Mungkinkah benda memiliki nyawa, roh atau soul?

Pertanyaan: Pak Ibnu memprediksikan suatu saat manusia sanggup membuat telor tiruan (imitasi) yang sanggup menetas menjadi ayam. Ini artinya manusia akan sanggup membuat makluk hidup. Menurut saya tak mungkin benda memiliki nyawa, atau tak mungkin manusia menciptakan makluk hidup, sebab hanya Allah yang sanggup melakukannya.
Jawaban: anda benar sekali, manusia tak mungkin menciptakan makluk hidup, benda tak mungkin hidup (bernyawa). Hasil tehnologi, misalnya mobil,robot,komputer dll,  tak mungkin memiliki nyawa. Yang perlu anda ketahui telor dan organisme bukan sekedar benda atau matter yang kode minimalisnya 0qq. Benda terbentuk dari quantum hingga  selalu valid, tak memiliki bagian yang invalid, tetapi organisme memiliki bagian yang invalid yaitu STW yang kode minimalisnya #0#0#0 yang menghasilkan photon.. Soul juga invalid karena z#- x + y.  Sesuatu dapat berinteraksi jika memiliki link.  Benda dan soul tak memiliki link hingga tak mungkin melakukan interaksi. Jadi memang sangat tak mungkin benda berinteraksi dengan soul. Lain halnya organisme dapat melakukan interaksi karena memilki link #0#0#0 sehingga organisme dapat hidup sepanjang masih dibutuhkan oleh spirit.
TM menyatakan bahwa Tuhan YME bukan sekedar pencipta yang harus  menyelesaikan sendiri setiap ciptaan Nya. Tuhan YME merupakan Perencana Agung sehingga cukup “melakukan” sentuhan awal dan memberikan “bekal” kepada setiap ciptaan Nya untuk menjada diri masing-masing, mengembangkan diri dan saling memberi dan menerima. Setiap ciptaan Nya diberi kesadaran (consciousness) akan keberadaannya, diberikan kesempatan untuk memilih dan mempertanggung jawabkan pilihannya.
Sudah terbukti manusia mempunyai kemampuan dalam membuat sesuatu yang dapat melakukan aktivitas sebagai living organisme lewat kecanggihan tehnologi. Tehnologi tak akan sanggup membuat living organisme, namun mungkin sekali membantu manusia dalam rekayasa genetika. Ini sudah terbukti dalam kemajuan ilmu kedokteran dan biologi. Jika saja tak berbenturan dengan budaya dan etika yang berlaku dalam bermasyarakat , maka rekayasa genetika pasti telah maju mengimbangi kemajuan tehnologi. Beberapa dekade yang  lalu manusia belum sanggup melakukan proses bayi tabung, kloning, kultur jaringan dll. Saat ini semuanya telah terbukti sanggup dilakukan manusia. Mengapa? Semua yang dapat dilakukan oleh manusia pasti telah mendapatkan izin Nya. Namun harus diingat semua risikonya harus dipertanggung jawabkan terhadap budaya dan etika yang berlaku agar tak menimbulkan gejolak dalam masyarakat.
Dengan meniru telor asli sebenarnya manusia dengan rekayasa genetikanya mungkin sekali menghasilkan telor yang sangat mirip dengan telor asli.  Telor tiruan memang tak mungkin mendapatkan soul, sebab soul senuhnya taat terhadap kehendak Nya. Lain halnya spirit yang telah memiliki  tubuh astral hingga memiliki energi. Spirit memiliki kemauan untuk memilhi organisme yang diinginkani dan kemampuan untuk memanfaatkan organisme yang diinginkan untuk melakukan aktivitasnya.  Spirit akan memilih organisme yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tak peduli apakah organisme itu alami (hasil proses alam) maupun “tiruan” ( hasil  rekayasa genetika yang ilmiah). Seringkali hasil ilmiah justru lebih  cocok untuk menujang aktivitas spirit dalam memanfaatkan berbagai jenis energi, karena dalam rekayasa genetika selalu terjadi inovasi yang revolusioner, misalnya organisme menjadi  tahan terhadap lingkungan dan musuh-musuh alami.
Kesimpuolan: benda tak mungkin memiliki nyawa, yang mungkin memiliki nyawa adalah organisme karena organisme memiliki link dengan soul. Manusia sanggup membuat organisme tiruan, misalnya telor tiruan dan sperma tiruan yang di “reaksikan” menjadi zigote tiruan yang sanggup menarik selera spirit. Zigote hanya mungkin berkembang jika dimanfaatkan oleh spirit. Tanpa dimanfaatkan oleh spirit, zigote akan rusak sebelum menjadi living organisme.
Gagasan saya ini justru  menginformasikan bahwa manusia hanya sanggup membuat organisme tiruan, bukan membuat makluk hidup sebab baik soul maupun spirit tak mungkin dibuat/diciptakan oleh manusia.
Dalam sejarah peradaban manusia, pernah diyakini adanya benda keramat yang dianggap memiliki “roh”, padahal yang “menghuni” benda itu bukannya roh melainkan spirit. Saat inipun masih terdapat sisa-sisa benda keramat, ini membuktikan bahwa spirit bukan saja dapat memanfaatkan organisme tiruan atau organisme yang telah ditinggalkannya, bahkan spirit sanggup memanfaatkan benda.
Mengapa hal itu dapat terjadi? Jawaban menurut TM adalah atom bukanlah sekedar paket quantum (0qq)  melainkan paket quantum eteric (0qq + #0#0#0). Jadi sebagain dari matter adalah eter. Eter adalah dipole yang belum mengalami keseimbangan prima sehingga kode minimalisnya #0#0#0 valid, sedangkan spirit memiliki tubuh astral yang kode minimalisnya juga #0#0#0. Jadi menurut TM terdapat link antara benda dengan spirit.

Aja gumunan lan gampang percaya, ning ya aja gampang maido apa sing durung kok ngerteni. Thinking before believing is the way to reality/

 

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s