Tabungan Hari Tua Mbah Arjo dan Mbah Harun

Waktu di Jendral Sudirman setiap ada tamasya bersama mbah Harun dan mbah Arjo mewakili kami.
Suatu saat Endang sangat gusar karena menurut tetangga mbah Arjo itu bibiku.
“Lho mengapa ibu tersinggung aku diaku kemenakannya?”
“Dia itu pembantu, bukan bibi mas Yon. Bagaimana kalau  bude Jachman mendengar, dia akan sangat marah seperti saat ada penyanyi keroncong yang mengaku adik suaminya.”
“Waktu di Siliran mbah Arjo itu sangat dekat dengan bude Jachman, sampai bude mengakui kalau akan menjodohkan aku dengan kemenakannya.”
“Mengapa memilih aku? Dia kan cantik”
“Ya, karena aku tak tahu kalau aku akan dijodohkan dengan kemenakannya. Dia tak pernah berterus terang kepadaku.”
“O, begitu. Sekarang sudah  tahu. Menyesal ya?”
“Itu kan cuma mimpi, belum tentu lho kemenakannya mau  dijodohkan dengan aku.”
“Bagaimana dengan yang lain: Bude Murdo, bude Rivai…………”
“Mereka itu bukan feodal seperti bude Jachman. Mereka menilai orang dari kelakuannya, bukan dari status sosialnya. Sudahlah ibu jangan ikut-ikutan jadi feodal.”
“Apakah membohongi orang itu termasuk perbuatan baik?”
“Masalahnya merugikan orang lain atau tidak. Mbah Arjo boleh saja mengaku bibiku, aku tak merasa dirugikan, yang mendengar pengakuan palsu juga tak dirugikan, yang aku tak suka  mbah Arjo selalu  bertindak sebagai Mayor Domo. Aku merasa sangat dirugikan sebab siapa saja yang ikut kita tak tahan lama karena mbah Arjo bagaikan pinisilin. Padahal semua itu juga dimaksud untuk membantu pekerjaannya.”
“Nah, sekarang sudah sadar…………. bapak ini dream maker, membuat mbah Arjo bermimpi.”
“Tidak hanya mbah Arjo, orang-orang yang dekat dengan kita jadi pemimpi. Itu bukan salah kita, mau jadi pemimpi atau realistis tergantung masing-masing orangnya.”
“Lho katanya berbuat baik itu harus ikut bertanggung jawab atas akibat dari hasil perbuatan baik itu.”
“Itu teori. Coba pikir ibu membelikan perhiasan untuk mbah Arjo dan mbah Harun untuk tabungan hari tua  kenyataannya tak dapat  melarang perhiasan itu untuk diberikan kepada orang lain.”
“Aku melarang, tetapi bapak meminta aku tidak mencampuri urusan mereka, barang itu telah jadi hak mbah Arjo dan mbah Harun. Sekarang perhiasan itu telah lenyap, entah kemana perginya. Aku tak akan membelikan lagi, kalau terjadi sesuatu biarlah orang-orang yang diberi perhiasan itu yang mengurusinya.”
“Itu sangat realistis. Jika  mbah Arjo dan mbah Harun  tak dapat bekerja lagi kita  akan menyerahkan kepada mereka yang  telah memanfaatkan tabungan hari tua mbah Arjo dan mbah Harun. Mereka akan terjaga dari mimpinya.”
“Jika menelantarkannya?”
“Apa boleh buat, kita harus tega menitipkan di rumah jompo.”

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s