Dapakah manusia pindah ke planet lain sebelum dunia hancur?

Pertanyaan: Stephen Hawking menyarankan jika manusia tak ingin punah maka harus pindah dari bumi ke planet lain. Dengan kendaraan apa  dan berapa lama perjalananan itu dapat mencapai tujuannya? Mungkinkah manusia berpindah dari suatu galaksi ke galaksi lain yang jaraknya jutaan tahun cahaya?
Jawaban: Sebelum melakukan perjalanan meninggalkan bumi terlebih dulu manusia harus sanggup menemukan planet yang mirip bumi, memiliki biosfera sehingga memungkinkan  berlangsungnya kehidupan berwadag (living organisme). Jika planet itu cukup dekat dengan bumi, maka perjalanan dapat dilakukan dengan pesawat antariksa. Tetapi jika jaraknya jauh dan membutuhkan waktu sangat lama,padahal umur manusia sangat pendek maka dibutuhkan mesin waktu yang sanggup mengatur waktu, atau melalui lobang cacing. Ini adalah fiksi “ilmiah” yang tak alamiah.
Lain halnya fiksi Black hole yang berlatar belakang abad 30. (Silakaan baca). Pada abad itu seorang psikolog yang mendapatkan kemampuan supernatural, Max Freud, berhasil menciptakan kendaraan yang disebut Cispin (CeeSPeeN). Kendaraan ini tak memiliki massa sehingga yang dapat dimuat adalah spirit yang juga tak memiliki massa. Seperti yang dinyatakan oleh Teori Paralogika living organisme terdiri dari organisme yang memiliki massa dan spirit yang tak memiliki massa. Dalam keadaan tak sadar spirit dapat meninggalkan organisme, tetapi organisme yang ditinggalkan harus “dijaga” agar tetap berfungsi normal hingga sewaktu-waktu spirit kembali organisme tetap dapat dimanfaatkan lagi oleh spirit yang kembali dari  berkelana menjelajahi alam semesta. Spirit harus  berkomunikasi dengan  “stasiun pengendali” ditempat organisme yang sedang ditinggalkan agar tak tersesat saat akan kembali keasalnya,  sehingga dibutuhkan kendaraan yang memiliki sarana navigasi dan komunikasi. Ini diujudkan dalam CSPN. Karena tak memiliki massa maka CSPN dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya.
Pada statsiun pengendali bekerja para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu nyata (fisikawan, dokter, tenaga medis, ahli komputer dll), dan disiplin ilmu semu ( ahli metafisika, rochaniawan, mereka yang memiliki kemampuan supernatural dll).
Jika spirit telah menemukan planet yang memiliki biosfera, spirit akan kembali ke organisme yang ditinggalkan dan memberikan data-data mengenai planet yang akan menjadi tujuan. Cispin sanggup memuat spirit dalam jumlah besar karena spirit tak memiliki massa sehingga
tak memerlukan tempat.
Sesampai diplanet tujuan yang jaraknya jutaan tahun cahaya spirit berusaha membangun organisme untuk dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya. Fiksi ini dilandasi oleh Teori Paralogika. Siapa yang tertarik silakan memanfaatkan teori paralogika untuk menulis fiksi spiritual ilmiah sekaligus alamiah.
Lain halnya fiksi yang didasari TM.
TM tak mempermasalahkan adanya spirit, melainkan adanya energi semu dan energi nyata.
Menurut TM energi nyata, termasuk massa dan living organisme dapat “digeser” koordinatnya dalam peta energi, dari E=0 kearah E#0. Ini diilhami adanya fenomena mukwa atau muksa dalam kisah lama (diantaranya kisah pewayangan). Saat E#0 suatu sistem energi atau body semu  sanggup berpindah dari satu bagian alam semesta kebagian lainnya yang jaraknya sangat jauh tanpa memerlukan bahan bakar/energi fisika, sebab telah berujud energi semu yang tak memiliki massa. Jadi dengan mudah manusia dapat dipindahkan dari satu galaksi ke galaksi lainnya, kemudian setelah sampai ketujuan dimana terdapat biosfera, maka enrgi semu digeser kembali ke bentuk energi nyata.Tetapi harus diingat semuanya hanya mungkin terjadi jika Tuhan YME mengizinkan.

6 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 16, ’10, edited on Aug 19, ’10
Dalam Startrek terbaru tubuh manusia dapat dipecah menjadi “energi dasar” hingga lenyap dan dapat dipindahkan kekoordinat ruang lainnya, tetapi teori yang digunakan bukanlah TM melainkanm Teori Relativitas.
Banyak fiksi ditulis atas dasar teori tertentu, biasanya menggunakan teori yang sedang nge-tren/ naik daun, misalnya Teori Stephen Hawking yang menyatakan Black Hole merupakan jalan menuju ke alam semesta yang lain. Teori Relativitas yang menyatakan bahwa sesuatu yang bergerak mendekati kecepatan cahaya massanya akan bertambah hingga suatu saat akan “berhenti”, sehingga banyak yang menafsirkan waktu dapat diatur dengan mesin waktu. Timbul gagasan bahwa alam semesta merupakan “jaringan ” yang jika terbebani massa dapat melengkung kedalam hingga memungkinkan bagian alam semesta yang sangat jauh dapat dijadikan sangat dekat dan dapat dibuat “lobang cacing” sebagai penghubungnya.

