Apa bedanya agama dan spiritual?

Pertanyaan: Menurut eyang agama berbeda dengan spiritual padahal saat ini keduanya sering dicampur adukkan. Mohon dijelaskan.
Jawaban: Ini eyang kutipkan satu tulisan di Wikipedia yang menjelaskan perbedaan antara agama dan spiritual:”Religion is not identical with spirituality; rather religion is the form spirituality takes in civilization.” “Where religion ends, spirituality begins”-Babuji Maharaj.
Menurut TM spiritualisme jauh lebih tua dari agama. Spiritualisme telah ada sejak manusia masih primitif, kemudian agama lahir setelah peradaban manusia cukup tinggi.
Boleh dianggap agama adalah spiritualisme yang berkembang pada era manusia telah memiliki peradaban cukup tinggi.
Spiritualisme semacam itu eyang masukkan dalam spiritualisme alamiah. Eyang memprediksikan akan terjadi revolusi spiritual ilmiah.
Spiritualisme alamiah terpinggirkan  saat peradaban manusia meningkat hingga mengenal  agama dan filosofi rasional yang berkembang menjadi sains.. Baik agama maupun sains sebenarnya tersusun secara sistematis, bedanya yang satu membimbing untuk mencapai kebahagiaan abadi yang lain memberikan kenikmatan hidup semestara.
Kemudian terjadi sintesa pada agama Islam yang membimbing manusia untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
Yang perlu dipertanyakan: apakah kebahagiaan abadi dapat dicapai tanpa meninggalkan kenikmatan duniawi? Seandainya kebahagiaan abadi hanya dapat dicapai dengan meninggalkan kenikmatan duniawi, artinya manusia harus memilih satu diantara kedua idealisme itu.
Mereka yang ingin memilih kedua-duanya,hingga sangat sulit untuk memilih sendiri, maka Dia yang akan memilihkan. Itulah perlunya menyerahkan pilihan itu kepada Allah swt dengan bertakwa kepada Nya.
Lain halnya yang jelas memilih satu diantaranya akan diberikan kesempatan untuk memilihnya sendiri, namun harus berani menanggung risikonya.
Ada ungkapan: Kalau ingin mencapai kebahagiaan abadi, anggaplah hidup ini sangat pendek untuk mencapainya, jangan sia-siakan untuk menumpuk harta. Jika ingin  sekedar kenikmatan duniawi berfikirlah dapat hidup sejuta tahun lagi, jadi berjuanglah dengan gigih dan jangan ingin serba instant.
Teori Paralogika menyatakan bahwa hidup dapat berkesinambungan berkat adanya sistem informatika  yang menghubungkan antar ruang dan antar waktu bagi jenis manusia  (penghubung antar generasi) dan spirit  yang bersifat individual yang sanggup melakukan reincarnasi hingga memungkinkan hidup berkesinambungan secara individual, bukan sebagai jenis

4 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 14, ’11, edited on Feb 15, ’11
Cucu: “Where religion ends, spirituality begins”-Babuji Maharaj. Statement ini sangat bertentangan dengan Teori Paralogika yang menyatakan “Kehadiran agama dan sains menjadikan spiritualisme terpinggirkan……………”
Ungkapan itu “Dimana agama berakhir, spiritualisme mulai. “,menyatakan bahwa spiritualisme akan dimulai saat agama berakhir”. Apakah agama akan berakhir dan diikuti oleh spiritualisme ilmiah?
Eyang: Cucu kurang cermat membaca permulaan statement itu, kata Where berbeda dengan when. Where kata ganti penunjuk tempat (dimensi ruang) yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “dimana”, sedangkan when adalah kata ganti penunjuk waktu (dimensi waktu) yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “manakala” atau “ketika “.
Cucu harus sadar bahwa Alam Semesta dikuasai dimensi waktu, sehingga tiada yang abadi, termasuk spiritalisme yang meyakini hidup berkesinambungan, sains yang memberikan kenikmatan hidup sementara, bahkan agama yang membimbing mencapai kehidupan abadi.
