Apa bedanya magic, sulapan dan akal-akalan?

Pertanyaan: Saya sering dibuat terperangah saat menonton tayangan di TV yang bagaikan “mimpi” dan sulit untuk dipercaya dapat terjadi dan dapat saya saksikan dengan  pancaindra (khususnya mata). Apakah saya termasuk orang yang memiliki paralogika negatip?
Jawaban: Saya ucapkan terima kasih karena anda telah memperhatikan tulisan saya dan teori paralogika sehingga anda menggunakan istilah kemampuan paralogika yang sejalan dengan teori saya.
Kemampuan para logika adalah kemampuan untuk memilah sesuatu fenomena yang rationil dan irrationil, semu dan nyata serta valid dan invalid. Anda menyadari fenomena yang anda tonton di TV bukannya mimpi, atau dalam keadaan  tak sadarkan diri, jadi menurut saya kemampuan paralogika anda belum tergolong negatip. Tayangan di TV dapat disaksikan lewat mata dalam keadaan sadar sedangkan mimpi tak mungkin terakses oleh mata. Bukan kemampuan paralogika anda yang menjadikan anda terperangah melainkan kecanggihan “magic body rasional” hasil rekayasa  manusia lewat tehnologi informatika.
Anda pasti dapat membedakan seorang gila yang berbicara sendirian dengan mereka yang sedang “berbicara” lewat HP. Kemampuan para logika anda  dapat termasuk positip atau negatip. Ini dapat diuji  seseorang  atau bahkan anda sendiri berbicara sendiri tanpa pendengar dan anda anggap berbicara dengan setan/makluk halus tanpa peralatan fisik (HP)?
Yang berbicara sendiri dapat juga bukan sedang berbicara dengan setan alias sinthing, misalnya seorang penyiar radio atau TV.
Jadi sebenarnya kita bukan hanya dibingungkan oleh tayangan TV, melainkan dalam kehidupan sehari-hari banyak kita saksikan hal-hal yang sepintas tak masuk akal, namun karena telah biasa kita jumpai, maka tak membuat kita terperangah. Banyak orang yang tak peduli dengan kemampuan para logika sehingga tak pertlu  membedakan antara yang rational dengan yang rasional, yang semu dan yang nyata apalagi yang valid dan yang tak valid atau invalid. Ada ungkapan : Emangnya gue pikirin!
Saat ini kehidupan manusia telah sangat komplek, masing-masing “terpaksa” membatasi diri pada “dunianya” sehingga tak peduli dengan sesuatu yang “memosingkan” karena dianggap tak ada manfaat bagi kehidupannya, padahal mereka  ikut menikmati namun sekedar sebagai “pengguna”(user) dan mengandalkan orang lain untuk untuk melakukan apa yang dianggap sulit untuk dilakukan sendiri, sehingga ada istilah gatek (gagap tehnologi). Mereka inilah yang cenderung untuk mempertumpul kemampuan para logikanya.
Anda termasuk orang yang beruntung karena berani mempertanyakan kemampuan anda dalam bidang para logika.
Ada ungkapan : Aja gumunan dan gampang percaya nanging ya aja gampang maido sing ora/durung kok ngerteni.
Tayangan di TV termasuk dalam fenomena maya, sangat berlainan dengan fenomena semu. Fenomena maya dapat diakses lewat pancaindra dengan menggunakan magic body rasional, misalnya TV, internet, radio,Hp dan lain-lainnya yang memanfaatkan tehnolgi informatika sedangkan fenomena semu hanya dapat terakses lewat bathin dan fikiran. Dahulu terdapat sarana magic body irrasional, misalnya bola sihir, kaca paesan, suara gaib, mediator,  dfl, yang saat ini tak populer lagi.
Magic adalah sesuatu yang “aneh” dan menjadikan sesuatu yang mustahil dapat terjadi bagi mereka yang tak “mengetahui” bagaimana hal itu dapat terjadi. Jadi. sebenarnya tayangan di TV, internet,Hp  termasuk dalam magic bagi yang tak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi, sama seperti fenomena santet, gendam, kesurupan. Karena saat ini budaya materialisme lebih menonjol dari budaya semu, maka TV,internet,Hp sudah dianggap tidak aneh lagi, yang aneh adalah tayangan lewat TV, internet dan HP. Mengapa? Orang tak sadar bahwa semua itu hanyalah akal-akalan atau trik.
Sulap juga merupakan akal-akalan manusia, namun lebih sulid dilakukan dihadapan penontonnya secara langsung, bukan lewat magig body rasional. Ada baiknya anda nonton tayangan lewat Global TV setiap malam, Senin hingga Kamis yang mengungkapkan perihal Magic, yang “menelanjangi” trik-trik sulap. dan “pengelabuan” ilusi.
Jika anda ingin”terperangah” cobalah saksikan film Hery Porter.

 

4 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 14, ’10
TV menayangkan rekaman atau sajian secara langsung (live). Kelebihan rekaman adalah sangat mudah dimanipulasi/ direkayasa sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang maha aneh dan tak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Sering kali orang tak dapat membedakan antara “tayangan TV” dengan “mimpi”, fenomena ini dapat dianggap “tersihir” oleh trik si pembuat tayangan. Bagi mereka yang kemampuan paralogikanya negatip menganggap tayangan itu benar-benar terjadi atau sungguhan sihingga dapat membahayakan kesehatan jiwanya. Lain halnya bagi mereka yang memiliki kemampuan para logika positip, justru dapat merupakan masukan untuk lebih meningkatkan kemampuan para logikanya.
Bedanya antara mimpi dengan tayangan TV adalah: “korban” mimpi sungguhan sangat sulit menghentikan apa yang sedang dialami, sedangkan “korban” tayangan boleh/dapat memilih untuk menghentikanm “mimpui” atau melanjutkannya.

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on Jul 14, ’10
Saya sekarang tambah malas kalau nonton TV…kecuali tayangan dokumenter flora dan fauna serta seni budaya tradisi. 🙂

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 15, ’10
Benar sekali kita telah dibekali oleh Tuhan YME untuk menjaga diri sendiri, jenis/keluarga dan lingkungan kita sehingga kita diizinkan untuk memilih yang kita butuhkan dan memnghindari atau membuang yang tak kita butuhkan apalagi yang mencederai/merugikan diri. jenis/keluarga dan lingkungan kita. Tayangan TV dan informasi lewat internet dan berbagai media komunikasi/informatika dapat kita pilih jadi marilah kita manfaat anugrah Nya tanpa mermaksakan kehendak kita kepada orang lain, sebab kebutuhan dan daya tahan kita terhadap sarana informasi/hiburan masing-masing berbeda. Yang tak bermanfaat bagi kita mungkin dibutuhkan oleh orang lain.

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on Jul 15, ’10
Iya, benar pak..semoga apa yang kita dapat bermanfaat. Tfs..:)
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s