Mengapa bumi ber-revolusi mengeliling matahari?

Pertanyaan: Eyang telah menjelaskan gaya gravitasi yang  menyebabkan inti Bimasakti yang berupa sebuah Blasckhole dengan kepadatan massa sangat besar , menarik matahari, dan matahari menarik planet-planet disekitarnya dgn menginformasikan bahwa ECL adalah gelombang longitudinal quantum eterik,  yang jika bertemu akan menghasilkan graviton, berubahnya operator X menjadi + menjadikan quantum eterik terurai menjadi quantum dan eter yang bergabung menjadi eter (E#0)  dan menyebabkan  kekosongan ruang yang menyebabkan tekanan negatip diantara dua massa yang memancarkan ECL. Seandainya itu benar, pastilah benda-benda yang memiliki massa akan bergabung atau menyatu, kenyataannya tak demikian.
Dapatkah eyang menjelaskan?
Jawaban: Eyang sangat beruntung memiliki cucu yang sangat memperhatikan teori eyang dan  terus bertanya sesuatu yang belum dimengerti serta mengkritisi teori eyang. Namun pesan eyang janganlah cucu bimbang atas kebenaran fisika yang telah cucu kuasai, sebab eyang berharap cucu akan sanggup membuktikan kebenaran atau kebohongan teori eyang dengan membandingkan teori fisika dengan TM.
Dua objek alam semesta yang saling tarik menarik akibat adanya gaya tarik gravitasi dapat bertahan pada jarak tertentu karena objek yang satu dengan massa yang lebih kecil berputar mengelingi objek yang lebih besar massanya menurut orbit masing-masing Objek yang berputar  pada pusatnya akan memiliki gaya lempar keluar (gaya sentrifugal). Gaya inilah yang dapat mengimbangi gaya tarik gravitasi.
Cucu pasti bertanya: mengapa objek yang satu dapat mengelingi objek yang lain. Pada atom yang menyebabkan elektron berputar mengelingi proton adalah adanya eter yang menyebabkan medan listrik disekeliling proton. Atas dasar itu eyang menginformasikan bahwa atom bukannya sekedar quantum melainkan quantum eterik.
TM menyatakan bahwa garviton adalah media transisi  keluar dari keseimbangan prima, sedangkan photon merupakan media transisi menuju keseimbangan prima. Jadi alam semesta ini menjadi seimbang karena adanya photon dan graviton. Kalau graviton menyebabkan gaya tarik gravitasi, pastilah photon yang harus mengembanginya. Atas dasar ini eyang menyimpulkan putaran yang mengimbangi gaya tarik gravitasi pastilah disebabkan oleh photon.
Bumi dan planet lainnya dihujani photon dari matahari, objek ini sanggup berputarr mengelingi matahari. Matahari berputar mengelingi inti Bima sakti karena matahari menghujani Blackhole dengan photon. Jadi photonlah yang menjadikan objek berputar pada orbitnya.
Apa yang akan terjadi jika semua matahari padam karena kehabisan hidrogen yang merupakan bahan bakar termo nuklir? Secara logika fikir pastilah semuanya tertarik oleh inti galaksi yang berupa Black hole yang memiliki gravitasi sangat kuat dan tak memancarkan STW dan hanya memancarkan ECL.
Nah, jangan khawatir: menurut TM hydrogin dapat terbentuk dari proses komplementasi dari eter yang terdapat dimatahari, sehingga secara teoritis hydrogen di matahari tak akan habis.
Eter juga tak akan habis karena selalu terbentuk dari graviton yang “pecah”menjadi eter. Ini bukan berarti matahari tak dapat padam, melainkan matahari akan dapat bersinar lebih lama dari dugaan fisika yang tak mengakui adanya eter.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s