NAFSU adalah SUMBER KEHIDUPAN.

Pertanyaan: Saya sangat kagum atas gagasan bapak yang menyatakan bahwa setiap ciptaan Tuhan YME dibekali dengan kesadaran (consciousness) akan keberadaan dirinya masing-masing diantara lingkungannya, termasuk energi, body dan wave, sehingga isi alam semesta dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan hukum yang telah disertakan . Yang saya ingin tahu apakah setiap ciptaan Nya dibekali dengan nafsu?
Jawaban: Menurut  Sigmund Freud  makluk hidup termasuk manusia yang masih hidup  dikendalikan oleh nafsu, diantaranya nafsu sex, nafsu biologis, nafsu untuk melakukan aktivitas agar tetap bertahan hidup dll. Sigmund  Freud tak mengikut sertakan sesuatu yang mati, jadi benda dianggap  tak memiliki nafsu. Nafsu dipandang sebagai pengendali sesuatu yang hidup, termasuk manusia.
Saya setuju bahwa nafsu membedakan antara benda dengan makluk hidup (walau tak sepenuhnya benar), sehingga dapat dikatakan nafsu adalah sumber suatu kehidupan, seperti filsafat lama yang menyatakan air adalah sumber kehidupan (karena filsafat ini hanya menganggap kehidupan sekedar living organisme).
Namun saya berbendapat makluk hidup (terutama manusia) tidak dibekali nafsu, melainkan nafsu  justru merupakan interaksi atau akumulasi dari batin, fikiran, pancaindra dan paralogika. Nafsu timbul setelah setiap masukan diolah oleh otak (sebagai halnya cpu dalam komputer) dari pancaindra, fikiran, batin, dan paralogika untuk dieksekusi dan dimanifestasikan dalam perbuatan. Itulah sebabnya “perbuatan” sangat dipengaruhi oleh kerja otak atas dasar masukan lewat pancaindra, fikiran, paralogika dan batin. Memang benar perilaku makluk hidup dikendalikan oleh nafsu, namun nafsu “diputuskan” oleh kerja otak atas dasar masukan lewat pancaindra, fikiran, paralogika dan bathin.
Ini artinya nafsu dapat dikendalikan/bukan hanya mengendalikan  oleh setiap living organisme sesuai dengan kemampuan  organisme masing-masing. Setiap organisme memiliki “otak” atau “semisal otak” yang dimodelkan sebagai cpu dalam sebuah komputer, kesanggupan mengolah data berbeda-beda.  Namun harus disadari bahwa ada faktor lain dalam living organisme, yaitu spirit dan soul. Dalam Teori Paralogika spirit merupakan user sedangkan organisme merupakan komputer. Bedanya, spirit dan soul bukan sekedar user melainkan juga programmer, tehnisi, dan operator yang mengendalikan pertumbuhan organisme, sehingga pertumbuhan nafsu juga akibat “ulah” spirit atau soul, bukan sekedar kemampuan organisme yang dimanfaatkan oleh spirit.

Dalam fiksi Blackhole Max Freud (bedakan dengan Sigmund Freud) menyatakan: Kebiasaan adalah rel menuju tujuan, oleh karena itu dia menyarankan agar sejak dini ditanamkan kebiasaan pada diri kita masing-masing  untuk meresonansi  sesuatu yang baik, yaitu tidak merugikan/mencederai diri kita sebagai induividu dan bagian lingkungan, tak mencederai fihak lain/lingkungan, termasuk orang lain. Kebiasaan berfikir dan berkeyakinan baik akan menuntun paralogika (bawah sadar) hingga dalam keadaan sadar maupun tak sadar kita secara automatis melakukan sesuatu yang baik, sehingga  nafsu kita mendorong kita untuk melakukan yang baik dan secara automatis menjauhi yang buruk. Nafsu buruk berkembang dari kebiasaan berfikiran buruk (bad thinking), batin/keyakinan buruk (bad believing) , sensor indra buruk (bad seeing)  sehingga  biasa meresonan/memilih   masukan buruk, hingga meresap dalam bawah sadar menjadi “mimpi-mimpi” atau  angan-angan buruk (bad dreaming  or bad imagining ). Nafsu buruk inilah yang termanifestasi dalam perbuatan nyata atau mimpi dan lamunan. Jadi nafsu dapat menjadikan perbuatan  baik maupun buruk tergantung dari “kebiasaan”  mengindra, berfikir, meyakini, meresapi dan berbuat. Nafsu adalah sumber kehidupan, tetapi tergantung dari kebiasaan  meresonansi  masukan dan  memanfaatankan nya dalam perbuatan.

sepunten
sepunten wrote on Dec 17, ’10
lebih tepatnya mungin Keinginan ya Pak… kalau dilihat dari konteks bahasa
sebab nafsu konotasinya beda dg keinginan 🙂

subhanallahu
subhanallahu wrote on Dec 17, ’10
nafsu muthmainnah OK Pak 🙂
ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 17, ’10
@ sepunten: benar sekali, keinginan adalah bagian dari nafsu, sebab nafsu memiliki arti yang sangat luas. Dalam artian khusus dorongan nafsu jauh lebih kuat dari sekedar keinginan.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s