Mengapa Alam Semesta Mengembang

Pertanyaan: Saya terperangah dengan pernyataan anda tentang graviton. Saya tak mengira ada seorang kakek-kakek Indonesia yang berani mengungkap masalah graviton yang masih menjadi misteri saint.
Lepas dari percaya atau tidak tentang teori anda saya ingin bertanya lebih cepat mana terjadinya photon dengan graphiton? Apa akibat dari perbedaan ini?

Jawaban: Saya juga kagum ada seorang anak muda Indonesia yang menanyakan soal kecepatan suatu proses, sebab selama ini banyak yang menyatukan dimensi waktu dan ruang sehingga kecepatan cenderung berkonotasi jarak persatuan waktu seperti halnya kecepatan cahaya (c) merupakan kecepatan gerak tercepat yang tak mungkin ada yang melebihinya.
Dalam fisika kecepatan didefinisikan sebagai ds/dt yang satuannya m/detitk atau km/jam, dimana s = jarak yang ditempuh  suatu objek yang bergerak sedangkan t adalah waktu untuk menempuhnya.
TM membedakan antara dimensi ruang dengan dimensi waktu sehingga disamping kecepatan bergerak, TM mengenal adanya kecepatan berubah dari energi semu menjadi energi nyata dan sebwaliknya.
Energi semu dinyatakan oleh E’ # 0 , energi nyata dinyatakan dengan E = 0, Pra clear energi  dinyatakan dengan : a. E^ = E’ + dE/dt dan b. E + dq/dt.
Penjelasannya adalah:
a. E^ = E’ + dE/dt , dimana dE/dt adalah kecepatan memasuki keseimbangan prima yang terjadi pada fenomena symetrical transwave,  jadi dE/dt adalah kecepatan  kecepatan terjadinya photon dan lenyapnya kembali photon diruang  hampa atau berinteraksi dengan pra clear energi (bayangan trans semitri) dalam membentuk clear energi atau berinteraksi dengan clear energi hingga terjadi charging energi pada clear energi (perubahan nilai pecahan suatu quanta).
b. E^ = E + dq/dt dimana  q adalah quantum sedangkan dq/dt adalah perubahan atau “pecahnya ” quantum menjadi energi semu atau kecepatan terjadinya graviton hingga pecahnya  garviton menjadi pra clear energy dan pra clear wave atau waktu transisi peruban energi  nyata menjadi energi semu, atau kecepatan proses  E berubah menjadi E’

Cepat  mana antara: terjadinya photon dengan terjadinya graviton?
dE/dt = jumlah photon yang terjadi persatuan waktu, sedangkan dq/dt =  jumlah graviton yang terjadi tiap satuan waktu. Semakin banyak photon yang terjadi pada satu satuan waktu berarti semakin cepat proses terjadi nya photon, demikian  halnya: semakin banyak graviton yang terjadi dalam satu satuan waktu berarti kecepatan proses terjadinya graviton semating cepat.

Catatan penting:
Harus dibedakan antara dE/dt dengan dp/df = timbulnya photon persatuan frekuensi yang menurut TM dalam setiap panjang gelombang terjadi  2 x terjadinya photon.
Nilai dp  berbeda-beda untuk setiap  cahaya tergantung dari frekuensi cahaya. (Apakah perlu dijelaskan fenomena ini?). dE bukanlah fungsi frekuensi sebagai dp, hingga sama untuk berbagai jenis cahaya.

Saya akan meminjam Formula Einsten E = m.c^2. untuk menjawab pertanyaan anda.

Formula ini menyatakan hubungan antara energi nyata dengan massa. Sebenarnya  formula ini tak berlaku pada fenomena terbentuknya photon , sebab photon merupakan media transisi antara pra clear energi (E#)) dengan clear energi (E=0). Saya berusaha memperluas Formula Einsten agar dapat difantaatkan untuk  menguak  misteri cahaya yang memiliki sifat dualistik atau ambigu.

