Apa jadinya jika energi di bumi terkuras habis? Kiamat?

Pertanyaan: Manusia saat ini mulai gelisah karena semakin lama energi yang tersedia dibumi semakin menipis, sampah semakin menumpuk, polusi disegala bidang, suhu semakin naik akibat efek rumah kaca…… dll. Jadi benar ramalan bahwa bumi akan kiamat. Bagaimana untuk mencegah kiamat?
Jawaban: Tak ada yang sanggup  memprediksi, meramal apalagi mencegah kiamat kecuali Tuhan YME. Yang perlu dipertanyakan  apa yang anda maksud dengan kiamat? Apakah kiamat bumi, kiamat sistem sola/matahari ,kiamat galaksi (misalnya kiamat Bimasakti) atau kiamat Sub Alam Fisika,atau kiamat seluruh alam semesta?
Menurut TM alam semesta merupakan sebuah sistem tertutup sehingga jumlah energinya tetap, yang berubah hanyalah jenis/ujudnya. Bumi merupakan bagian dari alam semesta, sehingga tak mungkin kehabisan energi. Yang dapat terjadi adalah “pergeseran prosentase” energinya. Setiap saat jenis energi berubah sehingga mungkin sekali manusia atau living organisme tak sanggup memanfaatkan energi baru yang terjadi dan hilangnya jenis energi lama dianggap “tiadanya” atau terkurasnya energi yang tersedia. Living organisme membutuhkan berbagai jenis energi, namun sebagian besar, atau bahkan semuanya membutuhkan cahaya. Hanya tumbuh-tumbuhan yang sanggup meruibah energi matahari langsung menjadi bio energi sekaligus mendaur ulang energi fisika yang tak bermanfaat menjadi dibuthkan oleh living organisme yang lain. Tumbuh-tumbuhan dapat merubah gas carbon dioksida menjadi tepung dan oksigen yang keduanya sangat dibutuhkan oleh living organisme yang lain. Living micro arganisme atau jasat renik sanggup mendaur ulang “sampah” organisme menjadi unsur hara. Binatang pemakan tumbuh-tumbuhan merubah unsur nabati yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan menjadi unsur hewani (diantaranya daging), binatang pemakan daging memakan daging dan merubahnya menjadi kotoran yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan untuk melengkapi proses hidupnya.  Hampir semua ciptaan Tuhan YME merupakan sebuah rantai  kehidupan yang sanggup merubah berbaga energi menjadi jenis energi lain, sehingga keseimbangan energi selalu terjaga secara alami. Bumi menjadi sorga bagi living organisme karena terjaga kelestariannya.
Kehadiran manusia di bumi menjadikan keseimbangan energi di bumi goyah karena manusia bukan lagi menggunakan energi sekedar untuk dapat hidup melainkan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya adalah kenikmatan duniawi.
Manusia boleh saja merasa dimuliakan oleh Tuhan YME karena sanggup mengungguli ciptaan Tuhan YME yang lain berkat diberikan kecerdasan untuk membuat peralatan fisik yang tak mungkin dibuat oleh yang lain. Tubuh manusia sangat lemah,   demikian juga panca indranya  sangat terbatas, tetapi disamping kecerdasan  untuk mengimbangi kelemahan fisik dan keterbatasan panca indra sebenarnya manusia juga dibekali keyakinan untuk mengakses alam abadi dimana dijanjikan  kebahagiaan abadi dan bukan sekedar kenikmatan sementara, namun agaknya fikiran dan pancaindra yang ditunjang oleh peralatan fisika (hasil tehnologi) menjadikan manusia menisbikan adanya kebahagiaan abadi.
Agama membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan abadi dengan menjanjikan sorga dan ancaman neraka, tetapi menggunakan pendekatan yang irrasional, diantaranya menggunakan dosa sebagai “pengendalian” nafsu manusia. Andaikata manusia masih takut atas akibat dosa, pastilah kehidupan dunia ini terjaga kelestariannya. Kenyataannya bagaimana? Moralitas agung yang menggunakan dosa untuk mengatur kehidupan dunia agar berjalan dengan tertip ,seakan telah “diremehkan” oleh mereka yang telah dikuasai oleh materialisme. Itulah sebabnya manusia mengatur dirinya sendiri dengan moralitas tertib hukum, manusia diatur oleh hukum buatan manusia sendiri. Celakanya hukum buatan manusia tak dijalankan secara konsisten sebagai akibat dari logika praktis atau logika kenyataan. Logika kenyataan teramat subjektif dan didasari oleh kepentingan yang menggunakannya. Logika pengusahan (yang ingin memanfaatkan energi yang tersimpan dibumi hingga sangat rakus menguras energi yang tersedia dibumi) berbeda dengan logika pencinta lingkungan (yang ingin mempertahankan keseimbangan alami, hingga hanya memanfaatkan energi seperlunya.) Inilah pangkal dari “sengketa diantara manusia” karena masing-masing merasa dirinya paling benar. Yang rakus merasa paling berhak menguasai kekayaan dibumi karena merasa dapat melawan dan menguasai kekuasaan alam, yang merasa alam akan sanggup menghancurkan peradaban manusia berusaha untuk hidup damai dengan alam.
Bagi yang rakus sangat yakin energi di bumi tak akan habis dengan cara berusaha mencari dan memanfaatkan energi lain yang tersedia dibumi, bahkan jika perlu mempertaruhkan banyak energi untuk mendapatkan energi lain yang tersedia diluar bumi. Yang ingin bersahabat dengan alam khawatir jika keseimbangan di bumi akan goyah sehingga manusia dan  kehidupan di dunia menjadi taruhannya.
Menurut saya: energi di bumi tak akan habis, namun mungkin saja manusia belum sanggup memanfaatkan energi lainnya atau  penggunaan  energi  baru telah sanggup dimanfaatkan memiliki dampat buruk terhadap kehidupan, padahal kenyataan energi yang telah dapat dimanfaatkan secara aman telah menipis atau habis. Jadi akan lebih baik kita gunakan energi secara efisien, sementara itu berusaha mendapatkan energi lain dan cara untuk memanfaatkan dengan aman, misalnya energi nuklir, energi matahari, energi sampah, bio energi yang bukan berasal dari fosil yang membutuhkan proses sangat lama

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s