Alam semesta berasal dari titik singular dan akan kembali menjadi titik singular?

repl

Pertanyaan: Menurut Teori Bigbang alam semesta berasal dari titik singular dan ada yang memperkirakan akan kembali menjadi sebuah titik singular. Bagaimana menurut bapak?
Jawaban: Teori Minimalis membedakan antara Alam Semesta dengan Sub Alam Fisika. Menurut TM Bigbang bukanlah nongolnya Alam Semesta dari titik singular melainkan kelahiran Sub Alam Fisika dari unsur premordial.
Ada “perkiraan” atau teori  Blackhole semakin mengecil  kemampuan gravitasinya sangat tinggi karena kepadatan masanya menjadi sangat besar sehingga dapat “menyedot” semua yang ada dalam jangkauan gravitasinya. Masing-masing galaksi akan masuk kedalam blackhole yang menjadi pusat galaksi masing-maisng , lalu blakchole yang satu dengan yang lain saling tarik menarik, menjadi satu lalu menjadi satu titik singular  kemudian  lenyap entah kemana perginya sebagai mana entah dari mana timbulnya.
Teori itu mengingkari adanya Tuhan YME yang tidak hanya menciptakan materi  (0qq) melainkan  merencanakan dengan seksama sebelum menciptakan Alam Semesta dan isinya dan menyertakan hukum untuk mengaturnya, yaitu hukum Ekologi Universe. Hukum ini menyatakan hubungan antara Alam Semesta sebagai rumah dan isi alam semesta sebagai penghuninya. Alam Semesta akan mengembang jika isinya yang memerlukan tempat bertambah  dan akan mengecil jika isinya banyak yang  tak  lagi memerlukan ruang nyata.
Atas dasar ini maka TM menyatakan “paling tidak” ada dua jenis isi alam semesta, yaitu yang belum membutuhkan ruang nyata dan yang telah membutuhkan ruang nyata., sehingga TM bukan berbasis pada materi (quantum) melainkan berbasis energi (quantum eteric atau matter dan eter). Matter membutuhkan ruangan nyata sedangkan Eter tak memerlukan ruang nyata. Keduanya merupakan paket energi. Matter merupakan paket quantum (energi fisika), sedangkan eter merupakan paket eteric(energi transien).
Teori Quantum eteric menyatakan adanya 3 kondisi:
a.kondisi over all dimana quantum menyatu dengan eteric, (Er = E’ X E” = 0)
b. kondisi over lap dimana quantum bergabung dengan eteric (Er = E’ + E” # 0)
c. kondisi spacing dimana quantum terpisah dari eteric. (E’=0 dan E”#0 terpisah).
Jadi Isi Alam semesta terdiri dari quantum eteric (Er=0), anti mater (Er#0) tak stabil, Eter (E#0) stabil dan matter (E=0) stabil. Kondisi dan prosentasi isi alam semesta inilah yang menentukan kebutuhan ruangan, sehingga alam semesta dapat mengembang atau mengecil.
Seandainya semua isi alam semesta berubah menjadi E#0. maka alam semesta akan mencapai kondisi terkecil karena hanya terisi oleh eter, sebaliknya sendainya seluruh isinya menjadi E=0, maka alam semesta akan mengembang agar dapat menampung matter yang memerlukan ruang nyata.
Namun karena Tuhan YME  merencanakan segala sesuatunya dapat mengatur dirinya sendiri dan lingkungannya, maka masing-masing  akan berusaha menghindari kondisi yang tak nyaman. Alam semesta akan memberikan tempat pada isinya, namun memberikan reaksi atas “kepadatan” dan “kekosongan” yang akibatnya akan dirasakan oleh penghuninya, sehingga penghuni itu akan mengatur dirinya sendiri agar terasa nyaman. Itulah sebabnya Dia memberikan bekal consciouness (kesadaran) pada setiap ciptaan Nya. Alam Semesta dan isinya akan saling menjaga kondisi seimbang antara isi/penghuni dan  ruang/rumah.
Kesimpulan:
Alam Semesta dan isinya tak mungkin kembali menjadi sebuah titik singular kecuali atas kehendak Nya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 19, ’10
Menurut TM setiap matter yang memiliki massa memancarkan ECL yang tak lain adalah gelombang longitudinal dari quantum eteric. Pertemuan dua ECL akan menyebabkan gaviton yang akan berubah dari quantum eteric menjadi anti matter untuk selanjutnya menjadi eter dan quantum. Quantum akan menyingkir dari dawai ECL dan mengisi ruangan diluar dawai, sedangkan eter akan menyebabkan kekosongan ruang diujung dawai ECl. Kekosongan inilah yang menyebabkan gaya tarik massa atau gaya tarik gravitasi, namun diluar dawai justru terjadi quantum yang akan ikut “menghalangi” benda yang akan tertarik oleh benda yang massanya besar terhadap benda yang massanya jauh lebih kecil. (misalnya bumi yang menarik meteor, hingga meteor terhalang untuk jatuh bebas ke bumi. Disisi lain anti meter akan menihilkan quantum disekitarnya menjadi wave.
Agar dapat menarik matahari disekitarnya, inti galaksi (Blackhole) setiap saat harus memancarkan ECL yang tak lain adalah quantum eteric, sehingga atom-atomnya “mengecil” akibat kurangnya quantum eteric dan yang menyisakan quantum murni yang tak mengandung eter. Hal ini dapat dijelaskan dengan mengasumsikan radius sebuah atom ditentukan oleh radius orbit elektron terluarnya. Menurut TM elektron memutari intinya akibat adanya medan listrik yang ditimbulkan oleh getaran eter dari quantun eteric yang membangun sebuah atom. Berkurangnya eteric pada atom akan menyebabkan radius atom mengecil. Jika atom mengecil maka matter akan mengecil namun massanya tak banyak berubah. Menurut mekanika quantum, quantum tak dapat dilenyapkan, jadi tak mungkin Blackhole menjadi sebuah titik karena matter membutuhkan ruangan, apalagi galaksi, apalagi Sub Alam Fisika,……………… Jadi tak mungkin Alam Semesta kembali menjadi sebuah titik. Alam Semesta hanya dapat dilenyapkan atas kuasa Tuhan YME.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 20, ’10
Inilah yang terjadi dalam sebuah Blackhole menurut TM.
Blackhole memiliki kepadatan massa sangat tinggi karena atom-atomnya mengecil, bahkan ada yang menjadi sejenis inti atom karena elektronya “menempel” pada inti atomnya membentuk sejenis neutron, sehingga seluruh ruangan terisi quantum/partikel. Betapapun padatnya matter namun disitu masih terdapat eter dalam kondisi spacing dengan eter. Eter dapat bergabung (over lap) membentuk anti mater atau menyatu (over all) membentuk quantum eterikc. Baik quantum eteric maupun anti matter membutuhkan tempat karena telah memiliki bagian yang telah seimbang. Quantum eterik berusaha keluar dari sistem untuk mengurangi tekanan dalam bh. Inilah yang menyebabkan bh memancarkan ECL. Semakin tinggi tekanan quantum eteric dalam bh, semakin jauh pancarannya. Anti matter akan bergabung dengan matter dan melakukan proses annihilis menjadi radiasi sinar gamma. Pancaran sinar gamma ini dapat terdeteksi oleh teropong sinar X.

Aja gumunan lan gambang percaya, ning ya aja gampang maido apa sing ora kok ngerteni. Thinking before believing is the way to realality. Berfikir sebelum meyakini adalah jalan menuju kenyataan, sebaliknya kenyataan dapat menyatukan antara fikiran dan keyakinan.

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s