berbeda dengan kurang projek artinya bokek. Ini hanya gara-gara Akung rakus, keenakan makan wader goreng sampai lupa tak ngengehi Utie. Kata mbah Harun wadernya ………pahit, tetapi Tito dan mbak Wid menyangkal, mereka juga kebagian wader goreng pemberian Utie, nyatanya tak keracunan.

Ku tuturkan secara kronoloigis kejadian yang kualami hingga aku harus beristirahan di RS ini. Yang masih menjadi teka-teki adalah: siapa yang menelponku saat aku “membutuhkan” pertolongan itu. Telephon Penyelamat itu lewat HP, sehingga aku yakin akan mudah ditelusuri.
Aku menelpon balik, tetapi dikatakan oleh operator bahwa pulsaku tak cukup. Yang jelas telpon itu bukan dari dalam negeri, kode arealnya adalah Australia. Belum juga selesai menemukan alamat nomor telpon penyelamat itu HP ku telah mencuap lagi, yang ada dibalik telephon adalah Ida.
Ida mendengar berita itu dari kakaknya,Yulia.
Ida khawatir kalau kejadian itu ada kaitannya dengan obat-obatan yang disediakan tiap bulan untukku. Biasanya Ida mengirimkan kapsul kunyit putih. Seharusnya tiap hari cukup satu capsul, tetapi aku mengkomsumsinya sembilan capsule. Ida meminta menghentikan terapi kapsul kunyit putih itu dan mengirimkan teh daun sursak yang jika dikomsusi berlebihan atau terus menerus dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
Terapi daun sersat ini tak boleh bersamaan dengan terapi herbal lainnya ( kunyit putih, temu lawak dan garlic), dianjurkan untuk mengkomsumsi prebiotik dan probiotik selama minum teh daun sursak, untuk kepertluan ini aku juga minum Yakult.
Aku mengkomsumsi temu lawak karena membangkitkan nafsu makan dan “katanya” baik untuk kesehatan hati. Ada efek sampingan, buang air seringkali sulit (keras) sehingga kuatasi dengan midum vegeta.
Malam hari aku minum temu lawat dan vegeta dalam waktu bersamaan, pagi harinya nafsu makanku sangat besar sehingga secara rakus kuhabiskan wader goreng doang menemani nasi hangat.
Setelah itu………. perut terasa kembung dan keluarlah kentut bertubi-tubi.

Membicarakan pekerjaan menyebabkan kami tak sadar jam didinding telah menunjuk pukul 12. malam.Nurdin sejak tadi memilih tidur diteras, sehingga yang mendengarkan “kentutku” tinggal Parjono yang pada akhirnya juga memilih keluar dan tidur bersama Nurdin.
Biasanya aku tidur pukul tujuh malam, bangun pukul dua malam lalu nonkrong di depan komputer hingga pagi hari. Keterlambatan tidur menjadikan semalaman aku tak dapat tidur. Setiap kali ada petugas membuka pintu dan melongok kekamar kusambut dengan :” Malam suster………”
“Lho, kok belum tidur pak?. Tak ada yang menemani?”
“Mereka tidur di teras.”
“Lho, disini kan tersedia sofa.”
“Bosan dengarin kentut mungkin.Saya biasa bangun tengah malam.”
“Tetapi……….tadi sudah tidur?”
“Belum,”
“Aduh, bagaimana pak Somo ini,” kata perawat itu sambil mendekat keranjang, membetulkan selimutku sambil membujukku: “Tidur ya pak, biar cepat sembuh.”

