Apa bedanya takdir dan nasib?

Pertanyaan: Anda menyatakan bahwa Tuhan YME memberikan kesempatan kepada setiap ciptaan Nya (termasuk manusia) untuk memilih. Semua pasti memilih sesuai dengan keinginannya, tak mau menerima yang tak sesuai dengan keinginannya. Kenyataan dalam hidup ini banyak manusia yang “menderita” atau tak dapat kesempatan untuk memilih. Bagaimana anda menjelaskan “kesempatan yang diberikan Tuhan YME untuk memili” yang bertentangan dengan kenyataan. Apakah Tuhan YME tidak adil atau dia bertindak semaunya?
Jawaban: Harus dibedakan antara takdir dengan nasib. Ada ungkapan: Tuhan YME tak akan merubah nasih seseorang jika orang itu tak berusaha merubah nasibnya. Jadi manusia diberi kesempatan untuk memilih akan  merubah nasibnya atau menerima nasibnya tanpa berusaha merubah nasibnya.
Nasib seseorang termasuk dalam variable y (pilihannya sendiri), namun variable yang lain ikut menentukan, yaitu variable x ( faktor diluar manusia dan dipengaruhi/ditentukan oleh lingkungannya) dan n variable z yang diluar kemampuan manusia dan lingkungannya.  Variable z inilah yang dinamakan takdir yang sepenuhnya berada ditangan Nya.
Sebelum sampai pada variable z seharusnya kita terlebih dulu mempelajari variable y dan x dan E= – x + y.
Menurut teori paralogika manusia hidup memiliki organisme dan spirit atau soul.
Pada saat dilahirkan manusia telah “membawa” nasib masing-masing. Bagi yang bernasib buruk masih punya kesempatan untuk merubah nasihnya, bagi yang bernasib baik dapat berubah menjadi buruk jika tak sanggup “memanfaatkan” nasib baiknya. Ada yang berkeyakinan  nasib itu ditentukan sepenuhnya oleh Nya, walau  akan terkesan tidak adil. Reaita membuktikan merubah nasib itu tak semudah membalikkan tangan, atau menantikan mujijad.
Menurut saya justru sesuau yang didapat sebagai hasil perjuangan jauh lebih besar nikmatnya dari yang didapatkan dengan tanpa perjuangan. Sebailknya jika perjuangan itu sia-sia siapa yang harus kita persalahkan?
Menurut teori paralogika: ada dua jenis living organisme, yaitu whiteblank body yang sepenuhnya taat kepada kehendak Nya dan reincarnated body yang memilih jalan hidupnya sendiri.
White blank body tak dapat “dipersalahkan” atau memikul akibat dari perbuatannya sepanjang perbuatan itu bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Nya. Dengan “ketakwaannya” white blank body akan selalu berusaha “membersihkan “diri dari kotoran kehidupan sehingga akan sanggup menghadapi “keberuntungan” dan “kesengsaraan” karena sepenuhnya menerima takdir. Walau demikian mereka diberi kesempatan untuk merubah nasibnya, boleh dimanfaatkan atau dibiarkan berlalu.
Reincarnated body harus menanggung setiap perbuatannya karena semua dilakukan atas kehendaknya sendiri. Reincarnated body memiliki kemampuan untuk bereincarnasi. Pada saat melalukan reincarnasi inilah dia mempertaruhkan pilihannya. Dari kehidupan sebelumnya dia telah “membawa” pengalaman hidupnya. Spirit dapat dimodelkan sebagi user. Setiap user akan memilih komputer yang sesuai dengan kebutuhannya. Bedanya spirit tak sekedar memanfaatkan organisme yang telah siap pakai, melainkan ikut “membentuk” dan menumbuhkan baru. Pengalaman pada kehidupan sebelumnya sangat menentukan pilihan dan penumbuhan organisme yang dimanfaatkan.
Reincarnated body tak sekedar menerima takdir melainkan ikut menentukan takdirnya. Jadi dalam hal ini Tuhan YME tak menentukan takdir  reincarnated body melainkan spirit sendirilah yang memilih takdirnya. Takdir ini dibawa dari kehidupan sebelumnya dan dibawa kekehidupan sesudahnya.
Penjelasan ini bukan “mengurangi” kebesaran Nya melainkan justru menguatkan bahwa Tuhan YME konsisten untuk mengizikan setiap ciptaan Nya untuk memilih: patuh atau ingkar.
Yang patuh akan mendapatkan kemudahan dan kekuatan dalam menghadapi realita kehidupan, yang ingkar harus mempertanggung jawabkan pilihannya sendiri. Tuhan YME memberi kesempatan kepada reincarnated body untuk melakujkan reincarnasi, suatu bukti bahwa Dia tetap memberi kesempatan untuk “memperbaiki” perilakunya atau semakin memperburuk” perilakunya.
Semoga penjelasan saya atas statement saya yang menyatakan Tuhan YME memberikan kesempatan untuk memilih dapat memuaskan anda.
6 CommentsChronological   Reverse   Threaded

savikovic
savikovic wrote on Jul 24, ’10
Menurut saya taqdir yang ditentukan Tuhan itu ada banyak, dan kita tinggal memilih salah satu. Tuhan menentukan berbagai macam jalan yang bisa dipilih, masing-masing dengan goresan taqdir yang berbeda-beda hasilnya.

