Benarkah manusia dimuliakan oleh Allah?

Pertanyaan: Saya seorang Kristiani yang taat, suami saya seorang Muslim yang penuh dengan toleransi, tak memaksakan kehendaknya /memaksakan keyakinannya kepada  siapapun, termasuk pada anak-anaknya. Orang tua saya memiliki hotel, kami tinggal bersama orang tua saya dalam lingkungan kristiani. Setiap minggu kami ke gereja bersama sedangkan suami saya sibuk mengurusi tamu yang menginap dihotel milik orang tua saya.Suami  saya diserahi mengurus hotel.
Anehnya anak kami tak mau bersama kami ke gereja, mereka memilih tinggal dirumah bersama ayahnya. Saya kira  anak-anak memilih dirumah karena tersedia berbagai permainan.
Suatu saat saya sangat terkejut, karena mereka ikut solat bersama ayahnya. Saya kira atas ajakkan atau paksaan dari ayahnya, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka kasihan pada sayahnya karena ayahnya solat sendiri tak ada yang menemaninya.
Eyangnya sangat terperangah ketika cucunya bertanya : “Bernarkah manusia itu dimuliakan oleh Allah?”
“Benar, tetapi manusia pernah berbuat dosa besar sehingga jatuh pada kenistaan  Jesus telah menebusnya sehingga Allah telah mengampuninya hingga manusia tak nista lagi melainkan menjadi mulia.”
“Menurut ayah manusia dapat menjadi mulia atau nista akibat perbuatan manusia itu sendiri.”
Mertua saya “marah”, tetapi tak dilampiaskan kepada cucunya, melainkan kepada saya sebab dianggap saya tak dapat menanamkan iman kristiani kepada anak-anak kami.
Anehnya dia malah memberikan mobil baru kepada kami dan nampak semakin menyayangi cucu-cucunya yang “membangkang”.
Saya ingin bertanya kepada pak Ibnu bagaimana caranya agar anak-anak tak kebingungan dalam menentukan keyakinan/agamanya.
Jawaban: Ananda harus bersyukur memiliki suami dan orang tua yang “memuliakan dirinya sendiri.” Menurut Eyang mereka, baik suami dan orang tua anda benar-benar menghayati agama mereka masing-masing  secara hakiki, bukan sekedar kulit. Anak-anak kalian sangat lembut hati nuraninya dan cerdas dan kritis dalam berfikir.
Menurut eyang pandangan suami ananda adalah sangat logis, secara individual yang sanggup menjadikan mulia seseorang adalah perbuatannya sendiri, namun bukan merupakan sanggahan bahwa Allah  memuliakan manusia secara jenisnya dengan memberikan hati nurani yang lembut dan fikiran yang cerdas, melebihi makluk hidup lainnya. Keyakinan Kristiani juga sangat benar, bahwa manusia  pasti pernah berbuat dosa bawaan dan ditambah dosa individu, namun kehadiran Jesus dan nabi-nabi telah  memberikan jalan dan bimbingan bagi manusia untuk kembali “kejalan tuhan”, sebab tanpa kehadiran Nya setiap saat manusia dihadapkan godaan duniawi. Manusia secara jenis memang dimuliakan Tuhan YME, tetapi bukan berarti secara automatis dapat tetap mulia. Secara individual manusia diberi kesempatan untuk memilih menuruti jalan yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan orang-orang suci, atau memilih jalan sendiri sesuai dengan keinginannya.
Eyang membagi manusia dan living organisme lainnya atas dua tipe: Reincarnated body dan Whiteblankbody. Ananda tak usah khawatir anak-anak kalian memilih jalan hidup sendiri tanpa memaksakan melainkan memberikan bukti keteladanan. Sebagai anak-anak yang kritis mereka akan lebih tertarik pada perbuatan orang tua mereka ketimbang agama maupun keyakinan orang tuanya. Anak-anak yang cerdas dan memiliki hati nurani yang lembut/peka akan memilih yang terbaik bagi dirinya tanpa mencederai orang lain, apalagi orang tua yang sangat dicintainya.
Jadi: dengan berbuat yang baik kepada mereka dan kepada setiap umat Tuhan YME berarti ananda menuntun mereka dalam berfikir dan berkeyakinan untuk  memanfaatkan kesempatan yang diberikan  oleh Tuhan YME, yaitu kehidupan yang hanya bersifat sementara.