Inilah penjelasan saya:

E = mc^2 saya ubah jadi dE =c^2* dq , dimana dE adalah satuan energi fisika yang terjadi jika satuan massa pecah atau dipecah menjadi satuan  energi, sedangkan dm adalah satuan massa yang terjadi jika energi fisika “menyatu”  menjadi satuan massa.. Langkah berikutnya adalah mencari turunan pertamanya terhadap satuan waktu, sehingga didapatkan dq/dt = c^2* dq/dt.
Jika kita hubungkan dengan uraian saya diatas maka terjadi kesamaan pada turunan kesatu ini dari fungsi waktu: antara “peruban energi fisika ke massa dan sebaliknya persatuan waktu” dengan “peruban energi semu menjadi energi nyata dan sebaliknya persatuan waktu.”
Atas dasar inilah saya manfaatkan Formula Einstein untuk menjelaskan transisi pra clear energi menjadi clear energi dan sebaliknya, sebab Formula Einstein telah diyakini kebenarannya dan telah dimanfaatkan diberbagai bidang kehidupan.
Jika formula Einstein valid untuk perubahan pra clear energi menjadi clear energi (energi fisika), maka dapat dijelaskan perbandingan antara kecepatan terjadinya photon dan kecepatan terjadinya graviton.
dE/dt kecepatan terjadinya dan hilangnya photon diruang hampa sedangkan dq/t adalah kecepatan terjadinya graviton dan hilangnya menjadi pra clear energy dan pra clear wave.
Banyaknya photon yang terjadi tiap satuan waktu = c^2 * banyaknya graviton persatuan waktu. Dengan demikian terjawablah pertanyaan anda: Kecepatan terjadinya photon :  kecepatan terjadinya graviton adalah  c^2 : 1

Catatan: Kecepatan disini bukan  ds/dt melainkan dE/dt dan dq/dt.
Jika yang anda tanyakan ds/dt, pertanyaan anda seharusnya berbunyi: Lebih cepat mana laju cahaya dengan laju gravitasi.
Apakah fisika dapat menjelaskan kecepatan laju graviton.? Jelas dapat, tetapi tak pernah disadari bahwa kecepatan graviton seiring dengan gerakan massa, ini  dapat dijelaskan dengan Hukum Newton: F = m*a atau G=m*g. Sayangnya hingga kini graviton masih merupakan misteri.
Sebenarnya dalam kenyataan fenomena ini dapat dijelaskan dengan gerakan sambungan  benang layang-layang, jika benang ditarik (dipendekkan) maka sambungan benang akan bergerak kira-kira sama dengan gerakan turunnya layang-layang.Tetapi sebelumnya harus diyakini aganya graviton (yang mirip dengan sambungan benang pada layang-layang) yang merupakan hasil interaksi antara dua ECW.
Karena ECW belum diakui keberadaannya, maka graviton akan tetap menjadi misteri, sehingga kecepatan laju gravton  juga sulit dijelaskan.
Jika anda bertanya: Lebih cepat mana laju gerak (ds/dt) photon dengan laju graviton. Menurut fisika sudah jelas kecepatan gerak laju photon sama dengan kecepatan cahaya ( c.), sedangkan graviton tak bergerak, sepanjang tak terjadi gerakan massa yang memancarkannya. Graviton baru bergerak jika satu atau dua massa yang memancarkan ECW bergerak. Dapat diperkirakan gerakan graviton dibawah  kecepatan gerakan massa yang bergerak akibat gaya tarik antara dua massa atau gaya tarik gravitasi. Untuk ini dapat digunakan hukum Newtom F = m*a atau G = m*g. Dua benda akan bergerak dipercepat beraturan jika diberikan gaya tetap.
Kecepatan ECW harus dijelaskan tersendiri, sebab tak identik dengan kecepatan gerakan graviton.
Konsekwensi perbedaan kecepatan terbentuknya photon dan graviton yang berbeda adalah:
Karena  terbentuknya photon lebih cepat  dari terbentuknya graviton maka terjadinya quantum lebih cepat dari pecahnya quantum menjadi energi semu. Ini artinya alam semesta harus semakin lama harus semakin membesar untuk memberikan tempat terjadinya massa yang membutuhkan ruangan, ini sesuai dengan Hukum Ekologio Universe yang disertakan pada saat terciptanya Universe. Apakah analisa ini sesuai dengan saint?
Ingat penjelasan saya adalah sekedar informasi, jadi terserah anda, percaya boleh, tak percaha saya tak rugi. Yang jelas saya  berterima kasih  dan kagum atas pertanyaan anda yang memberikan kesempatan kepada saya untuk menguji kebenaran Teori Minimalis.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 4, ’10
Trima kasih atas bahan pembanding dari teori minimalis. Saya kira perderdaannya bersumber dari tititolaknya. Fisika bertolak dari materi yang bermassa. dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil dan sederhana hingga berakhir pada limit yang dinamakan quantum. Jadi quantum dipandang bagian paling kecil. tetapi tak pernah berharga nol. Jadi tetap memiluiki massa.
Teori minimalis bertolak dari monopol weber yang membentuk dipole dan mengalami proses evolusi hingga menjadi pra clear energi yang mendekati keseimbangan prima sehingga menimbulkan gelombang elektro magnit. Jadi gelombang elektro magnet termasuk cahaya belum memiliki massa, jadi bukan merupakan quantum. Quantum terbentuk saat dipole mengalami keseimbangan prima.
Gravitasi terjadi akibat pecahnya graviton,sebagai hasil pertemuan antara elementer clear wave yang merupakan gelombang longitudinal dari quantum. Gelombang ini dapat divisualisasikan sebagai gelombang suara, bedanya tak menyebar keruangan disekitarnya melainkan bergerak menurut garis lurus sebagai fenomena cahaya yang merupakan simetrical transwave. Banyak kemiripan antara STW dan ECW, bedanya terjadinya photon dari STW merupakan sifat intrinsik dari STW, sedangkan tergadinya graviton bersifat ektrinsik, sehingga graviton yhanya terjadi saat dua ECW beretemu.
Teori Minimalis dengan tegas menyatakan adanya energi semu dan energi nyata, sedangkan fisika tak secara tegas mengakui adanya energi semu, yang berakibat tak mungkin menemukan graviton, padahal graviton berpegang peran dalam terciptanya gravitasi yang teramat peningika maupun kehidupan. Fisika hanya beranggapan bahwa setiap benda memancarkan gelombang elektro magnetik, padahal menurut TM gelombang elektro magnet hanya dipancarkan oleh benda yang masih aktif (belum mengalami keseimbangan prima, misalnya matahri.) Benda yang benar-benar telah mengalami keseimbangan prima tak memancarkan gelombang elektro magnetik kecuali jika keseimbangan primanya nya tergoyahkan secara internal maupun pengaruh ekternal (misalnya penghantar yang memotong medan magnit akan menimbukan medan listrik. Bumi dan planit dan benda hanya akan memancarkan /memantulkan cahaya jika menerima cahaya dari benda aktif.Benda juga dapat kembali memancarkan cahaya jika keseimbangan primanya tergoyahkan akibat adanya energi fisik dari luar, hal ini dijumpai dalam berbagai fenomena, misalnya api akibat terjadinya reaksi bahan bakar dengan oksigin. Inti atom hanya mungkin dipecah agar diperoleh energi fisik dan berbagai sinar. Dua benda yang telah mengalami keseimbangan prima jika berbenturan atau bergesekan juga dapat memancarkan gelombang elektro magnet.
Benda yang telah mengalami keseimbangan prima juga dapat hingga lenyap, ini sesuai dengan interaksi antara matter dengan anti matter.
Saya menulis dan menggagas teori minimalis bukan bertujuan menyangkal teori-teori fisika melainkan memberikan pembanding agar yang pembaca dapat memilih teori mana yang dibutuhkan, tujuannya adalah jangalah hukum dan teori fisika menjadi sebuah dogma yang harus dipercaha dan dianggap paling benar.
Marilah kita syukuri perbedaan, biarlah yang berbeda tetap berbeda sepanjang tak menimbulkan sengketa karena saling merasa benar dan memaksakan kehendaknya.

