Apakah mimpi itu bermanfaat?

Pertanyaan: Menurut eyang mimpi adalah fenomena para logika hingga harus disikapi dengan kemampuan paralogika positip. Apakah mimpi itu bermanfaat?
Jawaban: Jelas, tanpa mimpi manusia tak ubahnya sebagai  komputer yang tak  pernah di up-date, sehingga terbelenggu dengan rotinitas atau melakukan aktivitas yang itu-itu saja. Beruntunglah mereka yang masih dapat bermimpi, sebab mimpi harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang mungkin tak dapat kita lakukan dalam kenyataan. Dalam mimpi kita dapat mengalami apa saja yang mungkin tak dapat kita alami  pada kehidupan nyata saat ini.
Ini bukan berarti kenyataan yang kita akses lewat indra tak dapat menjadi bahan impian. Justru sering kali mimpi timbul akibat kita menyaksikan sesuatu kenyataan disekitar kita. Kehebatan lainnya dari mimpi adalah tak dapat kita kendalikan, berjalan diluar kontrol otak kita, namun saat terbangun justru kita “mendapatkan” pengalaman diluar kemauan dan rencana kita. Tak sembarang orang dapat mengingat apa yang dialami dalam mimpi, kecuali mereka yang memiliki memory ekstra kuat dalam otak kita atau kemampuan bawah sadar.. Seseorang yang sanggup mengingat sesuatu yang dialami selama tidur dapat memanfaatkannya  sesuai dengan kemauan kita. Mimpi dapat menjadikan orang ketakutan, stress dan putus asa,namun juga dapat menjadikan orang terinspirasi untuk mewujudkan dalam kehidupan. nyata.
Manusia dapat terbang juga hasil mimpi orang-orang cerdas, karya seni banyak dihasilkan dari mimpi para seniman, banyak sekali fenomena  dan tatanan yang kita saksikan dan kita nikmati saat ini adalah hasil “impian” nenek moyang kita. Yang harus kita sadari adalah mimpi tak mungkin menjadi kenyataan tanpa upaya untuk mewujudkannya, sebaliknya kenyataan yang kita hadapi tak akan menjadi bahan impian yang sanggup memberikan inspirasi untuk diujudkan jika kita biarkan/ tak kita pedulikan. Obsessi dapat digolongkan dalam “mimpi yang terkendali”, sangat berbeda dengan angan-angan kosong walau dapat dikendalikan oleh otak namun tak diusahakan untuk diujudkannya.
Mimpi, obsessi, cita-cita  atau angan-angan dapat menginspirasi seseorang untuk melakukan sesuatu, tetapi dapat juga dibiarkan begitu saja tanpa melakukan upaya untuk mewujudkannya. Jadi semua tergantung dari pemanfaatannya.

sepunten
sepunten wrote on Jan 10, ’11
mimpi kadang memberikan setting peristiwa atau tempat yg aneh, seperti tempat yg pernah kita alami tapi termodifikasi… siapa ya yg menciptakan setting dimimpi itu ya pak heee…
Iklan

Tentang Akung Ibnu

Kakek dengan duabelas cucu yang masih senang menulis. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Teori Minimalis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s