Apakah mengaku beragama berarti patuh pada perintah Tuhan YME?

Partanyaan: Sangat lucu anda membuat Teori Paralogika yang tujuan utamanya mengagungkan Tuhan YME, tetapi anda mengaku tak beragama. Untuk mengagungkan Allah   anda harus beragama, hingga tidak kafir.
Jawaban: anda bukan bertanya, melainkan menggurui saya. Terimas kasih atas nasihat anda.
Maaf anda beragama, tetapi tak tahu difinisi kapir. Setahu saya kapir adalah mereka yang tak memeluk agama Islam.  Menurut mereka yang beragama, orang yang tak beragama adalah atheis, padahal atheis artinya tak mengakui keberadaan Tuhan YME apalagi mengakui keagungan Nya.
Kalau anda menuduh saya kapir, silakan saja karena itu memang difinisi untuk manusia yang tidak memeluk agama Islam, tetapi kalau saya dituduh atheis saya menyangkal, sebab saya sangat yakin akan keberadaan dan kebesaran Nya. Atheis bukan berarti tak beragama melainkan tak mengakui keberadaan Tuhan YME.
Saya mengakui bahwa agama semuanya membimbing kearah kebaikan dan memberikan petunjuk dan bimbingan mencapai kebahagiaan abadi. Saya juga mendambakan kebahagiaan abadi, tetapi saya tak perlu “mengaku beragama”, sebab beragama bukan satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Saya tak meyakini bahwa hidup ini hanya sekali, saya mempercayai adanya reincarnasi, hingga  saya mencari agama yang mengakui adanya reincarnasi,. Ada agama yang mengakui tetapi menganggap reincarnasi adalah kegagalan hidup atau kegagalan mencapai kebahagiaan abadi. Menurut saya reincarnasi adalah suatu kesempatan yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan YME untuk melakukan hidup berkesinambungan secara individual, sedang sintem informasi adalah sarana penghubung antar ruang dan waktu (berarti penghubung antara generasi manusia diseluruh alam semesta.
Saya berusaha menggunakan kesempatan itu, ini bukan berarti saya tak patuh pada petunjuk dan menjauhi larangannya. Saya akan memanfaatkan reincarnasi untuk  mengumpulkan kridit point guna mendapatkan kebahagiaan abadi. Caranya: Tak mencedertai diri saya sendiri dan lingkungan saya, sebab keduanya adalah merupakan ciptaan Nya. Saya tak sanggup mengakses Tuhan YME secara langsung dengan mempersonifakisa Nya, tetapi saya sanggup mengakses ciptaan Nya baik lewat pancaindra, fikiran dan bathin, bahkan lewat paralogika. Saya berkesimpulan: tak satupun ciptaan Nya bersedia atau rela dicederai, karena dibekali kesadaran (consciousness). Ini adalah syarat minimal, tentu saja ada yang lain misalkan menggunakan kesempatan hidup untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan dan mewariskan kepada generasi sesudah saya sebab jika saya diizinkan  (ini bukti saya patuh dan pasrah diri sepenuhnya kepada Tuhan YME setelah saya berusha) untuk ber reincarnasi. Jika Tuhan YME mengisinkan saya untuk  bereincarnasi saya akan  ikut menikmati warisan saya dari kehidupan sebelumnya, bahkan jika perlu mengoreksi atau menyempurnakan.
Menurut Teori Paralogika, soul jauh lebih banyak dari energi. Manusia  adalah bagian dari living organisme pilihan yang sangat banyak peminatnya..  Jika ditelusuri maka jumlah organisme sangat kecil dibandingkan dengan soul, sehingga bagi soul sangatlah sulit untuk mendapatkan organisme, apalagi organisme manusia yang memiliki kemampuan memanfaatkan seluruh energi yang tersedia di alam semesta.
Soul ada yang pasrah dan taat pada Tuhan YME sehingga tak memaksakan diri untuk bereincarnasi atau menolak untuk bereincarnasi, karena keduanya termasuk dalam rencana Nya dan merupakan hak mutlak Nya.
Ada dua cara untuk dapat bereincarnasi:  a. Patuh pada kehendak Nya. b. Tak patuh pada kehendak NYa hingga harus berlaku sebagai spirit dengan memanfaatkan astral body.
Spirit memiliki energi hingga dapat melakukan reincarnasi atas kehendaknya sendiri. Secara matematis spirit peluangnya lebih besar untuk bereincarnasi dari soul yang patuh pada Tuhan YME. sebab memiliki pengalaman hidup sebelumnya dan memiliki energi. Tetapi ……. saya yakin bahwa soul yang masih dibutuhkan akan mendapatkan kesempatan bereincarnasi tanpa melalui spirit.
Saya berusaha patuh kepada Nya dengan cara berbuat yang bermanfaat bagi ciptaan Nya dan tak mencederai ciptaan Nya. Selanjutnya: saya serahkan segalanya kepada Nya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s