Selamat jalan mbah Marijan, semoga simbah mendapatkan tempat sesuai dengan yang simbah inginkan.

Pertanyaan: Saya penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hingga mempunyai ketertarikan pada masalah  spiritual. Saya mengenal situs bapak www. ibnusomowiyono. multiply. com lewat putri bapak. Mula-mula saya kira bapak seorang spiritualis, tetapi  ternyata bapak seorang yang sangat rasional sehingga saya menjadi kurang tertarik pada situs bapak.
Saya tertarik pada acara di TV Lokal RB TV yang berjudul Menembus Batas Ruang dan Waktu dengan pembicara Prof. Damarjadi Supanjar.
Pada ulasannya tentang mbah Marijan beliau sangat “menyayangkan” karena mbah Marijan yang memiliki kemampuan spiritual tinggi terjerumus dalam materialisme dengan menjadi alat iklan komersial. Bagaimana pandangan bapak terhadap figur dan perjalanan hidup mbah Marijan?
Jawaban: Saya mengkhawatirkan mbah Marijan, bukan atas dasar spiritual maupun logika keyakinan melainkan logika fikir. Dengan menginformasikan masalah apa yang sedang terjadi dan akan terjadi pada Gunung Merapi yang diyakini sangat pemurah, mbah Marijan menjadi sangat berat beban tanggung jawabnya, baik secara hukum maupun  moral  seandainya informasi yang diberikan kepada penduduk disekitar Merapi tidak benar atau prediksinya meleset hingga menimbulkan banyak korban.
Bagi saya apa yang dilakukan mbah Marijan menjadi peraga iklan untuk mendapatkan imbalan materi tak harus diartikan terjerumus dalam materialisma. Ini dapat dibuktikan dari sepak terjang dia, hasil jerih payahnya tidak menjadikan dia lupa akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan YME, apalagi melakukan berbuatan maksiat.
Saya kira dia memiliki alasan mengapa berani menyatakan Gunung Merapi sangat pemurah, sebab gunung ini memberikan limpahan kekayaan, Dia juga sangat realistis sebab ikut merasakan betapa “menderita” meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam pengungsian.
Mbah Marijan tak bernah menjanjikan sesuatu, apalagi memaksa penduduk untuk mematuhi perintah atau menjamin keselamatan penduduk. Penduduk boleh memilih mempercayai dia atau mempercayai otoritas gunung Merapi.
Sampai saat ini nasib mbah Marijan belum diketahui. Seandainya dia selamat dan masih diberikan umur panjang, maka dia harus mempertanggung jawabkan semua informasi yang telah diberikan tentang kemurahan gunung Merapi., ibaratnya seorang nahkoda harus menyelamatkan seluruh penumpang sebelum menyelamatkan dirinya.
Jika ikut menjadi korban awan panas dan diketemukan jazatnya, maka seluruh tanggung jawab moral maupun hukum ikut dibawa kemana dia pergi. Namun yang saya khawatirkan  ada fihak yang dengan sengaja membuat sensasi yang “menghilangkan” jazat mbah Marijan, sebagai yang terjadi atas Supriyadi. Semoga hal ini tak terjadi.
Fenomena meletusnya gunung Merapi, betapapun banyak menelan korban, namun manfaanya sangat penting. Demikian juga fenomena mbah Marijan dapat menyadarkan seluruh umat manusia: Manusia diberi kesempatan untuk memilih: Meyakini/mempercayai sesuatu  tanpa berfikir, atau berfikir dulu sebelum mempercayai apalagi meyakini sesuatu.