Aku memiliki stestocope sehingga setiap saat dapat mendeteksi tekanan darahku. Pada keadaan normal tekanan terbawah adalah 100, sedangkan tekanan atas 145. Jika tekanan darahku naik, maka pendengaranku menjadi sangat sensetif.
Dalam keadaan lengang, suara yang sangat lemahpun, misalnya detak jam dinding, suara nafas dan detak jantungku, terdengar jelas sekali, sehingga sangat mengganggu ketenanganku dan menjadikan aku sangat sulit tidur. Untuk mengatasi suara itu kumanfaatkan MP3 mini dengan earphone sebesar kancing baju yang “menutup” kedua lobang telingaku. Music klasik yang lembut dapat meredakan kegelisahanku.
Aku lupa untuk membawakan “jimatku” yang satu ini. Jimatku lainnya adalah HP. Malam ini benar-benar “menyiksaku”. Segala sumber suara kueliminir, jam dinding batunya kulepas, AC kumatikan, instalasi Oksigen kututup kran nya, Penyedot dan pembuang bau wc kumatikan. Aku mencoba menghidupkan TV dan mencari chanel yang menayangkan musik klasik. Kutemuka film yang berkaitan dengan Natal. Lagu-lagu Natal yang lembut dan syahdu dan penuh kedamaian dapat menenangkan diriku, tetapi………….kini banyak lagu rohani baru atau lagu lama yang diarasemen baru, tak resonant dengan kebutuhanku, sehingga TV yang dapat mengakses lebih dari 60 chanel kumatikan. Suasana menjadi sangat lengang, tetapi kudengar suara “menggeram” yang sulit kutemukan sumbernya. Lobang telinga kusumbat dengan tisu, tertapi menjadikan detak jantungku terdengar sangat keras. Kepalaku terasa semakin panas.

Pagi-pagi dua orang juru rawat masuk ke kamarku dan menawarkan jasa untuk mensibin/menseka/memandikan diriku. Aku menyatakan bahwa ada pembantu yang akan memandikan. Kesempatan itu kugunakan untuk melapor bahwa infus tak menetes. Mereka mengamati indikator dan berusaha membetulkannya, tetapi tak berhasil.
“Wah, jarum harus dilepas dulu dan dipindahkan ke tempat lainnya. Kami akan membetulkan nanti setelah bapak mandi. Untuk sementara katup saluran akan kami tutup dulu.”
Kedua perawat itu meninggalkan ku untuk melayani pasien di kamar lainnya. Par dan Nurdin nongol dan kuminta membantu memandikan aku.
Saat itu baru kusadari untuk dapat mandi bajuku harus kulepas. Saat itu aku menggunakan kaos dalam dan baju lengan panjang. Kupanggil perawat lewat bel, tetapi tak ada yang menjawab. Kulepas tabung infus dari gantungan lalu aku keluar dari kamar untuk melapor ke kamar perawat. Tak ada petugas dikamar itu. Aku kembali kekamar. Sementara itu dua orang perawat keluar dari kamar sebelah, aku mengejarnya.
Perawat itu terkejut mendapatkan aku yang sedang diinfus keloyoran, sehingga menegurku: “Lho. lho……. bagaimana bapak ini. Tabung infus jangan terlalu rendah, nanti tekanan darah lebih tinggi dari cairan infur………… Coba lihat……….. darah bapak mengalir ke luar.” Kulihat pipa infus menjadi berwarna merah.
Aku baru sadar akan kebodohanku, semalam letak tabung cairan kuturunkan agar aku lebih bebas bergerak, Tekanan infus menjadi rendah, padahal tekanan darahku tinggi, sehingga bukannya cairan infus masuk ke urat darah, melainkan darahku yang keluar ke selang infus. Makanya………. perawat tadi menutup saluran infus agar darah tak lebih banyak mengalir keluar.
Aku diminta kembali kekamar dan diminta menekan tombol pemanggil perawat jika aku telah selesai mandi.

