Tak benar jika ada cahaya yang kecepatannya melebihi c.

Pertanyaan: Menurut anda photon  menyebabkan kecepatan cahaya dibawah c. Dalam tulisan yang berjudul “Waktu membedakan alam fana dan alam baka?” anda menyatakan saat beda sudut u = 0, 180 dan  2n*90 tak terjadi photon. Menurut saya justru pada saat itu E=0 saat a1=a2=0. Menurut analisa yang saya lakukan:  dua gelombang sinusodal y= a1* sin (u1 +w1t) dan x = a2* sin (u2 + w2t) selalu terdapat nilai y=x, hal ini dapat lebih jelas jika kita amati lewat kedua grafiknya. Atas dasar itu maka photon akan selalu timbul sehingga memang benar bahwa c merupakan kecepatan tertinggi dari gelombang electro magnetik.
Jawaban: Terima kasih atas koreksi anda. Anda benar bahwa dua grafik sinusiodal yang bergoyang diantara  satu garis lurus yang sama atau garis yang ordinatnya (sumbu datarnya) sama pasti terjadi persilangan antara kedua grafik sinusoidal.
Grafik sinusoidal merupakan projeksi dari sebuah titik yang mengelingi pusat koordinat (x1,y1) pada satu sumbu (sumbu vertikal atau garis x=x1) yang melalui pusat koordinat itu, dengan kecepatan sudutnya tetap.  Jika sumbu lainnya (sumbu horisontal) dijadikan koordinat waktu maka akan terjadilah grafik sinusoidal hasil projeksi tersebut.
Jika terdapat dua titik dengan pusat sama (misalnya titik A dan titik B, maka dapat dibuat grafik sinusoidal a = a*sin (u1 + w2t) dan  b = b* sin (u2 + w2) . Kedua grafik ini pasti perpotongan, jadi analisa anda benar untuk dua titik yang berpusat sama. Bagaimana jika pusatnya berbeda?
Menurut saya: perpotongan grafik tak akan terjadi jika jarak vertikal dua titik pusatnya lebih besar dari jumlah  kedua jari-jari atau jumlah kedua amplitudo kedua grafik sinusoidal.
Dengan jawaban ini saya mengoreksi analisa saya yang menyatakan photon tak muncul jika delta u= 2n*90 derajad, melainkan photon tak akan muncul jika jarak dua titik pusat keseimbangan prima lebih besar dari amplitudo osilasi kedua gelombang energi semu.
Penjelasan saya ini sebagai bukti adanya cahaya yang kecepatannya melebihi c, yaitu cahaya yang tak menghasilkan photon, contonya tachyon.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 11, ’10, edited on Jun 11, ’10
Kembali ke FSM: E = – x + y , jika x = y maka terjadilah massa/materi. Grafik E = – x + y merupakan garis lurus melewati titik (x0.y0) atau titik (0.0) atau titik E=0. Diluar garis x=y atau y=x tak mungkin terdapat nilai x=y.
Titik yang berada digaris x=y dapat berlaku sebagai titik pusat keseimbangan getaran sinusoidal dengan sumbu y sebagai simpangan dan sumbu x sebagai urutan waktu.
Dua gelombang sinusoidal yang memiliki pusat satu titik keseimbangan grafiknya pasti saling berpotongan pada suatu saat ( t ) tertentu, pada saat inilah timbul photon. Getaran sinusoidal yang berbeda pusatnya, misalnya titik A(x1.y1) dan B(y1.x1) walau keduanya terletak pada garis x=y (garis keseimbangan) belum tentu grafiknya saling berpotongan, tergantung dari besar amplitudo getaran sinusoidal (a1 dan a2) dan jarak ordinat A dan B ( segmen AB diukur pada sumbu y ,bukan pada garis x=y melainkan pada garis x=0) yang disebut deviasi (d). Perpotongan grafik hanya terjadi kalau d < a1 + a2. Catatan: deviasi adalah jarak segmen garis AB yang diukurkan pada sumbu y, jadi bukan segmen AB yang diukurkan pada garis x=y.
Kesimpulan: photon hanya terjadi saat d < a1 + a2 dimana. Catatan deviasi (d) adalah pergeseran titik ordinat keseimbangan.
Jika Teori Minimalis benar, cahaya kecepatannya dibawah c akibat dari timbulnya photon, maka dapat dibuktikan adanya cahaya yang kecepatannya melebihi c.
Teori Minimalis tak menyangkal Teori Relativitas melainkan melengkapi agar kita dapat terangsang untuk mempelajari Sub Alam Transien dimana ada sarana telekomunikasi yang jauh lebih cepat dari menggunakan gelombang pembawa berupa gelombang elektromagnet atau cahaya yang kecepatannya terbatas, dibawah c. Atas dasar ini kita dapat membayangkan/mengemaginasikan bagaimana galaksi yang satu dengan yang lain yang jaraknya jutaan,milyartan bahkan billiunan tahun cahaya dapat melakukan interaksi dengan super cepat sehingga alam semesta menjadi cosmos. Tanpa adanya sarana komunikasi yang sangat cepat mustahil bagian alam semesta yang sangat luas ini dapat saling “terhubung” dalam waktu yang bersamaan hingga sinkron, tak berjadi chaos.
Dengan Teori Minimalis kita tak akan heran pada fenomena UFO dan Elien serta mendapatkan informasi atas fenomena gaib, metafisika dan fenomena transien yang tak mungkin dapat dijelaskan dengan Teori Relativitas dan mekanika quantum.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 11, ’10, edited on Jun 11, ’10
Dari analisa diatas ada tiga kemungkinan:
d < a1+ a2, akan terdapat dua titik potong grafik sinosoidal.
d = a1+ a2, paling banyak hanya terdapat satu titik singgung antara dua grafik sinusoidal.
d< a1+ a2, tak terjadi perpotongan maupun persinggungan antara dua grafik sinusoidal.

