Tawur Antara Calon Kepala Pelabuhan vs Calon Sekretaris

Gara-gara tersinggung Ida A, Taruni AMY, “ngamuk” melawan Rani dan teman-temannya para mahasiswi  PIKSI.
Sepulang dari Plemburan aku mendapat laporan dari Endang,istriku, siang tadi terjadi keributan dilantai dua antara Ida A yang menyerang Rani, yang dibela oleh teman-temannya sesama mahasiswi PIKSI.
Kukira Ida A stress akibat dituduh menyantet X (baca Stph 19) tetapi ternyata disebabkan oleh masalah “sepele”. Ida A menjemur kasur ditempat jemuran di lantai 2 yang didekatnya banyak jemuran milik anak PIKSI.
Rani datang memperingatkan karena Ida A “memukul” kasurnya dengan “sapu lidi” hingga debu berhamburan mengotori jemuran. Rani menyuruh kasur butut itu dibuang saja, dia akan membelikan kasur baru. Ida A tersinggung dan mengatakan, kalau punya duit banyak hengkang saja dari kost ini, tinggal dihotel atau apartemen saja.
“Emangnya lu yang punya kost ini dan berhak mengsir gue?”
“Emangnya gue butuh duitmu?”
“He, mentang-mentang pacar lu kemenakan ibu kost lalu berani mengusir gue.”
“Jangan nyangkut-nyangkut ibu kost, lu kuwalat nanti.”
“Emangnya gue takut sama ibu kost? Dasar penjilat, biar bahasa Inggrismu dapet A.”
Tak diduga Ida A menyerang Rani dan mencengkeram rambut sang calon sekretaris itu. Rani meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawannya, tapi Ida A yang dididik bela diri di AMY menghempaskan Rani hingga terjerembab dilantai dipinggiran tempat jemuran. Hampir saja Rani terjatuh kelantai satu. Rani berteriak hingga teman-temannya datang dan berusaha menolong Rani.
“Ya tolonglah klongoretat itu biar semua dapet duitnya.” cemooh Ida A.
Mendengar penghinaan itu semua  mengeroyok Ida A.  Sang calon Kepala Pelabuhan ini telah terlartih dan menguasai bela diri sehingga sanggup menghadapi para calon Sekretaris.
Endang mendengar keributan dilantai dua, maka ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ida A bagaikan kerasukan setan hingga para calon sekerasi terdesak. Anehnya demi melihat Endang, dosennya di AMY, Ida A menghentikan actionnya. Rani dan teman-temannya pergi meninggalkan Endang dan Ida A, sementara itu para taruni AMY yang tinggal di lantai satu
naik dan mendapatkan Ida sedang menangis dipelukan Endang. Ida A  menyatakan penyesalan atas perbuatannya.
Ida A dan Rani ku panggil, tetapi yang datang memenuhi panggilanku hanya Ida, Rani tidak nongol. Ida menceriterakan kejadian itu.
Aku berusaha menemui Rani untuk meminta penjelasan atas kejadian yang sangat memalukan itu, ternyata Rani sudah pindah ke Hotel Mustakaweni yang tak jauh letaknya dari gedung perkuliyahan PIKSI. Aku mendepatkan penjelasan dari teman-teman Rani sehingga dapat kugunakan untuk  bersikap objektif.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Pengalaman Hidup. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s