Cucu mempermasalahkan urutan waktu antara era agama dan era spiritualisme hingga menyatakan statemen itu bertentangan dengan TP, padahal kata Where bukan merupakan urutan, melainkan wilayah.
Paralogika merupan sebuah spektrum dari irrasionil (tak masuk akal) menuju ke rasional (masuk akal) melewati real (dapat terakses oleh pancaindra). Agama merupakan wilayah gaib yang memungkinkan manusia menyakini adanya alam abadi sedangkan spiritual termasuk wilayah transien, yang belum sanggup memahami adanya alam abadi namun meyakini adanya kehidupan setelah mati yang masih berada diwilaya tidak abadi. Metafisika memungkinkan manusia berfikir untuk mewujudkan dunia nyata (kemudian dunia maya) dan menjadikan hidup menjadi nikmat walau hanya sementara berkat kesanggupan manusia memanfaatkan materi/energi fisika dalam bentuk Tehnologi dan sistem informatika, hingga manusia menjadi materialis dan tak peduli lagi adanya Sub Alam lainnya kecuali hanya mengakui adanya Sub Alam Nyata dan Sub Alam Biologi.
Jadi seharusnya statement itu ditafsirkan sebagai pembagian wilayah, bukan urutan waktu.
Spektrum bukanlah urutan waktu suatu era atau zaman, melainkan wilayah kemampuan manusia dalam memahami seluruh ciptaan Tuhan YME.
1.Spektrum: regili/agama merupakan wilayah gaib yang merupakan kemampuan manusia untuk meyakini adanya alam abadi.
2.Spektrum: spiritual merupakan wilayah transien yang merupakan kemampuan manusia untuk mempercayai adanya sesuatu yang tak dapat terakses oleh pancaindra walau masih dikuasai dimensi waktu.
3. Spektrum metafisika merupakan wilayah berfikir untuk mewujudkan sesuatu yang nyata ( Dunia Nyata dan Dunia Maya) dan dapat diakses lewat pancaindra dengan atau tanpa bantuan alat fisik, dan menisbikan adanya alam abadi maupun Sub Alam Gaib dan Sub Alam Transien.
Spektrum batasnya tak jelas, karena bersifat berangsur ( gradiens), namun ada permulaannya (begins) dan akhir (end).

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 15, ’11, edited on Feb 15, ’11
Ilmu Pengetahuan (sains) terdokumenter dan tersusun secara sistematis sehingga sangat mudah untuk dipelajari oleh beberapa generasi diseluruh bagian bumi, jadi sains adalah bagian dari sistem informasi. Sejarah juga merupakan sumber informasi tentang perkembahan budaya dan peradaban manusia atau kelompok manusia.
Informasi membutuhkan “kejujuran” dari sumbernya agar dapat dipercaya kebenarannya, namun si penerima informasi harus memilih informasi yang diperlukan dan tak sekedar ikut-ikutan. Manusia dianugerahi fikiran yang cerdas dan hati nurani yang lembut/sensetive sehingga dapat membedakan antara yang dibutuhkan dan yang tak dibutuhkan.
Sumber dan penerima informasi mempunyai kepentingan bersama, sehingga masing-masing akan menjaga “manfaat sebuah informasi” dengan cara tak memanipulasi suatu informasi dan tak menerima informasi secara ikut-ikutan.
Kebebasan informasi tak usah dikhawatirkan hingga harus dibatasi atau diberangus untuk kepentingan fihak yang merasa dirugikan. Tersedia jalur hukum untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk yang merasa dirugikan akibat suatu informasi.
Nah, cucu sebaiknya tak begitu saja mempercayai atau tak mempercayai sesuatu yang cucu baca, paling gampang adalah mempertimbangkan apakah yang cucu baca itu bermanfaat atau tidak bagi cucu.
Tulisan eyang ini menyatakan bahwa agama dan spiritual itu tak sepenuhnya sama. Eyang berusaha menjelaskan menurut Teori Paralogika.