Nurdin mengusulkan agar tabung infus dilepas dari slang penghubung agar slang dapat ditarik lewat bagian dalam lengan baju. Usul itu kuterima sebab katup saluran infus sudah ditutup.
Par mempunyai cara lain. Tabung infus tak terisi penuh sehingga dapat dilipat menjadi lebih kecil sehingga dapat digeser melalui bagian lengan baju. Upaya ini berhasil, baju lengan panjang dan kaos dalam dapat kulepas, tanpa “merombak” tatanan saluran infus.
Aku masuk ke kamar mandi dengan membawa standard infus , tabung infus kugantungkan dilengan standard. Agar tangan kiriku lebih leluasa ketinggian tabung kusesuaikan denmgan kebutuhan. Par memprotes karena perawat mengharuskan letak tabung infus harus tinggi, dia akan menggantikan fungsi standard atau diminta aku tak menggunakan tangan kiriku. Aku diminta berdiri saja, dia yang akan memandikanku.
“Kalau hanya diam dan dimandikan, aku memilih dimandikan perawat, tangannya lebih halus ketimbang tanganmu. Sudahlah, keluar saja, aku akan mandi sendiri.!”
Terasa sekali betapa mengganggu peralatan infus yang dimaksud memberikan pertolongan, tetapi kini tak berfungsi. Aku ingin mencabut jarum infus yang menancap ditanganku yang kini tak berfungsi lagi. Tetapi……………….. aku segera sadar akan “kelemahanku”, aku sangat ngeri melihat darah menetes.
Kugantungkan tabung infus sesuai dengan kebutuhan sehingga tangan kananku bebas untuk menyiram. melumas sabun, dan menggosok sekujur tubuhku. Kesulitan pertama adalah menangani tangan kanan, sebab tangan kiri dibatasi kebebasannya oleh peralatan infus. Satu-satunya cara memfungsikan tangan kiri untuk sekedar memegang sabun dan shower, sedangkan tangan kanan yang bebas yang kugerak-gerakkan.
Kamar mandi itu telah didesign sedemikian rupa sehingga memungkinkan aku dapat tertolong melakukan berbagai aktivitas, misalnya mengangkat kaki dan meletakkan pada penyangga kaki yang tersedia, pegangan, tempat duduk, sangkutan baju dan handuk. Tentu saja vasilitas air panas/dingin yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Pancaran air cukup lancar, baik untuk keperluan mandi, buang air, kumur. Satu yang teramat mengecewakan: Kamar mandi itu tak cukup ventilasinya, karena tertutup rapat, walau sebenarnya dibagian barat terdapat kaca yang terhubung dengan teras dan kebun.,sehingga dibutuhkan exhauser (penyedot udara)yang ditempatkan dilangit-langitnya dan harus bekerja terus menerus agar udara dalam kamar mandi tak berbau akibat keluarnya bau busuk dari saluran pembuangan air limbah yang terhubung langsung dengan selokan pembuangan, tanpa dilengkapi dengan “gulu banyak” atau air penutup saluran buang (water closser). Saat kumatikan exhauser terasa sekali bau busuk itu masuk keruangan tidur, walau pintu kamar mandi telah kututup rapat-rapat terdapat celah dibawah daun pintu.
Saat aku mulai membersihkan punggungku aku teringat pada salah satu jimatku yang berupa “sikat: bertangkai panjang” yang membantuku untuk “membersihkan” bagian belakang tubuhku yang tak tergapai oleh tanganku. Karena fasilitas ini tak tersedia maka kuminta Par menolongku menggosok bagian badan yang tak dapat kutangani sendiri.
“Bagaimana Par, bersih mana……. punggungku dengan punggung kambingmu?”

Selesai aku mandi dan mengenakan pakaian kuminta Nurdin dan Par meninggalkan Betesda dengan pesan sebelum bekerja kuminta beristirahat, jika perlu tidur dulu sepuas-puasnya.
Beberapa saat kemudian dua perawat masuk kekamar untuk membetulkan instalasi infus yang tak berfungsi,
“Bapak terlalu banyak bergerak, ini tangan bapak membengkak. Jarum infus akan kami pindahkan ketempat lain.”
“Mengapa tak dilepas saja? Aku dapat minum dan makan, jadi tak perlu cairan dan makanan dimasukkan lewat infus.”
“Tetapi mungkin ada obat-obatan yang lebih efisien diinjeksikan bersama cairan infus.”
“Saya rasa kalian lebih baik meminta pertimbangan dokter, jika memang dokter menganggap diperlukan infus baru kalianlakukan atas perintah dokter. Jika terjadi sesuatu atas diri saya, saya yang menanggung risikonya.”
Kudua perawat saling berpandangan.
“Jika perlu saya akan buat pernyataan tertulis.”
Jarum infus dilepas, aku lega sekali.

