Mengapa manusia berbeda dengan kera?

Pertanyaan: Dapatkah eyang membuktikan adanya energi gaib, energi metafisika dan energi transien disamping energi fisika dan energi biologi?
Jawaban: Eyang hanya menginformasikan, jadi cuculah yang harus berfikir untuk mempercayai atau tidak mempercayai informasi dari eyang. Believe it or not, please thinking before believing!
Eyang tahu bahwa menjelaskan pada seorang yang “cerdas” tak dapat dilakukan secara dogmatis. Maka yang eyang lakukan adalah pendekatan logika fikir yang didukung dengan logika kenyataan.
Eyang bertanya: Mengapa manusia berbeda dengan kera? Virus berbeda dengan bakteri? Manusia yang satu berbeda dengan manusia lainnya?
Menurut teori Paralogika living organisme merupakan interaksi antara spirit dengan organisme. Manusia memiliki organisme manusia dan spirit manusia, kera memiliki organisme kera dan spirit kera, cucu memiliki organisme yang sedang dimanfaatkan oleh spirit cucu, eyang memanfaatkan organisme yang sedang eyang gunakan. Teori Paralogika memanfaatkan kompoputer sebagi model makluk hidup khususnya manusia. Organisme merupakan sebuah perangkat komputer sedangkan spirit merupakan user.
Kemampuan user untuk menggunakan komputer harus  “seimbang” dengan kecanggihan sebuah komputer.  Komputer yang canggih hanya bermanfaat bagi user yang mampu  memanfaatkan fasilitas dan program  yang tersedia pada komputer itu. Betapapun hebatnya sebuah komputer, jika usernya tak mampu memanfaatkannya maka tak mungkin memberikan output yang maksimal, banyak yang akan tersia-siakan. Sebaliknya komputer usur (generasi massa lalu  dengan kerja lambat dan program primitif)  tak mungkin mendukung aktivitas user untuk “memecahkan” masalah rumit yang dihadapinya.
Nah andaikata spirit Einstein bereincarnasi pada organisme kera, maka dia tak akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya, sebaliknya jika  spirit kera memanfaatkan organisme Eintein, dia tak akan menghasilkan sesuatu yang cemerlang. Jadi kemampuan living organisme ditentukan oleh organisme dan spirit yang memanfaatkan organisme tersebut.
Organisme kera dan binatang lainnya ada persamaannya dengan manusia , namun strukturnya berbeda, dna nya berbeda, komposisinya juga berbeda. Spirit memiliki kemampuan untuk “memilih” organisme yang sanggup mendukung aktivitas yang akan dilakukan. Itulah sebabnya dalam kondisi kesadaran yang laten, spirit akan memilih organisme yang akan dikembangkan hingga dapat menunjang akitivitasnya bukan asal-asalan.  Spirit anjing jika menggunakan organisme manusia perilakunya seperti anjing karena organismenya tak memungminkan anjing dapat berbicara atau berfikir sebagai manusia. Darwin jika menggunakan organisme kera tak mungkin membuat teori evolusi.
Spirit akan memilih zigota yang sesuai dengan kebutuhannya. Spirit akan mengembangkan organisme yang di kuasainya untuk dikembangkan menjadi living organisme agar dapat dimanfaatkan untuk memanfaatkan energi yang ada di alam semesta. Jadi living organisme melakukan self programming untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapinya. Namun zigota telah membawa program dasar atau system, sehingga program dasar zigota memegang peran sangat penting untuk dapat “menerima” program terapan yang akan dikembangkan oleh spirit.
Eyang bertanya: Mungkinkah komputer generasi pertama mengakses internet? Sebaliknya mungkinkah komputer generasi terbaru mengakses internet jika tak ada sumbernya dan managemen untuk menata penggunaan internet? Untuk mengatasi persoalan yang rumit dibutuhkan kerjasama sesama komoputer dan sesama user. Dalam  kerjasama ini dibutuhkan sarana komunikasi yang memerlukan system energi, system control disamping system body. Secara fisik komputer tersusun dari hardware. Komputer hanya memerlukan energi listrik dalam operasi hardwarenya, tetapi dibutuhkan energi gelombang electromagnet untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Software dapat tersimpan dalam berbagai sarana dan sistem (misalnya analog maupun digital yang tersimpan dalam sistem magnetik,optik,mekanik…….) dll. Kalau komputer saja membutuhkan berbagai jenis energi, mustahil jika living organisme apa lagi manusia hanya membutuhkan energi fisik dan energi biologi.
Yang jelas setiap living organisme membutuhkan energi transien, misalnya cahaya, medan magnet dan medan listrik disamping makanan, air,oksigen yang dapat diubah menjadi  energi fisik dan biologi, untuk melakukan aktifitas fisik. Living organisme tak hanya melakukan aktivitas fisik (lebih lebih manusia), melainkan juga aktivitas non fisik, misalnya berfikir, meyakini, mencintai, membenci, perasaan senang, sedih………… yang tak sepenuhnya akibat sekedar  mengkomsumsi makanan atau materi. Kalau spirit telah meninggalkan organisme, maka yang dibutuhkan tak lagi beraneka ragam energi. Yang sangat tergantung dari energi fisik adalah organisme.
Spirit hanya membutuhkan trans energi (STW) sehingga sanggup “hidup” diluar lingkungan biosfera, sedangkan living organisme membutuhkan biosfera untuk dapat tetap bertahan hidup. Kemampuan organisme dan spirit sangat menentukan kemampuan untuk memanfaatkan energi yang tersedia disekitarnya. Tumbuh-tumbuhan sanggup memanfaatkan STW secara langsung, hewan dan manusia yang belum berkembang kemampuan intelektualnya lebih mampu memanfaatkan energi gaib sehingga sanggup mengakses  sesuatu yang irrasional. Manusia modern yang telah memiliki intelektual tinggi lebih mudah mengakses energi metafisika.
Andaikata tak ada energi lain kecuali energi fisika dan energi biologi, maka apa jadinya? Kecerdasan manusia tak akan berkembang dengan pesat. Manusia tak mungkin meyakini adanya alam abadi. Cucu tak mungkin menjadi lebih cerdas dari eyang.
Kalau kompuer sanggup mengakses sesuatu yang dipancarkan dari “stasiun” atau pemancar yang letaknya tak kita ketahui, mengapa manusia tak sanggup mengakses sesuatu yang tak diketahui :”sumbernya”?
Memang teramat sulit untuk keluar dari belenggu materialisme, sebab saat ini manusia sangat terbelai dalam  menikmati hasil tehnologi hingga kemampuan mengakses energi gaib,energi metafisika menjadi tumpul. Sebenarnya manusia hanya sanggup mengakses energi transien sangat terbatas, namun berkat perkembangan tehnologi manusia sanggup mengakses dan memanfaatkan STW.