Saya membuat fiksi yang tak berdasarkan teori yang sedang naik daun, sehingga terlebih dulu saya harus membuat teori baru untuk menjelaskan fiksi saya yang tak laku jual. Teori itu saya namakan Teori Minimalis yang “menginformasikan” bahwa alam semesta merupakan sistem tertutup sehingga energi yang ada didalamnya tetap, yang berubah hanya ujudnya. Teori Kekekalan Energi Fisika juga menyatakan bahwa dalam sebuah sistem tertutup, maka jumlah energinya sama yang berubah hanyalah bentuknya. Setahu saya Teori Kekekalan Energi tak pernah menyatakan bahwa alam semesta merupakan sebuah sistem tertutup.
Kelancangan saya “membuat” teori pendukung untuk fiksi Black Hole mendapat respon “negatip” dari para pengguna internet, sehingga saya “menghentikan” aktivitas saya diinternet,
Ananda Sudarjanto mendorong saya untuk terus menulis, sebab menurut dia “menulis bagaikan menggunakan senjata yang sangat tajam” dan sanggup melawan/membabat ketidak adilan, kesewenang wenangan, kemunafikan yang telah menggerogoti sendi kehidupan manusia dan membuka cakrawala baru.”
Saya tak sependapat dengan menganggap menulis sebagai berjuang dengan sebilah pedang yang sangat tajam, saya menganggap menulis sebagai pemanfaatan ujung pena yang sangat runcing, Dengan ujung yang sangat runcing dengan menulis dapat “memasukkan/meng-injeksikan ” pengertian tanpa melukai bagian tubuh target.
Ananda Sudarjanto meminta izin kepada saya untuk “mengoleksi tulisan” saya. Saya mempersilakan dengan senang hati dan berterima kasih atas dorongan kepada saya untuk tetap menulis. Saya juga berterima kasih atas dukungan yang datang dari siapapun,saya juga sangat mengharap mendapat opini, saran, bahkan kritik baik yang membangun atau yang menguji keyakinan saya.
Dengan tulisan ini saya memberikan tantangan kepada siapapun untuk mengembangkan teori saya atau menggunakan sebagai teori dasar dalam menulis fiksi atau novel.
Saya tak memimpikan royalty, namun agar tak terjadi penyimpangan sebaiknya menghubungi saya.

udelpot
udelpot wrote on Aug 16, ’10, edited on Aug 16, ’10
emm .. saya jadi tertarik atas tulisan bapak nde atas, karena beberapa waktu lalu saya sempat berpikiran, apa sih yg terjadi di isra miraj di agama Islam, dan ya itu .. saya tidak bisa menjelaskan, hahaha, maklum, hahaha .. tapi ini ada linknya, kalo ndak salah juga sih .. kalo menuru bapak, isra miraj itu sendiri yaapa? makasih

