Dapatkah menghidupkan spesies yang sudah punah?

Pertanyaan:Saat ini banyak spesies tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang telah mendekati punah. Dapatkah tehnologi menghasilkan spesies yang telah punah. Apakah itu tak melangkahi wewenang Tuhan YME?
Jawaban: Segala yang mungkin terjadi  pasti telah diizinkan Nya. Jika tak diizinkan pasti tak mungkin terjadi. Sebelum menciptakan alam semesta Tuhan YME telah merencanakan dengan saksama dan menyertakan hukum untuk mengaturnya, yaitu hukum Ekologi Universe.
Hilangnya spesies yang  diakibatkan ulah/perbuatan  manusia, juistru menjadi kewajiban bagi manusia untuk “mengembalikannya.” Jadi ikhtiar manusia untuk “mengembalikan” spesies yang punah untuk kembali eksist lagi bukanlah melangkahi wewenang Nya, melainkan justru menjadi kewajiban manusia. Jika manusia merusak ciptaan Nya maka manusia berkewajiban untuk memperbaikinya.
Mengembalikan yang sudah punah jauh lebih sulit dari melestarikannya, namun bukannya tak mungkin selama tujuannya mulia.
TM menyebutkan bahwa di bumi ini manusia diberi kesempatan oleh Nya untuk melakukan rekayasa tehnologi dan rekayasa genetika..  Dengan rekayasa tehnologi manusia sanggup membuat robot yang ujud dan perilakunya mirip dengan tumbuh-tumbuhan maupun binatang yang telah punah, namun fisiknya tidak sama, karena terbuat dari clear body (materi).  Dengan rekayasa genetika manusia sanggup membuat dublikat tumbuh-tumbuhan dan binatang, bahkan manusia yang telah punah atau telah tiada. Fisiknya dapat dibuat persis dengan organisme aslinya, cara yang paling sederhana ialah dengan menyimpan biji-bijian,  sel telor dan sperma atau bangkai/fosil binatang, atau melakukan kloning untuk membuat organisme yang persis dengan aslinya. .Tak  tertutup  kemungkinan  manusia dapat bembuat organisme atas dasar interaksi clear body dengan cahaya lewat proses kimia dan fisika.
Apakah organisme “tiruan” itu dapat “hidup?” sebagai living organisme. Teori Paralogika menjawab dengan tegas: dapat, sebab living organisme terjadi dari organisme yang dikendalikan oleh spirit. Jika manusia sanggup membuat organisme yang sesuai dengan kebutuhan spirit pastilah spirit akan memanfaatkannya. Spirit itu “bergentayangan” dibumi ini dan membutuhkan  organisme untuk melakukan aktivitasnya memanfaatkan berbagai jenis energi, bukan hanya trans energi. Apakah ini melangkahi kekuasaan Nya?  Jika hal itu dapat terjadi, pastilah telah diizinkan, namun segala akibatnya harus ditanggung oleh manusia. Spirit  berbeda dengan soul. Spirit memiliki tubuh astral hingga dapat melakukan aktivitas sedangkan soul sepenuhnya patuh pada kehendak Tuhan YME.
Hasil rekayasa genetika telah terkontaminasi oleh tangan manusia sehingga  tak mungkin menghasilkan white black body, dan hanya sanggup menghasilkan reincarnated body sehingga seringkali tak terkendalikan oleh sipembuatnya.
Dalam fiksi Blackhole  dokter David Liquair dapat melakukan rekayasa genetika, diantaranya menghasilkan D1313 yang dinamakan  Devil yang ternyata tak dapat dikendalikan oleh pembuatnya, hingga membuat mala petaka dan sangat sulit untuk ditaklukkan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Apr 20, ’10
Ada yang bertanya kepada saya: Apakah manusia yang telah mati dapat dihidupkan kembali?
Difinisi mati itu “berubah” sesuai dengan kemampuan manusia dalam rekayasa tehnologi dan rekayasa genetika.
Dahulu: orang yang tak bernafas dikatakan mati, lalu setelah manusia dapat menolong orang yang sudah tak bernafas difinisi mati bergeser pada detak nadi dan jantung. Setelah yang berhenti detak jantungnya dapat diberi kejutan hingga jantungnya berdetak lagi difinisi mati bergeser……………………….
Saat ini bagian tubuh orang yang telah mati (misalnya jantung, ginjal,mata……….) masih dapat di “simpan” dan digunakan pada pasien yang membutuhkan. Kalau tak mendapatkan organ dari orang yang “telah” mati, pasien itu akan mengalami nasih yang sama, yaitu mati. Secara teoritis setiap organ orang yang telah mati tetapi masih dalam kondisi baik dapat dimanfaatkan untuk menggantikan organ yang telah rusak dari pasien sehingga umur pasien itu dapat diperpanjang.
Teori Paralogika menyatakan bahwa living organisme terdiri dari Spirit dan organisme. Jika spirit telah meninggalkan organisme hingga real link terputus, maka masih ada unreal link, yang tak lagi terpusat pada satu titik (misalnya otak atau sumsum tulang belakang) melainkan menyebar keseluruh bagian yang masih berfungsi baik. Kondisi ini dikatakan sebagai kondisi system unconscius (tak sadar secara individu), tetapi justru terjadi partial consciousness (kesadaran bagian) .Bagian organ yang masih baik masih terhubung secara tak nyata (unreal link) dengan spirit sehingga jika “dipelihara dengan bantuan memenuhi kebutuhannya serta menjaga dari pengrusakan oleh lingkungannya, maka bagian-bagian itu “seakan masih hidup” hingga dapat dimanfaatkan oleh individu lain yang sesuai dengan fungsinya. Tetapi jika bagian-bagian itu dibiarkan, tak mendapatkan perawatan dan perindungan maka dalam waktu tertentu partial consciousnes itu akan hilang. Jadi menurut TM: kematian adalah hilangnya real link yang menjadikan hilangnya kesadaran individu, hingga berubah menjadi unreal link yang menyebabkan terjadinya kesadaran bagian (partial), yang menyebabkan bagian-bagian organisme
“mempertahankan keberadaan masing-masing”, kemudian terputusnya unreal link secara total.
Menurut TP orang yang telah “mati total” tak mungkin dihidupkan lagi karena organismenya tak lagi menjadi system yang utuh, sedangkan bagian dari organisme juga tak dapat berfunsi secara partial lagi, Tak ada lagi link antara organisme dan spirit. Agar tak mengalami kematian organ yang rusak dan tak berfungsi secara normal harus diperbaiki, jika tak mungkin lagi maka bagian-bagian yang masih baik dapat dimanfaatkan untuk mengganti organ pasien yang masih sadar diri secara individu.
Menurut Teori Paralogika spirit akan memilih sebuah system (individu) yang masih segar untuk dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhannya. System/individu yang telah tak berfungsi akan ditinggalkan sebagai mana seorang user tak akan menggunakan komputer yang tak lagi dapat berfungsi,
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s