Waktu membedakan alam baka dan alam fana?

Pertanyaan: Saya telah lama menunggu penjelasan anda tentang Formula Supernatural Som Wyn, tetapi hingga saat ini anda belum menjelaskannya. Apa manfaat dari FSSW?
Jawaban: Formula Supernatural Modern E = -x + y, tak menyertakan dimensi waktu dan TM hanya menyatakan bahwa manusia hanya sanggup mengisi variable x dan y dengan nilai matematis sedangkan yang sanggup memberikan nilai sebenarnya hanyalah Tuhan YME.
Teori Minimalis juga menyatakan bahwa Tuhan YME bukanlah sekedar mencipta melainkan sebelum menciptakan alam semesta telah merencanakannya dengan seksama dan menyertakan hukum untuk mengaturnya, sehingga Dia tak perlu setiap saat “menciptakan” melainkan telah “mendelegasikan” sebagian kecil dari wewenang Nya kepada ciptaan Nya untuk mengurusi diri,jenis dan lingkungannya.
Berbeda dengan Alam Baka yang tak dibatasi oleh dimensi, maka universe mengenal adanya dimensi waktu sehingga semua isi alam semesta berubah sesuai dengan perjalanan waktu. Secara matematika x dan y adalah fungsi waktu yang selalu berubah sesuai dengan berjalanan waktu. Jadi Tuhan YME telah menjadikan waktu sebagai faktor peruhan x dan y sehingga tak setiap kali memberikan nilai x dan y.
Secara matematika dapat saya nyatakan x =  intergral f1(t) dt dan y = integral  f2(t) dt.  Formula itu tak sepenuhnya sesuai dengan formula matematika, sebab saya kesulitan dengan tanda-tanda matematika, misalnya tanda integral dan diferensial, serta menyatakan nilai batas fungsi yang diintegralkan.
FSWS menjadi  E = – f1(t) dt + f2(t) dt.
Pada saat x = y akan berlaku f1(t)dt = f2(t)dt.
Persamaan ini dapat digunakan untuk menjelaskan:
1. Jika f1 = f2 maka materi akan mengalami keseimbangan prima sepanjang waktu, tetapi jika f1 # f2 maka keseimbangan prima berlaku pada keadaan dimana intergal kedua fungsi itu memiliki harga sama, namun keseimbangan prima tak berlaku  untuk setiap nilai variable. Dalam hal ini materi sering kali bergoyah disekitar keseimbangan prima. Ambil contoh: sebuah atom netral dapat dianggap sebagi dalam kondisi keseimbangan prima, tetapi sering kali atom kekurangan electron atau kelebihan elektron sehingga saat itu atom tak dalam keseimbangan prima. Sepasang kutub magnit yang kutubnya sama dapat disebut sebagai dalam kondisi seimbang prima, medan magnetnya akan mengalami keseimbangan prima. Jika medan magnetnya digoyah, maka walau besarnya kedua kutubnya “mendekati sama”, namun kondisinya akan goyah, untuk kemudian kembali kepada kondisi seimbang prima atau
menyimpang dari keseimbangan primanya.
Karena materi tersusun dan energi fisika, maka materi tunduk pada hukum fisika. Saya mengembangkan FSM menjadi FSWS sekedar untuk “menyesuaikan” dengan hukum fisika pada saat x = y, atau E = 0 yang terkesan bertentangan satu dengan yang lain. Jadi  manfaat FSWS diantaranya untuk menegaskan bahwa x dan y berubah setiap saat tanpa setiap kali diberikan nilai tertentu  oleh Tuhan YME melainkan sesuai dengan proses alami  yang telah direncanakan oleh Tuhan YME.
8 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dianabagus
Add a Comment

   