tough2slf
tough2slf wrote on Apr 4, ’10
This entry contributed by Marie-Jessique Gonzalez

A theoretical particle having no mass and no charge that mediates (carries) the gravitational force. The graviton is a boson. The existence of a graviton has not yet been confirmed experimentally, although string theory predicts the existence of gravitons as closed strings with the minimum possible energy. It is also theorized that gravitons interact with leptons and quarks.

tough2slf
tough2slf wrote on Apr 4, ’10
Pembahasan berikut ini mungkin dapa membantu

Hi, Mike !!

A photon – as you know – is an electromagnetic (EM) wave .
Its energy is described by e = h. n in a quantum
of energy. All EM waves travel in the vacuum
with the speed of light. A photon is a form of energy and
results from transformations of another forms of energy.
When the photon appears it behaves like all EM waves.
It does´t need to be accelerated. All bodies emit EM waves,
even a peace of ice. The question concerns more on the
frequency. If you see the light – visible light – it covers
a range of wave length between 400 and 700 nanometers.

When you mention in your question that “…emitted photons
instantaneously travel at speed of light and were not accelerated…”
than you are thinking like a particle behaviour that needs to be
accelerated, right ?? Than, we find ourselves at the hands of
the problem concerning to the dual behaviour particle-wave
of matter. You are thinking of particle and making a question
for waves…Waves do not need to be accelerated. Particles
do, but we are talking about wave-photons, aren´t we ??
And – besides of that – photons are generally regarded as
particles with zero mass and no electric charge…( again the
dual behaviour of matter ).

Alcir Grohmann

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s