Photon dan Graviton

Pertanyaan: Dengan argumen apa anda berkesimpulan bahwa photon merupakan media transisi memasuki keseimbangan prima dan graviton merupakan media transisi keluar dari keseimbangan prima?
Jawaban: Silakan baca teori minimalis agar anda dapat memahami penjelasan saya.
1. Gelombang elektromagnet (termasuk cahaya) terjadi dari osilasi medan magnit dan medan listrik secara bergantian merambat tegak lurus bidang osilasi nya. Gelombang ini termasuk gelombang transversal.
Secara teoritis kedua medan ini merupakan gelombang sinusoidal dari medan magnet  dan medan listrik yang fasanya berselisih 90 derajat, sehingga pada saat medan listrik mencapai puncaknya, medan magnet justru berkekuatan nol, demikian sebaliknya. Ada suatu fase dimana besarnya medan listrik sama besarnya dengan medan magnit, kondisi inilah yang menimbulkan photon.  Argumen ini berdasarkan teori minimalis yang menyatakan saat x = y atau E = 0 terjadilah quanta. Jadi setiap periode (panjang gelombang) dari   symetrical trans wave (misalnya cahaya)  terjadi dua kali munculnya photon, yaitu saat x = y= q atau E = 0 .
Phase ini sangat singkat, sehingga di ruangan hampa materi photon akan segera lenyap kembali karena tak dapat berinteraksi dengan bayangan trans semitrinya (pra clear energy) maupun clear energy.  Pada saat memasuki wilayah dimana terdapat pra clear energy, termasuk wilayah yang terisi energi fisik, photon akan berinteraksi dengan pra clear energy membentuk clear energy atau melakukan charging/menambah energi pada clear energy, sehingga dapat mempengaruhi lintasan orbit electron mengelilingi inti, bahkan poton sanggup menjadikan molekul menjadi sel. (pembentukan unsur organik atau organisme dari unsur anorganik atau quanta).
Kesimpulan:
Menurut TM photon itu merupakan konsekwensi dari sifat symetrical trans energi yang berosilasi disekitar titik keseimbangan prima E = 0 dimana terjadi kondisi dimana x = y = q. Saat x # y pasti E # 0, yang berarti x dan y  belum seimbang.Jika x mendekati y atau E mendekati 0, terjadi osilasi x dan y (kutub utara dan selatan kutub magnet)  yang berarti terjadi osilasi medan magnit yang diikuti osilasi medan listrik. Pergantian medan listrik dan medan magnet inilah yang dinamakan gelombang elektro magnet. Pada saat medan listrik besarnya = medan magniet, variable x akan = variable y, sesuai dengan FSM E = – x + y, maka pada saat x = y akan memberikan nilai E = 0.  Kondisi ini dinamakan kondisi keseimbangan prima. Jadi photon terjadi pada transisi antara kondisi tak seimbang menjadi menjadi seimbang prima dengan kata lain photon merupakan media transisi memasuki keseimbangan prima atau pergantian antara E # 0 menjadi E = 0.

Menurut fisika cahaya memiliki sifat mendua, disatu sisi bersifat gelombang elektro magnet, disisi lain merupakan aliran photon.
Marilah kita cermati kemungkinan lain dalam fenomena cahaya dan photon diluar analisa minimalis.
1. Seandainya photon merupakan partikel yang bergerak sendiri dan berpacu dengan cahaya dengan kecepatan c, maka jika laju cahaya dan photon terhalang oleh materi (misalnya kaca),  kecepatan cahaya tak akan berubah, karena cahaya tak memiliki massa hingga tak memerlukan ruang, sedangkan photon memiliki massa (baca wikipedia). Menurut hukum Schnellius pembelokan cahaya disebabkan oleh perubahan kecepatan cahaya saat melintasi batas medium yang dilaluinya. Kenyataan terjadi pembelokan cahaya. Ini artinya cahaya dan photon tak bergerak terpisah/ berpacu melainkan merupakan satu paket.
2. Seandainya photon menumpang cahaya sebagaimana sinyal digital atau sinyal analog, maka gelombang pembawa (cahaya)  termodulasi secara Modulasi Amplitudo, Modulasi Frekuensi, atau Modulasi Phasa. Gelombang pembawa yang termodulasi dapat didemodulasi, sedangkan yang kosong tak mungkin di demodulasi. Jadi ada gelombang pembawa yang isi dan yang kosong (tak membawa sinyal).. Yang dipertanyakan adalah: Apakah ada cahaya yang tak berphoton, sebagai halnya gelombang pembawa sinyal yang tak termodulasi?
3,  Seandainya photon naik atau dibawa oleh cahaya, setelah photon berinteraksi dengan materi, maka jumlah photon akan berkurang (karena sebagian telah “keluar dan turun dari cahaya yang ditumpanginya) dan  mungkin sekali ada cahaya yang kosong photon. (Dalam TM asymetrical trans wave tak menimbulkan photon karena berosilasi tak melintasi E = 0 )

