TAHTA UNTUK RAKYAT bukan suara rakyat/tuhan untuk mencari tahta. Pemaksaan kehendak akan menjadikan konflik.

Pertanyaan: Saat ini setiap menyaksikan TV dan berita lewat internet aku sangat sedih karena bangsa dan negaraku yang sangat kucintai kini  bagaikan “neraka” yang jauh dengan yang kuimpikan, yaitu bagaikan sorga yang tenteram,damai dan abadi.
Yang sangat menyakitkan adalah masalah Yogya, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Kini aku merantau keluar negeri untuk membuktikan bahwa putra Indonesia,khususnya Yogya sanggup :bersaing sekaligus bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.
Orang tuaku ada di Yogya sehingga setiap saat aku “memantau” kondisi Yogya. Saat Yogya “genting” akibat ulah gunung Merapi dan pemberitaan lewat media TV dan internet, kami meminta orang tuaku “mengungsi/ meninggalkan Yogya”, tetapi beliau baru akan meninggalkan rumah jika wilayah yang beliau tempati (kurang lebih  26 km dari puncak merapi) dimasukkan kedalam wilayah bahaya dan diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu oleh yang berwenang.
Argumentasi beliau diantaranya: Orang nomor satu saja,” presiden” menemani rakyat Yogya, berarti diyakini tak akan terjadi sesuatu yang fatal sebagai yang diramalkan oleh mereka yang meramal secara irrasional (misalnya Permadi) dan yang rasionil para ahli sejarah dan ilmuwan yang memprediksikan Yogya akan dikubur oleh kemurkaan Merapi.
Saat itu beliau memandang Sby sangat bijaksana, dapat menenteramkan rakyat Yogya yang sedang dilanda musibah. Tetapi sasat ini beliau sangat kecewa, karena dalam kondisi yang sangat kruisal, saat penduduk Yogya belum sembuh dari “luka” dan kepedihan, secara mengejutkan Sby  mengkutik-kutik masalah keistimewaan Kasultanan Jogyakarta. Kata beliau ini sangat bertentangan dengan ketika dia menenteramkan rakyak Jogya.
Aku bertanya: Mengapa bapak tak ikut bicara masalah Keistimewaan Yogyakarta?
Jawaban: Anakku, ketahuilah bahwa bapak adalah kawula Yogya, jadi suara bapak pasti tak akan digubris oleh mereka yang “nggege mongso” untuk :”menegakkan demokrasi” tanpa melihat kondisi dan situasi, sebaliknya juga akan menjadi bumerang jika bapak bertindak sebagi penengah sehingga dicap sebagai penghianat karena tidak “membela” tanah tumpah darah, Yogya yang sangat bapak cintai. Jadi lebih baik diam. Ada pepatah yang menyatakan diam itu emas.
Karena bapak sering menulis di internet yang dibaca oleh masyarakat luas, banyak yang menyarankan agar bapak “urun rembug” agar masalah keintimewaan Yogya tak berlarut-larut dan menimbulkan komflik yang berkepanjangan sehingga menghambat pemulihaan luka yang diderita rakyat Yogya.
Menurut bapak pada umumnya konflik terjadi akibat satu dengan yang lain ingin memaksakan kehendaknya dan merasa benar sendiri. Konflik juga dapat timbul akibat kesalah fahaman.
Kesalah fahaman dapat dihindari atau diluruskan jika masing-masing mau melakukan introspeksi dan mau mendengar argumentasi fihak lain.
Masalah keintimewaan Yogya sebenarnya telah “ditelantarkan” karena kawula Yogya ingin mendapatkan kepastian dan “payung” hukum keberadaan Yogya sebagai wilayah NKRI yang memiliki keistimewaan. Penafsiran keistimewaan inilah yang harus ditegaskan dalam suatu undang-undang.
Katanya pemerintah telah “menetapkan” beberapa keistimewaan Yogya, kecuali masalah pemilihan dan penetapan  gubernur. Pemerinah Pusat menganggap penetapan gubernur tanpa melalui pemilihan langsung oleh rakyat melanggar azas demokrasi, sebaliknya yang menginginkan gubernur ditetapkan atas dasar sistem turun temurun menggunakan berbagai argumen, diantaranya adalah JASMERAH terbentuknya NKRI.