4 CommentsChronological   Reverse   Threaded

razakrao
razakrao wrote on Nov 14, ’10
Manusia itu jelas dimuliakan Allah sebagai makhluk ciptaanNya … sememangnya nabi Adam as pernah berbuat salah sehingga terkeluar dari syurga dan di turunkan kedunia , namun nabi Adam as & hawa juga telah meminta ampun dan kesalahannya diampunkan Allah ! .. bukankah Allah itu maha pengasih dan maha pengampun ?

Maka tidak timbul lagi persoalan dimana dosa-dosa terpalit kepada manusia lainnya kerana dosa Adam … kerana jika demikian , bermakna sebahagian dari manusia itu dilahirkan hina iaitu dari Adam hingga Jesus . Selepas kononnya Jesus itu menebus dosa barulah manusia kononnya bebas dari dosa !

Sekiranya sebahagian manusia itu mahu di cop sebagai berlumuran dengan Dosa dan sebahagian lagi pula di cop sebagai Bersih dari dosa …. bagaimana boleh diterima yg ” manusia itu dimuliakan Allah ” … bagaimana mahu dikatakan yg ALLAH ITU MAHA PENGAMPUN DAN MAHA PENYAYANG ?? … kerana yg di ampuni dan dirahmati hanya sebahagian manusia saja sedangkan sebahagiaan yg lain nya tidak !

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Nov 15, ’10
@razakrao:
Tuhan YME itu maha pemurah lagi penyayang:
1. pemurah karena memberikan tanpa meminta imbalan kepada setiap ciptaan Nya dengan membekali setiap ciptaan Nya hingga sanggup mengurusi dirinya sendiri, mengembangkan dirinya, memanfaatkan apa yang telah tersedia disekitarnya………………. memilih taat pada pembimbingnya atau menentukan jalan hidup sesuai dengan keinginan masing-masing……………..memuliakan dirinya sendiri atau membuat nista dirinya sendiri dll hingga terjadilah perbedaan dalam kehidupan yang sangat pendek ini. Perbedaan ini dapat menjadikan pangkal sengketa, namun juga dapat menyadarkan bahwa Tuhan YME maha pemurah dan penyayang karena mengizinkan adanya perbedaan, bukan memaksakan kehendaknya untuk semua sama.
2.penyayang: mengampuni setiap kesalahan dan memberikan petunjuk untuk melalui jalan yang benar lewat para pendahulunya/pembimbingnya atau yang memilih melewati jalannya sendiri, bahkan memberi kesempatan kepada setiap umatnya untuk menjadi pembimbing maupun yang dibimbing. Pengampunan hanya akan dirasakan bagi yang menyadari akan kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya, jadi walaupun Tuhan YME mengampuni setiap umatnya tanpa membedakannya, namun tergantung dari yang menertima pengampunan.
Tuhan YME kekuasaan Nya tiada terbatas, apa yang dikehendakki, terjadilah, sehingga sebenarnya Dia sanggup memaksakan kehendak Nya, namun Dia tak pernah melakukannya. Ini merupakan “bukti” Tuhan YME itu memang benar-benar maha pemurah lagi penyayang, namun sebagian manusia “belum puas” dengan pengampunan yang diberikan Nya kepada Adam karena merasa sebagai manusia belum terlepas dari dosa dan kesalahan, membutuhkan pembimbing yang sanggup membimbingnya untuk tak mengulangi berbuat dosa yang dilakukan oleh Adam.
Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih keyakinan masing-masing, ada yang memilih melakukan reincarnasi agar dapat mengoreksi kesalahan atau menyempurnakan kehidupannya, merasa belum puas dalam menikmati kehidupan yang sangat pendek, ada yang telah puas dengan satu kehidupan hingga tak memanfaatkan kesempatan untuk bereincarnasi karena telah yakin akan mendapatkan kebahagiaan abadi. Ada yang membutuhkan Jesus untuk menebus dosa Adam. Ada yang merasa Tuhan YME telah mengampuni dosa Adam sehingga tak terbebani oleh dosa Adam.
Itulah bukti bahwa Tuhan YME memberi kesempatan untuk berbeda, hingga tinggal bagaimana kita mensyukuri perbedaan itu atau menjadikan perbedaan itu sebagai pangkal sengketa.

razakrao
razakrao wrote on Nov 17, ’10

.penyayang: mengampuni setiap kesalahan dan memberikan petunjuk untuk melalui jalan yang benar lewat para pendahulunya/pembimbingnya atau yang memilih melewati jalannya sendiri, bahkan memberi kesempatan kepada setiap umatnya untuk menjadi pembimbing maupun yang dibimbing. Pengampunan hanya akan dirasakan bagi yang menyadari akan kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya, jadi walaupun Tuhan YME mengampuni setiap umatnya tanpa membedakannya, namun tergantung dari yang menertima pengampunan. 