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 9, ’10
Menrut FSSW energi adalah fungsi dari waktu, artinya jika delta t = 0 energi akan = 0. Jjika a1=a2 dan u1=u2, maka E=0 artinya materi yang mengisi Sub Alam Fisika menjadi tak memiliki energi, sedangkan jika a1#a2 atau u1#u2 maka E#0 seluruh body semu yang mengisi Sub Alam Semu tiada energi. Dalam kondisi ini alam semesta menjadi beku, bukan baka sebab masih memiliki dimensi waktu, ruang dan massa yang tak ada adalah energi karena energi merupakan fungsi waktu.
Itulah sebabnya saya sulit untuk memahami Teori Relativitas yang menyatakan waktu dapat diperpanjang, diperpendek bahkan dihentikan.
Comment deleted at the request of the author.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 8, ’10, edited on Jun 8, ’10
Jika waktu dapat dijadikan nol (seperti yang dinyatakan oleh teori relativitas Einstein , maka E tak lagi merupan fungsi waktu sehingga FSSW menjadi E = – a1*sin u1 + a2*sin u2.
a.Jika a1=a2 dan u1=u2 maka E akan selalu bernilai 0, artinya alam semesta hanya terisi benda yang tak memiliki energi, karena energi merupakan fungsi waktu.
b. Jika a1# a2, atau u1#u2 akan menyebabkan E#0 artinya alam semesta hanya terisi sesuatu yang semu dan tak memiliki energi.
Karena energi adalah fungsi dari waktu, maka waktu membedakan alam alam fana dan alam baka.
Energi merupakan fungsi waktu, sehingga energi hanya terdapat di alam semesta dan tak mungkin keluar dari alam semesta.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 6, ’10
FSSW menyatakan: E = -F1 + F2 dan F1 tersusun dari a1*sin (u1 + w1t) dan F2 tersusun dari a2*sin (u2 + w2t).
Jadi dilihat dari persamaan dasarnya E = – a1* sin (u1 +w1t) + a2*sin (u2 + w2t)
Jika a1 = a2, u1=u2 dan w1=w2 , maka E = 0, tetapi jika ada satu atau lebih yang tak sama maka tak akan tercapai keseimbangan prima.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan tidak tercapainya keseimbangan prima:
1. a1#a2
2. u1#u2
3. w1#w2
4. a1#a2 dan u1#u2
5. a1#a2 dan w1#w2
6. u1#u2 dan w1#w2
7. a1#a2,u1#u2 dan w1#w2.
Sulit untuk dikatakan ada kepastian urutan dari proses menuju keseimbangan prima dan mencari sebabnya mengapa urutan itu harus dilalui, oleh karena itu karena tak ada kepastian terjadinya urutan dan sebabnya mengapa harus demikian, maka boleh dikatakan dalam sub atomik maupun proses transien berlaku teori kebetulan, bukan teori kepastian sebagai yang dinyatakan oleh Einstein. Tetapi semuanya pasti telah termasuk dalam rencana Tuhan YME.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 6, ’10, edited on Jun 8, ’10
Perhatikan nilai a3,u3 dan w3.
1.a3= -a1+ a2, artinya amplidudo a3 > a, ini artinya amplitido energi semu > amplitude energi nyata. Perbedaan amplitudo energi semu ( x dan y) menyebabkan “melemahnya” keseimbangan/interaksi antara dua komponen pembentuk partikel.
