Tak setiap informasi dapat/boleh diketahui oleh sembarang orang/fihak.

Pertanyaan: Menurut anda informasi adalah penghubung antar ruang dan antar waktu, suatu informasi harus jujur agar tak kehilangan kepercayaan. Ternyata dalam kenyataan banyak informasi yang menjanjikan sesuatu yang sekedar untuk menarik publik, hingga tak memberikan sesuatu yang dijanjikan,  malah cenderung  menyesatkan. Dapatkah informasi yang demikian dibiarkan, karena merugikan fihak lain atau dilarang?
Jawaban:  Definisi yang saya berikan adalah definisi minimalis, artinya definisi yang sangat sederhana dan cenderung idealis, namun siapan yang menyangkal kalau informasi sanggup menghubungkan antar waktu (karena dapat disimpan untuk suatu saat di”ambil” kembali? Siapa yang menyangkal kalau informasi dapat dipindahkan dari suatu tempat ketempat lain? Informasi sebenarnya sangat rumit, hingga perlu dipelajari secara khusus, misalnya difinisi  informasi sendiri dapat bermacam-macam, ilmu dan bidang yang mempalajarinya juga teramat luas,  jenis informasi juga dapat lisan, tertulis, dengan tanda-tanda dll. Dengan kemajuan tehnologi sarana untuk menyimpan dan memindahkan suatu informasi juga semakin beraneka ragam.
Sebenarnya informasi bertujuan untuk menyebar luaskan apa yang perlu diketahui oleh publik atau masyarakat, namun seringkali suatu informasi menimbulkan masalah bagi yang menerima maupun sumbernya. Demi tujuan tertentu,  “sumber informasi” menginginkan informasi itu hanya dapat diketahui oleh fihak tertentu, sehingga informasi itu harus “diamankan” agar tak dapat diketahui oleh masyarakat atau fihak lain yang tak diinginkan. Untuk keperluan ini maka informasi dapat dibeda-bedakan atas “keterbukaan” dan kerahasiaannya. Bahkan kadang kala digunakan cara untuk menyesatkan “lawan”.
Kesimpulan: tak setiap informasi dapat/boleh diketahui atau dimanfaatkan oleh mereka yang tak diinginkan untuk mengetahuinya, sebaliknya dalam memanfaatkan suatu informasi masyarakat juga harus berhati-hati. Ada kalanya dengan dalih “melindungi” masyarakat dilakukan sensor terhadap informasi, hal ini sangat bertentangan dengan kebebasan hak memberi dan menerima informasi. Ini sangat fatal dan sangat merugikan berbagai fihak karena penyensor  sering memiliki tujuan/policy yang hanya menguntungkan dirinya,kelompoknya atau penguasa. Inilah yang harus ditentang, sebab semua berhak menyebarkan informasi dan menerima informasi, maka yang harus mengamankan informasi adalah sumber informasi dan masyarakat , si penerima informasi harus sanggup memilih informasi yang diterimanya, agar tak merugikan dirinya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Dec 22, ’10
Setiap informasi membutuhkan wadah untuk menyimpan dan sarana untuk mengambilnya kembali, media untuk memindahkan ,sumber serta penerima informasi..Semua dapat digolongkan sebagai energi, body serta wave. Sebuah informasi juga memiliki isi(makna) atau pesan untuk saling dimengerti oleh sipemberi dan sipenerima informasi. Isi sebuah informasi “seakan” tak berupa energi, namun sebenarnya memiliki energi semu (bukan energi nyata) sebagi wadah non fisik berupa signal digital, analog atau signal lainnya untuk mempertahankan esistensi sebagi halnya astral body yang sangat dibutuhkan oleh spirit untuk kelangsungan hidupnya..
Peralatan fisik sangat dibutuhkan untuk menerima, menguatkan, mengolah data, menertjemahkan dan menyajikan sesuai dengan kebutuhan sipenerima atau untuk menyimpannya agar dapat diambil kembali dalam “ujud” yang sama dengan aslinya.Peralatan itu dapat bersifat alami maupun tiruan (artifisial). Organisme merupakan sarana alami, sedangkan tehnologi informatika merupakan sarana artifisial.
Dalam sistem analog signal tersusun sesuai dengan urutannya dan intensitas sebanding, disimpan menurut urutan, diambil kembali sesuai dengan urutannya, dipindahkan sesuai dengan urutanya sehingga dengan mudah “lahir kembali”, tanpa mengalami perubahan yang berarti. Namun saat ini,terutama dalam ujud signal digital, dengan mudah dilakukan manipulasi agar signal itu berbeda dengan signal aslinya. Tujuannya agar informasi tak dapat dimengerti oleh sembarang penerima yang tak memiliki kunci untuk mengembalikan sigal itu sebegai aslinya.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s