Apa yang dimaksud dengan manusia pari purna.

Pertanyaan: Eyang menyatakan kalau Pancasila diyakini kebenarannya dan diamalkan oleh seluruh  komponen bangsa Indonesia, maka  tak akan terjadi hal-hal sebagai yang terjadi saat ini. Rakyat/bangsa Indonesia menjadi manusia paripurna sehingga tak memberikan tempat bagi spirit jahat yang perbuatannya sebagaikan  setan, iblis atau binatang.  Apa yang eyang maksud dengan manusia paripurna? Bagaimana agar kita dapat menjadi manusia paripurna?
Jawaban: Paripurna artinya mendekati sempurna tetapi tak pernah sempurna. Dalam Teori Paralogika dipakai istilah parapurna yang artinya mendekati sempurna. Manusia termasuk dalam living organisme yang merupakan interaksi vitalistik dari organisme dengan soul dalam ujud whiteblank body atau interaksi semi vitalistik dari spirit dengan organisme dalam ujud reincarnated body. Spirit merupakan interaksi vitalistik dari astral body dengan soul. Organisme merupakan interaksi mekanistik dari materi dengan cahaya ( STW). Materi merupakan interaksi mekanik dari quantum atau quantum eteric.
Tiap-tiap living organisme tak pernah sempurna, tetapi selalu berevolusi maupun berevolusi sehingga semakin lama semakin sempurna dalam ujud individu maupun jenis. Masing-masing akan menjadi parapurna sesuai dengan jenis nya. Parapurnanya binatang berbeda dengan parapurnanya manusia, masing-masing memiliki standard dan norma  yang berbeda-beda, baik organismenya maupun spiritnya yang dapat disaksikan dari perilaku dan perbuatannya.
Standard manusia ditentukan oleh masing-masing pembentuknya, susunan organisme dan sistem kendalinya,  hingga mempunyai sifat dan kemampuan khusus optimal sebagai individu atau jenis manusia, bukan dewa, setan, binatang atau  living organisme lainnya yang bukan manusia. Manusia punya kemampuan memiliki cita-cita/idealisme  sehingga memiliki roh, bukan sekedar soul.
Manusia sanggup:
1. Menggunakan logika keyakinan untuk meyakini sesuatu tanpa mengkaitkan antara pengambilan kesimpulan/keputusan dengan  argumentasinya. Keyakinan berbeda dengan instink walau kedua-duanya dilakukan “tanpa” melalui proses berfikir. Manusia sanggup meyakini adanya alam abadi dimana tak dikenal dimensi waktu dan dimensi lainnya. Manusia sanggup meyakini adanya kebahagiaan abadi dan kesengsaraan abadi. Kunci untuk memasuki kebahagiaan abadi dan kesengsaraan ada pada kehidupan yang mengenal dimensi waktu, yaitu alam semesta (dulu dikira hanya dunia, terbukti jauh lebih luas). Agama  menjanjikan kebahagiaan abadi  disamping penderitaan abadi  dan memberikan petunjuk/bimbingan kepada manusia bagaimana cara mencapainya. Masing-masing agama memiliki buku suci yang satu dengan yang lain berbeda, namun tujuannya sama mencapai kebahagiaan abadi agar tak jatuh pada penderitaan abadi.
Dalam sejarah peradaban manusia sering kali agama disalah gunakan oleh penguasa atau mereka yang kuat untuk menindas yang lemah. Agama yang satu seringkali berbenturan dengan agama yang lain sehingga terjadilah perebutan pengaruh yang  berujung pada peperangan. Ada yang beranggapan mati dalam peperangan untuk mengembangkan agamanya tanpa menggunakan kemampuan akal budi dan fikiran akan mendapatkan kebahagiaan abadi, bukan kesengsaraan abadi. Penafsiran yang keliru ini menjadikan pengikut suatu sekte agama tertentu (sesat)  tak sadar bahwa cara diluar norma/standar hidup nyata bagaikan mengejar  punai yang terbang bebas dilangit hingga menelantarkan  tanaman/padi  yang dengan jerih payah ditanam “bersama  dan  dapat menghidupinya”  dijarah hama lainnya (misalnya iblis dan setan)  karena tak menyadari bahwa manusia hidup membutuhkan makan dan sebagainya bukan sekedar cita-cita betapapun mulianya.
Ketuhanan YME menggunakan logika keyakinan namun tidak terkotak-kotak sehingga mungkin menjadi universal. Ini sangat penting untuk menghindarkan konfik kepentingan dalam urusan mencapai kebahagiaan abadi tanpa memaksaan kehendak satu dengan lainnya.
2. Menggunakan norma akal budi manusia yang universal yaitu Perikemanusiaan. Standard perikamenusiaan adalah berperilaku dan perbuatan beradab, bukan biadab. Manusia harus “menghormati” semua ciptaan Tuhan YME, sebagai bukti menghormati Nya, terutama sesama manusia dan makluk hidup lainnya secara “adil” dan bijaksana. Perbuatan merugikan, menyakiti apalagi menyiksa sesama hanya untuk “menjadikan” dirinya berkuasa atau ditakuti (bukan disegani) adalah biadab, sehingga bertentangan dengan azas perikemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk mengagungkan Nya seharusnya manusia juga menghormati/ mencintai sesama ciptaan Nya.
3. Menggunakan logika fikir. Suatu  bangsa akan menjadi kuat jika bersatu dan akan menjadi lemah dan mendekati kehancuran jika saling bersengketa dan  saling menyakiti.. Bangsa Indonesia pernah dengan mudah dijajah oleh bangsa asing selama berabad-abad akibat mudah dipecah belah. Perjuangan  untuk memerdekakan diri secara sendiri-sendiri  gagal hingga bangsa ini kemudian sadar untuk bersatu melawan penjajah dan menegakkan kemerdekaan. Persatuan seluruh komponen bangsa akan menjadikan bangsa Indonesia dihormati oleh bangsa lain. Persatuan akan menjadi goyah jika komponennya merasa dirinya paling berjasa, paling kuat, paling benar hingga akan menimbulkan sengketa, keretakan bahkan saling menghancurkan.
4. Menggunakan logika nyata. Bangsa Indonesia ini sangat majemuk, berbeda keyakinan dan agama, berbeda suku bangsa, berdeda adat istiadat, berbeda ras, berbeda kepentingan………
sehingga sering terjadi konflik kepentingan.  Bangsa ini tak mungkin diatur dengan  hukum agama , walaupun diyakini sebagai hukum Tuhan, kenyataannya tidak universil dan memiliki kepentingan masing-masing.. Untuk mengatur rakyat yang berbeda-beda kepentingan dibutuhkan hukum buatan manusia. Hukum ini harus berlaku adil dan melindungi semua yang mentaati dan memberikan sangsi kepada yang melanggarnya tanpa menunggu peradilan akhirat.
5. Hukum buatan manusia tak sempurna sehingga harus disusun atas dasar musyawarah dan mufakat, tidak hanya dibuat oleh penguasa atau mereka yang kuat dan berduit hingga sanggup “membeli” kekuasaan atau memaksakan kehendak dan kepentingannya.