2.u3= -u1+ u2, artinya sudut phasa energi semu (u3) > sudut phasa energi nyata (u). Perbedaan phasa dua pembentuk energi nyata menjadikan terbentuknya energi nyata hanya terjadi pada saat terjadi persamaan nilai x dan y. Sebagai contoh , jika perbedaan sudut phasa 90 derajad atau tak sama dengan 180 derajat , tiap panjang gelombang terjadi dua kali keseimbangan prima, jika beda sudut phasa 0 atau 180 derajad maka tak pernah terjadi keseimbangan prima.
Photon hanya muncul pada saat terjadi keseimbangan prima (walau hanya sesaat), jadi tat akan terjadi pada saat u3 =180 atau 0 (380).
Secara umum photon hanya muncul pada saat u3 = 2n*90 derajad. Photon tak akan muncul pada saat u3=2n*90 derajad, sehingga menyebabkan adanya cahaya yang kecepatannya melebeihi c, diluar itu kecepatan cahaya sama dengan c atau dibawah c.
3. w3= -w1+w2, atau f3= -f1 + f2, artinya kecepatan sudut atau frequansi energi semu (w3 atau f3) > kecepatan sudut atau frequensi emergi nyata. (w atau f)
Catatan w = 2pi*f =2*(22/7) *f
Pada saat -f1 + f2 atau delta f sangat kecil terjadilah layangan frekwensi (Intermediate Frequency) sehingga terjadilah Medium Trans Wave (MTW) yang amplitudo dan sudut phasa nya sama dengan frewensi STW.. Semakin kecil delta f semakin rendah frekwensi MTW dan juga STW. Saat f1 = f2 maka tak terjadi MTW maupun STW.
Namun harus diingat delta f adalah fungsi dari kedua frekwensi , semakin tinggi f1 dan f2 semakin besar nilai delta f, apalagi jika beda f1 dan f2 besar maka delta f juga besar, sehingga frekwensi STW dan STW juga semakin besar.
Penyesuaian kedua frekwensi ini dapat dicurigai sebagi proses peluluhan radio aktif.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 6, ’10, edited on Jun 8, ’10
Ini sekedar analisa minimalis jika F1#F2 atau E= – a1*sin (u1 + w1t) + a2*sin (u2 + w2t).
*1. Jika a1 # a2, tetapi u1=u2=u3, dan w1=w2=w3, tentukan a3= (-a1 + a2 ), maka akan didapat E= a3* sin (u3+ w3t).
Untuk a1 = a2 a3 = 0 hingga didapat E= 0, energi menjadi nyata, sedangkan jika a1#a2 energi menjadi semu yang mimiliki phasa dan frequensi sama dengan energi nyata yang akan terjadi jika energi semu tersebut mencapai keseimbasngan prima, tetapi amplitudonya merupakan selisih kedua pembentuknya.
*2. Jika u1 # u2, tetapi a1=a2=a3, dan w1=w2=w3 sedangkan u3=- u1 + u2 maka akan didapat E = -a3*sin{ (u3+u1) + w3t} + a3*sin {(u3-u2) + w3t) = a3 [- sin {(u3+u1) + w3t} + sin { (u3-u1) + w3t } ]. Energi semu memiliki amplitudo dan frequensi sama dengan energi nyata yang akan terjadi saat mengalami keseimbangan prima, tetapi sudut phasanya merupakan selisih dan jumlah dari sudut phasa komponennya.
*. Jika w1#w2, tetapi a1=a2=a3 dan u1=u2=u3 sedangkan w3 = -w1 + w2, akan didapat E = a3 { sin (u3 +w3t) + sin(u3 +w3t)}
Energi semu ini memiliki amplitudo dan phasa yang sama dengan energi nyata yang akan terjadi saat mengalami keseimbangan prima sedangkan