Eyang tak pernah menyatakan bahwa agama akan berakhir dan diikuti oleh spiritual ilmiah (sebagai pertanyaan/pernyataan cucu), melainkan memprediksikan suatu saat akan terjadi Revolusi Spiritual Ilmiah dimana (where, bukan when) manusia sanggup melakukan sintesa antara yang rasional, yang real , dan yang irasional, tetapi bukan wilayah gaib yang hanya mungkin terakses lewat keyakinan dan agama untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Spiritual ilmiah tak meliputi wilayah gaib yang merupakan “gerbang” untuk mencapai kebahagiaan abadi, melaikan sekedar upaya manusia hidup berkesinambungan yang meliputi kehidupan living organisme dan kehidupan spiritual yang keduanya tetap dikuasai oleh dimensi waktu dalam alam semesta yang tak abadi.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 15, ’11, edited on Mar 5, ’11
Bedanya spiritual (alamiah) dan spiritual ilmiah.
Spiritual alamiah menganggap ciptaan Tuhan YME hanyalah bumi dan benda-benda disekitarnya yang memiliki kekuatan untuk mengatur kehidupan manusia. Fisik manusia sangat lemah sehingga sangat bergantung pada yang tersedia disekelilingnya. Mula-mula manusia tak berdaya menghadapi lingkungannya, sehingga meminta perlindungan kepada apa saja yang dapat melindungi keselamatannya. Sebagai ciptaan Tuhan YME lainnya manusia memiliki kesadaran akan keberadaannya (consciousness) sehingga berusaha mempertahankan eksistensinya (keberadaannya). Kesadaraan individual berkembang menjadi kesadaran kelompok/jenis yang menjadikan manusia hidup berkelompok.
Teori Revolusi Som Wyn menyatakan manusia adalah hasil revolusi alam semesta sehingga manusia sanggup melakukan revolusi. Berkat otaknya manusia sanggup mengolah berbagi masukan, bukan hanya dari pancaindra melainkan juga dari bathin dan fikiran. Inilah yang menjadikan manusia memasuki era spiritualisme alami melalui berbagai tahapan keyakinan.
Manusia sanggup membedakan antara benda dan makluk hidup sehingga mempermasalahkan adanya “nyawa” (soul), disamping raga (organisme). Mereka tahu kalau setelah mati tubuh membusuk, tetapi mereka tak mengerti kemana “perginya” nyawa. Mereka belum tahu tentang adanya alam abadi, mereka beranggapan bahwa setelah mati nyawa masih “berkeliaran” disekitarnya. Mereka berusaha melakukan komunikasi dengan leluhurnya yang diyakini masih tetap masih hidup dialam lain namun masih berada didekatnya.
Spiritual ilmiah menganggap ciptaan Tuhan YME bukan sekedasr bumi melainkan alam abadi dan alam semesta. Manusia menyadari adanya ciptaan Tuhan YME yang memenuhi FSM hingga dapat dimengerti oleh manusia dan yang tak memenuhi FSM sehingga tak mungkin terakses oleh kemampuan manusia. Alam Abadi termasuk yang tak memenuhi FSM dan sepenuhnya menjadi rahasia Nya. Yang mungkin dimengerti adalah Alam Semesta dan isinya. Alam Semesta terisi oleh berbagai jenis energi yang dapat terakumulasi menjadi body atau berubah secara periodik sebagai wave. Teori Minimalis menyatakan bahwa Alam Semesta merupakan sebuah sistem tertutup sehingga jumlah energinya tetap yang berubah hanyalah bentuknya.
Konsep dualistik yang menyatakan adanya energi semu dan energi nyata dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan berbagai fenomena diseluruh Alam Semesta, bukan sebagai yang monolistik yang tak mengakui adanya energi semu.Semua bentuk energi tunduk pada dimensi waktu. Energi semu belum dikuasai oleh dimensi massa dan ruang sedangkan energi nyata tunduk pada dimensi massa dan dimensi ruang nyata disamping dimensi waktu.