Kini aku dapat bergerak bebas, namun kebebasan ini tak kusalah gunakan untuk bereforia, melainkan untuk memenuhi janjiku untuk beristirahat, sebab sebelum jarum infus dilepas tekanan darahku yang bawah 110, yang atas 160 yang dianggap tak normal oleh perawat sehingga dianjurkan untuk istirahat dan tak membuat ulah lagi.
Menurutku kondisi itu sedikit diluar normal yang biasanya terjadi akibat “ketegangan berfikir untuk memecahkan suatu masalah, menyimpang dari bioritmik, misalnya masih bangun melebihi pukul 20.00 sehingga semalaman tak dapat tidur.
Aku makan apa saja yang sedang menarik seleraku, namun jika berlebihan mengkomsusi yang manis, maka pandanganku menjadi kabur, gigi terasa goyah, bangun tidur mata terasa lengket dan sukar dibuka, saat tidur mimpi yang dapat terekam oleh ingatanku saat bangun, bahkan mimpi itu dapat bersambung. Hal ini dapat kuatasi dengan mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat, dan dalam kondisi darurat (mengurangi atau menghentikan mimpi aku menelan capsul Kenis.
Aku termasuk karnifura yang lebih suka mengkonsumsi daging dari pada sayuran dan buah-buahan. Dalam kondisi normal tubuhku tetap segar, dan tak ada pantangan kecuali : daging kambing, cabai dan yang pedas-pedas serta bumbu masak dan zat mengawet yang dapat merangsang pertumbuhan sel tumor. Makanan yang kusukai adalah sup buntut atau sup brutu ayam atau sataui brutu. Jika tekukku terasa kaku, atau pendengaranku menjadi sangat sensetif, maka aku menurangi semua yang berlemak.
Endang sangat faham bagaimana cara menjaga suaminya agar tetap sehat. Sebelum memasak seluruh lemak ditiadakan, dikumpulkan dan dicampurkan pada makanan Coki, anjing penjaga Plemburan. Coki sangat beruntung, tetapi aku jadi kehilangan selera makan sehingga mencari alternatif, jajan diwarung Sup Ayam Pak Min, Sate Bu Halimah atau Cak Fai, atau ke Yogya Fried Chicken. Endang tak menggunakan bumbu masak dan selalu menyediakan lalapan, sup brukoli, wortel dan kacang panjang………….tahu dan tempe. Semuanya baru kusentuh saat aku tak punya duit untuk jajan di warung.

