Si Cantik itu Tertuduh Sebagai Pelapor

iap pukul 21 para tamu kost kami persilakan pulang lewat pengeras suara. Peringatan itu kutujukan kepada tamu kost Esna, tetapi dapat terdengar oleh para tetangga, bahkan sampai kerumah pak RW. Tujuannya: membantu mereka yang sungkan memperingatkan  tamu dan anak kost yang lupa waktu dan tata tertip lingkungan.
Ketika aku sidak ke unit belakang, sekitar pukul 23.00 kudapati  seluruh lingkungan kost telah lengang, pintu kamar  telah tertutup semua.
Aku mendekat ke pintu keluar unit, kudapatkan pintu telah tertutup, tetapi palang pintunya masih tersandar didekatnya. Aku mendekati pintu, sebelum memasang palang pintu terlebih dulu kudorong daun pintu, terasa berat. Palang pintu kupasang. Tiba-tiba kudengar suara perempuan dari luar: “Jangan dikunci pak, aku masih diluar”
“Siapa kau?”
“Dewi.”
Kubuka pintu, kulihat Dewi ada di gang, tetapi tidak sendirian, seorang lelaki menuntun motor di gang menuju lorong. Dewi menyelinap masuk tanpa menyapa aku. Kubiarkan dia berlalu, palang pintu kupasang.
Keesokan harinya terjadi keributan dilantai dua. Aku naik, kudapati Dewi sedang menggedor pintu kamar Nurindah sambil berteriak histeris:”Keluar, keluar……”
“Ada apa ini, pagi-pagi kok ributan, mengganggu yang lain.”
Melihat aku datang Dewi meninggalkan  pintu kamar Nurindah turun ke lantai satu. Pintu kamar sebelah terbuka Elisa keluar menyapa aku.
“Ada apa ini?”
“Itu urusan mereka.”
“Dimana Nurindah?”
“Dia  ngungsi kerumah teman, saya dititipi kuncinya.” kata Elisa sambil berjalan masuk ke kamarnya mengambil kunci kamar Nurindah dan menyerahkan kunci kamar itu kepadaku.
“Mengapa Lis serahkan kunci ini pada bapak?”
“Silakan periksa pak, barang Nur masih didalam atau tidak.”
Aku membuka pintu, kudapatkan  masih ada barang yang sangat sederhana.
“Tolong Lis, Nur diminta menemui bapak.”
Petang hari Nurindah datang dan kupersilakan masuk keruang tamu.
“Kalau ada masalah mengapa tak memberi tahu bapak?”
Nur mengsap air matanya lalu menangis terisak.
Untuk beberapa saat keadaan menjadi sepi, yang terdengar hanya isak tangis Nurindah. Tiba-tiba Dewi nongol didepan pintu.
“Nah sudah kukira kamu yang mengadu ke bapak kost.”
Aku berdiri dan meminta Dewi ikut duduk bersama kami.
“Lho, dia kesini karena bapak panggil, bukan mengadukan sesuatu. Kalian tahu, bapak berpesan kalau ada masalah diantara kalian beri tahu bapak.”
“Ini bukan masalah kost pak, tapi masalah pribadi. Bapak jangan ikut campur urusan kami.” kata Dewi dengan berani.
“Pagi tadi kamu membuat keruibutan di kost ini, jadi kamu membawa persoalan pribadi ke kost bapak.”
“Dia yang membawa persoalan kami, dia pasti mengadu hingga bapak tadi malam……..” Dewi menghentikan bicaranya, agaknya sadar akan keterlanjuran berbicara.
“Ou, jadi kau kira bapak memergoki kamu berduan dengan lelaki itu karena laporan Nur?”
“Siapa lagi, dia itu sirik.”
“Aku tak peduli, yang jelas kamu telah melakukan pelanggaran tata tertib kost ini, jadi silakan tinggalkan kost ini, cari kost lain yang boleh menerima lelaki sembarangan waktu.”
“Jadi bapak mengusir aku karena bujukan si cantik itu!” sambil menuding kearah Nurindah.
Tanpa kukira Nur bangkit dari kursi tamu:
“Ini persoalan kita, jangan sangkut pautkan pak kost.” kata Nurindah lalu keluar dari ruang tamu. Dewi mengikutinya.
Dewi akan menyerang Nur tetapi kuhalangi. Nur meminta aku menyingkir, dia sanggup menghadapinya sendiri.
“Dengar! Ini sangat memalukan. Tuh lihat………” kataku sambil menunjuk ke anak kost lainnya yang berjajar ditepi lorong. Nurindah membalikkan badan lalu masuk kembali ke keruang tamu. Dewi akan mengejar, tetapi pintu kututup dan kukunci dari dalam. Dewi menggedor-gedor karena kalap, teman-temannya berdatangan untuk menyadarkan Dewi yang bagaikan kesurupan.
.

srisariningdiyah
srisariningdiyah wrote on Oct 28, ’10
serem amaat tuh cewek… hiiii horor

be2ny
be2ny wrote on Oct 28, ’10
hmmm

sepasangmatabola
sepasangmatabola wrote on Oct 28, ’10
Wah syerem ya, pak.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s