Konsep dualistik juga menjelaskan bedanya energi (E= -x +y) dan soul (z#-x + y ). Konsep dualistik menjelaskan perbedaan berbagai jenis kehidupan atas dasar interaksi vitalistik dan interaksi mekanistik antara E dengan z.
Spiritual ilmiah menjadikan manusia sanggup mengakses Sub Alam Transien disamping Sub Alam Fisika dan Sub Alam Bioklogi atas dasar ilmiah dan rasionil (saint) bukan lagi alamiah sebagai zaman spiritual alamiah yang irrasional.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Mar 5, ’11, edited on Mar 5, ’11
TM menginformasikan bahwa informasi menjadi penghubung antar ruang dan antar waktu bagi suatu jenis kehidupan, jadi informasi dapat menghubungkan berbagai generasi manusia maupun penghubung antar manusia dalam satu generasi. Spiritual merupakan penghubung antar ruang dan antar waktu bagi satu individu.
Jadi spiritual bersifat individualistik atau kedalam suatu individu jadi merupakan dialogis dalam satu individu , sedangkan informasi bersifat keluar individu dan menghubungkan antar individu sehingga bersifat dialogis berbagai individu dan lingkungan nya.
Jika manusia tak peduli pada spiritual, maka akan kehilangan jati dirinya, terombang ambing diantara individu lain atau sekedar ikut-ikutan karena tak memiliki cita-cita atau idealisme.Sebaliknya jika tak peduli pada informasi dari luar individu maka manusia akan selalu berjalan mulai dari titik nol tak ubahnya sebagai living organisme lainnya.
Jadi: Informasi bersumber dari luar system individu, sedang spiritual bersumber dari system individu. Sejak dulu orang bertanya “ada apa” didalam sebuah individu? Eyang berusaha menjawabnya dengan Teori Paralogika: Dalam living organisme disamping organisme ada yang eyang namakan spirit atau soul. Jadi living organisme bukan sekedar hasil proses bio kimia atau bio fisika atau sekedar reaksi mekanik ataupun mekanistik , melainkan terdapat spirit atau soul.
Soul merupakan fenomena invalid, sehingga tak mungkin terjangkau oleh kemampuan manusia, sebaliknya spirit masih dapat terjangkau oleh kemampuan manusia karena memiliki unsur energi. Living organisme merupakan interaksi vitaslitik antara organisme dengan soul atau interaksi semi vitalistik antara organisme dengan spirit.
Interaksi semi vitalistik lebih mudah dimengerti dengan memanfaatkan komputer sebagai model organisme dan user (manusia) sebagai model spirit. Spirit dan living organisme memiliki kesamaan, yaitu memiliki tubuh, sedangkan soul tak ada yang tahu memiliki “tubuh” atau tidak.
Saat ini manusia hanya sanggup mengakses living organisme, belum sanggup mengakses spirit secara langsung. Mungkinkah suatu saat manusia sanggup mengakses spirit tanpa mengakses organismenya?
Dahulu manusia tak sanggup mengakses jazat renik, apalagi yang dinamakan virus, tetapi orang yakin bahwa terdapat makluk halus yang kasat mata. Sekarang sudah terbukti, jazat renik itu memang ada, namun masih bertubuh organisme.
Nah, kalau manusia masih menganggap tak ada energi semu,khususnya energi transien, maka mustahil manusia sanggup mengakses spirit dengan bantuan peralatan fisika yang bekerja iberdasar proses mekanik (atas dasar teori mekanika quantum). Tetapi saat manusia telah sanggup membuat peralatan yang tak sekedar memanfaatkan prinsip mekanika quantum tetapi dengan memanfaatkan teori quantum eteric, maka manusia akan sanggup mengakses fenomena transien terpasuk keberadaan spirit.

Saya tak menisbikan manfaat mekanika quantum, namun apakah kita tak ingin. melangkah lebih jauh?

Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s