Pada kurun waktu yang sama jumlah titik perportongan antau titik persinggungan tergantung w atau f sehingga munculnya photon merupakan fungsi dari frekwensi, semakin tinggi frekwesi semakin sering munculnya photon.
Pada ruangan semu (hampa materi) photon hanya muncul sesaat kemudian lenyap lagi (karena E kembali # 0), tetapi pada ruang nyata (terisi materi) photon melakukan interaksi dengan materi yang ada dititik ruang yang sama, hingga sanggup melakukan aktivitas fisika, diantaranya sanggup mempengaruhi orbit elektron, menaikkan quanta, merubah clear energy menjadi bio energy, dll aktivitas fisika.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jun 29, ’10
Trima kasih atas masukan anda. Saya telah membaca tulisan yang anda tunjukkan. Menurut saya tanggapan yang menyatakan waktu berputar sebagqai jarum jam dan tak ada kaitannya dengan masalah photon sangat menarik.
1.Pendapat ini dapat ditafsirkan bahwa waktu terus berputar, sehingga seakan waktu selalu kembali setiap saat, padahal menurut saya waktu terus berjalan tak pernah kembali (terulang), yang mungkin terulang adalah fragmen peristiwa (yang direkam sesuai dengan urutan waktu.
2.Photon sangat erat hubungannya dengan berjalanan waktu. Jika waktu berhenti, maka tak apan terjadi photon. Menurut TM photon merupakan kondisi saat STW mengalami keseimbangan prima dan diruang hampa hanya muncul dalam waktu sekejab, kemudian lenyap saat E#0. Dalam ruang yang terisi “materi? photon sanggup berinteraksi dengan materi,karena photon adalah materi. Jadi menurut TM photobn sangat erat hubungannya dengan waktu. Mengap? Karena energi dasar merupakan fungsi dasar dari waktu,.
Menurut TM Big Bang bukanlah munculnya alam semesta dari titik singular yang tak dijelaskan dari mana asalnya melainkan lahirnya Sub Alam Fisika, permulaan terjadinya materi akibat “dihilangkannya” bayangan super simitri sehingga Unsur Premordial yang belum memiliki massa dan tak memerlukan ruangan (nyata) berubah dalam sekejap menjadi quanta yang memerlukan ruangan.
Menurut TM alam semesta akan selalu mengembang dan menyusut sesuai dengan banyaknya energi nyata dan energi semu yang tersedia di alam semesta. Alam semesta tak pernah mengalami kematian (atau berakhir) kecuali atas kehendaik Nya.
TM tak menyangkal bahwa kecepatan cahaya (STW) adalah c akibat timbulnya photon pada saat E=0. Semua yang bermassa tak mungkin bergerak melebihi c. Tetapi di alam semesta ini tidak hanya terdapat energi bermassa, banyak sekali jenis energi lain yang belum bermassa, misalnya energi gaib,energi metafisika, dan energi transien. Saya menjelaskan berbagai jenis energi ini dalam Bagaimana caranya memetakan energi di alam semesta.
Coba fikirkan: alam semesta ini sangat luas sehingga untuk berpindah dari bagian alam semesta yang satu ke bagian yang lain membutuhkan komunikasi trilyunan tahun jika memanfaatkan sarana STW. Kenyataan alam semesa sangat teratur (cosmos) bukan chaos (kacau). Jika kita gunakan logika keyakinan: semua langsung diatur oleh Tuhan YME. Akan berbeda jika gunakan logika fikiran yang selalu mencari jawaban yang sesuai dengan kenyataan. TM menginformasikan: Tuhan YME bukanlah sekedar mencipta melainkan telah merencanakan dengan seksama sebelum menciptakan alaqm semesta…………
Dalam batas tertentu Dia memberikan wewenang kepada setiap ciptaan Nya untuk menurusi dirinya,jenisnya dan lingkungannya. Alam Semesta terisi oleh berbagai jenis energi, yang satu dengan yang lain “terkait” hingga harus melakukan komunikasi antar energi. Energi fisika memiliki massa hingga kecepatannya dibawah c, lalu bagaimana bagian alam semesta yang berupa benda dapat saling berkomunikasi dengan cepat agar sinkron?