Maha penyayangnya Allah itu … setiap individu makhlukNya di nilai diatas Takwa masing-masing . setiap darinya dibezakan berdasarkan aras Iman & Takwa !
Allah sesekali tidak menilai akan hambaNya berdasarkan kelompok , jadi pandangan bahawa sesekian generasi manusia itu berlumuran dosa dan sesekian
generasi itu bersih dari dosa disebabkan kononnya ada si pembersih dosa ..adalah satu pandangan yg amat serong , seolah olah Allah itu dikatakan hanya
mengambil kira sebahagian kelompok dan mengabaikan kelompok yang lain .

Melainkan pandangan itu diusulkan atas alasan mahu menonjolkan ketokohan pihak tertentu saja …dalam ertikata lain , selama ini Allah telah mengabaikan
sesuatu kelompok manusia dengan membiarkan mereka ( termasuk nabi & rasul terdahulu ) berlumuran dgn dosa ! kemudian Jesus lah yg turun sebagai HERO
nya , agar watak Jesus itu disanjung dan agung melebihi sepatutnya … lalu timbullah satu fahaman bahawa Jesus itu melebihi manusia biasa !

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 16, ’10, edited on Dec 16, ’10
Kata guru spiritual saya : Believe without thinking is the way to the heaven. Artinya jika ingin mencapai “kedamaian batin” maka yang telah kita yakini tak perlu berfikir, sebab dapat menggoyahkan keyakinan, yang menimbulkan konfliks batin. Logika keyakinan tak mengkaitkan antara argumentasi dengan pengambilan keputusan.
Menurut saya heaven bukanlah realita melainkan cita-cita atau tujuan dimana kita dapat memperoleh kebahagiaan abadi, bukan kenikmatan (duniawi) sementara. Lain halnya fikiran sangat bermanfaat untuk menjadikan hidup yang hanya sementara ini untuk dapat dinikmati, jadi fikiran sangat bermanfaat untuk kehidupan nyata hingga manusia sanggup mengangkat dirinya menjadi “dimegani” oleh makluk lainnya. Tuhan YME memberikan manusia fikiran cerdas hingga manusia yang fisiknya lemah dapat menjadi “penguasa” di bumi ini. Tetapi fikiran dapat membuat manusia bukan menjadi mulia, melainkan sebaliknya. Itulah sebabnya manusia harus memanfaatkan anugrah lainnya, yaitu kelembutan batin agar fikiran manusia tak dikuasai oleh sekedar nafsu yang merupakan interaksi antara batin dan fikiran.
Apa itu nafsu? Nafsu adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang nyata. Menurut Som Xiang dalam fiksi Blackhole: manusia bebas berfikir dan berkeyakinan, tetapi tak bebas dalam berbuat. Mengapa: perbuatan itu merupakan interaksi individu dengan individu lain dan lingkungannya. Tak seorangpun dan apapun mau dirugikan atau dicederai, jadi dirikita sendiri juga tak mau dirugikan atau dicederai oleh fihak lain/lingkungan. Mencederai lingkungan/fihak lain akan menjadi bumerang bagi dirinya, sebab setiap individu merupakan bagian dari lingkungan termasuk orang lain.
Saya menyatakan: Thinking before believing is the way to reality. Sebelum kita mempercayai atau meyakini seharusnya kita fikirkan ( manfaatnya). Ini bukan berarti keyakinan tak penting, melainkan justru sangat penting, sebab setiap perbuatan yang tanpa diyakini (manfaatnya) mudah terombang-ambing dan tak fokus pada yang akan diujudkan, sebaliknya keyakinan yang sekedar ikut-ikutan (tanpa difikirkan manfaatnya) akan menjadi sangat tergantung dari yang diikutinya, bukan dari :”nafsu” dirinya secara individual, melainkan nafsu orang/kelompok yang menjadikan dirinya yakin.
Banyak yang mengkambing hitamkan nafsu atau menganggap nafsu itu buruk, padahal “tanpa” adanya nafsu maka tak ada kehidupan, sebab justru nafsu itulah yang membedakan living organisme dengan sekedar organisme atau benda.
Nafsu tak mungkin dihilangkan, melainkan dikendalikan agar bermanfaat, tidak malah merugikan diri sendiri dan lingkungan akibat nafsu serakah, merasa benar sendiri dan tak peduli pada yang lain.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s