Apa bedanya manusia dengan kera.

Pertanyaan: Pak Ibnu membuat teori yang sangat konyol, yaitu Teori Revolusi Som Wyn. Di satu sisi tak ilmiah karena tak memenuhi standard ilmu pengetahuan, di sisi lainnya tak sesuai dengan ajaran agama mengenai Asal Usul Manusia. Lebih konyol lagi adalah sangat bertentangan dengan pernyataan pak Ibnu: Syukurilah perbedaan………….. Biarlah yang berbeda tetap berbeda yang sama masih banyak.
Sudah jelas saat ini  Teori  Evolusi Darwin menjadi acuan ilmu pengetahuan, sedangkan agama menyatakan Nabi Adam dan pasangannya ( Hawa ) adalah nenek moyang manusia, jadi semuanya sudah mapan, tak usah dipermasalahkan. Saya juga tak sependapat kalau Allah swt memberikan kebebasan kepada manusia, ini berarti manusia dapat berbuat sesukanya. Ramalan  pak Ibnu bahwa manusia akan sanggup menayangkan sesuatu yang gaib di layar TV sebagai tayangan misteri dan  diketahui sendiri oleh pak Ibnu tayangan semacam itu merupakan trik atau rekayasa terkesan jelas pak Ibnu  memberikan dukungan pada tayangan yang tak bermanfaat dan kini telah dilarang.
Tulisan pak Ibnu membodohi pembaca  dan hanya mereka yang  ingin bodoh yang mau membaca tulisan pak Ibnu!
Jawaban: Matur nuwun, panjenengan paring pepenget  dateng kula lan panganggep sedaya  ingkang purun maos seratan kula kagolong tiyang ingkan keperngin bodo/cubluk. Senajan kula tiyang Jawi lan saget maos basa Jawi,  gandeng ingkang maos seratan kula mboten namung tiyang Jawi, mila kepareng kula “menterjemahkan dalam Bahasa Indonesia” supados saget dipun mangertosi sadaya ingkang maos blog goblog menika. Menawi wonten klenta-klentunipun kula nyuwun gunging pangapunten.
Panjenengan, mboten paring identitas, namung kangge kula “isi langkung perlu katimbang ingkang paring pepenget dateng kula.”

Para pembaca, semoga kalian tak “tersinggung” dengan surat budeg itu. Jika surat itu benar, maka yang menulis itu termasuk yang ingin bodoh sebab dia telah bersedia membaca tulisan dan gagasan saya. Atau………….. dia membaca dengan serampangan hingga mengambil kesimpulan tanpa mengetahui latar belakang dan tujuan saya menulis. Lebih dari itu dia membaca dengan penuh syakwa sangka (prasangka buruk).
Kita sebaiknya berprasangka baik, yang membaca tulisan saya  agaknya merasa  genius sehingga ingin menjadi bodoh, sebab kalau orang itu merasa bodoh seharusnya membaca tulisan yang membuatnya menjadi pintar.
Saya ingin bertanya kepada kalian: Apa bedanya manusia dengan kera, untuk menguji kalian ini genius atau bodoh. Yang membedakan manusia dengan kera  itu organismenya sesuai dengan Teori Evolusi Darwin, atau spiritnya seperti yang dinyatakan oleh Teori Revolusi  Som Wyn?
Darwin membedakan manusia dengan kera atas dasar organismenya, karena dia ahli biologi, sedangkan saya membedakannya atas dasar spiritnya karena kera dan manusia hidup bukan sekedar organisme, melainkan ada spirit yang mengendalikannya.
Saya perlu menjelaskan adanya spirit agar tak dicampur adukkan dengan soul yang bukan persolan saint melainkan persoalan religi. Dalam keyakinan Kristiani bahkan dibedakan antara soul dan roh. Mereka yang belum memperoleh roh kudus tak mungkin menerima ajaran Jesus. Saya menganggap soul sekedar membedakan antara yang hidup dan yang mati, termasuk barang, sedangkan roh adalah soul yang telah memiliki idealisme atau cita-cita, misalnya mencapai kebahagiaan abadi, kenikmatan hidup duniawi, mengumpulkan ilmu dan lain lainnya. Manusia yang sekedar hidup tanpa memiliki idealisme atau cita-cita berarti belum memiliki roh, melainkan sekedar soul.
Kera memiliki soul , manusia juga memiliki soul, tetapi manusia jelas berbeda dengan kera dalam organisme  maupun spiritnya.
Spirit bukan sekedar soul maupun roh yang merupakan rahasia Tuhan YME, melainkan soul atau roh yang memiliki tubuh astral. Tubuh astral memiliki komponen energi sebagai halnya organisme. Lebih dari itu tubuh asral bukan sekedar energi, melainkan terjadi  dari dipole yang telah berbentuk kutub magnet walau belum mengalami keseimbangan prima.
Semua teori saya memang bukan termasuk dalam saint maupun religi, melainkan sekedar informasi. Tujuannya: Mengagungkan Tuhan YME dengan menempatkannya sebagai Perencana Agung, bukan sekedar pencipta.
Ada baiknya kalian menilai, tulisan2  sayai bermanfaat atau tidak. Jika ada manfaatnya silakan baca dan pejajari, jika tak bermanfaat atau merugikan, buang saja ke keranjang sampah.
Yang harus disadari, tak sembarangan pembaca dapat “mengerti” tulisan saya. Syaratnya “merasa genius atau memang genius” dan ingin mengurangi ke geniusannya sebab antara genius dan gila jaraknya cuma serambut. Jadi pengirim surat budeg itu  2000 % benar, yang salah adalah tak berani bertanggung jawab atas opininya..