tough2slf
tough2slf wrote on Jun 29, ’10

lalu bagaimana bagian alam semesta yang berupa benda dapat saling berkomunikasi dengan cepat agar sinkron? 

Satu2nya jawaban adalah membuat sarana yang dapat menumpang “arus angin semesta” atau “terjun kedalam black hole” sehingga dapat mencapai kecepatan cahaya dan memperpendek “waktu” untuk mencapai jarak jauh dalam alam semesta dan pindah ke alam semesta yang lain ….kapan kapan…

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 1, ’10
Menurut Teori Relativitas benda yang bergerak massanya akan bertambah (bukannya berkurang). Menurut Newton F=ma, atau a = F/m. Semakin besar m untuk nilai percepatan tertentu dibutuhkan energi semakin besar . Ini sesuai dengan kenyataan. Agar parrtikel dapat bergerak dengan kecepatan mendekati c, dibutuhkan gaya sangat besar. Jadi “benar” jika hanya benda yang massanya sangat besar (misalnya Black hole) yang sanggup menyediakan energi untuk :”menarik” partikel hingga sanggup bergerak mendekati c. Tetapi harus diingat, gaya tarik antar massa tak hanya ditentukan oleh massa benda yang “menatik” melainkan juga ditentukan oleh massa benda yang ditarik. Semakin kecil massa benda yang ditarik, semakin kecil gaya tarik menarik, sehingga sesuatu yang tak bermassa (m=0) tak akan ditarik oleh gaya tarik sebesar apapun. F=(m1*m2)/k.r^2 Kalau salah satu massa (m1 atau m2) berharga nol maka F=0. Kesimpulan: Cahaya dapat dibelokkan dan ditarik oleh Black hole karena cahaya itu berphoton. Photon memiliki massa betapapun kecilnya (mungkin tak dapat terukur oleh besaran fisika). Cahaya yang tak menimbulpan photon (yang dalam TM disebut asymmetrical Trans Wave) tak akan tertarik oleh kekuatan gravitasi betapapun besarnya. Sebaliknya partikel yang bermassa juga tak mungkin bergerak dengan kecepatan c, sebab bertentangan dengan Formula Einstein maupun formula Newton.
Teori Relativitas yang menyatakan waktu dapat diperpendek,diperpanjang bahkan dihentikan menjadikan formula ini “sulit” saya fahami, alasannya sederhana: Jika waktu dapat diubah maka dapat menjadikan isi alam semesta tidak serempak (tidak sinkron). Jika sudah demikian artinya alam semesta tak lagi bersifat cosmos malainkan bersifat chaos.
Sebaiknya anda membaca koreksi Stephen Hawking yang menyatakan bahwa tak ada alam semesta yang lain, semua yang terisap oleh Blackhole akan dikembalikan kealam semesta yang sama, yaitu alam semesta tempat kita berada. TM. menyatakan: di alam semesta ini terdapat Sub Alam Semesta: Sub Alam Gaib,Sub Alam Metafisika, dan Sub Alam Transien yang termasuk dalam Alam Semu yang belum terisi sesuatu yang bermassa (dalam Fisika dinamakan kosong atau vakum) dan Alam Nyata yang terdiri dari Sub Alam Fisika (benda) dan Sub Alam Biologi. Kalau yang dimaksud alam lain adalah Sub Alam Gaib, Sub Alqam Metafisika atau Sub Alam Transien yang bukan Sub Alam Nyata,melainkan alam semu, itu sesuai dengan Teori Minimalis.
Saya tak tahu apa yang anda maksudkan dengan arus angin semesta, tetapi mungkin dapat ditafsirkan sebagai waktu, sebab waktu adalah satu-watunya dimensi yang “berhembus” diseluruh alam semesta dan dapat merubah segalanya.Formula Supernatural Som Wyn menyatakan bahwa energi dasar yang mengisi alam semesta adalah fungsi dasar dari waktu yaitu x = a1*sin (u1 + w1t) dan y = a2*sin (u2 + w2t). dimana x adalah variable dari FSM E = -x + y dimana x adalah monopole selatan weber sedangkan y adalah monopole utara weber. x = intergral F1(t) di dalam kurun waktu tertentu dan y = integral F2(t) dt dalam kurun waktu yang sama.
Jika Einstein mengasumsikan alam semesta sebagi jaringan ruang waktu, maka Som Wyn mengasumsikan alam semesta sebagi proses keseimbangan antara x dan y yang masing-masing merupakani fungsi waktu Sesuai dengan Hukum Ekologi Universe maka Ruangan adalah fungsi dari massa, artinya setiap- massa membutuhkan ruangan (nyata), sebelum menjadi massa dan energi fisika, energi dan body tak membutuhkan ruangan.

