Lebih bermanfaat mana: pancaindra, batin atau fikiran?

Pertanyaan: Menurut eyang manusia dikaruniai  pancaindra yang dapat dibantu dengan peralatan fisika, batin yang lembut dan peka, dan fikiran yang cerdas, hingga manusia dimuliakan  Allah. Kemampuan mana yang paling bermanfaat ?
Jawaban: Eyang menyatakan tiap makluk dikaruniai kelebihan dan kekurangan, tak ada yang “dimuliakan” atau paling dikasihi atau menjadi anak emas Tuhan YME hingga menjadi superior dalam segala hal. Mengapa? Tuhan YME maha adil! Fisik manusia sangat lemah, kemampuan pancaindra manusia sangat terbatas, tetapi manusia dikaruniai pikiran cerdas sehingga dapat membuat peralatan bantu fisika untuk menunjang aktivitas pancaindranya dan mempertahankan eksistensinya. Batin manusia sangat lembut sehingga seharusnya manusia sadar akan kebesaran Nya dan menghargai dan ikut menjaga setiap ciptaan Nya, bukan malah merusaknya.
Dalam TM eyang sebutkan adanya logika yang sangat dibutuhkan dalam mengambil kesimpulan dari masalah yang dihadapinya. Logika adalah hubungan antara pengambilan kesimpulan dengan argumentasi dalam pengambilan keputusan untuk  melakukan tindakan.
1. Logika keyakinan: tak menggunakan argumentasi karena dilakukan atas dasar hati nurani. Logika keyakinan akan menjadi konyol jika menjadikan orang merasa benar sendiri. Orang menjadi tidak rasional karena menganggap semua orang memiliki hati nurani yang sama dengan dirinya. Sebaliknya logika keyakinan sangat dibutuhkan agar manusia tak terombang-ambing dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
2. Logika fikiran: sangat sistematis hingga dalam mengambil kesimpulan menggunakan argumentasi atas dasar kaidah-kaidah/dalil-dalil dan hukum yang diyakini kebenarannya.  Logika fikiran akan menjadi konyol jika menjadikan orang merasa paling pandai sehingga menganggap orang lain bodoh dan mudah dibodohi, sehingga  orang menjadi kehilangan kelembutan hati nuraninya. Logika fikiran akan sangat bermanfaat jika mempertimbangkan akibat dari pengambilan keputusan, sehingga tak akan menjadi bumerang.
3. Logika nyata: dalam mengambil kesimpulan sangat dipengaruhi oleh kepentingannya, bukan lagi atas dasar kelembutan hati nurani atau kecerdasan.  Logika nyata  menjadi sangat konyol jika orang menjadi hanya mencari keuntungan bagi dirinya tanpa peduli terhadap lingkungan atau kepentingan orang lain. Logika nyata sangat berguna jika dimanfaatkan tanpa mencederai atau merugikan lingkungan dan fihak lain, bahkan jika mungkin menjadikan dirinya dipercaya dan dibutuhkan orang lain dan lingkungannya.
4. Kemampuan paralogika:  menjadi positip jika sanggup memilah-milah antara penggunaan ketiga logika diatas dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan bagi dirinya dan lingkungannya.  Kemampuan paralogika menjadi negatip jika mencampur adukkan dan salah pengeterapan logika.
5. Pancaindra sangat bermanfaat sebagai sarana menyaksikan/mengakses  kenyataan atas diri dan lingkungan tempat berada sehingga sangat dibutuhkan agar dapat  menggunakan berbagai logika termasuk pemanfaatan kemampuan paralogika. Pancaindra akan menjadi konyol jika menjadikan seseorang materialistik sehingga mengikis kelembutan hati nurani dan memperbodoh fikiran hingga sekedar mendapatkan kenikmatan sesaat tanpa peduli akan akibatnya.
Kesimpulan: Semua anugrah Tuhan YME bermanfaat, tinggal bagaimana memanfaatkannya.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s