3 CommentsChronological   Reverse   Threaded

sudarjanto
sudarjanto wrote on Feb 8, ’11
Perbedaannya hanya manusia lebih mampu menggunakan akal pikiranya , menggunakan hati nuraninya,serta manusia dibatasi norma agama serta anggah ungguh (etika) dan mempunyai rasa kemanusiaan selain itu bukanlah manusia sempurna.Manusia yang nerasa dirinya paling suci karena hanya menyembah Tuhannya tetapi tidak menghormati manusia tidak ubahnya seperti Iblis yang hanya tunduk kepada Tuhan tetapi tidak menghormati manusia.Manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya serta hati nuraninya yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya, tidak mempunyai kemanusiaan serta norma agama dan etika apa bedanya dengan kera?

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 8, ’11, edited on Feb 9, ’11
@ Ananda Sudaryanto.
Organisme kera berbeda dengan manusia, walau mungkin ada persamannya. Benar sekali : manusia berbeda dengan kera karena bukan sekedar fisiknya melainkan apa yang mengendalikannya, yang dalam Teori Paralogika dinamakan spirit. Organisme saya modelkan sebagai komputer, memiliki kemampuan tertentu untuk menunjang aktivitas user. Betapapun canggih sebuah komputer, jika usernya “primitip” akan menjadi mubazir, sebaliknya user tak akan nyaman memanfaatkan komputer “primitif”.
Manusia paripurna adalah yang memiliki fisik manusia dan spirit manusia. Kelebihan manusia adalah dikaruniai organisme yang canggih ( fikiran cerdas, bathin lembut dan otak yang sanggup mengolah berbagai masukan untuk mengambil kesimpulan (mengekseksi) untuk diterapkan dalam perbuatan. Spirit mengendalikan manusia sejak dini, sehingga bertanggung jawab atas segala perilaku manusia.
Iblis dan setan adalah termasuk dalam spirit jahat ibarat user yang memanfaatkan dan memprogram komputer untuk melakukan aktivitas jahat. “Hebatnya spirit jenis ini mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan organisme yang telah dimanfaatkan dan dikembangkan oleh spirit lain yang “loyo” karena tak memiliki idealisme. atau linglung.”
Inilah perlunya idealisma yang berupa
1. Norma keagamaan/keyakinan yang universal hingga tak terkotak-kotak disatukan dalam sila Ketuhanan YME.
2. Norma budhi pekerti dan etika sebagi manusia beradab dalam Perikemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Norma berfikir logis dan realistis untuk menjadi bangsa tangguh dan dihormati oleh bangsa lainnya yang hanya mungkin dicapai lewat persatuan seluruh komponen bangsa, bukan hanya persatuan antar umat beragama apalagi hanya yang diakui oleh penguasa (lima agama) sehingga menelantarkannyanya bahkan menumpas habis. Persatuan seluruh komponen bangsa Indonesia tanpa membedakan suku bangsa, ras, agama/keyakian dan status sosial dinyatakan dalam sila Persatuan seluruh
rakyat/bangsa…………..dan seterusnya atau asaz berbangsa dan bernegara.
4.Norma hukum buatan manusia, bukan hukum Tuhan YME yang sering berbeda dalam agama yang berbeda, sehingga masyarakat terlindungi oleh hukum karena mematuhi hukum dan menerima sangsinya tanpa menunggu peradilan akhirat. Norma hukum dinyatakan oleh Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia…………..
5 Norma saling menghormati dan toleransi antara satu dengan yang lain, sehingga dapat hidup secara damai tercantum dalam Musyawarah dan mufakat, bukan menang-menangan dan merasa benar dan besar sendiri, tak membedakan yang kaya dan yang miskin, tak membedakan mayoritas dan minoritas dll.

Jika Pancasila diyakini kebenarannya dan diamalkan, maka tak akan terjadi hal-hal sebagai yang kini banyak terjadi. Manusia Indonesia akan menjadi paripura sehingga tak memberikan tempat pada setan, iblis atau perilaku binatang. Manusia Indonesia menjadi sangat berbeda dengan kera, baik fisiknya, spiritmya dan perilakunya.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 9, ’11, edited on Feb 9, ’11
Dalam ceritera pewayangan: ada seekor kera yang bentuk fisiknya seekor kera putih, namun spiritnya bagaikan pahlawan, dia adalah Anoman. Ini bukti bahwa nenek moyang kita tak menganut Teori Evolusi Darwin melainkan Teori Revolusi Som Wyn yang memungkinkan perubahan dalam sekejap, bukan lewat evolusi, melainkan revolusi, ksatria yang tampan dan dewi cantik dalam sekejap berubah menjadi kera akibat kelakuannya seperti kera, bersengketa dengan saudara sendiri akibat memperebutkan sesuatu.
Saat ini banyak yang organismenya manusia spiritnya kera atau iblis sperti yang dikatakan oleh ananda Sudarjanto.
Mungkin ananda Sudarjanto dapat menceriterakan revolusi manusia menjadi kera ini !
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s