Aku menyadari kondisiku saat ini sangat lemah, aku sangat membutuhkan bantuan orang lain, diantaranya mereka yang kini bersedia :mendengar “jeritan bathinku” yang tersandera oleh instalasi infus.. Jarum dan instalasi infus dilepas oleh perawat tanpa “kontrak tertulis” kecuali janji untuk istirahat lahir bathin agar aku cepat sembuh. Kesembuhan inilah yang akan membebaskanku dari ketidak berdayaan.
Yang menjadi masalah adalah sifatku yang cenderung “terlalu percaya diri” sehingga berakibat semau gue, tak disiplin apalagi patuh pada orang lain maupun lingkungan.
Aku ingat pesan Endang : Kalau ingin damai, tenteram lahir bathin, janganlah menentang keadaan lingkungan, berusahalah menyeseyuaikan diri dengan situasi dan kondisi lingkungan.
Aku paling tak suka berlaku munafik, tetapi sebenarnya sering kali aku berlaku munafik. Saat aku membutuhkan sesuatu aku bersedia “membayar” dengan apa saja yang kumiliki, jika perlu aku bersedia menyembah walau sebenarnya bertentangan dengan fikiran dan bathinku, tetapi………… jika telah kudapatkan dengan pengorbanan yang sangat besar aku akan tegak dan berdiri sama tinggi. Namun dalam situasi kuat (bargining tinggi) aku berusaha tak berlaku adigang-adigung/mentang-mentang, siapa saja yang memerlukan bantuanku akan kuulurkan tanganku, aku justru menganggap itu merupakan kesempatan untuk membiasakan diriku menjadi berarti bagi orang lain dan lingkunganku, sepanjang tak menjadikakku “terperosok” dalam kesulitan atau menjadsikan keadaan/sifat orang yang kutolong atau lingkunganku menjadi semakin tak baik, misalkan menjadikan orang lain semakin malas dan menggantungkan dirinya kepadaku atau kepada lingkungannya, padahal sebenarnya dia sanggup mengurusi dirinya sendiri.
Untuk menerapkan pesan Endang agar tak bertentangan dengan sifat-sifatku kusadarkan diriku saat ini aku membutuhkan kesembuhan agar terbebas dari ketidak berdayaan, jadi aku harus bersedia “melakukan” apa saja demi kesembuhanku.
Aku ingin sembuh, jadi aku tak boleh menentang lingkungan melainkan meneyesuaikan diri dengan lingkungan. Inilah yang membuat aku pasrah (harus dibedakan dengan putus asa). Pasrah dalam arti melepaskan semua beban yang menghimpitku, alias kosong menjadikan aku dapat tertidur dengan nyenyak.

Perawat membangunkanku, mengukur suhu dan tekanan darahku; Suhu 36,8 d.C Tekanan darah terendah 100 tertinggi 140. Komentar perawat : “Bagus sekali pak.”
Aku lega sekali, berharap segera dapat segera pulang. Badanku terasa segar sehingga semua jatah makanan kuhabiskan. Setelah menelan obat yang harus kukonsumsi sehabis makan aku tertidur lagi.
Menjelang siang hari aku terbangun, kudapati Endang, Urip dan mbah Harun telah ada dikamarku, mereka duduk di Sofa.
“Syukur mas infusnya sudah dilepas.” kata Urib sambil mengamati bekas jarum infus.
“Siapkan saja uang, mungkin besuk aku boleh pulang.”
“Merurutku mas Yon sebaiknya melakukan over all chek,” saran Endang.
“Tak usah, aku takut………….ketahuan penyakitku.”
“Lho, hasil test yang telah dilakukan baik-baik saja kok, keruali tekanan darah dan kolesterol yang perlu dipertiksa lebih teliti.”
“Tadi dikatakan tekanan darahku bagus, yang dibutuhkan hanya cek darah secara lebih teliti.”
“Nah, takut darahnya disedot kan?”
“Bukan itu, kalau ketahuan aku berdarah biru, lalu dapat gelar Bandara Raden Hangabei……. rasanya beban dipundakku semakin berat saja.””
“Kemarin sudah janji manut, sekarang akan ngeyel lagi ya?” Endang nampak geram.
“Ya, udah………”
Siang hari udara sangat panas, AC kumatikan karena pintu kamar kubuka lebar agar udara segar dapat masuk.
Mbah Harun membawa bingkisan bubur kacang hijau dan ketan hitam kesukaan ku. Aku menghabiskan satu pungkus plastik. Bungkus yang satu lagi kuminta dibawa pulang karena diruangan itu tak tersedia almari es.
Beberapa saat kemudian jatah makan siang disajikan. Karena perut ku telah terisi bubur kacang hijau dan ketan jatah itu tersisa banyak.
Perawat masuk akan mengukur suhu dan tekanan darahku,
“Tumben, makanannya kok tak dihabiskan,.” kata perawat demi melihat makanan yang disajikan RS hanya kumakan sedikit.
“Tadi ada kiriman makanan dari rumah.”
“Tak suka ya dengan makanan yang kami sediakan?”
“Biasanya makanan yang disediakan oleh RS selalu saya habiskan, tetapi kali ini perut saya sudah penuh dengan bubur kacang hijau dan ketan hitam.”
“Santannya tidak kental kan?”
“Kalu tak kental ya tak sedap.”
Perawat mengukur tekanan darahku: Yang atas 190, yang bawab 110.
“Wah, jelek sekali.” komentar perawat, “Bapak harus diinfus lagi untuk menurunkan tekanan darah bapak.”
“Apakah tak ada cara lain, misalnya diberi obat atau diinjeksi?”
“Itu terserah dokter, bapak jangan mendikte kami!” gertak perawat karena jengkel.
“Lho yang tekanan darahnya tinggi aku, kok jadi yang naik darah perawat.” pikirku. ” Aku kan yang merasakan, bukan perawat.” Tetapi aku segera sadar bahwa aku keterlaluan! Aku brengsek!

