Bagaimana mensikapi sebuah informasi.

Pertanyaan: Saat ini kita sangat memerlukan informasi, diantaranya lewat internet. Saya sangat khawatir generasi kita semakin “diracuni” oleh informasi yang menyesatkan. Apa yang harus kami perbuat jika anak saya mengakses sumber informasi yang menyesatkan?
Jawaban: Informasi bagaikan pisau tajam, kita harus dapat memanfaatkannya dengan benar agar tak berakibat fatal. Melarang anak-anak bermain pisau tak akan seefektip jika kita ajari bagaimana dia memanfaatkan pisau. Larangan mengakses atau menyebarkan informasi sesat “justru” semakin menyalakan “nafsu”  keinginan tahu bagi remaja yang sedang mengalami perkembangan kecerdasannya, yalah sifat ingin tahu yang belum mereka ketahui.
Saya selalu berpesan: Thinking before believing is the way to reality. Suatu kenyataan bahwa hidup ini penuh risiko, tetapi Tuhan YME memberikan kesempatan untuk memilih diantaranya “menghindari” atau “menghadapi” risiko.
Ada ungkapan: Bermain api hangus bermain air basah. Ungkapan itu tak benar sepenuhnya, sebab api dan air itu sangat kita perlukan. Manusia menjadi sangat berbeda dengan tumbuh-tumbuhan karena dikaruniai hati nurani, fikiran dan pancaindra, tetapi sering kali dikotak-kotak, tidak holistik (menyeluruh). Sebenarnya manusia dianugrahi kemampuan yang selama ini terabaikan yaitu kemampuan para logika. Mereka yang memiliki kemampuan para logika rendah akan bingung menghadapi kenyataan dan mimpi, yang memiliki kemampuan paralogika tinggi justru dapat memanfaatkannya untuk membedakan antara yang nyata dan semu, yang rasionil dan yang irrasionil dan yang valid dan yang invalid.
Informasi memang sangat sulit dibedakan antara yang benar dan yang menyesatkan. Tetapi dengan kemampuan paralogika positip kita dapat memilih yang kita butuhkan. Sebelum memanfaatkan suatu informasi kita harus mempertimbangkan risiko dari penggunaan informasi.
Berilah pengertian kepada anak-anak kita risiko dari mempercayai suatu informasi, misalnya jika mengakses pornografi, dia akan menjadi “pemimpi” sehingga jauh dari kenyataan. Cobalah tanya, lebih suka bermimpi atau hidup dalam kenyataan.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s