Bila ada yang berpendapat bahwa Tuhan menentukan taqdir seseorang secara spesifik, dalam artian Tuhan menentukan satu taqdir saja bagi seseorang, itu artinya Tuhan tahu taqdir apa yang akan didapat orang itu berdasar jalan yang dia pilih dari banyaknya pilihan yang telah dibuat oleh Tuhan. Atau Tuhan tahu bahwa lingkungan orang itu (dan berbagai macam faktor lain) mendukung untuk terjadinya taqdir tersebut.

Pengaruh yang menentukan taqdir yang terjadi juga bisa ditentukan dengan campur tangan Tuhan, tapi tidak sepenuhnya. Dan ini dilakukan olehNya karena Dia sayang kepada hambanya itu. Misal usaha seseorang yang ingin menjadi kaya, tapi tidak pernah berhasil, mungkin saja Tuhan tidak ingin orang itu menjadi sombong.

Walhasil, seharusnya setiap doa kita akan selalu dijawab olehNya bukan? hehehe
Entah itu dijawab YA, TIDAK, atau NANTI
Begitu juga dengan usaha kita

tough2slf
tough2slf wrote on Jul 24, ’10
Bravo savikovic

Menurut hemat saya maka pertanyaan tersebut dapat dikelompokkan dalam “wrong question…yang dapat berakibat kepada ….wrong answer”…

Hanya YME yang dapat memberi jawaban yang benar

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 24, ’10
savikovic wrote on Jul 23
Menurut saya taqdir yang ditentukan Tuhan itu ada banyak, dan kita tinggal memilih salah satu. Tuhan menentukan berbagai macam jalan yang bisa dipilih, masing-masing dengan goresan taqdir yang berbeda-beda hasilnya.

ibnu
Jadi kita sependapat: Tuhan YME memberikan kesempatan untuk memilih, bukan bersifat otoriter, pilihan itulah yang akan menentukan takdirnya.

savikovic
Bila ada yang berpendapat bahwa Tuhan menentukan taqdir seseorang secara spesifik, dalam artian Tuhan menentukan satu taqdir saja bagi seseorang, itu artinya Tuhan tahu taqdir apa yang akan didapat orang itu berdasar jalan yang dia pilih dari banyaknya pilihan yang telah dibuat oleh Tuhan. Atau Tuhan tahu bahwa lingkungan orang itu (dan berbagai macam faktor lain) mendukung untuk terjadinya taqdir tersebut.

ibnu:
Saya sependapat karena Tuhan YME mengetahui segalanya sehingga telah “menyediakan” takdir bagi setiap manusia berdasar pilhannya. Kita juga sependapat bahwa disamping faktor yang ada pada diri seseorang faktor lingkungan dan yang lain ikut menentukan takdir seseorang. Namun ada ungkapan bahwa: Tuhan YME tak akan merubah nasib seseorang jika orang itu tak berusaha menubah nasibnya, jadi Tuhan masih memberi kesempatan bagi seseorang untuk merubah nasibnya.
Apakah Dia juga akan menggantikan takdir yang telah disediakan untuknya?”
Lalu apakah bedanya antara nasib dengan takdir?

kavikovic:
Pengaruh yang menentukan taqdir yang terjadi juga bisa ditentukan dengan campur tangan Tuhan, tapi tidak sepenuhnya. Dan ini dilakukan olehNya karena Dia sayang kepada hambanya itu. Misal usaha seseorang yang ingin menjadi kaya, tapi tidak pernah berhasil, mungkin saja Tuhan tidak ingin orang itu menjadi sombong.

ibu:
Campur tangan Tuhan YME termasuk pada variable z dan menurut saya paling menentukan. Banyak orang yang berusaha merubah nasibnya, tetapi “kelihatannya” sia-sia. Banyak bayi yang dilahirkan dalam keadaan yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Yang satu bagaikan “disorga” yang lain bagaikan di “neraka”. Apakah Tuhan YME telah “menggariskan” yang bernasib buruk dan tak dapat mengubah nasibnya itu akan menjadi sombong dan takabur jika diberi/diubah nasibnya menjadi baik?”
Jika saya boleh menjawab: Hidup didunia ini hanya sekejab, jadi penderitaan dan kesenangan hidup didunia fana ini hanyalah sekejab, Tuhan YME menyediakan kehidupan abadi bagi yang mempercayainya.

savikovic:
Walhasil, seharusnya setiap doa kita akan selalu dijawab olehNya bukan? hehehe
Entah itu dijawab YA, TIDAK, atau NANTI
Begitu juga dengan usaha kita.