tough2slf
tough2slf wrote on Jul 1, ’10
Kalau mengacu kepada formula E=MC2 yang bersifat “interchangeable maka

M=E/C2 C2=E/M

Berarti ada pilihan apakah
1) memperbesar masa
2) memperbesar kecepatan

atau ke-2nya ……Merupakan pekerjaan rumah para ilmuwan …he…he…

Saya tidak setuju dengan pernyataan bahwa “energi dan body tidak perlu ruangan” ….begitu ada energi maka ruangan terbentuk….dan seperti pada pembentukan alam semesta maka kekuatan dasar terbentuk seperti:

– kekuatan besar …. Strong forces
– kekuatan lemah…. Weak forces
– electromagnitika
– grafitasi

Contoh: Ketika anda belum memikirkan sesuatu (pikiran kosong) ….Otak (BODY) sudah terbentuk…

Mungkin anda tidak merasakan secara langsung…… arus angin semesta yang membawa partikel2 dari Matahari dengan kecepatan tinggi sanggup membuat alat elektronika di Bumi tidak bekerja …Kecepatan melesatnya Bumi dan Galaksi yang disebabkan Big Bang ….berarti ada kekuatan potensial yang dapat digunakan untuk berselancar di Semesta Alam …..Let’s Surf the Universe…. 🙂