Ketiga pertanyaan itu telah lama “mengganggu” fikiran saya karena tak pernah terjawab oleh guru, dosen atau buku fisika konvensional. Mungkin saja misteri itu telah terjawab oleh fisika modern, tetapi saya telah terbelenggu oleh konsep fisika konvensional dengan Hukum Newton yang seratus persen saya yakini kebenarannya dalam fenomena fisika.
Ketika saya menggagas teori minimalis untuk menjelaskan fiksi Blackhole saya, barulah saya mendapatkan jawabannya yang sangat sederhana: photon merupakan konsekwensi dari sifat cahaya (symetrical trans wave). Saya cukup puas dengan teori saya walau saya tak sanggup membuktikan salah atau benar. Jadi pernyataan saya itu sekedar “pemuas hati saya” karena  pengetahuan saya tentang fisika sangat terbatas bahkan sangat minim.

Sangat sulit menjelaskan masalah graviton sebab hingga saat ini misteri graviton belum terpecahkan secara fisika (baik yang konvensional maupun modern), namun graviton diprediksikan atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya gravitasi atau gaya tarik menarik menarik antara partikel yang bermassa.
Berdasarkan Hukum Newton gaya tarik menarik antara benda yang bermassa  berbanding lurus (perkalian) antara dua massa yang saling tarik menarik dan berbanding terbalik dengan kwadrad jarak kedua benda itu.
Atas dasar hukum Newton inilah saja berusaha “mengungkapkan” graviton dengan menggagas adanya gelombang dasar materi (elementer clear wawe) yang dipancarkan oleh setiap benda yang bermasa (E = 0 ). Gelombang ini saya imaginasikan sebagai gerakan electron pada tabung hampa (misalnya tabung TV). Pada saat elektron menabrak kaca yang dilapisi lapis pendar akan terjadi bintik cahaya  dalam sekejap lalu padam dan berpendar lagi akibat benturan elektron berikutnya. Elektron akan lenyap karena diserap oleh anoda.  Mula-mula graviton saya imaginasikan sebagai tabrakan antara dua partikel bermassa hingga  pecah sebagai reaksi  nuklir fisi, tetapi kemudian saya koreksi karena menyalahi matematika minimalis yang menyatakan E = 0 yang berinteraksi dengan E = 0 akan menghasilkan E = 0 dan tak mungkin menghasilkan E # 0. Juga karena ECW merupakan aliran partikel dasar tak mungkin pecah menjadi partikel yang lebih kecil hingga menimbulkabn kekosongan.
Kemudian saya baru sadar bahwa ECW adalah gelombang (sebagaimana STW) yang mengalami fase E= 0 dan E # 0. Jadi interaksi antara dua ECW memungkinkan terjadinya kondisi E # 0 atau energi semu yang tak bermassa  dan tak memerlukan ruang (nyata) sehingga menyebabkan kekosongan yang menimbulkan tekanan negatif dan menimbulkan gaya tarik menarik antara dua benda yang memancarkan ECW.