ibnu:
Bukan seharusnya, tetapi setiap doa pasti akan dijawab sepanjang doa itu diikuti oleh usaha dan tak sekedar menantikan mujijad tanpa melakukan usaha. Antara doa dan usaha sangat erat kaitannya. Baik doa maupun usaha belum tentu segera mendapatkan jawaban, perlu “kesabaran”.

tough2slf;
Menurut hemat saya maka pertanyaan tersebut dapat dikelompokkan dalam “wrong question…yang dapat berakibat kepada ….wrong answer”..

ibnu:
menurut saya pertanyaan itu tidak salah, karena mengkritisi tulisan saya yang menyatakan bahwa Tuhan YME memberi kesempatan untuk memilih……………….
Kalau boleh memilih maka pasti pilihannya sesuai dengan keinginannya. Setiap manusia masti memilih hidup senang dari pada hidup susah. Pertanyaan yang berbunyi: Apakah Tuhan tidak adil dan bertindak semaunya? Justru menunjukkan si penanya meragukan keberadaan dan kebesarannya. Mengapa: Jika Tuhan YME adil mengapa didunia ini banyak manusia yang tak dapat memilih sehingga menyerah pada takdir atau nasibnya.
Saya berusaha menjawab sesuai dengan keyakinan saya sehingga belum tentu sesuai dengan keyakinan si penanya. Jadi yang salah bukan pertanyaannya melainkan jawabannya karena tak sesuai dengan jawaban yang diinginkan orang yang bertanya. Untuk ini saya memohon maaf sebesar-besarnya.

tough2slf
tough2slf wrote on Jul 25, ’10
Betul manusia dapat memilih akan tetapi belum tentu pilihannya akan dikabulkan oleh yang YME

Jangan lupa bahwa dalam hal ini otoritas atau hak prerogative ada ditangan YME —–> menolak/mengabulkan permintaan anda

Anda tidak perlu meminta atau bertanya….apabila itu menurut YME telah menjadi hak anda…..jadilah….

Menurut hemat saya lebih baik menghindari pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh YME karena akan mengarah ke KLENIK saja

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 27, ’10
Menurut saya nasih telah menyertai saat manusia dilahirkan, ada yang dilahirkan dalam keadaan berlebihan ada yang dilahirkan dalam kekurangan. Ada agama yang meyakini adanya kharma dan reinkarnasi, ini bukan klenik melainkan keyakinan, dengan meyakini adanya karma maka nasib bukannya sepenuhnya ditentukan atas kehendak Nya semata, melainkan akibat dari kehidupan massa lalu.dan “pilihan saat akan dilahirkan”. Nasib dapat diubah dengan usaha (merubah atau memperbaiki) dengan memanfaatkan hidup yang diberikan oleh Nya. Setelah berusaha memperbaiki nasib maka “diakhiri” dengan takdir pada akhir hidup seseorang.
Bagi yang tak meyakui adanya reinkarnasi dan meyakini kesempatan hidup hanya sekali takdir harus disikapi dengan keyakinan bahwa Tuhan menyediakan/menjanjikan kehidupan abadi, kebahagian abadi dan kesengsaraan abadi akan menjadikan white blank body berusaha memanfaatkan hidupnya dengan takwa kepada Nya sebab akan membawanya ke kebahagiaan abadi. Bertanya sesuatu yang hanya dapat dijawab oleh Tuhan YME bukan termasuk meragukan keberadaan dan kebesaran Nya, sebab manusia dikaruniai batin dan fikiran disamping panca indra. Jika ada manusia yang mencoba menjabawnya bukannya dia melakukan klenik, tergantung bagaimana jawaban itu, jadi belum tentu melakukan klenik, bahkan banyak yang dapat memberikan pencerahan.
Dalam kehidupan ini memang banyak yang perlu dipertanyakan agar manusia semakin cerdas. Jika kita jujur keyakinan dan agama juga berusaha memberikan jawaban yang seharusnya hanya dapat dijawab oleh Nya. Namun sering kali “jawaban” itu tak sesuai yang dikendaki oleh si penanya.

tough2slf
tough2slf wrote on Jul 27, ’10

ada yang dilahirkan dalam keadaan berlebihan ada yang dilahirkan dalam kekurangan. Ada agama yang meyakini adanya kharma dan reinkarnasi, ini bukan klenik melainkan keyakinan, dengan meyakini adanya karma maka nasib bukannya sepenuhnya ditentuka 

Setuju…..kalau perihal nasib maka mau tidak mau kembali ke formula Einstein E=Mc2 …seberapa besarkah usaha anda untuk memperbaiki nasib dengan menambah “pengetahuan (M) serta mencari “cara secepat cepatnya (C)” untuk memperoleh/mewujudkan impian anda

Pengetahuan disini bersifat logis (masuk akal) dan terukur (dapat dicapai)

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s