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 16, ’10
Menurut saya itu termasuk dalam perjalanan spiritual, perjalanan tanpa menggunakan kendaraan bermassa.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 16, ’10
1.Teori Minimalis menginformasikan fenomena alam semesta yang berbeda dengan Fisika, karena Fisika tak mengenal adanya energi semu, semua energi adalah nyata. TM menginformasikan adanya energi semu yang belum bermassa (karena belum mengalami keseimbangan prima) sehingga belum membutuhkan ruang (nyata).
2.TM plus menginformasikan adanya soul yang membedakan antara materi dan organisme mati dengan organisme hidup.
3, Teori Paralogika menyatakan bahwa living organisme terjadi dari organisme yang bermassa dan spirit yang tak bermassa. Organisme terbentuk dari materi dengan gelombang electro magnet sedangkan spirit merupakan soul yang memiliki tubuh astral.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 17, ’10, edited on Aug 19, ’10
Organisme yang ditinggalkan spirit dalam kurun waktu tertentu dinamakan mati suri.Ilmu kedokteran saat ini tak mengakui adanya mati suri. Tetapi ilmu kedokteran telah sanggup memanfaatkan bagian dari organisme yang telah mati (ditinggalkan soul atau spirit) untuk menggantikan organ tubuh pasien yang memerlukan. Secara teoritis jika kondisi organisme atau bagian organisme masih memenuhi syarat untuk dimanfaatkan oleh spirit, maka dapat dimanfaatkan untuk menggantikan organ yang rusak sehingga organisme yang akan ditinggalkan oleh soul dan spirit dapat dimanfaatkan lagi oleh spirit tersebut atau spirit lain yang membutuhkan. Seseorang yang ditinggalkan spirit yang organnya masih memenuhi syarat untuk dimanfaatkan oleh spirit akan dapat “hidup” kembali, namun ada kemungkinan terjadi kelainan akibat spirit yang memanfaatkan bukan spirit lama. Fenomena ini juga dijumpai pada fenomena kesurupan, kelainan/perubahan kepribadian setelah mengalami kondisi unconsious berat, kepribadian ganda. mimpi…… dll.
Fenomena mati suri sangat berbeda dengan reincarnasi, sebab reincarnasi adalah kemampuan spirit untuk memanfaatkan organisme baru dan turut mengembangkannya hingga tumbuh menjadi individu baru.
Fenomena tempat angker dan benda sakti/bertuah, zombi ,kuntilanak, mayat hidup tanpa kepala dll fenomena yang irrasionil dapat dijelaskan lewat konsep energi relatif yang menjadikan apa saja, termasuk benda dan organisme yang telah rusak dan tak layak dihuni oleh spirit dapat melakukan aktifitas sebagai “tiruan living organismwe”. Relatif energi tak dimiliki oleh benda, atau bekas organisme yang telah rusak melainkan mendapatkan energi dari sekitarnya/ lingkungannya, misalnya energi uang menjadi sangat besar karena dipercaya sebagaim alat bayar, padahal uang sebenarnya sebagai materi saangat kecil energinya. Energi uang didapat dari pengakuan/keyakinan masyarakat bahwa uang dapat menyebabkan seseorang sesuatu yang diinginkan. Dahulu keris sakti juga sangat dihormati.
Tempat keramat sanggup menjadikan orang takut berlaku sembarangan. Suara rakyat di era demokrasi sanggup memberika relatif energi besar terhadap calon yang dipilihnya. Magig, mistik dan sejenisnya juga memiliki energi relatif tinggi karena “diperca” oleh manusia disekitarnya yang memiliki energi yang sesungguhnya. Jika tak ada yang mempercayainya, maka akan hilanglah energi relatif dari yang “dititipinya”
Aja gumunan lan gampang percaya,ning ya aja gampang maido apa sing ora kok ngerteni, pikiren disik sadurunge percaya utawa maido.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Aug 17, ’10
Living organisme,terlebih manusia,merupakan sistem micro cosmos jauh lebih rumut dari sekedar sistem energi maupun sistem body, sebab didalamnya ada unsur z yang bukan energi. Sistem energi masih mungkin terakses oleh kemampuan manusia karena hanya merupakan interaksi mekanistik. Saat ini manusia sanggup melakukan rekayasa teknologi, karena semua unsurnya adalah energi dan body nyata.. Akan menjadi lebih sulit mempelajari organisme karena memiliki unsur energi semu disamping energi nyata. Rekayasa teknologi jauh lebih sederhana dari rekayasa genetika, membuat robot jauh lebih mudah dari menciptakan telor ayam yang sanggup menetas menjadi ayam hidup.
Untuk menyederhanakan living organisme, Teori Paralogika memnjadikan komputer sebagai model living organisme. Antara living organisme dan komputer jelas berbeda namun ada persamaannya.
Komputer dimanfaatkan oleh user (manusia), sedangkan organisme dimanfaatkan oleh spirit atau soul.. Otak manusia dapat dimodelkan sebagai cpu, yang bermanfaat untuk mengolah data yang masuk lewat pancaindra, fikiran, bathin dan kemampuan paralogika. Komputer memiliki program dasar dan program terapan, manusia memiliki kemampuan bawaan yang alami dan hasil belajar dari kehidupan. Antara komputer dengan user dapat terhubung secara nyata dengan penghubung hardware dan terhubung secara virtual lewat modem atau router.Spirit dan organisme dapat terhubung secara nyata lewat organ yang dikendalikan oleh otak dan hubungan semu lewat sumsum tulang belakang yang tetap bekerja saat spirit meninggalkan organisme, hingga otak tak bekerja/istirahat. Organ yang dikendalikan lewat hubungan semu oleh spirit adalah: pernafasan, detak jantung, kerja kelenjar dan lain proses yang tak dikendalikan oleh otak,
Perbedaan mendasar antaa komputer dan living organisme adalah:: living organisme dapat tumbuh(fisiknya) secara alami dan melakukan self programming hingga merupakan individu yang dapat berkembang fisik dan kemampuannya secara mandiri dan sanggup menyesuaikan diri dengan kebutuhannya. Organisme dengan mudah terdaur ulang secara alami sedangkan komputer menyisakan sampah elektronik.Komputer dapat menyerap masukan secara sistematis dan bertahap sehingga sanggup mengolahnya dan mengambil keputusan dengan cepat, karena tak dipengaruhi oleh emosi atau kebimbangan. Intelegensia komputer dapat sangat tinggi, namun sering berlebihan hingga tak sesuai dengan kebutuhan.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s