Apa manfaat pengembangan alam semesta?


Apa manfaat pengembangan alam semesta?
Apr 10, ’10 6:47 AM
for everyone
Pertaanyaan: Saat ini manusia telah sanggup membuktikan bahwa alam semesta mengembang dan pengembangannya semakin cepat. Mengapa demikian dan apa manfaatnya alam semesta mengembang?
Jawaban: Itu sesuai dengan hukum Ekologi Universal  (menurut Teori Minimalis) yang menyatakan bahwa alam semesta sebagai sebuah rumah bagi isinya (penghuninya). Sebuah rumah akan semakin diperluas agar dapat memberikan tempat kepada penghuninya. Ada dua jalan agar antara rumah dan penghuninya selalu seimbang. a. memperluas rumah atau b. mengurangi penghuninya.
Menurut Teori Minimalis isi alam semesta setiap saat bertambah akibat berubahnya energi semu menjadi energi nyata lewat terjadinya photon dan menguranginya dengan merubah energi nyata menjadi energi semu lewat terjadinya graviton. Hal ini dinyatakan dengan : Photon adalah media transisi memasuki keseimbangan prima dan graviton merupakan media transisi keluar dari keseimbangan prima.
Menurut Teori Minimalis dengan meminjam Formula Einstein (memperluas pemanfaatan Formula Eintein sehingga tak hanya sanggup menjelaskan hubungan antara energi dan massa dengan persamaan E = mc^2 tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan hubungan antara energi nyata dengan energi semu) didapatkan kecepatan terjadinya photon dengan kecepatan terjadinya graviton sebagai c^2 : 1. Ini jangan diartikan pengembangan alam semesta adalah  c^2 km/jam atau c^2 m/detik sebagai yang dinyatakan oleh seorang penanya yang lalu mengatakan tak akan ada yang percaya pada analisa saya tentang perbandingan kecepatan terjadinya photon c^2 kali kecepatan terjadinya graviton. Hal ini sudah saya jelaskan kepadanya yang juga bermanfaat bagi pembaca lainnya.(Baca: Lebih cepat mana terjadinya photon dengan graviton).
Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan lebih terperinci:
Pengembangan alam semesta sudah merupakan realita yang dapat dimengerti oleh manusia lewat pengamatan ruang angkasa berkat kemajuan tehnologi dan ketekunan manusia dalam mengamati ruang angkasa lewat astronomi. Saya sangat percaya hasil pengamatan dan analisa secara ilmiah tentang mengembangan alam semesta, tetapi saya bertanya pada diri saya mengapa alam semesta mengembang dan apa manfaatnya. Dengan cara kotak katik (istilah ananda Sudarjanto) dengan memanfaatkan Formula Supernatural Modern (FSM)  E = – x + y, saya berusaha menjawab pertanyaan itu dengan keyakinan saya (maaf bukan atas dasar agama maupun saint melainkan keyakinan akan keberadaan dan kebesaran Tuhan YME sesuai dengan filosofi bangsa saya, bangsa yang sangat saya cintai, bangsa Indonesia, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa): Sebelum menciptakan alam semesta Tuhan YME teleh merencanakan dengan sangat sempurna dan menyertakan hukum untuk mengaturnya, yaitu hukum Ekologi Universe.
Analisa (kotak katik)  itu adalah begini:
Saat x # y pasti E # 0, saat x = y = q pasti E = 0. Cobalah Tentukan sembarangan Nilai E lalu gatikan variable x dan y (dalam persamaan E = – x + y ) dengan  dengan sembarangan bilangan positip  (bulat atau pecahan), lalu perhatikan  ruas kiri dengan ruas kanan, hanya ada dua kemungkinan , sama atau tidak sama, ruas kanan = ruas kiri atau ruas kanan tidak sama dengan ruas kiri. Persamaan itu dikatakan valid jika memenuhi FSM (ruas kiri = ruas kanan) dan invalid (ruas kiri berbeda dengan ruas kanan atau tak memenuhi FSM). Manusia tak mungkin mengerti tentang fenomena yang invalid karena itu merupakan rahasia Tuhan YME, sedangkan yang valid masih sanggup dimengerti.
Ada teori yang menyatakan bahwa sejak terjadinya hingga saat ini jumlah energi alam semesta adalah nol. Lalu saya bertanya: bagaimana jika jumlah energinya tak sama dengan nol (E#0), lalu saya berkesimpulan pasti x # y # q? Apakah berarti alam semesta akan lenyap dalam kondisi E#0? Kemana perginya?  Menurut Teori Minimalis alam semesta merupakan suatu siastem tertutup sehingga tak mungkin energi keluar masuk alam semesta, jadi energi itu pasti tetap ada dalam alam semesta. Atas dasar itulah saya yakin seyakin-yakinannya setelah menguras seluruh kemampuan berfikir dan keyakinan saya tentang keberadaan Tuhan YME serta keagungannya bahwa isi alam semesta bukan hanya energi nyata melainkan terdapat  energi semu.
Bedanya energi nyata dengan energi semu ialah: energi nyata memiliki massa hingga memburtuhkan ruang nyata dan energi semu belum memiliki massa hingga tak membutuhkan ruangan nyata. Saya menyusun sistematika energi, baik energi semu maupun energi nyata. (Baca Teori Minimalis secara cermat).