Menurut bapak: serahkan saja masalah itu kepada rakyat/penduduk Yogya, kalau saat ini dan mungkin seterusnya mereka menginginkan gubernur berdasar keturunan sultan, pasti mereka memiliki argumentasi rasional, artinya ada keturunan sultan yang sanggup menjalankan fungsi sebagai gubernur. Seandainya tak satupun diantara keturunan sultan dapat dihandalkan oleh rakyat/penduduk Yogya, dan mengingkari prinsip “tahta untuk rakyat”, barulah mereka akan sadar perlunya calon lain diluar turunan sultan. Saat inilah yang tepat untuk memikirkan masalah pemilihan gubernur secara langsung, bukan sekarang karena sudah terbukti bahwa HB X mampu menjalankan funsi gubernur. Lebih-lebih saat ini rakyat Yogya membutuhkan ketenteraman dan membutuhkan pengayom spiritual, sekaligus pengayoman hukum.
Bagaimana seandainya ada fasal yang menyebutkan masalah penetapan sultan sebagai gubernur diterima saja dengan catatan sepanjang ada turunan sultan yang dikehendaki oleh kawula Yogya. Bapak yakin  seandainya gubernur berbuat sesuatu yang mengecewakan/
menelantarkan rakyat, pasti akan didemo , apakah itu dipilih secara demokratis maupun secara turun temurun. Rakyat Yogya cukup kritis dan realistis.
Jadi janganlah “memaksakan”  kehendak gubernur harus dipilih secara langsung oleh rakyat, karena hal itu mengingkari makna demokrasi untuk rakyat lewat musyawarah,dan mufakat bukan untuk kepentingan penguasa yangmencari simpati rakyat berlatar belakang politis, mencari dukungan rakyat untuk kemudian setelah berkuasa menindas rakyat. Siapapun yang menjadi gubernuir harus dapat mensejahterakan rakyatnya dan ini telah digariskan oleh HB IX dengan amanat  “tahta untuk rakyat” bukan  “suara rakyat” untuk mencari tahta/kekuasaan. untuk kemudian menelantarkannya.
Berilah keistimewaan kepada turunan raja untuk menjadi gubernur sekaligus raja, sebagai bukti penghargaan atas jasa HB IX yang telah membuktikan bahwa : tahta untuk rakyat walauipun dia mendapatkan tahta bukan dari rakyat. Biarlah rakyat menilainya, apakah amanat itu dijalankan atau tidak. Jika yang ditunjuk sebagai raja tak becus menjadi gubernur rakyat  berhak memilih turunan raja yang lain, baru jika diantara mereka tak ada yang becus barulah diberi kesempatan kepada mereka yang memang pantas untuk mencadi gubernur.
Seandainya ada dua atau lebih keturunan raja yang pantas untuk menjadi gubernur, maka keluarga rajalah yang pertama kali menetapkannya, jika mereka tak sanggup, bahkan menimbulkan konflik (seperti yang terjadi di Solo saat menetapkan  raja Solo) barulah perlu dilakukan pemilihan gubernur dengan calon diantara keluarga/turunan Sultan  yang memperebutkan tahta dan calon lainnya agar konflik istana tak menjadi koflik diantara perngikutnya.
Dengan cara ini akan terjadi “persaingan” diantara turunan raja untuk mendekati dan memikirkan kesejahteraan  rakyat dan menjalankan amanat HB IX “tahta untuk rakya”, sekaligus ada jaminan bahwa tak akan terjadi konfliks diantara turunan raja dalam memperebutkan tahta hingga menyeret kepentingan rakyat.
Jika gagasan bapak ini melukai kawula Yogya, bapak memohon maaf, sebab gagasan ini timbul justru karena bapak sangat mencintai Jogya yang selama ini aman dan damai. Risiko pemilihan gubernur secara langsung  justru dapat menjadikan terjadi konflik diantara kawula Yogya yang saat ini sedang “dirundung” duka nestapa.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 14, ’10
Lebih mulia mana :
a. ” tahta untuk rakyat” (walaupun tahta itu diperoleh dari turunan dan bukan atas pilihan rakyat) sebagai yang diamanatkan dan dibuktikan oleh HB IX .
b. suara rakyat untuk mencari tahta/kekuasaan dengan dalih suara rakyat adalah suara tuhan untuk kemudian tahta/kekayaan yang didapatkan dari kekuasaan yang didapat dari rakyat akan “diwariskan” pada kroni/konco dan anak cucunya sebagai “demokrasi” ala orde baru.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 15, ’10, edited on Dec 15, ’10
Bung Karno memperingatkan: ” Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)”, namun sebagai rakyat jelata yang menjadi saksi sejarah karena ikut mengalaminya ternyata banyak yang telah diselewengkan/dimanipulasi demi mengelabui anak cucu saya akan kehebatan dan jaza-jaza suatu rezim penguasa, hingga saya berpesan pada yang berwenang membuat sejarah:”Jangan sekali-kali memanipulasi sejarah! ” sebab sepandai-pandai membungkus yang busuk akan tercium juga.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s