Dari analisa itu terbukti bahwa variasi dan kombinasi energi semu jauh lebih banyak dari energi nyata akibat adanya kombinasi dan variasi dari masing-masing energi yang belum dalam keseimbangan prima. Energi nyata hanya berbeda akibat adanya tiga dimensi dasar, yaitu amplitudo, sudut phasa dan frekwesi. Ketiga jenis energi semu dengan satu ketidak samaan komplementer saja telah terjadi tiga jenis energi semu (a3= selisih a1 edan a2, u3=selisih dan jumlah u1 dan u2, w3= selisih dan jumlah w2 dan w2). Ada ketidak samaan yang lain, misalnya jika yang tak sama dua komponennya, misalnya a1#a2 dan u1#u3 jadi yang sama hanya w1=w2……… dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Inilah yang menyebabkan teori dawai membutuhkan dimensi lain disamping tiga dimensi ruang dasar fisika yang terdiri dari satu dimensi waktu, satu dimensi massa, dan tiga dimensi ruang untuk menjelaskan fenomena sub atomik yang menjurus ke Sub Akam Transien.
Eintein menyatakan tak ada yang namanya kebetulan, segalanya pasti, tetapi itu hanya berlaku di Sub Alam Fisika, itupun hanya dalam sklala besar, sedangkan diskala kecil, misalnya dalam sub atomik, apalagi di Sub Alam Transien……….. tak mungkin diberlakukan hukum kepastian, karena kepastian itu merupakan rahasia Tuhan YME, manusia hanya sanggup mencari sebab akibat yang masih mungkin dilacak, jika tak mungkin lagi dapat dicari hubungan antara sebab dan akibat maka berlakulah hukum kebetulan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 5, ’10
Saya mengedid tulisan saya sebelum ini, agar dibaca ulang supaya anda dapat mengikuti tulisan saya sesudahnya mengenai fenomena F1#F2, sebab pada postet saya sebelumnya terdapat beberapa kesalahan. Kesalahan itu diantaranya diakibatkan kesulitan penggunaan notasi matematika.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 4, ’10, edited on Jun 5, ’10
Setiap fungsi yang kontinu dan memiliki nilai batas dapat diuraikan menjadi deret Fourrier yang berupa fungsi dasar, diantaranya fungsi sinusoidal. Jadi komponen dasar dari energi diperkirakan merupakan gelombang sinusoidal akibat perubahan mono pole Weber sebagai fungsi waktu.. Komponen itu adalah: F(t) = a*sin (u + wt) dimana a = amplitudo, u = sudut fasa dan w = kecepatan sudut.
Untuk patikel yang memiliki massa berlaku intergral F1(t)dt = integral F2(t) dalam suatu nilai batas t1ke t2, jika F1 = a1* sin (u1 +w1t) dan F2(t) = a2* sin (u2 + w2t) maka haruslah : a1* sin (u1 + w1t} = a2* sin (u2 + w2t).
Dalam alam semesta setiap saat terjadi perubahan diantara energi semu dan energi nyata akibat berjalanannya waktu.
a. Agar energi fisik selalu dalam keadaan sangat stabil (misalnya inti atom): maka menurut fisika dibutuhkan gaya yang sangat kuat diantara komponen pembentuknya, menurut TM hal ini disebabkan F1 selalu sama dengan F2, (a1=a2, u1=u2, w1=w2.) , sehingga gaya tarik gravitasi (gaya tarik massa) memegang peran sangat penting dalam pembentukan inti atom.
b. Jika a1# a2 , misalnya pada massa dengan quanta lebih tinggi dengan berbagai nilai a (misalnya dalam pembentukan atom) dibutuhkan gaya tarik atara komponen pembentuknya misalnya gaya tarik tarik muatan listrik atau gaya tarik magnet yang tak sekuat jika F1=F2 dan terjadi akibat perbedaan muatan listrik atau perbedaan kutub magnet.
c.Jika u1# u2 maka terjadinya gelombang electro magnetik acak/sesukanya , dan agar dapat menjadi teratur dibutuhkan interaksi elekto magnet.
d.Jika w1 # w2 akan terjadi kekacauan atau chaos dalam sub atomik dan untuk dapat kembali dalam posisi w1=w2 dibutuhkan waktu lama untuk proses penyesuaian (sinkronisasi) agar w1 menjadi sama dengan w2..

Karena Teori Minimalis sekedar informatika, maka kebenarannya dapat diuji dengan teori yang lain yang telah diakui sebagai teori saint.
Formula Supernatural Som Wyn adalah upaya untuk mencari hubungan antara TM dengan saint dalam kedaan energi nyata.
Sebenarnya TM juga berhubungan dengan energi semu, tetapi sebelum manusia sanggup mengakses spirit, maka akan bernuansa sebagi ilmu klenik karena tak mungkin diilmiahkan.
Lain waktu saya akan menganalisa fenomena dasar saat F1#F2 atau E = – a1* sin (u1+ w1t) + a2*sin (u2 + w2t). yang harus diatasi oleh mekanisme fisika secara alami (natural) agar tetap dapat “bertahan” sebagai energi nyata, Sebenarnya fenomena F1#F2 sudah memasuki fenomena Sub Alam Transien yang termasuk dalam supernatural, namun masih mungkin didekati secara matematis.

Ibnu Somowiyono

Your father-in-law
Yogyakarta, DIY , Indonesia

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s