Apa jadinya jika agama dijadikan komuditas politik?

Pertanyaan: Saya sangat bangga dan lega diresmikannya Gong Perdamaian Nusantara yang mencanangkan Kerukunan Berbangsa, bukan sekedar Kerukunan Umat Beragama. Namun menjadikan tanda tanya, mengapa yang dicantumkan adalah  Simbul Lima Agama yang diakui oleh Penguasa saat ini, bukan   Lambang Pancasila atau Garuda dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika” Apakah Penguasa saat ini beranggapan Pancasila telah tercemar hingga tak sakti lagi? Bukan rahasia lagi bahwa  Rezim Orba melakukan tindakan represif pada rakyat dengan memaksakan Pancasila sebagai ideologi tunggal berbangsa dan bernegara yang berakibat falsafah yang teramat mulia ini “didiskriditkan” oleh pemerintah SBY saat ini hingga pemerintahan saat ini dituduh sebagai antek Neolib?
Yang saya tak mengerti adalah: yang tertera dalam Gong Raksaksa itu hanya lambang dari Lima Agama. Dahulu Orba juga hanya mengakui Lima Agama dan melarang Agama Konghucu. Lima Agama itu adalah Islam, Katholiek, Kristen, Hindu dan Budha. Seharusnya dengan diakuinya Agama Konghocu maka Agama yang diakui oleh pemerintah menjadi 6. Apa argumentasinya hingga agama Kristen dan Katholik dijadikan satu?
Saya khawatir SBY  beranggapan “angka lima” lebih berarti dari sila dalam Pancasila.
Bagaimana pendapat eyang Ibnu?
Jawaban: Menurut eyang sila yang tercantum dalam Pancasila sebagi Filosofi Bangsa Indonesia jauh lebih bermakna dari angka lima. Tetapi memang banyak yang mensakralkan angka lima, misalnya Pancasila dalam keyakinan lama, Rukun Islam, Panca Indra, sampai Panca Agama yang direkayasa oleh rezim Orde Baru dan kini tetap dipertahankan oleh pemerintah SBY yang menganggap angka lima lebih sakral dari sila-sila dalam Pancasila, yaitu
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.  Peri kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indoneisa,
4.  Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan
5. Musyawarah dalam perwakilan.

Mungkinkah  angka lima dipandang oleh SBY sakral hingga harus tetap dipertahankan dengan memasukkan agama Konghucu dan menggabungkan agama Kristen dan Katholik?
Mungkinkah angka lima yang dipandang sakral memberikan tuah agar  kekuasaan SBY tetap langgeng?

Padahal ada  angka lima yang seharusnya dikikis habis, yaitu : 5 M..
1. Mateni (membunuh)
2. Madad (mabuk-mabukan/ mengisap ganja))
3. Maling (mencuri, termasuk  korupsi )
4. Madon (zina)
5. Main (judi).

Mengapa yang disakralkan  harus lima, bukan enam, tujuh atau ……………..semua agama dan keyakinan diakui sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara?

Yang saya khawatirkan: Agama akan menjadi tercemar akibat dimanfaatkan untuk bertindak represif kepada rakyat yang tak memeluk salah satu dari lima agama yang diakui oleh pemerintahan SBY, sebagai yang dilakukan oleh rezim Suharto menggunakan Pancasila untuk menegakkan kekuasaannya  dan menghancurkan lawan-lawan politiknya.
Mula-mula Pancasila hanya digunakan untuk menumpas  ideologi komunis yang atheis,, tetapi kemudian dijadikan azas tunggal berbangsa dan bernegara. Runtuhnya rezim Suharto berimbas pada kesaktian Pancasila walau dicanangkan Hari Kesaktian Pancasila yang justru menyebabkan pudarnya kesaktian Pancasila. Mengapa?  Sebab banyak yang khawatir Pancasila akan menyulitkan perjuangan mereka yang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ada baiknya para pemuka agama mewaspadai perilaku SBY agar agama yang sangat mulia tak  tercemar sebagai nasib Pancasila yang disalah gunakan oleh Orba.
Pemuka agama saat ini sangat  perkasa bukan sebagai kami  yang ingin mengembalikan kemurnian dan kesaktian  Pancasila untuk  mempersatukan seluruh komponen bangsa.
Mungkinkah Indonesia disatukan dengan  “penyatuan” Lima Agama menjadi Pancaagama menggantikan Pancasila? Kemana akan dipenjarakan/ dikuburkan mereka yang tak beragama namun bukannya atheis?
Pancasila memberikan kebebasan kepada setiap warga negara Indonesia  untuk memeluk agama yang datang  dari segenap penjuru dunia dan keyakinan yang telah mengakar di bumi Nusantara yang jelas mengakui keberadaan dan kebesaran Tuhan YME. Yang dilarang adalah atheisme yang tak mengakui keberadaan dan kebesaran Tuhan YME karena bertentangan dengan azas Ketuhanan YME. Itulah  Pancasila yang murni dan tak dimanipulasi oleh penguasa.  Pancasila berazaskan  Ketuhanan YME merupakan Moralitas Agung yang universal, tidak terkotak-kotak hingga memungkinkan timbulnya konfliks horizontal dalam menegakkan hubungan vertical.

bukan berazaskan agama maupun  Panca Agama.

3 CommentsChronological   Reverse   Threaded

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on Feb 7, ’11
Memang repot ya Pak…:)

be2ny
be2ny wrote on Feb 7, ’11
kalau boleh memilih saya pilih tidak berAgama tapi berTuhan.

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 7, ’11
Pada zaman Orba ada dosen Pengamalan Pancasila menyatakan: Pancasila memberikan kebebasan beragama, tetapi tak memberikan kebebasan tak beragama. Saya bertanya: Apakah saudara kita yang belum atau tidak memeluk satu dari agama yang diakui pemerintah dipaksa untuk masuk ke salah satu dari yang lima itu? Bagaimana dengan yang beragama Konghocu dan mereka yang masih memegang teguh keyakinan lokal peninggalkan leluhur mereka?
Saya disuruh keluar dan tak diizinkan mengikuti kuliah pengamalan Pancasila. Ini sungguh-sungguh terjadi dizaman Orba, hingga kuliah saya menjadi konyol. Semoga hal ini tak terjadi dizaman pemerintahan yang dituduh sebagai antek Neolib oleh lawan-lawan politik SBY.
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s