Bagaimana graviton dapat terjadi dan mengapa hanya berlangsung dalam sesaat:
Saya menggunakan teori minimalis untuk menjelaskan apa itu graviton dan apa manfaatnya (esensinya) dan alam semesta.
Jika graviton memang menjadi biang kerok terjadinya gravitasi, maka karena gravitasi merupakan fungsi dari jarak dan massa (menurut hukum Newton), pastilah graviton erat kaitannya dengan massa kedua benda yang saling tarik menarik (quanta) dan kwadrad jarak.  Untuk dapat melakukan interaksi hingga menimbulkan gaya tarik menarik pastilah graviton merupakan sarana penghubung (link) , maka  haruslah sebanding dengan kedua massa tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadard jarat sebagai yang dinyatakan oleh hukum Newton.
Makna dari kwadrad adalah bidang (bukan isi.) Andaikata graviton  itu berupa gas atau materi bermassa, maka akan terdistribusi  ke seluruh ruangan disekitarnya, artinya  semakin besar ruangan tiap satuan ruang akan menerima graviton satu per  jarak pangkat tiga (bukan satu per jarak pangkat dua) Jadi jelas graviton bukanlah sejenis gas yang merupakan interaksi antara gas yang dipancarkan oleh kedua massa.
Berdasar hukum Newton pastilah graviton merupakan interaksi antara aliran partikel yang  bergerak menurut garis lurus *(tak tersebar). Fenomena ini sangat mirip dengan fenomena cahaya, tetapi bukan merupakan gelombang elektro magnet, melainkan aliran   partikel elementer (quantum).
Untuk memahami pancaran partikel dasar dari suatu benda bermassa menurut sebuah garis (lurus) dan bukan hamburan partikel (misalnya gas) saya membuat model  bola dawai (bolda), yaitu  lapisan-lapisan kulit bola yang memiliki pusat sama yang  dari pusatnya keluar dawai menembus  lapisan  kulit  bola dari pusat  menuju lapisan-lapisan dengan jari-jari lebih besar. Model ini saya namakan pancaran ECW dengan model bolda.
Dawai itu mewakili ECW, sedangkan bola terdalam adalah benda yang bermassa dan memancarkan ECW..  Jumlah titik tembus dawai pada permukaan bola menyatakan  banyaknya berkas ECW. Dari model ini akan terbukti bahwa banyaknya berkas dawai yang menembus kulit bolda berbanding terbalik dengan kwadrad jarak.
Kekuatan pancaran ECW tergantung dari besarnya massa, artinya kepadatan dawai berbanding lurus dengan massa, semakin besar massa semakin padat ECW.
Kekuatan ECW berbading lurus dengan kepadatan massa, dan berbanding terbalik dengan luas permukaan benda yang memancarkannya. . Hal ini dapat dijelaskan: semakin kecil bola semakin sempit permukaan bola berarti lobang dawai  semakin terbatas, sehingga aliran dawai akan semakin besar. Pada kepadatan massa yang sama, mengecilnya jumlah dawai menyebabkan aliran ECW semakin kuat. Pada skala kecil kepadatan massa dan  luas permukaan benda yang memancarkan ECW belum banyak pengaruhnya, tetapi pada skala besar dan massa besar kepadatan massa dan luas permukaan bola perlu diperhitungkan. Sebagai contoh blackhole semakin mengecil kekuatan garvitasinya semakinn besar, ini sesuai dengan model bolda dalam skala makro,
Jadi ECW dari massa yang sama akan semakin jauh pancarannya jika kepadatan massanya besar dan permukaan bola lebih sempit.
Marilah kita imaginasikan dua buah bolda yang dawainya saling terhubung. Pasangan-pasangan dawai itu akan saling berhubungan hingga terjadilah graviton. Jadi graviton merupakan interaksi antara sepasang dawai yang tak lain adalah ECW.
ECW bukanlah sekedar aliran quanta atau energi fisika  yang quantanya tetap, melainkan gelombang energi yang quantanya berubah secara periodik (sebagai halnya STW) yang dalam matematika minimalis dinyatakan oleh dq/dt. ECW merupakan gelombang longikudinal sebagi gelombang suara yangn dibawa oleh gas/udara, Jika gelombang suara berubah ubah tekanannya, maka ECW  mengalami perubahan quantanya, bahkan mengalami  fasa E= 0 dan E#0.  Karena graviton merupakan interaksi antara ECW, makai graviton merupakan suatu system yang memiliki komponen E = 0 dan E # 0 yang memungkinkan terjadinya E # 0. Terjadinya E # 0 dalam graviton akan menggoyahkan keseimbangan dalam graviton sehingga terjadilah efek domino atau reaksi berantai sehingga graviton derubah dari ECW menjadi Pra clear wave dan pra clear energi yang E nya # 0.
Atas dasar analisa saya dengan menggunakan model bolda dan mengasumsikan graviton sebagi interaksi antara dua ECW hingga terjadi perubahan dari fase E = 0 menjadi E # 0, maka saya berani menyatakan bahwa graviton merupakan media transisi  keluar dari keseimbangan prima.
Esensi dari photon dan graviton adalah: Tuhan telah merencanakan alam semesta dengan sangat sempurna dan memberikan kesempatan untuk setiap ciptaan Nya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungannya, satu dengan yang lain saling membutuhkan sehingga alam semesta dan isinya saling mempengaruhi, antara isinya saling menerima dan  saling memberi sehingga terjadilah keseimbangan agung atau macro cosmos, Tanpa photon dan graviton alam nyata dan alam semu tak akan terhubung.
Pesan saya : Semua itu sekedar informasi dari gagasan dan analisa saya  berdasar teori minimalis dan Hukum Newton. Jangan begitu saja diterima, harus diuji kebenarannya oleh yang menerima informasi ini. Jika bermanfaat silakan pakai, jika tak bermanfaat atau merugikan silakan buang saja ke keranjang sampah.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s