4 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Oct 29, ’10
Saya merasa lega setelah “menunggu sekian lama” akhirnya jizim mbah Marijan diketemukan dalam keadaan sedang bersujud. Ini bukti bahwa dia tak terjerumus dalam materialisme.
Banyak yang mengira semua yang memanfaatkan ketenarannya untuk mencari uang dianggap materialistik, kenyataannya tidak demikian. Yang benar adalah mereka yang terkenal dan menjadi publick figure sangat berat godaannya, sehingga harus selalu “bertahan” untuk tidak diperbudak oleh materi dan kenikmatan duniawi.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Oct 29, ’10
Seandainya jizim mbah Marijan tak diketemukan maka mbah Marijan akan dikultuskan, padahal pengkultusan ini akan menjadikan penduduk disekitar gunung Merapi menjadi semakin tidak rasional dan semakin menyulitkan otoritas gunung Merapi dalam menangani pengungsi.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Oct 29, ’10
Tulisan diatas ternyata mendapat tanggapan dari kelopok yang menamakan diri “tongkosong” yang menyempatkan diri “mengundang” saya untuk chatting.
A. Tulisan pak Ibnu terkesan membela mereka yang memanfaatkan ketenarannya untuk menjari duit, tetapi memanfaatkan kemampuan/ penguasaan spiritual untuk mencari kenikmatan duniawi akan fatal akibatnya”
S. Benar sekali,ibaratnya bermain pisau yang termat tajam.
A. Jadi benar kata prof Damarjati.”
S. Tak sepenuhnya benar, banyak yang menggunaklan kemampuan / pengetahuan spiritualnya untuk mencari uang. Sepanjang itu memberikan manfaat bagi orang lain dan tak menjadi materialistik dan melakukan perbuatan maksiat dan pelanggaran norma kesusilaan dan hukum yang berlaku, justru akan memperoleh pahala.
A. Mbah Marijan itu menjadikan penduduk disekitar gunung merapa tak mematuhi petunjuk-petunjuk otoritas gunung Merapai.
Seharusnya sebagai juru kunci dan dipercaya oleh masyarakat membantu otoritas gunung merapi bukan malah menjadikan penduduk “membangkang” untuk meninggalkan desanya.
S. Itu tak benar, yang benar adalah mbah Marijan sangat yakin bahwa gunung Merapi sangat pemurah. Dia menggunakan logika keyakinan, bukan logika fikir. Guru spiritual saya mengatakan Belive without thinking is the way to heaven. So saya yakin atas dasar fikiran, lebih baik dia meninggal dari harus mempertanggung jawabkan akibat “pembangkangan” nya terhadap otoritas gunung Merapi dan menimbulkan banyak korban. Yang harus dibuktikan adalah: mereka yang membangkang itu memiliki keyakinan seperti mbah Marijan atau sekedar ikut-ikutan mereka yang lebih mencintai harta bendanya dari keselamatannya.
Mbah Marijan taat pada tugasnya sebagai juru kunci, itu harus kita hormati, tetapi jika dia menggunakan logika fikir seharusnya dia untuk sementara meninggalkan postnya. Tetapi mungkin menurut keyakinannya jika dia meninggalkan postnya gunung Merapi akan marah dan meletus dan letusan itu akan banyak meminta korban. Diyakini selama dia tetap setia menemani gunung Merapi, maka yang terjadi adalah pelimpahan kekayaan dari gunung yang diyakini sangat pemurah.
B. Yang menjadikan sulit difikir ialah: saat gunung itu meletus angin arahnya kebarat mengapa awan panas menuju kearah tenggara hingga menyapu desa mbah Marijan?
S. Itu mungkin kita sudah terjerumus pada sesuatu yang irasionil. Awan panas itu lain dengan debu. Debu dan pasir tersembur keatas dan terhembus angin, jadi arahnya sesuai dengan arah angin. Awan panas itu tersembur dari lobang yang arahnya ketenggara dan berat jenisnya lebih besar dari udara sehingga meluncur kebawah.
B. Mengapa harus kearah tenggara dan menyapu bersih desa mbah Marijan?”
S. Ya, karena lobang itu terarah kesitu.
C. Mengapa otoritas gunung Merapai tak memberi tahu bahwa ada lobang yang akan menyemburkan awan panas kearah desa mbah Marijan?

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Oct 29, ’10
S. Seandainya otoritas gunung merapi telah mengetahui bahwa kemungkinan besar atau bahkan telah dipastikan adanya awan panas yang akan mengarah ke tenggara dan sangat berbahaya bagi penduduk didesa mbah Marijan dan memberitahukan hal itu kepada mereka. belum tentu mereka bersedia mengungsi ketempat yang aman. Bagi mbah Marijan hal itu mungkin sekali atas dasar keyakinannya akan kemurahan gunung Merapi, sehingga dia berani mempertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkan banyak orang, tetapi bagi yang lain mungkin lebih didasarkan oleh logika kenyataan.
Meninggalkan desa yang telah lama memberikan kehidupan nyaman untuk tinggal di pengungsian yang serba kekurangan adalah bukan menjadi pilihannya. Mereka memilih mati jika memang terjadi bencana dari pada hidup dalam kesengsaraan.
Jadi, menurut saya yang harus dilakukan oleh otoritas adalah:
1. Menyediakan tempat pengungsian yang cukup memadai agar merurangi penderitaan para pengungsi.
2. Harta benda yang mungkin dibawa dalam pengungsian, misalnya ternak dapat diselamatkan dan tak menimbulkan masalah, misalnya hilang atau terlantar.
3. Seandainya terjadi musibah sehingga harta benda mereka tak tersisa lagi ada harapan bagi mereka yang masih diberi umur panjang untuk memulai kehidupannya yang lebih baik..
4, Memanfaatkan musibah yang telah terjadi untuk menyadarkan mereka bahwa pemerintah memperhatikan keslamatan dan nasibmereka sehingga mereka tak lagi menempati bagian yang jelas sangat rawan bahaya sehingga sebelum menikmati “anugrah alam” dan menjadi budak alam wilayah yang “menggiurkan” namun sangat beresiko diamankan dan dijadikan sejenis cagar alam.
5, Kita harus sadar merubah keyakinan jauh lebih sulid dari merubah fikiran seseorang, oleh karena itu ada baiknya HB X sebelum menetapkan pengganti mbah Marijan, tak hanya melihat dari sisi kemampuan spiritualnya melainkan juga dari sisi intelektualnya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s