Ramalan mana yang lebih unggul. gurita, unta atau manusia?

Pertanyaan: Andaikata Spanyol menang ramalah seekor gurita akan “menjadikan bukti” kemampuannya  “meramal” si kaki lima,  sebaliknya jika Belanda yang menang maka ramalan si leher panjang (unta) memjadi benar. Ada lagi ramalan manusia yang telah ditulis dan disimpan dalam “kotak ajaib” yang akan dibuka dan diambil ramalan yang telah dituliskan sebelumnya, pengambilan dilakukan setelah kejadiannya. Mana yang lebih unggul dan pasti tepat?
Jawaban: Harus dibedakan antara ramalan, prediksi dan akal-akalan. Hanya manusia yang memiliki kemampuan untuk memprediksikan  dan akal-akalan, sedang binatang tak mungkin melakukannya, namun binatang memiliki kemampuan insting yang tajam hingga sanggup “merasakan” pengaruh lingkungan sehingga dalam beberapa hal binatang sanggup “bereaksi lebih cepat” atas perubahan lingkungan dan secara automatis (tanpa difikir) melakukan tindakan yang”seakan mengetahui kejadian yang akan terjadi”.  Itulah kebesaran Tuhan YME, memberikan sinyal agar mereka dapat menyelamatkan diri. Kemampuan itu bukanlah kemampuan meramal, memprediksi apalagi akal-akalan, melainkan “kepatuham” terhadap “perintah” Tuhan YME melalui lingkungan mereka. Lain halnya manusia dapat memanfaatkan fikirannya untuk melakukan akal-akalan.
Baik gurita, unta, burung………………. yang dikatakan dapat peramal adalah sekedar alat manusia untuk melakukan akal-akalan.
Ambil contoh: “Burung tukang ramal” telah dilatih oleh “juru ramal” untuk melalukan “perintah” ajikannya, begitu juga gurita dan unta.  Tak seorangpun sanggup meramal sesuatu yang akan terjadi, namun masih mungkin memprediksikan, apalagi main akal-akalam. “Ramalan” gurita yang terbukti benar menunjukkan “majikan” gurita atau manusia yang memanfaatkan gurita tujuannya untuk “meyakinkan”  mereka yang memiliki paralogika “positip” dan tak  percaya lagi bahwa manusia sanggup meramal/memprediksikan karena manusia suka melakukan akal/akalan (misalnya sulap atau magig) dan menganggap binatang lebih jujur dalam meramal ( mereka tertejerumus dalam sensasi atau sekedar iseng), jadi binatang dimanfaatkan untuk menutupi “kebohongan” ramalan/prediksi tukang akal-akalan.
Apakah anda percaya akal-akalan manusia dengan “menaruh” ramalan dalam kotak ajaib yang akan dibuka setelah kejadian berlangsung? Itu hak anda! Saya tetap tak percaya pada “akal-akalan” itu, tetapi saya acungi jempol pada yang melakukannya sehingga sanggup meyakinkan publik. Mengapa? Bola adalah bulat! Mereka yang bermain bola semuanya “ahli” dalam mempermainkan bola, itu yang saya sebut dengan faktor y yang masih mungkin diprediksikan. Tetapi terdapat faktor x yang sulit diprediksikan walau masih mungkin diprediksikan bagi mereka yang selalu mengikuti perkembangan persepak bolaan dunia. Faktor lainnya adalah faktor z yang tak mungkin diketahui, apalagi diprediksikan, apalagi diramalkan.
1 CommentChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 13, ’10
Sudah terbukti “ramalan” gurita benar, bukan hanya sekali,melainkan lima kali. Ini perlu “diwaspadai” sebab dapat dimanfaatkan oleh “para juru ramal” untuk kepentingan yang “menyesatkan”.
Gurita mungkin saja memiliki insting atau naluri untuk menyelamatkan diri jika bahaya mengancam kelangsungan hidupnya, misalnya akan terjadinya bencana alam. Manusia mengandalkan otak dan tehnologi untuk memprediksi akan terjadinya bencana alam, binatang tak sanggup berfikir sehingga harus memanfaatkan kemampuan lainnya, yaitu kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Dalam menghadapi bencana alam manusia sering terlambat dalam mengantisipasi justru karena manusia harus berfikir dan mengandalkan peralatan fisiknya (hasil tehnologi). Instink erat kaitannya dengan reflek, jadi sebenarnya manusia juga dianugerahi instink dan sanggup melakukan gerakan reflek, tetapi karena sebelum melakukan sesuatu manusia biasanya berfikir dulu dan mempertimbangkan untung ruginya, misalnya sudah tahu akan dilanda banjir, tetapi karena jika “menghindari” banjir dengan meninggalkan rumahnya yang akan dilanda banjir, maka “kekayaanya” akan dijarah, maka memilih tetap “menjaga” rumahnya.
Binatang yang “di kendalikan” atau di perbudak oleh manusia akan kehilangan kepekaan instingnya, mereka melakukan sesuatu agar memperoleh imbalan dari majikannya. Jadi gurita melakukan “ramalan” bukan untuk menyelamatkan dirinya dari bencana yang akan menimpanya, melainkan sekedar untuk mendapatkan “hadiah” dari majikannya. Pelatih/pemiliknya kadang-kadang bertindak kejam, jika tak menuruti perintahnya akan menerima hukuman. Instink akan bergeser kearah naluri, naluri menghindari kesulitan untuk mendapat kenikmatan.
Saya acungi jempol kepada pelatih gurita yang sanggup memprediksikan secara benar hasil pertandingan Piala Dunia. Merekalah yang sanggup mengarahkan binatang berbelalai/berkaki lima ini. Untuk memprediksikan hasil suatu pertandingan dibutuhkan kejelian dan pengumpulan data kemampuan masing-masing yang akan berhadapan. Yang sering “menyesatkan” adalah keberpihakan pada salah satu fihak, entah atas dasar emosional mapun pemikiran memperoleh manfaat (misalnya bertaruh). Untuk memprediksikan sesuatu kita harus mengumpulkan data-data secara objektif, mengolahnya secara benar dan jujur, mengambil kesimpulan dengan memperhatikan teori kesempatan (probabilitas), meyakini akan kebenaran prediksinya.
Jadi: walaupun “ramalan” gurita benar. janganlah beranggapan “ramalan” binatang lebih unggul dari “prediksi” atau akal-akalan manusia.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s