Eyang yakin bahwa Pancasila dapat menjadikan manusia menjadi parapurna memenuhi standard manusia, bukan standard setan, iblis, binatang maupun standard dewa.
1. meyakini adanya kebahagiaan abadi lewat keyakinan masing-masing, bukan  memaksakan kehendak, atau merasa paling benar karena merasa paling kuat.
2. menjadikan manusia beradab hingga tak melakukan perbuatan diluar perikemanusiaan dengan dalih apapun
3. menyadari persatuan seluruh komponen bangsa agar menjadi bangsa yang terhormat.
4 menyadari kenyataan bahwa bangsa ini sangat majemuk dan memiliki kepentingan yang beraneka ragam, sehingga tak mungkin diatur dengan hukum Tuhan yang melebihi standard manusia, patuh kepada hukum buatan manusia yang disusun secara musyawarah dan mufakat serta  diterapkan secara benar
5. memiliki toleransi sesama komponen bangsa sehinga tidak merasa benar sendiri dan cari menang sendiri atau berbuat anarki.

Suatu saat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika akan diadopsi oleh seluruh umat manusia yang ingin hidup damai menikmati hasil tehnologi  selama hidup didunia dan  tetap berpeluang mencapai kebahagiaan abadi, menurut keyakinan/agama  masing-masing.

1 CommentChronological   Reverse   Threaded

ibnusomowiyono
ibnusomowiyono wrote on Feb 19, ’11, edited on Feb 19, ’11
Mungkin saat ini banyak yang alergi terhadap Pancasila karena Pancasila pernah dipaksakan menjadi ideologi tungal dalam berbangsa dan bernegara oleh rezim Orba. Pancasila senasib dengan ABRI , sebab sudah terbukti ABRI selalu konsisten sebagai pengawal Pancasila. Berbagai pemberontakkan untuk menumbangkan NKRI telah ditumpas oleh ABRI sehingga ABRI dianggap melanggar HAM dan “dijauhkan dari rakyat” dengan maksud agar tak ikut berpolitik praktis. Sekarang sudah terbukti para politikus tak becus mengurusi bangsa dan negara. Polisi juga tak sehebat ABRI dalam menegakkan hukum dan kehormatan bangsa.
Apakah ABRI akan membiarkan NKRI hancur berkeping-keping? Tentu saja tidak! Kesabaran ABRI ada batasnya, sebab sejak zaman perjuangan ABRI menyatu dengan rakyat. Musuh Pancasila adalah musuh ABRI!
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s