Sekitar pukul 16.00 dokter Purwoadi dengan seorang asistennya mewancarai aku sambil mencocokkan dengan hasil pemeriksaan UGD.
“Semua hasil pemeriksaan dan laboratorium baik, tetapi tekanan darah pak Somo tak stabil, naik turun, jadi sebaiknya dilengkapi test korestoral dan skaner otak. Sehabis makan sore, sebaiknya pak Somo puasa semalam, tapi boleh minum air putih.”
“Memangnya ada kelainan pada otak saya dok?”
“Semoga baik-baik saja, sehingga bapak dapat tenteram.”
“Kalau ada kelainan, sya justru akan semakin tak tenteram.”
“Tetapi segera dapat diobati,”
“Apakah sya perlu diinfur lagi?”
“Tidak perlu, nafsu makan bak Somo baik, air seni baik, buang kotoran lancar, tapi…………sebaiknya makan makanan yang diberikan oleh bagian gizi rumah sakit saja.”
Aku lega mendapat penjelasan dari dokter Purwoadi, yang masih menjadi tanda tanya adalah masalah skaning otak. Terasa “seram”..

Petang hari Tito dan istrinya, Ika, serta puterima (Santal) datang membawa makanan, kuminta makanan itu dan makanan lainnya dibawa pulang, tetapi Ika menyatakan lebih baik disimpan di almari es. Kukatakan di ruangan ini tak tersedia almari es. Ika tak percaya kamar VIP kok tak divalisitasi almari es, dia mencari alamari es, ternyata diantara meja makan dan meja makanan buah tangan dari tamu, terdapat alamari es kecil yang tertutup dalam kotak/rak sehingga saat dibuka menimbuklkan suara keras, itulah yang selama ini “mengganggu” dan kukira datang dari kamar sebelah, Steker kucabut agar tak menimbulkan suara.
“Kok dicabut pak de?” kata Ika sambil memasukkan makanan kedalam almari es itu.
“Bising!……………. Bawa pulang saja semua makanan, pak de nanti malam harus berpuasa.”
“Nanti malam pak Par menunggu pak de kan?”
“Tolong katakan pada bu de, pak de tak diinfus lagi, jadi tak perlu ditunggui. Kalau ditunggu malah pak de ngomong terus, tak dapat istirahat.”
“Besuk akan dilakukan test darah dan skaner otak.”
“Lho, kok di skener segala. Ada apa?”
“Biar ketahuan……………banyak gambar pornonya.”
“Mungkin akan dibandingkan dengan otak Eintein.”
“He,sinis ya. Itu pasti cemooh karena Pak de sering membandingkan Formula Einstein dengan Formula Pak de.”
“Lha hiya, sama-sama buat posing!”
“Sudah sana pulang, nanti pak de ngomongin terus teori-teori pak de!”