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Jul 2, ’10
E/M =c^2 menurut saya menyatakan hubungan antara energi dan massa, atau besarnya energi persatuan massa, kalau c merupakan bilangan tetap, maka E/M merupakan bilangan tetap.
Formula itu hanya berlaku pada saat m#0, untuk m=0 formula itu menjadi invalid. Atau besarnya c menjadi tak berhingga sehingga bertentangan dengan teori relativitas yang menyatakan c tetap dan merupakan bilangan yang berhingga. TM mengamalisa formula itu hingga berkesimpulan:
Cahaya yang tak memiliki massa kecepatannya menjadi tak berhingga jika cahaya memang memiliki energi , atau E#0. Lain halnya jika E=0, maka c menjadi dapat berharga sembarangan, sebab 0/0= dapat bernilai berapa saja. Ini juga bertentangan dengan teori relativitas. Sudah jelas cahaya memiliki energi hingga sanggup bergerak dan menempuh jarak yang sangat jauh, bahkan sanggup menyediakan energi fisika. Ini membuktikan bahwa cahaya bukan sepenuhnya mertupakan fenomena fisika melainkan fenomena transien, artinya dapat bersifat semu dan nyata. Sifat semu dinyatakan sebagai bentuk gelombang elektro magnet yang tak bermassa, sifat nyata dinyatakan sebagi photon yang memiliki massa betapapun kecilnya. TM menyatakan bahwa photon merupakan konsekwensi dari sifat cahaya yang bergetar secara periodik dan simetri terhadap titik keseimbangan prima. sehingga mengalami phase E=0 dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Cahaya tak simetri atau lebar deviasinya melebihi jumlah a1 + a2 atau tak pernah mengalami phase E=0 tak akan menimbulkan photon.
Timbulnya photon ini merupakan sebab mengapa kecepatan cahaya sama dengan c (diruangan hampa materi) dan dibawah c diruangan yang telah terisi materi.
Harus dibedakan antara clear energy dan clear body yang jelas membutuhkan ruangan (nyata) sehingga ruangan nyata jika “dimasuki” partikel baru akan memberikan reaksi (gaya yang merlawan kehadiran benda itu), lain halnya ruangan semu (dalam fisika dinamakan ruangan hampa), tak akan memberikan reaksi kepada partikel yang memasuki ruangan itu, tetapi hanya akan menjadikan ruangan semu menjadi ruangan nyata, istilah fisikanya menjadikan ruangan hampa menjadi tak hampa lagi. Body dan energi semu belum memiliki massa sehingga tak memerlukan ruangan, ini dapat dibuktikan ruangan hampa tak akan menjadi tak hampa jika dilewati cahaya. Lintasan cahaya diruang hampa lurus tetapi diruangan yang terisi partikel akan membengkok, semakin padat media yang dilewati atau semakin tinggi frequensi cahaya pembelokan akan semakin besar (sesuai dengan hukum Schnellius.) Perlambatan ini disebabkan oleh timbulnya photon yang “bereaksi” atau mendapatkan reaksi dari media yang dilaluinya. Semakin tinggi frequensi semakin sering terjadi photon, timbulnya photon sebanding dengan terjadinya phase E=0. Pada tiap panjang gelombang STW terjadi dua kali phase E=0, semakin tinggi frequensi semakin pendek panjang gelombang hingga dalam satuan waktu semakin banyak photon yang timbul.
Jadi: benar pendapat anda bahwa body dan energi fisika membutuhkan ruangan, tetapi body dan energi semu tak membutuhkan ruangan sebab belum memiliki massa.
Yang dapat mempengaruhi sarana komunikasi bukanlah hanya partikel tetapi juga yang bukan partikel, misalnya medan magnet, medan listrik, gelombang electro magnet (STW) , gelombang gravitasi (ECW)……….. bahkan energi lain yang bukan energi fisika.
Antara Fisika dan TM bagaikan menuju suatu tempat dari arah yang berlawanan. Anda datang dari Solo ke Yogya, sedangkan saya datang ke Yogya dari Kutoarjo. Fisika bertolak dari benda yang dibagi-bagi menjadi bagian paling dasar, yaitu quantum, sedangkan TM bertolak dari Perencanaan dan penciptaan.
Mewnurut TM otak itu terbentuknya dari clear body dan transbody (bagaikan sebuah komputer), dan baru berfungsi setelah dimanfaatkan oleh spirit atau soul. Sebelum dibuat komputer telah dipersiapkan konsep hardware dan softwarenya, baru kemudian dibuat komputer. Mustahil komputer dibuat dulu sebelum direncanakan.
Anda boleh beranggapan otak mula-mula kosong, baru kemudian diisi oleh fikiran. Saya beranggapan otak bukanlah otak jika belum dimuati fikiran. Fikiranlah yang membedakan otak manusia dan otak kera. Fikiran merupakan fenomena metafisika sedangkan otak adalah bagian dari organisme. Fikiran itu kemampuan untuk mengakses energi metafisika, sebagai halnya bathin untuk mengakses energi gaib dan pancaindra untuk mengakses energi fisika. Otak bagaikan CPU yang berfungsi sebagai pengolah data yang masuk lewat pancaindra,bathin dan fikiran untuk kemudian mengeksekusinya untuk digunakan melakyukan suatu tindakan (perbuatan).
Anda tak heran jika sebuah komputer dengan modem,atau router sanggup mengakses sesuatu yang berada diluar komputer, tetapi mungkin anda heran jika manusia sanggup mengakses semu yang berasal dari Sub Alam Lainnya, misalnya Sub Alam Gaib menghasilkan keyakinan, Sub Alam Metafisikan menghasilkan ilmu pengetahuan (filosofi berbagai teori, berbagai obsessi dan keinginan (willing) dan mengakse Sub Alam Fisika dan memanfaatkan enerrgi fisika untuk mendapat kenikmatan hidup sementara.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s