Bagaimana proses  terjadi perubahan energi semu menjadi energi nyata dan sebaliknya? Apa akibat dari perubahan itu? Saya lalu menambahkan pada Teori Minimalis adanya transisi dan sekaligus media nya, yaitu munculnya Photon lewat Symetrical Trans Wave (STW) yang mengalami phasa nol (E=0) secara intrinsik merubah energi semu menjadi energi nyata dan graviton melalui  pertemuan dua Elementer Clear Wave (ECW).
Saya anggap cahaya adalah STW, sedangkan ECW mungkin adalah Radiasi Hawking ( ini yang dapat menjawab adalah Hawking, sebab dia tak percaya adanya energi semu). Lepas dari apakah ECW identik dengan radiasi Hawking atau tidak , saya membuat model bola dawai (bolda) untuk menjelaskan terjadinya graviton.
Ketika ada penanya : Cepat mana terjadinya photon dengan terjadinya graviton, saya terpaksa meminjam Formula Einstein (yang seharusnya hanya berlaku pada kondisi m # 0 ) untuk menjelaskannya, hingga saya dapatkan kecepatan terjadinya photon adalah c^2  kali kecepatan terjadinya graviton.
Diluar dugaan ada penanya/penyanggah  yang salah faham dan menganggap saya menyatakan  pengembangan alam semesta c^2 m/detik atau c^2 km/detik. Saya lalu menjelaskan bahwan pengembangan alam semesta satuannya m^3 atau km^3 dan tak ada kaitannya dengan kecepatan cahaya yang dimensinya km/jam atau m/detik. Walau demikian saya tetap yakin ada kaitan erat antara kecepatan terjadinya photon dan kecepatan terjadinya graviton dengan pengembangan  alam semesta sehingga saya harus memberikan argumentasinya.
Photon diruangan hampa materi hanya timbul dalam sekejap, tetapi diruang berisi materi akan berinteraksi dengan clear energi hingga menyebabkan meningkatkan quanta /quantum partikel atau  menambah energi fisik benda bahkan sanggup menjadikan molekul menjadi sel,  materi menjadi organisme (baca Teori Paralogika). Disamping memberikan energi fisik pada materi yang dihujani cahaya , photon yang meninggalkan sumber cahaya  (misalnya natahari) menjadikan pra clear  berubah menjadi clear energi (jika divisualisasikan:  benda yang terbakar menyebarkan  panas kesekitarnya dan menjadikan benda disekitarnya naik suhunya, namun  abu dari proses pembakaran tertinggal pada benda yang terbakar). Perubahan pra clear energy menjadi clear energy menyebabkan pertamhaban massa pada sumber cahaya (ini berbeda dengan  pembakaran materi yang menghasilkan abu yang mengurangi massa benda, karena proses pembakaran patuh pada mekanika quantum,  sedangkan perubahan E # 0 menjadi E = 0 dengan memancarkan STW  bukan proses fisika hingga tak mematuhi mekanika quantum. Mengapa ?Proses ini adalah adalah terbentuknya quantum bahkan  mungkin langsung terbentuknya quanta (materi).
Dari analisa itu saya simpulkan baik matahari maupun bumi mengalami pertambahan massa sehingga gaya gravitasinya meningkat. Tetapi harus diingat baik matahari maupun bumi harus memancarkan ECW agar dapat menimbulkan gaya gravitasi masing-masing.
Bumi dapat mengelilingi matahari pada orbit yang tetap karena terjadinya keseimbangan antara gaya tarik menarik bumi dan matahari dengan gaya sentrifugal akibat putaran bumi mengelilngi matahari.
Jika matahari dan bumi bertambah massanya, maka agar tetap terjadi keseimbangan, maka jarak bumi dan matahari harus ditambah (dengan pengembangan alam semesta) atau putaran bumi mengelilingi matahari bertambah.Apakah kecepatan bumi mengitari matahari bertambah? Seandainya demikian pastilah pergeseran matahari keutara dan keselatan semakin pendek. Jadi…….. keseimbangan itu membutuhkan pengembangan alam semesta.
Pengembangan alam semesta semakin cepat karena pertambahan penghuninya juga semakin cepat. Suatu saat manusia akan menemukan “barang” baru diantariksa bukan karena kecanggihan peralatan mengindera saja  melainkan memang demikian kenyataan, terjadi materi baru dialam semesta akibat semakin banyak energi semu berubah menjadi energi nyata hingga  dapat terdeteksi oleh pancaindra lewat kecanggihan tehnologi penginderaan.
Kesimpulan : Alam semesta mengembang sesuai dengan hukum Ekologi Universe agar tetap terjadi keseimbangan alam semesta.
Pengembangan alam semesta semakin cepat sebagai semakin cepat perubahan energi semu menjadi energi nyata.
Apakah alam semesta terus mengembang dan pengembangannya semakin cepat? Kalau demikian memang benar tentang adanya hari kiamat.
Dengan sangat yakin saya nyatakan selama hukum Ekologi Universe berlaku, alam semesta akan mengatur dirinya atas dasar hukum tertinggi itu, hingga suatu saat pengembangan itu akan berhenti lalu mulai menyusut lagi. Kiamat tak ada kaitannya dengan pengembangan alam semesta melainkan atas kehendak Nya dan tak terjangkau oleh kemampuan manusia.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 11, ’10
Saya mengedit tulisan ini agar tak menimbulkan kesan alam semesta terus mengembang tiada batasnya, hingga menimbulkan kiamat.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s