HP ku mencuap-cuap, terdengar suara Diana lewat HP: “Bapak dengar suara saya?”
“Ya, jelas sekali. Ada apa?”
“Wah, berkali-kali Didi nelpon tak dapat sambung, Situs bapak tak on line.”
“Belum diberi tahu mbak Yul atau mbak Ida?”
“Soal rencana kumpul-kumpul di Yogya.”
“Soal bapak sedang istirahat……”
“Pasti karena terlalu capek ya? Nah, nanti kami disalahkan…………..”
Kuceriterakan kejadian yang membawaku sampai ke RS Betesda.
“Ada malaekat yang menelponku, kalau tak ditelpon mungkin aku tak terbaring di Betesda tetapi di tempat lain.”
“Kemarin pagi Iha nelpon akung akan menanyakan apakah sepatunya sudah sampai?”
“Aku sudah mengira, pasrti telpon itu dari cucuku yang waskito, sebab Iha itu EQ dan SQ nya sangat tinggi, suka menolong orang. Katakan, sepatunya sudah sampai dan disimpan di gudang Plemburan. O, ya bapak sudah mengosongkan kamar Iha, tetapi maaf almari dan tranjang dipakai oleh kamar lain, jadi kamarnya Iha tak ada peralatannya. Tetapi kamar Didi juga sudah akung kosongkan, Unit Limbuk Cangik juga sudah akung kosongkan. Kamar Bagus dan balkon sudah terlanjur dikontrak sampai tanggal 29 Desember.”
“Sudah,sudah…………… akung jangan terlalu mikirkan kami, istirahat saja baik-baik,”
“Yang akung pikirkan………………….beaya pengobatan.”
“Nah,nah……… akung selalu begitu……….untuk apa kami-kami ……. Semua kan mengharapkan akung melakukan cek up total?”
Hubungan telpon terputus. Semalaman aku dapat tidur pulas.

HP ku mencuap,terdengar suara di kejauhan : “Hallo, hallo………..bapak dengar suara Sigit?”
“Ya, dengar walau kurang jelas. Sigit dengar suara bapak?”
“Alhamdulilah,…………. Ini cucu-cucu gelisah dengan kabar akung sakit?”
“Akung tak sakit kok, cuma perlu istirahat. Coba dengar semua…….. suara akung kan tetap lantang kan?”
Tiba-tiba dua orang perawat masuk, sehingga menginterupsi pembicaraan telpon kami.
“Maaf pak kami mengganggu pembicaraan bapak,” kata perawat yang akan mengukur suhu badan dan tensiku.
“Siapa yang bicara dengan bapak?” Sigit yang mendengar pembicaraan kami bertanya.
“Ini, mbak dan mas perawat yang akan mengukur suhu dan tensi bapak. Kuputus dulu ya, nanti sore…….. e besuk pagi maksutku kita lanjutkan.”
“Wah, pasti sangat mengecewakan yang menelpon bapak.”
“Ah, dia bukan orang lain, maksud saya anak kami kok.”
“Putra bapak berapa?”
“Empat,dua perempuan dua lelaki.”
“Aduuh, sangat ideal……………….. Tetapi mengapa tak ada yang menunggui bapak.”
“Semua jauh kok, yang perempuan di Jakarta, yang lelaki satu di Australia, satu lagi di Amerika.”
“Waduh, hebat sekali.”
“Namanya cari nafkah……………….. kumpul ra kumpul asal dapat mengais rezki.”
“Ya itu hebatnya, jarang orang tua seperti bapak.”
Sambil omong-omong mereka menyelesaikan tugas pengukuran.
“Semalam bapak berpuasa?”
“Ya, katanya hari ini sakan dilakukan test darah.”
“Kondisi bapak baik, jadi siap untuk kami lakukan pengambilan sampel darah.”
“Silakan, saya berterima kasih kalian melakukannya pagi-pagi sehingga saya tak berpuasa berkelamaan.”
Selesai pengambilan sampel darah kedua perawat itu meninggalkan ruangan kami untuk meneruskan tugasnya. Sepeninggal kedua perawat, masuklah seorang petugas yang menyajikan teh dan susu hangat.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s