Coba fikir: mungkinkah manusia dapat menjadi cerdas  dan meyakini  adanya alam abadi, jika hanya memanfaatkan energi nyata? Mobil,komputer dll adalah hasil dari pemanfaatan seluruh energi yang tersedia dan dapat  terakses oleh kemampuan manusia lewat: pancaindra berupa energi nyata, batin berupa energi gaib, fikiran berupa energi metafisika,dan  paralogika berupa energi transien. Last but not least: Spirit memiliki kemampuan kesadaran diri yang sangat laten hingga sanggup melakukan reincarnasi dalam pemanfaat organisme atau energi biologi.

Uraian itu bukan merupakan bukti melainkan sekedar informasi, jadi terserah cucu mempercayai atau tidak, namun pesan eyang : thinking before believing  sangat berbeda dengan believing without tinking. Quo vadis cucu? Do you want to go to heaven or to reality?

1 CommentChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Nov 11, ’10
Untuk dapat tetap hidup manusia memerlukan berbagai jenis energi. Benarkah semakin lama energi semakin berkurang dan akhirnya habis? Mekanika quantum menjelaskan bahwa energi tak mungkin habis, melainkan berubah-ubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, Fisika memulai dari matter dan membagi-maginya hingga menjadi bilangan yang sangat kecil tetapi tak mungkin mencapai nol. TM memulai dari energi yang bukan nol tetapi bukan berupa quanum. Penggabungan (operatot MM nya +) dan penyatuan (operator MM nya X) dari yang bukan nol (pecahan) dapat menghasilkan bilangan bulat (body) bahkan dapat menghasilkan nol yang disebut sebagai quantum dan quanta. Quantum adalah pecahan yang nilainya mendekati nol tetapi bukannya nol, yang nilainya lebih besar dinamakan quanta. FSM dapat menjelaskan adanya energi yang yang belum mengalami keseimbangan prima hingga nilai keseimbangannya E#0 dan yang telah mengalami keseimbangan prima yang nilai kese9imbangannya E=0 . Pada saat E=0 maka terjadilah massa, hubungan antara massa dengan energi fisika dinyatakan oleh Formula Einstein E=mc^2.
1.Banyak yang menafsirakan FE sebagi saat m=0 ,maka E=0, karena dengan mengisikan m=0 pada FE akan diperoleh E=0. Ini salah interprestasi, justru pada saat E=0 seluruh massa berubah menjadi energi yang besarnya = mc^2.
2.Banyak yang menafsirkan FSM jika E=0 massa tak memiliki energi (karena E=0), padahal justru saat E=0 terbentuklah massa yang menurut FE besarnya E=mc^2.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s